Lima Topeng
Disclaimer: Asagiri Kafka & Harukawa Sango.
Warning: OOC, typo, gaje, dll.
Author tidak mengambil keuntungan apa pun dari fanfic ini, dan semata-mata dibuat demi kesenangan pribadi.
Ketika Kunikida Doppo pertama kali mengetahui eksistensi bernama Dazai Osamu itu ada, kesan yang langsung melekat adalah Kunikida jijik padanya.
Dazai Osamu diselimuti kepura-puraan, dan sebagai idealis yang murni yang segalanya datang dari hatinya, mereka jelas bertentangan. Saat mengetes Dazai itu adalah kali pertamanya Kunikida melihat topeng yang Dazai pakai–berlapis-lapis, menumpuk, dan terlalu tebal, membuatnya semakin membenci Dazai yang tanpa sadar ia terus pandangi.
"Ada apa, Kunikida-kun? Aku tidak suka ditatap terus-menerus oleh pria."
Topeng itu kemudian tersenyum, dan Kunikida langsung mengalihkan pandang. Topeng itu hanya salah satunya. Masih ada topeng lain yang menyembunyikan Dazai yang asli, meski Kunikida khawatir apabila Dazai yang sesungguhnya sudah lenyap. Digantikan sandiwara agar ia tidak sendirian, kah?
"Apa kau memang tidak ingin ditemukan siapa pun, Dazai?"
Bahkan oleh Kunikida yang karena ia membencinya, maka ia ingin menampar Dazai dengan kebencian itu agar Dazai tahu, seseorang tidak menyukai topengnya?
Jam makan siang di kafe Uzumaki, tawa terdengar berderai dari Dazai yang asyik bercanda.
Kunikida duduk membelakanginya. Menyesap segelas kopi tanpa setitik pun gula, sambil menatap biru langit di luar jendela. Topeng Dazai yang kedua adalah tawa. Bagi Kunikida itu bukan suara yang menguraikan atau memecah resah, tetapi kosong karena Dazai berusaha mencari milik mereka yang membalas tawanya, kemudian ingin menjadikan semua itu sebagai punyanya, walaupun tahu tak mungkin bisa.
"Harusnya kau ikut tertawa, Kunikida-kun. Barusan aku menceritakan sebuah kisah yang sangat lucu."
Kopi dihabiskan cepat-cepat. Kunikida langsung naik tangga menuju kantor agensi, meninggalkan Dazai dan rekan-rekannya yang kebingungan. Bukan Kunikida enggan ikut tertawa bersama Dazai, melainkan karena Dazai yang tertawa seperti itu menunjukkan bahwa ia menertawai hidupnya yang kosong.
Apakah salah jika Kunikida tidak ingin menertawai hidup Dazai yang kosong?
Setidaknya ia akan menjadi yang pertama mengakui, Dazai pun memiliki sesuatu dengan tak tertawa bersamanya–bahwa Dazai mempunyai Kunikida yang yakin, Dazai pasti memiliki yang memang miliknya suatu hari nanti (meski pada akhirnya bukan Kunikida).
Ketikan yang semakin lama makin tidak bersahabat itu terjadi, karena sepasang mata Dazai terus memperhatikan gerak-gerik Kunikida.
Entah apa yang maniak perban itu inginkan. Dari tadi Dazai sekadar mendekat apabila Kunikida menjauh, tanpa mengucapkan kata-kata yang menjelaskan maksudnya. Meskipun Kunikida melotot Dazai belum mundur. Ujung-ujungnya jadi Kunikida yang pusing lantas memijat kening.
"Katakan maumu, Dazai. Jika ingin mengganggu orang, lakukan saja pada yang lain."
"Rasanya Kunikida-kun terus melihatku, deh. Makanya aku curiga kau naksir atau bagaimana."
Helaan napas yang kasar Kunikida keluarkan. Usai mendiamkan Dazai beberapa menit ia mendecih sebal, dan kembali mengerjakan laporan. Iris hijau abu-abu Kunikida meliriknya lagi–kali ini pria berkacamata itu lebih lega ketika mendengkus.
Matanya amat menyatu dengan topengnya, di mana bagi Kunikida itu adalah yang paling berbahaya. Punya Dazai bukanlah sepasang netra yang membuat cinta milik seseorang ingin mencari cinta punya Dazai, tetapi mengerikan karena yang tampak adalah yang seolah-olah asli padahal palsu, tetapi Dazai juga yang terang-terangan menunjukkan itu bohong, supaya orang-orang berhenti tepat di depannya saja; jangan sampai masuk ke dalam matanya.
