Disclaimer:
Naruto dan Highschool DxD adalah properti Masashi Kishimoto dan Ichiei Ishibumi.
Mengambil bumbu dari God of Highschool milik Park Yong-je, serta karakter-karakter lainnya.
Warnings:
AU, AT, AR, OOC, OC, typos, misspelling words, diksi yang monoton, inkonsisten Author, MartialArtist!Naruto, more to be added.
Genre:
Adventure, Fantasy, a bit Sci-fi, and Mystery, Romance in the future.
Rate:
M (For language, behavior, dan future development)
Summary:
Naruto, seorang ahli beladiri campuran muda pada zamannya, harus menelan pil pahit lantaran tragedi yang menimpa keluarganya. Bertekad untuk membalas dendam, ia pun mengikuti sebuah percobaan dimana menjadi awal evolusi manusia, tetapi akibat dari percobaan itu Naruto harus rela menjadi batu! 1000 tahun telah terlewat, kehidupan Naruto pun kembali dimulai di dunia yang berbeda!
Arc II: Downfall of Shinsengumi.
Chapter 7: Signal from The Others.
.
Please, read the A/N after reading the story! Karena cukup penting.
/
Ada malam-malam tertentu bagi Shikamaru untuk terbangun ditengah tidur pulasnya. Itu bisa disebabkan oleh beberapa hal. Pertama, dia tiba-tiba terbangun karena suatu mimpi. Kedua, dia lupa belum buang air kecil dan tidak sikat gigi tadi, atau. Ketiga, dia bisa saja mendadak ingin mengaduh kencang karena perutnya yang tiba-tiba sembelit dan protes sebab sesuatu siap keluar dari bokongnya, seperti sekarang ini.
"Demi Tuhan! Kenapa harus sekarang? Padahal mimpinya sedang bagus tadi," maki pemuda itu yang segera menuju kamar kecil sembari menahan pantatnya yang terus bersuara tak elok serta berbau tak sedap. "Sialan," lanjutnya lantas memasuki kamar kecil itu.
Beruntung, hal itu tidak menggangu dua penghuni lain disana. Seperti yang kita tahu, Shikamaru, Naruto, dan Yuuto Kiba adalah teman sekamar. Mereka ditempatkan bersama sejak resmi menjadi esper.
Suara keran air mulai menggema di sana. Menghiasi nuansa gelap nan remang-remang dari lampu tidur. Tak butuh waktu lama, hanya beberapa waktu berselang, Shikamaru telah menyudahi ritualnya itu. Mengembuskan nafas lega lantas menutup pintu kamar kecil lalu kembali beranjak ke ranjang tidurnya.
"Aku tidak akan pernah makan pedas lagi, ingatkan aku," gumam Shikamaru pada dirinya sendiri manakala mengingat makanan apa yang ia santap seharian tadi.
Saat dia hendak menutup mata. Ada satu spekturm warna yang ia tangkap dari ranjang disampingnya, yang mana adalah ranjang Naruto. Sebuah cahaya cerulean menguar dari tubuh pemuda rambut merah yang sedang terlelap itu.
Shikamaru berkedip beberapa kali untuk memastikan pandangannya benar. "Cahaya apa itu?" gumamnya pelan lalu bangkit dan melangkah mendekat ke arah Naruto.
Bila ditelusuri lebih rinci, cahaya itu berasal dari bagian atasnya, yaitu dada. Keadaan semakin kalut tatkala Naruto menggeliat gelisah dalam tidurnya, seperti kepala yang mundar-mandir, keringat bercucuran, dan kelopak mata yang semakin terpejam erat.
"Hey, Naruto, ada denganmu, kawan? Bangunlah." Shikamaru sontak sedikit panik melihat kawannya seperti itu. Perkiraannya adalah mimpi buruk, tapi yang membuat ia semakin khawatir adalah intensitas cahaya itu semakin lama semakin besar.
"Naruto, buka matamu!" seru Shikamaru cukup keras sembari sedikit mengguncang bahu Naruto, namun itu tidak berhasil.
Disisi lain, Kiba yang merasa terganggu tidurnya, kemudian ikut tersadar meski beberapa detik pertama masih tidak mengerti ada kebisingan apa. "Ada apa, hah, berisik-berisik begini? Kau tidak lihat jam berapa sekarang?"
"Kiba! Kemarilah, bantu aku menenangkan anak ini, cepat." Shikamaru melirik kearah Kiba sejenak dan memberi kode untuk mendekat; Kiba sendiri yang belum tahu apa-apa hanya bisa mengusap-usap matanya sedikit gusar lalu beranjak pula akhirnya. "Ada apa, sih?"
"Kau tidak lihat cahaya ini, tampan?" tanya Shikamaru dengan sedikit mengejek, namun kedua tangannya masih berada di bahu Naruto. Pada diri Kiba sendiri yang sepertinya baru mendapat kembali nyawanya, mulai melihat dengan jelas apa yang sedang terjadi pada Naruto.
"Eh, heyyy! Apa yang terjadi pada anak ini? Kenapa dia bergerak-gerak aneh seperti itu? Apa dia kerasukan hantu, Shikamaru? Lalu, cahaya apa itu?
"God!" Shikamaru mendesis tajam kepada orang disamping ini. Menggeleng sejenak lantas ia meminta Kiba melakukan sesuatu, "Kiba, kau tahan tubuh Naruto, aku akan mencoba sesuatu."
