Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto. High School DxD © Ichiei Ishibumi, dan unsur-unsur lainnya bukanlah miliki saya.
Genre(s): Adventure, fantasy, slight sci-fi.
Warning(s): Ooc, ar, au, typo, gaje, newbie, oc, and many more.
Pair: Belum waktunya.
.
.
.
/
Langit malam terlihat bercahaya; bintang-bintang serta bulan terlihat seperti saling bertukar cengkrama, mereka seperti lukisan indah yang menjadi sasaran penenang bagi para makhluk fana.
Disuatu tempat yang tidak diketahui gerangannya. Berkumpul beberapa orang yang sedang duduk melingkari sebuah meja bundar. Tempat itu terlihat kusam, lembab dan remang-remang cahaya rembulan yang menembus jendela menjadi penerangan paling memikat.
Malam telah tiba di setengah perjalanannya, tapi orang-orang ini tidak terlihat berniat untuk segera beranjak lalu pergi tidur. Malah bila dilihat lebih jelas, mereka terlihat belum memulainya.
Salah satu dari mereka terlihat mendengus kasar, tangannya terlihat menopang wajah putihnya yang terlihat merengut. "Hey, kenapa belum dimulai? Cepatlah, aku ingin segera memeluk kapas empuk-ku," ungkap orang itu.
"Sabarlah sedikit. Ketua sebentar lagi datang," ujar seorang pria kalem sambil memegangi kacamatanya.
"Huhh, dia itu sungguh tidak disiplin, dia yang mengadakan rapat, dia sendiri juga yang ter-"
Kriett~
Perkataan tadi terpaksa harus terpotong sebab kemunculan seseorang yang membuka pintu, dan merupakan orang yang sudah ditunggu-tunggu.
"Maaf, atas keterlambatanku, ada beberapa kendala tadi." Orang yang tadi dipanggil ketua itu terlihat duduk pada kursi yang masih kosong, dengan santai dia meminta maaf pada rekan-rekannya.
"Huh,…"
Ketua itu terlihat memandangi orang yang banyak bicara tadi. Menghela nafas sedikit, lalu memposisikan dirinya seperti orang yang berwibawa.
"Baiklah, kita mulai saja."
Seluruh orang yang ada disana pun langsung memberikan atensi penuh pada ketua mereka. "Aku mengadakan pertemuan mendadak ini, karena mendengar kabar baik sekaligus mengejutkan yaitu bahwa beberapa 'T-Gen' telah terbebas, mereka diketahui telah terbangun beberapa hari yang lalu."
Sontak yang lainnya saat mendengar hal itu tubuh mereka dengan sendirinya langsung menegang. Untuk sesaat keadaan menjadi hening, mereka mencoba menerima dengan baik informasi yang baru saja mereka dengar.
"Apa itu benar? Apa ini bukan lelucon," tanya salah satu dari mereka.
"Tentu, buat apa aku membual tentang berita menggembirakn ini."
"tadi, kau bilang beberapa? Itu berarti sudah ada lebih dari satu, kan? Dan siapa Guardian-nya."
Semua orang memandang kearah ketua mereka, bila dilihat lebih jelas seluruh anggota yang ada disitu memiliki rambut yang tidak jauh berbeda, yakni abu-abu keputihan. Itu menandakan bahwa di antara mereka memang ada sesuatu yang mengikat, meskipun belum tentu juga, sih.
"…."
Akan tetapi, ketua mereka tidak kunjung menjawab, melainkan hanya memandang lurus kedepan, lebih tepatnya kearah orang di seberang duduknya. Tentu, hal itu mengundang perhatian yang lain, mereka pun mengikuti arah pandangan itu.
Sontak semua memasang ekspresi tidak menyangka kepada orang itu. "Toneri, bisa kau beritahukan sekali lagi dengan benar?" tanya si ketua atau mungkin lebih tepatnya adalah perintah kepada Toneri. Tunggu, ternyata itu adalah Toneri. Pemuda tempo hari yang bertanding melawan Issei, si pengguna Double Origin.
Toneri yang sedari tadi hanya diam, mau tidak mau kali ini harus menuruti apa kata ketuanya itu. Dengan terlebih mengambil nafas, dia pun mengatakan yang sebenarnya. "Aku, sebagai Guardian dari T-gen No.9 memberitahukan bahwa T-gen yang aku jaga telah melewati fase Terrigenesis-nya, dan telah keluar dari tempat persembunyiannya, dia kini telah berbaur dengan masyarakat sekitar."
Seluruh pasang mata memperhatikan setiap gerak mulut dari Toneri, mereka terlihat sangat antusias saat mendengarnya. "Dengan begitu, tugas-ku sebagai Guardian pun akan berubah sesuai dengan yang telah ditentukan." Toneri menyudahi penjelasan panjangnya, dia mengeluarkan nafas panjang, dada yang terlihat mengembang pun kini telah mengempis kembali.
"T-Gen no. 9, ya? Hmm, ternyata kau memang beruntung, Toneri-kun," ujar salah seorang di antara mereka yang mengenakan kacamata kepada Toneri. Merasa dirinya sedang dipuji, Toneri memandangi sang pelaku tadi, keduanya cukup lama terjatuh dalam tatapan masing-masing mengabaikan ungkapan-ungkapan yang dikeluarkan oleh yang lain.
"Baiklah, kalau begitu Toneri, selamat atas apa yang telah terjadi. Dan… jangan lupa pada tugas-tugasmu, mengerti?" sang Ketua memandangi Toneri sedikit lama seolah memberi peringatan kepada pemuda porselen itu.
Toneri pun dengan cakap mengerti apa yang dimaksud ketuanya itu, dia mengangguk mantap dengan sedikit senyum terukir di wajahnya. "Baik, laksanakan."
.
.
.
