SRAKK!
Kertas-kertas putih dalam laporan dirobek. Dihamburkan sembarang tanpa perasaan hingga menyentuh kaki. Suasana di ruang BEM mendadak mencekam serupa pemakaman. Dari semua pengurus yang hadir, tidak ada yang menampilkan ekspresi selain mata yang melebar karena tercengang.
"Lain kali aku tidak mau terima laporan abal-abal seperti ini." Gadis dengan hijab merah muda berdiri di tengah-tengah atensi. Bersidekap dengan tatapan mengintimidasi. "Laporan itu bahkan tak jauh beda dengan laporan OSIS SMP. Aku mau laporan yang berkualitas. Laporan yang menunjukkan apakah kalian benar-benar mengerjakan program kerja kalian atau tidak. Aku tidak mau kalian bekerja apa adanya. Sebegai pengurus, buktikan kalau kalian benar-benar berkontribusi supaya BEM kampus kita maju."
Tidak ada yang berani menjawab. Tidak ada yang berani membantah. Barangkali mereka mendumal dalam hati. Yaya sudah paham. Betul-betul paham. Pengurus BEM tak lebih dari sekedar orang-orang yang ingin dia cuci mulut dan otaknya sampai benar-benar bersih. Di depannya mereka bersikap seperti burung penurut yang akan mendengar apa yang dia katakan. Sedangkan di belakangnya, mereka mendumal dan berbicara kejelekannya seolah mereka mengetahui segalanya. Yaya benar-benar muak.
"Untuk seminar dua minggu yang akan datang. Dari bidang 4. Proposal. Apakah sudah diajukan ke Dekan?"
Suzy. Gadis bercepol dengan poni menjuntai menutupi sebelah matanya menegakkan tubuh. Gugup. Sepasang hazel milik Yaya benar-benar menusuk.
"Eh ... um?"
Jeda beberapa detik. Sumpah. Suzy benar-benar terserang tremor. Apa yang ada di pikirannya entah mengapa tidak bisa ia ucapkan. Pengurus yang lain sampai ikut memandangnya. Ada sebagian yang penasaran. Namun ada pula yang memanjatkan do'a, seperti , ayolah. Terjadilah sesuatu. Biar gadis ular ini segera pergi dari sini.
"Um apa?" Yaya menandas. Menatap lurus sepasang manik cokelat Suzy yang terlihat –sangat ingin lari. "Kau sedang tidak tidur, kan? Aku bertanya padamu ketua bidang."
"Eh, itu Yaya ..." Suzy menggigit bibir bawah. " ... ada masalah pada anggaran. Jadi, ketua Dekan ... menyuruhku untuk merevisinya dulu, baru setelah itu ... diaju ... kan ..."
Hela napas terdengar dari bibir sang ketua. Penat. "Kapan kau ajukan proposalnya?"
"Uh itu ... itu, umm..." Kali ini Suzy menghela napas. " ...Ke ... kemarin."
"APA?" Intonasi meninggi. "Kemarin? Benar-benar tidak bisa dipercaya." Yaya menggeleng. Berjalan mondar-mandir di hadapan para bawahan. "Aku menyuruhmu untuk mengajukan proposal seminggu yang lalu. Kau tahu kenapa? Supaya kita tidak keteter saat tiba hari-H nanti. Astaga Suzy! Kemarin? Kenapa kau santai-santai begitu. Ini progam kerjamu Suz, seharusnya kau totalitas. Kita tidak hanya mengurus proposal. Tapi pemateri. Sponsorship. Seandainya kau mengajukan proposal minggu lalu, mungkin kita sudah dapat pemateri yang cocok dan sponsorship yang mau bekerja-sama." Tangan terkibas. Suzy tidak punya kekuatan apa-apa selain menunduk. "Ah baiklah. Setelah ini kau boleh menemuiku. Aku tidak mau kalau acara yang kau buat berantakan nantinya."
"Ini pelajaran untuk kalian." Yaya menatap satu persatu anggotanya. "oke. Kalian mahasiswa. Tapi kalian harus ingat, kalian punya tanggung jawab di organisasi. Aku tidak akan bosan menekankan ini pada kalian. Pisahkan antara urusan pribadi dan organisasi. Profesional. jangan buat image organisasi kita berantakan hanya karena kita tidak bisa bersikap profesional."
Kaki berbalut sepatu kets putih melangkah. Menjejak kertas laporan yang baru saja dirobek. "Dua minggu lagi kita bertemu. Kau sekretaris-" Tatapan Yaya beralih pada pemuda dengan rambut landak yang duduk di sudut ruangan. "Kumpulkan laporan dua minggu kemarin dan berikan aku hasil rapat hari ini. Temui aku jam empat sore. Jangan telat."
Tidak ada respon selain deheman pendek dari sang pemuda. Fang sudah mulai terbiasa dengan sikap sang ketua. Jadilah, dia hanya mengangguk dan mengabaikan tatapan dari rekan-rekannya.
"Sekian rapat hari ini. Terima kasih."
Yaya berbalik. Berjalan keluar ruangan. Dan ia tidak pernah mau tahu apa yang terjadi di ruang rapat setelah dia pergi.
.
Boboiboy Animonsta Studios
.
Moodbooster Furene Anderson
.
21!Taufan. B X Yaya
AU! No Superpower. Friendship. Romance. Typos. UniversityLife! OrganizationLife
.
Saya tidak mengambil keuntungan apapun dalam fanfiksi ini. Tidak ada maksud untuk menyinggung atau menjatuhan pihak-pihak tertentu. Fanfiksi ini terinspirasi dari lagu yang diarensemen Sung Ha Jung berjudul Stars..
.
.
If you don't feel enough with this Fanfiction, better if you stop read it, and push the back button then search the other story which you like the most of.
.
.
Happy Reading~~
.
.