Kiba mengangguk paham, dan dengan segera mengganti posisinya. Kali ini Kiba yang menahan pergerakan Naruto yang masih bergerak-gerak tidak karuan.
Dalam satu gerakan tangan, Shikamaru menyingkap baju Naruto yang kemudian mengekspos tubuh bagian atasnya, dan otomatis mengundang tanda tanya besar pada benak Kiba dan rambut nanas itu.
"Benda apa itu?!" pungkas Kiba dalam keterkejutannya. Pun dengan Shikamaru yang netra hitamnya tak bisa lepas dari benda bulat atau lebih mirip sebuah piringan dengan pola pentagram seukuran arloji yang menempel pada tubuh Naruto.
"Aku tidak tahu itu. Tapi, yang jelas kita harus segera melakukan sesuatu padanya," tukas Shikamaru dengan intonasi tegas, pakem pada perasaan yang ingin sahabatnya segera sadar dan terbebas dari apa yang ia sedang alami dalam tidurnya. "Saatnya mencoba kekuatan ini," lanjutnya pelan sembari memposisikan tangannya diatas benda itu -matrix-yang masih bisa didengar oleh Kiba.
"Apa maks-" Kalimat Kiba harus terhenti tatkala melihat punggung tangan Shikamaru tiba-tiba mengeluarkan sinar hijau, yang perlahan mengalahkan sinar biru dari matrix. Walaupun sinar hijau itu memberikan sugesti menenangkan nan indah, tapi nyatanya Naruto malah mulai berteriak pelan saat kedua cahaya itu beradu. "Arghhh, akhhhh….." Kegelisahan dalam tidur Naruto semakin kentara.
"Kau,… rupanya bisa Healing Arts juga, Shikamaru?"
"Yah, lebih tepatnya Healing Arts tipe Divide. Aku menyadarinya saat ujian masuk esper lalu. Aku juga terkejut awalnya, bahkan aku sempat tidak ingin menggunakan kekuatan ini karena memang aku sepertinya tidak akan bisa. Tapi,…. sepertinya mau tidak mau sekarang harus dicoba," jelas Shikamru yang tanpa kehilangan fokusnya.
'Untung aku selalu membaca buku panduannya, jadi tidak terlalu merepotkan,' batinnya melanjutkan.
Sekedar informasi, Arts yang dikuasai Shikamaru ada dua buah rupanya. Pertama, sudah pasti Shadow Manipulation, yang termasuk Creation Arts sebagaimana seorang Nara biasanya. Lalu, diluar dugaan, dia juga membangkitkan Healing Arts dengan tipe Divide.
Divide sendiri dalam konteks dasarnya adalah membagi, atau memisahkan. Hal itu tidak jauh beda dengan pengaplikasiannya. Jika tipe Boost seperti Issei berfungsi menambah, menaikkan statistik, dan tipe Divide fungsi utamanya adalah membagi atau mengambil sebagian energi pada target. Berbeda dengan tipe Cure menyembuhkan 'luka' dan mengembalikan kesemula, tipe Divide hanya mengambilnya lalu si pengguna bisa menggunakannya sesuka hati.
Itulah yang sekarang dilakukan Shikmaru, dia mencoba mendeteksi energi negatif didalam tubuh Naruto yang memang sepertinya ada, karena dibuktikan dengan Naruto yang semakin kejang-kejang. 'Dapat!' batinnya bersorak, lalu tanpa menunggu lama ia menarik energi itu keluar dari tubuh Naruto. Sang empu pun perlahan kembali tenang tanpa kegelisahannya.
Segumpal zat berwarna hitam pekat berada digenggaman Shikamaru. Zat hitam itu memamparkan perasaan negatif yang bisa dirasakan oleh Kiba maupun dirinya. "Shikamaru! Hancurkan itu," ujar Kiba dengan tegas manakala instingnya memberitahu tidak ada kebaikan dalam zat hitam itu.
Namun, Shikamaru tidak segera merespon, ia malah bergeming. Dia cukup lama memandangi zat hitam itu, cukup untuk membuatnya fokus dan mengabaikan Kiba yang kembali bersuara. "Hoy, apa yang kau tunggu!"
"..."
"..."
'Kalian akan mati.'
Kedua iris hitam Shikamaru membulat sempurna, lantas segera meremas zat hitam itu hingga tak tersisa. Mendadak udara terasa dingin ditengkuknya. 'Apa itu?' benaknya bertanya-tanya tatkala dia seolah mendengar sebuah bisikan saat memandangi energi hitam tadi, yang begitu mencekam dan hanya ada satu kepastian darinya,…... rasa benci.
Netra obsidiannya nampak bergantian menatap Naruto dan kedua tangannya yang sedikit bergetar. "Siapa kau sebenarnya, Naruto?"
.
.
/
Naruto PoV.
Hitam. Gelap. Sunyi. Berat. Kosong.
Mungkin itu yang sedang aku rasakan dan aku lihat sekarang, dimana hanya ada aku dan warna hitam saja disini. Aku bahkan tidak tahu aku ini sedang melayang atau bagaimana, karena saking tidak ada apapun disini, bayanganku sendiri tidak ada. Benar-benar kegelapan yang tak berujung.