Kadang-kadang Kunikida jadi berpikir Dazai itu curang, karena ia mengetahui segala-galanya ketika melihat mata, sedangkan Kunikida tidak sama sekali–hanya menyaksikan yang palsu memangnya membuat Kunikida tahu apa?
"Coba tebak aku siapa?"
"Hentikan, Dazai. Aku tidak bisa melihat layar laptop."
Seringai nakal Dazai perlihatkan pada Kunikida yang mengentak-entakkan kakinya ke lantai, dan sejurus kemudian menghela napas saat Dazai manyun–meskipun nada suara Kunikida sering meninggi, ia tidak pernah benar-benar marah terhadap keusilan Dazai selama ini, sebenarnya.
"Cih~ Nanti cepat tua tahu rasa gara-gara kebanyakan bekerja."
Kemudian, topeng keempat adalah setiap ekspresi yang Dazai pasang–keriangannya, kesedihan yang setelah itu ia putus dengan tawa, atau diamnya yang katanya ingin mengejutkan orang-orang. Kunikida pun kadang bertanya-tanya apakah Dazai memang ingin manyun? Siapa yang tahu sebenarnya semata-mata agar Kunikida senang melihat ke arahnya–seseorang yang selalu ceria lebih dihargai, bukan, meski palsu?
Sekali saja, Kunikida ingin marah bukan karena keusilan Dazai, melainkan gara-gara Dazai lama sekali menunjukkan perasaannya yang sesungguhnya.
Lalu akhirnya, hari di mana Kunikida melihat Dazai yang sesungguhnya itu ternyata tidak pernah ada.
Hujan membasuh tubuh jangkungnya sejak tadi, begitu pun raga Dazai yang terbujur kaku usai menyelamatkan Kunikida dari tembakan sniper. Kunikida masih berdiri di sini akibat syok. Bahkan setelah kematian Dazai berlangsung tepat di depannya, Kunikida belum sekosong pemuda penuh perban itu, atau entah berapa lama yang Kunikida butuhkan agar seperti Dazai–padahal tidak ada untungnya Kunikida memikirkan ini, seolah-olah ia ingin saja.
"Boleh aku tahu kenapa kau ingin mati?"
Atau mungkin Kunikida benar-benar ingin demi memahami Dazai tanpa Kunikida pernah beromong kosong lagi, dan ... ah ... jika Kunikida tahu itu adalah pertanyaan terakhirnya, maka ia lebih memilih mengatakan, "Hari ini aku akan melepas semua topengmu".
"Kubalik pertanyaannya padamu, apa artinya kita hidup di dunia ini?"
Lagi pula Kunikida memiliki idealisme yang menjadi penuntunnya, sedangkan Dazai tidak yang sampai sekarang pun, ia tak sadar bahwa Kunikida menunggunya. Menanti Dazai menjadi bebas, dan Dazai mempunyai Kunikida yang seperti itu, yang salah Kunikida juga tak membuat Dazai melihatnya–bahwa ia diam, karena berdiri di sini pun Kunikida tidak tahu di mana Dazai.
Sementara yang Kunikida maksud menjadi bebas ialah Dazai yang akhirnya menampakkan dirinya. Berhenti menjadi "tak terlihat" dengan terus menebarkan kekosongannya, dusta ... hanya agar orang-orang tahu Dazai ada, tetapi tidak bisa menemukannya di mana-mana.
"Sampai akhir pun bahkan kau tak melepasnya, Dazai."
Membuat Kunikida tidak tahu apakah Dazai menyesali pilihannya, ataukah berterima kasih setelah betul-betul mati, karena hari ini Dazai datar sekali, dan ia malah benar-benar hilang sebelum dapat Kunikida temukan–topengnya yang kelima adalah yang melenyapkan eksistensi Dazai Osamu itu sendiri, juga, sudah betul-betul menyatu dengan wajahnya.
Tamat.
A/N: Ini bener2 drabble tersingkat yang pernah kubikin yang totalnya paling banyak 200 kata lebih. aku mendadak pengen bikin ini abis liat sw temen2. mereka pagi2 udah ngoceh aja soal kunizai dah wkwkw, angst pula. aku ga terlalu yakin drabble ini termasuk bagus atau ga. tapi ya anggap aja latihan karena abis ini aku bakal ngikut event bikin drabble 315 kata (ga boleh lebih atau kurang, dan ini sulid wkwkw). thx buat yang udah baca, fav, follow, review, atau numpang lewat doang. semoga ini cukup baik ya~
