Pulau Rintis, Malaysia.
08 February 2020.
Krystal menatap orang-orang di sekitarnya dengan bingung. GPS ponselnya tidak berfungsi sama sekali saat ini, dan dia tidak tahu sekarang dia ada dimana. Entah itu di Pulau Rintis atau di Kuala Lumpur, atau mungkin Indonesia? Demi apapun yang ada di dunia ini, Krystal sama sekali tidak tahu ada dimana dia saat ini atau ada di tahun berapa dia saat ini.
Kecerobohannya karena tidak memperhatikan waktu yang dia ketikan pada mesin waktu yang membawanya pergi dari masanya. Krystal berharap mesin itu membawanya tepat di waktu yang Halilintar beritahu padanya. Bahkan ponsel canggihnya tidak bisa mendeteksi waktu saat ini akibat terbentur. Ponsel itu sedang memperbaiki mesinnya sendiri dan mungkin membutuhkan waktu satu jam atau lebih. Beruntung Krystal masih sempat membawa ponsel serba guna miliknya itu.
Berbagai tatapan terarah kepada Krystal, gadis itu menghela nafas berat, merasa risih. Memakai mini dress selutut berwarna putih, dengan hiasan wajah dan rambut yang sedikit mencolok, tentu saja membuat Krystal menjadi pusat perhatian, gadis itu terlihat seperti pengantin wanita yang sedang kabur.
Mungkin Krystal harus berhenti sebentar dan menghapus make upnya. Gadis itu memutuskan berhenti di halte bis, dia membuka tas slempangnya, mengambil tissue basah. Dengan telaten dia menghapus make upnya, bermodal dengan layar ponselnya sebagai cermin.
Setelah merasa wajahnya sudah baik-baik saja, dia pun melepas semua hiasan di rambutnya dan membiarkan rambutnya tergerai begitu saja. Gadis itu menatap flower crown yang ada di tangannya. Benda itu terbuat dari emas murni dan pemberian wanita itu. Krystal mendesis kesal.
"Dia pikir benda murahan ini bisa menyogokku?" Desis Krystal. Dia berdiri, memasukan benda itu ke dalam tas slempangnya kemudian kembali berjalan, entah kemana.
Setelah hampir satu jam lamanya berjalan, Krystal pun memasuki area perumahan. Kompleks perumahan itu terasa familiar bagi Krystal, apa lagi taman yang baru saja dia lewati. Krystal menghela napas berat, dia merasa benar-benar lelah, apa lagi ia berjalan memakai high heels yang sangat tinggi, dia yakin kalau kakinya sudah lecet saat ini atau mungkin saja sudah membengkak.
Sebuah kedai menarik perhatian Krystal, kedai itu terlihat seperti kafe outdoor milik ayahnya yang di kelolah kakak ketiganya. Krystal pun memutuskan untuk mendekati kedai itu, beristirahat sebentar dan mungkin memesan minuman dingin juga es batu untuk mengompres kakinya.
"Selamat datang di kedai Kokotiam Atok Abah dan Boboiboy."
Krystal mengernyit, apa gadis berkacamata yang menyambutnya itu baru saja menyebut nama Atok Abah dan Boboiboy? Krystal tersenyum untuk membalas sapaan gadis berkacamata itu lalu memilih kursi dan bangku yang tak jauh dari pohon besar.
Setelah duduk di spot pilihannya Krystal segera melepas high heelsnya, dia meringis saat lecet di kakinya memerah, jari-jari kakinya pun juga membengkak. Ini alasan mengapa dia benci high heels, benda itu selalu saja membuat kakinya terluka.
"Benda sialan," umpat Krystal.
"Astaga, ada apa dengan kakimu?" Tanya gadis berkacamata itu, terlihat jelas ekspresi khawatir di raut wajah gadis itu.
"Bisa tolong ambilkan es batu?" Tanya Krystal, bahkan suara Krystal sudah bergetar saat ini.
Gadis berkacamata itu mengangguk lalu segera pergi dari hadapan Krystal. Tidak butuh waktu lama gadis itu muncul di hadapan Krystal dengan sekantong kecil es batu di tangannya. Krystal tersenyum, menerima es batu itu lalu menempelkannya ke secara bergilir ke setiap lecet dan bengkak di kakinya.
"Siapa namamu?" Tanya gadis itu.
"Krystal," jawab Krystal tanpa menatap gadis itu. "Kau?" Krystal bertanya balik.
"Namaku Ying, salam kenal."
Krystal terkejut lalu menatap gadis itu. "Tante Ying?"
Ying menatap Krystal bingung. "Tante? Usiaku bahkan belum 18 tahun," kata Ying.