"Halo. Bisakah seseorang menunjukan jalan pulang padaku?" Aku bicara cukup keras sembari berjalan-jalan kecil, entah pada siapa. Bodohnya aku yang mengharap ada jawaban seperti pertemuanku dengan Kakek kemarin sesudah memakan Spiritual Pill.
"Hey, aku tahu ada yang menarikku kemari, karena yang terakhir aku ingat aku sedang bermimpi dikelilingi gadis-gadis montok. Jadi, kumohon siapapun itu, buatlah ini cepat berakhir." Aku bersuara kembali, sedikit lebih keras. Aku sendiri yakin, ini bukan lagi dalam mimpi apalagi dunia nyata, seseorang pasti telah menempatkanku disini.
Tiba-tiba aku merasakan sesuatu bergejolak dari dalam dadaku, lebih tepatnya dari matrix ini. Aku menunduk dalam untuk melihat apa yang terjadi pada benda itu, yang ternyata sedang bersinar terang kebiru-biruan. Sedikit rasa panas terasa menjalar keseluruh bagian tubuhku, seperti sengatan-sengatan kecil.
Mataku kemudian membulat sempurna, terperangah pada apa yang kulihat selanjutya. Sebuah lesatan energi hitam keluar dari matrix dan perlahan membentuk sebuah siluet tak jauh dari hadapanku. Karena bentuknya yang hanya berupa gumpalan, tidak ada mata, hidung atau aspek lain. Aku jadi tidak tahu siapa itu.
"Siapa kau?" Instingnya bahaya entah kenapa menyala, memperingatkanku seolah siluet itu adalah entitas berbahaya. Gemercik tawa bisa aku dengar dengan jelas, itu tentu saja membuatku takut, karena siluet itu saja tidak memliki anggota tubuh, hanya murni gumpalan hitam
"Gulp." Aku menelan ludahku dalam-dalam manakala siluet itu mulai mendekat kearahku. Aku menatap waspada.
"Aku benci tatapanmu itu." Geeezzzz. Akhirnya siluet itu bersuara, setitik kelegaan bersorak dalam diriku saat tahu kalau itu bukanlah hantu. Dilain sisi, aku spontan bingung dengan pernyataannya. Kedua alisku naik bersamaan.
"Apa maksudmu?"
"Kau telah lupa akan tujuan hidupmu yang sebenarnya." Siluet itu kembali bergerak, kali ini mengelilingi diriku. "Kau lupa bahwa makhluk-makhluk hina itu telah merenggut kebahagiaanmu….. Aku tidak bisa membiarkan ini terjadi."
Keringat dingin mulai membanjiri seluruh tubuhku. Aku diam-diam mulai bersiap akan kemungkinan terburuk jika harus berkontak fisik disini. Tunggu dulu? memangnya siluet itu bisa disentuh?
Akan tetapi, semua pransangkaku buyar. saat tiba-tiba pemandang disekitar mulia berubah drastis.
Dan seketika, bulu kudukku semuanya menegang, aku langsung tertunduk ke alas yang kini berupa…. lantai kayu? Dengan pelan aku telusuri sekitar, yang mana sudah berubah menjadi tempat yang aku kenal. Tempat yang dipenuhi bau amis darah dan bau peperangan yang pekat. Kenangan kelam nan buruk pun semuanya keluar ke permukaan.
"Aarrrgh….." Kedua tanganku mengepal erat. Langsung memandang beringas kearah siluet itu.
"Yaaaa, benar seperti itu. Itulah tatapan kau yang sesungguhnya." Aku semakin gusar mendengar kaliamt itu. Kemudian telingaku menangkap langkah kaki yang mendekat. Aku menengok kesumber suara. Sepertinya keberadaanku dan siluet ini tidak bisa dilihat oleh orang lain. Iris cerulean blue milikku mendapati diriku yang masih kecil dengan...
... dua orang yang paling berharga bagiku! Sedang dihampiri oleh sepasang makhluk yang paling aku benci dimuka bumi ini.
"Kaa-san, Tou-san…" ucapku pelan. Namun, aku lekas kembali menatap siluet itu dengan geram. "Apa-apaan ini semua? Siapa kau sebenarnya? Apa maumu, bangsat!" hardikku padanya, telunjukku sudah mengarah tepat pada entitas siluet itu. Amarahku sungguh sedang membuncah dan hampir menyelimuti akal sehatku.
"Kau harus melihatnya lagi, Naruto. Untukmu, mengingat semua perbuatan mereka adalah keharusan mutlak."
Sudah habis kesabaran ini. Aku pun hendak menyerangnya, tapi sesuatu menghentikan langkahku.
"Naruto, tetaplah hidup, nak." Aku mendengar suara Kaa-san dimana tengah memeluk diriku yang kecil dengan erat. Didepan kami ada Tou-san, dia masih berdiri tegap dihadapan dua Iblis itu.
"Kushina, Minato. Pelanggaran kalian sungguh tidak bisa diterima. Dewan sudah murka. Kalian harus binasa!" ucap salah satu Iblis itu yang hanya dibalas decihan oleh Minato, Ayahku. Tanpa sadar aku mencoba menghunus kearah mereka, namun sia-sia, tubuku malah menembusnya, seolah terpisahkan oleh dimensi.
Naruto PoV End.