"Apa kau lihat gayanya tadi? Dia benar-benar sok. Awalnya ku kira dia biasa saja, ternyata setelah dilantik jadi ketua, dia benar-benar sombong."
"Yah, aku tahu sih Yaya itu pintar. Tapi apakah harus dia sampai segitunya mengurus BEM?"
"Dia memang tegas. Tapi entah kenapa aku sama sekali tidak suka gayanya –oh! Kau membeli es krim vanilla? Boleh aku coba?"
"Dia benar-benar gadis ular. Aku harap dia segera kecelakaan dan lengser. Memangnya dia pikir dia siapa?"
Yaya tidak melirik .Tidak menoleh. Ataupun menghampiri. Headset yang ia pasang di kedua telinga sudah lebih dari cukup untuk dijadikan alibi agar tidak ketahuan mencuri dengar. Ternyata dimana-mana sama saja. bukan hanya di ruang rapat. Di kelas, di perpustakaan, di toilet, bahkan di kantin ia tak pernah luput mendengar namanya disebut. Bukan dalam artian baik, namanya disebut lalu diikuti dengan komentar-komentar negatif. Untung dia kebal. Kalau tidak, dia pasti sudah mengundurkan diri karena tak tahan dengan pendapat orang.
"Pokoknya tahun depan, jangan sampai kita salah memilih lagi."
"Benar. Aku berorganisasi untuk mengisi waktu luang setelah kuliah. Bukan untuk tertekan."
"Dia benar-benar penambah stress. Ku kira, jika Fang yang terpilih, kita tidak mungkin setertekan ini."
Yaya berdiri sambil menatap kosong pada sandwich yang sedang ditunggunya. Ibu-ibu bercelemek terlihat begitu kerepotan memotong-motong selada. Ditambah suara riuh yang –ia yakin- membuat pening kepala. Selain itu, ia tidak akan menoleh dan menginterupsi meja mahasiswa yang begitu senang membiacarakan dirinya
Ia hanya berharap sandwichnya cepat selesai dan dia bisa langsung menghilang ke atap kampus.
"Menyebalkan sekali ya, mendengarkan mereka berbicara tentangmu di belakang. padahal kau jelas-jelas ada di depan mereka."Suara itu berat. Aksennya tidak bisa dibilang mengandung simpati. Malah aksennya terdengar ceria seolah ikut mengejek.
Yaya menoleh ke samping dan menemukan seorang pemuda sedang tersenyum sambil bertopang dagu pada estalse.
"Apa yang kau lakukan disini, Taufan?" Yaya bertanya tanpa minat. "Aku sedang tidak ingin mendengar ocehanmu hari ini."
Taufan tidak ingin mengakhiri senyumnya. Yaya memutar mata. Malas berurusan dengan mahasiswa yang juga sering bahan obrolan di kampus. Berbeda dengan dirinya yang selalu mendapat komentar negatif, Taufan tidak pernah absen dari komentar positif, bahkan dari pada dosen sekalipun.
"Membeli sandwich. Kenapa? Tak boleh?" ia bertanya. Menggoda. "Kalau kau melarangku, penggemarku bisa ngamuk dan berbuat anarkis padamu lho."
Taufan adalah spesies berbahaya. Setidaknya itu yang dipikirkan Yaya tentang pemuda yang sering memakai kemeja biru sebagai lapisan luar kausnya. Tipe-tipe mahasiswa yang lebih suka bermain daripada belajar atau berorganisasi. Selalu umbar modus untuk memenuhi keinginannya. Tapi, yang Yaya tidak habis pikir bagaimana mahasiswa seberandalan Taufan memiliki kecerdasan dan kemampuan mengontrol organisasi melebihi dirinya.
Dengkusan kecil lolos dari bibir sang gadis. "Kau tahu kau sedang berbicara pada siapa, Taufan? Aku bahkan bisa membuat penggemarmu menangis kejang-kejang jika sampai berurusan denganku."
"Oh Astaga aku lupa!" Taufan menepuk dahinya. Pura-pura lupa. "Kau kan ketua BEM yang menyeramkan itu. Yang selalu bisa membuat satu-dua bawahannya menangis di toilet setelah rapat. Iya, kan?"
"Ah terima kasih." Yaya mengulas senyum pada sang ibu penjual. Menerima bungkusan yang menjadi alasan untuk bertahan di kantin sekalipun dia ingin meninggalkan tempat itu dari tadi. Kemudian melemparkan delikan tajam pada pemuda disampingnya."Sekedar informasi, aku tidak pernah menerima pendapat dari orang yang hanya tahu nongkrong setelah kuliah. Well, aku duluan."
Melangkahkan kaki, Yaya akhirnya terbebas dari beban yang membelenggunya. Ia akan segera menuju atap kampus. Memakan sandwichnya. Mengikuti mata kuliah selanjutnya dan pulang.
Sudah tidak ada alasan lagi untuk terus menerus berada di kampus. Ia sudah tidak ingin mendengar komentar aneh-aneh lagi tentang dirinya.
.
.
.
.
Kampus ya kampus. Yaya tidak pernah berpikir untuk memikirkan apa yang terjadi di kampusnya saat jalan pulang. Sudah cukup ia dibuat muak dengan komentar-komentar miring tentang dirinya di sana dan ia tidak mau menjadi masokis karena tidak bisa berhenti memikirkan apa yang menyakiti hatinya.
Sore ini begitu mendung. Yaya sempat merutuk dirinya karena tidak membawa payung. Tapi semoga saja ia bisa tiba di rumah sebelum hujan turun dan membuat baju dan bukunya basah kuyup.
Ia berjalan di tengah keramaian. Memperhatikan orang-orang yang berlalu lalang selalu menjadi kegiatan yang menyenangkan untuk penghilang penat. Sekumpulan anak SD yang berlari-lari, bapak tua menaiki sepeda, estalase yang masih buka padahal sebentar lagi akan hujan. Entah kenapa melihat semua itu, membuat Yaya merasa nyaman.