Summary: Kegagalan. Setiap orang pasti pernah mengalami hal tersebut, sesuatu yang tidak bisa di hindari di kehidupan ini. Tapi, dari kegagalan itu niscaya akan mendapatkan sesuatu yang berharga, percayalah. Ini adalah kisah seorang Uzumaki Naruto yang tidak ingin mengulang kegagalan tebesar dalam hidupya. Dengan perjalanan panjang, dia akan menemukan harapan dari seluruh Dunia.
.
.
.
/
Lembayung jingga sudah mulai menampakkan dirinya, sorot sang raja siang pun tak lama lagi akan sampai di peraduannya.
Lembayung itu pula yang menjadi tanda bahwa segala aktifitas makhluk dibawahnya akan mencapai klimaks. Hal itu juga berlaku bagi Naruto, pemuda itu kini terlihat sedang berjalan pelan ditengah lalu lintas desa yang sangat padat.
Sejenak ia berpikir bahwa melihat kemajuan di zaman ini membuat dirinya sedikit berkecil hati. Lihatlah layar-layar led yang menampilkan iklan-iklan hits; restoran mewah; kebun binatang; dan sebagainya. Itu semua belumlah ada di zamannya.
Menghela nafas cukup dalam, ia menggelengkan kepalanya berpikir bahwa tidak ada gunanya menyalahkan nasib, toh sekarang ia juga sudah bisa menikmati semua itu, bahkan bisa dibilang dia hidup di lintas generasi.
Tiba-tiba netra Naruto melirik kearah samping, tidak lama memang namun itu seolah mengindikasikan sesuatu, lantas Naruto pun mempercepat langkahnya. Dia kini sedang menuju rumahnya, kebetulan hari ini akhir pecan dia berniat untuk menginap di rumah yang baru ia miliki belum lama, kan sayang bila tidak diurus.
…
…
…
/
Skip time.
Malam ini begitu sunyi, rembulan seolah bertugas seorang diri, dia tidak ditemani bintang-bintang cantiknya.
Di rumah Naruto, yang sudah berada dalam keadaan gelap gulita. seolah tidak membiarkan cahaya malam menyusup masuk untuk sekedar menyapa penikmatnya. Namun, keadaan rumah yang seperti itu berbanding terbalik dengan si pemilik rumah.
Kedua manik Naruto sudah terlelap, tubuhnya menghadap ke langit-langit rumahnya. Namun, bila dilihat lebih jelas, wajahnya terlihat gusar sambil sesekali memutar tubuhnya ke kiri dank e kanan, ditambah dengan alis yang terkekuk mendadakan bahwa pikirannya sedang terbang ketempat lain.
Naruto POV
Pemandangan ini…..
Pemandangan ini sungguh sangat membuat hatiku tercekik, membuat kaki ini tak sanggup lagi berdiri. Pemandangan ini sungguh membawa pil pahit bagi kenangan ku.
Ku lihat kedua tangan ku sendiri, yang bergetar sangat hebat. Aku bisa merasakan cairan bening mulai mengalir turun dari mataku ini, begitu deras hingga terasa seperti berada di neraka.
"TIDAAAAAAAAAKKKKKKK!"
Aku berteriak sangat keras, netraku memandang kedepan. Pada dua buah tubuh yang tergeletak dilantai rumah ini. Lantai yang sudah dipenuhi oleh cairan merah yang menyakitkan.
Kupaksakan tubuh kecil ini untuk bangkit, namun apa daya. Aku hanya bisa merangkak sambil mendekati dua tubuh itu.
Grep~
Sebuah lengan berada digenggamanku, tangannya begitu dingin dihiasi dengan warna merah menambah kekesalan hati yang sudah hancur ini.
"Hiks, hiks, ….IBUUUUUU, AYAHHHHHHH! TIDAAAAKKKK"
Aku mulai terisak sambil meneriakki mayat kedua orang tuaku, yang tepat didepan mata. Ku genggam kedua tangan itu dengan sekuat hati, mencoba mengalirkan kehangatan yang kupunya. Namun semua itu percuma, itu justru malah semakin terasa menyesakkan.
"BANGSAT KALIAN SEMUAAAA!"
Aku mulai menggila. Saat menyadari suatu hal, mereka yang bertanggung jawab atas apa yang terjadi sekarang ini. Di sisi lain, aku merasa marah pada diriku sendiri. Karena tidak mampu untuk melindungi mereka. Aku sudah gagal.
Sambil terus terisak, aku menopang dua kepala orang yang kusayangi itu diatas pahaku. Memeluk mereka berdua tanpa mengindahkan bau amis yang menyeruak masuk kerongga hidungku. Aku yang masih belum cukup umur ini tidak berpikir untuk segera meninggalkan mereka, berharap sebuah keajaiban akan datang menghampiri kami.
Aku menunggu. Terus menunggu, hingga entah sudah berapa lama aku disini. Rasa lapar, lelah aku sudah perduli dengan semua itu. Tidak ada satu orang pun yang datang, kerabat, tetangga, semuanya nihil. Hati kecil yang sudah hancur ini mulai menghitam.
Tiba-tiba, sebuah bayangan dari seseorang menutupi diriku. Aku mengabaikannya, merasa percuma bila yang datang hanya untuk mengahasihani. Ini sudah terlambat.
"Bangun, nak!"
Sebuah perasaan membuncah tatkala aku mendegar suara itu, berpikir bahwa sudah berapa lama aku tidak mendengar suara seseorang. Yang aku dengar selama ini hanyalah bisikan-bisikan setan yang terus berputar dikepalaku. Dengan reflek, aku bergerak keasal suara itu, meskipun dengan tenaga yang lemah ini.
Dan, saat itu, untuk pertama kalinya aku melihat seorang pria renta dengan pandangan teduhnya.
"Aku akan membantumu. Kita hanya perlu 'kunci'nya."
Swuss~
Tiba-tiba semua yang berada dalam jarak pandanganku memudar dengan cepat.
Naruto POV End
.
.
.
Chapter 4: Aku adalah Bayangan.