"Gremory! Kalian, Iblis, hanya mementingkan diri kalian sendiri. Sejak awal, perpecahan adalah yang kalian incar!" pekik Minato tanpa rasa takut sama sekali, meskipun hanya manusia biasa tanpa kekuatan apapun tapi dia adalah salah satu tokoh berpengaruh di lingkungan manusia itu sendiri, hal itu memaksa dirinya untuk melakukan kontak dengan ras lain hingga dirinya cukup tahu tentang apa yang terjadi dan apa yang akan terjadi pada dunia ini.
"Mulutmu memang pedas seperti biasanya, Minato. Mungkin, para Dewan sudah muak mendengar ocehan. Karena aku juga merasakannya." Salah satu dari dua Iblis itu terlihat mengeluarkan partikel-partikel merah kehitaman.
"Saaa, hadapilah akhir hidupmu!"
Minato yang melihatnya tak kuasa untuk tidak menatap ngeri, namun keteguhan hati dan pikirannya masih menguasainya, dan lantas ia mencoba berbuat sesuatu. Diatas meja yang tak jauh dari posisinya berdiri, ia melihat sebuah belati. Dengan gerakan cepat ia mengambilnya dan langsung menerjang kedepan.
"SIALLLL, hentikan ini semua," teriak Naruto tiba-tiba. Teriakan yang penuh frustrasi bisa terdengar dengan jelas. Mungkin karena ia sudah tahu bagaimana akhir dari peristiwa ini, makanya ia sebisa mungkin tidak ingin melihatnya lagi.
"Puncture Needle Style: Blood Sealing Needle." Minato menghunuskan pisau dengan sangat terampil dan penuh dengan teknik, ia bagaimanapun merupakan seorang ahli bela diri juga, tak kalah jago dengan anaknya. Namun, Iblis itu pun tidak tinggal diam saja.
Jrashh~
Semprotan darah dengan deras menyembur keatas ruangan. Pisau Minato nampak telak menancap pada tengkuk si Iblis yang memperoleh tatapan tidak percaya darinya. Namun, yang lebih menyayat hati adalah, ternyata cipratan darah tadi bukan berasal dari tubuh sang Iblis, melainkan dari Minato yang berbarengan terkena serangan pertikel-partikel merah tadi.
Akibatnya?
"TOUU-SAAANNN!" Naruto kecil yang dalam dekapan Ibunya dan Naruto yang asli berteriak beriringan tatkala melihat sebuah organ tubuh manusia melayang dan mendarat tepat dihadapannya. Satu lengan Minato putus bahkan perlahan-lahan pudar, partikel itu menggerogoti seluruh sel-sel hingga habis tak tersisa, seperti abu yang diterpa angin.
"Bajingaaann!" Naruto sekali lagi menerjang kearah si Iblis, pukulan dan tendangan ia daratkan padanya, dimana tentu hanya menembus tubuhnya saja. Rintik air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.
Meskipun ini hanyalah kilasan dari ingatannya, perasaan yang bergejolak saat ini masihlah sama.
Tiba-tiba, semua yang ada disana, pemandangan, barang-barang, seketika pecah menjadi potongan-potongan kecil. Buyar.
Kegelapan kembali melingkupi Naruto dan siluet itu. "Sepertinya teman-temannu berhasil menangkapku untuk sekarang," ujar siluet itu yang perlahan mulai menguar menjadi abu. "Ingatlah satu hal! Aku adalah dirimu! Kemanapun kau melangkah, aku ada disana... kita akan bertemu lagi-
-dan bila waktunya tiba, jangan harap kau bisa lolos…. Uzumaki Naruto."
Siluet itu akhirnya hilang. Seolah ditelan oleh sesuatu. Meninggalkan Naruto yang tertunduk lemah disana seorang diri.
.
.
/
Cuaca cerah dipagi hari adalah salah satu yang paling digemari oleh Naruto. Udara yang segar, sinar mentari yang menyehatkan, disertai alunan musik alam dari berbagai jenis hewan adalah contoh pagi yang ideal bagi pemuda merah satu itu. Apalagi jika ditemani sarapan semangkuk ramen hangat.
Sayangnya, dia tidak punya ramen untuk sekarang, karena stok-nya habis dan ia belum membeli persediaanya lagi, maka terpaksa ia harus mau dengan apa yang dipunya rekan sekamarnya, yang mana berupa roti gandum hambar milik Shikamaru.
Berjalan santai ditengah keramaian jalanan Konoha sembari sesekali menggigit rotinya menjadi sesuatu yang baru bagi Naruto. Pasalnya ia tidak pernah keluar sepagi ini, kecuali kalau ada misi. Itu pun dengan ia yang sarapan ramen.
Berbicara tentang Shikamaru, kawannya itu, beserta Kiba, tadi sempat mencegahnya untuk pergi dan bahkan bertanya tentang sesuatu yang ia sendiri tidak duga, menyangkut matrix. Singkatnya, Naruto telah diberi tahu oleh Shikamaru serta Kiba mengenai apa yang terjadi pada dirinya tadi malam, mulai dari dirinya yang kejang-kejang , gelisah tak karuan, hingga benda aneh yang paling menarik rasa penasaran keduanya.
