Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto. High School DxD © Ichiei Ishibumi.

Genre(s): Adventure, fantasy, slight sci-fi.

Warning(s): Ooc, ar, au, typo, gaje, newbie, and many more.

Pair: Belum waktunya.


.

.

.

/

Di salah satu ruangan asrama, lantai paling atas, tepatnya kamar nomor 300, tempat Naruto bersemayam. Di kamar itu, terlihat dua orang anak muda sedang tenggelam dalam sebuah percakapan, mengabaikan satu orang lagi yang sedang tidur.

Pemuda yang memiliki surai pirang terlihat bangkit dari duduknya, menghampiri jendela kamar. Ia langsung membukanya perlahan, yang langsung memperlihatkan pemandangan indah dari atas gedung ini. Sudut pandangnya sungguh tepat, karena memperlihatkan seluruh halaman dan puncak-puncak gedung dengan langit biru sebagai bingkainya.

Pemuda itu terlihat tersenyum tipis, merasakan angin sejuk yang menyentuh dirinya. "Jarang sekali ada yang mendapatkan jenis itu, dari yang kudengar hanya ada beberapa orang yang memiliki. Ini kali pertamaku melihatnya langsung." Pemuda pirang itu terlihat menengok kebelakang, netranya memandang sebuah punggung yang membelakanginya.

"Yang benar? Wah, apa berarti aku termasuk orang langka? Orang spesial?" Tiba-tiba pemiliki punggung itu membalikkan tubuhnya.

Dong~

Suasana serius langsung runtuh seketika, tatkala Naruto dengan cepat memandang Kiba dengan ekspresi berbinar-binar, matanya penuh dengan bintang. Reaksi Kiba langsung berubah suram. Terlihat aksen ungu gelap berada dibelakang tubuhnya. 'payah,'

"Ehem, tidak sepenuhnya salah apa yang kau katakan, tapi, disebut spesial pun tidak semuanya setuju. Apa kau tahu kenapa?" tanya Kiba pada Naruto yang terlihat bingung dan hanya menggeleng sebagai jawaban.

"Masing-masing arts memiliki ciri atau suatu keinginan yang membuat dia bangkit, dalam hal ini berarti apa harapan atau keinginan si pengguna chakra. Contoh aku, harapan terbesarku saat arts-ku bangkit adalah aku ingin menjadi pendekar dan pembuat pedang terhebat, makanya jenis arts-ku adalah Sword Creation yang termasuk sub dari Creation Arts.

Dengan ini, aku bisa mencipatakan ataupun meniru senjata apapun yang berbasis logam, tergantung imajinasiku. Dan aku menganggap ini adalah suatu hal special. Begitupun dengan Ancient Arts-mu, kau bisa menganggap itu spesial karena orang lain belum tentu bisa melakukan yang apa kau lakukan. Ini hanyalah masalah sudut pandang." Kiba menjelaskan apa yang ia ketahui kepada Naruto.

Naruto sendiri terlihat mengerti apa yang dijelaskan Kiba, karena penjelasan yang sederhana. Kiba bersyukur dalam hati bila rekannya mengerti, yah, meskipun seharusnya pengetahuan seperti itu sudah umum diketahui.

"Lalu, apa harapanmu Naruto? Sehingga terpilih sebagai pemegang arts terlangka didunia?" Kiba bertanya demikain karena ia mengetahui dari informasi yang beredar tentang pemegang Ancient Arts pastilah bukan harapan sepele ataupun hanya untuk kepentingan diri sendiri. Itu pasti menyangkut banyak orang.

"Hmmm, apa ya? Aku sendiri tidak tahu. Entah aku lupa atau mungkin aku sudah pikun, ya?" jawab Naruto sambil mengangkat bahu, dia sendiri sebenarnya bingung tentang apa yang dia harapkan, entah ini berkaitan dengan kenapa dirinya tidak bisa mengingat selama menjadi batu. Jujur saja, selama 1000 tahun dalam batu, dia tidak bisa mengingat apa-apa, itu seolah mengalir begitu saja.

Sejenak Kiba memandang netra sapphire Naruto, mencoba mencari setitik keraguan didalamnya, tapi ternyata nihil. "Hahh, ya sudah. Lebih baik sekarang kita bereskan barang-barangmu. Aku akan membantu."