.
.
"Hah,… hah, hahhh." Tubuh pemuda itu terperenjat dari tidurnya. Peluh membanjiri sekujur tubuhnya. Maniknya terlihat membulat sempurna, dengan tangan tangan yang memegangi dadanya. Wajahnya menunjukan keterkejutan yang amat sangat.
Naruto terlihat seperti seserorang yang baru saja menyelesaikan misi berbahaya. Butuh waktu beberapa saa sampai keadaan Naruto tenang kembali. Pemuda itu terlihat mengambil nafas panjang untuk mengatur tubuhnya.
"Kenapa aku bermimpi hal buruk seperti itu?" tanyanya pada diri sendiri sambil mengusap kasar wajahnya. Dia kemudian beranjak dari ranjangnya, dalam hati berniat untuk mengambil segelas air agar kondisinya merasa lebih tenang lagi.
Tapi, baru saja akan mengambil langkah. Indranya langsung merasakan sesuatu yang tak mengenakkan. Dalam posisi waspada, dia memutuskan untuk lanjut mengambil air.
Seakan tidak mengijinkan dirinya untuk pergi, tiba-tiba datang sebuah tendangan dari balik tirai gordeng, yang mengarah ke wajahnya.
Naruto tak sempat mengelak, selain kondisi ruangan yang gelap pikirannya juga sedang terganggu sekarang. Alhasil, ia harus merelakan tubuhnya menabrak dinding dengan keras.
Dugg~
Naruto sedikit meringis saat merasakan punggungnya terhantam dengan keras. Namun, ia tidak memikirkan hal itu. Yang ia pikirkan sekarng adalah, siapa yang menyerangnya barusan? Apa tidak ada waktu yang lebih baik?
Dari balik bayangan muncul seorang pria dewasa mengenakan jubah hitam dengan aksen abu-abu. Wajah pria itu sungguh sangat seperti orang gila, matanya entah kenapa bisa kecil sebelah, apalagi senyumannya yang amat menjijikan.
"Siapa kau?" tanya Naruto dengan logat seriusnya.
"Muehehe…., pertanyaan klasik."
"Aku tanya siapa kau? Kenapa kau menyerangku, hah?"
Pria itu terlihat seperti sedang berpikir sesuatu. "Muehehe, baiklah, aku akan memberimu penawaran. Kalau kau bisa menghiburku, aku akan memberitahu siapa aku sebenarnya, bagimana?"
Naruto tidak mengerti apa yang dimaksud olehnya, pemuda itu terlihat mencoba berdiri kembali. "Kau orang gila. Lupakan saja, dan Kau bilang akan menumbangkanku?"
Pria yang memiliki surai silver itu mengangguk.
Naruto mendengus sebal. "Aku tidak tahu apa siapa kau atau apa yang membuatmu melakukan ini. Tapi, satu hal, kau tidak akan bisa menumbangkanku dengan mudah."
Naruto sudah terlanjut kesal kepada makhluk didepannya ini, dirinya dengan tidak ingin bercakap-cakap panjang lebar, ia ingin segera menyelesaikannya agar bisa mengambil segelas air lalu pergi tidur kembali. Mood-nya memang sedang tidak bagus sedari pagi tadi, lalu ditambah dengan mimpi menyebalkan dan sekarang ada orang gila didepannya. Masa bodoh dengan kemungkinan dia masuk surat kabar karena telah menghajar orang gila.
Swossh~
Naruto merangsek maju. Dia mengarahkan sebuah tendangan pada musuh gilanya itu. Akan tetapi, serangan itu dapat dihindari dengan mudahnya.
Tak berhenti sampai disitu. Naruto terus memberikan serangan beruntun, tendangan, tinjuan, sergapan ia keluarkan diruangan yang minim cahaya tersebut. Alhasil, yang terlihat oleh kita tidak secara keseluruhannya.
Namun, yang pasti orang itu bisa menghindari dengan baik semua serangan Naruto, bahkan responnya masih terbilang santai.
Naruto terlihat mundur kebelakang saat merasa yang ia lakukan sia-sia. Dirinya juga sedikit tidak percaya, ternyata orang didepannya ini bukanlah orang gial biasa. Padahal, taijutsu yang lakukan adalah yang sudah banyak dipakai orang zaman sekarang.
"Kalau begitu, sekarang giliranku."
Naruto membualtkan matanya saat tiba-tiba orang itu menghilang dan muncul didepannya lengkap dengan tangan yang terbalut cahaya.
BLARRRR~
Tubuh bocah purba itu meluncur dengan keras, hingga berhasil menembus tembok rumahnya sehingga lubang menganga pun tercipta dengan jelas.
"Akhh!" Naruto merintih sambil mencoba bangkit dari posisinya sekarang. Kekesalannya semakin membuncah tatkal menyadari bahwa rumahnya sudah rusak. "Sialan!"
Pria misterius itu kemudian turun, mendarat di halaman belakang rumah.
"Aku kecewa bila ternyata targetku hanyalah seseorang yang lemah seperti ini."
Naruto memandang dingin. Rupanya dia benar-benar marah. "Cukup, omong kosongnya! Aku tidak mengerti sama sekali apa yang kau maksud."
Naruto bersiap dengan. Kuda-kudanya terliaht berbeda dari yang biasa.
Dia berlari dengan cepat, melesat untuk menyerang kembali orang itu.
Satu tendangan atas berhasil dilancarkan, akan tetapi masih bisa dihindari dengan cara menghindar kebawah alias berjongkok.
Tak kehabisan akal, Naruto langsung memutar tubuhnya, memberi sebuah sapuan bawah yang cepat.
Tak~
Serangan itu berhasil ditahan dengan dua tangan dari pria misterius itu. Dalam posisi seperti, Naruto kemudian mengarahkan tinjunya kearah muka, yang tidak ada penjagaan karena tangan pria itu sedang menahan kakinya.