'Mulut emberku memang perlu di tampar,' ucap Krystal membatin. Krystal tersenyum canggung. "Maaf, namamu mirip dengan nama tanteku."
Ying mengangguk sebagai respon, walau dia masih terlihat heran. "Aku baru melihatmu disekitar sini, apa kau orang baru?" Tanya Ying.
Krystal mengerjapkan matanya. "Entahlah, aku bahkan tidak tahu ini dimana," jawab Krystal, lalu menyimpan es batu di meja setelah merasa kakinya lebih baik.
Kali ini Ying yang terkejut. "Kau tersesat? Darimana asalmu?"
"Kuala Lumpur," jawab Krystal singkat. "Aku kabur dari pernikahan seseorang dan berakhir di kota ini," sambung Krystal.
"Kaburmu jauh sekali," kata Ying dan hanya di balas tawa canggung dari Krystal. "Oh iya, kau mau pesan sesuatu?"
Dengan cepat Krystal mengangguk cepat. "Coklat dingin dan cake coklat, please?"
Ying menganggukan kepalanya lalu segera menyiapkan pesanan Krystal. Gadis itu menghela nafas berat. Dia mengambil ponsel dari tas slempangnya, mengecek keadaan ponselnya dan berharap semoga ponsel itu sudah selesai memperbaiki mesinnya sendiri.
Krystal mendengus saat mendapati fitur waktu di ponselnya belum berfungsi. Tetapi setidaknya fitur printer ponsel itu sudah berfungsi. Krystal menghela napas lega, dia hanya perlu menanyakan tahun berapa sekarang kemudian mencetak uang dengan ponselnya itu.
"Ini pesananmu."
"Cepat sekali," puji Krystal. "Terima kasih. Ngomong-ngomong, sekarang tahun berapa yah?"
Ying menatap Krystal bingung, tapi langsung menjawab. "2020."
"APA?!" Krystal memekik karena terkejut, membuat Ying dan beberapa orang yang ada di tempat itu ikut terkejut. "Ahh... M-maaf." Krystal meminta maaf dengan gugup.
'Sial, kenapa 2020? Ini satu tahun lebih cepat!'
Krystal mengetik sesuatu di ponselnya hingga sinar biru muncul dari layar gedget milik Krystal, sinar biru itu terlihat seperti hologram yang membentuk lima lembar uang malaysia. Krystal mengklik opsi 'print' yang ada di layar ponselnya, dan setelah itu sinar hologram tadi berubah menjadi lima lembar uang 100 ringgit.
Ying melempar tatapan kagum pada gedget milik Krystal. "Astaga, bagaimana benda itu bisa melakukannya?"
'Bagaimana aku bisa lupa dia ada disitu?' Krystal berdecak. "Teknologi baru, belum di rilis resmi untuk publik," jawab Krystal. Tidak mungkin Krystal mengatakan jika ponselnya memiliki teknologi fitur printer 3D mini produksi 2040.
Lalu Krystal memberikan selembar uang itu kepada Ying untuk membayar pesanannya. Ying pun pergi dari hadapan Krystal, membiarkan gadis itu menikmati pesanannya.
Selagi menikmati coklat dingin dan cake coklatnya, ponsel Krystal bergetar. Krystal melirik ponselnya, gadis itu memutar matanya saat ponselnya sudah seratus persen berfungsi. Ia mengklik fitur pesan di ponselnya, terdapat banyak pesan yang semuanya rata-rata dari ketiga kakak serta ayahnya.
Dia menghapus semua pesan yang masuk kecuali pesan dari kakak tertuanya. Tentu saja.
Hali Galak : Kau sudah sampai?
Hali Galak : Ada sedikit perubahan rencana, pakai earphonemu.
Hali Galak : send a voice note
Krystal segera mengambil earphone dari tasnya, setelah berhasil menyambungkan dengan ponsel, dia langsung memakai earphone itu di telinga kanannya.
"Pertama, maaf aku mengirimmu ke tahun 2020 tanpa persetujuan darimu. Kurasa lebih baik kalau kau berada di sana lebih lama. Kau tahu, sekarang kau di buru oleh keluarga wanita itu."
Tentu saja, kenapa Krystal tidak langsung sadar? Halilintar adalah dalang dari Krystal yang tidak mendarat di tempat yang tepat, dan juga di waktu yang satu tahun lebih cepat dari rencananya. Lupakan soal dia yang di buru oleh keluarga wanita yang menjadi alasan Krystal selalu bertengkar dengan ayahnya, mereka tidak akan mampu menemukannya.
