Disclaimer:
Naruto dan Highschool DxD adalah properti Masashi Kishimoto dan Ichiei Ishibumi.
Mengambil bumbu dari God of Highschool milik Park Yong-je, serta karakter-karakter lainnya.
Warnings:
AU, AT, AR, OOC, OC, typos, misspelling words, diksi yang monoton, MartialArtist!Naruto, more to be added.
Genre:
Adventure, Fantasy, a bit Sci-fi, and Mystery, Romance in the future.
Rate:
M (For language, behavior, dan future development)
Summary:
Naruto, seorang ahli beladiri campuran muda pada zamannya, harus menelan pil pahit lantaran tragedi yang menimpa keluarganya. Bertekad untuk membalas dendam, ia pun mengikuti sebuah percobaan dimana menjadi awal evolusi manusia, tetapi akibat dari percobaan itu Naruto harus rela menjadi batu! 1000 tahun telah terlewat, kehidupan Naruto pun kembali dimulai di dunia yang berbeda!
..
..
..
Chapter Sebelumnya.
"Baiklah, Naruto. Akan aku mulai dari yang paling awal…." Kepala Naruto naik-turun sebagai jawaban.
Toneri nampak menarik nafas terlebih dahulu, mimiknya tiba-tiba jadi serius. "Aku mulai dengan namaku. Namaku yang sebenarnya adalah, Otsutsuki Toneri. Seorang keturunan murni dari garis keturunan Hamura."
Netra Naruto membulat sempurna, namun dirinya tidak bersuara karena tahu Toneri masih belum selesai dengan ucapannya.
"Otsutsuki Hagoromo, Otsutsuki Kaguya, Otsutsuki Hamura adalah Para pencipta chakra, yang mana eksistensi mereka diragukan oleh pengguna chakra itu sendiri, itu artinya hanya segelintir yang mengetahu identitas aslinya. Tapi, aku tidak akan menceritakan bagaimana chakra ditemukan, karena kau juga pasti tahu itu." Toneri berjalan pelan kearah tirai jendela ruangan itu. Dia kemudian melanjutkan kembali ceritanya.
"Aku akan menjelaskan mengenai 'kalian', dan keluarga Otsutsuki. Pertama-tama, yang harus kau tanamkan dalam dirimu sekarang adalah… kau itu seorang T-Gen. T-Gen atau Terrigenesis Generation adalah manusia yang dijadikan percobaan dahulu kala oleh para pencipta chakra, mereka pada awalnya adalah produk gagal karena semuanya berubah menjadi batu, namun setelah beberapa generasi, diketahui bahwa memang seperti itu proses Terrigenesis berlangsung.
Selanjutnya, ini mengenai matrix yang tertanam dalam dirimu itu. Matrix atau nama lainnya Arc Reactor adalah benda yang menampung energi fusi nuklir yang sangat besar yang bisa dikonversi kedalam energi supranatural, energinya bisa terisi kembali jika kau berhasil menggabungkan dua inti atom menjadi satu. Dengan kata lain, matrix adalah sebuah sumber daya energi yang bisa diperbarui dimana yang memilikinya hanyalah kalian, para T-Gen."
Toneri menjeda terlebih dahulu penjelasannya. Ia kemudian memandang wajah Naruto, dimana ekpresinya sangat tidak bisa dijelaskan. "Akan aku lanjutkan," pungkas Toneri tanpa menunggu jawaban dari lawan bicaranya itu.
"Selanjutnya, mengenai keluarga Otsutsuki. Saat ini, bisa dikatakan bahwa Otsutsuki adalah sebuah bayangan. Pasca Hagoromo dan yang lainnya menciptakan T-Gen, dan mengetahui bahwa kelak suatu hari nanti kalian akan terbangun. Kami mengkhsusukan diri untuk menjadi Guardian para T-Gen, hingga generasi demi generasi pun terlewati. Lantas, bila saatnya kalian terbebas maka Otsutsuki pun akan menjadi Shadow untuk mengiringi langkah kalian…."
Keduanya nampak saling berhadapan, manik masing-masing menghantarkan sinyalnya tersendiri. Tiada satu patah kata pun yang keluar dari Naruto. Angin terlihat berhembus, masuk melalui celah-celah jendela yang terbuka.
"…"
"…"
"…dan Uzumaki Naruto, yang menjadi Shadow-mu adalah aku, Otsutsuki Toneri."
Arc II: Downfall of Shinsengumi.
Chapter 5: First Mission.
..
..
Sebutkan satu hal pertama yang ingin kalian ketahui tentang masa depan andai memiliki kemampuan menerawang yang akurat? Apakah tentang jodoh kalian? Rezeki? Atau mungkin hal kecil semacam kunci jawaban ujian sebuah tes?
Semuanya tidak ada yang salah, sebab nalar manusia dipengaruhi oleh beberapa faktor penentu, tergantung situasinya. Dalam hal yang disebutkan diatas, bisa jadi orang yang menginginkan spoiler siapa jodohnya kelak, sudah cukup pintar untuk melibas semua butir soal sebuah ujian. Berlaku juga untuk sebaliknya, orang itu terlalu bodoh untuk memikirkan soal-soal ujiannya yang dia anggap bukan penentu kesuksesan dan lebih memilih hal indah untuk diketahui, yakni jodohnya sendiri.