Swussh~
Tapi, lagi-lagi tidak kena, kali ini sempat menyerempet pipinya, yang kemudian meninggakan lecet diwajah itu. Untung dia sempat menambahkan chakra ketangannya sehingga jangkauan serang pun bertambah
Pria itu pun terpaksa harus mundur, dia menyeka pipinya yang lecet. "Lumayan, tapi masih lemah!"
Naruto mengabaikan hinaan itu, dia sekarang lebih fokus pada apa yang ia persiapkan. Ia akan melancarkan serangan andalannya.
"Haaaaa!"
Pria itu terlihat menaikkan alisnya, dia bisa merasakan dengan sangat bahwa udara disekitar mereka seperti tertarik kearah Naruto. Tapi, yang membuat dia heran adalah tidak ada chakra sama sekali yang terasa. Apa Naruto menggunakan sesuatu yang lain?
"Sebenarnya kau sedang apa, hah? Kau tidak sedang menunggu untuk diserang bukan, bocah!"
"Huh. Kebetulan karena hari ini aku sedang jengkel, maka kau akan menjadi samsak yang tepat untuk melampiaskan kekesalanku ini. "
"Re: Taekwondo: Hoechook Tiga Tingkat."
Swosshhh~
Dalam sekejap, Naruto sudah berada didepan pria itu, dan langsung mengerahkan tendangan 3 tingkat yang ia pernah gunakan untuk melawan Maduke, tempo hari dulu. Dan itu terbukti ampuh untuk melumpuhkannya.
Puk~Puk~Dug~
Swingg~
Duarr~
Tubuh targetnya pun terpental jauh, bahkan sempat terseret beberapa meter ditanah. Teriakkan cukup keras pun terlontar keluar dari pria berambut silver itu.
"Huhhhhh." Naruto melemaskan tubuhnya, ia beranggapan bahwa teknik itu sudah cukup untuk membuatnya berhenti mengoceh.
Namun, ternyata dirinya salah.
Karena, pria itu terlihat masih bisa bangkit, bahkan langsung berdiri dengan tegap seperti tadi. Orang itu terliaht sedikit menundukan sambil memegangi kepalanya.
"Muehehehahah…. Bagus sekali! Seranganmu itu, sungguh berkesan! Aku mulai mengerti kenapa 'kunci' seperti kau sangat dinginkan."
Naruto merutuk dalam hati. Tidak menyangka bahwa serangan itu akan gagal, padahal teknik tadi merupakan salah satu teknik andalannya.
Selain itu, dirinya semakin tidak mengerti maksud dari perkataan orang ini. Kunci? Tunggu, sepertinya ia pernah mendengar hal itu disuatu tempat.
"Apa maksudmu?"
Orang itu terlihat menyeringai lebar."Sesuai perkataanku tadi, aku akan memberitahumu siapa aku sebenarnya. Namaku adalah Freed Zelzan, aku adalah Exorcist."
"Exorcist?" tanya Naruto bingung, ia baru pertama kali mendengar kata itu.
"Kau tidak tahu apa itu Exocist?" Pria itu malah balik bertanya saat melihat reaksi Naruto tadi.
"…"
Naruto hanya diam. Menunggu pria bernama Freed itu untuk meneruskan perkataannya.
"Yah, hanya ada satu cara untuk membuktikannya," ungkap Freed seolah mengatakan itu pada dirinya sendiri, bukan pada Naruto.
Naruto pun dibuat bingung, sedari tadi dia tidak mengerti sama sekali.
Namun, pikirannya kembali fokus pada pertarungan saat Freed berlari kearahnya. Pergerakannya cepat dan menusuk. Terlihat tangan Freed sudah terselimuti cahaya lagi, Naruto heran padahal dia tidak melihat Freed merapalkan sesautu, tapi dia bisa memunculkan tekniknya.
Jarak mereka semakin menipis. Freed pun mempercepat langkahnya, dia pun melancarkan serangan-serangan beruntun, dengan gerakan akrobatik itu tentu sedikit membuat Naruto harus bermanuver dengan cepat. Mereka berdua terlihat sangat lhat dalam setiap gerakannya.
"Re: Takwondo: Homi-Geolyi."
Tendangan belakang Naruto berhasil dipatahkan, kakinya terlihat dipegang oleh freed. Memanfaatkan hal ini, Freed pun dengan cepat mengangkat lalu melempar tubuh Naruto dengan keras hingga berguling-guling ditanah.
"Ugh..~
Sepertinya penggunaan elemen cahaya itu juga meningkatkan kecepatan dan reflek tangannya, dan ada yang aneh bila ditelusuri lebih jauh. Serangan Freed yang menggunakan cahaya memang tidak mengenai Naruto, namun yang membuatnya aneh adalah kulit Naruto serasa kepanasan saat berdekatan dengan cahaya itu, bahkan tadi, saat kakinya dipegang dan bersentuhan langsung dengan cahaya itu rasanya seperti dibakar.
Naruto dengan cepat menangkap hal ini, ia menyadari bahwa ini pasti karena bagaimana pun cahaya adalah sebuah penghantar panas yang dihasilkan dari sebuah tenaga, ini sama seperti menempelkan jarimu pada bola lampu yang sedang menyala, bila terlalu lama pasti akan panas juga, kan.
Naruto sudah berdiri kembali, dia harus segera menemukan mekanisme teknik itu.
Dia kemudian terlihat melakukan manuver sambil terus memperpendek jarak diantara mereka..
Swusshh~
Tak~
Sebuah pukulan dapat ditahan dengan mudah, namun tidak berhenti sampai disitu Naruto dengan cerdik dan cepat mengganti posisi tangannya, dari yang asalnya mengepal menjadi terbuka seperti akan mendorong sesuatu, dan benar saja dia dengan keras menghempaskan tubuh Freed kebelakang.