"Kau masih ingat alasan mengapa bunda bisa meninggal 'kan? Peristiwa sialan di tahun 2021. Seharusnya aku mengirimmu di sehari sebelum kejadian itu, tapi setelah kupikir akan ada banyak resiko karena itu aku mengirimmu lebih jauh lagi."
Rasa sesak menumpuk di dada Krystal.
"Yang kau butuhkan adalah kepercayaan ayah, bunda, serta sahabat-sahabat mereka. Akan mudah melindungi bunda setelah kau mendapat kepercayaan mereka. Terserah kau mau mengatakan kau itu siapa."
"Aku menyayangimu, maaf aku tidak bisa ikut bersamamu. Aku harus membereskan kekacauan yang ada di masa ini. Semoga berhasil. Kau adik yang terbaik, Krys."
Crystal Snow
Boboiboy lelah. Dia lelah dengan segala aktifitasnya. Sekolah, menjaga keamanan kota pulau rintis, dan membantu Atok Abah. Ingin rasanya sehari saja Boboiboy libur, hanya berbaring kasur empuknya dan juga bermain game seharian bersama Gopal.
Remaja berusia 17 tahun itu melempar tas sekolahnya ke sudut kamarnya yang bernuansa biru, tanpa mengganti seragam sekolahnya atau pun melepas jas osisnya, Boboiboy langsung melemparkan diri ke kasur dan memejamkan matanya.
"Oi Boboiboy!"
Boboiboy mendengus.
"Apa?"
Tanpa melihat siapa yang memanggilnya Boboiboy sudah tahu kalau itu adalah Ochobot, power sphera kesayangannya sekaligus sahabatnya.
"Ada gadis aneh di kedai Atok Abah," kata Ochobot.
Boboiboy tidak merespon.
"Gadis itu bilang dia mencari ayahnya," kata Ochobot lagi.
"Maksudmu aku harus segera mengganti pakaianku lalu berpecah menjadi tujuh kemudian mencari ayah gadis itu?" Tanya Boboiboy, lalu menghela nafas berat. "Baiklah, tung--"
"Tidak juga," ucap Ochobot memotong perkataan Boboiboy.
Boboiboy menekuk alisnya. "Lalu?"
"Katanya, nama ayahnya adalah Boboiboy."
Hening, Boboiboy tidak merespon karena terkejut. Lalu suara tawa khas Ochobot terdengar memenuhi kamar dominan biru milik Boboiboy.
"Aku bercanda, kenapa begitu kau serius?"
Boboiboy menatap Ochobot kesal lalu melempar bantal kearah power sphera kesayangannya itu. "Keluar dari kamarku!"
"Eh, tapi aku serius ada gadis yang mencarimu di kedai. Dia bilang, dia mengenalmu dan ada urusan denganmu."
"Aku mau istirahat-"
"Assalamualaikum..."
Boboiboy dan Ochobot menoleh kearah pintu masuk kamar Boboiboy, mereka terkejut saat mendapati Krystal berdiri di sana dan tersenyum canggung.
"Walaikumsalam," balas Boboiboy cepat. "Kau siapa? Kenapa bisa ada di situ? Siapa yang mengizinkan kau masuk?"
Krystal meringis saat mendengar pertanyaan bertubi-tubi Boboiboy. "Aku Krystal, aku terlalu lama menunggu di kedai karena itu kakekmu menyuruhku untuk langsung ke rumah ini dan menemuimu."
"Memangnya apa urusanmu?" Tanya Boboiboy lagi.
"Bisakah kita berbicara di ruang tengah? Aku lelah berdiri," Kata Krystal.
Krystal berjalan duluan mendahului Boboiboy dan Ochobot untuk ke ruang tengah, sangat tidak peduli jika saat ini Boboiboy menatapnya dengan kesal dan Ochobot hanya diam saja tanpa mengeluarkan sepatah kata apapun.
Sesampainya di ruang tamu, Krystal langsung duduk di salah satu sofa, di susul Boboiboy yang duduk di sofa single tanpa memutuskan tatapannya dari gadis itu. Sedangkan Ochobot yang merasa tidak memiliki urusan dan tidak mau tahu, memiliki kembali ke kedai.
Tiba-tiba rasa bingung dan ragu muncul di kepalanya. Tatapan Boboiboy terlalu tajam, dan Krystal benci akan hal itu. Krystal tidak tahu bagaimana harus menjelaskan semuanya, dan tatapan tajam dari Boboiboy membuat Krystal semakin ragu.
"Jadi, apa urusanmu?" Tanya Boboiboy to the point.