Proses pemikiran itu bisa terjadi lantaran hal yang ingin dilihat merupakan sesuatu yang spesik, dalam arti hanya berpengaruh kepada si pemikir saja, tak ada pengaruhnya bagi kehidupan orang banyak. Pernahkah kalian menemukan seseorang yang kebelet ingin tahu siapa istri temannya kelak? Atau mendapati diri kalian sendiri meramal cuaca pada hari Senin dua bulan yang akan datang?
Dan diantara kalian mungkin ada yang baru memikirkannya tatkala membaca tulisan ini. Itulah seni dalam pikiran manusia.
Tapi, akan lain cerita jika yang ingin diterawang adalah hal umum, seperti ras manusia-nya sendiri dan Bumi atau bahkan hari… penghabisan?
Jika persoalannya demikian, maka hampir dipastikan semua orang ingin mengintip. Seperti, bagaimana rupa Bumi 100 ribu tahun kedepan? Apakah manusia sudah berevolusi? Atau apakah kekuatan supranatural bisa manusia dapatkan? Mungkinkah muncul organisme baru menggantikan manusia?
Pada dasarnya kemampuan menerawang adalah mustahil bagi khalayak umum, dimana hanya terjadi di dunia fantasi atau khayalan semata. Mungkin jikalau benar, hanya orang-orang terpilih saja yang dianugerahi kekuatan seperti itu.
Tapi, bagaimana jika Dunia penuh fantasi itu adalah kenyataan? Bahwa sihir itu nyata? Monster mitologi itu eksis? Ras Iblis dan Malaikat hidup pada dunia yang sama dengan Manusia? Dan fakta bahwa Manusia pun bisa mendapatkan kekuatan super bernama Chakra?
Semua hal itu benar-benar terjadi dan menimpa satu Dunia dimana seorang pemuda bersurai merah pekat bernama Uzumaki Naruto akan menjadi fokusnya. Naruto adalah seorang anak muda dimana dirinya merupakan salah satu orang yang hidup lintas millenia sebagai akibat dari percobaan penciptaan Chakra.
Spesiesnya –T-gen, merupakan orang-orang 'purba' dimana mereka memiliki sebongkah kekuatan bernama matrix, dimana benda ini menjadi wadahuntuk energi super besar dan berbahaya.
Pada prosesnya, para T-gen ini memiliki seseorang yang bertugas sebagai pelindung dan bayangan. Orang-orang ini menamai diri mereka Ootsutsuki, sebuah nama legendaris yang sangat bermakna bagi dunia dan chakra. Selain untuk perlindungan dan mengawasi, para Ootsutsuki –shadow ini juga harus senantiasa mengajari 'asuhan-nya' cara berbaur dan mengenal dunia ini lebih dalam, mengingat T-gen adalah orang-orang lintas millenia yang sangat asing dengan perkembangan zaman.
Dan rupanya hal itu kini sedang berlangsung di sebuah desa maju bernama Konoha. Dilihat dari kejauhan nampak dua orang laki-laki sedang berjalan berdampingan menembus terik mentari yang menyengat kulit. Mereka adalah Naruto dan Toneri, dua orang yang terikat benang takdir belum lama ini.
Sudah berjalan kira-kira satu minggu selepas pengungkapan mengejutkan yang disampaikan Toneri, namun Naruto terkadang masih memikirkan hal tersebut pada saat-saat tertentu yang membuat dirinya tidak bisa tidur dengan pulas. T-Gen dan Ootsutsuki, dua kata yang menjadi perhatiannya ini begitu membangkitkan rasa penasarannya.
"Sedang memikirkan hal itu lagi?" Sebuah suara mesuk ke gendang telinga pemuda merah itu, menghantarkan sepasang iris biru menawan miliknya untuk menengok pada sumber suara tadi. Naruto memperhatikan wajah Toneri sekilas sebelum akhrinya mengangguk kecil. "Ya, begitulah," jawab pelan dengan pandagan yang menatap tanah dibawah.
Toneri nampak bergeming, namput setitik raut kecemasan terpatri pada wajah putih itu. Sebelumnya dia sudah menjelaskan hal dasar tentang Ootsutsuki sepeninggal Hagoromo dan sistem kerja mereka sekarang, yang bisa dibilang sangat amat tertutup melebihi mata-mata super sekalipun.
Tapi, dia sendiri tidak menampik sebagian dari dirinya ingin segera membocorkan semua tentang Ootsutski pada pemuda itu, apalagi setelah kejadian tempo hari dengan diserangnya Naruto oleh seorang Exerocis bernama Freed. Itu artinya, musuh sudah mencium pergerakan para T-gen.
Toneri tiba-tiba menghentikkan langkahnya dan segera memegang kedua pundak Naruto, dimana tentu menuai tanda tanya dari pemuda merah tersebut.
"Ada apa?"
