Disclaimer:
Naruto dan Highschool DxD adalah properti Masashi Kishimoto dan Ichiei Ishibumi.
Mengambil bumbu dari God of Highschool milik Park Yong-je, serta karakter-karakter lainnya.
Warnings:
AU, AT, AR, OOC, OC, typos, misspelling words, diksi yang monoton, inkonsisten Author, MartialArtist!Naruto, more to be added.
Genre:
Adventure, Fantasy, a bit Sci-fi, and Mystery, Romance in the future.
Rate:
M (For language, behavior, dan future development)
Summary:
Naruto, seorang ahli beladiri campuran muda pada zamannya, harus menelan pil pahit lantaran tragedi yang menimpa keluarganya. Bertekad untuk membalas dendam, ia pun mengikuti sebuah percobaan dimana menjadi awal evolusi manusia, tetapi akibat dari percobaan itu Naruto harus rela menjadi batu! 1000 tahun telah terlewat, kehidupan Naruto pun kembali dimulai di dunia yang berbeda!
Arc II: Downfall of Shinsengumi.
Chapter 6: Blessing from The Loved Ones.
Enjoy!
/
Pada proses berkehidupan sehari-hari, manusia diharuskan untuk berjuang. Entah itu perjuangan untuk diri sendiri atau kelompok, kecil maupun besar, susah maupun mudah, semuanya pasti pernah melakukannya. Walaupun orang-orang kerap menganggap perjuangan kita adalah sesuatu yang sia- sia, itu tidak membuatnya benar-benar tidak berarti. Malahan perjuangan itu akan semakin terasa khasiatnya saat kita berhasil.
Naruto sekiranya berasumsi baik akan hal itu. Apalagi dia adalah orang yang sedikit insecure terhadap sekitar yang mencoba mengulik dirinya sendiri lebih jauh. Pikiran positif harus selalu berada di kepalanya. Itu adalah efek psikollgis yang tak terhindarkan akibat kematian kedua orang tuanya.
Meskipun begitu jauh dilubuk hatinya, dia memendam perasaan gelap yang amat kuat dimana bisa saja terekspos bilamana ada yang memancing hal tersebut. Perasaan dendam dan benci serta amarah merupakan hal-hal yang terlahir didalam diri Naruto sejak tragedi tempo dulu.
Pada siang hari yang cerah seperti ini, langkah-langkah kecil Naruto membawanya ke hutan desa Konoha, diiringi terik matahari mentari yang menyengat. Dia mengenakan sebuah jumper jingga polos dengan bawahan short pants berwarna navy sementara itu sepasang sneaker triple S dari Balenciaga membalut kedua kakinya.
Sepasang kristal biru milik Naruto memandang kearah seseorang tak jauh didepannya, rupanya dia ditemani oleh seorang perempuan bersurai pirang panjang tanpa poni. Satu cardigan biru tua membalut kemeja putih pada tubuh mulus itu.
"Apa yang kau lihat?" Perempuan itu melirik kearah Naruto saat merasa dirinya sedang ditatap. Matanya yang senada dengan warna mata Naruto sedikit memicing turun.
"Gak ada, kok, Jeanne," jawab Naruto simpel sembari menaikkan kedua bahunya. Dirinya lantas lekas menyusul perempuan itu –Jeanne, kembali fokus pada perjalanan mereka.
Pikirannya sedikit melayang kebelakang, dia terpikir tentang satu pembicaraan sekaligus alasan kenapa ia bisa berada di hutan Konoha ini adalah karena kejadian pagi hari tadi, dimana sedikit banyak membuat Naruto gemas ingin meremas kepala seseorang.
Flashback On.
Jarang-jarang kesempatan seperti ini datang. Kesempatan untuk bisa sarapan makanan mewah adalah sesuatu yang baru bagi Naruto, bahkan di kehidupan masa lalunya. Kesempatan seperti ini hanya bisa didapat jika kau adalah seseorang yang memiliki jabatan atau pengaruh di suatu lingkungan.
Syukurnya, Naruto termasuk orang yang memilik jabatan itu. Usut punya usut, Kakashi selaku pemimpin desa menggelar sebuah hajatan untuk menyambut acara tahunan yang akan datang, sebuah kompetisi untuk seluruh Esper yang akan digelar di Ibukota Fire Kingdom.
Naruto memandang sekitarnya dengan antusias. Aula yang biasanya dijadikan tempat sparring kini telah bertransformasi menjadi sebuah ballroom persis seperti di hotel-hotel. Tanpa sadar dia mengelus-ngelus perutnya sendiri. Perlahan Naruto menghampir satu persatu buffet yang tersedia disana.
"Sedang mengagumi, heh, Naruto?" tiba-tiba dari arah belakang muncul seseorang yang menyapa Naruto sembari menepuk pundaknya. Seorang pria tampan dengan surai pirangnya.
"This place really hit me on the face! Aku belum pernah melihat makanan-makanan seperti ini, Kiba." gumam Naruto sembari mengambil satu piring dari tempatnya. Live kitchen pun rupanya menjadi opsi dari hajat ini.
"Naruto." Sebuah suara lain masuk ke gendang telinga pemuda merah itu. Di pun menengok dan mendapati Toneri serta Shikmaru, teman sekamarnya yang lain. Sebuah senyum simpul ia layangkan.
