Ting!
From : Park Chanyeol
Selamat pagi, Baekhyun. Kau sudah bangun?
Hal pertama yang Baekhyun dapati ketika membuka mata di pagi hari adalah pesan singkat dari Park Chanyeol. Ia jadi teringat kembali kejadian di coffee shop semalam. Untung saja tidurnya cukup nyenyak meskipun satu pertanyaan yang sama terus-menerus berputar di kepalanya.
"Selamat pagi."
Baekhyun tersentak dari lamunannya saat mendengar suara Minseok, ia baru saja masuk ke kamar mereka dengan sesuatu di tangannya. "Oh, selamat pagi, hyung. Kau sudah mandi?"
"Sudah. Aku membuatkan roti panggang untuk kita berdua, kau mau makan sekarang atau mandi dulu?"
"Eung...-" Baekhyun menggaruk pipinya sungkan.
"Makan dulu saja, Baek. Selagi masih hangat."
"Baiklah. Aku akan cuci muka dulu."
Baekhyun pergi ke kamar mandi dan kembali dalam 2 menit dengan wajah yang masih basah. Ia membelokkan kakinya ke arah kanan di mana pantry berada dan membuat segelas susu stroberi di sana. "Hyung, kau mau susu?"
"Tidak usah, aku sudah membuat teh."
Baekhyun mengangguk dan setelah selesai membuat susu, mereka pun menyantap sarapan sederhana mereka tanpa suara. Ketika Minseok selesai dengan kunyahannya, ia memfokuskan pandangannya pada Baekhyun, membuat pemuda mungil itu gugup seketika.
"A-ada apa, hyung?"
"Semalam kau bertemu dengan senior itu?"
Baekhyun menelan makanannya susah payah karena terlalu kaget dengan pertanyaan mendadak Minseok. "Kenapa kau bisa berpikiran seperti itu?"
"Dia kan bekerja di sana. Masa kalian tidak bertemu?"
Baiklah, sepertinya percuma juga menyembunyikan semuanya dari Minseok, pikir Baekhyun. "Ya, kau benar, hyung. Chanyeol yang menemukan ponsel Jongdae. Dia juga mentraktirku cokelat panas dan cake."
Minseok membulatkan kedua matanya. "Huh?! Kau bilang apa?"
"Kau mendengarnya, hyung."
"Iya, memang. Tapi aku tidak percaya dengan pendengaranku sendiri."
"Harusnya yang tidak kau percayai itu adalah apa yang kulakukan semalam. Pendengaranmu baik-baik saja." Baekhyun kembali melanjutkan sarapannya yang tertunda, sementara Minseok masih membeku di tempatnya. Ia pikir Minseok akan terus berdiam diri seperti itu jika dirinya tidak menceritakan kejadian semalam. Jadi setelah selesai dengan sarapannya, Baekhyun pun menceritakan semuanya pada Minseok, termasuk soal pesan yang ia terima beberapa saat yang lalu.
"Tapi kau tidak suka dipaksa."
Baekhyun mengangguk. "Aku tahu. Mungkin karena dia seniorku."
"Tapi dulu kau tidak seperti itu padaku. Dan bahkan kali ini kau dengan sukarela mengizinkan Chanyeol menyimpan nomormu."
Itu benar. Dari awal bertemu dan menjadi roommate, Baekhyun tahu jika Minseok lebih tua setahun darinya. Tapi hal itu tidak pernah membuatnya bersikap sungkan. Ia tidak pernah mengiyakan ajakan Minseok mau dibujuk dengan cara apa pun. Itu karena Baekhyun terbiasa menghindari orang-orang dan membatasi segala bentuk interaksi agar ia tidak merasa bergantung pada orang lain. Baekhyun punya pengalaman buruk dengan yang namanya ikatan. Dan biasanya ia tidak pernah pandang usia soal ini.
