CHAPTER 3 : Revealation

Ketika mereka berlari di koridor sekolah, ada seorang gadis tinggi yang melihat mereka. Lalu menyaut, "Hey, kalian berdua! Jangan berlari di koridor!"

Nk dan Ns terkejut. Mungkin dia kakak kelas, pasti tahu di mana letak UKS, pikir NK.

Nk mendekati gadis tinggi itu. "Maaf Kak. Kakak tahu di mana letak UKS?"

Kakak itu mengernyitkan dahi. "UKS? Letak UKS di lantai 1, di sebelah ruang seni," jawabnya.

"Oh, makasih, Kak." Kemudian Nk dan Ns lanjut berlari menuju lantai 1.

"Jangan berlari di koridor!" Kakak itu kembali menyaut. Tapi mereka berdua sudah tidak peduli lagi. Di pikiran Nk, lutut Ns adalah prioritas utama.

.

.

Terlihat dari tangga lantai 1 papan nama ruangan bertuliskan "Unit Kesehatan Sekolah" di ujung koridor. Nk dan Ns segera mendekati ruangan itu.

"GREEK…" bunyi pintu UKS dibuka. Mereka berdua terkejut dengan pemandangan ruang UKS yang mengecewakan itu. Ya, ruang UKS tampak terlantar.

"Ns, sementara kau duduk dulu di kasur itu. Aku akan mencari obat untuk lebammu," suruh Nk.

Ns menuruti perkataan Nk. "Maaf, Nk. Aku jadi merepotkanmu," Ns tertunduk.

"Tak apa, tenang saja. Anggap saja ini sebagai sambutan karena telah menjadi temanku," balas Nk. Lalu ia mendekati kotak P3K yang tertempel di dinding.

"Heeehh?!" Nk terkejut ketika membuka kotak P3K tersebut. Hanya sedikit objek yang terdapat di dalamnya, dan semuanya dalam kondisi sudah tidak layak.

Nk sekali lagi melihat sekeliling. Jika diperhatikan, memang kondisi ruangan ini juga tidak terasa nyaman. Tidak ada guru pendamping di sini. Tidak ada daftar pengurus ruangan. Tirai dan seprai terlihat kotor, tapi Ns tetap duduk di atas kasur berlapis seprai dekil dengan sabar.

Nk menghela napas. Ia kembali melihat kotak P3K. ia cermati satu-satu benda yang ada di dalamnya. Pakai apa, ya? Betadin- untuk luka. Balsam- Ns nggak masuk angin. Hmm…, Nk tampak berpikir keras sembari mencermati label benda yang ia pegang.

Ah, pakai minyak gosok saja! seru Nk ketika melihat 2 botol minyak gosok di ujung kotak. Ia pun meraih kedua botol tersebut. Kemudian ia kembali mencermati objek itu. Ia makin terlihat seperti seorang detektif yang sedang mencari bukti di TKP.

Yang botol hijau… Wah, sudah kadaluarsa! Nk membuang minyak gosok berbotol hijau ke tong sampah di dekatnya. Yang merah… Wah, yang ini bakal terasa sangat panas. Pas untuk mengobati lebam. Dan… belum kadaluarsa. Yosh!

Nk berbalik mendekati Ns sambil membawa minyak gosok berbotol merah. "Sepertinya minyak ini cocok untuk lebammu itu, Ns. Tapi ini akan terasa sangat panas. Aku harap kau mau menahannya. Ini demi kebaikanmu juga," jelas Nk seraya menunjukan botol minyak tersebut pada Ns.

Ns mengangguk. "Aku mengerti. Terima kasih, Nk."

Nk pun mengolesi lutut Ns dengan minyak, menyelimuti lebamnya. Ia pijat dengan perlahan. Nampak, Ns seperti menahan perih. Ia tidak mau tambah merepotkan Nk.

"Yosh! Segini pasti cukup," ungkap Nk. Ia mengalihkan pandangannya ke Ns. Ns tersenyum sebagai kode untuk berterima kasih.

"Ayo, kita segera ke lapangan. Sepertinya sebentar lagi bel akan berbunyi. Jika pergi sekarang, kita akan sampai tepat waktu," ajak Nk pada Ns.

Ns bangun dari tempat tidur dan berjalan perlahan. Nk ikut mendampingi dengan berjalan di sebelahnya. Mereka pergi menuju lapangan bersama untuk mengikuti upacara penyambutan.

.

.

"Kriiing…!" bel istirahat siang berbunyi.

"Yeay, waktunya makan siang!" Nk mengulet di kursinya. Setelah melewati pagi ini, perut Nk terasa keroncongan. Ia baru sadar, murid baru pun sama sibuknya dengan murid lama lainnya. Sangat melelahkan.

Nk membalikan badannya. Ns yang duduk di belakangnya tersenyum. "Bagaimana keadaan lututmu?" tanya Nk.

"Hmph! Sudah membaik. Ini berkat dirimu, Nk," jawab Ns riang. Nk tersipu mendengar jawaban itu.

Nk dan Ns pun makan siang di kelas. Kebetulan mereka sama-sama membawa bekal. Sembari memakan bekal, mereka juga mengobrol bersama untuk mengakrabkan diri.