Paru-paru Toneri sedikit mengembang sekejap sebelum sang empu berbicara, "dengar Naruto, sekali lagi aku ucapkan, aku belum bisa memberitahumu tentang apa yang aka kau hadapi nanti, kau belum cukup kuat, dan kau belum sia-"
"Maka latihlah aku!"
Suara itu cukup keras, cukup untuk sedikit memancing keramaian disana. Perkataan Toneri harus terpotong karenanya. Wajah frustrasi tercetak di pemiliki kulit tan tersebut. Toneri sendiri nampak terkesiap, iris putihnya mengerjap beberapa kali. Ia pun menghelas nafas pendek. "Hahh, sudah kubilang jika aku menjadi gurumu, aku tidak bisa menjalankan misi-ku sebagaimana mestinya, terlalu banyak faktor yang beresiko."
Sedang dengan Naruto, pemuda ttu hanya menampilkan ekpresi datar. Ia sepertinya sudah menebak bagaimana jawaban orang dihadapannya ini. Jika boleh jujur, dia merasa insecure terhadap sekitarnya sekarang, lingkungan yang sangat asing dan baru ini sungguh mendatangkan sakit kepala bukan main. Lalu, tatkala Toneri datang dengan kabar menyangkut Kakeknya dulu otomatis dia senang sekali.
"Hahhh, kau benar Toneri, Maaf aku sudah berlebihan…" Tapi dilain sisi, ia juga tidak boleh egois dengan menuntut banyak hal pada Toneri, yang notebene baru mengenal satu sama lain, dan pemuda itu pun tak lebih hanya menjalankan tugas semata.
Oleh karena itu, ia harus segera tumbuh lebih kuat dan cara menjadi kuat adalah berlatih dan terjun pada banyak pertarungan dimana pengalaman dan kekuatan akan diraih. Itulah apa yang akan mereka lakukan sekarang, melaksanakan misi sebagai Esper Konoha.
"Ayo, kita harus segera menghadap Hokage-sama," ajak Naruto yang dibalas anggukan kepala oleh Toneri. Mereka berdua kembali melanjutkan perjalanannya ke gedung Esper, tempat orang-orang hebat berkumpul.
.
.
Apabila ditengok dari luar, komplek gedung Esper ini tak nampak sesuatu yang spesial, hanya ada tulisan 'kami adalah pelindung dan pengayom manusia' dalam aksara kanji yang merupakan semboyan mereka. Selebihnya? Normal. Hanya desain modern-futuristik biasa.
Mungkin akan lain ceritanya, jika bangunan ini berdiri ratusan tahun yang lalu.
Menilisk masuk kedalam salah satu ruangan disana, tepatya ruang Hokage. Ada dua orang dewasa sedang tenggelam dalam sebuah perbincangan. Pembicaraan antara Hokage Kakashi dengan seorang laki-laki berambut hitam panjang yang diikat satu dengan sebuah topeng gagak berwarna putih bertengger di wajahnya.
"Ini adalah orang-orang yang dicurigai termasuk didalamnya." Orang dengan topeng itu memberikan sebuah kertas kepada Kakashi. Sepertinya itu adalah daftar orang yang diduga anggota sebuah kelompok separatis yang belum lama ini muncul.
Sang Hokage menerima uluran itu dan segera mengecek rentetan tulisan yang tertera disana, kedua alisnya sedikit naik-tutun sembari sesekali menghela nafas. Dia pun melipat kertas tadi hingga keukuran kecil lalu menyimpan pada tumpukan dokumen yang ada.
"Hahhh…. Kenapa orang-orang seperti itu bisa tenggelam dalam hal menyedihkan?" keluhnya pada diri sendiri dengan nada yang malas dan santai, tabiatnya yang seringkali bertingkah sangat santai ini memang sudah bukan hal yang baru. Dia sepertinya lebih mengkhawtirkan jam kerjanya yang bisa bertambah ketimbang kelompok separatis tersebut.
"Ada satu hal lagi Hokage-sama," tukas tiba-tiba si orang denga topeng. Nadanya terdengar sangat datar. Kakashi sontak mengangkat kepalanya, menatap orang tersebut. "Apa itu?!" Moodnya mungkin akan hancur apabila mendengar hal lebih gila lagi dari sebelumnya.
"Ini menyangkut T-gen, Hokage-sama."
Tubuh Kakashi nampak langsung berhenti bergerak saat itu juga tatkala mendengar kata T-gen, otaknya berniat untuk memastikan hal tersebut pada pria dihadapanya ini, namun ia sendiri tahu kupingnya masihlah oke, pun anak buahnya tidak mungkin salah ucap.
Untuk sesaat pikirannya terbang entah kemana, kemudian ia angkat tubuh itu dari kursi dan berjalan ke belaakng meja dimana terpampang sebuah jendela besar yang langsung menghadap seluruh Desa, Kakashi lalu merapal sebuah teknik dimana langsung membungkus ruang Hokage itu dengan semacam barrier transparan, selepasnya ia lekas menjawab dengan sangat serius sekarang.