"Ah, benar juga. Terimakasih Kiba,"

/


Summary: Kegagalan. Setiap orang pasti pernah mengalami hal tersebut, sesuatu yang tidak bisa di hindari di kehidupan ini. Tapi, dari kegagalan itu niscaya akan mendapatkan sesuatu yang berharga, percayalah. Ini adalah kisah seorang Uzumaki Naruto yang tidak ingin mengulang kegagalan tebesar dalam hidupya. Dengan perjalanan panjang, dia akan menemukan harapan dari seluruh Dunia.


/

.

.

.

Disebuah lorong panjang, terlihat Naruto sedang berjalan pelan sembari melihat-lihat sekitar. Dia baru saja selesai dari cafeteria untuk sarapan –yang mana sangatlah besar dan berkelas untuk disebut kantin– dan memutuskan untuk menuju ke perpustakaan. Kelas baru akan dimulai beberapa menit lagi.

Oh, ya, berbicara soal kelas. Disini, karena Naruto dan yang lainnya masih kadet dan baru saja menjadi esper, makanya mereka diberikan berbagai pelajaran untuk bekal dikemudian hari. Dan ini adalah hari pertama mereka.

Beberapa saat berjalan, akhirnya Naruto menemukan tujuan yang ia cari. Pintu perpusatakaan masih tertutup namun terlihat dari kaca ada beberapa orang didalamnya.

Naruto pun masuk kedalam, dan melihat sebuah ruangan –sangat besar –dengan arsitektur bergaya yunani. Seperitinya ia harus mulai terbiasa dengan segala sesuatu yang besar disini.

Dia berjalan kearah meja resepsionis, berniat menanyakan keberadaan buku yang ia cari, namun saat melihat siapa yang berjaga, dia malah terkejut.

"Loh, Karin?" ah, rupanya dia masih mengingat namanya. Nama wanita yang ia selamatkan tempo hari.

Merasa dirinya dipanggil, wanita yang dipanggil Karin tadi pun melihat kearah sumber suara. Dan reaksi sama pun keluar.

"Ah, Naruto, kan?" tanya Karin dengan hati-hati, takut salah saat mengingatnya.

"Benar, apa yang kau lakukan disini?" Tanya Naruto sambil menatap wajah lawan bicaranya. "Klise sekali. Tentu saja bekerja," jawab Karin sambil membalas tatapan Naruto.

Keduanya melihat seperti seolah menantang satu sama lain. "Ada perlu apa kau kesini?"

Tiba-tiba Naruto menepuk jidatnya sendiri. "Hampir saja lupa. Aku kesini sedang mencari beberapa buku. Buku tentang Ancient Arts, apakah ada?"

Mulut Karin membentuk bulat sempurna, tanpa berlama-lama dia melhat kearah daftar buku yang ada dimejanya. "Rak paling ujung sebelah utara. Baris paling bawah," ujar Karin yang menujuk arah yang tadi ia sebutkan.

Naruto mengikuti arah yang dituju, kemudian tersenyum kearah perempuan itu. "Terimakasih, Karin." Karin mengangguk sambil memandang punggung pemuda itu yang perlahan menghilang ditelan rak-rak buku.

.

.

.


Chapter 3: Apakah itu spesial?


/

.

.

.

Arts. Dinanamakn arts karena memang seperti maknanya, yakni seni, sebuah seni pasti akan menimbulkan kepuasan hati bagi penikmatnya. Dinamakan arts karena manusia menganggap segala pola perilaku dan pola pikir terhadap lingkungan yang membutuhkan kajian tertentu, dalam hal ini kajian yang berasal dari chakra, pasti akan menimbulkan apresiasi dari orang-orang sehingga memunculkan kepuasaan hati saat kajian itu terwujud.

Secara istilah, arts bisa diartikan sebagai bentuk pencapaian lebih tinggi dari chakra yang menimbulkan apresiasi, baik negatif atau positif yang memancing munculnya kepuasaan hati bagi penggunanya. Apresiasi ini dengan kata lain, adanya baik dan jahat.

Settt~

Slayer Arts, berupa arts yang menggunakan elemen-elemen alam kedalam bentuk serangan atau pertahanan. Tingkatan Slayer Arts terdiri dari Beast, Devil, Dragon, dan God. Dan sub-nya ada banyak sekali.

Creation Arts, berupa arts yang memanifestasikan imajinasi dari pengguna chakra tergantung jenisnya. Di Creation Arts tidak tingkatan karena mengandalakan imajinasi, namun dibagi kedalam 3 jenis. Yakni, Solid atau padat, Liquid atau cair, dan Gas dengan masing-masing sub-jenisnya.

