Baekhyun memasuki coffee shop seberang kampus dengan langkah tergesa-gesa. Sudah hampir jam 8 malam saat ia dan kedua temannya keluar dari perpustakaan dan berniat melanjutkan tugas yang tertunda di asrama. Jongdae berbaik hati membelikan ketiganya makan malam dalam perjalanan menuju asrama, sebagai imbalan karena Baekhyun dan Minseok mengizinkannya ikut mengerjakan tugas di sana.

Well, Jongdae tidak tinggal di asrama. Ia anak orang kaya yang tinggal di rumah mewah milik kedua orang tuanya. Dan ia membutuhkan bantuan Baekhyun untuk tugasnya. Jongdae tidak menyalin, karena Minseok tidak akan membiarkannya melakukan hal itu pada Baekhyun. Mereka hanya mengerjakan tugas bersama agar bisa saling membantu satu sama lain. Walaupun Baekhyun cerdas, tapi ia mudah stress. Jadi kehadiran Minseok dan Jongdae bisa membantu mood-nya naik.

Sementara Jongdae dan Minseok memesan makan malam di persimpangan, Baekhyun memilih pergi ke kedai kopi sendirian untuk menghemat waktu. Mereka butuh kopi untuk tetap terjaga saat mengerjakan tugas nanti, dan kabar baiknya Jongdae masih bersedia mentraktir Minseok dan dirinya.

"Satu americano dan dua ice caramel latte."

"Americano-nya panas?"

"Ya, panas."

Baekhyun hampir tidak pernah pergi ke kedai kopi ini jika bukan karena mendapat traktiran dari temannya. Ia lebih senang menyimpan uangnya untuk membeli kebutuhan yang lain dan mengganti asupan kafeinnya dengan kopi instan. Untuk itu Baekhyun cukup terkejut saat orang di depannya mengajaknya berbicara seolah mereka saling mengenal, atau paling tidak sering bertemu.

"Baru selesai mengerjakan tugas?"

Baekhyun menganggukkan kepalanya sekali tanpa mengeluarkan suara.

"Di perpustakaan?"

Baekhyun mengangguk lagi.

"Kau pasti mahasiswa yang rajin, mengerjakan tugas di perpustakaan sampai mendekati jam tutupnya."

Ya, perpustakaan di kampusnya tutup jam 8 malam. Beberapa menit lagi dari sekarang.

Kali ini Baekhyun tidak langsung mengiyakan ucapannya. Bukan karena ia merasa risi diajak mengobrol oleh si karyawan, melainkan karena ia tidak terlalu setuju dengan ucapannya. Baekhyun tidak rajin, ia hanya sedang menghemat.

"Aku kuliah di sana juga," ucap si karyawan itu lagi.

"Oh, ya? Aku tidak pernah melihatmu."

"Sudah masuk semester akhir, jadi tidak perlu datang ke sana sering-sering."

Baekhyun terkesiap. Sial! Orang itu adalah seniornya. "Maaf sunbae, aku tidak tahu."

"Hei, tidak apa-apa. Di sini kau adalah pelangganku." Si karyawan yang mengaku seniornya itu terkekeh. Baekhyun bisa melihat lesung pipinya yang tampak cute saat ia tersenyum. "Ngomong-ngomong, aku juga tidak pernah melihatmu. Mahasiswa baru?"

Baekhyun mengangguk. Kali ini terlihat tidak ogah-ogahan seperti sebelumnya.

"Pantas saja. Fakultas mana?"

"Kimia."

Mata si karyawan membulat seketika. "Wah, kau pasti anak yang cerdas."

"T-tidak juga."

"Berhenti mengajaknya berbicara, Yeol. Kau membuatnya takut," sela seorang barista yang menyerahkan pesanan Baekhyun ke arah si karyawan tadi.

"Benarkah? Apa aku membuatmu takut."

"T-tidak kok," ucap Baekhyun mendadak gugup. Kebetulan kedai sedang sepi, jadi mereka bebas untuk mengobrol satu sama lain.

"Ini pesananmu. Tapi sebelumnya, boleh kutahu namamu? Aku Park Chanyeol." Alih-alih menyodorkan tangannya saat memperkenalkan diri, si karyawan bernama Chanyeol itu malah menyodorkan 3 gelas kopi pesanan Baekhyun yang masih tetap ia pegang erat sebelum pemuda mungil itu menjawabnya.

"A-aku... Baekhyun. Byun Baekhyun."

"Ah, Baekhyun. Senang berkenalan denganmu. Sering-seringlah mampir."

"Terima kasih, sunbae."

