DISCLAIMER : Boboiboy milik Monsta, storyline milik saya
WARNING : typo, gaje, OC, OOC, alur berantakan, etc
NOTE : Nk [Nama Kamu], Ns [Nama Sahabat]
CHAPTER 1 : Farewell and Starting Line
"Kak Gempa beneran harus pergi hari ini?" wajah Nk memelas. "Gak bisa diundur sehariii aja."
"Maaf, ya, Nk. Masalahnya kereta yang menuju Stasiun Gajahmadu cuman datang dua kali seminggu, termasuk hari ini." Gempa mengusap kepala adiknya itu. Hari ini, Gempa akan pergi ke luar kota untuk melanjutkan studi. Nk, Blaze, dan Ibu mengantar kepergiannya hingga ke stasiun.
"Tapi, besok aku mulai sekolah. Aku mau Kak Gempa melihat seragam baruku," keluh Nk manja dengan tampang imut. Ya, strategi Nk dalam menghasut kakaknya.
"Halaah… Padahal seragammu, loh, sama kayak seragamku. Kak Gempa pasti udah bosen ngeliatnya," Blaze tiba-tiba nyerocos. Nk menghentakan kakinya ke arah kaki Blaze (baca : menginjak kaki Blaze). "Hadaaaww!"
Nk mendengus. "Sama, ya? Berarti Kak Blaze ke sekolah pake rok juga, dong."
Tapi, emang iya, sih, aku bosen ngeliatnya, batin Gempa. Dia cengengesan, tapi tidak ada yang mencurigai. Karena ekspresi Gempa hanya ada 2 yang sering ia perlihatkan. Yaitu, tersenyum dan marah semarah-marah-marah-marah-marahnya. Asli, serem kalo marah. Tapi yang paling sering ia tunjukan tentu saja tersenyum. Senyumnya sungguh membawa kebahagiaan. /eaaaa…
"Hey, sudah-sudah. Jangan berantem di depan Kak Gempa. Nanti kenangan terakhir Kak Gempa dengan kalian saat lagi berantem. Kan, kasihan," ucap Ibu menengahi.
"Bu, Gempa belum mau meninggal," kilas Gempa. Ia tertawa kecil. Lalu diikuti tawa besar oleh Nk dan Blaze.
"TUUTTT-TUUTTT… JEGEJEGEJES… TUUTTT-TUUTTT…!"
"Ah, Gempa! Itu kereta apimu lagi OTW kemari," Ibu menghentikan tawa anak-anaknya. Malah menggantinya dengan kesedihan.
Mata Nk mulai berlinang. Ia menahan napas lalu berseru, "HUAAHH… KAK GEMPA! BESOK AJA PERGINYA! SEKALIAN AJA GAK USAH PER…"
Blaze menutup mulut Nk. Seperti penjahat yang sedang menyekap korbannya. "Bikin malu, diliatin banyak orang tuh," bisik Blaze. Nk mengangguk. Gempa tersenyum. Ibu menjauh. Bukan anakku, batin Ibu.
"Udah, Gempa, cepat naik ke keretanya. Nanti ditinggal, lho. Blaze tahan Nk, pegang dia erat-erat. Jangan sampai ikutan masuk kereta," Ibu menjelaskan strategi anti-gagalnya.
"Oh, ya udah. Ibu jaga Blaze sama Nk baik-baik, ya. Blaze jangan jajan sembarangan, ya. Nk tolong jagain kakakmu di rumah dan di sekolah, ya," pesan Gempa kepada tiga orang yang akan ia tinggalkan.
"Loh, Kak. Bukannya pesan buat Nk harusnya pesan buatku? Kan, aku kakaknya," kata Blaze.
"Kamu masih kurang bertanggung jawab, Blaze," balas Gempa santai.
Tanpa mengkhawatirkan tanggapan Blaze, Gempa menaiki kereta sembari menggotong barang bawaannya. Nk, Blaze, dan Ibu hanya bisa terdiam ketika menyaksikan pintu gerbong kereta mulai menutup. Terlihat Gempa sedang tersenyum lebar sambil melambaikan tangan lewat jendela.
"Kak Gempaaa, jaga diri di sana, yaaa!" seru Nk melambaikan tangan. Gempa membalas dengan mengacungkan jempol. Kereta pun berlalu meninggalkan stasiun.
"Ayo, kita pulang."
Hari ini merupakan hari pertama Nk dalam menempuh jenjang baru. Ia tengah memakai seragam baru yang baru dikeluarkan dari lemari barunya. Wajahnya tampak berseri-seri.
Setelah selesai mengenakan seragam, ia berdiri di depan kaca kamarnya. "Rasanya kayak lebih dewasa kalau sudah pakai seragam ini," gumamnya. Lalu, Ia tertawa kecil.