Healing Arts, berupa arts yang mengubah chakra menjadi semacam obat, atau penyembuh. Atau bisa juga menjadi pemberi tenaga tambahan. Tingkatan tidak ada, tapi diganti dengan jenis yaitu Cure, Boost, dan Divide, dengan masing-masing sub-jenisnya.

Sealing Arts, berupa arts yang digunakan untuk menyegel atau mengeluarkan segala sesuatu, bisa juga diubah menjadi serangan tergantung bagaimana penggunanya. Tingkatannya ada Ordinary, Advanced, dan Forbidden, dengan masing-masing sub-nya.

Spatial Arts, arts terlangka kedua, berupa kemampuan untuk mengontrol ruang, tempat, dan dimensi. Tingkatannya ada Room, Space, Dimensional, dan Realm, dengan masing-masing sub-nya.

Ancient Arts, arts paling langka sekaligus paling berbahaya didunia, hanya ada beberapa orang yang memilikinya. Ancient Arts memungkinkan pengguna untuk melakukan hal-hal yang luar biasa, dan diluar akal sehat. Tingkatan belum diketahui, namun jenis yang sudah terlihat yaitu, Ancestors, Heavenly, dan Ankhseram.

Mempelajari arts ini sangatlah tidak mudah, teknik-teknik yang digunakan sangat rumit. Pengguna perlu belajar tentang aksara-aksara kuno dan hati serta tekadnya pun harus kuat, jika tidak arts ini akan memakan penggunanya sendiri, perlahan-lahan atau dalam satu moment tertentu.

Buk~

Sebuah buku tebal bersambil hitam baru ditutup. Naruto menghela nafas lelah, sejak pulang dari kelas dia memutuskan untuk membaca buku-buku yang ia pinjam dari perpustakaan. Entah berapa jam ia habiskan disini. Untungnya ia menemukan tempat yang sepi untuk membaca yakni, tepat dibelakang kelasnya, alasannya karena sejuk dan sunyi.

"Jadi, Sword Creation miliki Kiba termasuk kedalam jenis Solid, yah? Hmm, menarik." Ujar Nartuo pada dirinya sendiri sambil memandangi buku tersebut. Naruto kemudian melihat keatas, ke langit yang sudah mulai berubah warna menjadi jingga. "Sebaiknya aku bergegas keperpustkaan,"

/

"Karin, aku mau mengembalikkan buku-buku ini."

Dugg~

Dengan seenaknya Naruto menaruh tumpukan buku pinjamannya diatas meja resepsionis, tempat Karin bekerja.

Karin pun terkaget saat tiba-tiba datang setumpukan buku didepannya. "Bisa tidak kau berlaku dengan sopan," maki Karin pada Naruto sambil menuliskan sesuatu dibuku resepsionis. "Yah, maaf-maaf. Habisnya aku lelah setelah membaca semua dalam satu kali kesempatan," bela Naruto.

"Ya, sudah kau boleh pergi." Karin berkata begitu sambil tangannya mengibas-ngibas kearah pemuda itu. Naruto terlihat kaget saat Karin mengusirnya, "Eh, aku diusir?"

"Sudah sana pergi."

Naruto pun akhirnya pergi, meninggalkan Karin seorang diri. Tapi, tanpa mereka ketahui ada sepasang mata memperhatikan mereka dari kegelapan, lalu menghilang bagaikan diterpa angin.


Matrix: The Sins.


.

.

/

"Bagaimana?" Sebuah siluet terlihat sedang duduk disebuah singgasana, posisinya membelakangi. Didepan singgasana itu terpajang berpuluh-puluh monitor yang menampilkan berbagai lokasi yang berbeda.

"Setelah saya selidiki, ternyata keakuratan data dengan target mencapai 80%, tuan," jawab seseorang yang terlihat berlutut yang memiliki rambut silvern, yang menjadi hal paling mencolok di ruangan gelap ini, selain tentunya cahaya monitor.

"Hmm, bagus, lalu apa yang terjadi dengan 20% lagi?"

Orang yang berlutut itu terlihat terdiam sejenak, kemudian dia menjawab. "Saya belum menemukan letak 'kunci'nya, tuan." Orang itu terlihat sedikit mengeluarkan keringat bila dilihat lebih dekat.

"Benarkah? Benarkah kau belum menemukan atau kau sudah menemukannya tapi kau mengaku belum, hmm?" Singgasana itu terlihat berputar, hingga memperlihatkan sesosok pria jangkung dengan rambut panjangnya.