"Apa kau tertarik padanya?" Minseok kembali bertanya saat Baekhyun tak kunjung membuka mulutnya.
"Tidak! Jangan mengada-ada, hyung."
Minseok terkekeh geli melihat reaksi Baekhyun. "Baiklah. Lantas bagaimana dengan pesan yang kau terima? Mau kau balas?"
"Entahlah, aku tidak tahu harus membalas apa."
"Memang dia mengirim pesan apa?"
Baekhyun tidak langsung menjawab pertanyaan Minseok dan memilih bangkit dari duduknya menuju kasur. Ia mengambil ponselnya di sana dan menunjukkannya pada Minseok. "Lihat sendiri, hyung."
Minseok menerima ponsel Baekhyun dan membaca sebaris pesan yang ada di sana. Lalu... "Baek, saat kau bilang tidak tahu harus membalas apa, kupikir Chanyeol mengirimu pesan yang aneh-aneh."
"Tepat sekali! Makanya aku tidak tahu harus membalas apa."
"Demi Tuhan, Baek! Kau hanya harus membalas sapaannya, lalu katakan kalau kau sudah bangun."
Baekhyun mengerang di tempatnya mendengar jawaban Minseok. "Justru itu masalahnya, hyung! Kenapa dia harus menanyakan itu?"
Minseok jadi bingung sendiri. Memang apa yang salah dengan menanyakan sudah bangun atau belum? Memangnya percakapan macam apa yang akan terjadi di pagi hari? Kemudian ia sadar, sekarang dirinya sedang berhadapan dengan bocah yang tidak pernah berpacaran sebelumnya. Minseok bahkan ragu Baekhyun pernah bertukar pesan dengan lawan jenis atau dominan dalam konteks lebih dari teman.
Oh, sial! Sekarang Minseok pun jadi berpikir, mungkin saja Baekhyun tidak tahu jika dirinya sedang didekati oleh senior bernama Park Chanyeol itu.
.
.
Baekhyun tahu, menunda sesuatu itu akan selalu berakhir tidak bagus, apa pun perkaranya. Setelah berdebat dengan Minseok pagi tadi, Baekhyun memilih untuk tetap tidak membalas pesan Chanyeol, karena menurutnya itu aneh. Dan Minseok menyerahkan segala keputusan pada Baekhyun. Roommate-nya itu tidak mau ia melakukan sesuatu secara terpaksa apalagi merasa tidak nyaman saat melakukannya. Baekhyun mensyukuri itu, awalnya. Tapi tidak dengan sekarang.
Seharusnya aku menuruti ucapan Minseok hyung, begitu monolognya dalam hati kala mendapati sosok Chanyeol di kantin fakultasnya bersama seorang pemuda yang Baekhyun yakini merupakan seniornya.
"Sebenarnya aku hanya iseng datang kemari," celetuk Chanyeol seraya mendudukkan diri di depan Baekhyun. "Kita duduk di sini saja, Jongin." Chanyeol melanjutkan, merujuk pada seorang pemuda berkulit eksotis yang datang bersamanya. "Dia temanku, namanya Kim Jongin, satu fakultas juga denganmu. Kau mengenalnya?"
"Ya, aku sering melihatnya." Baekhyun menjawab dengan suara kelewat pelan. Ia melirik pada Minseok yang duduk di sampingnya, juga Jongdae yang duduk di depannya, tepat di samping Chanyeol. Melalui tatapannya, ia seolah berteriak 'tolong, selamatkan aku'.
Dan syukurlah, Jongdae mengerti sinyal yang Baekhyun berikan. Atau mungkin dia hanya penasaran? Terserah, yang jelas Baekhyun sangat berterima kasih padanya.
"Kalian saling mengenal?"
Chanyeol menoleh dan menatap Jongdae dengan mata besarnya. "Astaga! Maaf, aku hampir lupa. Namaku Park Chanyeol. Dan ini temanku, Kim Jongin. Kalian satu fakultas, Jongin sudah masuk tahun kedua sekarang."