"Kukira kau masih tumbang akibat misi kemarin, Naruto." Toneri berkata sembari ikut mulai mengambil makanan. Pilihan pertamanya adalah satu sugar brioche dan zaatar croissant.
"Hey kau kira aku selemah itu, hah?" gerutu Naruto dengan ekspresi sebal saat mendengar kalimat Toneri. Yah, dia memang mengakui sedikit lelah karena terbawa suasana dan lupa waktu saat mencoba kekuatanya kemarin selepas membasmi babi-babi itu.
"Hehh, kau beruntung ku bangunkan, kepala tomat." Shikamaru tiba-tiba bersuara. Seolah mendukung Toneri, ia pun sedikit meprovokasi temannya satu itu,yang memang agak sedikit mudah terpancing. "Dan lagi, kau dengan eratnya memeluk guling bergambar kartun sexy kesayanganmu itu setiap hari, aku menyesal telah mengenalkanmu pada kartun, bung," lanjut Shikamaru.
"Dia ada benarnya juga, aku bahkan sering melihat bekas air liurmu pada guling itu, hahahah…" Kiba tak kuasa menahan tawanya untuk tidak keluar. Surai pirangnya seidkit bergoyang saat dia tertawa demikian. Sementara itu, Toneri hanya tersenyum tipis melihat interaksi dihadapannya.
Naruto sedikit mendecih pada godaan teman-temannya, dia tahu itu hanya guyonan, tapi jangan diomongkan di sekitar orang banyak seperti ini, dong! Pasti banyak yang dengar, kan!
"Ngomong-ngomong, sebenarnya tujuan dari hajatan ini apa, sih?" Merasa cukup dengan leluconnya, Naruto segera mengganti topik. Dia sendiri memang penasaran ada apa gerangan hingga membuat acara seperti. Kedua tangannya sudah selesai mengambil makanan yang paling menggugah seleranya. Satu turkey egg benedict, sepotong beef sausage besar, beberapa helai beef bacon, dan sepotong vanilla muffin sebagai pencuci mulut.
Dia melihat piringnya yang sudah penuh dengan mata berninar, tak sabar ingin mencobanya. Dia segera mengambil langkah untuk mencari tempat duduk. Toneri, Kiba dan Shikamaru pun mengekor dibelakangnya dengan makanan masing-masing. Secara mengejutkan, porsi Kiba ternyata sedikit, hanya terlihat semangkuk corn flakes dengan susu putih.
"Tujuan acara ini? Sebenarnya simpel, hanya ada 2 agenda," ujar Shikamaru sembari duduk pada salah satu kursi yang mejanya kosong. Diikuti yang lain.
"Dan apa itu?" Naruto menunduk sedikit dengan kedua tangan yang tertutup – berdoa, sebelum langsung mengambil suapan pertama, yang menghasilkan decak kagum dari dirinya.
"Pertama, untuk mensosialisasikan kompetisi para Esper yang akan dilaksanakan di Ibukota Fire Kingdom dua bulan dari sekarang," jeda Shikamaru sembari memasukkan potongan omelete-nya kedalam mulut, yang ditanggapi dengan anggukan dari Naruto.
Berbeda dengan dua orang itu, Kiba dan Toneri khidmat menikmati sarapan mereka. Suapan demi suapan mereka lancarkan untuk memenuhi asupan nutrisi tubuh.
"Kemudian, satu lagi, yaitu untuk merekrut dan menyeleksi siapa kandidat yang akan dikirimkan untuk mengikuti kompetisinya." Naruto mengelus pelan bawah dagunya seperti sedang berpikir dan menimang sesuatu
"Hmmm, boleh juga. Apa diantara kalian ada yang tertarik?" Kiba, Shikamaru, dan Toneri serempak mengangguk meskipun tanpa suara.
"Kita tak sembarang bisa ikut. Hanya yang dipilih oleh Hokage yang bisa menjadi kandidat. Tapi, meskipun menjadi kandidat kau belum tentu bisa ikut juga, akan dikerucutkan lagi pada akhirnya. Hingga yang terpilih mungkin hanya 1 atau maksimal 3 orang." Satu suapan kembali masuk tatkala Shikamaru selesai dengan ucapannya. Rautnya terlihat serius dan memedam secercah harapan saat memikirkan dirinya menjadi perwakilan Konoha tahun ini.
"Intinya, seleksi untuk bisa terpilih sangatlah ketat dan terjaga kredibilitasnya," ucap Kiba yang sudah selesai dengan makanannya memperoleh tatapan sedikit tidak percaya dari Shikmaru. "Kau ngobrol saja, sih."
Decak tawa dan obrolan-obrolan khas anak muda menghiasi gelaran hajat itu. Puluhan orang berkumpul masing-masing dengan orang atau teman terdekatnya. Mereka terhipnotis oleh atmosfir menyejukkan tersebut.
Tanpa menunggu waktu lama, sarapan telah selesai digelar. Masuk pada agenda utama yang akan dipimpin langsung oleh Kakashi.
Berdiri ditengah-tengah ballroom ini, seorang Hatake Kakashi tersenyum dari balik maskernya. Senyum yang sangat lebar hingga membuat kedua matanya melengkung keatas. Seluruh orang pun memfokuskan atensi mereka pada sosoknya.
"Seperti yang kalian tahu. Kompetisi bergengsi tahunan bagi Esper akan segera dimulai. Seluruh esper terbaik dari penjuru Fire Kingdom akan berkumpul di Ibukota, Kuoh City." Kakashi menjeda kalimat hanya untuk melihat antusiasme anak-anak berbakat yang berkumpul hari ini.