"Saya sungguh belum menemukan 'kunci'nya, tuan?"

Orang yang terlihat seperti boss itu memandang tajam kebawah, kearah anak buahnya. "Baiklah, aku mempercayaimu untuk saat ini. Sebagai gantinya, aku akan mengirimkan Exorcist."

Tiba-tiba mata orang berambut silver itu membulat, sedikit rasa ingin membantah namun dia masih tidak kuasa untuk melakukannya. Dengan mata terpejam erat dan bersiap untuk undur diri. "Baik, tuan, saya undur diri."

Orang yang dipanggil tuan itu terlihat menyeringai lebar. Dalam gemerlap cahaya monitor, terdengar tawa yang sungguh menyeramkan.


Matrix: The Sins.


.

.

.

/

Di dalam sebuah gedung olahraga atau aula, yang memiliki berbagai macam lapangan permainan. Hari ini. Naruto, Kiba, dan Shikamaru mendapat kesempatan untuk berlatih tanding. Semua yang ada disini terlihat sudah familiar satu sama lain. Yah, memang tidak aneh, karena mereka satu angkatan yang kemarin menjalani tes.

Suasana disana seperti bukan mau bertanding, mereka malah main-main, tingkahnya seperit anak kecil saja. Termasuk Naruto yang sudah mulai akrab dengan yang lainnya. Kiba dan Shikamaru yang memang tidak termasuk tipe hyperaktif hanya melihat dan menikmati saja.

"Issei, kemari kau. Kau harus membayarnya!" teriak Naruto pada pemilik nama Issei, lantaran dia menjadi korban dari sebuah aksi kejahilan dengan memanfaatkan ketidaktahuannya.

Pemuda yang bernama Issei pun hanya tertawa terbahak-bahak sambil berlari, menghindar kejaran Naruto. "Kau saja yang bodoh, Naruto," balas pemdua berambut coklat jabrik tersebut.

"Heyy, kalian berdua, Ibiki-sensei sudah datang."

Set~

Bagai mendegnar sebuah mantra, kedua orang tersebut langusng terdiam dan kembali ketempat asal. Dan benar saja, Morino Ibiki masuk dari salah satu pintu tribun dengan berjalan cepat kearah para kadet yang sudah berbaris.

"Kalian sudah siap?" tanpa basa-basi Ibiki langsung bertanya to the point, sambil mengencangkan sarung tangan hitamnya.

Semua kadet mengangguk mantap.

"Baik kita mulai saja, yang pertama maju adalah….." Ibiki menjeda perakataanya sembari mengeluarkan kertas dari jubahnya.

"…. Hyoudo Issei melawan Toneri."

Dua orang yang merasa namanya dipanggil langsung maju, berhadapan satu sama lain di sebuah lapangan khusus.

Reaksi yang lain terhadap pertandingan ini berbeda, tapi kebanyakan mengunggulkan Issei, yah meskipun dia bodoh tapi mereka sudah mengenal baik siapa itu Issei. Bukan maksud meragukan Toneri tentunya.

"Ingat ini hanya latih tanding…. Oke, mulai."

Wussshhh~

Toneri dengan cepat sudah berada dihadapan Issei, yang kiranya terkejut dengan kecepatan pemuda putih itu. Satu tendangan berhasil mengenai Issei dengan telak didadanya, hingga membuat dia terdorong kebelakang.

"Kuhhh, kau tidak sabaran sekali," keluh Issei sembari memegang dadanya.

"Aku hanya mempercepat lajunya pertandingan ini." Toneri menjawab dengan gaya kerennya. Membuat beberapa kadet perempuan kesemsem oleh sikapnya. Lain halnya dengan para laki-laki, mereka cukup tertarik dengan hasilnya. Karena mereka akan melihat Toneri bertarung untuk pertama kali.

"Baiklah, kalau kau memang ingin cepat. Sekarang giliran-ku. Boost: Power-up." Aura disekitar Issei dengan cepat berubah menjadi kemerah-merahan. Issei seakan mendapat kekuatan tambahan 2 kali lipatnya, yang lainnya juga beranggapan begitu. Ya, inilah salah satu kemampuan Healing Arts bertipe Boost.