"Ya ampun, kau Park Chanyeol yang bekerja di coffee shop?"
"Ya, itu aku."
"Aku Jongdae. Kim Jongdae," ucapnya lantang seraya mengulurkan sebelah tangannya untuk berjabat dengan Chanyeol, yang disambut pemuda itu dengan senang hati. "Terima kasih sudah menyimpan ponselku, sunbae."
"Tentu, tak masalah. Senang berkenalan denganmu, Jongdae. Lain kali jangan ceroboh. Jika bukan aku, mungkin ponselmu sudah lenyap."
Jongdae tertawa dan mengangguk patuh. "Akan kucoba."
"Dan aku bukan sunbae. Aku Park Chanyeol. Kau bisa memanggilku Chanyeol."
Jongdae mengerjap di sisi kanannya. Sementara di sisi kirinya, Jongin sudah sibuk menahan tawa sendirian.
Di tengah momen canggung itu, Minseok berinisiatif memecahnya dengan mengulurkan tangan ke arah Chanyeol bermaksud untuk memperkenalkan diri. "Aku Kim Minseok, teman sekamar Baekhyun di asrama."
"Ah, ya. Kau harus memanggilku Chanyeol."
"Tentu. Senang berkenalan denganmu, Chanyeol." Ia menjawab santai dan melakukan hal yang sama pada Jongin.
"Kalian sudah memesan? Biar Jongin yang melakukannya."
"Eh, jangan! Kalian duduk saja, biar aku yang melakukannya." Jongdae yang sudah tersadar dengan cepat menyela dan menawarkan diri untuk memesan makanan. Ia tidak mungkin membiarkan Jongin melakukannya, walau bagaimanapun dia masih memiliki etika. "Kalian mau pesan apa?"
Mereka berempat menyebutkan satu persatu menu yang akan dipesan dan Jongdae pergi setelah mengingat semuanya.
Kurasa ini saatnya, batin Baekhyun merana. Ia mungkin akan mendapat sidang dadakan dari Chanyeol karena tidak membalas pesannya tadi pagi.
"Oh ya Baekhyun, apa kau menerima pesanku?"
Nah, kan. Sudah dimulai. "I-iya."
Di depannya, Chanyeol mendadak berwajah mendung. "Pesanku mengganggumu, ya?"
Sial! Ini yang Baekhyun tidak suka. Seharusnya ia membalas pesan Chanyeol tadi pagi. Seharusnya ia tidak menundanya hingga siang hari. Seharusnya mereka juga tidak perlu bertemu secara tidak sengaja, atau memang sengaja, di kantin fakultasnya. Atau seharusnya ia tidak usah mengizinkan Chanyeol menyimpan nomor ponselnya.
"Pagi tadi Baekhyun bangun kesiangan." Lapor Minseok yang sepenuhnya dusta.
"Oh, benarkah?" Chanyeol tampak benar-benar terkejut. Kenapa ia tidak berpikiran sampai ke sana?
Minseok mengangguk tanpa ragu. "Ia bahkan tidak sempat membuat sarapan. Jadi aku membuatkannya roti panggang sebelum berangkat."
Well, itu tidak sepenuhnya bohong.
"Temanmu baik sekali, Baekhyun."
"Ya, begitulah." Dia memang terlalu baik, batin Baekhyun. Seharusnya ia menurut pada hyung-nya itu. Memang apa salahnya membalas pesan Chanyeol saat itu juga?
"Sudah kubilang, kan?" Jongin bersuara untuk pertama kalinya setelah sesi perkenalan mereka. "Kau terlalu panik, hyung."
Baekhyun tanpa sadar menaikkan alisnya mendengar penuturan Jongin.
"Um, tadi aku memang sempat panik. Aku takut kau merasa terganggu dengan pesanku. Jadi aku pergi mencari Jongin dan ingin meminta saran darinya."