Malam itu, Baekhyun meninggalkan kedai kopi dengan wajah bersemu merah.

.

.

"Apa terjadi sesuatu?"

Baekhyun tersentak atas pertanyaan tiba-tiba Minseok. Jongdae baru saja pulang karena jam kunjung asrama sudah berakhir. Dan sekarang ia masih berkutat dengan tugasnya yang tinggal sedikit lagi saat Minseok tiba-tiba menanyakan sesuatu yang tak terduga, tentu Baekhyun kaget.

"A-apa?"

"Kau tampak berbeda setelah kembali dari coffee shop. Apa terjadi sesuatu?"

Baekhyun menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan. Percuma merahasiakan sesuatu dari orang kelewat peka seperti Minseok. "Tidak ada. Aku hanya... bertemu dengan seseorang?"

"Kau mengenalnya?"

Baekhyun menggeleng. "Selama tinggal di sini aku tidak pernah diajak mengobrol oleh orang asing sebelumnya. Itu sedikit aneh, hyung. Kau tahu sendiri kan bagaimana kepribadianku? Biasanya orang-orang enggan mengajakku berbicara karena aku terlalu diam dan selalu memasang ekspresi tak tersentuh."

"Yah, kau memang tidak nyaman berinteraksi dengan orang asing." Minseok menimpali diiringi kekehan geli setelahnya. "Tapi kau bisa bertingkah gila juga."

"Hanya di depan orang-orang terdekatku, oke?"

"Ya, baiklah. Jadi apa orang itu mengganggumu?"

Sebelum menjawab pertanyaan Minseok, pikiran Baekhyun berkelana pada kejadian 2 jam yang lalu. Ia tidak merasa terganggu, toh pemuda bernama Park Chanyeol itu tidak melakukan apa pun padanya selain mengajaknya berbicara. Dia mungkin bertingkah aneh dengan menanyakan namanya, tapi menurut Baekhyun itu masih bisa dibilang wajar karena mereka berasal dari kampus yang sama. Mungkin Chanyeol hanya ingin beramah-tamah dengan juniornya.

"Tidak. Dia hanya mengajakku mengobrol."

"Lalu apa yang mengganggumu? Jangan bilang kau menyukainya, Baek!"

"Ish, tentu saja tidak, hyung! A-aku hanya terkejut karena ternyata dia adalah senior kita."

Minseok melebarkan kedua matanya. "Oh, ya? Dari fakultas mana?"

"Aku tidak sempat bertanya."

"Apa dia tampan?" Minseok sepertinya belum ingin menyerah. Dia masih ingin menggoda roommate-nya.

"Hyung!"

Nah, kan... Lihat! Bayinya mulai merajuk. Minseok hanya bisa tertawa dibuatnya.

"Sebaiknya kita lanjutkan pekerjaan kita. Aku tidak mau tidur tengah malam," ucap Baekhyun mutlak, tak ingin membiarkan Minseok kembali menggodanya.

"Aye aye!"

.

.

Tidak ada yang spesial selama sisa minggu itu. Baekhyun masih sama seperti biasa, sibuk dengan tugas dan tugas. Satu-satunya hal yang membuatnya masih waras adalah kehadiran 2 teman barunya. Minseok yang dewasa dan perhatian, juga Jongdae yang selalu ceria dan bertingkah konyol di mana pun mereka berada. Setidaknya kehadiran keduanya membuat hari-hari Baekhyun tidak membosankan.

Malam ini Baekhyun bisa beristirahat dari tumpukan tugas yang hampir membuatnya gila. Jadi ia memutuskan untuk bersantai di kamarnya setelah membersihkan diri, sementara Minseok sedang pergi keluar dengan Jongdae. Saat itulah Baekhyun mendapat panggilan dari nomor temannya yang berwajah kotak itu, namun ia mendengar suara yang berbeda. Terdengar familier, tapi jelas itu bukan Jongdae. Dan suara Minseok juga tidak terdengar seperti itu.

"Halo Baekhyun?"

"Ya, halo. Jongdae, apa itu kau?"

Jeda sesaat sebelum suara di seberang kembali terdengar. "Apa ini Byun Baekhyun?"

"Y-ya, ini aku. Siapa kau? Apa yang terjadi dengan temanku?" Serta merta suara Baekhyun berubah panik saat sadar ponsel Jongdae dipegang oleh orang asing.

"Hei, tenang. Ini aku, Park Chanyeol. Kau masih ingat?"

Baekhyun mendesah lega. Walaupun mereka baru bertemu dan mengobrol sekali, tapi ia tetap mengingatnya. "Sunbae?"

