a fanfiction about Sasuke/Sakura by vyeee

naruto not mine.

Sakura dengan pelan merapikan anak rambutnya yang tertiup oleh angin saat ia menekan tombol introcome yang ada pada di depannya.

Hari ini adalah akhir dari musim panas, dimana angin-angin musim gugur yang bertiup cukup kencang. Sebenarnya ia cukup malas untuk keluar rumah pada hari liburnya, tapi mau bagaimana lagi ia memiliki janji untuk belajar bersama dengan Sasuke.

Banyak sekali tugas rumah yang harus di kerjakan, dan beberapa bulan lagi akan di adakan ujian kelulusan. Ia yang sekarang pada tingkat terakhir harus benar-benar belajar.

Sakura menunggu pintu tersebut terbuka dengan sabar. Lalu tidak lama kemudian pintu tersebut mengayun terbuka, menampakan penampilan Sasuke yang seperti baru saja bagun dari tidurnya.

Terlihat dari rambut hitamnya yang berantakan dan wajahnya yang masih terlihat mengantuk, bajunya juga terlihat kusut seperti rambutnya.

Tentu saja, sebenarnya mereka mengadakan pertemuan saat pukul sebelas pagi, dan sekarang masih jam sembilan pagi. Sakura hanya bisa tersnyum melihat Sasuke yang mengerutkan wajahnya dengan masam.

"Pagi Sasuke." Sapa Sakura sambil melangkah masuk, mendorong tubuh Sasuke ke samping agar ia bisa masuk lebih dalam ke apartrmennya.

"Ku pikir seseorang salah membaca pesan atau mengetik sebuah pesan?" Gerutu Sasuke sambil menutup pintu apartemennya dengan pelan.

Sakura langsung meletakan ranselnya di atas sofa, lalu ia langsung duduk dengan nyaman di atas sofa tersebut. Matanya terpejam menikamati aroma maskulin milik Sasuke ini.

"Hanya bersemangat untuk belajar dan mengerjakan beberapa pekerjaan rumah." Ucap Sakura langsung di tanggapi dengusan kesal dari Sasuke.

Sakura langsung mengeluarkan beberapa buku tugas yang akan ia kerjakan bersama Sasuke. Dan mengeluarkan beberapa cemilan yang ia beli di konbini yang dekat dengan apartemen milik Sasuke.

Saat mendengar Sasuke yang pamit untuk membersihkan tubuhnya, Sakura hanya bergumam pelan untuk menjawabnya.

Sambil menunggu Sasuke selesai mandi ia akan mengerjakan tugas bahasa inggris terlebih dahulu, sesekali ia pun sambil memakan cemilan yang ia bawa.

Beberapa menit kemudian ia mendongakkan kepalanya saat mendengar beberapa buku yang di letakan di depannya.

Sakura menatap Sasuke yang sudah selesai mandi, ia sudah berpakaian santai. Dengan kaos hitam polos, dan celana selututnya. Rambutnya masih agak sedikit basah, dan dari jarak yang sedikit dekat ia bisa mencium aroma wangi Sasuke.

Tanpa sadar pipinya terasa hangat, ia pura-pura terus mengerjakan tugasnya, mengabaikan Sasuke yang sudah duduk bersila di depannya.

Memandang Sasuke yang sudah terlihat fokus mengerjakan tugasnya sendiri membuat wajahnya semakin memerah. Sakura akui, Sasuke benar-benar sangat tampan, dengan hidungnya yang mancung, mata gelapnya, rambut biru kehitamannya, Sasuke benar-benar sangat menghipnotis lawan jenisnya.

Tapi untuk Sakura, Sasuke masih kalah dengannya.

Kakaknya, Senseinya. Shimura Sai, Yang selalu ia panggil 'Onii-Chan'. Seseorang yang begitu dekat dengan dirinya.

Tiba-tiba Sakura tersentak dari pikirannya. Ia ingat, satu tahun dekat dengan Sasuke, dan beberapa bulan ini ia hampir tidak pernah membanding-bandingkan antara Sasuke dan Sai.

Dan hari ini ia pertama kalinya membandingkan kembali mereka berdua.

Ia mengerang pelan, beberapa bulan ini perasannya begitu tidak menentu. Ia sebenarnya sudah menyerah dengan bagaimana perasaanya. Bagaimana dengan kakaknya yang begitu ia cintai dan bagaimana dengan Sasuke yang sudah menjadi pelampiasan perasaanya terhadap Sai.

