Oikawa kembali bertemu Hinata.
Di dapur dengan suara khas memotong sesuatu ataupun merebus air.
Di kamar ketika Hinata tertawa saat Oikawa membubuhi Hinata kecupan di sekujur wajah.
Di balkon ketika mereka menikmati teh di sore hari bersama, bersenda gurau menikmati pemandangan kota Tokyo.
Di ruang tamu ketika mereka menonton tv bersama, mengomentari film.
Di kamar mandi ketika Oikawa manja minta dimandikan oleh Hinata, yang berujung sesi panas.
Di mimpi.
Dan disamping kuburan yang tak pernah absen sekuntum bunga sekalipun. Makam itu selalu dibersihkan, ramai dikunjungi. Namun kali ini Oikawa sendirian, memegang jurnal milik Hinata, mengelus tempat peristirahatan terakhir milik pasangannya.
Iwaizumi menawari Oikawa untuk menginap di rumahnya bersama Istrinya, tapi Oikawa menolak, takut menganggu. keluarga Iwaizumi baru kehadiran satu buah hati lucu,
Hanamaki dan Matsukawa sering bermain ke apartemennya, namun gelagat mereka tidak nyaman. Mungkin karena Oikawa yang tidak mau membuang barang-barang Hinata, atau karena mereka terbiasa ada Hinata yang meramaikan pembicaraan mereka.
Kindaichi dan Kunimi mengajak Oikawa untuk latihan voli, meminta tips-tips, tapi mereka juga tak bisa berbuat banyak ketika sesekali Oikawa hanya memandang kosong.
Kageyama memberikan barang-barang Hinata, Oikawa masih tidak sanggup melihat adik kelasnya tersebut.
Oikawa tahu, teman-temannya mengkhawatirkannya, namun ia sendiri memang tidak bisa melupakan.
Atau tidak mau melupakan.
Oikawa tersenyum dan meletakkan box berisi cincin. Cincin yang harusnya sudah ada di jari manis milik Hinata, tapi Oikawa terlalu takut untuk memberikan.
Betapa ia menyesalinya.
Oikawa mendekati nisan Hinata, mengelus dan berbisik, "aku akan segera bertemu denganmu, Shouyou,"
"Untuk masa depan, masa depan selanjutnya. Selamanya."
The universe is so big yet somehow I found you.
Thank you for loving me, Hinata Shouyou, 23 January.