"Maka dari itu. Aku, Hatake Kakashi selaku Hokage, akan memilih kandidat esper-esper muda berbakat yang menjalani rangkaian seleksi langsung dibawah komandoku. Untuk kemudian dipilih lagi 3 orang yang pantas mewaikili Konoha dalam ajang terbesar, Esper Champions League."
Entah kenapa, begitu Kakashi mengucapkan kata itu. Bulu-bulu halus ditengkuk Naruto mendadak berdiri tegak, bahkan semliri angin berhembus masuk keseluruh penjuru ruangan. Naruto pikir semuanya pun merasakan sensasi yang sama dengannya.
"Kandidat-kandidat itu adalahh…."
Flashback off!
Bila mengingat hal itu sudah pasti akan mendatangkan goosebumps bagi Naruto. Apalagi saat Kakashi menyebut namanya menjadi salah satu kandidat yang terpilih.
Meskipun begitu, pagi hari tadi tidak membuat harinya 100% baik-baik saja. Lantaran, dia harus berpasangan dengan seseorang dalam seleksi tahap pertama yang segera Kakashi perintahkan selepas pengumuman itu.
Iris Naruto melirik dari ujung mata kearah sampingnya, dimana dia melihat Jeanne dengan wajah datarnya hanya fokus memandang kedepan. Agak disayangkan dia disandingkan dengan seorang perempuan bernama Jeanne, wanita yang berwajah kaku dan sejauh yang Naruto tangkap sangat jutek ini. Padahal, dirinya sendiri tidak menampik kalau Jeanne itu cantik.
Tahap pertama ini sangatlah mudah, hanya diperintahkan mencari Spiritual Pill. Pil yang merupakan tingkat lebih rendah dari Sage Pill ini bisa ditemukan di berbagai tempat di penjuru Benua. Biasanya dipergunakan untuk membantu memancing Arts seseorang untuk aktif dan atau keperluan interograsi.
"Hey, Aku penasaran kekuatan seperti apa yang kau gunakan, Jeanne?"
Bola mata Jeanne merespon kalimat itu. Lirikkan tercipta namun tak lama. "Bukan urusanmu."
Jawdrop. Naruto tak menyangka upayanya membangun komunikasi langsung dipatahkan begitu saja. "K-kau…" Namun, Naruto tidak lantas berhenti, dia kembali dengan pertanyaan lain. "Seperti apa rasanya menjadi satu-satunya perempuan yang terpilih, Jeanne."
"Biasa aja," jawab Jeanne bahkan tanpa memandang lawan bicaranya.
Naruto sedikit tertohok pastinya. Dia pun mendesis pendek, mencoba berpikir kembali. "Hey, Jeanne. Apa kau tahu bentuk dari Spritiual Pill ini seperti apa?"
Namun, seperti yang biasanya, Jeanne hanya menanggpi itu dengan pendek. "Tentu." Membuat Naruto meringis dalam hati. "Err, bisa kau jelaskan bentuknya?"
Seett!
Langkah Jeanne tiba-tiba berhenti, netranya bergulir menatap sekitar sampai pada satu momen menangkap sebauh pohon dengan tinggi sedang namun ramping, daunnya terlihat lebat namun kecil-kecil. Wanita bersurai pirang itu lekas mendekat dan segera memotong buah pada pohon
"Ini. Bentuknya seperti ini," tukas Jeanne sembari memandangi buah seukuran bola bisbol itu. Warnanya biru kehijauan dengan tekstur kulit bergelombang seperti buah srikaya.
"Inikah…." Tangan Naruto tanpa sadar meraih buah itu, namun tangan Jeanne lebih cepat menghindar. "Kau ambillah sendiri."
"Ckkk, okay, okay." Naruto mendengus kasar, lantas mengambil buah itu juga dari tempatnya. Seringai puas tercipta manakala buah itu berada dalam genggamannya. Tiba-tiba otaknya memikirkan sesuatu yang cukup spekulatif. Bagaimana jika dia memakan buah ini? Siapa tahu bisa membantu perkembangan kemampuan Espernya.
"Hey, Jeanne, buah ini aman untuk dimakan, gak?"
"Kau bisa memakan buah itu, tapi sebelumnya kau har-"
Brugg~
Mata Jeanne membulat sempurna. Dalam sepersekian detik tubuh Naruto langsung ambruk begitu saja. "Dasar bodoh! Kau tidak bisa memakannya begitu saja, kepala tomat." Makian itu Jeanne dedikasikan untuk Naruto yang tidak sadarkan diri. Helaan nafas kecil terdengar disana.
"Sekarang aku harus bagaimana?"
Sepasang sapphire terbuka dan menyala ditengah-tengah kegelapan ini. Naruto bangkit dari posisi terbaringnya, insting memberi perintah untuk mengobservasi sekitar.
Sejauh mata memandang yang bisa ditangkap oleh mata hanyalah satu spektrum, yakni hitam. Kegelapan benar-benar terpampang nyata didepannya. Setitik kepanikan hinggap, membuat Naruto mulai berlari tanpa arah.
"Hoyy, dimana ini! Tempat apa ini sebenarnya?" Ingatan terakhir yang tersimpan di memori adalah suara Jeanne dan momen saat ia melahap Spiritual Pill tanpa tahu apa-apa. Setelahnya, dia merasa seperti ada tarikan kuat dari dalam dirinya. Lantas seolah dikontrol oleh insting, dia pun menyentuh matrix yang tersemat pada dada bidangnya. Mengusapnya pelan.