Nk pun keluar dari kamar menuju dapur. Dilihatnya dari kejauhan, Ibu sedang meletakan piring-piring di atas meja makan. Saat sampai di dapur, ia melihat meja makan telah terisi dengan sajian untuk sarapan. Nk malah terkejut.
"Loh, Buu. Kok, Ibu yang masak? Padahal masih ada waktu buatku untuk menyiapkan sarapan, lho."
"Tak apa… Sekali-sekali Ibu yang masak. Mumpung ini hari pertamamu ke sekolah biar Ibu masakin sarapan spesial."
Ya, biasanya tiap pagi, Nk-lah yang membuatkan sarapan sekaligus bekal makan siang untuk kakak-kakaknya, dikarenakan Ibu yang sulit untuk bangun pagi. Sebenarnya ini merupakan strategi Ibu agar Nk tetap berlagak layaknya gadis rumahan walaupun dikelilingi oleh saudara-saudara lelakinya.
"Tapi ajaib, lho, Bu. Ibu berhasil selesai menyiapkan sarapan di jam segini. Aku aja sampai terpukau," ucap Nk sembari menarik kursi untuk duduk.
Ibu memelototi Nk. "Eiittss… Maaf, Bu. Canda pagi biasa laahh…" Nk menyadari lototan tajam mata Ibu.
"Huaahhhmm…" Ibu terlihat masih mengantuk. "Ibu mau lanjut tidur. Palingan sebentar lagi Kak Blaze bangun, kamu makan duluan aja." Nk mengangguk. Ibu berlalu meninggalkan dapur menuju kamarnya.
Setelah selesai sarapan, Nk membawa piring kotor ke dapur. Saat itu juga, Blaze datang untuk sarapan dengan sudah memakai seragam dan membawa tas. Ia berjalan terhuyung-huyung. Tampangnya masih mengantuk.
"Hoaaahhmm… Pagi…"
"Ah, Kak Blaze. Ayo, cepetan sarapan. Biar nggak terlambat sampai ke sekolah."
"Ya, aku tahu. Kamu ambil tas dulu sana." Blaze menyadari kalau Nk belum membawa tasnya. Entah kenapa, jarak pandang Blaze setelah bangun tidur lebih fokus dalam menyadari lingkungan sekitarnya.
"Ya. Akan aku ambil setelah selesai mencuci piring.".
Dengan berjalan berdampingan, Nk dan Blaze menempuh jalan setapak. Sinar hangat mentari menemani perjalanan mereka ke sekolah. Hembusan angin sejuk membuat daun-daun menari di tengah udara. Orang-orang berlalu-lalang ikut memenuhi jalan setapak. Tidak sabar menantikan hari seru di sekolah, terpampang jelas di mimik wajah Nk.
"Jangan senyum-senyum sendiri." Blaze membuyarkan khayalan Nk.
"A-Apa, sih, Kak? Ganggu orang ngelamun aja, deh," ucap Nk. Lalu, menyikut pelan pinggang kakaknya itu.
"Hahaha… Maaf, deh."
"Hmph…" Nk pura-pura ngambek.
"Tapi jarang-jarang, lho, kita ke sekolah barengan."
"Ya… itu karena kita ke sekolah yang sama, kan?"
"Untuk selanjutnya, ke sekolah bareng terus, yok!"
"Hmm… Boleh, selagi Kak Blaze juga bangun pagi terus, loh, ya."
"Heeehhh…" Blaze mulai cemas. Nk malah memeletkan lidahnya.
"Tapi, sekarang rumah akan terasa lebih sepi. Dulu, Kak Taufan. Kemarin, Kak Gempa. Huaaahh…" Nk ikutan mulai cemas.
"Tak apa… Aku bisa menggandakan kebisingan di rumah, kok. Tenang saja," ucap Blaze meyakinkan Nk.
"Huh, mending nggak ada Kak Taufan dan Kak Gempa aja daripada Kak Blaze bekoar di rumah," kilah Nk.
"Ih, tega!" Dilanjut dengan tawa Nk dan Blaze.
Blaze menepuk kepala Nk dengan lembut. "Yah, pokoknya apapun yang terjadi aku akan ada di sisimu. Walaupun aku kakak yang tidak bisa diandalkan, tapi aku akan berusaha menjaga adikku satu-satunya," terang Blaze sambil tersenyum.
Nk balas tersenyum, lalu mengangguk dengan semangat. "Walaupun ucapan Kak Blaze tadi nggak bisa dipercaya, tapi aku percaya, kok, kalau Kak Blaze akan selalu mendukungku di mana pun dan kapan pun."
Mereka pun tertawa bersama dan melanjutkan perjalanan. Ikatan persaudaraan membuat hati mereka menjadi mantap untuk saling mengasihi dan menyayangi.
Hai
dan terima kasih sudah membaca ff ini :')
ditunggu chapter berikutnya ya~