Naruto tentu saja berkilah, dia tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya, apalagi tanpa sepengetahuan Toneri. Bisa berbahaya identitasnya. Meskipun begitu, Naruto tahu betul bahwa Shikamaru dan Kiba tidak mungkin percaya begitu saja ucapannya, mereka adalah dua orang pintar. Beruntungnya, mereka tidak memaksakan kehendak. Dan Naruto bersyukur akan hal itu.
'Cepat atau lambat kecurigaan mereka pasti akan semakin besar,' pikirnya sambil kembali mengambil gigitan pada roti gandum itu.
Adapun keperluan Naruto pergi sepagi ini, yaitu itu menyangkut petunjuk dari Kakeknya, Hagoromo. Orang tua itu menyuruhnya menemui orang bernama Baba Yaga dan sebuah tempat bernama perpustakaan Ohara. Benaknya berprasangka bahwa hal-hal itu berhubungan dengan jati dirinya sebagai T-gen serta kekuatannya.
Maka otaknya pun tak perlu berpikir jauh jika menyangkut informasi tentang orang-orang atau penduduk. Sudah pasti kantor catatan sipil Konoha menjadi destinasi utama untuknya.
Disinilah ia sekarang berdiri, tepat didepan kantor tersebut. Kantor itu memiliki gaya bangunan layaknya benteng beton pagar-pagar besi yang runcing, persis seperti di film-film apokaliptik.
'Lebih mirip penjara ketimbang kantor, deh.'
Tak mau berpikir lebih panjang lagi. Naruto mulai mengambil langkahnya, memasuki gerbang utama lalu kemudian baru pintu kantornya. Dan ternyata, ibarat pepatah, jangan menilai buku dari sampulnya adalah kalimat yang tepat untuk tempat ini.
Interiornya sungguh tak akan terkira jika membandingkannya dengan wajah tempat ini. Lantai marmer dengan corak hitam putih, banyak lampu-lampu gantung khas kastil-kastil eropa, serta puluhan lukisan yang bertengger rapi. Jangan lupakan juga orang-orang yang hilir mudik mencari tujuannya masing-masing menjadi ornamen pelengkapnya
Puas dengan melihat-lihat sekelilingnya. Naruto pun menyambangi loket yang tersedia disana. "Selamat pagi, tuan. Ada yang bisa saya bantu?" sapa seorang petugas ber-gender perempuan begitu melihat Naruto memasuki jarak pandangnya.
"Ah, selamat pagi, mbak. Aku lagi mencari seseorang, tapi sayangnya aku tidak tahu dimana ia tinggal. Apa kau ada daftar penduduk yang tercatat di Konoha?"
Si penjaga loket tidak serta merta menjawab terhadap permintaan Naruto. Dengan senyum yang terus terpatri, perempuan itu kemudian terlihat mengambil sebuah kertas dan bolpoin lalu diserahkannya kepada Naruto. "Sebelumnya, tolong isi dulu daftar pengunjung ini, tuan."
"ah, tentu, dengan senang hati," jawab Naruto yang segera menuliskan apa-apa saja yang diperlukan sesuai kolom yang tersedia. Lalu menyerahkan kertas itu kembali.
Petugas itu nampak mengeceknya terlebiih dahulu, kedua alisnya mengangkat tinggi saat menyadari Naruto rupanya seorang esper. "Oh, rupanya kau seorang esper, tuan? Baiklah, boleh saya tahu siapa yang sedang anda cari?" tanya si mbak petugas sembari mengeluarkan sebuah buku super tebal. Sepertinya itu adalah buku daftar penduduk yang terakhir di sensus.
"Namanya Baba Yaga."
Si petugas mengangguk lalu mulai menelusuri indeks yang dimulai dari huruf 'B', telunjuknya terus bergulir beberapa saat, membuka beberapa lembar halaman hingga sampai di akhir indeks 'B', tapi tidak ada nama Baba Yaga yang terlampir. "Aku minta maaf, tuan. Nama Baba Yaga tidak terdaftar sebagai penduduk Konoha."
Bahu Naruto dengan lesu. Embusan nafas tercipta setelahnya begitu mendengar penuturan si petugas. Tapi, sedikit banyak ia sudah memperkirakan hal seperti ini. Ia sendiri ragu apakah Baba Yaga itu nama asli atau bukan.
"Baiklah, terimakasih."
"Tentu, ada hal lain lagi?" Pertanyaan si petugas rupanya memancing sesuatu dalam diri Naruto untuk bertanya akan suatu hal yang ia sudah penasaran semenjak menetas dari Terrigenesis,. Mengulum bibirnya dahulu lantas ia bertanya, "apakah ada orang yang bermarga Uzumaki di Konoha?"
Senyum si petugas mengembang lebar, "tentu, tanpa perlu melihat daftar pun semua orang tahu keturunan terakhir Uzumaki di Konoha adalah si penjaga perpustakaan, Uzumaki Karin." Netra Naruto membulat sempurna. Ada perasaan berdesir saat mendengarnya. Terlebih Karin! Yang ia tidak sangka merupakan seorang Uzumaki. 'Salahku sendiri sih, akibat gak nanya.'
"Tunggu, kenapa kau sebut keturunan terkakhir? Apa maksudnya itu"
"Itu memang kenyataanya, tuan. Seluruh klan Uzumaki menjadi korban genosida Perang Esper II belasan tahun lalu. Rumah mereka, Air Temples juga ikut musnah. Sekarang keturunan Uzumaki terkahir ditampung disini"
Alis Naruto menekuk tajam, tanpa sadar ia mendecih keras lagi mendengus kasar. "Tuan, kau baik-baik saja?"
