One Shoot Part 1

Pair : Itasaku/Sasusaku

Genre : Hurt, Romance

"TENTANGKU DAN DIRINYA"....

Entah untuk keberapa kalinya dirinya harus menahan amarah dan tangis...

Entah harus berapa lama lagi dirinya bertahan...

Semakin lama dirinya juga pada akhirnya akan jenuh...

Dan saat rasa jenuh itu sudah menyatu...

Jangan salahkan dirinya jika mencari rasa yang baru...

"Sakura."

"Ah... Sasuke? Kau sudah pulang?."

Wanita bersurai merah muda itu menghampiri suaminya dan membantu melepas jas kerja milik suaminya itu.

"Hn. Hari ini adalah ulang tahun pernikahan kita... Jadi aku memutuskan untuk pulang lebih awal." Ucap Sasuke yang kemudian mengecup kening Sakura dan berlalu pergi. "Aku akan mandi dulu."

Sakura tersenyum kosong menatap Sasuke. Hari ini adalah perayaan pernikahan mereka yang ke lima tahun. Tapi Sakura sama sekali tidak merasa ada yang spesial. Karna baginya, pernikahan ini telah hancur sejak dua tahun lalu. Sejak dirinya tahu jika suami yang dirinya cintai dan percayai malah mengkhianatinya, walaupun begitu Sakura tetap diam berpura-pura tidak tahu. Demi kedua putrinya dirinya terus bertahan didalam pernikahan yang bagaikan cangkang kosong ini.

Sasuke mengajak Sakura pergi ke restoran paling mewah di Tokyo. Dirinya juga menyiapkan hadiah spesial untuk sang istri tercinta.

Sebuah kalung bermatakan emerald. Sasuke tahu jika wanita yang menjadi istrinya ini sangat menyukai permata emerald yang mirip dengan manik milik istrinya itu.

"Kau suka?."

"Ya... Aku suka." Sakura tersenyum tipis menatap kalung yang berada dalam kotak beludru itu.

"Baguslah... Aku senang jika kau menyukainya."

"Hn. Aku ke toilet sebentar." Ucap Sakura.

"Ya.."

Sasuke menatap kepergian Sakura dengan perasaan sedih. Sakura berubah sejak kejadian dua tahun lalu. Sejak mereka kehilangan calon anak ketiga mereka. Dan Sejak saat itu pula Sakura terasa semakin menjauh dan terus menjauh.

"Apa yang sebenarnya terjadi?." Gumannya pelan.

"Sasuke-kun?." Suara panggilan dari seorang wanita yang dia amat kenali itu membuat tubuhnya membeku.

"Shion?."

Sasuke melirik kesekitarnya panik dan kemudian menarik Shion menuju sisi restoran yang sepi.

"Apa yang kau lakukan disini?." Tanya Sasuke Panik.

"Tentu saja aku makan... Ini tempat umum kan?." Jawab Shion. "Memang ada apa?."

"Aku sedang merayakan hari pernikahan ku dengan Sakura disini."

"Sasuke-kun... Kapan kau akan menceraikan wanita itu dan menikahiku?."

Sasuke menatap tajam pada Shion. "Jangan berharap lebih padaku Shion! Aku hanya mencintai Sakura dan hanya dialah yang pantas menjadi istriku... Jadi jangan berharap lebih padaku." Ucapnya yang kemudian pergi menjauh dari Shion.

"Apa bagusnya perempuan itu dariku." Guman Shion kesal.

"Maaf tadi ada temanku yang datang dan mengajakku mengobrol sebentar." Ucap Sasuke yang sudah mendudukan dirinya.

Sakura menatap Sasuke acuh dan mengucapkan kalimat yang mampu membuat jantung Sasuke seolah tertarik keluar. "Aku kira kau menemui selingkuhanmu."

Sasuke meneguk ludahnya gugup. "Apa maksudmu?."

"Hanya bercanda tak usah dipikirkan." Ucap Sakura sambil tersenyum manis.

"Aa... Ya.."

Itachi memarkirkan mobilnya dihalaman rumah milik adik kesayangannya, Sasuke. Kemarin ada dokumen miliknya yang terbawa oleh Sasuke, dan pagi ini Sasuke memintanya untuk mengambil sendiri dirumahnya.

"Selamat datang tuan Itachi." Ucap Maid menyambut kedatangannya.

"Sasuke ada dirumah?."

"Tuan Sasuke baru saja berangkat ke kantor."

Itachi mengangguk singkat dan masuk kedalam. Dirinya langsung menuju ke ruangan kerja milik Sasuke. Memang terdengar tidak sopan jika langsung masuk. Tapi Itachi juga terbiasa keluar masuk ruang kerja milik Sasuke, jadi itu bukan masalah besar.