Tapi, bukan hal itu yang membuat Issei diunggulkan. Melainkan Karena ini. "Hoy, hoy, Issei akan langsung menggunakannya. Kuharap Toneri dapat menghindar." Berbagai ungkapan terdengar disamping arena. Semua memandang serius kepada Issei, hanya Naruto yang tidak mengerti apa yang dimaksud.

"Welsh Dragon Slayer: Explosion."

Syuttt~

Sebuah bola berpendar hijau meluncur dengan cepat kearah Toneri.

Bummm~

Ledakan cukup besar pun terdengar, asap mengepul dan menutupi sebagian arena, yang untungnya sudah dipasangi barrier terlebih dahulu.

Teman-teman yang melihat tempat Toneri pun memandang khawatir, bahkan ibiki sedikit cemberut akibat Issei terlalu berlebihan. Namun itulah Issei, dia bertindak sebelum berpikir, dia terpancing oleh perkataan Toneri dan langsung menyambutnya dengan tindakan bodoh.

Yah, yang membuat dia unggulkan adalah karena diumurnya yang sekarang dia sudah memegang kendali dari 2 jenis arts yang berbeda, terlebih Slayer Arts-nya sudah sampai ketingkat Dragon, bahkan sebelum mengikuti ujian esper pun dia sudah bisa menggunakan arts-nya dengan cukup baik.

Itu semua sepertinya berkat keluarganya, yang memang termasuk keluarga elit di desa. Bisa dibilang dia anak yang berbakat dan beruntung.

"EH, astaga, Toneriii." Issei terlihat panik saat kesadarannya telah dia ambil alig kembali. Dia berlari kearah ledakan, namun saat asap mulai menipis…

Zztt~

Terlihat semacam bola berwarna hitam melayang rendah diudara. Perlahan bola itu turun dan langsung terbuka memperlihatkan Toneri didalamnya. Semua orang tidak percaya saat melihat Toneri baik-baik saja, antara terkejut dan senang.

"Aku tidak apa-apa, kau tidak perlu panik seperti itu, Issei." Toneri berjalan keluar dari bola itu yang perlahan terbelah menjadi beberapa bagian kecil, lalu bagian-bagian itu melayang dibelakangnya.

Dalam hati, Issei senang dan juga terkejut. senang karena lawan tandingnya baik-baik saja, terkejut karena serangannya bisa ditahan. Dia pun segera bersiap saat melihat Toneri mulai berjalan mendekat.

Issei memandang tajam bola-bola hitam yang terbang dibelakang Toneri, dia tahu apa itu dan dia harus berhati-hati. "Issei, teknikmu sebenarnya hebat, kau juga berbakat, tapi kekuranganmu lah yang membuatnya menjadi tumpul. " Issei mendengarkan Toneri sambil bersiap dengan kuda-kudanya.

Toneri terlihat tersenyum sedikit. Dia kemudian mengarahkan tangannya kedepan. "Kau itu tidak perhitungan dan sedikit kurang pintar. Terimalah ini. Truth-Seeking Ball: Dark Spears."

Seet~ Seet~ Seet~

Bola-bola hitam itu satu-persatu mencair lalu dengan sekejap mamadat kembali, berubah menjadi sebuah tombak hitam yang kemudian secara bersamaan tombak-tombak yang berjumlah Sembilan itu maju, mengarah kepada Issei.

Syutt~Syutt~Syutt~

Issei menghindari tombak demi tombak yang berdatangan, tapi seakan dikendalikan, tombak itu terus saja mencoba melukainya. 'Aku harus melakukan sesuatu,' ujar Issei dalam hati.

Mata Issei tiba-tiba membulat, seolah-seolah menyadari sesuatu ditengah kondisinya yang sedang terjepit. Dengan menggunakan Boost, Issei memancing tombak-tombak itu untuk mengikuti pergerakannya. Pemuda berambut coklat itu berlari kearah Toneri dengan kecepatan yang lumayan.

Toneri yang melihat hanya mengangkat alisnya, kemudian dia tiba-tiba menyeringai, namun tidak ada yang menyadarinya. Sepertinya dia sudah mengetahui apa yang akan dilakukan Issei.

Swussh~ Swussh

Zungg~

Terlihat ditangan Issei sudah terkumpul gumpalan chakra berwarna hijau seukuran bola sepak. Entah apa yang akan dilakukan, jarak antara kedunya pun semakin menipis.

Semua orang berpikir bahwa Issei akan menyerang Toneri, dengan posisi seperti itu tidak salah lagi, tapi apa mungkin bisa? Menyerang secara blak-blakkan seperti itu.