"Lanjutkan, Crow." Intonasinya begitu berat dan rendah hingga membuatnya seperti Kakashi yang berbeda, dan sisi inilah yang ditakuti oleh para anak buahnya.
"Ha'i. Menurut kabar, tiga T-gen terakhir telah selesai melewati Terrigenesis mereka. Saat ini semuanya sudah berbaur dengan masyarakat…," jawab Crow dengan jeda terlebih dahulu. Kakashi senantiasa menunggu semua laporan yang akan disampaikan.
"Ketiga orang itu diyakini berada dalam lingkup Kerajaan Api, dan… salah satunya berada disini, di Konoha." Deru nafas kecil menjadi penuntas kalimat Crow, yang lekas dibalas dengan tatapan tidak percaya dari Kakashi.
Hokage itu menatap Crow dengan mata yang sungguh hampir loncat dari tempatnya, "Apa kau yakin?" nada tegas keluar dari mulut dibalik masker itu.
"Saya mendapat info ini dari rekan yang kredibel, jadi persentase hampir mendekati 100%," jawab tenang si Crow, dalam hati, dirinya sendiri pada awalnya sangat terkejut dengan berita ini, Jadi, kurang lebih ia maklum dengan respon yang dikeluarkan Kakashi.
Ini adalah sebuah berita mega-besar!
Raut serius masih hinggap pada Hokage kita, dia sedang mengolah informasi yang baru saja masuk kedalam simpanan memorinya. Setelah beberapa saat berlalu, Kakashi kembali meraih ketengannya. Ia segera menonaktifkan barrier dan kembali duduk pada singgasananya.
"Baiklah, Crow. Kerja bagus, kau boleh pergi," ujar Kakashi sembari sedikit melemaskan otot-ototnya itu. Mendengar perintah sudah diucapkan, Crow menundukan kepalanya sejenak sebelum mundur tanpa suara, dia segera meninggalkan ruangan Hokage ini.
"Oh, ya. Sampaikan salamku pada rekan mu yang kredibel itu, okay!"
Crow pun menghilang dibalik pintu. Kakashi tersenyum kecil dibalik maskernya. Dia, kemudian, memutar kursi kerjanya lalu memandang langit biru yang begitu cerah hari ini.
"Rin…, sedang apa kau disana?"
..
..
Hal yang Naruto bayangkan saat pertama kali menjalani misi adalah pertarungan hidup dan mati. Pertempuran penuh darah dan tekanan. Pokoknya sesuatu yang menguras mental dan fisik hingga pada batas tertinggi.
Akan tetapi, semua harapannya harus pupus tatkala Kakashi dengan tega –dalam perspektif dirinya, memberikan satu buah misi yang jauh dari ekspektasi pemuda lintas generasi ini. Perasaan geram tentu mencuat dari nuraninya, protes pun sempat ia layangkan. Namun, Kakashi berdalih bahwa Naruto masih terlalu baru dan belum siap untuk dimandati misi yang lebih prestisius.
Pun Toneri yang berdiri disana bersamanya, setuju dengan pernyataan Hokage tersebut. Naruto akhirnya mengambil misi itu yang mengharuskan mereka –Naruto dan Toneri– untuk membasmi segerombolan babi hutan yang meresahkan warga sebuah Desa kecil tak jauh dari Konoha.
Yahh, apa boleh buat, daripada tidak dapat sama sekali. Lebih baik tancap saja.
Lalu disinilah mereka, berdiri tepat didepan sebuah lapang luas yang dipenuhi rumput hijau segar, lebih mirip padang rumput. Pandangan keduanya bisa menangkap satu koloni babi hitam sedang berkumpul menggunduli rumput-rumput yang ada.
"Aku tidak melihat pemimpin mereka? Dimana dia bersembunyi," gumam Naruto pelan namun masih terdengar oleh Toneri, pemuda itu lekas menilisik sekitarnya dan tak lama kemudian menemukan sebuah gua tak juah dari padang rumput, senyum simpul tertera diwajahnya. "Mungkin disana…."
Atensi Naruto mengikuti arah yang ditunjukkan Toneri, dia mengangguk-ngangguk kecil. Seringai pun hinggap pada wajah tampannya. "Baiklah, ayo lakukan ini, Toneri! Kita basmi hewam-hewan bodoh ini!" Satu buah kepalan Naruto sodorkan kearah Toneri.
Sontak Toneri menautkan kedua alisnya, ekspresi menuntut pun ia pasang. Tapi, manakala melihat Naruto yang tersenyum kearahnya ia hanya bisa termenung sebelum akhir tersenyum balik dan membalas kepalan tangan tersebut.
Tos!
"Yoshh! Ikuzo!"
Angin berhembus tatkala keduanya merangsek maju layaknya peluru, mempersempit jarak diantara mereka dan koloni babi itu.
Dan rentetan serangan pun segera tercipta. Masing-masing dari mereka tidak memberi ampun pada babi-babi itu. Satu koloni hewan melawan dua orang anak muda, meskipun terdengar konyol dalam hal kuantitas namun jangan lupakan bahwa mereak bukan anak muda biasa.
Darr! Duarghh!