Setelah mendapatkan dokumen yang dicarinya , dirinya hendak mencari adik iparnya dan menyapanya sebentar. Namun sebuah suara dari kamar yang berada didekat ruang kerja Sasuke membuatnya berlari panik.

"Sakura-chan!! Ada apa?!."

Itachi yang semula panik kini justru membeku menatap kedepan.

Saat dirinya membuka pintu kamar milik Sasuke dan Sakura, dia malah menemukan Sakura dalam posisi terduduk dilantai depan pintu kamar mandi. Dan yang membuat Itachi membatu adalah keadaan Sakura yang hanya mengenakan handuk kecil untuk membalut tubuhnya.

"Itachi-nii." Panggil Sakura

"Ah... Kau baik-baik saja?." Tanya Itachi yang mati-matian menahan rona dipipinya.

"Tolong aku... Kakiku terasa sakit."

"Baiklah."

Itachi menutup pintu kamar terlebih dahulu dan kemudian mendekati Sakura. Dia melihat pergelangan kaki Sakura yang sedikit membiru.

"Kenapa bisa terjatuh?."

"Licin."

"Ayo aku bantu." Itachi memapah Sakura menuju ranjangnya.

Jujur Itachi benar-benar tidak tahu harus berbuat apa? Dirinya hanya bisa berusaha menahan diri dan terus mengucapkan nama Istri serta anaknya berulang kali didalam hatinya.

"Apa kau bisa memijit kakiku?." Tanya Sakura malu-malu.

"Ehm... Ya."

Itachi memijit pelan pergelangan kaki Sakura dan berusaha fokus hanya pada pergelangan kaki saja.

Sementara itu Sakura menatap Itachi dengan gugup. Dirinya sangat malu karna berhadapan dengan kakak iparnya itu dalam keadaan seperti ini. Sekelebat pikiran terlintas dikepala Sakura. 'Bagaimana jika dirinya dulu menikah dengan Itachi? Mungkin dirinya akan menjadi perempuan paling beruntung.'

Istri Itachi, Izumi adalah wanita sosialita yang angkuh dan menyebalkan. Seringkali Sakura dibuat kesal dengan tingkahnya, bahkan mertuanya sendiri juga tidak menyukai Izumi.

Dulu Ibu Mikoto juga pernah mengatakan padanya jika saja tidak ada Itazu diantara Izumi dan Itachi, mungkin saja mereka berdua telah berpisah.

Itachi memang terlalu baik untuk Izumi. Terlalu baik. Sama seperti dirinya yang terlalu baik untuk Sasuke, andai saja Sarada dan Sahara tidak ada dirinya juga pasti akan menceraikan Sasuke.

Bukan berarti dirinya tidak mengharapkan kehadiran putri kembarnya itu, hanya saja dirinya muak jika terus harus bersabar seperti ini.

"Sakura."

Panggilan dari Itachi membuatnya sadar dari pikiran nya.

"Ah! Ya?."

"Kau tidak apa-apa? Kenapa melamun?."

"Tidak apa-apa... Hanya saja sedikit pusing."

Sakura menatap Itachi dalam. 'Bagaimana jika dirinya bermain dengan Itachi?.'

"Kenapa menatapku seperti itu?."

"Tidak."

"Kalau begitu aku pergi dulu... Ada meeting yang harus aku hadiri."

Saat Itachi hendak pergi, Sakura menarik tangan Itachi dan memeluknya. "Bisakah kau menemaniku disini?."

Itachi membeku merasakah tubuh mungil yang saat ini tengah memeluk dirinya.

"Sakura... Lepaskan." Ucap Itachi mencoba melepaskan pelukan Sakura. Dan berhasil kemudian Itachi dengan cepat menuju pintu. Tapi belum sempat dirinya membuka pintu, Sakura kembali memeluk dirinya dari belakang.

"Bukankah dulu kau pernah mencintaiku? Bisakah kau bersamaku?."

"Jangan berkata yang macam-macam Sakura... Kau memiliki Sasuke, Sarada dan Sahara, begitu juga denganku yang memiliki Izumi dan Itazu."

"Aku tahu kau masih mencintaiku... Aku tahu itu... Jika tidak? Kenapa kau masih menyimpan fotoku?."

"A..aku.."

Itachi benar-benar tidak bisa menahan lagi. Dengan cepat dirinya berbalik dan mencium Sakura penuh nafsu. Tanganya memeluk pinggang Sakura sementara tangan satunya mencoba mengunci pintu kamar. Sedangkan Sakura mengalungkan tanganya dileher Itachi dan berusaha mengimbangi ciuman dari Itachi.