Sakura meletakan penanya, mengabaikan tugas bahasa inggris yang hampir selesai ia kerjakan. Ia menelungkupkan kepalanya, bagaimana tiba-tiba ia merasakan kepalanya pusing.

"Kenapa?" Sasuke bertanya, Sakura menolehkan kepalanya memandang ekspresi Sasuke yang begitu minim.

Ia mengambil stik pocky pada bungkusan yang sudah terbuka, lalu menggigitnya pelan, menghabiskan satu stik terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaan Sasuke.

"Tidak apa-apa." Jawabnya sambil mengambil satu stik lagi, mengabaikan denguskan Sasuke yang menyebalkan.

"Kau belum selesai mengerjakan tugas bahasa inggrismu." Kata Sasuke masih sambil merangkum tugas sejarah yang terdapat pada buku paketnya. Sakura hanya menganggukan kepalanya, tangannya masih terus mengambil stik pocky.

"Tinggal dua lagi akan selesai." Jawabnya, kemudian ia mengambil penanya untuk melanjutkan pekerjaanya.

Mereka berdua terlarut oleh pekerjan mereka masing-masing. Terkadang jika Sakura tidak mengerti dengan beberapa pertanyaan, ia selalu bertanya pada Sasuke, lebih tepatnya selalu meminta Sasuke mengerjakannya.

Sebenarnya tanpa belajarpun Sasuke sudah sangat pintar. Dia termasuk orang-orang yang masuk pringkat. Dia selalu menjadi pringkat ke dua di angkatannya.

Beberapa jam kemudian erangan Sakura lebih kencang, merasakan kepalanya begitu penat setelah mengerjakan matematika. Ia langsung merebahkan dirinya, menutup matanya merasakan hawa dingin dari mesin pendingin yang di nyalakan oleh Sasuke.

Sasuke yang masih menulis hanya bisa menatap Sakura dengan datar, tangannya berhenti hanya untuk mengambil air dingin yang ada di depannya lalu ia meneguknya dengan pelan.

"Aku menyerah untuk mengerjakan matematika." Ucap Sakura sambil bangkit duduk dari rebahannya. Ia kemudian menutup bukunya mengambil buku lainnya untuk ia kerjakan.

Hanya gumaman pelan dari Sasuke, Sakura kembali menatap rupa Sasuke yang masih santai mengerjakan tugas-tugasnya.

Matanya menangkap bagaimana jari-jari panjang dan ramping milik Sasuke yang sedang memegang sebuah pena, raut wajahnya yang terkadang mengerut dengan pelan, atau kadang saat ia mendengus dengan pelan.

Dan tiba-tiba saja wajah Sakura terasa hangat kembali. Ia langsung memalingkan wajahnya.

Ia berdeham pelan, menetralkan suara gugupnya sebelum bertanya pada Sasuke.

"Setelah kelulusan kau akan melanjutkan studi kemana, Sasuke?" Tanya Sakura, menutup bukunya dan mengambil pockynya kembali.

"Kuliah tentu saja." Jawabnya singkat. Masih terfokus dengan bukunya.

Sakura mendengus pelan. "Ya, aku tahu. Lebih tepatnya kemana." Tanyanya lagi. Jawaban Sasuke masih kurang jelas, pikirnya.

Sasuke mengangkat bahunya pelan, masih bingung untuk memutuskannya. "Tidak tahu. Aku masih belum menentukannya." Kepala Sakura mengangguk. Ia pikir orang sepintar Sasuke sudah menentukan masa depannya nanti.

"Sakura." Panggil Sasuke pelan.

"Ya, Sasuke?" Jawabnya masih memakan pocky kesukaannya.

"Aku ingin mengatakan perasanku pada Yamanaka-Sensei." Ucap Sasuke membuat kunyahan Sakura otomatis berhenti.

Tangannya terulur, mengambil gelasnya dan langsung meneguk airnya. Ia merasa begitu kaget dan tiba-tiba susah untuk menelan pockynya.

"Kalau begitu aku juga. Aku juga ingin mengatakan perasaanku pada Shimura-Sensei." Jawabnya setelah menandaskan air minumnya, ia meletakan gelasnya kembali di atas meja. Matanya memandang Sasuke yang sudah berhenti menulis.

"Aku belum menentukan kapan aku akan menyatakan perasaanku."

Sakura memiringkan kepalanya, memikirkan waktu yang tepat untuk menyatakan perasaan mereka pada masing-masing orang yang mereka sukai.

