CHAPTER 2 : New

Nk dan Blaze telah sampai di depan gerbang sekolah. Banyak sekali murid-murid yang baru sampai. Saat ini memang merupakan Enter SchoolTime Rush, ya, begitu istilahnya. Spanduk dan papan besar dengan bertuliskan "Selamat Datang Siswa Baru" terpapampang di depan gerbang, sebagai pengganti sekuriti dalam menyambut murid baru.

"Nk, sini-sini!" seru Blaze. Nk mendekati Blaze yang sedang berdiri di depan papan besar yang berfungsi sebagai pengganti sekuriti itu.

"Coba kamu berdiri di samping papannya. Jangan sampai tulisannya nggak kelihatan, lho, ya," suruh Blaze pada Nk. Nk menuruti. Lalu, Blaze mengeluarkan HP-nya.

"Oke, pasang pose. Senyumnya jangan lupa. Satu… Dua… Ciiisss!"

"JEPRET!" suara kamera HP Blaze memotret. "JEPRET… JEPRET… JEPRET!" Didukung dengan suara lainnya.

"Udah, Kak. Jangan banyak-banyak," Nk mulai tersipu malu. Dia merasa bak artis ketika suara jepretan dan mata orang-orang menerkamnya.

"Sip! Nanti aku kirim, deh, ke Kak Gempa. Supaya Kak Gempa bisa lihat kamu pake seragam baru," ucap Blaze bersemangat.

"Perlu kukirim ke Kak Taufan juga, nggak?" lanjut Blaze lagi. Nk balas mengangguk senang.

Setelah puas memotret, Nk dan Blaze berjalan menyusuri halaman sekolah yang luas. Mereka mendekati tempat berkerumunnya murid-murid. Di sana ada papan pengumuman besar yang tertempel nama-nama murid dan penempatan kelas.

"Nk, kamu di kelas B!" kata Blaze.

"Ngapain Kak Blaze malah cari namaku? Cari nama sendiri dulu aja."

"Tapi, kamu nggak keliatan papannya, bukan? Gara-gara kerumunan orang-orang ini."

Iya juga, sih, batin Nk. Ia memang kalah tinggi dengan kerumunan orang di depannya.

Sekilas Nk melihat nama Blaze lewat rongga kerumunan. "Itu dia, nama Kak Blaze! Di… kelas C!"

"Hah, yang bener?" Blaze mulai celingak-celinguk mencari nama dan kelasnya. "Oh, iya benar!"

Mereka berdua pun saling bertatapan. Lalu tertawa kecil. Mereka baru sadar kalau mereka malah mencari nama satu sama lain.

"Perlu kuantarin ke kelasmu, nggak?" tanya Blaze.

"Nggak usah, Kak. Aku, kan, sudah besar."

"Oh, ya udah. Sampai jumpa nanti, ya."

Nk mengiyakan. Blaze melambaikan tangannya. Mereka berdua pun terpisah menuju ke kelas masing-masing. Dengan kemungkinan kesempatan bertemu kembali saat pulang sekolah.

.

.

Nk membuka pintu kelas. Banyak murid baru yang sudah datang, yang merupakan teman sekelasnya. Beberapa langkah memasuki kelas, ia melirik ke arah pojok papan tulis. Di sana tertempel kertas yang berisikan nama-nama murid kelas B dan posisi tempat duduk masing-masing.

"Kolom ketiga dari kiri, baris kedua dari belakang. Hmm.. cukup jauh dari papan tulis, tapi tak apalah," ucap Nk mengingat posisi tempat duduknya.

Nk pun menghampiri mejanya. Dilihatnya teman samping kiri dan kanannya belum datang. Namun, ada murid lelaki yang duduk di depannya sedang mengobrol dengan murid di depannya lagi, dan ada murid perempuan yang duduk manis di belakangnya sedang membaca buku. Nk ikut duduk di antara kedua pemilik meja tersebut.

Nk melirik ke belakang. "Hai!" sapanya pada gadis pembaca buku itu. Menurut Nk, lebih baik berkenalan dengan yang sama gendernya dulu, supaya terbiasa.

"Namaku Nk. Mulai sekarang, aku akan duduk di depanmu. Entah sampai kapan aku akan duduk di sini. Hehe…"

Gadis itu malah tersipu. Mungkin ia belum terbiasa berkenalan dengan orang asing. Namanya juga murid baru, pikir Nk. "Mmm… namamu?"

"Ns," jawab gadis yang bernama Ns itu.