Ia masih berjalan. Menggenggam erat tali tas slempang. Sempat terpikir untuk membeli kue pisang supaya bisa dijadikan cemilan. Sebelum akhirnya matanya tak sengaja menemukan sesuatu yang lebih bisa menarik atensinya.
Segera ia mempercepat langkah.
"Nenek mau kemana?" ia bertanya. Sosok yang mencurinya atensinya sejak tadi adalah seorang Nenek yang kerepotan membawa dua kantung belanjaan. Habis memborong sepertinya. "Kenapa bawaan Nenek banyak sekali?"
Seperti tersentuh dengan perhatian gadis asing. Sang Nenek mengulas senyum. "Nenek mau pulang. Sudah sore. Cucu Nenek sedang menunggu di rumah. Kebetulan Nenek habis belanja keperluan untuk mereka."
"Astaga Nenek," Kepala menggeleng. Yaya memasang wajah prihatin. "Pasti berat. rumah Nenek dimana? Mau kuantar?"
"Rumah Nenek dekat kok, hanya naik bus sekali ke arah sana." Menunjuk arah yang berlawanan dari jalur Yaya seharusnya. "Tidak usah. Nenek bisa. Nenek masih kuat."
Yaya melihat ke arah yang ditunjuk sang Nenek. Arah yang berlawanan dari rumahnya. Mendadak ia dilanda dilema. Di satu sisi ia ingin sekali cepat sampai rumah, tapi ia juga tak tega melihat seorang nenek tua harus pulang sendirian sambil kerepotan membawa belanjaan. Ia benar-benar tak tega.
Yaya melirik. Nenek itu masih saja kerepotan membetulkan kantung belanjaan.
Senyum terpulas. Dua kantung segera direbut halus dari tangan sang Nenek. "Tidak apa, aku antar pulang ya Nek. Kebetulan rumahku juga ke arah sana."
"Oh begitu?" Sang Nenek ikut tersenyum. "Kalau begitu, terima kasih ya Nak. Kau baik sekali."
"Sama-sama, Nek."
.
.
.
Mengecek arloji. 19.13. Sekali lagi, ia harus sampai di rumah larut malam. Yaya tidak berani membayangkan apa yang dikatakan ayah dan ibunya jika sampai mendapati anak gadisnya pulang mangkir dari waktu yang seharusnya. Ah, tapi Yaya tidak menyesal. Ia tidak menyesal membantu sang Nenek sampai di rumah. Berbuat kebaikan itu menyenangkan. Dan dia sudah terbiasa dibesarkan seperti itu oleh keluarganya.
Ia berjalan membelah malam dan kerumunan orang berlalu lalang. Ia hanya berharap busnya tidak akan membiarkan dia menunggu lama.
"Yaya?"
Suara itu terasa sangat familiar. Satu panggilan yang menyebut namanya reflek membuatnya penasaran. Dan tak disangka-sangka. Yaya bisa bertemu dengannya di tempat seperti ini.
"Taufan?" Ia memanggil. "Sedang apa disini? Rumahmu kan berlawanan dari sini?"
Taufan melangkah hingga ia berhadapan dengan sang gadis. Ransel di punggunya sebenarnya tak membebani tubuhnya. Tapi Yaya heran kenapa Taufan perlu membungkuk hanya untuk berbicara dengan dirinya.
"Rumah Stainley ada di sekitar sini. Dan aku baru selesai mengerjakan tugasku. Jadi, ya aku disini." Ia tersenyum lebar. "Kau sendiri apa yang kau lakukan? Rumahmu kan tak jauh dari blok rumahku. Dan teman-temanmu juga tidak tinggal di daerah sini."
"Aku hanya mengantar seseorang –oh, Taufan bisakah menjauh dariku. Wajahmu terlalu dekat. Sangat tidak normal kalau kita berbicara dengan jarak yang sebegini dekat. Nanti ada orang-orang berbicara yang tidak-tidak tentang kita."
Sang pemuda mengekeh. Menjauh setelah wajahnya disingkikan Yaya. "Aku hanya mau menggodamu. Aku penasaran bagaimana kalau wajahmu merah. Mungkin aku bisa mengabadikannya dan mencetaknya kemudian aku pasang di ruang BEM besar-besar."
Taufan masih mengekeh. Yaya hanya memandang teman idiotnya dengan tatapan datar tak lebih datar dari papan triplek. "Ha Ha Ha. Maaf saja, tapi aku tidak tertawa."
Sang gadis melangkah lebih dulu. Meninggalkan sang pemuda yang tak tahu menertawakan apa.
"Memang siapa yang menyuruhmu tertawa?" Taufan berhasil menyamakan langkah. Yaya masih enggan menoleh. "Aku juga sedang tidak melucu."
" .ya terserah."
"Omong-omong Yaya." Taufan memandang lurus trotoar. Gadis di sampingnya hanya merespon dengan 'hm.' "Kenapa ya sampai sekarang kau belum punya pacar?"
Entah, Yaya harus bagaimana dengan pertanyaan yang kurang ajar keluar dari mulut Taufan. Apakah pemuda ini sengaja meledeknya atau begaimana? Tapi Yaya adalah putri dari keluarga yang dibesarkan baik-baik. Tidak boleh berburuk sangka.
"Aku sedang tidak ingin pacaran. " dijawab santai. "Ada yang lebih penting dari sekedar berpacaran. Aku bukan kau yang kerjaannya hanya putus-nyambung, putus-nyambung tanpa peduli dengan masa depan."
"Kata siapa aku tidak peduli dengan masa depan?" Taufan berjalan lebih cepat. Menghadap sang gadis seraya berjalan mundur. "Kalau saja kau tahu, rencana masa depanku lebih matang darimu, tahu."
"Oh iya?" manik hazel itu menubruk safir Taufan. Meremehkan. "Aku tidak yakin orang urakan sepertimu punya masa depan yang matang. Kerjaanmu kan hanya nongkrong dan pacaran."
