Isekai wa chakra to tomoni.
"Kalau begitu, bukannya akan lebih mudah kalau kita memakai Gate untuk pergi ke penginapan Bulan Perak dan memulai kembali dari sini besok?"
Namun bukannya diterima malah saran dari Touya langsung ditolak oleh kedua gadis kembar tersebut.
"Enggak!"
"Eh?"
Touya lagi-lagi bingung, karena sarannya selalu saja ditolak.
"Merasakan pengalaman makan dan penginapan di tempat yang berbeda itu jauh lebih menyenangkan. Kau sungguh tidak mengerti."
Mendengar tanggapan dari dua bersaudara itu, Touya hanya bisa menggaruk kepala belakangnya, sementara Naruto ia nampak begitu tenang dan tersenyum kecil ke arah ke tiga teman barunya.
Tak lama setelahnya, suara keributan terdengar tak jauh dari tempat mereka berada, sehingga menarik perhatian mereka berempat.
Setelah mereka melihat apa yang ada di balik kerumunan, akhirnya jelas sudah apa yang diributkan di sana. Mereka melihat ada seorang gadis mengenakan kimono merah muda dengan katana di pinggangnya sedang dikepung oleh banyak pria berandal.
"Hey nona! Apa kau tahu apa yang telah kau lakukan pada teman kami sungguh keterlaluan."
Mendengar ucapan dari salah satu pria di sana membuat sang gadis menatapnya dengan sinis dan memberikan jawaban.
"Heh, maksudmu orang yang aku laporkan kepada petugas keamanan karena kelakuan mereka. Itu adalah kesalahannya sendiri, aku jelas tidak ada hubungannya!"
"Apa kau bilang!"
Seru salah satu dari mereka dengan marahnya, sementara itu di tempat, Elze langsung mempertanyakan pakaian yang dipakai oleh gadis itu, karena menurutnya terbilang cukup asing.
"Pakaian yang cukup aneh," gumam Elze sembari memperhatikan kejadian dengan seksama.
"Perempuan itu ..., dia seorang Samurai," ucap Touya secara tiba-tiba, mendengar tanggapan dari Touya, Linze langsung mengekspresikan kebingungannya dengan mengulang apa yang Touya katakan.
"Samurai?"
Sementara itu Naruto hanya diam sembari menatap ke arah petarungan, ketika para preman itu mencoba maju menyerang gadis berambut hitam dengan pita merah muda itu, Naruto langsung melesat dengan kecepatan tinggi.
"Naruto!"
Touya dan Shilouska bersaudara itu nampak kaget ketika melihat Naruto melesat ke arah sang gadis Samurai, entah apa yang Naruto pikirkan pada saat itu hingga membuat keputusan aneh dengan maju ke arah gadis samurai yang dikepung dengan sengaja masuk kedalam permasalahan yang seharusnya tidak mereka lakoni.
"Katon Housenka no jutsu!"
Puluhan bola-bola api kecil bermunculan dari mulut Naruto dan membentuk diri menjadi seekor burung yang berterbangan menyerang para premana yang ada di depan Naruto. Linze yang melihat teknik atau ninjutsu yang Naruto keluarkan langsung kaget dan kagum bukan main, karena ini pertama kalinya ia mendengr rapalan sihir api yang begitu singkat.
"Arrgh! Apa-apaan ini?"
Para berandalan itu kaget ketika burung-burung api kecil menabrak dan membakar pakaian mereka. Naruto pun mendekat dan berseru.
"Apakah kalian masih merasa kalau kalian itu seorang lelaki? Menghadapi perempuan saja main keroyokan. Daripada membuat malu kaum pria lebih baik, kalian potong kemaluan kalian dan jadi perempuan!"
"K-kau! Berani sekali kau berkata seperti itu kepada kami!" seru mereka ketika api ditubuh mereka telah berhasil dipadamkan dengan cara berguling-guling di tanah.
"Memang itu kenyataannya. Apakah kalian mau menyangkal kalau tindakan kalian ini sudah mempermalukan kaum pria di hadapan wanita?"
Mendengar pertanyaan dari Naruto barusan, Touya, Linze dan Elze, berserta orang-orang disekitar sana hanya bisa diam dan saling bergumam pelan, sementara perempuan yang ditolong oleh Naruto hanya bisa diam tak berkata apa-apa.
Kruuuuk.
"Ugh, perutku," gumam gadis samurai yang ada di belakang Naruto. Naruto terlihat menatap para berandalan itu dengan tajam, sementara itu Touya hanya bisa diam menunggu saat yang tepat untuk membantu.
"Ano!"
"Hem."
"Aku tidak perlu bantuanmu, aku bisa menghadapi mereka seorang diri."
Mendengar perkataan itu, Naruto langsung menatap gadis samurai itu lalu menjawab. "Siapa bilang aku membantumu gadis kecil?"
"Eh?"
Naruto yang melihat ekspresi bingung perempuan itu langsung menambahkan beberapa kalimat lagi.
"Dengar yah, aku maju bukan karena aku ingin membantumu atau kasihan padamu. Aku hanya kasian pada mereka, dari pada dikalahkan oleh perempuan kami para lelaki lebih memilih bertarung dengan penyihir agung atau iblis ketimbang kalah oleh seorang wanita."
Mendengar jawaban dari Naruto, sang preman langsung naik pitam, tak terima karena dianggap lebih lemah dari pada perempuan.
"Jadi kau menganggap kami terlalu lemah untuk menghadapinya!"
Naruto kembali menatap sekumpulan pria bermuka sangar itu dengan tampang santai.
"Kalaupun kalian menang, kalian tidak menadapatkan kehormatan apapun dalam mengalahkan wanita, apalagi main keroyok kaya begini, kalian hanya akan dianggap sampah pengecut oleh para penonton," tanggap Naruto seolah tidak peduli.
Bersambung