Satu lagi babi hitam itu terkena tinju Naruto setelah babi-babi sebelumnya. Dalam hal ukuran, babi-babi itu kira-kira setinggi dada orang dewasa dengan tubuh yang besar dan tambun, hampir 3 kali lipat manusia normal. Ia bergerak layaknya predator ganas, pukulan demi pukulan terus ia hidangkan pada yang menyaksikan. "Oh, Ayolah! Bahkan babi di zamanku lebih kuat daripada kalian."
Naruto berbicara pada babi-babi terebut, yang tentu hanya dibalas dengusan kasar dari makhluk tak berakal itu. Lantas, kita-kira satu lusin babi maju menerjang bersamaan, kecepatannya lumayan mengharuskan Naruto untuk menghindar beberapa kali. "Bagus, seperti itu! Marahlah padaku, incar aku dengan niat membunuh kalian." Lagi-lagi ia berbicara seperti orang gila.
"Truth Seeking Ball: Dark Spears."
Duarr!
Ledakan besar terjadi secara tiba-tiba, letusan tanah yang seperti di bom terhempas keatas hingga menimbulkan debu-debu yang lumayan tebal. Naruto tahu siapa itu, ia pun melihat dampak dari teknik Toneri dimana tercipta kawah cukup besar dengan puluhan mayat babi tergelatak tak berdaya.
Dia lalu mengalihkan pandanganya pada si pemilik jurus. Toneri balas menatap Naruto dengan ekspresi seolah ini semua bukanlah apa-apa selain pembasmian massal.
"Kau pikir cuman kau saja yang bisa. Akan aku tunjukan kekuatan penghancur tanpa chakra." Satu seringaian kecil terpatri di wajah tan itu, lantas dia segera memposisikan sebuah kuda-kuda dan menarik nafas panjang. Dia sekejap memandang kearah kerumunan babi didepannya lalu berkata, "maaf ya, para babi. Sebenarnya aku ingin membereskan kalian dengan santai dan tanpa ledakan-ledakan. Tapi, orang disana telah memancing jiwa kompetitifku ini. Jadi., huffft"
"Re-Taekwondo: Bo-bup."
Sringg!
Setelah berkata demikian, Naruto bergerak sangat cepat hingga hampir mustahi diikuti oleh penglihatan biasa. Pemuda itu bergerak mengelilingi kerumuna babi yang berjumlah lusinan tersebut, Saking cepatnya hingga mempengaruhi udara disekitar yang berkumpul pada satu titik. Babi-babi yang melihat hal tersebut hanya bisa diam waspada, sambil mewanti-wanti apa yang akan terjadi selanjutnya.
Dalam larinya, Naruto merasakan sensasi lama yang baru ia rasakan kembali. Sensasi yang terasa begitu ringan dan mengalir dari dalam dirinya.
'Waktunya penghabisan,' batinnya berujar lalu diikuti oleh lompatan tinggi dan serangan pun datang. "Re-Taekwondo: Dragon Sign Hwechook." Satu tendangan dahsyat terkerahkan dengan ganas, sekilas dia memang hanya menendang udara saja, tapi dampaknya bukan main.
Blarrr!
Debuman keras tercipta tatkala tanah dibawahnya buyar saat beradu dengan tekanan udara yang dipusatkan pada satu titik. Menghantarkan puluhan babi melayang dan berhamburan keseluruh penjuru. Layaknya naga yang menerkam mangsanya.
Satu-satunya penonton disana tak kuasa untuk tidak membulatkan mata. Ini kali pertama Toneri melihat gerakan Naruto yang pure hanya mengandalkan beladirinya saja dan ia langsung terkesima karenanya. Siapapun akan setuju pasti, pasalnya yang Naruto pertontonkan adalah teknik tingkat tinggi yang memerlukan konsentrasi penuh dan latihan yang tekun.
Pada prinsipnya, Bo-bup adalah teknik yang memasimalkan seluruh bagian yang menopang kaki, mulai dari otot panggul, paha, sendi-sendi lutut, hingga ujung jari jempol kaki, dimana manghasilkan lonjakan adrenaline sehingga mampu bergerak secara cepat dan mempengaruhi udara disekitar akibat dari tubuh yang memanas.
Sementara itu, Dragon Sign Hwechook merupakan teknik yang bergantung pada gerak dinamis yang rumit tapi indah dimana itu bertindak layaknya eksekutor, dengan memanfaatkan tekanan udara yang terkumpul lalu menghempaskannya pada satu titik serang maka akan menciptakan kombo mematikan. Meskipun begitu, teknik ini memiliki mekanisme tertentu untuk menggunakannya.
Pada intinya, beladiri yang Naruto tunjukan bukan semata-mata ajang main fisik seperti kebanyakan taijutsu zaman sekarang. Karena dibaliknya tersimpan sebuah karya seni.
Kembali pada Naruto.
Pemuda itu nampak berdiri sembari berkacak pinggang, peluh sedikit menghiasi pelipisnya. Ia kemudian melihat Toneri yang berjalan mendekati dengan sunyum terpatri, lantas ia segera tersenyum balik. "Itu cukup hebat. Aku akui beladirimu memang bukan main-main."
