Chapter ;2.
.
.
.
.
Bumi, 2020
BERITA HANGAT!
NASA TEMUKAN ALIEN DI MARS, BENARKAH?
Seoul - NASA baru-baru ini mengeluarkan bantahan terhadap pengakuan senior yang sudah diceritakan tentang alien di Mars, sekitar 50 tahun yang lalu.
Untuk informasi ...,
Di bumi, tepatnya di Benua Asia bagian timur sedang marak berita membahas Alien. Tak hanya ada, Indonesia, Iran, India juga mencari empuk tentang tujuan 'alien'.
Sebagian orang percaya tentang Alien,hinhga banyak upaya penelitian meski hasilnya masih nihil. Percaya atau tidak itu terserah kalian, saya tidak memaksa hehe.
Isu Mulai Berkembang dari pihak penyebar hoax yang mengatakan pernah bertemu, bahkan! Hasil potretan tentang Transportasi Alien mulai menyebar di Media sosial. Transportasi mirip mangkok di atas piring tersebut terlihat petang lalu di Italia, tak lama hanya 5 detik kemudian hilang di balik awan.
"Kau percaya?" Tanya gadis tersebut pada pria yang masih berkutat dengan pekerjaannya.
"Berita tadi pagi? Sama sekali tidak" Jawabnya.
"Tapi lihat! Di instagram malah sudah menyebar fotonya, Lu" Gadis ini menyodorkan ponselnya kearah Luhan yang sempat meliriknya sekilas.
"Ya, aku percaya. Sampai aku bertemu Alien berkepala kotak seperti Adudu hahah"
"Tidak lucu!"
"Kan Adudu juga Alien, na. Sama hijaunya juga tuh" Luhan Buka Apronnya, buka Reina yang mempoutkan bibirnya kesal.
Pria ini-Luhan, sebenarnya perxaya adanya Alien cuman bukan dari mulut manusia. Dengan adanya gambar Alien hasil Photoshop yang sudah jelas sekali itu tipuan membuatnya tidak peduli.
Ayolah! Dia lulusan Multimedia yang mengerti Desain dan Fotografi meskipun tidak menyelami sampai Sarjana. Dia Ahli tipu Fotografi dulunya, memanipulasi gambar adalah bidangnya.
Sekarang dia bekerja di Kedai Bubble tea milik bibi, mengelola bisnis kecil yang sudah memiliki lebih dari 3 cabang Di pusat kelola Seoul. Lumayanlah, untuk makan dan biaya sewa apartemen bersama adiknya.
Setiap pukul 11 tengah hari Luhan selalu menerima rutinitas menjemput Adik perempuannya pulang sekolah. bermodalkan motor butut, dia mulai membelah kota Seoul yang padat penduduk.
"Hai, Putri" Sapanya lembut,
"Ohmy! Daddy di sini~" Gadis kecil itu berteriak senang berada dalam pelukan Luhan.
"Bagaimana harimu?"
"Ah! Mam Luna menitip salam untukmu, Dad." Katanya dengan nada pindah.
Luhan hanya mengacak surai rambut adiknya gemas. Luhan mulai tenggelam dalam pikirannya sendiri. Usianya sudah mencapai angka 23 tetapi dia masih belum merasakan 'Jatuh cinta dengan orang yang bisa kau miliki'.
Tidak ada debaran,
Tidak ada perasaan,
Sama sekali mati rasa terhadap apapun.
Luhan tidak pernah patah hati atau dikecewakan oleh laki-laki yang dikencaninya. Aneh tapi ya, dia memang memiliki orientasi seksual yang berlawanan.
Ah, lupakan.
Tidak memakan waktu 15 menit, dia sudah sampai di Kedai Bubble tea. "Baba mau ikut mengambil dokumen, Give me 2 minutes?"
"Uh-um" Angguknya tersenyum lebar.
Luhan bergegas masuk, tapi saat bel pintu masuk berbunyi Jinyi tiba-tiba menjerit mengagetkannya.
"Ommo! Daddyyy, ada Monster!"
Pria bertubuh mungil itu spontan berlari ke arah Jinyi yang tengah ketakutan, membawa tubuh gadis tersebut ke pelukannya. Dia tidak takut Alien yang sedang booming, alih-alih takut penculik atau orang yang mau menyakiti Jinyi.
Luhan menoleh kearah yang ditunjuk Jinyi, dibalik pohon yang menjulang tinggi didekat Kedainya. Ada yang bergerak di sana terlihat dari semak yang bergerak walau tak ada angin. Ia melangkah perlahan, tak lupa memasang kuda-kuda yang siap menghajar orang tersebut.