"Memang apa yang salah dengan pacaran. Lagipula, pacaran dalam kamusku sebagai motivasi."
"Motivasi kepalamu," Yaya memutar mata. "yang ada kau malah merusak waktu kuliahmu dengan pemikiran tidak penting, Taufan. Malam minggu, anniversary, hadiah, ucapan selamat pagi, kencan yang menguras dompet. Semua itu tidak penting kalau kau berkenan memikirkan masa depan dan orang tuamu."
"AH- semua pembicaraan ini membuatku bosan." Keluhan tak tertahan. Taufan merenggangkan tubuh sebagai non-verbal. "Otakku masih belum mampu mencerna kata-kata yang begitu dewasa. Tidak Yaya! Jangan menceramahiku disini."
"Kau yang memulainya, dasar idiot."
Yaya tidak mau membahas apapun lagi setelah itu. Ia sudah cukup lelah dengan apa yang menimpa hari ini. fokusnya hanya satu. Pulang dan tidur. Tidak ada keinginan untuk berlarut dalam masalah. Ia sudah capek.
Diam-diam sepasang hazel bergulir. Taufan yang berjalan di sampingnya entah kenapa terasa begitu lurus. Setiap hari laki-laki itu menebar senyum penuh pesona seakan-akan tidak punya masalah. Yaya penasaran. Jika seandainya Taufan dirajam masalah, kira-kira bagaimana reaksinya?
"Aku tampan ya?" pertanyaan itu segera membuat Yaya mengalihkan pandang. Salah tingkah. "Hati-hati nanti bisa jatuh cinta padaku, lho."
"Yang benar saja," Yaya memutar mata. Sudah bosan berhadapan dengan sikap narsis Taufan. "Kau bukan tipeku."
Tertawa. "Oi oi! Aku ini paling tampan satu kampus loh, kau lupa penggemarku sebanyak apa? Jangan-jangan karena sering berduaan di BEM dengan Fang, kau jadi ketularan Tsundere-nya, benar?"
"Fang tsundere-yah aku tidak bisa membantah. Aku tsundere? Sama sekali tidak. aku selalu berbicara jujur sesuai dengan apa yang aku pikirkan."
"Oh iya?" senyum terulas. Taufan kali ini menggunakan cara andalannya yang selalu berhasil menaklukan para gadis. "Dalam hati, pasti kau bilang aku tampan kan? Mengaku saja, Yaya."
Yaya membalas dengan delikan tajam. "Tidak. kau sama sekali tidak tampan."
"Bohong. Yaya bohong."
"Aku tidak bohong. Kalau tidak percaya coba saja tes aku dengan pendeteksi kejujuran. Hasilnya akan tetap sama."
"Lalu kenapa wajahmu merah begitu?"
Tercengang. "Aku tidak merah."
Lagi-lagi Taufan tertawa. "Yang bisa melihat wajahmu saat ini aku, Yaya. Jadi apa ini? Kau sudah tidak segalak tadi? Kau ini kepribadian ganda atau apa?"
Pandangan teralih. Saat ini Yaya tidak ingin melihat Taufan. Dia tidak ingin dipermalukan. Sekalipun di depan dirinya sendiri.
"Ini hanya pantulan lampu." Ia berkata tanpa mempedulikan tatapan Taufan yang tak pernah lepas menatapnya. "Jangan salah sangka. –Ah! itu bisku. Tuh lihat gara-gara kau kita harus menunggu bus selanjutnya untuk pulang."
"Kenapa menyalahkan aku? bukannya kau yang salah karena sibuk memperhatikanku? Hm?"
Cukup. Yaya sudah lelah. Tidak bisakah Taufan berhenti menggodanya? .satu jitakan mendarat di kepala yang lebih tinggi. Taufan mengumpat seraya mengusap kepalanya.
Yaya tersenyum puas. "Sekedar informasi, aku selalu benar."
Lalu, Yaya melangkah mendekat bangku yang tersedia di halte. Bangku yang terbuat dari beri dan tak cukup panjang. Biasanya halte itu selalu ramai. Barangkali, karena hari sudah malam, Yaya tak menemukan orang lain selain dirinya dan Taufan.
Karena ia sudah cukup lelah, Yaya memutuskan untuk mengistirahatkan sejenak di bangku yang tersedia. Setidaknya kakinya dapat beristirahat setelah berjalan seharian.
"Aku juga mau duduk disini." Taufan langsung mendaratkan tubuhnya di samping Yaya. Yaya tidak mau ambil pusing dengan mendebat Taufan. Sudah malam. Lagipula dia tak ingin mengundang perhatian orang-orang yang lewat.
Angin yang berhembus malam itu mendadak menjadi musuh dalam selimut. Kelembutan yang menyapa membuat Yaya mengantuk lebih cepat. Tapi, sengantuk apapun, Yaya tetap harus bertahan. Ia tidak boleh tertidur sebelum sampai rumah.
"Taufan," jadilah dia kali ini terpaksa membuka obrolan.
"Ada apa?" Taufan menoleh. "Tumben kau memanggilku duluan."
"Aku ngantuk. Mau pisang cokelat."
Dan kalimat itu berhasil membuat pemuda di sampingnya tercenung. Jangankan Taufan, Yaya sendiri pun sebenarnya gagal paham kenapa dirinya mendadak jadi mengeluarkan nada-nada manja yang memuakkan seperti ini.
"Kau mabuk ya, Yaya? Kalau ngantuk itu tidur bukan makan. Lagipula mana ada tukang pisang cokelat malam-malam begini?"
"Tapi aku maunya pisang cokelat."
"Bagaimana kalau ciuman denganku?" Sebuah seringai muncul. Tawaran yang keluar tiba-tiba itu entah bagaimana caranya membuat kantuknya lari ketakutan. "Aku jamin kantukmu hilang. Bahkan kau bisa tidak tidur semalaman."