"Salam kenal Ns. Mmm… Kamu nggak usah malu sama aku. Pokoknya santai aja kalau aku ajak ngobrol. Selain itu, mulai hari ini kita teman sekelas, kan. Teman sekelas harus saling mengenal. Mmm… pokoknya woles aye," jelas Nk panjang lebar. Lalu diakhiri dengan terangkatnya jempol .

Ns tertawa kecil. Ia menutup buku yang sedari tadi dibacanya. "Hmh, terima kasih sudah mau berbicara padaku, Nk. Sebenarnya, dari tadi aku merasa tegang. Tidak ada wajah yang kukenal di kelas ini. Makanya aku senang saat kau berbicara denganku. Salam kenal juga, Nk," ucap Ns sambil tersenyum. Senyumnya sangat indah. Sungguh cocok dengan parasnya yang cantik.

Nk balas tersenyum. Ia merasa lega dapat memulai pertemanan di sekolah barunya. Bagi Nk, ini seperti pijakan awal untuk berkenalan dengan teman yang lain.

"Mmm… tadi kamu baca buku apa?" Nk mulai membuka topik pembicaraan.

"Ooh… ini buku non-fiksi berjudul Real Imaginations. Aku suka membaca buku non-fiksi. Serasa seperti di dunia lain. Seru membayangkannya," terang Ns sambil menunjukan buku miliknya.

"Sepertinya buku yang rumit. Aah… tapi aku yakin pasti lebih rumitan buku Matematika daripada buku ini," canda Nk. Mereka pun tertawa bersama.

"Tapi, buku ini nggak rumit-rumit banget, kok. Justru karena buku ini, rasa tegang dan gugup tadi tidak menumpuk di dada. Walaupun sekarang masih rada tegang," ucap Ns.

"Kamu sepertinya tegang banget. Ada hal-hal yang menyebabkanmu merasa sebegitunya?" tanya Nk menyelidik.

Ns tersipu, bisa dilihat dari wajahnya mulai merona. "Yaa… sebenarnya ada suatu hal yang terjadi… tadi pagi," katanya

"Apa itu, kalau boleh tahu?"

"Yaa… sebenarnya tadi pagi aku tersenggol seseorang hingga jatuh gara-gara aku celingak-celinguk mencari kelas ini."

"Lalu?"

"Dia memang menolongku. Tapi, memalukannya, ia sampai mengantarkanku kelas ini," lanjut Ns.

Nk tampak bingung. "Memangnya kenapa? Kan, kamunya juga bingung mencari kelas ini, bukan? Aku saja sampai naik ke lantai 3 mencarinya, eehh… ternyata malah di lantai 2. Lebih maluin aku, kan?"

Ns menggelengkan kepala. Kuncir rambutnya ikut bergoyang. "Tetap saja malu. K-Kayak anak hilang!" Wajah Ns tambah memerah. Tapi Nk malah terkikik.

"Yah, setidaknya kau sampai di kelas ini, kan? Bersyukurlah ada orang yang mau membantumu," ucap Nk.

"Oh, ya! Apakah kau terluka saat jatuh tadi?" lanjut Nk.

"Ah, belum kuperiksa. Tadi aku jatuh dengan lutut mendarat duluan. Setelah kuingat, rasanya juga agak cenat-cenut di sini," balas Ns.

Ns pun menjauhkan kursinya dari meja. Nk ikutan mendekat untuk memastikan lutuk Ns. Terlihat, lutut Ns memerah dan agak melebam. Mereka berdua sama-sama terkejut melihatnya.

"Ini lebam kecil, tidak terlalu parah. Tapi kalau dibiarkan akan tambah sakit," jelas Nk. Ns menelan ludah, tidak tahan dengan bayangan fiksi akan lututnya nanti.

"Ayo, kita ke UKS. Masih ada waktu 10 menit sebelum bel berbunyi," saran Nk.

"Tapi, apa masih sempat? Kita bahkan tidak tahu letak UKS-nya di mana," sergah Ns. "Aku masih dapat menahannya lebih lama, kok. S-Setidaknya hingga upacara penerimaan murid baru berakhir."

"Jangan konyol! Upacara itu berdiri. Memangnya kamu sanggup berdiri di lapangan sambil menahan sakitnya?" Nk mulai tegas terhadap kawan barunya itu. "Makanya, ayo segera ke UKS!"

Tanpa basa-basi, Ns menuruti Nk, dan membiarkan Nk menarik tangannya menuju keluar kelas.

Ketika mereka berlari di koridor sekolah, ada seorang gadis tinggi yang melihat mereka. Lalu menyaut, "Hey, kalian berdua…!"

…Nk dan Ns terkejut


TO BE CONTINUED :'))