Bagaimana jika orang kriminal? Pikiran Luhan dipenuhi dugaan negatif. Setelah melihat apa yang dibalik pohon-Kurasa itu hanya anjing kecil yang bisa dibilang milik Reina.
"Jinyi-ah! Ini hanya anak anjing" Nadanya terlihat kesal.
Jinyi mengintip dari selah jemarinya, "Aku tidak suka anjing! Mereka monster".
Luhan hanya memutar bola mata malas kemudian membawa anjing lucu tadi ke kedai. Setelah selesai membawa dokumennya, Ia membawa Jinyi kembali ke apartemen miliknya.
Di Seoul, memiliki apartemen mewah hanya dimiliki selebriti atau pejabat perusahaan selain itu, bermimpilah. Harga sewa untuk Apartemen kecil saja sangat mahal seperti milik Luhan. Tidak ada harapan.
Mereka hanya orang asing yang pindah kewarganegaraan Korea Selatan. Darah Beijing yang masih kental namun terpaksa menetap di Negara yang bukan tempatnya. Ya, sup sudah tercampur kimchi-tak ada pilihan lain.
Luhan menghela nafas sendu, "Keluargaku, tempatku tumbuh, dan-kematian kedua orangtuaku" kalimatnya terjeda beberapa sekon, "Rahasia yang belum terungkap, 'Seoul' aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja"
Drttt..drtttt ... drtt ..
Ponselnya berdering nyaring, tertera nama 'Manager Im'.
"Ya, ada apa manajer Im?"
"Heojang-nim, ke kedai sekarang! Palli!" Suaranya terdengar panik.
"Apa ada masalah?"
"Ya, cepatlah!"
Tak butuh waktu lama, Luhan menyambar jaket cokelat miliknya meninggalkan Jinyi yang tertidur lelap sendiri. Perasaanya tidak enak, sesuatu yang buruk pasti terjadi saat ini.
Manajer Im adalah wanita yang sangat Kompeten. Selama bekerja untuknya dia tidak pernah terdengar panik. Dia mudah membereskan semuanya dengan tenang dan baik. Entahlah, Luhan masih belum mengerti alasannya bekerja untuk kedai kecil miliknya.
"Yoona-ah, ada apa?" Luhan membuka pintu keras membuat 4 orang tengah berbicara serius terkejut karna tingkah lakunya.
"Ah, kau mengejutkanku aishh!" Reina menggerutu sambil mengusap dadanya.
Luhan melihat Yoona yang masih membolak balik dokumen dengan ekspresi kesal. Dia hanya diam tidak mengambil kalimat apa pun, berusaha mencerna setiap abjad yang ia baca berulang kali.
"Direktur Kim," Yoona Membuka suara,
"Kau membuatku gila!" Kepala toko yang tak lain adalah Jung Jaehyun.
Tanpa basi basi Luhan menarik kertas tersebut dari tangan Yoona,
Ya tuhan
Matanya terbelalak saat membaca surat pembatalan Investasi yang dikembalikan pekan lalu. Apa yang terjadi? ini satu-satunya cara agar berhasil dikembangkan. Benar, Direktur kim yang memiliki Perusahaan Makanan dan Minuman menawarkan investasi jumlah besar untuk kedai kecil ini.
Perusahaan Lyn yang dibilang terkenal di Seoul. Apa yang terjadi? pertanyaan kiranya. Ini diputuskan secara sepihak, mimpinya dan semua rencananya gagal selama ini.
"Luhan, bagaimana ini?"
Beberapa pertanyaan menjadi dengungan yang ditelinga Luhan, harapannya hilang karena harapan Cofioca hilang. Memang terasa sepeleh tapi untuk Luhan bagai hantaman kuat setelah menunggu 7 tahun lamanya.
Sampah.
"Tenanglah, kita masih punya banyak cara" Luhan tersenyum simpul.
"Satu-satunya Investor kita kabur, Hyung-nim " Lee taeyong menampar keras Luhan dengan kata-katanya.
"Selagi kita bekerja keras semuanya baik-baik saja, tak apa"
"Tapi-"
- "Tak apa, Cofioca harus terus berjalan" Luhan memotong kalimat Jaehyun.
Walau pikirannya pecah balau Luhan tetap menyakinkan pegawainya. Sementara di ambang kebangkrutan dia tetap seperti biasanya. Tak masalah, semua akan pada porsinya.