"Hah, hah, Sankyuu. Meskipun begitu, sekarang aku merasa lebih lemah. Padahal baru saja satu kali masuk Bo-bup, tapi pinggang serasa sudah encok, hahaha..."
Toneri luput akan riangnya pemuda ini, ia ikut tertawa kecil mendengar ucapan rekanya itu. Sesuatu kemudian terbesit dalam benaknya. "Naruto," panggil Toneri.
Naruto segera menoleh dan menaikkan kedua alisnya sebagai respon. Toneri nampak bersiap untuk kalimat selanjutnya. "Bagaimana dengan perkembangan kekuatan Esper-mu sejauh ini?"
Kali ini Naruto terdiam, ia tak dapat menemukan jawaban pasti akan pertanyaan tersebut, pada satu titik ia belum yakin akan bagaimana dan seperti apa kekuatan Esper miliknya. Pernah ada satu momen sewaktu melawan Freed manakala dirinya menggunakan kekuatan itu, ia merasa seperti ada tarikan dari bawah pikirannya berusaha mengambil kesadarannya. Sejak saat itu, Naruto belum pernah lagi mengaktifkan Ancient Arts miliknya.
"Entahlah, Toneri, aku sendiri masih bingung akan kekuatanku sendiri."
Ootsutuki satu itu menyadari perubahan pada air muka rekannya, dalam benaknya ia sendiri tidak bisa menyalahkan Naruto sebab informasi tentang Ancient Arts sangatlah minim, bahkan di kalngan sekaliber Ootsutsuki. Namun, satu hal yang Toneri garis bawahi, T-gen seperti dirinya harus segera menguasai segala potensi kekuatannya, pasalanya kegelapan sudah menunggu siap melahap dunia ini.
"Mungkin ada satu cara untukmu supaya bisa memaksimal kekuatanmu." Pikiran Toneri tiba-tiba teringat akan satu buah kemungkinan yang mungkin bisa membantu rekanya ini.
Kedua alis Naruto bertaut rapat menghantarkan tanda tanya besar pada otaknya. "Benarkah!?"
"Ya, tapi dibutuhkan waktu cukup lama untuk mendapatkannya."
"Apa itu?" seru Naruto sambil memegangi kedua sisi tubuh Toneri. Si pemuda berkulit porselen itu rupanya sedikit meringis melihat kelakukan Naruto. Yah, mau bagaimana lagi T-gen satu memang masih agak plin-plan.
"Namanya adalah Sage Pill," jawab Toneri yang menurunkan tangan Naruto dari lengannya. Ia kemudian melanjutkan kembali kalimatnya, "sebuah pil khusus manjur yang berguna untuk meningkatkan spiritual seseorang."
"Lalu, apa hubungannya dengan mengontrol kekuatan Esper ku ini?" Pandangan mereka berdua beradu, sapphire dengan amethyst bersinggungan. Namun rau ragu nampak hinggap pada Toneri. "Yah, kuharap pil ini dapat membantu menguasai hal itu,"
'walaupun sebenarnya ada resiko yang besar,' lanjutnya dalam hati.
Naruto termenung sekejap, kini matanya memandang langit cerah diatas. Lantas sebuah senyum simpul tersaji pada wajahnya. "Baiklah, kalau begitu dimana aku bis-"
"Santai, jagoan. Kalau berniat mencarinya sekarang. Sampai ke ujung dunia pun kau tidak akan berhasil. Sage pill adalah sebuah buah sakral yang hanya tumbuh pada musim tertentu, dan hanya tumbuh di puncak gunung Myoboku."
"Akhh, kalau begitu kenapa bilangnya sekarang!" Ekspresi sebal lantas hinggap pemuda berambut merah itu, mendadak semangat yang sempat terpatik tadi sekarang terpecah kembali menjadi potongan-potongan puzzle. Mukanya kembali lesu.
Ootsutsuki Toneri menyadari perubahan ekspresi pada rekannya itu, maka ia berinisiatif segera mencoba mengalihkan topik. Lantas teringat bahwa urusan mereka belumlah selesai, masih ada satu langkah lagi untuk menyelesaikan misi ini.
"Baiklah, Naruto, lebih baik kita segera bereskan saja misi ini."
"Ya, kau ben-"
"Grruoooogghhhh!"
Baru saja dibicarakan. Ternyata induk babi itu malah yang menghampiri mereka. Bisa dilihat dari arah gua, muncul seekor babi raksasa kira-kira setinggi lima meter dengan taring bawah yang mencuat ke atas dan mata merah menyala menatap ganas pada siapa saja yang masuk jarak pandangnya. Induk babi itu nampak sangat marah dan akan mengamuk.
Dua anak muda itu pun nampak bersiap.
Sebuah ide muncul pada benak Toneri, ide untuk setidaknya sedikit melihat bagaimana kekuatan Esper dari orang purba disampingnya ini.
"Biarkan aku yang mengurus ini, Toneri."