Sepasang hazel yang lelah kini menjeblak lebar. Yaya merasa ada yang aneh. Mendadak jantung yang semula damai kini berlomba-lomba mengetuk dadanya. Seolah kalimat penggoda yang dilancarkan Taufan, secara tak sengaja mengundang teror untuk dirinya. Bukan itu saja. Sejujurnya ia kesal, malah jika dilihat dari kerasionalitasan, modus Taufan sebenarnya mengandung pelecehan.
Tapi- aneh, kenapa aku tidak marah dan tidak ingin melancarkan tamparanku untuk Taufan, padahal dia kan sudah melecehkanku.
"Heh? Kok jadi diam?" Kekehan Taufan seolah menyadarkannya dari rasa penasaran yang baru saja bergelayutan di benak. "Wajahmu tidak usah merah begitu, Yaya. Kenapa? Jangan-jangan kau menganggap serius candaanku, ya? Heh? Jadi kau benar-benar ingin kucium?"
"Cih, siapa juga yang mau?" Yaya mengalihkan pandangan.
"Wah, wah kak jadi salah tingkah begitu?" Bahkan Yaya tidak mau melihat –tapi dia yakin- Taufan tengah tersenyum lebar menikmati ekspresi wajahnya. Tanpa diduga, sang laki-laki mendekatkan wajah. Yaya sampai kesulitan mengatur napas begitu sebuah seringai terpampang jelas-begitu dekat- di depan matanya. "Jangan malu begitu. Tidak cocok dengan imagemu sebagai ketua BEM galak. Sayang sekali ya, pengurus BEM tidak sadar kalau ketua mereka yang disegani ini bisa semanis ini kalau malu."
Sebenarnya Yaya sudah hampir lupa dengan BEM sebelum si lelaki kurang ajar menyebutnya dan membuat mood yang tadinya bagus kini hancur.
Sebuah toyoran mendarat di kepala Taufan. Sang korban –nyaris- terjengkang dari bangku. Mendadak kalimat godaan Taufan sangat memuakkan.
"Kok ditoyor sih, Yaya. kau mau tanggung jawab kalau sampai aku benar-benar jatuh?" Taufan protes sambil memegangi kepala.
"Salahmu sendiri modus padaku." Yaya tidak bisa menahan senyumnya. Senyum yang di dalamnya tersirat kepuasan. "Aku kan bukan orang yang gampang tunduk dengan modus murahan begitu."
"Tapi kau suka kan?" Memang dasar Taufan berotak bebal. Ia malah menggoda lagi.
"Jauhkan wajahmu Taufan. Kau tidak mau tanganku ini mendarat di wajahmu, kan?"
"Aku mau kalau kau gunakan tanganmu untuk mengelus wajahku."
"Yak. Najis."
"Najis najis begini, suka kan?"
"Taufan!"
"Apa sayang? Oh lihat, wajahmu merah lagi."
"Apa-apaan sih. aku tidak merah!"
"Eh kau tersenyum, Yaya?"
"Siapa yang tersenyum? Aku tidak tersenyum. –ah itu busnya!"
Beruntung bus datang lebih cepat. Yaya jadi tidak harus menanggung malu karena Taufan tak pernah berhenti menggodanya.
Banyak kursi kosong yang tersedia. Hanya ada lima penumpang yang masing-masing duduk di slot kursi terpisah.
"Sini, Yaya!"
Yaya mendongak dan melihat Taufan telah menempati kursi panjang yang ada di belakang.
Ia tak bisa menahan senyumnya. "Bisa juga dia diandalkan." Tanpa ragu, Yaya melangkahkan kakinya dan duduk di samping Taufan.
Bus berderum. Meninggalkan halte yang sepi pengunjung. Pemandangan yang tersaji di luar kaca terus berganti. Pemandangan kota di malam hari memang berbeda. Sorot lampu jalanan yang seolah tak ada habisnya. Gedung-gedung pencakar langit yang bahkan terlihat sangat hidup. Di tambah lagu Jason Mraz yang mengalun di dalam bus. Setidaknya Yaya merasa lebih tenang.
Sampai-
"Bangunkan aku kalau kita sudah sampai,"
Yaya tidak habis pikir dengan jantungnya yang seolah melompat-lompat begitu kepala Taufan menyandar di bahunya.
Ada perasaan asing. Sebuah perasaan dimana ia tidak bisa mengendalikan dirinya namun ia justru senang. Ada desiran aneh saat kulit pemuda itu tak senyaja menggesek tangannya. Ada perasaan sejuk saat ia mengalihkan pandang pada figur yang kini tengah terlelap di pundaknya. Yaya bertanya-tanya, sejak kapan ia begitu merasa nyaman di sisi Taufan?
Diperhatikannya wajah polos yang hanya berjarak beberapa jengkal dari matanya. Ingin tertawa. Bagaimana bisa wajah-wajah seorang playboy dapat berubah begitu tenang saat ia tertidur. Alis, mata, hidung, rahang, bibir, dagu, dan postur tubuh yang bagus, Yaya kini memahami bagaimana gadis di luar sana bisa tergila-tergila padanya hanya sekali tatap. Beruntung dirinya kebal dan tidak mudah hanya dengan melihat wajahnya.
Yaya tersenyum, kembali menatap jalanan yang dibalut langit malam. Dalam hatinya berujar, terimakasih, telah menjadi moodboosterku, Taufan.
.
.
.
"Ini surat dari kampus pusat. Mereka meminta perwakilan dari BEM kita untuk datang ke acara seminar mereka. Lebih tepatnya mereka kekurangan panitia dan ku rasa mereka bermaksud menambal kekurangan itu dengan pengurus kita."
Amplop putih di terima. Yaya melirik pada si pengantar pesan. Fang tanpa sungkan mendaratkan tubuhnya di lantai. Tidak bermaksud apa-apa, pemuda dengan rambut ungunya itu hanya ingin beristirahat setelah semalam begadang bermain game. Dan tidak ada tempat nyaman untuk merebahkan diri selain di ruangan BEM.