Setelah beberapa menit pagutan keduanya terlepas. Namun tatapan mata mereka tetap terpaku satu sama lain.

"Jangan salahkan aku jika kali ini aku tidak akan melepaskanmu... Bahkan jika dunia berusaha melepaskanmu dariku... Aku akan tetap mengikatmu disisiku." Ucap Itachi.

Sakura tersenyum dan membelai wajah Itachi lembut. "Aku tidak peduli... Karna aku akan dengan senang hati untuk selalu terikat denganmu."

Dan kemudian kamar itu menjadi saksi bisu dari apa yang terjadi diantara keduanya.

Makan malam keluarga Uchiha kali ini sangat ramai dengan ocehan-ocehan dari cucu kesayangan Uchiha.

Uchiha Sarada dan Uchiha Sahara. Putri kembar Sasuke dan Sakura yang berusia tiga tahun itu dengan ceria menceritakan kegiatan mereka di mansion utama Uchiha.

Memang sudah tiga hari ini mereka berdua menginap di Mansion utama atas permintaan dari Uchiha Mikoto dan Uchiha Fugaku.

"Ibu halus melihat salada saat itu!! benal-benal memalukan." Ucap Sahara ceria.

"Diam! Dasar cerewet!." Sahut Sarada kesal.

Para Uchiha disana tertawa geli melihat Sahara yang terus menggoda Sarada.

Sakura tersenyum lembut dan membelai lembut kedua putri kesayangannya. "Lalu apa kalian merindukan ibu?."

"Tentu saja!!! Sahala sangat lindu ibu... Tapi gala-gala nenek kami tidak lindu ibu!."

"Iya!! Nenek membuat kami lupa jika merindukan ibu." Sarada mengangguk menyetujui ucapan saudari kembarnya itu.

Mikoto memasang wajah cemberut "Kenapa nenek yang disalahkan?."

"Karna setiap kali kami merindukan ibu... Nenek selalu memberi kami kue coklat jadi kami lupa jika rindu ibu."

"Jadi kue coklat lebih berharga dari ibu." Tanya Sakura.

"Iya!!." Jawab Sahara lantang namun sedetik kemudian dirinya menepuk pelan bibirnya dan berkata "Tidak! Ibu lebih belhalga dali kue coklat!!."

"Hahaha ya... ya."

"Bagaimana pekerjaan kalian? Itachi... Sasuke."

"Semuanya lancar ayah." Jawab Sasuke.

"Kemarin ada sedikit masalah... Tapi aku sudah menyelesaikan nya." Kali ini Itachi yang menjawab.

"Bagus."

"Oh iya... Itachi... Dimana Izumi dan Itazu?." Tanya Mikoto.

"Izumi mengatakan jika dirinya ada urusan malam ini, sedangkan Itazu bilang jika malam ini dia menginap ke rumah temannya untuk mengerjakan tugas sekolahnya, Dia menitipkan salam pada Ibu dan Ayah."

"Aa... Baiklah."

Sakura menahan kekesalan pada hatinya. Dia kesal karna Sasuke malah asik mengobrol dengan selingkuhannya. Dengan alasan telepon dari klien, Sasuke pergi ke gazebo dan malah asik sendiri.

Menyebalkan!.

Sebuah pelukan tiba-tiba membuat dirinya terkejut. Namun setelah menyadari siapa yang memeluknya membuat dirinya lebih rileks tapi tetap dengan perasaan was-was.

Itachi menaruh kepalanya dibahu Sakura dan mengecupi pipi Sakura. "Ada apa?."

"Sasuke menerima panggilan dari selingkuhannya."

"Hmmm... Begitukah?." Itachi menatap kelantai bawah dan mendapati jika Sasuke sedang asik dengan handphone. Jika saja Sasuke menengok keatas mungkin saja Sasuke langsung kesetanan melihat istrinya sedang berada didekapannya.

"Ada apa? Kenapa tertawa?." Tanya Sakura heran.

"Aku memikirkan bagaimana jika Sasuke menengok keatas dan melihat kita."

"Itu menyeramkan." Sahut Sakura.

Itachi menarik Sakura menjauhi balkon kamar dan mencium bibir Sakura.

"Jangan disini... Jika ada yang melihat... kita akan tamat." Bisik Sakura.

"Ya kau benar." Balas Itachi.

"Menurutmu apa yang harus aku lakukan pada Sasuke dan wanita bernama Shion itu?". Tanya Sakura.

"Kemarilah... Aku akan memberitahumu."