Ah, rupanya rambut tomat satu itu memiliki pikiran yang sama. Baguslah, ia jadi tidak peru repot-repot mengutarakan maksudnya. Dengan melemaskan posisinya, ia segera mundur beberaap langkah, memberikan ruang untuk Naruto.
"Dengan senang hati."
Dalam posisi bersiap bersiapnya, nalar Naruto sedikit menilisik kebalakang manakala mengingat sebuah buku yang ia pernah pinjam dari perpustakaan Konoha. 'Tetap tenang. Alirkan chakramu sejalan dengan peredaran darah.'
Deru nafas dengan tempo teratur terlihat dari alat pernafasan pemuda itu. Ia pejamkan matanya sekejap, membukanya kembali lalu mulai berkonsentrasi. Secara bersamaan, babi hutan itu mulai mengambil langkah besar, raungan kembali terdengar.
"Ancient Ancestors: Aegis."
Bammm!
Suara benturan terdengar keras begitu makhluk tersebut menghantam sebuah pelindung kuning gelap yang membungkus seluruh tubuh Naruto, hingga mementalkannya beberapa kebelakang. Babi itu tentu marah, raut murka sangat terlihat jelas dari wajahnya. Makhluk itu kemudian memulai kembali serangannya.
"Goarrggggh!"
Walaupun pekikan itu begitu nyaring, namun tak cukup untuk mengganggu konsentrasi Naruto. Ia terlihat mengubah kuda-kudanya. Wajahnya terlihat mengeras kaku. Lalu, satu lingkaran gelap kemerah-merahan kecil tercipta didepannya, memunculkan sebuah buku lapuk berwarna hitam.
"Ancient Ancestors: Book of Solomon."
Pada satu kesempatan dalam beberapa milidetik, ia sempat gatal dan terpikiran untuk menendang babi hutan yang sedang menerjangnya itu. Tapi, ia urungkan karena sekarang ia harus fokus mencoba mengenal lebih dalam kekuatan Esper miliknya.
Tapi,….
Blarrrr!
,…. tiba-tiba babi raksasa itu malah terpental dan terbenam kedalam tanah setelah dihantam oleh sesuatu yang ia tidak ketahui, bentuknya panjang, hitam dan besar. Keterkejutan melanda benaknya.
Meskipun begitu, serangan itu belum cukup untuk membinasakan makhluk tersebut, kembali berdiri, mangaum dengan kencang lantas melesat lagi kedepan. Benar-benar insting seekor binatang, pantang menyerah sebelum musuhnya tumbang.
Melihat musuhnya kembali bangkit, Naruto kembali berpikiran agar segera menyelesaikan ini menggunakan beladirinya yang pasti akan jauh lebih efektif. Akan tetapi, pada saat ia sedang berlaku demikian, harus dikejutkan dengan munculnya benda-benda besar dan hitam tadi, lagi.
Duaggg! Blarrr!
Kali ini benda-benda hitam itu lebih banyak dari sebelumnya, jumlah ada tiga buah! Dan sukses menghantam makhluk tak berakal itu terbang jauh sekaligus menamatkan riwayat.
Naruto tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Otaknya berusaha memproses fenomena barusan. Sejauh yang Ia paham, ia hanya terpikir untuk menggunakan beladirinya saja dan entah darimana muncul benda-benda hitam misterius yang seolah merepresentasikan keinginannya.
"Ohhhhh!" Netranya membulat seketika tatkala menyadari satu kemungkina yang ada. Dia segera menengok kebelakang sembari berpikiran untuk menyerang dengan tangan atau kaki.
Dan,…
Swusshh!
Dari ketiadaan, dari balik punggungnya, melayang lingkaran-lingakran magis hitam dimana mengeluarkan benda-benda hitam tadi dengan bentuk tangan dan kaki hitam sesuai dengan kehendaknya. Ukurannya kira-kira tiga kali manusia normal.
Swsuhhhhh! Swushhhhh!
Sekali lagi, sekali lagi, sekali lagi, ia mencoba terus menerus. Berimajinasi dengan berbagai serangan. Benda-benda hitam itu pun tetap bermunculan seirama dengan pikirannya yang memikiran apakah serangan tangan maupun tendangan.
Swsuhhh! Swushhh!
Adrenaline tiba-tiba meningkat. Rasa menyenangkan menjalar keseluruh tubuhnya, ia merasa seperti mempunyai tangan dan kaki ekstra dengan ukuran besar. Kali ini ia mencoba berpikir sambil bergerak. Alangkah terkejutnya ia tatkala menyadari bahwa serangan benda hitam itu menjadi lebih rumit dan sulit ditebak.
Insting ahli beladirinya mencuat ke permukaan, ia sudah berfantasi akan seperti apa serangannya apabila dikombinasikan dengan teknik Ancient Arts-nya. 'Ini,…. Jangan bilang,' Pandangannya beralih pada buku hitam yang melayang tak jauh didepannya. Maka tidak perlu meunggu lama, tubuh pemuda itu dengan sendirinya bersiap dengan kuda-kuda pakemnya.
"Re-Taekwondo: 3rd Stance Hwechook ."