"Bukan. Aku Park Chanyeol."

Baekhyun mengerutkan alisnya bingung. Apa ini Chanyeol yang lain? "Aku sedang berbicara dengan Chanyeol sunbae yang bekerja di coffee shop seberang kampus kan?"

"Ya dan tidak."

"Maksudnya?" Baekhyun yakin betul ini suara Chanyeol, orang yang melayaninya di coffee shop minggu lalu.

"Aku bukan Chanyeol sunbae. Tapi Park Chanyeol."

"Astaga!" Baekhyun hampir mengumpat saat sadar maksud dari si penelepon. Dan benar saja, sedetik kemudian ia mendengar kekehan di seberang sana.

"Panggil aku Chanyeol, tanpa embel-embel apa pun."

"T-tapi..."

"No buts." Chanyeol menyela. "Oh ya, aku meneleponmu karena ingin memberitahu. Ponsel temanmu ketinggalan di sini. Kau ingin aku menyimpannya atau bagaimana?"

"Eum, i-itu... bagaimana kau bisa tahu itu ponsel temanku?"

"Ah, aku memeriksa panggilan terakhirnya dan menemukan namamu. Kupikir kau bukan Baekhyun yang kukenal, tapi setelah mendengar suaramu, aku tahu itu kau."

Baekhyun membalasnya hanya dengan gumaman dan membiarkan hening menguasai keduanya untuk beberapa saat. Sampai suara Chanyeol kembali terdengar dan ia baru sadar belum memberikan jawaban.

"Aku akan menghubungi Jongdae dulu. Dia sedang pergi dengan temanku yang lain. Nanti aku akan menghubungimu lagi, sunbae."

"Chanyeol," koreksi suara di seberang, membuat Baekhyun terkesiap.

"Eung, i-iya maksudku Chanyeol..."

"Nah, begitu. Ya sudah, aku tutup dulu. Jangan lupa untuk kembali menelepon."

Setelah mengatakan ya, cepat-cepat Baekhyun menghubungi Minseok. Tapi panggilannya terus tersambung dengan mailbox. Ia jadi bingung apakah harus membiarkan ponsel Jongdae di sana atau mengambilnya? Tapi berhubung ini masih belum terlalu larut, mungkin ia bisa pergi ke sana sambil jalan-jalan. Toh hanya membutuhkan waktu 10 menit berjalan kaki dari asramanya.

Baekhyun sudah mengenakan setelan tidurnya, yakni celana training dan kaos kebesaran yang tampak nyaman. Ia tidak bermaksud mengganti pakaiannya dan hanya menyambar hoodie juga mantelnya. Suhu udara di penghujung musim gugur semakin dingin, apalagi di malam hari. Dan Baekhyun yang tidak tahan dingin harus bisa melindungi dirinya sendiri dengan baik.

Saat keluar dari asrama, Baekhyun mengirim pesan pada ponsel Jongdae alih-alih menelepon kembali seperti yang diminta Chanyeol. Dia hanya merasa tidak siap untuk kembali berbicara dengan seniornya itu. Sebelumnya Baekhyun juga sudah mengirim pesan pada Minseok dan menjelaskan soal ponsel Jongdae yang ketinggalan di coffee shop. Saat ia akan kembali mengirim pesan dan mengatakan ia akan mengambil ponsel Jongdae ke sana, sebuah panggilan dari Minseok masuk.

"Ya, hyung?"

"Baekhyun, ini aku Jongdae. Apa kau sedang di asrama?"

"Tidak, aku sedang di luar. Sebentar lagi sampai di coffee shop."

"Oh, kau mau mengambil ponselku?"

"Ya, apa lagi memangnya?"

"Astaga, Baek! Terima kasih banyak. Sebenarnya kau tidak perlu repot-repot. Aku menelepon untuk memastikan kau tetap di asrama. Minseok bilang kau pasti sudah pergi ke sana tanpa harus diminta. Aku jadi tidak enak."

"Ya ampun, tidak apa-apa, Dae. Aku hanya bosan di asrama, jadi aku pergi sekalian mencari udara segar."

"Tahu begitu kenapa tidak ikut saja dengan kami?"

"Ck, kau pikir aku tidak tahu? Kalian kan mau kencan setelah 2 minggu penuh penyiksaan dengan tugas-tugas."

"Eh, itu... Hehe."

"Aku hampir sampai. Tutup teleponnya dan nikmati waktu kalian berdua."

"Baiklah. Sekali lagi terima kasih banyak, Baek. Aku akan mengantar Minseok ke asrama sekalian mengambil ponsel."