"Haduhh, apa ini adalah alam bawah sadarku, ya?"
"Kau benar, bocah."
Satu suara tiba-tiba menyahut, menjawab pertanyaan pemuda itu, tapi tidak ada raga siapapun disana. Nihil. 'Hahh! Hantu!' Naruto tentu langsung terperenjat bahkan tubuhnya otomatis bergetar. Pasalnya dia paling tidak suka dengan hal mistis.
Naruto kembali berjalan-jalan pelan, melihat kesana-kemari yang hanya ada warna hitam. "Siapa itu, hah?" Netranya tak satu kali pun berkedip.
"HAHAHAHA! Ketakutanmu pada hantu masih saja sama, bocah tomat," ujar suara itu laig, yang terdengar seperti suara orang tua berumur.
"Shit!"
Tidak berselang lama, satu titik cahaya kecil muncul dari ketiadaan. Cahaya itu perlaha membesar dan mulai membentuk sesosok kakek tua berjenggot dengan warna coklat. Pakaiannya putih panjang dengan satu tongkat hitam di lengan kanannya.
Pemuda merah kita yang menyaksikan hal tersebut, terperangah dan tak mampu berkata apalagi saat sosok itu menjelama menjadi orang yang ia sangat kenal.
"K-kakek? Kakek, kau kah itu?" Bulir bulir air mulai terkumpul pada pelupuk matanya, iris sapphire itu berkaca-kaca siap menumpahkan tangis tumpah ruah. Kakek itu tersenyum tipis, lalu mengangguk beberapa kali.
"Huahhhhh~ Kakekkk~ Hiksss…. Hiksss." Tangis akhirnya tak bisa ditahan lagi, tanpa menunggu lama Naruto segera menghambur pada Kakek itu yang ternyata adalah Otsutsuki Hagoromo, Kakek angkat Naruto. Memberikan pelukan penuh kerinduan dan kasih saying yang teramat dalam. Mencurahkan segala keluh dan gundah serta penyesalan dalam satu dekapan erat penuh arti.
Pun Hagoromo yang dengan senang hati, membalas pelukan cucu kesayangannya itu. Tangispun tak bisa ia bending lagi. Bola mata aneh miliknya juga mengeluarkan bulir-bulir kristal bening tersebut.
"Hiksss, Kakek. Maafkan aku.. Ma-maafkan aku yang teramat bebal ini. Maafkan aku yang malah memberimu ingatan buruk tentangku, hiksss." Isak tangis begitu terdengar memilukan, derai airmata terus mengiringi setiap kata yang terlontar.
"Maafkan aku yang belum bisa menjadi o-orang kebangganmu, dan malah meninggalkanmu duluan, hiksss."
Hagoromo menepuk-nepuk pundak cucunya. Sesekali kecupan juga ia tanamkan pada pucuk kepala merah itu. Mencoba menenangkan suasana. "Bersedihlah Naruto, tak apa bagi pria untuk mencurahkan kesedihan sesekali. Itu bukti, bahwa perjuangan sangat berat telah ditempuh olehnya."
Beberapa menit Naruto menangis, ia tak ingin melepas pelukannya itu. Ini mungkin sisi yang hanya Naruto pertontonkan pada orang yang benar-benar ia anggap berharga. Hagoromo menyadari hal ini, namun, waktunya sendiri tidaklah banyak, dirinya harus segera menyampaikan maksud yang sebenarnya. Dua menit kembali berlalu, tangis Naruto sudah mulai reda. Hagoromo pun memberi isyarat padanya agar melepas dekapan ini.
"Maafkan kakek juga, Naruto, tapi waktuku tidak banyak. Aku harus segera membekalimu dengan beberapa hal tentang apa yang akan kau hadapi."
Lintasan bekas air mata tercipta manakala Naruto mengusap pelan wajahnya. Nafasnya ia coba tenangkan, lalu kembali bersikap layaknya biasa. "Aku mendengarkan," jawab Naruto dengan suara agak parau tapi sudah lebih baik dari sebelumnya.
"Sebelum itu, mari kita ubah dulu suasana." Tongkat hitam itu terlihat dihentakkan kebawah, dan tiba-tiba berubahlah pemandangan disekitar menjadi ruangan sederhana dengan mayoritas berbahan kayu.
'Ah, rumah kakek,' pikir Naruto senang lagi merasa nostalgia.
"Baiklah, dengarkan dengan saksama, karena ini cukup banyak," pungkas Hagoromo seraya duduk pada kursi yang ada disana diikuti oleh Naruto.
"Pertama, ini menyangkut Otsutsuki. Aku yakin kau sudah bertemu dengan shadow-mu, kan?" Naruto mengangguk cepat.
"Bagus, itu artinya kau sudah tahu peran seperti apa yang akan diambil oleh Otsutsuki keturunanku untuk dunia ini, tapi… Kau harus tanamkan ini baik-baik ini, Naruto." Hagoromo menjeda kalimat sejenak untuk mengambil nafas panjang.
