"Video Call" by Meltavi
Boboiboy © Animonsta Studios
Warn(s) : AU, HalYi, OOC, gaje, alur berantakan, miss EYD, fluff mungkin(?), edisi gabut, dll.
Enjoy ya~
Happy Reading!
.
.
.
Halilintar melempar tubuh lelahnya ke atas kasur kamarnya. Napasnya masih memburu disusul keringat yang mengalir dari dahinya. Halilintar habis olahraga bersama Taufan. Walaupun kuarantin membuat mereka berdiam diri di rumah, namun olahraga tetap bisa dilakukan. Dan Halilintar tidak akan menghilangkan rutinitasnya tersebut.
Drrrttt. Drrrttt.
Bunyi getaran di dekatnya mengalihkan perhatian Halilintar dari langit-langit kamar. Tangan panjangnya dengan mudah meraih ponsel tak jauh darinya, mengecek notifikasi yang baru saja masuk.
Si Tukang Rebahan
[Olahraganya udahan?]
Halilintar tersenyum tipis membaca pesan dari gadisnya. Ia mengetik balasan dengan semangat, rasa lelahnya menguap begitu saja.
[Iya. Baru aja selesai.]
Read.
Perhatian Halilintar tetap dipusatkan pada layar ponsel yang menampilkan chatroom-nya dengan Ying. Satu menit terlewati, namun dua centang di bawah pesannya masih menampilkan warna biru, sedang status Ying online. Halilintar memiringkan kepala. Ia baru akan mengetik pesan lagi ketika ponselnya bergetar panjang dan layarnya berubah.
Si Tukang Rebahan
Calling...
Video Call
"Astaga ..." Helaan napas dikeluarkan. Halilintar buru-buru mengetik pesan, ingin memberitahu Ying bahwa ia tidak menyukai vidcall untuk yang kesekian kalinya. Tetapi baru saja jempolnya menekan huruf A, Ying lebih dulu menyela.
[Angkat. Aku mau liat muka kamu :"]
[Ying, kamu tau 'kan aku nggak suka vidcall?]
[Tauuu. Tapi aku lagi unmood, Hal. Pen liat muka kamu :(]
Halilintar menghela napas.
[Bete kenapa? Viu-nya lagi lemot?]
Tebaknya. Menurut rekaman ingatan Halilintar selama berhubungan Ying, ada dua hal yang membuat gadis itu unmood. Pertama, dirinya yang membalas chat lama. Kedua, aplikasi viu alias tempat untuk menonton drakor susah dijalankan.
[Bukan. Nggak tau, tiba-tiba bete aja.]
Oke, kali ini Halilintar tidak bisa menerka-nerka lagi. Cewek dan pikirannya benar-benar sulit ia mengerti.
[Aku boleh vc kamu ya? Ya ya ya?]
Tahu dirinya terdesak, akhirnya Halilintar menuruti permintaan gadis itu. Yah, sekali-sekali tidak apa. Toh, yang penting Ying bahagia.
[Yaudah.]
Tepat pesan itu terkirim, panggilan video call dari Ying kembali muncul. Halilintar bersandar pada sandaran ranjangnya, lalu menggeser ke atas tombol angkat pada layar.
Wajah Ying langsung muncul di ponselnya.
"Haliiiiiii!"
Suara cemprengnya terdengar ke seluruh penjuru kamar. Halilintar terkekeh. Ying terlihat manis meski hanya memakai kaos rumahan dengan rambutnya yang dicepol.
"Katanya lagi bete? Kok ceria banget?"
Ying melebarkan senyum. Kamera gadis itu sedikit bergoyang sebelum memperlihatkan Ying tengah bersandar pada sofa. Halilintar menebak kekasihnya sedang berada di ruang tamu.
"Pas liat kamu langsung ilang betenya." Kemudian Ying tertawa renyah. Halilintar memerhatikan seksama tawa itu, menyadari ia benar-benar merindukan sosok Ying karena belum bertemu dua minggu lamanya.
"Bisa gitu, ya?"
"Hehehehe."
Halilintar menggelengkan kepalanya. Belum tiga detik terlewati, suara Ying terdengar lagi.
"Ternyata bener ya." kata Ying menggantung. Halilintar mengangkat alis, menunggu gadis itu melanjutkan ucapannya. "Cowok kalo abis olahraga gantengnya berkali-kali lipat."
Halilintar menahan senyumnya. Sadar betul kalau Ying tengah memujinya.
"Ternyata bener ya." Halilintar membalas. Dilihatnya wajah Ying yang menunjukkan ekspresi tanya. "Cewek kalo abis bangun tidur lucunya berkali-kali lipat." lanjut Halilintar meniru ucapan Ying tadi, hanya ia ganti sedikit.
Tak butuh waktu lama untuk membuat rona merah muncul di pipi Ying. Gadis itu bersemu malu, ciri-ciri Ying jika sedang tertangkap basah.