"Kenapa tidak menceritakan bagian di mana kau juga berharap bisa bertemu dengannya?"
"Kim Jongin, haruskah sekarang?" Chanyeol mendesis kesal di tempatnya.
Jongin hanya mengangkat kedua bahunya dan melempar tatapan ke depan, memberi isyarat jika Baekhyun dan Minseok menyaksikan segalanya.
"Baiklah. Aku ketahuan." Chanyeol berucap pasrah dengan wajah merah padam, menimbulkan kekehan tertahan dari 3 orang lainnya.
Jadi, Chanyeol memang sengaja mencari Baekhyun, huh?
.
.
Acara makan siang mereka berlima berjalan lancar, walaupun di antaranya masih ada satu orang yang bersikap canggung. Siapa lagi kalau bukan Baekhyun? Tapi untungnya, dua teman dekat pemuda mungil itu berhasil melakukan perannya dengan baik. Mereka membantu Baekhyun membangun percakapan dengan Chanyeol. Jongin juga bergabung sesekali dan menambah seru obrolan kelimanya.
Segala kesalahpahaman soal pesan Chanyeol yang tak dibalas, berhasil dibereskan. Dan semua itu berkat alibi yang diciptakan oleh Minseok. Tapi masalah lain datang setelahnya. Karena Baekhyun terlanjur berjanji akan membalas pesan Chanyeol, sekarang ia malah panik sendiri.
"Bagaimana ini?"
"Kenapa, Baek?"
Baekhyun menggigit bibirnya tanpa sadar saat menjawab pertanyaan Minseok. "Chanyeol mengirim pesan lagi."
"Apa katanya?"
"Dia bertanya, apa aku sudah pulang?"
"Mau aku yang membalasnya?" tawar Jongdae yang sedari tadi hanya menyimak. Mereka baru saja keluar dari kelas terakhir hari itu. Langit sudah berubah oranye saat ketiganya keluar dari gedung, pertanda hari sudah petang.
"Tidak usah." Baekhyun mengetikkan balasan singkat untuk Chanyeol yang hanya memuat satu kata, 'sudah'. Tapi karena merasa itu terlalu singkat, ia pun menambahkan beberapa kalimat setelahnya.
Minseok yang melihatnya hanya bisa menghela nafas pasrah. Haruskah ia menjelaskan pada Baekhyun agar temannya itu mengerti?
"Baek, sepertinya Chanyeol menyukaimu."
Oh, tunggu sebentar. Itu bukan Minseok.
Baekhyun mengerang tertahan mendengar sesuatu yang menurutnya hanya omong kosong seraya mendelik tajam ke arah Jongdae. "Tadi pagi Minseok hyung. Dan sekarang kau, Kim Jongdae. Sebenarnya ada apa dengan kalian, huh?"
Ups.
Jongdae menaikkan alisnya tak mengerti. Apa yang salah dengan ucapannya? Siapa pun yang bisa melihat harusnya mengerti dengan gelagat Chanyeol. Pemuda jangkung dengan telinga aneh itu jelas menyukai Baekhyun. Tetapi Minseok yang berdiri di sampingnya memberi kode melalui tatapan mata, membuat Jongdae terpaksa bungkam.
Mereka membiarkan Baekhyun saling bertukar pesan dengan Chanyeol sepanjang jalan menuju asrama.
Ting!
From : Park Chanyeol
Tidak mampir ke kedai?
['Tidak. Aku harus mencuci.']
Baekhyun mengetik dengan cepat. Tapi balasan Chanyeol datang tak kalah cepat.
Ting!
From : Park Chanyeol
Mau makan malam di mana?
['Asrama. Di mana lagi?']
Tapi Chayeol tidak pernah menyerah dengan jawaban singkat yang Baekhyun berikan. Pesan darinya terus berdatangan.
Ting!
From : Park Chanyeol
Mau makan malam bersamaku?