"Apa tidak bisa mengambil dari fakultas lain?" Yaya membuka amplop. Membaca seluuh paragraf dengan seksama. "Pengurus kita sudah terlalu sibuk dengan seminar yang akan diadakan seminggu lagi. Kalaupun kita mau mengirim panitia, sebaiknya cari pengurus yang tidak terlalu berperan pada seminar yang kita adakan. Menurutmu siapa?"
"hah ... entahlah." Ada kesan malas dalam suaranya. Fang sudah menutup matanya dengan sebelah lengan. "Kau pasti sudah tidak bisa mengirimku. Aku sangat sibuk. Jangan kau tambah pekerjaanku, Yaya."
"Ya. ya," Yaya mengangguk. "Aku tahu itu Fang. Memangnya kau pikir aku sejahat itu mengirimmu pergi?"
Terdengar kekehan. Yaya mendelik. Ia sudah bisa menebak kemana obrolan ini berlanjut. "Kau kan memang jahat, Yaya. Ketua sadis. Setiap rapat ada saja yang kau buat menangis. Untung aku sudah terbiasa dengan sifatmu."
Menghela napas, Yaya berdiri. Melangkah pada kaca besar yang menampilkan pemandangan bawah –depan kampus. "Yah, kalau seandainya mereka tahu aku seperti itu juga demi BEM. Kau sendiri tahu kan aku seperti apa kalau di luar kampus?"
"Ya, makannya aku bilang aku sudah terbiasa dengan sifatmu."
"Hm, memang cuma kau yang bisa mengerti aku." Yaya tertawa. "Apa ini yang dinamakan ikatan antara atasan dan sekretaris?"
"Mungkin. Padahal aku tidak pernah membayangkan akan berakhir jadi sekretarismu." Yaya dapat mendengar sarat tawa di sela kalimatnya. "Oh ya, jadi bagaimana? Siapa yang mau kau kirim?"
Pemandangan di kaca tampak menarik. Yaya mengetukkan telunjuknya secara abstrak. Berpikir. "Sepertinya Amy dan Amaar boleh juga. Mereka hanya anggota divisi kan?"
"Yah, ku pikir juga begitu."
"Baiklah. Kau hubungi mereka, lalu suruh menghadapku sekarang."
Sang sekretaris terlonjak dari tidurnya –yang tidak jadi. "Yaya, yang benar saja." Protes. "Aku baru mau berhasil memejamkan mataku."
"Tidak Fang." Yaya menggeleng. "Sekarang. Kalau aku bilang sekarang ya sekarang. Kalau ditunda-tunda aku takut aku punya urusan mendadak."
"Nanti saja, Ya."
"Tidak." Kali ini Yaya melangkah kepada Fang. Berjongkok dan menarik paksa lengan sang pemuda hingga ia mengganti posisi menjadi duduk. "Aku mau sekarang. Sana, nanti kau keburu kehilangan mereka."
Tidak ada pilihan. Fang berdiri malas walau sebenarnya ia masih tak terima acara tidurnya ditunda. Padahal dia hanya punya lima belas menit sebelum mata kuliah yang selanjutnya dimulai. "Baiklah. Baiklah. Kau menang. Akan ku laksanakan titahmu, Yang mulia."
Yaya tersenyum. Melihat pemuda arogan seperti Fang menurut padanya entah kenapa memunculkan sensasi kesenangan tersendiri. Sebenarnya ia juga tidak setuju dengan karakternya yang seperti itu. Karena bagaimana pun karakter aslinya adalah wanita yang lemah lembut. Tapi kalau di pikir-pikir tidak ada salahnya bersikap kejam sedikit. Toh kalau terlalu baik, nanti yang ada malah diinjak-injak, kan?
.
.
.
"Melihatmu sendirian di atap, pasti kau punya masalah lagi. Benar kan, Yang Mulia?"
Suara ejekkan itu lagi. Yaya tidak memutuskan untuk menoleh. Karena dia sudah tahu siapa yang berani mengganggu acara 'me time' nya di atap. Hanya satu orang. Dan orang itu adalah orang yang paling ingin dia hindari karena –Yaya tidak tahu sejak kapan- membuat jantungnya tidak tenang setiap kemunculannya.
"Oh, kau bawa dadar gulung!" Si pengganggu langsung mendaratkan tubuh di sampingnya. "Suapi aku dong,"
Yaya masih tetap fokus pada makanannya. Sekalipun Taufan sudah memasang pose minta disuapi.
"Beli sendiri saja sana." Garpu menusuk. Yaya tanpa sungkan menyuapkan dadar gulung ke mulutnya sendiri.
"Kau kejam ya kalau di kampus." Taufan mencibir. Yaya tersentak saat tangan yang menggenggam garpu digenggam oleh pemuda bermata biru. Sekali lagi dadar gulung ditusuk. Taufan tanpa beban menggenggam tangannya dan mengarahkannya ke mulut sang pemuda.
"Begini saja apa susahnya," Pemuda itu tersenyum seraya mengunyah dadar gulung. "Kan mesra kalau kau menyuapiku begini."
Yaya membeku. Masih terpaku pada sosok yang masih menggenggam tangannya. Yaya benar-benar tidak mengerti. Mengapa Taufan ahli sekali membuat dirinya tercengang.
"Nah aaa~" entah sadar atau tidak, Yaya membuka mulutnya sendiri saat Taufan berganti menyuapi. "Lihat, kita seperti pacaran saja, ya." dia tertawa.
Terhenyak dari lamunannya. Yaya segera melepas tangannya dari cengkraman Taufan. "Apa-apaan sih. Kenapa kau selalu saja mengangguku? Kenapa kau tidak nongkrong bersama teman-temanmu saja, huh?"