"Tapi aku juga berpikir untuk menyatakannya pada hari minggu, lusa nanti." Lanjutnya, tubuhnya ia senderkan pada sofa. Matanya tertutup dengan pelan.

"Minggu, lusa nanti." Ulang Sakura pelan, memandang Sasuke yang begitu terlihat menyedihkan. Sama seperti dirinya.

Cinta yang benar-benar membuat mereka begitu menyedihkan.

Sakura mendekat ke arah Sasuke, menggenggam telapak tangan Sasuke dengan erat. Sakura langsung menatapnya dan ia memberikan senyumannya. Menyemangati untuk dirinya dan Sasuke.

Sasuke balas menatap Sakura, menatapnya langsung ke arah mata hijaunya yang begitu jernih, yang selalu membuatnya begitu tenang, mata yang begitu sendu, dan menyimpan begitu banyak kesedihan.

Ia melepaskan telapak tangan Sakura yang begitu hangat, dengan perlahan ia mengelurkan tangannya dan menyentuh garis rahang wajah Sakura. Begitu pas di telapak tangannya, kulit wajah yang begitu lembut, begitu bersinar di matanya.

Dengan hidung yang kecil dan mancung, keningnya yang begitu lebar tidak mengurangi kecantikan milik Sakura.

Sasuke melihat bagaimana rona merah yang tiba-tiba begitu muncul di kedua pipinya, yang selalu membuatnya ingin mengecupnya.

Dan entah siapa yang memulainya, mereka tiba-tiba sudah menempelkan bibir mereka masing-masing. Hanya beberpa kecupan ringan, kening mereka saling menyentuh saling merasakan hembusan napas hangat mereka.

Kemudian Sasuke langsung memanggut bibir Sakura dengan tidak sabar, mengulum bibir bawah Sakura yang membuat kepalanya mendongak.

Tangan Sakura sendiri sudah mengalungi leher Sasuke guna untuk memperdalam ciuman mereka. Ia memiringkan kepalanya untuk mencari sudut-sudut yang pas. Gigi Sasuke terkadang menggigit bibir bawahnya dengan pelan, membuat bibir Sakura terbuka, dan mengeluh dengan pelan bagaimana ia begitu menikmati ciuman yang di berikan olehnya.

Ia bisa merasakan bagaimana lidah Sasuke yang melilit lidahnya saat bibirnya terbuka. Dengan pelan tangan Sasuke mendorong bahu Sakura agar ia bisa membaringkan tubuhnya.

Sasuke langsung menindih tubuh Sakura, melepaskan ciuman mereka guna untuk menarik napas untuk paru-paru mereka. Hidungnya menangkap arona rambut Sakura yang beraroma jeruk segar, ia menghirupnya dengan pelan, lalu hidungnya kemudian menelusuri kulit wajahnya dan bagian lehernya dengan lembut.

Mata Sakura sendiri terpejam saat merasakan bagaimana hidung Sasuke yang mengendusnya di bagian belakang telinganya. Membuat ia mengerang dengan pelan. Ia memiringkan kepalanya untuk memberikan akses lebih untuk Sasuke.

Sakura mengerang dengan sedikit keras saat merasakan bagaimana kulit lehernya yang di hisap oleh bibir Sasuke bersamaan dengan kedua payudaranya yang di remas oleh Sasuke.

Matanya terpejam, mulutnya sedikit terbuka akibat ulah yang di lakukan oleh Sasuke. Ia bisa merasakan rasa ketakutan Sasuke saat ia meremas payudaranya tadi.

Kepala Sasuke sendiri kini terbenam di lekuk lehernya. Terasa begitu hangat karena hembusan napasanya.

"Apa kau merasa takut, Sasuke?" Tanya Sakura yang langsung di jawab anggukan kepala Sasuke. Tangannya memeluk tubuh Sasuke yang ada di atasnya dengan begitu erat. Ia tidak merasa berat dengan tubuh Sasuke, ia malah menikmatinya.

Tidak lama ia melepaskan pelukan pada tubuh Sasuke, perlahan tangannya menyentuh rambut hitam halus milik Sasuke dan tangannya menelusuri wajah tidak ramah miliknya kemudian tangannya menangkup rahangnya untuk menatap ke arah wajahnya.

"Ya, aku benar-benar takut. Padahal kita tahu apa jawaban mereka pada kita nanti, tapi aku sudah merasakan ketakutan itu sekarang." ucapanya sambil mengalihkan tatapan matanya ke arah lain.