['Memangnya kau tidak bekerja?']
Setahu Baekhyun, Chanyeol bekerja sebagai part timer di coffee shop setiap hari. Jadi kenapa dia malah mengajak Baekhyun makan malam bersama? Bagaimana dengan pekerjaannya? Baekhyun tidak ingin menjadi alasan Chanyeol bolos bekerja.
Ting!
Ponsel Baekhyun kembali berbunyi.
From : Park Chanyeol
Kerja. Tapi kan aku punya jam istirahat.
Keputusan Baekhyun sudah bulat. Lagi pula malam ini ia harus mencuci.
['Lain kali saja, Chanyeol.']
Ting!
From : Park Chanyeol
Baiklah. Kalau besok malam bagaimana?
"Aaarrrgggghhhhh!"
Minseok dan Jongdae hampir mengumpat secara bersamaan seiring dengan tubuh mereka yang terlonjak saat mendengar teriakan Baekhyun. Ketiganya baru saja sampai di gerbang asrama dan pemuda itu langsung berlari setelah mengagetkan kedua temannya dengan teriakannya yang tidak main-main.
"Ada apa dengannya?" gumam Jongdae dengan kepala menggeleng prihatin.
.
.
Nyatanya Chanyeol benar-benar tidak menyerah. Ia serius dengan ucapannya kemarin dan menagih janji Baekhyun untuk makan malam bersama. Pemuda itu bahkan berniat menjemput Baekhyun di asramanya yang langsung ditolak mentah-mentah.
['Kita bertemu di restoran saja. Kau ingin makan malam di mana?']
Send.
Ting!
From : Park Chanyeol
Aku hampir lupa. Kau suka makan apa?
Kali ini Baekhyun menghabiskan waktu lebih lama untuk membalas pesan Chanyeol. Masalahnya ia kembali tidak tahu harus menjawab apa. Selama berbulan-bulan tinggal di Seoul dan jauh dari keluarga serta harus selalu menghemat, Baekhyun hampir tidak pernah peduli dengan asupan makannya.
['Apa saja. Asal jangan ada timun.']
Balasan Chanyeol kembali datang untuk menanyakan lebih spesifik tentang apa yang pemuda mungil itu inginkan untuk makan malamnya. Tapi Baekhyun benar-benar tidak memiliki jawaban pasti. Untungnya Chanyeol ingat jika malam ini udara cukup dingin dan makanan hangat sepertinya akan cocok untuk mereka sejak ia mengetahui jika Baekhyun tidak tahan udara dingin.
Ting!
From : Park Chanyeol
Bagaimana dengan makanan berkuah?
['Call.']
.
.
Chanyeol tersenyum senang saat Baekhyun menghabiskan makanannya. Walaupun ia tidak jadi menjemput Baekhyun karena pemuda mungil itu bersikeras akan berangkat sendiri. Alhasil Chanyeol memilih restoran yang tidak terlalu jauh dari asrama Baekhyun.
Penampilan Baekhyun terlihat hampir sama seperti tempo hari saat ia mengambil ponsel Jongdae di coffee shop. Setelan kaos dan celana training yang dibalut dengan mantel. Chanyeol tidak melihat hoodie dibalik mantel tersebut karena Baekhyun mengenakan kaos berlengan panjang. Dan rambutnya terlihat lebih baik, mungkin Baekhyun menyisirnya sebelum berangkat. Ia juga bisa mencium aroma sampo yang manis menguar di sekitar mereka, membuat Chanyeol hampir kehilangan fokus.
"Apa ada sesuatu di wajahku? Makanku berantakan?"
"Huh? Eung, tidak kok."
"Lalu?"
"Tidak ada. Aku hanya suka melihatmu makan."