"Aku yang memutuskan," Luhan terdengar tegas "Dan, sebagai pemilik, aku bertanggung jawab atas yang terjadi."
Bagaimana tidak? Luhan bahkan sudah menyewa untuk kantor dan kedai yang dibangun selanjutnya. Beberapa properti sudah dipesan dan bahan pasokan sudah dalam perjalanan. Berapa kiranya kerugian yang dialaminya saat ini?
"Tidak, sebagai tim-"
"Aku pemiliknya, Yoona-ah" Luhan menatapnya sedikit tajam, "Aku menghirup udara segar dulu"
Luhan melangkah pergi meninggalkan timnya, otaknya tak bekerja dengan baik hari ini. Semuanya selesai.
Dipikirannya hanya melepaskan senyum Jinyi dan kepergian kedua orang tuanya malam itu. Seandainya, kedua orang tuanya tak pergi semuanya tak akan jadi begini. Kehidupannya tidak akan sesulit ini, meskipun Jinyi adalah alasannya tersenyum di dunia ini tetap saja dia juga berhak atas bersedih.
"Tidak boleh menangis" Luhan bergumam sendiri, menyemangati sendiri sendiri.
"Karna kau adalah kakak, laki-laki dan penerus Ayah"
"Uh-um, kau harus kuat Luhan!" Dia mengigit bibirnya gelisah, tetap saja kata tak bisa membohongi hati.
Malam ini lebih dingin dari biasanya. tidak ada bintang bahkan bulan, hanya sekumpulan awan hitam yang menghiasi malamnya . Tidak ada hiburan-,
manusia memang seperti itu, benarkan?
tapi aku akan belajar lebih tenang.
karena emosi pernah membuat saya kehilangan banyak hal.
"Akhh .."
Lamunan Luhan buyar saat mendengar rintihan seseorang. Dia memastikan apa telinganya berfungsi dengan baik hari ini.
"Akhh .."
Luhan menegang di tempatnya. Apa itu sekarang dia celingak celinguk bagai rusa yang siap dimangsa singa. Manik-manik matanya terlihat sangat lucu, bahkan saat kepalanya diputar-rambutnya ikut tergerak bebas di udara.
Bulu kuduknya merinding, demi Tuhan! dia lebih takut hantu daripada orang jahat.
"Akh..hhh ..."
Matanya menunjuk pada pohon yang ditunjuk tadi siang oleh Jinyi. Oh tidak, ini firasat buruk untukknya. Bagaimana jika monster yang dikatakan Jinyi benar?
Luhan mendekati sumber suara, meskipun takut tapi nyalinya bagus juga ya? Langkahnya terlihat gemetar bahkan dia terus mengerjapkan mata sisi guna mempertajam pengelihatannya.
Aish! dia tak bisa melakukan ini. Luhan takut. sedetik kemudian menggeleng ribut. tidak, namja manly setidaknya itu membuatnya 100% yakin akan keputusannya mengecek sumber suara.
"Ommo!"
Luhan berlari saat melihat tubuh meringkuk dibalik Pohon. Persetan dengan setan dia tak takut.
"Kamu baik-baik saja?" katanya menepuk tubuh yang sayangnya-EKHEM! Bugil ini.
Apa ini masalah pelecehan seksi? Hei! ini pemerkosaan namanya! tapi dia Namja!
Luhan Buka jaket miliknya untuk menutupi daerah-anu itu sensitifnya. Tubuh tegap tinggi tengah meringkuk kesakitan sementara tidak ada sisa darah. Luhan sudah mengecek bagian wajah bahkan dadanya.
Hanya Namja yang terus merintih kesakitan tanpa busana.
"Kau baik-baik saja, hei!"
Pria ini terus mencengkeram kuat lehernya, entah apa yang menarik. Luhan mengambil ponsel, ambil flash guna melihat lebih detail orang tersebut.
Tiba-tiba tubuh Luhan mundur tanpa alasan yang jelas. ada yang aneh disini. Hah?
Ponselnya terjatuh.
"Nugu-seyo?" Tanya Luhan lirih.
Orang ini hanya menatap Luhan yang tengah ketakutan. Menatap tajam pria berperawakan mungil ini dengan kornea kedua abu-abu miliknya.
Ternyata, dia sudah sampai di Bumi.
.
.
To be continued~
.
.
Haiii:)))
Welcome back to my storiess!
See u next timee, Fighting!