Tubuh Freed memang terdorong namun itu tidak memberikan dampak apapun terhadap pria tersebut. Tapi, Naruto tidak memberi Freed jeda, masih dalam posisi bertahan, Freed di gempur dengan serangan fisik Naruto yang mengarah bagian bawah tubuhnya dan memang harus ia akui sangatlah tidak terduga dan banyak sekali gerakan-gerakan simple namun akurat dan sepertinya bertujuan untuk mengurangi kontak dengan tangan cahayanya ini.
Freed pun berpikir untuk segera lepas dari gempuran ini, dia memang bisa bertahan dan menghindar tapi stamina pun akan berkurang sia-sia. Mata Freed akhinya melihat sebuah peluang, dia menghindari pukulan Naruto dan melepaskan sikutan pada tengkuk pemuda itu.
Tapi, hal di luar dugaan terjadi, ternyata Naruto bisa menghindri serangan balasan itu dengan berputar kearah samping yang kosong. Sepertinya ia sudah memperkirakan hal itu.
Tanpa mereka sadari, tampat mereka bertarung bukanlah di halaman belakang rumah Naruto, melainkan sudah berpindah kesebuah lapang berumput yang luas. Mereka larut dalam suasana pertarungan itu.
Peluh terlihat membanjiri seluruh tubuh Naruto, yang sepertinya sedang kepanasan. 'Untung tidak ada kontak langsung,… dan soal tangan cahaya miliknya, aku rasa itu memliki suhu yang fluktuatif, dari yang kulihat tadi sepetinya dia harus menyuplai lebih banyak chakra saat akan menyerang, itu artinya saat dalam bertahan suhu cahayanya akan mendingin.'
Naruto menganalisa cara kerja tangan cahaya milik Freed itu. Dia kemudian sedikit tersenyum, puas dengan apa yang dapatkan.
"Sepertnya tangan cahayamu itu memerlukan suplai chakra yang terus menerus, ya? Itu artinya seberapa lama pun kau menggunakannya, chakra-mu pada akhirnya akan habis. Lalu kelihatannya pada saat bertahan suhu cahayanya akan berkurang karena pada saat itu kau lebih fokus untuk menahan serangan musuh, aku benar, kan?" jelas Naruto saat membongkar mekanisme tangan cahaya milik Freed yang memang sangat merepotkan.
Freed tak kuasa untuk tidak membulatkan matanya. Tanpa sadar dia menggertakan giginya, kesal dengan ungkapan pemuda dihadapannya. Dia tidak percaya. Bagaimana bisa teknik andalannya dapat dipecahkan dengan mudah dan dalam satu pertarungan, terlebih oleh seorang bocah esper pemula?
"Kau! Sialaaann."
Freed, pria berwajah gila –lebih mirip psikopat– itu terlihat membentuk pola segitga dengan kedua tangan cahayanya didepan dada. Seringaian lebar pun terpatri diwajahnya.
"Rasakan ini, Light Slayer: Triangle of Light."
Singg~
Muncul sebuah segitiga yang bersinar terang yang langsung melesat dengan kecepatan cahaya kearah Naruto, dan sukses mengenainya.
Blarrr~
Kepulan asap langsung tercipta begitu serangan tadi menghantam target. Freed memandang asap itu dengan serius…. Iya, serius. Dirinya yakin tadi sebelum ledakan, ia melihat Naruto melakukan sesuatu. Oleh karena itu, ia tidak boleh lengah karena lawan masih belum tumbang.
Beberapa saat kemudian, muncul seseorang dari balik asap itu. Seorang pemuda bersurai merah yang berkibar diterpa angin malam yang dingin. Terlihat darah mengucur kelaur dari lengan kirinya
Freed membulatkan matanya, saat melihat penampilan Naruto. Ya, penampilan bocah purba itu kini sudah bertelanjang dada. Bajunya sudah habis dimakan cahaya tadi. Dan yang menjadi fokus Freed adalah apa yang menempel pada dada Naruto, yakni sebuah benda bulat hitam yang membuat Freed sangat puas kelihatannya.
'Untung saja aku sempat memakai arts-ku. Kalau tidak akan lebih parah dampaknya,' pikir Naruto dalam hati sambil melihat lengan kirinya yang berdarah.
"Sial, dia unggul disisi kekuatan supranatural. Sepertinyam aku juga harus memakai keahlianku." Atensi Naruto kemudian berpindah pada Freed saat pria itu terlihat tertawa keras.
"Hahaahahaha….., ternyata kau memang seseorang yang berasal dari masa lalu, bocah! Hahaha,…." Tawa Freed begitu terdengar jelas, ia sungguh puas dengan apa yang terjadi saat ini.
Naruto tersentak tatkala Freed berkata demikian. Bagaimana dia tahu kalau aku bukan berasal dari masa ini? Seketika Naruto meraba dirinya sendiri, menyentuh matrix yang tertanam didadanya.
'Jangan-jangan…..'
Merutuk dalam hati, Naruto dengan kondisi yang tidak diuntungkan kembali harus bersiap. 'Baiklah, tidak ada pilihan lain.'
"Ancient Ancestors: Book of Solomon."
Naruto mengambil sebuah buku bersampul hitam dari dalam lingkaran hitam yang ia ciptakan. Dia kemudian membuka buku tersebut lalu mulai berkonsentrasi pada chakra-nya.
"…"
"…"
Di pihak lain, Freed terlihat sedikit memincingkan matanya saat Naruto mengeluarkan sebuah buku hitam tadi. "Kau sungguh diluar perkiraanku, bocah. Baiklah. Sekarang tinggal penyelesaiannya," ungkap Freed sambil bersiap dengan posisinya. Terlihat muncul lingkaran putih dengan pola rumit dibawah pria itu.
Deg~
Jantung Naruto tiba-tiba merasakan sesuatu, matanya terbuka lebar memandangi Freed yang sedang berkonsentrasi. Naruto sudah selesai dengan ritualnya, buku hitamnyapun sudah ia hilangkan lagi.