"Tuh kan kau sepertinya memang memiliki kepribadian ganda, Yaya." Dadar gulung dalam kotak makan dicomot tanpa izin. "Kalau di kampus kau kejam, padahal waktu itu kau tak berhenti senyum-senyum memperhatikanku tidur di pundakmu."
Mata Yaya melebar. Sedangkan pemuda disampingnya hanya melancarkan tatapan polos.
Yaya mencibir, "Yang benar saja. aku tidak senyum-senyum."
"Berarti kau mengaku kalau memperhatikan?"
"Apa?"
"Tuh kan wajahmu merah lagi." Taufan tergelak. "Wajahmu yang seperti ini hampir membuatku tidak percaya kalau kau adalah ketua BEM galak yang ditakuti. Malah aku bisa bilang kalau ketua BEM ini sebenarnya punya rasa terpendam padaku."
Yaya menoleh. Menatap berani. "Aku sama sekali tidak naksir padamu."
"Benarkah?" Taufan mendekatkan wajah. Dan Yaya sudah bisa dibuat bergidik dengan napas yang menerpa wajahnya tiba-tiba. "Mau kubuktikan dengan satu ciuman, aku jamin kau langsung tergila-gila padaku."
Terpaku sejenak. Yaya tidak bisa menahan tangannya untuk mencubit lengan sang pemuda. "Dasar mesum!"
"Aw sakit Yaya!" Taufan mengusap lengan, "Aku heran kenapa gadis yang terlihat manis sepertimu bisa punya watak singa."
Yaya tersenyum puas. "Itu hukuman buatmu." Lalu merona malu-malu, "Tapi terima kasih loh aku dibilang manis."
Taufan memutar mata. Yaya tertawa karena bisa membuat Taufan mengetahui sisi narsisnya.
"Oh iya Yaya, aku sebenarnya datang kesini membawakanmu sesuatu."
"Sesuatu?" Sebelah alis terangkat.
Taufan tersenyum. Tangannya bergerak menuju saku. Mengambil sesuatu.
"Ah cokelat!" Yaya terpekik melihat sebatang cokelat mendarat di telapak tangan Taufan. Seperti anak kecil yang kegirangan mendapat hadiah. Matanya berbinar-binar memandang laki-laki di sampingnya. "Buatku?"
Taufan mengangguk. Di dunia ini cokelat adalah favorit Yaya. Yaya bahkan pernah menghabiskan satu box jumbo cokelat dalam sekali lahap. Dan melihat cokelat di tangan Taufan segera membuat nalurinya terpanggil. Ada perasaan senang yang menggebu-gebu saat tangannya menyentuh batang cokelat itu.
"Taufan, terima kasih ya," kalimat itu tulus meluncur dari kebahagian yang mendadak. "Kau baik sekali."
Taufan mengangguk. Tersenyum. "Tidak masalah. Aku mendapatkan itu dari kakaku yang baru pulang dari Jepang. Kebetulan aku ingat kau suka cokelat, jadi yah tidak ada salahnya kalau aku berikan padamu."
"Boleh aku makan sekarang?"
Mengangguk, "Makan saja. Baru kadaluarsa kemarin. Kau tidak akan mati."
Tercengang. "Kadaluarsa?" kalimat terakhir dari Taufan seolah menampar. Seperti air yang tiba-tiba memadamkan kobaran harapan yang terlanjur besar.
Yaya sungguh dibuat tercengan dengan ekspresi Taufan yang tersenyum lebar –terlalu bahagia dan puas- seolah tak punya dosa.
"Kau memberiku cokelat kadaluarsa?" Yaya menggeram. "Dasar! Bodoh sekali aku percaya padamu-"
"-eh jangan dilempar begitu." Tangan yang siap melempar cokelat dari ketinggian digenggam tiba-tiba. Yaya mendelik. "Sebenarnya aku bohong. Cokelat ini belum kadaluarsa. Kadaluarsanya masih seminggu lagi. Hahaha menyenangkan sekali membuat wajahmu kebingungan seperti ini, Yaya."
"TAUFAN!"
Yaya menaruh cokelatnya di samping. Ia segera melancarkan seribu cubitan untuk membalas laki-laki yang jahilnya benar-benar kelewatan.
"AW! Yaya sakit! Sudah cukup Yaya, ampun!" Taufan berusaha menghindar.
Tapi tetap saja, Yaya tidak puas kalau tidak membalas perbuatan Taufan sampai ke akar. Ia terus mencubiti. Lengan. Perut. Masa bodo. Yaya sudah tidak bisa dipermainkan. "Rasakan! Tidak akan ada ampun kali ini!"
"Yaya hentikan"
"Heh! Jangan kabur kau, Taufan. Aku masih belum puas menghukummu!"
Terjadi acara kejar-kejaran di atap sekolah sore itu. Taufan terus berlari dan Yaya mengejar. Tidak ada perasaan marah pada sang gadis. Yang terlihat dari wajahnya hanyalah tawa saat ia berhasil membuat pemuda yang menjahilinya terbirit-birit.
Yaya tidak bisa menampik bahwa memang ada perasaan lain yang ditujukannya untuk Taufan. Dia adalah gadis yang tegas dan egois. Dipandang sebagai oknum yang bijaksana oleh rekan-rekannya. Tapi entah mengapa hanya disamping pemuda ini, Yaya dapat bersikap seperti dirinya yang biasanya. Seperti mahasiswa pada umumnya yang bisa tertawa lepas. Seolah segala beban yang mampir di pundaknya entah mengapa terasa ringan saat Taufan di sisinya.
"Sini, kejar aku." Taufan berdiri tak jauh darinya. Kedua tangannya direntangkan. Bermaksud mengundang. "Aku akan mempersilahkanmu mencubitiku sampai kau puas."
"Apa-apaan ini?" Yaya tersenyum. Mengalihkan pandang seraya tersenyum. Lalu menatap pemuda di hadapannya. "Awas kau Taufan!"