Halilintar tidak salah. Ying memang baru bangun tidur, karena kebiasaan gadis itu yang selalu begadang sehingga baru sadar dari alam mimpi pada jam-jam sekarang. Jam 10 sampai 11. Disaat Halilintar sudah menyelesaikan kegiatan olahraganya.
Ying masih terlihat nge-fly di seberang sana. Halilintar terkikik geli. Gadisnya itu mudah sekali terbang kalau dipuji. Yang mana tak pernah membuat Halilintar bosan melihatnya. Ekspresi gadis itu, gerak-geriknya, dan suaranya yang menahan malu sangat menggemaskan.
"Ih, mana ada. Aku udah bangun daritadi tau." Halilintar tahu Ying berdusta. Tatapan gadis itu menatap ke atas, tipikalnya sekali saat sedang berbohong.
Halilintar semakin gencar ingin meledeknya. "Iya, udah bangun subuh. Tapi tidur lagi." katanya. "Tuh, tuh, liat. Ilernya masih ada ih, jorok. Mana beler banget lagi mukanya."
"IHHH HAALLIII!"
Halilintar tergelak melihat wajah merah Ying. Tentu ucapannya tadi hanyalah kepura-puraan, karena yang sebenarnya, Ying terlihat sangat lucu dengan wajah bantalnya itu. Kalo kata Taufan si anak twitter, sebutannya gemoi. Alias ngegemesin.
"Iya, iya bercanda. Hahahaha."
"Dih, ngeselin." Ekspresi Ying masih bersungut-sungut kesal. Andai saat ini tidak pandemi, Halilintar pasti sudah menancap gas ke rumah Ying saat ini juga.
"Yaudah gih, sana makan. Biar tambah berkembang."
"Emangnya aku sekecil apa sih, sampe dibilang 'biar tambah berkembang'?
Halilintar merubah posisi kepalanya. Ia memasang pose berpikir, sementara Ying menunggu dengan bibir cemberut.
"Sekecil ..." Tangan kanan Halilintar terangkat. Menggerakkan jari telunjuk dam jempolnya untuk diberi jarak sedikit. "Ini." Lalu memperlihatkannya pada Ying.
"Ih! Enak aja! Aku udah gede tau!" protes Ying tidak terima.
"Gede darimana? Gendut nggak, kurus iya. Udah gitu pendek lagi." cibir Halilintar.
Ying mendengus kesal di sana. "Kita liat aja nanti. Kalo misalnya tinggi aku lebih dari kamu, kamu harus traktir aku oreo seratus bungkus!"
Mendengar taruhan itu membuat Halilintar tertawa. Bagaimana bisa Ying yang hanya setara bahunya saja membalap tinggi tubuhnya? Ying itu benar-benar mungil kalau dijejerkan dengannya.
Namun Halilintar membiarkannya. Ying dan kepolosannya tidak boleh ia lewatkan barang sedetikpun.
"Oke. Deal ya. Balap tinggi aku, nanti aku beli oreo seratus bungkus."
"Deal! Awas kalo kamu ingkar janji!"
"Sok-sokan ngancem. Tinggi aja dulu."
"Hmph." Ying pura-pura membuang muka sebelum menatap kembali wajahnya. "Kita liat nanti."
"Oke, siapa takut."
"Oke!"
Halilintar tersenyum geli melihat wajah penuh keyakinan Ying. "Yaudah. Sana makan. Terus mandi. Baunya ampe ke sini lho,"
"Dih. Kayak kamu nggak bau aja."
"Keringet aku mah wangi, Ying. Emangnya kamu."
"Iewh." Mata Ying terputar malas dengan mulut meniru gaya ingin muntah.
Halilintar terkekeh. "Gih sana. Aku tutup, ya?"
"Oke. Bubaai pacal."
"Bubaai tukang rebahan."
Halilintar sempat melihat wajah Ying cemberut sebelum panggilan video diputuskan. Ia tersenyum, memandangi layar ponselnya yang kini menampilkan chatroom bersama Ying seperti orang gila. Status online gadis itu berubah menjadi last seen waktu saat ini, menandakan Ying tengah melakukan apa yang ia suruh.
Halilintar menutup ponselnya. Dihelanya napas dengan pandangan mengarah pada langit-langit kamarnya yang kosong.
Bukannya meredakan perasaan rindu setelah melakukan video call, Halilintar malah merasakan hal sebaliknya.
Ia jadi semakin ingin menemui Ying.
.
.
.
Finizh
a/n :
emang yah, aku ga pernah bisa nahan ga nulis fluff help me gays, bagaimana cara menghentikannya huhuhu :"
gatau ini bener2 pas gabut nulisnya TwT aku ga peduli mau ceritanya gaje apa ngga, soalnya nulisnya bener-bener lepas :")
keknya itu aja. makasih yang udah mampir^^
bubaai