Dan kemudian bibirnya kembali mengecupnya dengan pelan.

"Kau bisa membayangkan bahwa aku ini adalah Yamanaka-Sensei." Ucap Sakura tanpa pikir panjang. Membuat tubuh Sasuke yang ada di atasnya menegang.

Kemudian dengan cepat Sasuke langsung menegakan tubuhnya, duduk di atas pahanya dan memandang Sakura dengan diamnya. Sakura yang melihat tindakan Sasuke yang begitu tiba-tiba hanya bisa memandangnya dengan heran.

"Apakah hanya aku saja yang membayangkan dirimu adalah Yamanaka-Sensei?" Gumam Sasuke yang masih terdengar oleh Sakura.

Ia langsung diam begitu mendengarnya. Sakura sendiri merasa kaget dengan dirinya. Ia sendiri yakin bahwa dirinya dalam beberapa bulan ini memang terkadang sudah tidak membayangkan Sasuke itu adalah Sai.

"Aku merasa begitu buruk saat aku membayangkan dirimu adalah Yamanaka-Sensei. Entah sejak kapan." Akunya yang membuat Sakura kaget.

Sakura menggeleng, jangan bilang kalau Sasuke sendiri sudah tidak pernah menganggap bahwa dirinya adalah Yamanaka-Sensei. Kepalanya mendongak melihat bagaimana ekspresi Sasuke yang terlihat sangat kebingungan.

Dan matanya ia tidak salah melihat saat melihat bagaimana pipinya yang sedikit merona. Melihat itu membuat detak jantung Sakura sedikit cepat, jangan bilang kalau Sasuke sudah merasakan perbedaan perasaan mereka saat dulu dan sekarang.

"...tidak." Sakura bergumam pada dirinya.

"Aku tidak tahu kapan tepatnya. Tapi aku benar-benar tidak bisa membayangkan bagaimana rupanya yang ada pada dirimu. Semuanya terlihat kabur saat aku membayangkannya. Yang aku tahu, saat aku menciumnya atau saat aku memelukmu, kau bukan dirinya. Hanya kau, Sakura." Ucap Sasuke panjang, tangannya menggaruk pelan belakang lehernya merasakan begitu gugup saat mengatakannya.

Sasuke kembali ke duduk semulanya, menyenderkan punggungnya dan kembali menutup matanya. Ia benar-benar bingung dengan situasi sekarang.

"Karena itu aku ingin cepat-cepat menyatakan perasaanku pada Yamanaka-Sensei, aku akan menerima bagaimana jawabannya nanti. Yah, padahal aku sudah tahu bagaimana jawabnnya." Ucapnya sambil tertawa pelan.

Sakura tidak menjawab ucapan Sasuke. Ia duduk di samping Sasuke, tidak melanjutkan mengerjakan tugas pekerjaan rumahnya.

Mereka sama-sama diam menikmati keheningan mereka. Sakura sendiri masih sedikit tegang mendengar pengakuan Sasuke, bagaimana ia sudah tidak bisa membayangkan bahwa dirinya adalah Yamanaka-Sensei. Jantungnya masih berdetak sedikit kencang, masih merasakan bagaiaman guncangan yang di akibatkan oleh pengakuannya.

Sakura sendiri merasa bingung. Ia menikmati bagimana kehadiran Sasuke yang mengisi hatinya yang begitu kosong karena cintanya yang bertepuk sebelah tangan. Bagaimana ia bisa merasa begitu nyaman hanya dengan diamnya Sasuke, bagaimana terkadang Sasuke begitu perhatian pada dirinya.

Karena semua itu, ia sendiri sudah tidak pernah membayangkan Sasuke adalah Shimura Sai.

Ia membenamkan wajahnya pada lututnya. Menyembunyikan air matanya yang tiba-tiba keluar. Ia benci saat dirinya begitu lemah.

Lemah hanya karena sebuah perasaan. Perasaan yang membuatnya sakit dan tersiksa.

.

.

.

.

Sakura memandang punggung tegap Sasuke yang ada di depannya. Mereka menghabiskan sisa waktu belajar mereka dengan menonton film.

Setelah mereka hanya diam dalam keheningan, Sakura saat itu langsung menyuruh Sasuke untuk memasak makanan dan ia sendiri menyalakan televisi.

Sasuke sendiri tanpa protes atau apapun langsung bangkit dari duduknya, dan langsung ke arah dapur untuk membuat makanan untuk mereka berdua.