Tendangan andalan dikerahkan, sebuah kombo maut yang pada dasarnya hanya mengenai angin, namun apa yang membuatnya fantastis adalah banda hitam itupun mengikuti arahan Naruto, dan jangkauannya bertambah berkali-kali lipat.
Wusshhhhh~
Tekanan angin cukup besar tercipta karena. Naruto pun tersenyum lebar, ia merasa seperti sudah menemukan sesuatu yang sangat berguna.
Disisi Toneri, tak satu detik pun ia lewatkan. Kedua bola matanya lekat memperhatikan benda-benda hitam itu. Keterkejutan sempat mengambil alih emosinya, namun itu semua teralihkan tatkala menyadari hal yang aneh pada buku hitam tersebut.
'Solomon, ya?'
.
.
.
Di salah satu titik benua Elemental, terdapat satu wilayah mayor yang telah hancur total akibat Perang Esper II beberapa tahun lalu. Tempat yang dipenuhi oleh kuil-kuil bersejarah dan terletak diperbatasan Kerajaan Api atau Fire Kingdoms dengan Thunder Empire atau Kekaisaran Guntur.
Air Temples –Kuil Udara, adalah sebuah tempat sunyi yang kini tinggal menyisakan reruntuhannya saja. Tak lebih dari kumpulan batu-batu bertumpuk. Padahal dulu dikenal sebagai tempat paling menjunjung tinggi toleransi sebab disanalah Manusia hidup berdampingan dengan Nephilim dan Nephalem, bahkan tak jarang Fallen Angel berkunjung kesini.
Ironisnya, salah satu alasan pemusnahan Air Temples dikarenakan ketakutan negara-negara terhadap toleransi ini. Mereka memendam ketidaknyamanan pada sesuaut yang berbau sihir.
Pada salah satu reruntuhan tersebut, terdapat sekelompok orang sedang berkumpul. Pakaian mereka kebanyakan menyerupai kimono.
"Demi Edinburgh, kami akan segera membangkitkanmu. Tunggulah." Salah satu dari mereka berujar dengan penuh keyakina, batu yang ada pada genggamannya itu terlihat hancur. Laki-laki itu kemudian melirik salah satu patriotnya.
"Tobio, Dulio. Mulailah operasinya."
"Ha'i/Roger."
Mata nyalang itu memandag lurus kedepan, pedang yang sedang tersarung lalu dilemparnya dan tepat mengenai guguran daun hijau hingga menancap pada dinding batu.
.
.
To be continued.
A/N: Wadaww, ini cerita tiba-tiba update :3
Yahh, sesudah melalui tahap berpikir panjang. Akhirnya konsep sama plot cerita ini bisa terlahir kembali, bahkan summary pun aku ubah. Hehehe…..Harapanku cuma satu, aku harap bisa konsisten aja. Karena itu yang paling beratnya, loh!
Okay, sekarang masuk pembahasan.
Sebagai rekap dan sedikit mengingatkan (kalau bisa dan mau, kalian baca dari awal lagi, yah! Masih nyambung kok) bagi yang lupa. Ras-ras pada cerita ini akan sama seperti yang ada di animenya, kebanyakan. Hanya sedikit yang berubah, seperti Issei dan Kiba akan tetap jadi manusia,
Untuk persoalan pengetikan, pasti ada yang beda dengan gaya yang dulu jadi harap maklum.
Fokus ceritanya untuk sekarang berada di Konoha, yang tentu, mengupas permalasahan manusianya. Tapi, tenang konsep untuk iblis dan sejabannya udah ada, kok. Yang pasti berbeda sama dunia DxD.
Khusus untuk Naruto (karena dia MC-nya) akan aku kasih rekap-an biodata orang ini untuk sekarang. (disini Naruto rambutnya merah, oke), anggap sebagai hadiah comeback :3
Beladiri/taijutsu (Re-Taekwondo, Kyoukushin Karate, dan akan bertambah lagi nanti) : 10.
Chakra (Ancient Ancestors: Solomon): 5,5/6.
Raw power/Fisik murni: 7,5/8.
Re-Taekwondo: Bo-bup, Dragon Sign Hwechook, 3rd Stance Hwechook/Hwechook tiga tingkat, Dureumchigi, Gaksu.
Kyoukushin Karate: Black Turtle Fist, Red Phoenix Kick, White Tiger Dnace, Blue Dragon Wave.
Ancient Ancestors: Demolition Fist, Aegis, Book of Solomon.
Satu hal yang aku jamin. Bakalan banyak banget martial arts dan teknik berpedang yang dimasukin, sebagiannya malahan asli ada di real life, Jadi, jangan kaget nanti, tapiii... mohon untuk tidak menyamakan power scale-nya, karena teknik-teknik disini bisa jadi destruktif dan bar-bar. Yah, itung-itung sebagai pembeda,
And then, buat kekuatan solomon Naruto adakah yang bisa menebak akan seperti apa? :3
Well, itu aja buat kali ini. (Sorry, kalau awalan chapter ini serius banget hehehe)
Selamat hari buruh, 1 Mei 2020.
Ciao~
#mayday #dirumahaja #bersamalawancovid19