Yaya berlari. Melangkahkan kaki dengan tujuan akan mengahbisi Taufan setelah ini. Tapi mendadak ia dibuat beku dengan Taufan yang tiba-tiba saja mendekapnya.
Yaya sudah tidak bisa mengontrol detak jantungnya. Ia tidak pernah membayangkan bahwa tubuhnya dan tubuh Taufan akan menempel sebegini dekat. Ia tidak pernah berpikir akan mencium aroma Taufan dari jarak yang seiintim ini.
"Yaya," Laki-laki yang mendekapnya memanggil. "kurasa aku menyukaimu."
Baru kali ini Yaya bisa merasakan sentuhan angin senja membelai pori-pori wajah. Dalam rencana masa depannya ia tidak pernah terbayang akan mendapat pernyataan itu dari mulut seorang Taufan. Selama ini Taufan selalu berbuat jahil padanya, jadi siapa tahu kan kalau saat ini dia juga menjahilinya.
"Taufan," Yaya melepas pelukan. Menatap sepasang safir yang tak henti menatapnya. "Aku ... kau pikir aku akan tertipu lagi, huh?! Dan apa kau tahu? Aku hampir percaya pada kata-katamu tadi. Tapi kali ini, aku tidak akan tertipu."
Juluran lidah Yaya berikan untuk pemuda yang saat ini tengah tercengang. "Aku pergi. Aku sudah tidak mempan lagi kau tipu."
"Tapi Yaya, aku benar-benar suka padamu!"
"Ya!" Yaya berteriak. "Aku percaya padamu, Taufan. Kau bohong saja aku percaya."
Dasar Taufan, memangnya kau pikir aku benar-benar percaya? Makan tuh. Aku tidak semudah itu terjerat kejahilanmu.
Dan Yaya kembali dibuat terpaku saat Taufan berhasil memerangkap tubuhnya dari belakang. Niat untuk kembali ke kelas berkhianat entah kemana.
"Aku benar-benar suka padamu, Yaya. kenapa kau tidak percaya?"
Yaya tidak tahu –apakah ini hanya perasannya saja- atau tadi Taufan mengatakannya dengan begitu serius.
Entah hati siapa yang paling berdesir. Meskipun ada sengatan halus dalam otaknya. Yaya merasa tidak dapat berkutik saat ia dalam kuasa penuh sang pemuda. Tidak ada sorakan dalam hati karena ia tahu bahwa ia tak bertepuk sebelah tangan. Yaya hanya tidak tahu bagaimana memberikan balasan yang impas untuk pernyataan Taufan.
"Tidak." Yaya menjawab tanpa ada keinginan untuk melepaskan diri. "Kau kan selalu jahil padaku."
"Tapi kali ini aku serius, Yaya. aku benar-benar menyukaimu? Dan sikapmu yang tidak menolakku saat ini, membuatku semakin menyukaimu."
Yaya tidak menjawab. Karena ia merasa Taufan masih ingin mengungkapkan apa yang ingin dia ungkapkan.
"Kau tahu kenapa aku selalu mengganggumu? Itu karena aku selalu ingin melihat wajahmu yang tertawa. Setiap kali berpapasan denganmu kau selalu menekuk wajah. Ya, aku tahu kau tertekan dengan BEM dan segala komentar tentangmu. Dan melihatmu begitu aku jadi tidak tahan, aku memikirkanmu terus-terusan. Aku ingin menjadi orang yang selalu membuat stressmu hilang, dan aku sudah tahu jawaban atas pertanyaanku selama ini. ternyata aku suka padamu, Yaya."
Bohong jika Yaya tidak merasakan jantungnya semakin melompat menjadi-jadi. Peryataan cinta yang tak pernah disangkanya itu entah bagaimana caranya membuat fokusnya sirna.
Yaya melepas pelukan. "Buktikan kalau kau benar-benar suka padaku." Ia berkata tanpa menoleh. "Aku tidak terima omong kosong."
"Eh, akan ku katakan setiap hari kalau aku menyukaimu."
Yaya tidak menoleh meskipun Taufan sekarang mengejar langkahnya yang bersiap menuju pintu.
"Itu saja tidak cukup." Yaya masih fokus melangkah.
Langkahnya terhenti. Taufan tanpa ragu menggenggam tangannya. Memaksa hazel miliknya jatuh pada safir yang menatapnya penuh kehangatan. "Bagaimana kalau kencan pertama?"
Yaya mengerutkan dahi.
"Kita ke taman hiburan Sabtu ini, bagaimana?" Taufan memandangnya penuh harap.
Yaya terdiam.
Mencubit dagu.
Berpikir.
Dan setidaknya ia bisa memberikan senyum pada pemuda yang terlihat begitu berharap. "Akan kupertimbangkan."
Di atas atap kampus, sore itu, Yaya dibuat terpesona hanya dengan memandang wajah yang terlihat bahagia di hadapannya. Dan ia tidak menolak saat Taufan kembali mendekapnya. Jantungnya memang melompat-lompat, tapi ia tidak merasa keberatan sama sekali. Ia justru merasa ... bahagia. Lagipula tidak ada salahnya mencoba sesuatu yang baru. Mencoba berhubungan dengan Taufan, Yaya tidak berpikir itu adalah sesuatu yang buruk. Mungkin akan jadi hal menyenangkan.
Karena Yaya tidak pernah tahu kapan dirinya akan kembali bertemu dengan orang seperti Taufan. Pemuda yang selalu membuat moodnya naik dan membuatnya lupa dengan segala masalahnya.
Mungkin Sabtu nanti akan menjadi awal yang menyenangkan untuk dirinya. Dan dia tak sabar untuk menantikannya.
.
.
.
FIN
A/N : Karena aku pengen kasih asupan ke Meltavi, akhirnya aku publish ini. semoga suka ya. ampun, dulu aku nulisnya emang alay :')