Namun, yang terjadi malah sebaliknya.

Saat jarak keduanya tinggal beberapa meter, Issei dengan tidak terduganya malah meledakkan gumpalan chakra tadi ke arena, hingga membuat gelombang kejut yang membuat dirinya terlempar keudara, kemudian Toneri yang melihatnya tidak bisa diterka bagaimana ekpresinya lantaran tertutup oleh debu bekas ledakan tadi, tombak-tombak yang mengikuti Issei sedari tadi malah mengenai tuannya sendiri.

Duar~

Beberapa saat tidak ada pergerakan dari asal asap yang mengepul, Issei yang sudah mendarat meskipun ikut terluka karena memaksakan diri, sudah berdiri dengan memegangi satu tangannya yang berdarah. Nafasnya terengah-engah, mencoba untuk tetap sadar.

Penonton yang melihat hal itu tidak menyangka bahwa Issei akan melakukan alternative seperti tadi, ampuh namun mematikan.

"…"

"…"

Masih belum ada sepatah katapun.

Beberapa saat kemudia, saat asap sudah menipis, terlihat sebuah tangan yang diacungkan keatas.

"Ohok,.. ohok,… Aku menyerah." Terdengar sebuah suara yang mengaduh kesakitan yang ternyata adalah Toneri, ia terlentang di arena dengan baju compang-camping dan beberapa bagian tubuhnya terlihat memar, serta tanah yang berlubang-lubang. Bola-bola hitamnya pun sudah menghilang.

Pemuda putih itu mencoba berdiri, dengan sisa tenaga dia berjalan kearah penonton. Sejenak melihat kearah Issei yang sedang menuju kearah yang sama, kedunya terlihat saling melempar senyuman.

"Wooohh, kalian hebat, Seru sekali,"

"Benar, ini seperti kau melakukan lemparan dan 'duar', lalu 'bumm', dan kemudian 'blarr' lagi."

Pertandingan tadi pun selesai dengan kemenangan diraih oleh Issei atas Toneri. Pertandingan yang terlihat main ledak-ledakkan memang mengundang decak kagum.

Keduanya pun terlihat dibawa keruang kesehatan oleh petugas yang berjaga.

Naruto yang melihat pertarungan itu tidak henti-hentinya menyaksikan dengan minat yang tinggi, suara ledakan dan atmosfernya sungguh berbeda bila dibandingkan dengan hanya adu fisik belaka. Tapi, menurut penilaiannya, ada sedikit keanehan yang terjadi pada Toneri disaat-saat terakhir tadi, namun entah apa itu.

"Hey, aku ingin bertanya. Sebenarnya, tadi Toneri menggunakan arts jenis apa? Kok, seperti aneh, bolanya padat kemudian cair, lalu memadat lagi menjadi tombak. " Naruto bertanya demikian pada orang disampingnya saat tadi melihat kemampuan milik Toneri tadi.

Shikamaru yang kebetulan berada tepat dipinggir bocah purba sedikit mendelik kearahnya. "Oh, apa kau memang setidak tahu ini, Naruto?" tanya balik Shikamaru yang heran pada teman sekamarnya ini, padahal wajahnya seperti bukan orang bodoh.

Sedangkan Naruto sendiri hanya merengut saat ditanya begitu. Shikamaru pun menghela nafas. Mau tidak mau dia harus mengalah.

"Baik, akan aku jelaskan. Dalam beberapa kasus saat pembangkitan arts seseorang, seringkali terjadi yang namanya Double Origin. Double Origin adalah keadaan saat dimana seseorang memilki dua jenis dari bagian arts, misal di kasus Toneri dia adalah pengguna Creation Arts yang memiliki 2 jenis, yakni Solid dan Liquid. Oleh karena itu dia dengan sesuka hati bisa memadat dan mencairkannya tanpa membuat yang baru lagi.

Keadaan ini sering terjadi pada pengguna Creation Arts dan Slayer Arts, dan jarang sekali ditemukan pada yang lainnya. Sifat dari penggabungan Solid dan Liquid itu menimbulkan sifat yang baru yakni choranaptyxic, yakni sifat yang bisa menyesuaikan ukuran dan volume dengan ruang yang ada. Itulah sebabnya tadi kenapa, ukuran volume bola hitam yang relatif kecil bisa bertambah hingga membentuk tombak yang lebih besar. Kemampuan Toneri itu disebut Gudoudama atau Truth-Seeking Ball."