"… Ini menyangkut sejarah Otsutsuki yang sebenarnya. Dimulai dari kisah Ibuku yang kau sendiri pernah bertemu dengannya, Kaguya. Otsutsuki adalah ras extraterrestial atau mudahnya alien yang berasal alam lain, bukan dari planet lain. Kami merupakan bangsa maju yang haus akan sumber daya kehidupan. Dulu, Ibuku datang kesini bersama seseorang yang aku tidak tahu siapa.
Mereka berdua diberi tugas untuk melakukan sesuatu yang buruk di Bumi. Namun, pada akhirnya Ibu malah luluh akan sifat manusia dan jatuh cinta pada mereka hingga membelot dari tugas yang diberikan. Rekan Ibu tentu murka, maka terjadilah perseteruan diantara mereka, hingga mengundang rasa penasaran golongan lain. Mulai dari devil, angel, hingga Dewa. Perang besar tiga kubu terjadi. Dimana, rekan Ibuku mengalami kekalahan telak semantara Ibu dan golongan-golongan itu sepakat untuk melakukan gencatan senjata.
Setelahnya, Ibu melahirkan aku dengan Hamura. Beliau juga mengetahui bahwa suatu saat rekannya akan kembali dan memulai semuanya lagi. Kami bertiga dibantu yang lain sepakat untuk mencoba mengevolusikan manusia, karena memang mereka adalah ras paling fenomenal yang ada. Rapuh sekaligus kuat. Ajaibnya kami berhasil menciptakan 9 energi dahsyat dimana itu adalah cikal bakal matrix. Yang kami perlukan hanyalah pengguna yang pantas untuk menggunakanya. Dari situlah dimulai eksperimen T-gen." Hagoromo memandang cucunya itu, dimana ekspresinya dipenuhi kerutan-kerutan. Bahu kakek satu itu terlihat turun.
"Kau masih sanggup?"
"Tentu, jangan remehkan aku, dong!" tegas Naruto dimana semakin mempertajam fokusnya.
"Hahh, baiklah, tapi akan aku lewat bagian T-gen karena kau sendiri sudah pasti tahu… Setelah percobaan T-gen menemui titik buntu pada saat itu, kami mencoba alternatif lain, yakni, menginfus energi Otsutsuki kedalam tubuh manusia dimana secara mengejutkan ternyata cocok dan lambat laun menyatu dengan sistem manusia itu sendiri menjadi bagian yang terpisahkan, itulah asal usul chakra sekarang. Dilain sisi, kami juga menemukan fakta kalau T-gen suatu saat terbangun, kami senang bukan main. Maka dari itu Otsutsuki keturunanku dan Hamura memulai operasi Guardian dan Shadow secara turun temurun. Sebagai antisipasi dan untuk sedikit membimbing mereka kelak, aku secara khusus menyimpan sisa-sisa energiku kedalam wujud batu kalian sebelum kematian, dengan harapan kalau aku bisa menyampaikan pesan ini, dan itulah kenapa aku bisa berada didalam dirimu, cucuku." Deru nafas halus menjadi penanda penjelasan panjang Hagoromo. Netra ungunya memandang Naruto kemudian.
Sedang Naruto sendiri masih memproses inti dari penjelasan kakeknya, dia usap dagunya perlahan, menggaruk-garuk pelipisnya sedikit kasar, hingga akhirnya mengerang pasrah. "Jadiii, intinya apa, Kakekkk?" teriak Naruto cukup keras dengan frustras
"Hahhh, sudah kuduga." Hagoromo geleng-geleng kepala melihat tingkat cucunya. "Intinya adalah, bahwa manusia terutama kalian, T-gen akan dihadapakan pada situasi perang besar, perang denga seluruh golongan, dewa, devil, angel dengan akibat yang aku sendiri tidak tahu seburuk apa kalau kalian tidak berhasil, yang pasti sangat amat besar hingga membuat Ibu sungguh cemas."
"Perang? Apa…. kau serius?" Naruto sedikit terguncang mendengar kata perang besar. Dirinya bukan belum pernah melihat perang, justru dia adalah korban dari perang itu sendiri. Hagoromo yang mengerti akan perasaan Naruto kembali mengusap surai pirang cucunya.
"Kau harus bertambah kuat, nak."
"Disitulah masalahnya, Kakek! Aku bahkan belum bisa dan tahu seperti apa kekuatanku yang sesungguhnya. Aku sudah lelah memikirkannya saja."
"Itulah salah satu alasanku ada disini, bocah." Sedikit kerutan muncul pada dahi Naruto saat Hagoromo memanggilnya 'bocah' lagi, tapi meskipun begitu dia bergeming karena tahu akan ada lanjutan yang datang.
"Seperti yang kau ketahui, ada 6 jenis Arts yang bisa manusia akses melalui chakra. Dari keenam ini yang paling berbahaya adalah Ancient Arts, itulah sebabnya aku sengaja tidak menulis banyak tentang Arts ini. Sepertinya kau adalah salah satu penggunanya, kan?" Naruto mengangguk kecil sebagai respon.
"Jujur, arts ini merupakan yang tersulit dan terkompleks untuk aku klasifikasikan. Sebagai seseorang yang dianggap bapak chakra, awalanya aku mengalami kesulitan mendeskripsikan kekuatannya. Setelah bertahun-tahun, aku akhirnya berhasil. Ada 3 jenis Ancient Arts yang aku simpulkan. Heavenly, Ancestors, dan Ankhseram. " Hagoromo sedikit berdehem untuk menormalkan suara yang agak serak, maklum orang sudah tua.