Baekhyun mendengus tanpa sadar. Apa yang disukai Chanyeol dari cara dia makan? Baekhyun memang sangat yakin jika dirinya termasuk dalam kategori 'rapi' saat makan. Ia tidak suka meneteskan kuah atau bumbu makanan, atau membuatnya tumpah dan berjatuhan di meja makan, tapi ia mempunyai satu kebiasaan buruk yang sulit dihilangkan.
"Apa kau sedang flu?"
"Tidak."
"Tapi kau terus melakukan itu." Chanyeol mempraktikkan bagaimana Baekhyun menarik ingusnya masuk.
Dan inilah yang dimaksud Baekhyun dengan kebiasaan anehnya saat makan.
"Aku ke toilet sebentar." Alih-alih menjelaskan, Baekhyun lebih memilih pergi ke toilet untuk membersihkan hidungnya. Walaupun mereka berdua sama-sama lelaki, tapi membuang ingus di depan orang lain itu tidak sopan.
"Baiklah."
Chanyeol sempat merutuk dalam hati karena sempat menanyakan hal itu. Baekhyun mungkin malu dan langsung melarikan diri ke toilet karena ucapannya. Tapi sebenarnya Chanyeol hanya khawatir, ia tidak bermaksud membuat pemuda mungil itu malu.
"Aku punya kebiasaan aneh," ujar Baekhyun begitu ia kembali dari toilet. "Setiap kali makan, tidak peduli makanannya pedas atau tidak, panas atau tidak, pokoknya bagaimana pun makanannya, aku selalu melakukan itu." Baekhyun mempraktikkan kembali apa yang Chanyeol lakukan sebelumnya. "Hidungku akan terus mengeluarkan lendir seolah aku kepedasan."
"Maaf."
"Kenapa minta maaf?"
"Karena ucapanku pasti membuatmu tidak nyaman."
Baekhyun menggeleng tak setuju. "Seharusnya aku yang minta maaf. Biasanya orang-orang merasa tidak nyaman dengan kebiasaanku ini, jadi aku akan langsung pergi ke toilet untuk membersihkannya."
"Aku baik-baik saja dengan itu, sungguh. Aku mengatakannya karena khawatir. Kupikir kau terserang flu atau apa."
Baekhyun tidak bisa menahan senyumannya yang begitu lebar saat mendengar penuturan Chanyeol. Hanya ada segelintir orang yang mengkhawatirkan dirinya saat melakukan kebiasaan aneh itu. Roommate-nya, Kim Minseok, termasuk salah satunya. Dan kini bertambah satu, Park Chanyeol, seniornya yang baru ia kenal beberapa hari yang lalu.
"Terima kasih, Chanyeol. Aku baik-baik saja."
"Syukurlah. Aku senang mendengarnya."
Ya, aku juga. Batin Baekhyun membenarkan. Ia juga senang mendengar jawaban Chanyeol.
Well, sepertinya tidak buruk juga mengiyakan ajakan makan malam seniornya itu.
e)(o
.
.
.
Kim Jongin :
- Chemical tahun kedua.
- Teman Chanyeol.
.
.
.
A/N :
Hai, kita ketemu lagi. Sebenernya chapter ini udah selesai dari hari Selasa. Tapi karena ngerasa gak puas, aku rombak ulang semuanya. Aku ngerasa takut dan gak pede secara bersamaan, tapi beberapa pembaca terus ngasih semangat, bahkan salah satu author favoritku juga. Huhuhu mau nangis rasanya T_T
Buat naikin mood, aku semedi selama seharian penuh sambil dengerin lagu Broken Youth punya Nico, ostnya Naruto. Di sana ada satu baris lirik yang ngena banget ke hati...
"Kemenangan datang pada mereka yang membuat langkah pertama."
So, aku gak ragu lagi buat terus maju. Dan setelahnya, voilaaa... chapter ini selesai dengan ajaibnya.
Sampai sini, aku pamit. Maaf untuk note-nya yang kepanjangan. Selamat membaca : )
Jangan lupa tinggalkan jejak.
Lcourage - 081119