"Ah, aku tidak apa-apa."
"Baik, ada lagi hal lain lagi?"
"Apa kau tahu tempat bernama perpustakaan Ohara, mbak?" Naruto sebenarnya ragu untuk bertanya lagi, ia sudah berpikir jika kali ini pun hasilnya akan nihil. Tapi, setidaknya lebih baik mencoba dahulu, kan?
"Perpustakaan Ohara?" Si petugas nampak berpikir, sesekali mencubit juga dagunya. Matanya pun bergulir kebawah, dan… sebuah gelengan kepala pun menjadi akhir dari usahanya memikirkan hal itu. "Maafkan aku, tuan. Setahuku tidak ada tempat seperti itu. Satu-satunya perpustakaan yang diberikan nama hanyalah Perpustakaan Alexandriana. Itupun bukan di Fire Kingdom. Tapi, di Great City of Rouran."
"Oh, begitu. Baiklah, terima kasih, mbak." Sesuai perkiraanya. Kakek Hagoromo pasti sengaja memberikan petunjuk yang tidak umum diketahui orang. Ini adalah tugasnya untuk menyelidiki.
Merasa tidak ada lagi urusan di kantor ini. Naruto pun lekas pergi setelahnya, dia mulai melangkah ke destinasi selanjutnya. Setelah mendengar bahwa Karin adalah Uzumaki, entah kenapa ia jadi ingin memastikannya sendiri. Oleh karena itu, perpustakaan Konoha menjadi objek selanjutnya yang akan ia datangi.
.
.
/
Konoha's Maingate.
Satu-satunya pintu masukuntuk mengakses Desa damai ini hanyalah dari gerbang raksasa berlapis beton ini. Mengingat jika Desa Konoha termasuk kedalam 5 Desa superior yang diberikan wewenangnya sendiri; otonomi daerah oleh kerajaan, sudah sewajarnya jika pintu masuknya pun memiliki penjagaan ketat.
Proses perpindahan penduduk baik masuk ataupun keluar; urbanisasi maupun transmigrasi. Semuanya harus melewati prosedur yang ada. Permintaan misi juga termasuk didalamnya.
Kamizuki Izumo dan Hagane Kotetsu. Dua orang yang sudah mengabdi cukup lama sebagai ujung tombak penjagaan gerbang dan bertugas memeriksa siapaun yang masuk kesini. Mereka sebenarnya adalah esper juga, tapi mungkin karena kalah saing dari yang lain makanya mereka ditempatkan dibagian administrasi seperti ini.
"Hei, Izumo. Lihatlah ini," pinta Kotetsu pada rekannya sembari mengasongkan sebuah surat kabar yang tengah dibacanya. Sebuah kain putih seperti perban terpasang vertikal diwajahnya.
"Ada apa?" Satu alis Izumo terangkat keatas disertai mata menyelidik terhadap surat kabar itu. Kotetsu kemudian menujukan salah satu panel disana, dimana mewartakan tentang sebuah kejahatan yang telah terjadi.
"Kelompok ini semakin hari semakin mengkhawatirkan. Kemarin merampok satu Desa, sekarang membasmi satu kampung penuh tanpa ampun," jelas Kotetsu pada berita dengan tagline 'Shinsengumi: Teror yang Terus Berkelanjutan' tersebut.
Izumo mengangguk setuju dengan sahabatnya itu, pria berambut emo tersebut juga berpikiran sama. Ditambah pergerakan kelompok separatis ini begitu rapi hingga masih belum diketahui siapa saja anggotanya. "Makanya, kita sebagai penjaga pertama tembok Konoha harus bekerja lebih ekstra, kawanku," ujar Izumo yang tiba-tiba berdiri disertai kobaran api semangat ceria?
"Kau benar, kita adalah pahlawan Konoha," sambung Kotetsu. Meskipun mereka nampak semangat, jauh dilubuk hati, mereka mengasihi diri mereka sendiri lantaran tidak bisa berbuat apa-apa secara langsung dilapangan.
Tanpa disadari oleh keduanya ada seorang pria cukup tua berkacamata bulat hitam menggunakan bandana mendekat kearah gerbang Konoha. Hal itu lantas disadari oleh dua orang tersebut.
"Permisi, tuan. Bisa minta waktunya sebentar?" Itu suara Izumo yang meminta dengan cukup sopan. Gelagatnya berubah menjadi serius.
Aura kesuraman nampak menguar dari pria berkacamata itu dimana dia hanya manatap datar dan mengangguk lambat lalu menghampiri pos yang ada disana. "Sebelumnya boleh aku tahu namamu, tuan?" Kali ini Kotetsu yang mangajukan pertanyaan. Entah kenapa dua orang itu menjadi terlihat professional sekarang,
"Yoroi." Singkat dan jelas. Pria bernama Yoroi itu menjawab seadanya. Ekspresinya datar, atau malah condong kearah creepy.
"Baik, tuan Yoroi. Boleh aku tahu tujuanmu datang ke Konoha?"