Mereka menghabiskan sisa waktunya untuk mengomentari film yang mereka tonton, menertawakan bagaimana kelakuan konyol para aktornya. Melupakan obrolan mereka tentang perasaan mereka masing-masing. Dan tanpa terasa waktu sudah berlalu dengan cepat.

Sakura langsung membereskan semua perlaratan makan mereka, mencuci bersih dan meletakannya dengan benar. Setelah semuanya selesai ia tinggal memberekan barang-barangnya sendiri.

Sakura sudah menolak Sasuke untuk tidak mengantarnya pulang, tapi karena ia tahu bagaimana watak keras Sasuke jadi ia menyerah dan membiarkan Sasuke melakukan sesukannya.

Dan sekarang ia berjalan bersama, dalam keheningan di malam terakhir musim panas.

Dengan pelan Sakura mengambil pergelangan tangan Sasuke, membuatnya berhenti berjalan. Sasuke menolehkan kepalanya dan memandang Sakura dengan raut wajah herannya.

"Kita bisa berhenti disini saja, sisannya aku akan pulang sendiri." Ucap Sakura masih dengan menggenggam pergelangan tangan Sasuke.

"Ya sudah, kalau begitu hati-hati." Jawab Sasuke sambil melepaskan pegangan tangan Sakura. Ia dengan pelan memeluk tubuh Sakura, memberikan pelukan hangatnya padanya.

Sakura yang mendapatkan perilaku tersebut hanya bisa diam. Tidak bisa membalas apa yang di lakukan oleh Sasuke. Setelah beberapa detik memeluknya Sasuke langsung melepaskannya dan mengacak rambut Sakura dengan pelan.

"Kalau begitu, selamat malam Sakura." Ia berbalik setelah mengucapkan salamnya. Sakura hanya bisa menganggukan kepalanya untuk membalas salam Sasuke.

Sakura masih memandang punggung tegap Sasuke yang perlahan-perlahan hilang oleh gelapnya malam.

Tangannya mengusap wajahnya dengan pelan. Merasakan bagaimana beratnya beban perasaannya sekarang.

Setelah Sasuke tak terlihat lagi oleh matanya, Sakura berbalik, kembali melangkah untuk melanjutkan sisa perjalanannya.

.

.

.

"Aku bosan." Sakura mengerutkan keningnya saat melihat pesan yang baru saja ia buka.

Pesan itu masuk pada pukul sebelas pagi, dan sekarang sudah jam dua siang. Sasuke pasti menggerutu karena pesan yang di kirimannya tidak di balas. Bisa terlihat dari beberapa panggilan telpon Sasuke padanya.

Jari Sakura langsung menekan ikon panggil pada layar ponselnya, menunggu beberapa saat untuk panggilan tersebut di jawab oleh Sasuke.

"Lama sekali!" Sakura tersenyum mendengar suara Sasuke yang terdengat sangat kesal.

"Aku membantu ibuku membuat kue. Dan dari pagi aku belum membuka ponselku." Jawab Sakura mengambil kue yang baru saja selesai ia panggang bersama ibunya.

"Hmm.. aku menunggumu."

.

.

.

.

Setelah menemani Sasuke yang kebosanan di aparatmennya, Sakura sekarang berjalan di sampingnya. Sasuke bilang ia ingin jalan-jalan sore bersamanya, menikmati sore akhir musim panas ini.

Tidak ada yang berbicara selama mereka berjalan. Mereka menikmati keheningan mereka, menikmati perasaan masing-masing mereka.

Melihat taman yang ada di depannya Sakura langsung bergegas dengan cepat untuk masuk dan mencari ayunan yang menjadi tempat favoritnya waktu kecil.

Saat menemukannya Sakura langsung duduk, tangannya melambai pada Sasuke menyuruhnya agar bergegas cepat menyusulnya.

Sasuke hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Sakura yang seperti anak kecil. Setelah sampai di dekat Sakura, ia langsung membuat dirinya berada di belakang Sakura, membantu mengayunkan Sakura yang sekarang tertawa karena merasakan dirinya seperti terbang.

"Lakukan lagi Sasuke," pinta Sakura dengan sedikit berteriak. Sasuke hanya bisa mendengus, tanpa di perintah juga ia akan mengayunkan ayunannya.

Setelah beberapa saat membuat Sakura tertawa, kini mereka saling duduk berdampingan di ayunan masing-masing.

