Isekai wa chakra to tomoni.
Ke esokan harinya, Naruto, Touya, Elze dan Linze, memulai misi baru, yaitu mengantar surat ke kota kerajaan.
Karena mereka akan pergi jauh, mereka berempat pun pergi dengan menggunakan kereta kuda, yang entah itu di dapat dari membeli atau mungkin hasil dari menyewa.
Terlihat kalau yang mengendarai kuda adalah Linze, sementara Touya sedang memperhatikan smarphonenya dan memotret wajah Elze yang sedang tertidur. Sedangkan Naruto sudah jelas remaja berambut pirang jabrik dengan mata ungu berpola riak air itu duduk santai lalu bertapa dan mencoba mengosongkan pikirannya, sampai akhirnya mereka berhenti di kota terdekat untuk membeli beberapa persediaan.
"Ayo kita cari penginapan di kota ini."
Mendengar saran dari Touya, Elze sedikit setuju akan hal itu, ia tau kalau memang akan sangat sulit bagi mereka untuk bisa langsung sampai ke ibu kota dan menyelesaikan misi itu, bahkan dengan bantuan kereta kuda sekalipun, akan perlu waktu berhari-hari.
"Yah mau bagaimana lagi? perjalanan kita masih panjang untuk sampai ke ibu kota."
Naruto dan Linze hanya diam dan menyimak pembicaraan Touya dan Elze, namun berbeda dengan Linze yang fokus pada pembicaraan Touya dengan kakaknya, Naruto lebih fokus memperhatikan kota, bahkan sampai melompat ke atap bangunan tinggi di dekat mereka hanya untuk melihat pemandangan kota yang mereka kunjungi.
"Apa kalian berdua tidak masalah mengirimkan surat permintaan ke ibukota itu? Bukankah mengalahkan megaslime masih lebih baik?"
Linze dan Elze langsung membentak Touya ketika Touya menyarankan untuk menjalankan misi melawan Megaslime, sedangkan Naruto, langsung menatap ke arah teman-temannya dan dengan cepat melakukan shunshin no jutsu lalu bertanya-tanya pada Touya dan kedua gadis dalam party nya tersebut.
"Tidak!"
Naruto cukup kaget dan menatap ke arah bawah di mana di bawah bangunan yang atapnya Naruto naiki ada ketiga temannya di dunia baru, nampaknya Elze dan Linze sedang marah karena sesuatu hal itu cukup membuat Naruto penasaran sehingga ia bergerak cepat dan muncul di dekat mereka bertiga sembari meredam hawa keberadaannya hingga titik terendah.
"Hm..."
Touya nampak kaget mendengar kedua gadis itu menolak saran darinya dalam mengerjakan misi mengalahkan monster, hal ini membuat Touya bertanya dengan polosnya.
"Kenapa?"
Mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Touya, Elze dengan cepat memberitahukan ketidak senangannya dalam menghadapi slime.
"Itu karena aku benci mahluk menjijikan seperti slime! Teksturnya yang lengket dan berlendir itu aku tidak suka!"
Mendengar penjelasan dari Elze, Linze sebagai adik mengangguk dengan cepat membenarkan pendapat dari sang kakak, sementara Naruto yang menyimak ketidak sukaan Elze pada Slime hanya manggut-manggut saja, bagi Naruto, wajar seorang gadis benci sesuatu yang berlendir dan lengket-lengket, karena memang kebanyakan benda seperti itu begitu menjijikan, kecuali Sakura dan Tsunade yang memiliki Kuchiyosei Ulat nona Katsuyu atau apalah itu.
"Hm!Hm!"
Elze pun memejamkan matanya, terlihat sedikit semburat merah di pipinya lalu melanjutkan alasan ketidak sukaannya yang kedua terhadap slime.
"Ditambah lagi, slime juga bisa merusak baju dan barang-barang. Pokoknya aku enggak mau!"
"Aku baru tahu ada mahluk yang punya kemampuan aneh seperti itu."
Gumam Naruto yang secara tiba-tiba ikut nimbrung. Touya langsung kaget mendengar Naruto yang tiba-tiba angkat bicara.
"Naruto!"
Naruto langsung menatap keheranan saat Touya memanggil namanya dengan cukup keras.
"Ada apa? Aku kan cuman penasaran saja, tapi ya sudahlah kalau kalian enggak mau kasih tau, lagian Touya, kalau kau ingin mengalahkan Mega Slime sebaiknya kau hanya mengajak petualang pria, jika kau ingin mengerjakannya dengan perempuan, kau hanya akan dianggap mesum."
Mendengar nasehat dari Naruto Touya hanya bisa menunduk pelan karena apa yang Naruto katakan memang ada benarnya, sedangkan Linze yang mendengar apa yang Naruto katakan hanya bisa tersenyum kecil, karena sangat jarang ada seorang lelaki yang memahami perasaan perempuan.
"Mah yang terpenting kita memang harus mencari penginapan dan tempat makan."
Tiba-tiba Naruto kembali angkat bicara untuk membuat mereka melupakan kata-katanya barusan dan beberapa masalah hidup mereka, Touya dan kedua perempuan itu pun tersenyum ketika Naruto dengan cepat.
"Mah kau ada benarnya Naruto. Em bahkan akan sangat bagus kalau tempat ini memiliki sesuatu yang sama dengan penginapan Bulan Perak."
Mendengar hal itu Touya kembali mendapatkan ide untuk solusi masalah tempat yang mirip dengan penginapan mereka yang sebelumnya.
"Kalau begitu, bukannya akan lebih mudah kalau kita memakai Gate untuk pergi ke penginapan Bulan Perak dan memulai kembali dari sini besok?"
Namun bukannya diterima malah saran dari Touya langsung ditolak oleh kedua gadis kembar tersebut.
"Enggak!"
"Eh?"
Touya lagi-lagi bingung, karena sarannya selalu saja ditolak.
Bersambung