"Hm..."

Saat panggilan terputus, Baekhyun menyimpan ponselnya di saku mantel dan bergegas masuk ke coffee shop. Di sana ia bisa melihat Chanyeol sedang melayani seorang pelanggan. Saat berjalan menuju antrean, seniornya melambaikan tangan ke arahnya seraya membisikan kalimat 'tunggu sebentar' yang Baekhyun angguki dengan wajah santai.

Saat gilirannya tiba, Chanyeol menyambutnya dengan senyuman. "Kenapa tidak menelepon?"

"Kupikir kau sedang sibuk bekerja, aku tidak mau mengganggu."

Chanyeol hanya mengangguk dan mengambil sesuatu di sakunya. Itu adalah ponsel Jongdae. "Mau minum kopi?"

"Aku tidak bawa uang." Baekhyun menjawab dengan gelengan samar.

"Kutraktir. Ini jam istirahatku, temani aku di sana ya." Chanyeol menunjuk sudut coffee shop masih dengan tangan memegang ponsel Jondae.

"T-tapi sunbae...-"

"Ck, tidak ada tapi dan tidak ada sunbae." Chanyeol berdecak dengan ekspresi kesal dibuat-buat. "Mau pesan apa? Aku memaksa."

Baekhyun menoleh ke belakang saat pikirannya berkecamuk. Ia melihat ada orang lain yang mengantre selain dirinya. Baekhyun harus memutuskan dengan cepat. Tapi sepertinya Chanyeol adalah orang yang sulit ditolak. Akhirnya dengan terpaksa ia mengiyakan ajakan Chanyeol.

"Terserah sunbae saja."

"Chanyeol."

"I-iya, Chanyeol."

Pemuda jangkung itu tersenyum puas dan segera berbalik menuju rekannya untuk memesan. Setelah selesai, Chanyeol keluar dari konter pemesanan dan mengajak Baekhyun ke bagian pojok coffee shop yang masih menyisakan meja kosong.

"Kau ke sini naik apa?" tanya Chanyeol saat keduanya sudah duduk dengan nyaman.

"Jalan kaki."

"Eh?"

"Aku tinggal di asrama, tidak jauh dari sini."

Tidak ada lagi yang berbicara setelah Chanyeol mengangguk-anggukan kepalanya tanda mengerti sampai seorang pelayan mengantarkan pesanan mereka. Tanpa sadar Baekhyun membulatkan matanya saat ia melihat Chanyeol menyodorkan sepotong cake yang tampak lezat, juga secangkir cokelat panas yang uapnya masih terlihat mengepul, menggoda jemari Baekhyun yang sedingin es untuk segera menempel di sana.

"Minumlah, kau tampak kedinginan."

"Terima kasih."

Chanyeol mengangguk dengan senyum yang tak lepas dari wajahnya saat Baekhyun menarik gelasnya dan menempelkan jemarinya di sana. Padahal pemuda mungil itu sudah mengenakan hoodie dan mantel, tapi sepertinya udara di luar sana mampu membuatnya beku. Ini belum memasuki musim dingin, bagaimana nanti jika suhu di luar sudah mencapai minus?

"Ini ponsel temanmu."

Baekhyun mendongak dan langsung menyimpan benda persegi itu di saku mantelnya seraya mengucapkan terima kasih lagi pada Chanyeol. Mereka menghabiskan waktu dalam diam, dan hanya bersuara saat Chanyeol meminta Baekhyun mencoba cake yang ia pesan.

"Apa kau tidak suka cake-nya?" tanya Chanyeol saat Baekhyun hanya memakan sedikit saja.

"Tidak kok, ini enak."

Demi Tuhan! Memangnya siapa yang bisa menolak strawberry cheese cake, huh?

Chanyeol terkekeh melihat gerakan pemuda mungil di depannya. Ia tampak cute dan menawan dengan rambutnya yang sedikit berantakan. Chanyeol tebak ia baru selesai mandi dan belum sempat menyisir rambutnya saat pergi ke sini.

"Kau tinggal dengan si pemilik ponsel?"

"Tidak," Baekhyun menggeleng pelan. "Aku sekamar dengan temanku yang lain. Mereka sedang pergi berdua."

"Kencan?"

"Yah, semacam itu."

"Kau sendiri tidak pergi kencan?"

Baekhyun tampak gelagapan dan hampir saja tersedak dengan pertanyaan yang mendadak itu, membuat lawan bicaranya melantunkan tawa renyah. Ia merutuki sifat jahil Chanyeol yang tidak pandang bulu saat mengeluarkan candaan, bahkan pada orang yang baru dikenalnya sekalipun.