Sakura memejamkan matanya menikmati angin musim gugur yang akan datang. Walapun angin sudah bertiup agak kencang, di luar seperti ini ia masih bisa merasakan hangatnya musim panas.

"Malam nanti aku akan mengirimkan pesan pada Yamanaka-Sensei. Untuk mengajaknya keluar." Sakura membuka matanya saat mendengar ucapan Sasuke. Kepalanya hanya mengangguk pelan.

"Semoga aja ia tidak sedang keluar dengan koleksi laki-laki lainnya." Sakura berkata asal, yang membuat Sasuke mendengus saat mendengarnya.

"Aku bilang ia sudah berbuah, aku hampir tidak melihatnya keluar dengan laki-laki lain." Sanggah Sasuke, masih sibuk membela wanita yang jelas-jelas sudah sering mempermainkan perasaan laki-laki.

"Terserah kau saja, Sasuke. Di mataku dia masih tidak berubah sedikitpun!" Final Sakura untuk tidak membicarakan wanita yang di sukai oleh Sasuke.

"Hanya laki-laki bodoh yang menyukainya." Gumam Sakura yang masih bisa terdengar oleh telinga Sasuke.

Sasuke mendengus, "termasuk Nii-Sanmu."

"Salah satunya." Sakura membetulakan ucapan Sasuke.

Kemudian mereka terdiam lagi, memikirkan bagaimana mereka mengajak orang-orang yang ia cintai nanti.

Sasuke bangkit dari duduknya, lalu menghadap ke arah Sakura. Tangannya menyentuh tali ayunan tersebut.

"Besok tepat pukul sembilan malam kita bertemu lagi disini." Ucap Sasuke sambil menatap mata Sakura yang sekarang menatapnya.

"Siapa yang lebih dulu sampai ke sini kita harus saling menunggu siapa yang terlambat, aku atau kau. Hanya sampai jam sepuluh malam, kalau melebihi dari waktu yang di tetapkan, boleh pulang dan besoknya kembali ke sini. Itu perjanjian kita berdua." Sakura menganggukan kepalanya pelan mengerti dengan ucapan Sasuke.

Sasuke membantu Sakura bangkit lalu langsung memeluknya dengan erat. Saling memberikan semangat, saling menguatkan untuk menyatakan perasan mereka masing-masing pada orang yang mereka cintai.

Dengan pelahan Sasuke menghirup aroma yang menguar dari tubuh Sakura. Merasakan bahwa memeluk tubuh Haruno Sakura membuatnya begitu nyaman.

Lalu dengan perlahan dan dengan enggan ia melepaskan pelukannya, matanya menatap mata hijau jernih milik Sakura dan kepalanya menunduk, bibirnya mencari bibir lembut milik Sakura kemudian dengan pelan ia mencium bibir yang begitu ia sukai.

Setelah mereka berpisah di taman, Sakura hanya diam memandang punggung Sasuke yang terlihat semakin jauh. Ia menghabiskan selama sepuluh menit di taman sendirian dengan pikiran yang bercampur aduk.

Saat Sasuke memeluknya tadi jantungnya langsung berdegup dengan kencang, entah sejak kapan ia merasakan hal seperti itu ketika Saskue memeluknya.

Saat pertama ia kenal Sasuke ia masih biasa-biasa saja saat Sasuke memeluknya atau memberikan perhatian lebih padanya.

Tapi untuk sekarang semua perlakuannya membuat Sakura begitu gugup.

Ia menghela napasnya pelan lalu kemudian ia bergegas untuk kembali kerumahnya.

Setelah sampai di rumahnya ia langsung mengunci dirinya sendiri di dalam kamarnya. Lalu mengabaikan ketukan pintu saat makan malam tiba.

Perasaanya begitu tidak menentu entah apa yang membuatnya seperti ini. Ia menekuk kekakinya, membenamkan wajahnya di lutunya, matanya terpejam apa yang akan ia katakan besok kepada Sai-Niinya.

Ia gugup, benar-benar sangat gugup. Padahal ia sudah tahu bagaimana jawabannya seperti apa. Lalu matanya terpejam seolah-olah ia sudah tidak memiliki tenaga lagi.

Dalam pikirannya ia mengingat-ingat kembali di mana momen-momen yang habiskan oleh mereka berdua dulu.

Di masa-masa itulah yang membuatnya sangat bahagia, yang membuatnya sangat mencintai Shimura Sai.