"Seperti namanya, Ancient adalah kekuatan yang berasal sesuatu yang kuno. Ini nantinya berhubungan dengan sub jenisnya. Pertama, Heavenly adalah kekutan surgawi yang dimiliki dewa-dewa atau bawahannya yang terwariskan kepada manusia terpilih. Ini terjadi karena afinitas mereka sendiri. Contohnya Zeus, dulu aku pernah bertemu seorang manusia dengan kekuatan Ancient Heavenly Zeus, manusia itu mewarisi tekadnya hingga memungkinkan mewarisi kekuatannya pula, bukan berarti Zeus sudah mati, aku yakin dia masih hidup sampai sekarang.
Lalu, Ankhseram, subjenis ini merupakan kasus khusus. Karena hanya berasal dari satu sumber, yakni sihir hitam kuno. Sihir, kau tahu sendiri merupakan kekuatan golongan supranatural, dan sihir hitam ini bahkan sudah punah dikalangan meraka. Kemisteriusannya bukanlah isapan jempol belaka. Dan disetiap generasi pasti hanya ada satu orang saja. "
"Wowww, kekuatan dewa? Yang benar saja dan lagi, sihir hitam?" ujar Naruto dengan nada agak kagum namun mengejek saat menyebut kata 'sihir' dimana ia memang membenci hal itu.
"Terakhir, arts milikmu. Ancient Arts Ancestors. Sesuai namanya, ini merupakan warisan dari leluhur. Cara kerjanya hampir sama seperti Heavenly, mewarisi tekad atau sifat dari pengguna original. Hal unik dari jenis ini yaitu tidak dibatasi oleh satu alam."
Mata Naruto membulat, ada satu kata yang menurut ganjal dari kaliamat terakhir Kakeknya tadi. "Jadi, maksudmu, seseorang dari alam Otsutsuki pun bisa menjadi bagiannya."
Hagoromo mengangguk. "Itu sudah terjadi, dan aku harap kau berhati-hati. Karena diluar sana, ada yang mewarisi kekuatan Kakek, Paman Hamura, dan bahkan Ibu sebagai Ancient Ancestors mereka."
Bagai mendengar kabar buruk di siang hari. Naruto terperenjat kaget. Matanya menusuk tajam kearah Hagoromo seolah menuntut penjelasan. "Meskipun aku dan Hamura hanya setengah Otsutsuki, tapi tetap saja gen kami dominan kearah Ibu. Jadi, secara teknis kami memang masih alien."
Raut wajah Naruto menunjukan kepasrahan, dirinya tidak bisa membayangkan akan seperti apa jadainya orang yang mewarisi kekuatan para pendiri chakra itu.
"Lupakan hal itu untuk sekarang. Alangkah lebih baik kau mendekatlah kemari," perintah Hagoromo sembari memberi lambaian tangan. Naruto pun mendekat. Masih dalam suasana rumah tua mereka.
Tuk~
Telunjuk Hagoromo menyentuh dahi pemuda itu pelan. Kakek tua itu fokus pada apa yang ia lakukan. Sementara yang dimaksud hanya bingung sembari menerka-nerka apa yang sedang dilakukan orang tua ini.
Netra ungu Kakek tua itu menyipit disertai lengkungan pada bibirnya. "Sepertinya 'dia' akan segera menemuimu Naruto."
"Siapa?"
"Kekuatanmu."
Keduanya saling pandang selama beberapa detik. Naruto mencoba mencerna maksud jawaban itu, dan menyambungkannya dengan penjelasan sebelumnya. "Baiklah, aku paham."
"Bagus, karena waktuku pun sudah tidak banyak." Naruto tentu sedih mendengarnya, perlahan riak tangis pun sudah mulai kembali naik.
"Sebagai hadiah perpisahan, akan kuberikan petunjuk tentang mengendalikan kekuatanmu itu." Hagoromo beranjak dari kursi kayu itu, lalu mulai kembali memeluk cucunya yang ternyata sudah bersua kembali dengan tangis. Dia elus-elus kepala merah tersebut dengan penuh kelembutan seraya berkata, "carilah orang bernama Baba Yaga, lalu tanyakan lokasi perpustakaaan Ohara padanya."
"Hikss,… hiks,…" Naruto mengangguk kecil dalam dekapan Kakeknya, isak tangis menjadi pengiring setia diantara mereka. Perlahan namun pasti, tubuh Hagoromo mulai bercahaya, beberapa bagian tubuhnya sudah berhamburan menjadi cahaya-cahaya kecil. Menyadari waktunya sudah habis, Hagoromo mendekap lebih erat tubuh cucunya.
"Ingat, saat kau sampai disana. Carilah buku berjudul Raja Kegelapan yang Bijak, oke?….. dan satu lagi dari Kakek. Kau harus ingat, kalau Kakek selalu menyayangimu dan mencintaimu, nak. Teruslah kepakkan sayapmu. Apapun yang kau lakukan, Kakek selalu berada disisimu, dan, dan,… masih banyak yang ingin Kakek sampaikan Naruto, tapi meskipun begitu…. Hiks, hiks,… senang mengobrol lagi denganmu.
-Selamat tinggal, cucuku, Uzumaki Naruto."
"HUAAAAAAAA!" Naruto menjerit sekeras-kerasnya manakala dekapan hangat itu hilang begitu saja seperti diterpa. Riak tangis deras menjadi pemandu pertikel-pertikel cahaya Hagoromo menuju alam berikutnya. Pemandangan disana kembali berubah menjadi kegelapn tak terhingga.