Kondisi Naruto terlihat sudah membaik, entah apa sebenarnya yang terjadi padahal dirinya tidak memiliki chakra jenis Healing Arts. Apa itu mungkin karena buku hitam tadi?
Kembali ke topik. Manik sapphire Naruto tiba-tiba menajam hebat. Ia sungguh familiar dengan perasaan ini. Perasaan yang membuat dirinya tenggelam di kegelapan.
"Ini, …. Ini bukan chakra. Tapi, … ini sihir, kan?"
Freed menyeringai, "Benar, ini adalah sihir. Kekuatan yang dari ras lain yang kemudian manusia tiru. Kami para exorcist, memiliki keduanya. Itu karena exorcist adalah seseorang yang telah diberikan anugrah berupa kemampuan sihir melalui ritual tertentu oleh para malaikat. Kau hebat juga bisa membedakan mana sihir dan mana chakra," jelas Freed
Blarr~
Tiba-tiba ledakan energi terjadi. Ledakan itu berpusat dari Freed. Asap sedikit menghalangi pandangan, namun wujud Freed sudah mulai terlihat jelas.
Dia kini sudah terbalut oleh sebuah armor putih, lengkap dengan sebilah pedang panjang digenggamannya.
"Magical Light: Priest Enlight."
Hawa yang dikeluarkan oleh Freed sangat mengintimidasi. Tekanan udara pun serasa menyesakkan paru-paru. Freed kemudian terlihat berjalan pelan, mempendek jarak diantara mereka.
Disisi lain, Naruto masih terkejut dengan apa yang terjadi didepannya kini. Seorang manusia yang bisa menggunakan sihir dan chakra? Exorcist? Hal itu sungguh membuat kepalanya serasa pusing. Perasaan marah pun kembali ia rasakan tatkala hawa yang dikeluarkan Freed sama dengan hawa yang ia rasakan di hari kematian orang tuanya.
Mengikuti arah Freed, Naruto juga ikut mempendek jarak diantara. Tanpa dia sadari, matrix-nya terlihat bercahaya.
Tubuh Naruto pun diselimuti oleh aura biru yang sangat tips, yang berasal dari matrix itu.
Buk~ Buk~ Dug~
Keduanya pun terlibat baku hantam, sesekali gelombang kejut tercipta saat keduanya mengadu tinju. Freed yang memiliki keunggulan karena memegang sebilah pedang, tak menyianyiakan kesempatan ini untuk digunakan sebagai penambah jarak serangan. Dia juga berpikir bahwa fisik Naruto benar-benar hebat karena bisa mengimbangiya yang sudah masuk ke mode ini.
Kedunya terlihat mundur, terseret beberapa meter kebelakang. Namun, seakan tidak ada habisnya, Freed yang lebih dulu maju terlihat memposisikan pedangnya didepan.
Naruto terlihat bersiap, matanya penuh dengan amarah dan keyakinan yang membuncah. Pemuda itu terlihat menarik nafas panjang. Tubuhnya pun sudah bersiap.
Naruto melihat Freed melompat cukup tinggi. Membuat pria gila itu dalam posisi kepala dibawah dengan pedang yang didepan, membuatnya seperti sebuah meteor yang akan menimpa bumi.
Merespon gerakan Freed yang semakin mendekat. Naruto menarik tangan kanannya kebelakang, dan selanjutnya ia hantamkan tinju penuh tenaga itu dengan pedang milik Freed.
"Kyokushin Karate: Black Turtle's Fist."
Duarrrrr~
Gelombang kejut langsung tercipta tatkala dua serangan itu berbenturan. Asap tipis mengiringi adu jurus itu.
Tak berselang lama, terlihatlah bagamana kondisi keduanya. Freed dalam keadaan terhuyung-huyung, dia mencoba menstabilkan tubuhnya. Pedang yang ia gunakan tadi terlihat sudah tidak ada, itu artinya sudah hancur.
Sedangkan Naruto. Ia masih sanggup berdiri, beruntung baginya beban yang ia terima tidak terlalu besar karena dirinya berpijak ditanah, tidak seperti Freed yang melayang dan kemudian terhempas dengan keras ketanah.
"Kau,…. Kau bagaimana mungkin?" tanya Freed seolah tidak percaya atas apa yang telah terjadi.
Naruto tidak menjawab, ia hanya diam sambil melangkah pelan kearah Freed. Terlihat aura biru yang membungkus dirinya tadi sudah menghilang.
Sepertinya ia hendak untuk menyelesaikan ini. Keberunungan sepertinya beripihak pada pemuda itu lantaran teknik yang ia lakukan tidak akan memakan chakranya sedikitpun, yah, jika ia tidak menambahkannya. Itu karena, di zaman dulu ia dikenal sebagai seorang ahli bela diri campuran di usianya yang masih muda.
Itulah mengapa ia bisa sekuat ini dalam hal fisik, apalagi jika tekniknya disuntikkan dengan chakra. Pasti akan sangat mengerikan. Sayangnya, dia belum sampai di tingkatan itu.
Freed terlihat berjalan pelan, dia memaksakan tubuhnya. Kemudian meniptakan lingkaran berbasis sihir, dia mengambi sebilah pedang dari dalam sana.
Freed menebas-nebas kearah Naruto. Namun semua itu hanya mengenai udara saja. Naruto dengan gampangnya menghindari serangan Freed yang sudah tidak terstruktur dengan baik.
Freed terlihat frustrasi. Harga dirinya sebagai exorcist sepertinya sudah ternodai saat dibuat menjadi tak berdaya seperti ini hanya oleh seorang manusia yang tidak tahu-menahu soal chakra ataupun sihir.
"Kyokushin Karate: Red Phoenix's Kick."
Dugg~ Blarr~
Naruto menendang bagian bawah tubuh Freed dengan keras, hingga membuatnya berlutut bahkan sampai menciptakan kawah kecil tepat dibawah kaki Freed saat kakinya dengan kaki Freed saling bentrok tadi.
