(5)Tapi kadang memang kita tidak bisa bahagia setiap saat.
From: Shouyouu
04:20 PM
Tooru, hari ini aku pulang agak telat. Aku mau ngantar Kageyama dulu."
Oikawa yang sudah sampai dirumah menghela napas, ia mengira setelah latihan selesai, ia akan segera bertemu dengan Hinata. Setelah melihat text itu, Oikawa pun memutuskan telepon.
"Kamu dimana sekarang?"
"Lagi di jalan. Abis ngantar Kageyama, kamu belum baca pesanku?"
"Baru baca. Kamu ngapain nganter Kageyama?"
"Oh, itu. Stok tehnya habis, dia ga ada yang bisa ngambil ke gudang. Hari ini dia restock, tapi Yamaguchi dan Tsukishima lagi ada urusan, makanya dia ga bisa ngambil."
"Kageyama kan bisa minta tolong Sugawara atau Sawamura.."
Hinata biasanya akan tertawa menanggapi ucapan Oikawa yang kadang posesif dan manja, namun kali ini dia hanya menghela napas. "Iya, tapi aku sedang tidak sibuk, tidak apa-apa kan membantu teman?"
"Teman apanya? Dia kan mantanmu.." Oikawa menghela napas, ia tak bermaksud membuat argument. Tapi dia lelah, dan dia sebenarnya ingin Hinata di sampingnya, tapi pasangannya malah mengantarkan orang lain.
Oikawa tahu dia tidak rasional sekarang, tapi dia memang sudah memendam rasa cemburu ini dari lama.
Hinata kembali menghela napas, "Aku akan segera pulang, Tooru."
"Oh, kukira kamu malah tidak ingin pulang, Hinata."
"Kamu marah padaku?"
Oikawa mendengus, "kamu tidak usah pulang hari ini juga tidak apa-apa."
Hinata menarik napas, kesal, "Oikawa, aku ini hanya mengantar. AKu tak punya perasaan apa-apa lagi kepadanya, kenapa kamu keras kepala sih?"
"Aku tidak keras kepala. Aku menyatakan sesuatu yang benar adanya."
"Apa?! Kenapa kamu tidak percaya padaku? Lihat ya—"
Obrolan telepon itu terputus.
Pertama, Oikawa kira Hinata sengaja menutup telepon.
Oikawa mendengus kemudian menjatuhkan dirinya keatas sofa, kadang kebaikan hati pasangannya itulah yang bikin dia kesal.
20 menit kemudian, Hinata belum sampai.
Kedua, Oikawa mengira Hinata marah.
Oikawa menghela napas kesal dan bangkit dari sofa, berniat untuk membuat sesuatu sederhana untuk makan malamnya.
Ketiga, Oikawa mulai mengira ada sesuatu terjadi pada Hinata.
Ini sudah satu setengah jam.
Oikawa mengacak rambut, mondar-mandir di apartemen mereka. Apakah Hinata beneran tidak pulang?
Oikawa menghela napas sebelum mengambil handphonenya untuk menelpon Hinata.
Oikawa menghela napas lega ketika mendengar suara Hinata, namun menyadari bahwa itu rekaman suaranya.
"Hei, sayang, kembali lah kerumah. Aku minta maaf oke.."
Oikawa menjatuhkan dirinya diatas kasur. Mungkin dia butuh tidur agar ia bisa menghadapi Hinata dengan tenang. Ia tidak mau berargumen kembali.
Oikawa terbangun, jam 10 malam. Dimana Hinata?
Ia mengambil handphone untuk mengecheck pesan masuk. Tidak ada apa-apa. Tapi kenapa Yachi, Kageyama, dan Kenma terus terusan menelponnya?
Telepon itu sekali lagi bordering, nama Yachi tertera di ponselnya.
"Halo—"
"Oikawa! Kamu harus segera ke rumah sakit!"
"Ada apa—"
"Hinata kritis, kecelakaan mobil—"
Tak pernah di dalam hidup Oikawa ia berlari secepat itu, berusaha mencari taxi di tengah malam Tokyo untuk menuju rumah sakit.
Di dalam hatinya, Ia menyesal telah bertengkar dengan Hinata.
"Shouyou, bertahanlah untukku."
Semua orang punya keinginan. Tapi untuk kali ini, keinginan Oikawa tidak terkabul.
Semua orang menangis. Oikawa melihat Kenma, Yachi, Kageyama menangis. Tsukishima yang jarang memperlihatkan ekspresi apapun, terlihat susah mencerna keadaan, ia terus berdiri mematung dengan ekspresi tidak menyangka. Suga menangis didalam pelukan Daichi yang mati-matian menahan tangis. Bahkan Oikawa melihat wajah wajah familier yang ia lupa namanya ikut berkabung dalam sedih.
Iwaizumi menepuk pundaknya, membisikkan, aku turut berduka cita.
Pada saat itulah kenyataan baru menimpa Oikawa, ia menangis, ia menjerit berusaha untuk masuk keruangan. Berusaha membuktikkan bahwa Hinata baik-baik saja, akan menyambutnya ketika ia masuk dan berkata ceria, kejutan!
Namun saat Oikawa berhasil masuk, yang ada hanya tubuh yang terbujur kaku ditutupi kain putih. Oikawa berteriak, Shouyou! Shouyou! Teriakannya memilukan, Iwaizumi berusaha menahan Oikawa dan memeluknya, namun Oikawa tidak menyadari, dimatanya, mentarinya sudah hilang.
Apakah ada alasan dia untuk hidup jika mataharinya sudah mati?
.
.
.
.
A/N: Yha kata siapa fluffy terus gais? Wkwk. Btw ini fic emg pas aku muterin lagu Khalid yg Free Spirit non-stop terus tiba tiba jiwa masoku keluar. Mau bikin ini sad ending aja/ditabok.
Masi ada satu chapter lagi abis ini :)