Ada jeda beberapa detik. Keheningan pun sempat melanda ketiganya. Yoroi masih dengan tampang tanpa ekspresi kemudian mulai bersuara, "aku kemari untuk mengajukan misi."
"Baik, kalau begitu. Tolong, isi terlebih dahulu berkas ini." Kotetsu terlihat menyodorkan secarik kertas pada Yoroi, yang diterima dengan baik.
Disaat Yoroi selesai mengisi formulir, Kotetsu kemudian memintanya untuk mengeluarkan semua barang bawaan. Seluruh aksesoris pun harus dilepas. Setelah dinyatakan lolos, Yoroi pun diberi akses untuk masuk.
"Untuk membuat permintaan misi, silahkan langsung mendatangi kantor Hokage di pusat Desa. Semoga beruntung." Yoroi mengangguk kecil mendengar Kotetsu berkata seperti itu lalu segera mengambil langkahnya lagi.
"Huuhhh..., kenapa banyak orang-orang dengan eksprei seram seperti itu, sih," keluh Kotetsu dibarengi dengan embusan nafasnya. Tak lama, sebuah sensasi menyentuh pinggangnya. Rupanya itu adalah Izumo yang menyenggolnya tadi. "Ada lagi."
Netranya lantas menatap kedepan, dan…. mendapati satu lagi pengunjung ke Desa, lagi. Hanya berselang beberapa saat dari pengunjung sebelumnya. Memang wajar bagi wilayah berpengaruh untuk menjadi persinggahan seperti Konoha
Dan, yah, seperti itulah keseharian mereka berdua. Menghadapi berbagai macam orang-orang dan dipaksa untuk memberikan hospitality dengan wajah yang selalu happy adalah makanan pokok bagi mereka.
"Permisi, nona. Boleh kami tahu siapa namamu? Dan ada keperluan apa kau kemari," tanya Izumo ramah pada perempuan berambut hitam panjang itu.
"Namaku…. Amano Yuuma. Aku datang kemari karena ingin mencari pacarku."
.
.
/
Di sebuah ruangan dengan nuansa gelap sedang berkumpul orang-orang pada sebuah meja bundar. Orang-orang itu duduk dengan tenang dan sama sekali tidak terganggu meski hanya diterangi oleh lampu remang-remang.
"Tobio, bagaimana persiapannya?"
"Semua sudah sesuai rencana, 'umpan' sudah dikirm, tinggal menunggu status dari 'paket'."
"Lalu, bagaimana dengan ritualnya?"
Orang bernama Tobio itu lalu membuka sebuah buku tebal dengan pernak-pernik kuno disekitarnya. "Itu juga sudah terpecahkan. Di buku ini tersurat 'saat candra memasuki mega, sembahkan darah suci padanya. Niscaya batara akan anugrahi engkau kemuliaan'. Berdasarkan petikan ini, waktunya akan jatuh tak lama dari sekarang."
Dengusan kecil terdengar dari pria yang bertanya pada Tobio tadi. Diikuti oleh sunggingan senyum mengerikan.
.
.
/
Kegiatan membaca pasti sangat digemari oleh berbagai kalangan. Membaca adalah suatu hal yang sangat penting dan tidak lekang oleh waktu, mau secanggih apapun teknologinya.
Membaca bahkan terkadang menjadi titik awal dari sebuah peristiwa besar maupun lahirnya ide-ide cemerlang yang bsia merubah seseorang atau dunia sekalipun. Membaca erat kaitannya dengan pengetahuan, semakin kau tenggelam dalam rentetan narasi maka semakin luaslah kau memandang dunia ini.
Prinsip seperti itulah yang Karin bawa dalam dirinya. Sejak kecil, ia sudah gemar menghabiskan waktu untuk membaca. Buku seolah menjadi bagian dari tubuhnya, melekat hingga sanubari. Kesenangan itu didukung dengan dirinya yang menjadi penjaga perpustkaan Konoha, maka pantas jika ia kadang tidak ingin pulang kerumah dan menginap di tempat bernama gudang ilmu tersebut.
Hari masih bisa dikatakan pagi, meskipun matahari sudah berada di sekitar arah jam 10, tapi tidak apa-apa baginya itu masih cukup untuk sekedar menikmati semilir angin sejuk nan membuat candu. Netra merahnya memandang kesekitar, tampak ada beberaap pengunjung yang sudah memenuhi perpustakaan ini. Kebanyakannya adalah akademisi.
Kring~
Atensinya tertarik setelah mendengar bunyi bel di pintu masuk pertanda ada lagi pengunjung baru. "Naruto? Tumben kau kemari pagi-pagi begini."
Seulas senyum agak canggung Naruto lesakkan, tak lupa jari tangannya yang menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya. "Yahh, begitulah. Terkadang aku harus menyeret bokongku lebih awal meski tidak ada misi," jawab Naruto. Akhir-akhir ini ia memang sering berkunjung kemari untuk sekedar menyapa saja.
"Pasti membosankan bila tidak ada misi yang masuk," ucap Karin menerawang. "Ngomong-ngomong, kali kau mau pinjam buku apa?"
"Oh tidak-tidak. Untuk sekarang aku sudah cukup dengan bacaan. Mataku bisa-bisa katarak, kalau terus membaca huruf-huruf berukuran mini itu," jawab Naruto yang disertai dengan kibasan tangan beberapa kali. Hal itu tentu mengundang tanya pada benak perempuan dihadapannya.