Kepalanya mendongak saat merasakan ponselnya bergetar pelan, menandakan ada sebuah pemberitahuab masuk, dan saat ia menyentuh layar ponselnya, terlihat nama Shimura Sai yang ada pada layar ponselnya.

Dengan pelan ia menyentuh ikon kuncinya dan langsung membuka pesan tersebut. Balasan pesan jawaban yang menandakan Shimura Sai menyetujui untuk bertemu besok malam.

"Apa kau sudah lama menunggu, Sakura?"

Sakura langsung mendongak saat mendengar suara yang tidak begitu asing di telinganya. Ia tersenyum melihat laki-laki tersbut berjalan kearahnya.

"Bukankah ini sudah sangat lama sekali aku tidak melihatmu?"

Sakura tertawa pelan, "tentu saja sudah lama, karena kita tahu bahwa ini adalah liburan musim panas. Jadi wajar kalau kita tidak pernah bertemu juga."

Sai tertawa mendengar ucapannya, kemudian keningnya mengerut melihat penampilan Sakura, "bukankah malam ini cukup dingin untuk berpakaian seperti itu?" Sai berkomentar melihat Sakura yang hanya memakai hotpants dan kaos putih polos yang di kenakannya.

"Ayolah, Sensei, ini masih masuk musim panas kok. Seharusnya Sensei tahu aku ini tahan pada dingin," Sai hanya tersenyum mendengar ucapan Sakura.

"Ini malam musim panas terakhir dan dua hari lagi kau akan masuk sekolah, apa kau sudah mengerjakan tugas-tugasmu, Sakura?

"Tentu saja Sensei aku sudah mengerjakannya semua."

"Aku pikir datang kesini bukan untuk berbasa-basi, bukan? Pasti ada yang ingin kau bicarakan?" Sakura ternsenyum melihat Shimura Sai yang memang selalu serius.

"Ara, tipikal dirimu sekali, Nii-san." Godanya yang tentunya tidak akan mempan terhadap Shimura Sai.

Sakura diam sejenak, memikirkan apa yang harus ia katakan padanya. Memilih kata-kata yang menurutnya pas.

"Begini, apa kau tahu apa yang membuatmu harus datang kesini, Nii-san?" Tanya Sakura yang membuat Sai bingung, tentu saja ia tidak tahu apa yang mau di bicarakan oleh Sakura nanti.

"Tentu saja tidak tahu, memangnya aku ini pembaca pikiran apa? Memangnya apa? Dan aku tidak mengerti sama sekali." Balasnya yang tidak mendapatkan reaksi apa-apa dari Sakura.

"Aku benar-benar sangat menyukai, Nii-san yang seperti ini." Sakura tersenyum melihat Sai yang selalu blak-blakan.

"Jangan terus-terusan menggodaku, Sakura. Kau tau kalau aku ini orang yang terlihat serius," wajahnya cemberut, yang membuat Sakura semakin menyukainya.

"Aku tidak menggodamu, Sensei. Aku serius."

Sai mendongak, melihat Sakura yang hanya menundukan kepalanya.

"...sejak kapan?"

" Sejak dulu."

"...dulu?"

"Bohong. Sampai sekarangpun perasaan sukaku padamu itu tidak pernah hilang." Suranya semakin pelan. Entah kenapa membuat hatinya begitu sskit saat mengatakannya.

"Apa?!"

"Jadi itulah apa yang ingin aku katakan padamu malam ini, Niisan." Sai hanya bisa menatap Sakura yang di depannya dengan sendu dan serius.

Setelah mengatakan itu Sakura benar-benar tidak berani untuk menatap wajah Niisannya. Ia merasa malu, masalahnya dari dulu sampai sekarang Sai tidak pernah tahu bahwa ia menyukainya.

Tapi Sakura begitu menyukai saat ia telah menyatakan perasaannya dan Sai menganggapnya serius seperti ini.

"Selama ini, selalu, sampai saat ini dan selamanya bahwa aku selalu menyukaimu." Sakura mengusap matanya, entah kenapa tiba-tiba air matanya keluar begitu saja. Padahal ia yakin bahwa saat ia menyatakan perasaannya langsung pada Sai ia tidak akan menangis.

Tapi nyatanya ia menangis.

Sakura selalu menyukai Sai yang selalu memikirkan perasaan orang lain. Semakin banyak Sakura mengingat masa-masa bahagia bersama Sai, rasa sakit itu semakin kuat.