"Baiklah, kau tidak perlu menjawabnya."

Mereka akhirnya kembali mengobrol walaupun sebagian besar percakapannya didominasi oleh Chanyeol. Dan dari situlah Baekhyun tahu jika seniornya itu sudah bekerja di coffee shop sejak tahun pertamanya di kampus.

"Awalnya aku bekerja gila-gilaan. Walaupun kita semua tahu tahun pertama cukup sulit karena kita harus beradaptasi dengan kehidupan baru sebagai mahasiswa, tapi aku senang tiap kali mendapat gaji. Karena aku tahu aku menghasilkannya dengan keringatku sendiri."

"Kau hebat, sunbae."

Ups. Senyum Baekhyun langsung lenyap, cepat-cepat ia menutup mulutnya saat Chanyeol menghadiahinya wajah yang merengut tak suka.

"Ch-Chanyeol."

Pemuda jangkung itu mengangguk puas dengan sudut bibir terangkat menahan senyuman. "Memang sebegitu sulitnya memanggil namaku?"

Baekhyun tidak menjawab. Ia hanya menundukkan kepalanya dan bingung harus melakukan apa. Masalahnya ia benar-benar merasa sungkan harus memanggil seniornya itu hanya dengan sebutan nama.

"Jangan murung begitu! Aku tidak akan memaksa. Tapi kau tetap harus membiasakan diri, oke?"

Dengan gerakan pelan, Baekhyun mendongak untuk menatap wajah Chanyeol. "Baiklah, akan kucoba." Walaupun aku tidak tahu kenapa harus melakukannya, lanjut Baekhyun dalam kepalanya.

"Baekhyun, aku tahu ini tidak sopan. Tapi bolehkah aku menyimpan nomormu?"

"Untuk apa?"

"Untuk berkomunikasi?" Itu bukan jawaban, karena Chanyeol sendiri memang tidak yakin dengan jawabannya.

"Kau menyimpan nomorku dari ponsel Jongdae?"

Chanyeol mengangguk. "Tapi aku belum menyimpannya. Aku mengingatnya di kepalaku."

Baekhyun tidak tahu harus menjawab apa. Ia tidak yakin memberikan nomor ponselnya pada orang asing. Tapi Chanyeol juga bukan sepenuhnya orang asing. Mereka sudah berkenalan. Baekhyun tahu tempat ia bekerja, mereka satu kampus walaupun berbeda fakultas, dan Chanyeol juga tidak terlihat seperti orang jahat. Jadi...-

"Berikan nomor ponselmu, Chanyeol. A-aku... tidak suka nomor asing menghubungiku." Akhirnya Baekhyun menyodorkan ponselnya ke arah Chanyeol dan meminta pemuda itu menyimpan nomornya di sana. Sebagai gantinya, Chanyeol juga menyerahkan ponselnya pada Baekhyun. Bukan untuk meminta nomornya, melainkan agar pemuda mungil itu tahu jika dia sungguhan belum menyimpan nomor ponselnya.

Chanyeol benar-benar mengingatnya di kepala.

"Kau ingat nomorku?"

"Tentu." Chanyeol mengangguk mantap. "Mau bukti?"

Tanpa menunggu jawaban Baekhyun, Chanyeol meraih kembali ponselnya dan mengetikan nomor Baekhyun di sana. Setelah sederet angka muncul, ia langsung melakukan panggilan. Dan tidak perlu menunggu waktu lama, ponsel Baekhyun pun berdering nyaring di sebelahnya.

"Sekarang boleh kusimpan, kan?"

Baekhyun hanya bisa mengangguk pasrah.

Apakah pergi ke coffee shop untuk mengambil ponsel Jongdae adalah keputusan yang tepat?

e)(o

.

.

.

Kim Minseok :

- Roommate Baekhyun

- Lebih tua setahun dari Baekhyun dan Jongdae

.

.

Kim Jongdae :

- Adik kelas Minseok di SMA

- Satu fakultas dengan Baekhyun dan Minseok

.

.

.

A/N :

Ini dia bagian pertamanya. Udah aku publish duluan di wattpad, karena sebelumnya aku punya masalah sewaktu mau up di sini (aku gak tau caranya btw xD). Untungnya, ada temen yang berbaik hati mau bantu ngasih tutorial step by step.

Makasih banyak Eugene buat semua bantuannya

Suatu kehormatan karya pertamaku dibaca sama author dewa kayak kamu.

Lcourage - 021119