Naruto mengangguk mengerti pada penjelasan Shikamaru, kiranya dia paham kenapa Toneri bisa dengan mudah menahan serangan kuat dari Issei tadi, rupanya dalam hanya sepersekian detik dia menciptakan perisai padat dari sebuah cairan lalu dengan seenak udelnya dia mencairkannya lagi lalu memadatkannya kembali menjadi bola.

Dia kemudian melihat tubuh Toneri yang sedang dibopong dengan tandu oleh para petugas, memandangnya cukup lama hingga atensinya kembali teralihkan saat mendengar suara Ibiki.

"Kita ke pertandingan selanjutnya, yang akan maju adalah Yuuto Kiba dan Naruto."

Naruto terhenyak begitu namanya terpanggil. Apalagi lawannya adalah teman sekamarnnya. Ini akan menjadi ajang bergengsi bagi keduanya.

Kiba dan Naruto pun berjalan memasuki arena khusus. Kedunya berhenti saat jarak tercipta cukup jauh, mereka berdua saling memandang satu sama lain. Surai masing-masing terlihat berkibar diterpa angin sepoi-sepoi.

Suasananya begitu serius. Mata keduanya begitu tajam, hingga seolah-seolah akan menusuk siapa saja yang memasuki territorial-nya.

"Mulai!"

Zung~

Muncul sebuah lingkaran merah kecil didepan Kiba. Pemuda itu kemudian memasukkan tangannya kedalam lalu menariknya kembali dengan sebuah pedang biasa yang sudah ditangan. Dan sedetik kemudian dia berlari dengan sangat cepat.

'hoo, jadi seperti itu cara kerjanya.' Minat Naruto bangkit begitu melihat kekuatan Kiba, ia pikir kemampuannya sangat menarik. Naruto pun ikut bersiap, dia bisa mengikuti pergerakan Kiba. Jangan salah, dulu dia juga sering bertanding dengan orang-orang berkecepatan diatas rata-rata, jadi bila menyangkut adu fisik baik senjata maupun tangan kosong dia sangat percaya diri.

Swushhh~

Tebasan menyamping Kiba hanya mengenai udara, dia melihat Naruto sudah menunduk terlebih dahulu. Disisi lain, bocah purba terlihat melancarkan pukulan atas, namun sayang, hal itu bisa ditahan pedang Kiba dengan bagian lebarnya.

Kiba kemudian memanfaatkan moment ini, dia menarik tangan Naruto sehingga membuatnya terjerembab masuk dalam jangkauan Kiba. Dia melancarkan tebasan sekali lagi.

Namun, kemampuan Naruto tidak bisa dianggap remeh. Dia terlihat menghindari setiap tebasan dari Kiba.

Swussh~

Teng~

Duk~

Swusshh~

"Kau lumayan Naruto," ucap Kiba begitu mundur terlebih dahulu. Narutp hanya tersenyum senang mendengarnya. "Kau juga, Kiba."

"Baiklah, kita tingkatkan levelnya. Sword Creation: Vengeance," ujar Kiba sambil menarik sesuatu dari dalam lingkaran miliknya, kali ini sebuah long sword berwana hitam legam dengan gagang bertali putih.

Kiba pun memposisikannya seperti seorang ksatria sungguhan. "Aku datang, Naruto." Kiba tiba-tiba menghilang dari tempatnya, seolah yang tadi hanyalah proyeksi dari dirinya.

"Gihhh." Naruto sedikit terkejut saat melihat kecepatan Kiba yang naik sangat drastis. Dari yang awalnya hanya kucing kali seperti jaguar yang siap menerkam mangsanya.

Terpaksa dia pun mengeluarkan sebilah belati dari kantung senjatanya.

Teng~

Teng~

Dentingan logam terdengar begitu nyaring, pergerakan kedunya memang terlihat seimbang, namun serangan Kiba terlihat masih memojokkan Naruto.

Penonton yang melihat hal itu, ternyata cukup menaruh respect kepada bocah purba lantaran bisa memberi perlawanan pada pendekar pedang itu. Yah, karena Kiba memang dikenal sebagai salah satu dari 2 petarung paling handal diumurnya.

Trakk~

Tak~

Hal tak terduga terlihat menghampiri pertarungan itu. Belati Naruto terlihat patah, terbelah dibagian tengahnya, sang empu belati yang melihat kejadian itu membalakakan matanya, hingga mengganggu konsentrasinya pada Kiba.