"Ngomong-ngomong, kenapa kau memilih bersekolah di sini?" Nk membuka topik pembicaraan.

"Yaa… Sekolah ini merupakan sekolah terdekat dari rumahku. Jadi, aku hanya perlu berjalan kaki," ucap Ns sambil menciduk nasi. "Bagaimana denganmu, Nk?" lanjutnya.

"Hmm…," Nk tampak berpikir seraya mengunyah makanannya. Lalu, tentu saja ditelan.

"… Mungkin karena ini juga sekolah terdekat dari rumahku…" ucapnya. "… Dan mungkin karena kakakku juga bersekolah di sini, jadi aku juga disekolahkan di sini!"

Ns manggut-manggut. "Eehh… Nk punya kakak, toh," balas Ns.

"Hmph! Beda satu tahun dariku. Dia kakak lelaki yang merepotkan, tapi ia sangat peduli padaku," mata Nk berbinar. Ns terkikik mendengar ungkapan Nk.

"Oh ya, nanti kau mau ikut klub apa, Nk?" Ns mengganti topik.

"Loh, baru hari pertama sudah mikirin klub, sih?"

"Hehe, untuk berjaga-jaga saja."

"Mmm… kalau soal klub, aku belum memikirkannya sama sekali," ucap Nk.

Nk kembali teringat oleh Blaze. "Oh iya, aku baru ingat kalau kakakku ikut klub karate!"

"Oh ya? Berarti kau juga mau ikut klub itu, ya?"

"Nggak, ah. Aku sama sekali nggak tertarik. Dan sepertinya itu merupakan klub yang keras. Karena tahun lalu, setiap kakakku pulang setelah kegiatan klubnya, pasti selalu mendapatkan luka-luka lebam. Tidak jarang sampai terkilir. Aku tidak mau mengalami hal itu," jelas Nk merinding.

"Aku juga nggak mau, deh," ungkap Ns. "Tapi, kenapa kakakmu tidak berhenti dari klub karate? Bukankah ia juga tidak mau terluka?"

"Entahlah. Aku sudah bertanya padanya, tapi ia menjawab kalau ia terpaksa. Sebenarnya aku juga tidak terlalu paham, sih."

Nk bertanya-tanya mengapa kakaknya itu mau saja dipaksa oleh klub karate. Apalagi, menurutnya, Blaze pasti sudah paham kalau ia memiliki hak untuk menolak. Dan, kenapa guru pembimbing klub karate tidak menjaga anak didiknya itu? Yah, walaupun begitu, Nk tidak pernah mendengar Blaze mengeluhkan hal tersebut. Jadi, ia yakin kakaknya akan baik-baik saja.

Tiba-tiba ia teringat sesuatu. Berarti hari ini Kak Blaze ikut kegiatan klub, dong. Kalau begitu, aku pulang sekolah duluan saja, batin Nk. Ia merapikan tempat makannya. Begitu pula dengan Ns, karena jam istirahat akan berakhir.

.

.

"Yeay, waktunya pulang. Hari ini cukup menyenangkan. Bukan begitu, Ns?" seru Nk pada Ns. Mereka berjalan berdampingan menyelusuri koridor.

"Hmph!" balas Ns mengangguk. Dari pagi hingga waktu pulang, mereka terus bersama. Sehingga sudah tercipta rasa saling percaya di antara mereka.

Tiba-tiba segerombolan murid berlari menuju arah yang sama. Walaupun peraturan mengatakan kalau dilarang berlari di koridor, tetapi mereka mengabaikannya. Murid-murid itu tampak tergesa-gesa. Nk dan Ns kebingungan, memandang satu sama lain.

"Hah, yang bener? Perkelahian?!"

"Di mana? Aku mau lihat!"

"Baru hari pertama…"

"Weh, beli snack dulu. Nggak seru kalau nggak ngemil sambil nonton gulat mingguan!"

"Hyeeyy… tunggyu akyu!"

Dan beragam perbincangan yang diserukan oleh kerumunan murid tersebut. Namun, hanya ada satu kalimat yang terdengar paling jelas di telinga Nk,-

"Blaze dan Hali berulah lagi? Yang benar saja…"

Blaze? Batin Nk.

Kala itu, waktu seperti bergerak perlahan bagi Nk. Matanya terbelalak mendengar ucapan itu. Ucapan itu terus terulang di benaknya. Walaupun telah terdengar, tapi ia berharap untuk tidak mendengarnya, berharap untuk tidak memercayainya.

"Sepertinya sedang terjadi perkelahian. Baru hari pertama sudah bikin keributan. Bagaimana men…" belum sempat Ns menyelesaikan ucapannya, Nk berlari mengikuti kerumunan dengan cemas.

"NK!?" Ns terkejut. Lalu mengikuti Nk yang telah berlari di depannya. Ada apa dengan Nk? batinnya.


Fyi berhubung ini ff jaman saya masih bocil (dan samsek gada yg diedit lagi dari saya sendiri ehe), jadi ya gini story development nya kayak pelan. Maklum, dulu masih newbie :v

Monggo kalo ada yg mau kritik dan saran di komen ya :)