Naruto tertundudk lemas, kedua kakinya tak sanggup lagi berdiri. "Kakek, Hikss…" Tetapi, ia mencoba untuk tegar setelah apa yang disampaikan Kakeknya tadi. Kesedihan tentu sangat membekas, tapi itu harus bisa dirubah menjadi bahan bakar untuk meroket sampai puncak. Pesan kakeknya pasti akan ia laksanakan dan ia jaga sepenuh hati.
Satu bulir air mata terlihat turun perlahan dari pipi Uzumaki itu, perlahan namun pasti bulir semakin mendekat keujung kulit, hingga akhirnya jatuh menetes kebaawa. Saat air mat aitu menyentuh permukaan, saat itu juga semuanya kembali normal. Kesadaran Naruto telah menemukan jalan menuju dunia nyata.
Jeanne berpikir tidak ada lagi yang lebih buruk dari seorang pria bodoh dan ceroboh. Itulah sebabnya ia benci laki-laki. Mayoritas mereka hanya bertindak berdasarkan naluri, sungguh layaknya binatang.
Wanita itu sendiri, sepertinya harus merutuki hari cerah ini, karena dirinya terjebak bersama salah satu dari jenis laki-laki yang ia benci. Seorang Naruto terlihat terbaring tidak sadar pada sebuah sofa panjang. Keadaannya shirtless atau telanjang dada!
Jeanne sendiri tidak mengerti kenapa, tapi dari yang ia lihat ada semacam benda bulat aneh yang terus bercahaya biru redup. Lebih anehnya cahaya itu entah kenapa seperti menghipnotis Jeanne karena kehangatan dan…. Ketentramannya. Yah, Jeanne yang notabene seorang yang jutek pada laki-laki tiba-tiba dihadapakan dengan seseorang dimana bisa memberikan rasa hangat untuk pertama kali.
Dia sangat ini tengah mempehatikan benda itu dari dekat, kira-kira kurang dari satu jengkal. Sehingga, siapapun yang melihat ini dari kejauhan pasti berpikir bahwa Jeanne sedang mencmbu pemuda satut itu. Satu lagi sifat Jeanne yang terungakap, kepolosannya.
Ditengah keasyikkannya menikmati rasa hangat, kelopak mata Naruto perlahan berkedip pelan, sepasang netra biru mulai kembali menampilkan pesonanya.
Selepas terbangun, Naruto merasa ada sesuaut disekitarnya. Dia mencoba melirik sekitar dengan ujung mata. Lalu, jantungnya hampir copot tatkala melaht seorang perempuan memperhatikan tubuhnya yang.. tidak pakai baju? Tunggu!
"Huaaa,.. apa yang kau lakukan padaku!?" Reflek pemuda itu berjengit lantas segera melompat mundur. Reaksi serupa dikerahkan oleh Jeanne, dia sendiri secara tak sadar berjalan mundur dan ikut menjerit.
"Haaaaaaa!"
"Huhh, J-Jeanne?" ujar Naruto selagi mencoba melihat sekelilingnya. Bisa dilihat ini seperti berada didalam sebuah rumah. "Dimana ini? Dan apa yang sedang kau perbuat tadi? Kenapa aku bisa bertelenjang dada?" cecar Naruto pada perempuan dihadapannya.
"J-jangan salah paham, kepala tomat. Mana mungkin aku melakukan sesuatu pada tubuh jelekmu itu. J-jangan bermimpi," jawab Jeanne dengan wajah yang memerah.
"Lah, terus?" Kejengkelan sudah pasti hinggap pada benaknya saat menerima hinaan tadi. Tapi, masa bodo dengan itu, dia lebih penasaran kenapa bisa terbangung ditempat asaing ini. "Bisa kau jelaskan lebih jauh?"
"I-ini di rumahku. Kau tadi pingsan saat sudah memakan Spiritual Pill. Lalu, karena aku tidak ingin menunggumu bangun disana, aku.. aku gusur saja kau pulang. Saat melapor ke Kakashi-sama dan melihat kau yang tidak sadar, dia tentu penasaran. Aku jawab aja apa adanya. Lalu, karean aku tidak tahu rumahmu, aku bawa saja dulu kemari," jelas Jeanne dengan panjang lebar disertai wajah yang semakin memerah pekat.
Terkejut? Tentu, pasalnya sudah lama dia tidak berada dirumah seorang gadis, apalagi gadis itu sendiri yang membawanya, itu malahan hal baru baginya. Selain fakta bahwa tadi merupakan kaliamt terpanjang yang terlontar dari wanit itu. "Dannn, kenapa aku bisa tidak pakai baju….?" Semburat merah tipis tak kuasa untuk tidak hinggap pada wajah tan itu
"K-kenapa kau malah mengintrograsi-ku, heh? Seharusnya kau bersyukur aku berbaik hati menolongmu karena kecerobohanmu sendiri, kepala tomat."
"Berhenti memanggil kepala tomat, mesum," balas Naruto cepat yang jengah dengan sebutan kepala tomat. Memangnya dia pikir siapa dia.
"A-apa! Beraninya kau… memanggil seorang gadis suci dengan kata laknat itu. Kurang ajar, kepala tomat."
"Sudah kubilang berhenti, wanita. Kau…"
"Ada apa ini?"
Sebuah suara menginterupsi ketegangan mereka. Seorang laki-laki berkacamata menhampiri keduanya.