"Arghh!" Freed merintih kesakitan, namun tubuhnya tidak bisa ia gerakkan. Dia hanya bisa memandang dengan beringas kepada orang didepannya ini.
Naruto memperhatikan dengan lekat tubuh Freed, sedetik kemudian dia bersiap kembali.
"Kyokushin Karate: White Tiger's Dance."
Kali ini Naruto dengan membabi buta menyerang dengan acak tubuh Freed, tak ada satu bagian pun yang luput dari serangan combo-nya itu, bahkan udara disekitar mereka ikut terpengaruhi.
Duakkhh~
Freed meluncur dengan ganas, wajahnya terlihat mencium tanah dan sempat terseret beberapa meter. Rintihan kembali terdengar, kali ini suara Freed sudah terdengar parau. Namun, rangkaian serangan Naruto sepertinya belum berakhir.
"Ayo, bangun, brengsek! Kemana perginya kesombongan-mu tadi, hah!" Naruto memancing Freed untuk kembali bangkit, provokasinya itu ternyata berbuah manis. Freed, meskipun tidak membalas ejekan Naruto tapi diwajahnya tercetak kemarahan yang besar.
Naruto tersenyum riang, dirinya bersiap untuk serangan penghabisan. Dia sendiri sebenarnua mulai merasakan lelah, dan sakit dibeberapa bagian tubuhnya.
Freed, dengan tenaga yang tersisa, dengan tenaga terakhir yang ia miliki mencoba untuk membuat lingkaran sihir dan mengambil sebuah pedang dari sana. Akiabatnya, kesadarannya pun mulai mengabur. Tapi, ia terus saja maju kearah Naruto.
"Heyahhhhh! Mati Kauuuuu!"
Naruto memejamkan matanya sejenak untuk membukanya kembali. Memutarkan tubuhnya satu putaran penuh, dia kemudian memposisikan kedua tangan disamping tubuhnya membentuk seperti sebuah bunga yang sedang terbuka.
"Maaf saja, tapi kau yang akan habis, Exorcist. Kyokushin Karate: Blue Dragon's Wave."
Saat jarak mereka hanya tinggal satu meter, Naruto menghempaskan kedua tangannya kedepan. Dan pada saat itu juga terciptalah sebuah gelombang tak kasat mata yang menghantam dan menerbangkan Freed, meluncur jauh hingga menabrak pohon-pohon dibelakangnya.
Gelombang dahsyat itu terlihat melumat segala sesuatu yang ada dijalurnya.
Wushsshshsh~
Brugssssss~
Beberapa saat berlalu, suasana masih terasa menegangkan bagi Naruto. Terlihat tubuh pemuda itu bergetar hebat, dan tak lama kemudian dia akhirnya jatuh berlutut. "Hahh…, hah…, hah…, sudah lama aku tidak menggunakan teknik ini. Rasanya mau hancur saja," ucap Naruto pada dirinya sendiri sambil mengatur nafanya yang sudah habis. Senyum kecut terlukis diwajah lelahnya itu.
Pemuda itu kemudian menatap kedapan. Terlihat efek dari tekniknya tadi meninggalkan tanah yang gundul, yang rumputnya sudah menghilang. Membentuk sebuah lintasan lurus. Lebih lanjut, ia bisa melihat seonggok tubuh tergeletak tak berdaya diantara pohon-pohon yang tumbang.
Dan setelahnya, manik sapphire itu tertutup secara perlahan, diikuti dengan hilangnya keseimbangan tubuh. Alhasil, Naruto pun ikut tak sadarkan diri.
Pertarungan itu pun selesai. Pertarungan yang berawal dari sebuah gangguan yang dilakukan Freed, yang memang bertujuan untuk meringkus Naruto sejak awal karena pemuda iut merupakan targetnya yang harus ia dapatkan.
Namun, secara mengejutkan Naruto memberikan perlawan pada exorcist yang berada ditingkatan berbeda –dalam hal sihir maupun chakra– itu. Beruntung baginya, dia memiliki segudang teknik bela diri yang hanya segelintir orang yang mengetahuinya.
Angin malam kembali berhembus, menerbangkan surai merah yang tergeletak ditanah.
Tiba-tiba muncul seseorang yang entah darimana, orang itu langsung membawa Naruto pergi.
…
…
…
/
Ditempat lain.
Ada seorang wanita proporsional sedang menatap sebuah luksian besar, lukisan itu terlihat sangat bernilai karena bingkainya berlapis berlian.
Wanita bersurai merah itu memasang wajah stoic, namun matanya tidak berbohong bahwa dirinya sedang merasakan sesautu.
"Sepertinya kita akan segera bertemu, yah."
Terlihat ditangannya ada sebuah pamphlet yang menunjukan sesuatu.
"Aku jadi tidak sabar, loh."
Dan rona merah pun menghiasi pipi cantik itu.
.
.
.
/
Esok harinya.
Akhir pekan masih menyapa kita hari ini. Hari terkahir dipenghujung minggu ini begitu cerah, burung-burung berkicau dengan eloknya.
Disalah satu sudut Konoha, tepatnya disebuah rumah biasa berwarna abu-abu. Ada dua orang pemuda saling berhadapan satu sama lain.
Pemuda yang memiliki berambut merah terlihat sedang duduk sambil memegangi tubuhnya yang sedang di perban saat ini tengah menatap tajam orang didepannya.
Sedangkan yang ditatap hanya merespon dengan ekspresi biasa-biasa saja.
Terlihat sebuah urat menegang dipelipis Naruto, yang kemudian ia pencet agar tidak semakin besar. "Ayolah, cepat jelaskan, Toneri!"
Pemuda bersurai silber itu akhirnya menghela nafas. Mau tidak mau ia harus melakukannya, yah dia pikir cepar atau lambat pun Naruto harus tahu tentang hal ini.