Kiba yang melihat kesempatan pun tidak menyianyiakannya. Dia dengan gerakan akrobatiknya memberi beberapa irisan-irisan kecil diseluruh tubuh Naruto.

Slice~Slice~Srengg~

"Argh, sial." Naruto memegangi salah satu tangannya yang menjadi titik serangan Kiba, darah terlihat membentang, membentuk sebuah garis panjang.

"Kau lengah, di-saat-saat krusial." Kiba menjawab dengan enteng sambil membersihkan pedangnya dari darah Naruto.

'Kuhh, ternyata tadi dia hanya mengetes-ku,' ungkap Naruto dalam hati saat mengetahui bahwa Kiba hanya mengetes kemampuannya saat pertama. 'Baiklah, sepertinya, mau tidak mau aku harus menggunakan arts-ku.'

Naruto mengubah posisinya, dia sekarang seperti sedang mengumpulkan tenaga. "Haaaaaa!"

Aura tubuh Naruto terlihat berubah, rambutnya perlahan terangkat. 'Tenang. Menurut buku yang kubaca, kunci dari pelepasan arts adalah tenang dan tetap pada jalurnya.' Naruto bermonolog dalam sambil memejamkan matanya. Tanpa sepengatahuan Naruto, matrix yang tertanam didadanya mengeluarkan cahaya yang lebih banyak dari biasanya, bahkan hingga bisa dilihat dari pinggir lapangan.

"Apa itu yang keluar dari dada Naruto?"

"Itu terlihat bercahaya, seolah akan meledak."

Sekejap kemudian, bola mata yang tertutup itu terbuka lebar. "Ancient Ancestor: Demolition Fist!"

Wusshh~

Setelah Naruto meneriakkan nama tekniknya dan memukul udara kedepan. Tiba-tiba terjadi angin ribut lalu diikuti oleh sebuah aura merah membentuk kepalan tangan astral yang cukup besar melaju kearah Kiba.

Zrrrasssss~

Wungggg~

Kiba yang masih dalam kondisi saat tangan astral itu melaju kearahnya harus merelakan lengan kanannya kena. Untung arah serangan itu lurus, tidak bisa berbelok, jadi saat dirinya sadar, dengan mengandalkan kecepatannya dia masih sempat menghindarinya.

Semua orang, termasuk Ibiki, untuk sesaat terdiam pasca melihat serangan tadi, tangan astral itu terlihat meninggalkan bekas lintasan di arena.

Dugg~

Terdengar suara benturan, yakni sebuah tubuh yang ambruk ketanah. Itu adalah Naruto. Rupanya sang pelaku-pun tak kuat menahan beban yang dikeluarkan teknik tadi.

Dugg~

Terdengar kembali suara benturan. Kali ini Kiba lah yang tersungkur ke tanah.

Kedua pemuda itu pun tak sadarkan diri. Membuat Ibiki sebagai yang berwenang bertindak cepat. Teman-teman pun semuanya terlihat shock, dengan hasil yang. Hasilnya tidak jelas, siapa yang mengalahkan siapa.

"MEDISSSS!"

...

/


Bersambung…

A/N:

Hola~ Selamat bertemu lagi, semuanya. Semoga dalam keadaan sehat.

Update-nya cukup cepat, ya. Hahaha~ iya nih, lagi ada waktu.

Di note ini sih, yang mau disampain gk banyak, yah paling 2, deh. Yang pertama, soal deskripsi, terutama soal arts, jadi, kalau kalian semua kurang paham sama deskripsinya, yah, harap maklum. Saya udah coba ngebuat selogis dan sesederhana mungkin itu.

Terus, yang kedua. Soal Double Origin. Double Origin itu sodara Kekkei Genkai. ngegabungin tanah sama air, solid sama liquid. Tapi, gak bisa ngegabungin Creation Arts sama Slayer, atau sama yang lainnya. Ya kali, mau gabungin genjutsu sama ninjutsu dalam satu serangan, mana bisa, kan? Yah, konsepnya sama menggabungkan 2 unsur jadi 1. Tapi, kekkei genkai kan ada factor keturunan yang mempengaruhinya, nah kalo yang disini ga ada.

Oke deh, segitu dulu aja. Makasih bagi yang udah nyempetin baca. Kalo ada yang mau ditanyain, ngeluh atau apapun. Jangan ragu buat tinggalin jejak di kolom review.

Dadah~

Sabtu, 07 April 2018.