"Georg, laki-laki tidak tahu diri baru saja memanggilku mesum, padahal aku sudah berbaik hati menolongnya." Jeanne dengan segutnya mengadu pada pria yang baru saja datang itu. Georg tentu mengerenyit heran, dia lalu menatap Naruto intens.
Naruto yang merasa disudutkan tentu tidak terima, bukan hanya dirinya saja yang salah disini. "Tunggu sebentar, nona. Siapa yang mulai mengejek heh? Kau sendiri memanggilku kepala tomat dan menyebut tubuhku jelek. Lagipula, aku hanya bertanya kenapa bisa aku tidak pakai baju."
Georg melenguh cukup panjang, dirinya nampak sudah tahu kenapa hal kecil seperti ini bisa berdampak panjang. 'Dua orang keras kepala memang tidak akan bisa akur.'
"Sudah, sudah. Jangan ribut lagi. Untuk menjawab pertanyaanmu. Aku yang membukanya tadi, saat melihat Jeanne dan membawamu yang memakan Spiritual Pill tanpa persiapan aku berinisiatif memeriksanya, lalu Jeanne, sudah kubilang jangan memulai perkara, kalau sampai seperti itu terus tidak ada laki-laki yang mau padamu."
Naruto mengangguk mengerti lalu, memakai lagi baju yang tergeletak tak jauh dari sofa tadi.
"Siapa juga yang butuh ras bernama laki-laki itu," jawab Jeanne yang sudah kembali ke mode jutek-nya. Ternyata memang sudah mengakar sifatnya itu, bahkan dihadapan sang kakaknya sendiri. Stoic as hell
'I'm done with this girl,' ratap Georg dan Naruto bersamaan dalam hati sembari menangis jadi-jadian.
…
…
…
To be Continued.
Glosarium:
Omelete: Telur dadar.
Zaatar Croissant: Kayak roti lagi, asalnya dari Perancis yang sering dihidangkan untuk sarapan.
Sugar Brioche: Sejenis roti kue manis dengan bahan pokok krim, telur. Berasal dari Perancis.
Vanilla Muffin: Sejenis kue berukuran finger size atau kue sekali -am bisa langsung habis.
Egge Benedict: Kombinasi dari poach egg, bacon, sepotong english muffin, saus hollandaise.
Bacon: irisan tipis daging yang dimasak hingga matang, biasanya babi. Tapi, hewan lain pun banyak.
Corn Flakes: Sejenis sereal yang pas dengan susu.
Buffet: Perasmanan/makan kayak dinikahan orang.
Live Kitchen: Kegiatan dapur yang dipertontontan ke konsumen secara langsung, dari persiapan hingga masaknya.
Jumper: Sweater/baju hangat.
Balenciaga: Merk/Brand Fashion.
A/N: Eyyoo, people.
Akhirnya bisa update juga. Semenjak puasa update selalu pagi, karena malam sebelumnya di geder parah. Aku tim gak tidur langsung sahur. Ehehe.
Ada beberapa concern yang akan dibahas. Satu, soriiii bgt kalau chapter ini isinya cuman bacot doang, ya memang itu yang lagi dibutuhinnya, berguna buat ancang-ancang masuk ke konfliknya, sih. Biar smooth aja gitu. Tapi, 4k words ini gak semuanya percakapan yang gak penting. Banyak yang penting malahan. Chapter ini memang agak khusus, terniat aku sampai ngejelasin makanan-makanannya doang, supaya nambah word aja. Sebenarnya oke-oke buat aja aku, karena memang pernah kerja langsung di F&B. Kalau boring,…? Ya mau gimana lagi, aku udah berusaha dan cuman berharap kalian bisa mengerti alurnya.
Tapi, dibalik itu scene ballroom diatas, aku memang kepikiran ingin sesuatu yang beda. Sejauh yang aku tahu dari fanfic-fanfic NarutoxDXD, belum pernah ada yang buat momen pengumuman sambil sarapan santai. Kebanyakan serius mulu tanpa ada pemanis. Kan, mantep, dikasih makan gratis dulu, makanannya mewah-mewah lagi.
Kedua, berkaitan dengan percakapan yang bejibun ini. Hagoromo muncul kembali setelah penampilan di Chapter prolog. Kebenaran Otsutuski pun terungkap. Alien? Alam lain? Multiverse? Entahlah, tunggu saja. Terus, penjelasan mengenai kekuatan Ancient Arts ini semoga kalian paham dan menerima logikanya, yah. :3 Kalau buat yang teliti dan pay attention banget, pasti sadar akan kemana cerita ini berlabuh pada selanjutnya, hehehehe…. Berharaplah semudah itu, oke ferguso! xD
Ketiga, dua karakter muncul. Georg dan Jeanne (ini Jeanne yang memang ada HS DxD yah, bukan dari anime lain, googling fotonyakalau kepo) ditetapkan sebagai kakak-adik disini. Bakalan memegang peran banyak di arc ini.
Dan untuk yang pencet favs dan follow serta baca dan review, makasih banget, kalian adalah bensinku di perjalanan yang jauh ini. You really made my day to the fullest!
Oke segitu dulu, terus pantengin cerita ini kalau kepo sama kelanjutannya. Jangan lupa, kalau bingung atau kepikiran sesuatu langsung tinggalin di kolom review.
Ciao~
07:32. 07 Mei 2020.