"Baiklah, Naruto. Akan aku mulai dari yang paling awal…."
Naruto menggangguk, pikirannya sama dengan apa yang dipikiran Toneri.
Toneri terliahat menarik nafas terlebih dahulu, Mimiknya tiba—tiba jadi serius. "Aku mulai dengan namaku. Namaku yang sebenarnya adalah, Otsutsuki Toneri. Seorang keturunan murni dari garis keturunan Hamura."
Deg~
Netra Naruto membulat sempurna, namun dirinya tidak bersuara karena tahu Toneri masih belum selesai.
"Otsutsuki Hagoromo, Otsutsuki Kaguya, Otsutsuki Hamura adalah Para pencipta chakra, yang mana eksistensi mereka sendiri diragukan oleh pengguna chakra itu sendiri, itu artinya hanya segelintir yang mengetahu identitas aslinya. Tapi, aku tidak akan menceritakan bagaimana chakra ditemukan, karena kau juga pasti tahu itu."
Toneri berjalan pelan kearah tirai jendela ruangan itu. Dia kemudian melanjutkan kembali ceritanya.
"Aku akan menjelaskan mengenai 'kalian', dan keluarga Otsutsuki. Pertama-tama, yang harus kau tanamkan dalam dirimu sekarang adalah kau itu seorang T-Gen. T-Gen atau Terrigenesis Generation adalah manusia yang dijadikan percobaan dahulu kala oleh para pencipta chakra, mereka pada awalnya adalah produk gagal karena semuanya berubah menjadi batu, namun setelah beberapa generasi, diketahui bahwa memang seperti itu proses Terrigenesis berlangsung.
Yang kedua, ini mengenai matrix yang tertanam dalam dirimu itu. Matrix atau nama lainnya Arc Reactor adalah benda yang menampung energi fusi nuklir yang sangat besar yang bisa dikonversi kedalam energi supranatural, energinya bisa terisi kembali jika kau berhasil menggabungkan dua inti atom menjadi satu. Dengan kata lain, matrix adalah sebuah sumber daya energi yang bisa diperbarui. Dan, yang memilikinya hanyalah kalian, para T-Gen."
Toneri menjeda terlebih dahulu penjelasannya. Ia kemudian memandang wajah Naruto, yang terlihat serius. "Akan aku lanjutkan," ujar Toneri yang dibalas dengan anggukan Naruto.
"Selanjutnya, mengenai keluarga Otsutsuki. Saat ini, bisa dikatakan bahwa Otsutsuki adalah sebuah bayangan. Pasca Hagoromo dan yang lainnya menciptakan T-Gen, dan mengetahui bahwa kelak suatu hari nanti kalian akan terbangun. Kami mengkhsusukan diri untuk menjadi Guardian para T-Gen, hingga generasi demi generasi pun terlewati. Lantas, bila saatnya kalian terbebas maka, Otsutsuki pun akan menjadi Shadow untuk mengiringi langkah kalian…."
Mereka terlihatt saling berhadapan, manik masing-masing menhantarkan sinyalnya tersendiri. Tiada satu patah kata pun yang keluar dari Naruto. Angin terlihat berhembus, masuk melalui celah-celah jendeal yang terbuka.
"…"
"…"
"…"
"…dan Uzumaki Naruto, yang menjadi Shadow-mu adalah aku, Otsutsuki Toneri."
.
.
.
.
.
Bersambung
/
A/N:
Halo~
Aku kembali, dengan chapter terbaru tentunya. Wahh~ sekedar curhat, rasanya kelewat santai karena baru habis UNBK, hehehe…. nulisnya juga jadi enjoy banget. ^^ (Apasih gaje :()
Ok, di A/N sekarang, aku mau negasin beberapa hal itu.
Yang pertama, soal kekuatan. Ada 2 kekuatan utama, sekali lagi, utama di fic aku ini yaitu, sihir yang dimiliki sama ras lain selain manusia, dan chakra yang dimiliki sama manusia.
Terus, soal Naruto. Dia gak akan dapet atau nguasain 2 arts, kenapa? Karena satu pun dia udah bakalan kuat secara bertahap. Mungkin, dia sekarang udah agak kuay dalam fisik, tapi kalau soal chakra sama arts-nya? Dia masih lemah. Buktinya, sehabis tarung all-out dia pingsan mulu.
Terkahir, ini bagi yang masih bingung soal Arts. Nih, aku kasih rincian-nya. Silahkan dilihat.
Slayer Arts:
Tingkatan: Beast, Devil, Dragon, God.
Jenis: Semua elemen dan beberapa unsur lain, ex: racun.
Creation Arts:
Tingkatan: Tidak Ada (Tergantung Imajinasi dan kreatifitas)
Jenis: Solid, Liquid, Gas (Masing-masing ada Sub-jenisnya).
Healing Arts:
Tingkatan: Tidak ada (tapi itu tergantung seberapa banyak chakra yang dikeluarkan akan menambah pointnya).
Jenis: Cure, Boost, Divide (Masing-masing ada Sub-jenisnya).
Sealing Arts:
Tingkatan: Ordinary, Advanced, Forbidden.
Jenis: Hampir semua arts ini, baik siapapun dan tingkat apapun hanya bisa menyegel, melepas, dan sedikit untuk pertarungan.
Spatial Arts:
Tingkatan: Room, Space, Dimensional, dan Realm.
Jenis: Tidak ada. Tapi, arts ini adalah yang paling variatif skill-skillnya.
Ancient Arts:
Tingkatan: Belum diketahui.
Jenis: Ancestors, Heavenly, Ankhseram (Tidak ada Sub jenis)
Oke, nanti di update lagi kalau ada penambahan seiring berjalannya cerita. Oh, iya satu lagi. Ini adalah akhir dari Arc 1: Shadow, jadi chapter depan bakal masuk ke yang baru.
Sekian~
Dadah~
Sabtu, 14 April 2018.
