Baekhyun tidak tahu dia akan terjebak dalam situasi rumit seperti ini. Padahal niat awalnya saat tiba di Seoul adalah menjalani kehidupan sebagai mahasiswa tanpa ada banyak drama. Tapi di tahun keduanya, Baekhyun dihadapkan pada permasalahan pelik.

Semua tidak akan jadi serumit ini jika ia tidak melibatkan hatinya. Baekhyun sadar betul hal itu. Walaupun jika ingin egois, dia bisa saja menyalahkan pemuda jangkung di hadapannya.

"Baekhyun, tolong pikirkan lagi. Aku sungguh-sungguh dengan perasaanku."

Baekhyun menggeleng dengan air mata yang menggenang. "Tidak. Keputusanku sudah bulat. Aku tidak bisa, Chanyeol."

"Tapi, Baek...-"

"Kau berbohong."

"...kau juga menyukaiku, kan?"

"Lantas kenapa jika aku menyukaimu? Itu tidak mengubah kenyataan jika kau adalah milik orang lain. Kita tidak bisa seperti ini."

Pemuda yang dipanggil Chanyeol itu meraih jemari lentik Baekhyun dan menatap dalam kedua bola mata lawan bicaranya. "Aku dan dia sudah berakhir."

"Lalu apa yang kulihat di SNS kalian berdua?"

Itu benar. Baekhyun sudah melihat semuanya. Dia memang si kutu buku yang jarang menggunakan social media. Tahap pendekatannya dengan pemuda bernama lengkap Park Chanyeol itu juga tidak melibatkan SNS. Mereka lebih sering bertemu di coffee shop tempat Chanyeol bekerja part time, seperti sekarang, atau bertukar pesan lewat chat pribadi. Mereka tidak saling menanyakan akun SNS masing-masing. Sampai minggu kemarin, salah satu teman Baekhyun menunjukannya sesuatu.

"Aku tidak punya niatan memata-mataimu. Minseok hyung memberitahuku secara tak sengaja saat menemukan akun milik Luhan. Dia pikir pacarnya terlalu mirip denganmu. Karena penasaran, dia mengklik akun milikmu dan menemukan semuanya. Kalian masih saling berhubungan dan sering membuat lovestagram saat kita mulai dekat."

"Kau salah paham, Baek. Itu bukan aku. Kami benar-benar sudah berakhir."

"Kau pikir aku bodoh? Memang ada berapa Park Chanyeol di dunia ini yang wajahnya sama denganmu?" Baekhyun menjeda ucapannya seraya tersenyum getir. "Itu hanya kau, Chanyeol."

Pemuda di hadapannya nampak sangat kacau saat Baekhyun melepaskan tautan tangan mereka. Matanya menatap nanar sementara bibirnya terkatup rapat, tidak bisa menyanggah apapun yang keluar dari mulut Baekhyun. Dan bukannya Baekhyun tidak sadar bagaimana keadaan Chanyeol, karena sedari awal keduanya duduk di sana, ia tahu pemuda itu tidak baik-baik saja. Baekhyun hanya menyimpulkan, itu karena Chanyeol sudah mengetahui semuanya, bahwa sandiwaranya selama ini terbongkar.

"Tidak bisakah kau mempercayaiku?" tanya Chanyeol lirih setelah hening yang cukup panjang. Sayangnya hanya sebuah gelengan yang ia dapatkan.

"Aku bersyukur kita belum sempat memulai semuanya." Baekhyun menarik nafasnya yang terasa berat. Jelas saja, dibohongi bukan sesuatu yang menyenangkan, apalagi jika sudah menyangkut perasaan. "Dan hal lain yang kusyukuri adalah saat aku meminta waktu padamu. Tuhan memberiku jawaban lewat sana."

"Baekhyun..."

"Aku sudah memberikanmu jawaban, Chanyeol. Sekarang biarkan aku pergi. Aku masih ada kelas setengah jam lagi."

Baekhyun pun bangkit, meninggalkan pemuda jangkung yang kini tak kuasa menahan derai air matanya. Namun belum sempat langkahnya menjauh, Baekhyun bisa mendengar sesuatu menghantam lantai disusul pekikan orang-orang di sekitarnya. Saat ia menoleh ke belakang, Baekhyun tidak menduga jika ia akan mendapati tubuh Chanyeol terbaring tak jauh dari meja yang mereka tempati sebelumnya dengan wajah sepucat mayat.

Detik itu Baekhyun tahu, egonya menang.

e)(o

.

.

Park Chanyeol :

- manajemen bisnis semester akhir

- part timer di cofee shop dekat kampus

.

.

Byun Baekhyun :

- chemical tahun kedua

- belum pernah berpacaran

.

.

Xi Luhan :

- institut musik tahun ketiga

- sempurna dari ujung kepala sampai ujung kaki

e)(o

.

.

.

mind to review?

(sebelumnya sudah di post di wattpad dengan nama akun yang sama)