"Lah? Lalu, apa?"
"Emmm…." Sedikit keraguan nampak hinggap di relung pemuda itu. Gerak tubuhnya mengindikasikan bahwa ada sesuatu yang menahannya untuk bertanya. Pada akhirnya, Naruto terlihat mendekat ke meja kerja Karin dan memposisikan tubuhnya condong kedepan, tangannya ia posisikan diatas meja.
"Begini Karin. Sebenarnya aku sedang mencari sesuatu yang… cukup penting. Dan pikiranku memberitahu jika datang kemari merupakan salah satu opsi terbaik. Jadi, bila kau tidak keberatan…..?"
"Jadi begitu,…." Sebuah jawaban singkat. Wajahnya agak naik sedikit lalu membetulkan letak kacamatanya yang sedikit melorot sebelum kembali bersuara, "boleh saja, selama masih dalam lingkup yang aku tahu."
Lengkungan lebar terpahat pada wajah Naruto. Dalam hati, ia bersyukur jika Karin mau membantunya, meski belum 100% akan benar juga. Tapi, ia sangat menghargainya. "Apa kau tahu sesuatu tentang orang bernama Baba Yaga?"
".…"
".…"
Keheningan tercipta diantara keduanya. Hanya terdengar beberapa suara dari pengunjung yang lain, itupun dengan intensitas yang kecil. Namun, itu semua seolah bisa menelan pembicaraan dua orang ini.
Naruto melihat Karin yang masih terdiam; bergeming karena mungkin terkejut mendengar pertanyaan Naruto yang ia sangat tidak sangka. "Kau baik-baik saja?" Pemuda itu memegang salah satu bahu wanita itu dengan penuh rasa tanya.
Satu tarikan panjang Karin ambil guna mengisi rongga paru-parunya yang sempat terhenti tadi. Lantas memastikan bahwa pikirannya sudah kembali lagi, perempuan itu akhirnya menjawab, "darimana kau tahu tentang nama itu, Naruto?"
Iris cerulean itu sediki bergetar. Rahang nampak terbuka sekejap dengan telunjuk yang mengarah kedepan. "Apa itu artinya kau tahu?"
"Kau tidak menjawab pertanyaanku, Naruto."
"Aku tidak bisa menjelasakannya sekarang, yang jelas ini menyangkut masa depanku. Karin, kumohon. Bila kau kenal orang ini tolong beritahu aku, pleaseee."
Tiba-tiba Karin menarik kerah baju Naruto, cukup kasar memang tapi masih luput dari perhatian orang-orang. Ia pun mendesis kearahnya, "kau pikir siapa dirimu?"
Keterkejutan melanda Naruto manakala melihat perempuan ini bertindak tidak seperti biasanya. Beberaapa kali dua bongkah kristal birunya mengerejap cepat. "Kumohon, Karin. Aku sungguh harus bertemu dengan orang ini… sebagai gantinya, kau boleh memintaku apapun."
Mendadak rasa panas yang hinggap pada Karin seketika lenyap. Giliran tatapan bingung yang ia berikan, dan sedikit…. terganggu. Kalimat Naruto tadi memang kontradiktif, itu bisa mendatangkan bahaya pada pemuda itu sendiri. Jika Karin bertabiat buruk, dia mungkin sudah menyambarnya.
"Ternyata kau itu naif, Naruto….." Kerah baju itu ia lepaskan kemudian, lalu setelahnya menyilangkan kedua tangannya. "Baiklah, jika kau memang sedang terdesak….. Datanglah kerumahku selepas jam kerjaku habis. Aku akan mengantarmu pada Baba Yaga ini."
…
…
…
To be Continued.
A/N: Eyyoo, waddap?
Wahh, cukup lama nih dari update yang kemarin hehehehe…. Yah, maklum lah yah, kadang-kadang godaan untuk memilih rebahan itu selalu aja muncul pas mau buka laptop, tuh xD.
Okay, untuk sekarang, gak akan banyak catatan. Aku cuma mau nyampein kalau mungkin dari kalian merasa kalau belum ada atau belum muncul konflik yang sesungguhnya di ARC II ini, itu emang aku sengaja ngebanyakin dulu bacotnya. Karena, selain mengatur tempo biar gak ngebut (halahhh), aku juga sekalian ngelatih pembuatan dialog yang keliatan natural tanpa diselingi adu jotos, yang lebih bervariasi dari segi diksinya, suerr (ini adalah kelemahan terbesarku).
Dan, ini nih yang pentingnya! Coba kalian tengok cover dari fanfic ini, terus buka dan zoom. Aku udah bikin peta benua manusia dalam fanfic ini (elemental continent namanya, meskipun kepotong karena space-nya yang terlalu kecil). Terniat gak tuh, sampai bikin peta dunia fanfic-nya sendiri, hahahah... masih burik, sih (wajarlah pemula photoshop xD). Untuk wilayah ras yang lain, semoga menyusul hehehe….Eh, tapi serius. Harus diliat woy, author terniat ini! Aku juga bikin buat kalian, buat ngebantu proses menghayalnya. Awas kalo enggak. Cara nge-check-nya bisa lewat Desktop Mode, okehhh eperibadihhh.
05:30 am. 16 Mei, 2020.
Ciao~