Itachi berbisik sesuatu pada Sakura.

"Aku benar-benar mencintaimu Itachi." Ucap Sakura memeluk Itachi.

"Hn. Aku juga Hime."

Suara langkah kaki yang mendekati kamar membuat Sakura dengan cepat menjauhi Itachi dan duduk disofa yang berhadapan dengan Itachi.

Ceklek.

"Nii-san? Sedang apa kau disini?." Tanya Sasuke heran melihat kakaknya duduk disantai disofa yang ada dikamarnya.

"Aa.. Sasuke, bukan masalah yang penting. Hanya saja kemarin Itazu melakukan tes kesehatan di rumah sakit tempat Sakura bekerja."

"Hn. Kalau sudah selesai lebih baik kau keluar dari sini."

"Kalau belum?."

"Tetap keluar! Ini sudah malam... Jika ingin mengobrol besok juga masih bisakan?."

"Ya... baiklah-baiklah aku keluar."

Tanggal 24 bulan Juni 2029 adalah hari terburuk sepanjang hidup Sasuke. Benar! Hari paling buruk... Sangat buruk!

Saat Sasuke dan Shion sedang menikmati makan siang di Restoran seafood yang letaknya cukup jauh dari kantornya... Tiba-tiba saja Sakura datang dan menyiramkan segelas jus yang dia dapat dari meja sebelah ke kepala Shion.

Lalu bagaimana?

Oh Shion tentu saja wajahnya seketika berubah merah karna marah dan juga malu sementara Sasuke hanya bisa membisu sambil memikirkan ribuan skenario didalam otaknya.

"Bisa kau jelaskan ada apa ini?." Tanya Sakura dengan tenang.

Sasuke berdiri dengan gugup "Ini... Ini tidak seperti yang kau pikirkan aku–"

"Aku dan Sasuke sedang menjalin hubungan? Ada masalah?!." Ucap Shion memotong perkataan Sasuke.

"Apa yang bicarakan Shion!!?." Bentak Sasuke.

"Aku hanya berbicara fakta Sasuke-kun!!."

Sakura menatap datar kedua manusia yang malah bertengkar itu. Dirinya kemudian menarik tangan Shion dan menampar pipi wanita itu. "Kau tanya apa yang salah?! Tenti saja salah karna dia adalah suamiku!!." Dirinya sengaja mengeraskan suaranya dan membuat para pengunjung disaja melemparkan tatapan rendah pada Shion.

"Dan kau!!! Bagaimana bisa kau menyelingkuhi diriku!!."

PLAK

Sakura menampak pipi Sasuke hingga meninggalkan bekas merah diwajah Sasuke.

Setelah itu Sakura langsung berlari keluar restoran dan segera mengemudikan mobilnya dengan cepat.

"SAKURA!!." Teriak Sasuke. "Sialan!."

Sasuke masuk kedalam mobilnya dan mencoba mengejar mobil Sakura. Dirinya bahkan beberapa kali menerobos lampu merah. Akhirnya Sasukepun menemukan mobil Sakura, dengan menambah kecepatan Sasuke bisa menyalip mobil Sakura dan mencegatnya.

Sakura keluar dari mobilnya dan menatap Sasuke marah. "Apa lagi yang kau inginkan?."

"Sakura dengarkan penjelasanku aku dan Shion hanya..."

"Cukup Sasuke... Cukup! Aku sudah tahu semuanya sejak dua tahun yang lalu! Sudah dua tahun aku bersabar dan berharap kau segera mengakhiri pengkhiatanmu dengan Shion!! Dan sekarang aku sudah tidak bisa bertahan lagi Sasuke... Kesabaranku sudah habis."

Mendengar ucapan yang keluar dari mulut Sakura membuat Sasuke terkejut. Ternyata selama ini Sakura telah mengetahui perselingkuhannya... Apa mungkin ini sebabnya Sakura berubah menjadi dingin padanya?

"Maafkan aku Sakura... Maafkan aku."

"Satu hal yang perlu kau tahu Sasuke... Aku kehilangan putraku itu karna kau dan Shion."

"A..apa?."

"Saat itu aku hendak ke Supermarket membeli kebutuhan bulanan kita. Tapi saat aku melewati taman, aku melihatmu dan Shion berciuman mesra... Kau tahu apa yang aku rasakan saat itu? Sakit... Sedih... Marah dan Takut. Aku ingin menghampiri mu dan kekasih gelapmu itu... Tapi aku tidak bisa. Dan kemudian aku pulang dengan perasaan kalut hingga seperti yang kau tahu... Aku kecelakaan dan kehilangan putraku... Saat itulah duniaku benar-benar menjadi kosong."