Dalam hati Krystal berdecak, bagaimana mungkin bisa masa muda ayahnya itu sangat mirip dengan Halilintar yang sangat tajam dan to the point? Akan lebih mudah kalau sifatnya seperti Taufan atau Gempa.
"Sulit untuk menjelaskannya, karena ceritaku akan terdengar tidak masuk akal di otakmu," ucap Krystal. "Tapi... Aku adalah anakmu dari tahun 2046."
Boboiboy mengerjapkan matanya berkali-kali, lalu mendengus. "Kau sedang bercanda?"
Krystal mengangguk cepat. "Tidak! Sungguh!" Sangkal Krystal dengan cepat. "Aku se--"
"Tentu saja apa yang kau katakan tidak masuk akal," kata Boboiboy. "Kau penggemarku? Berusaha menarik perhatian dengan berkhayal seperti itu?"
Mendengar apa yang keluar dari mulut Boboiboy membuat Krystal melotot. "Penggemarmu?! Kenapa kau jadi senarsis Kak Taufan?!"
"Ap--"
Krystal melempar ponselnya ke wajah Boboiboy. Laki-laki itu meringis lalu mengusap hidungnya yang terkena lemparan ponsel itu.
"Buka galeri, ada folder dengan judul ayah disitu," ujar Krystal. "Itu bukti!"
Boboiboy mendengus. "Dasar bar-bar," umpatnya dengan suara pelan. Kemudian Boboiboy melakukan apa yang Krysyal katakan. Ada tiga empat folder dengan judul berbeda di galeri itu, dan yang menarik perhatian adalah folder berjudul Bunda dengan tumbnail wanita berhijab merah muda, wajahnya tidak terlalu jelas.
"Jangan liat folder yang lain!"
"Iya!"
Setelah mengklik folder berjudul Ayah, Boboiboy di sambut dengan berbagai macam foto dan video, seorang pria yang memiliki wajahnya hanya saja terlihat lebih tua. Boboiboy menekuk dahinya. Semua foto itu terlihat asli. Lalu Boboiboy mengklik salah satu video.
Di awal video terlihat seorang gadis kecil sedang tertawa, Boboiboy melirik Krystal sebentar kemudian kembali menatap layar ponsel. Sangat jelas gadis kecil di video itu mirip dengan Krystal.
"Ayah! Ayah nanyi dong buat Ital!"
Dari cara bicara gadis kecil itu entah mengapa rasa gemas muncul di diri Boboiboy, tetapi dia berhasil menyembunyikannya dengan baik. "Krystal mau Ayah nyanyi apa?"
Ketika wajah si pria yang gadis kecil itu panggil 'Ayah' tersorot, Boboiboy terkejut. Pria itu memiliki wajah yang sama dengannya, hanya saja terlihat lebih dewasa.
"Lagu kolea! Yang nyanyi-nya ada banyak!"
"Ayah gak bisa lagu Korea sayang."
"Lagu cinta-cinta aja deh yang ayah pernah nyanyiin buat Bunda."
Kemudian suara tawa seorang wanita terdengar bersamaan dengan layar yang bergetar, menandakan orang yang sedang merekam bergerak hebat karena tertawa. Tiba-tiba perasaan hangat muncul di hati Boboiboy. Suara tawa itu terdengar sangat familiar dan membuatnya merasa nyaman.
"Itu suara tawa bunda," kata Krystal dengan senyuman sedih. "Suara tawa bunda adalah hal yang paling kau sukai, kalau kau marah pasti kak Taufan akan membuat bunda tertawa agar kau tidak jadi marah."
Boboiboy mempause video tersebut, kemudian menatap Krystal dengan tatapan yang sulit di artikan. Boboiboy menggelengkan kepalanya, lalu kembali memfokuskan diri pada ponsel Krystal. Kemudian selama setengah jam, Boboiboy terus membuka satu persatu video yang ada di folder itu. Krystal hanya memperhatikan, sambil berharap kalau Boboiboy akan percaya padanya.
"Kau... Percaya denganku?" Tanya Krystal pelan. "Semua itu bukan editan, aku yakin kau tahu akan hal itu."
Boboiboy mungkin memang keras kepala dan kadang sedikit telmi, tapi dia tidak bodoh. Boboiboy tahu cara membedakan yang palsu dan yang asli. Boboiboy menatap Krystal, terlihat jelas kalau gadis itu sedang berharap.
"Apa yang ada hal buruk yang terjadi di masamu?"
Krystal tersenyum lebar.
Next...
So what do you think about this?? Jangan lupa tinggalkan komentar atau review apapun hehehe.
- With love
Ursparks a.k.a Lujaecy