Telapak tangannya terus mengusap air mata yang terus menerus keluar pertanda bahwa dia sudah tidak bisa menanggung rasa sakit ini.

Kemudian ia merasakan tubuh hangat dari seorang Shimura Sai. Sakura selalu menyukai bagaimana kehangatan tubuh Shimura Sai saat memeluknya, bagaimana suaranya saat berbicara, saat tertawa, serta pemikirannya.

Dan Sakura sangat menyukainya ketika ia menerimanya.

Yang Sakura tahu bahwa dirinya menyukai segala hal tentang Shimura Sai.

"Sakura," sebut Sai, ia langsung menggenggam tangan Sakura yang terlihat sedikit gemetar.

"Maaf Niisan. Aku terlihat gemetar seperti ini bahwa ini bukan aku." Ucap Sakura dengan suara sangaunya.

Melihat Sakura yang semakin terisak membuat Sai merasa sakit juga, ia kemudian langsung memeluknya dengan erat, menempelkan kepala Sakura padanya dan saat itupula tangisan Sakura semakin pecah dan keras. Dan itu membuatnya ikut menangis.

Tangan Sai sendiri langsung mengelus rambut halus sebahu milik Sakura untuk menenangkannya.

Sakura tidak ingat kapan terakhir kali ia menangis histeris seperti ini. Itu sudah sangat lama sekali.

Saat ia tau betapa eratnya Sai memeluknya. Saat itu Sakura sadar bahwa ini adalah yang terakhir.

Terakhir Sai memeluknya seperti ini.

Karena itu Sakura ingin menangis dengan sekeras-kerasnya.

Sskura merasa pelukan yang di berikan Sai semakin erat, seakan-akan Sai tidak ingin melepaskannya.

Merasakan hal seperti ini membuat Sakura terasa bahagia, karena ia merasa bahwa dirinya adalah hal terpenting bagi Sai.

Bahkan jika bukan sebagai kekasihnya, Sakura adalah adik perempuan yang Sai sayangi.

Dan inilah akhir kisah cinta Sakura yang tidak terbalaskan.

"Sakura-Chan, terima kasih."

Dan semuanya berakhir.

Semuanya baik-baik saja, ucap Sakura dalam hati. Tangannya mengusap sisa-sisa air mata yang ada di ujung matanya.

Ia sekarang merasa lega karena pernyataan cintanya sudah ia nyatakan, walaupun ia sendiri tahu bahwa dia akan di tolak. Tapi ini lebih melegakan hatinya, dibandingkan saat ia memendamnya terus.

Matanya terpejam, menikmati semilir angin akhir musim panas ini. Lalu dengan pelan ia menghembuskan napasnya, ia berpikir bukan hanya ia sendiri yang terluka masih ada satu orang lagi yang sama-sama terluka.

Ia kembali menatap layar ponselnya. Sudah satu jam yang lalu saat Sai meninggalkannya, sebenarnya Sai memaksa ingin menemani Sakura menunggu seseorang, tapi Sakura sendiri memaksa menyuruh Sai untuk pergi dan tidak mengkhawatirkannya.

Ponselnya tidak ada pesan ataupun panggilan yang masuk, ia mulai khawatir, ini sudah melebihi batas waktu yang Sasuke janjikan padanya.

Ia sendiri sudah menghubungi Sasuke beberapa kali sejak setengah jam yang lalu, tapi hasilnya tetap sama. Nomornya tidak aktif.

Lalu satu jam, dua jam Sasuke tidak pernah muncul di hadapannya, tidak menepati janjinya pada malam itu.

Sampai mereka kembali masuk sekolah, sampai mereka lulus dari sekolahpun Sasuke tidak memberikan penjelasan apapun padanya, dan tidak pernah menemuinya.

Hanya ada satu pesan singkat yang membuat semuanya begitu jelas.

"Maaf, Sakura."

Tidak hanya kisah cintanya dengan Sai saja yang kandas, ia yang mulai ada perasaan sedikit pada Sasukepun harus kandas begitu saja.

-ENDING-

aku tau ini gaje. Kalian boleh misuh-misuh sama aku kok wkwkwkw alurnya sama kayak Kuzu no Honkai episode 8

Fanfic yang aku tulis dari awal november 2019 baru selesai sekarang, rasanya ingin menabok pantat Shoyou soalnya gegara dia aku males apapun wkwkwkw maklum aku lagi jadi Butjin HAIKYUU

VoMentnys jangan lupa yaaaaa

BYEEEEE, VYEEE