Sasuke mengigit bibirnya yang bergetar. Hatinya terasa hancur mendengar penjelasan dari Sakura.

Ini semua salahnya... Ini salahnya!.

"Maaf." Hanya itu yang mampu Sasuke katakan.

"Biarkan aku pergi."

"Tidak! Tidak Sakura! Jangan pergi! Jangan tinggalkan aku!." Sasuke berlutut dan menggengam erat tangan Sakura.

"Aku terlalu Sakit Sasuke... Terlalu Sakit."

"Tidak! Aku mohon... Aku berjanji akan menjadi suami terbaik untukmu... Menjadi lelaki satu-satunya untukmu."

"Apa kali ini aku harus mempercayaimu?."

"Ya! Ya... Aku bersumpah dengan nyawaku... Jika aku menyakitimu lagi... Kau boleh pergi membawa kedua putri kita.. Kau juga boleh membunuhku..."

"Aku tidak tahu."

"Aku mohon..."

"Baiklah."

Mata Sasuke berbinar senang. Sungguh saat ini hatinya terasa sangat senang mendengar ucapan Istrinya.

"Terima kasih."

"Ya... Kalau begitu aku akan pulang."

"Biar aku antar."

"Tidak perlu... Kau kembalilah dan selesaikan urusanmu dengan Shion."

"Baik... Hati-hati."

"Hn."

Sakura memasuki mobilnya dan pergi untuk kembali kerumah.

"Aku marah padamu." Ucap sosok lain yang berada didalam mobil Sakura.

Sakura memandang Itachi bingung dan kembali fokus pada jalan. "Kenapa?."

"Apa kau hanya akan menjadikan Sasuke lelaki satu-satunya untukmu?."

"Hahaha." Sakura tertawa mendengar ucapan Itachi. Apakah pria ini baru saja cemburu?. "Astaga... Apa kau cemburu? Tenang saja, hanya ada dirimu didalam hatiku."

"Oh ya?."

"Iya... Itachi-kun Sayang..."

"Aaa... Aku sungguh mencintaimu."

"Aku juga sangat mencintaimu."

Itachi membelai surai pink milik wanita yang selalu menjadi nomor satu dihatinya itu. "Ibu mengajak kita berlibur."

"Benarkah?."

"Ya... Dia mengatakan bulan depan, aku dan dirimu bisa bebas bersenang-senang tanpa gangguan dari Sasuke ataupun Izumi."

"Ibu Mikoto memang yang paling baik."

"Dia terbaik."

Hubungan gelap Itachi dan Sakura juga sudah diketahui oleh Mikoto. Namun wanita itu malah mendukung hubungan keduanya.

Entah apa yang ada dipikiran wanita itu.

"Itachi... Minggu depan pergilah ke Paris bersama Sakura." Ucap Mikoto.

"Ibu... Apa yang ibu katakan? Kenapa harus Sakura? Bukankah Izumi ada." Protes Sasuke.

"Benar bu... Aku kan bisa." Sahut Izumi.

Mikoto menatap putra bungsunya dan menantu sulungnya itu dengan tenang. "Maafkan ibu... Tapi bukankah Sakura minggu depan juga ada jadwal untuk ke Paris? Jadi sekalian saja. Dan Izumi... Jangan lupa dengan proyek yang harus kau kerjakan. Jangan kecewakan kami."

"Sasuke-kun tidak apa-apa." Ucap Sakura.

"Tapi Saku..."

"Ayolah Otouto... Jangan bilang kau cembuu padaku?."

"Siapa yang cemburu padamu baka!."

"Sudah jangan ribut." Tegur Fugaku.

"Kalau begitu sudah diputuskan jika Sakura dan Itachi akan menjadi perwakilan kita untuk ke Paris."

"Berapa lama?."

"Harusnya hanya dua minggu Sasuke-kun... Tapi aku juga punya urusan disana selama dua minggu juga jadi minggu satu bulan."

"Hhhhh Ya sudah."

Dan kemudian senyum puas tersungging di ketiga orang yang ada disana.

"Aku merasa jika pemeran antagonis yang sesungguhnya adalah kita."

"Jangan pikirkan itu... Pikirkan saja bayi kita yang sedang ada dalam kandunganmu itu Saku-chan..."

"Hahahaha Kau beruntung sayang, karna gen Uchiha itu memiliki paras yang mirip."

"Ibu Mikoto benar..."

"Jadi kira-kira siapa nanti nama putra kita?."

"Sakata? Uchiha Sakata."

"Nama yang bagus Itachi-kun."

END

Alur tidak jelas... Harap maklum