Bertukar pesan dengan Chanyeol sudah menjadi kegiatan sehari-hari seorang Byun Baekhyun selama seminggu ini. Sepertinya pemuda mungil itu sudah kebal dengan sensasi tremor yang mendadak muncul tiap kali ponselnya berbunyi menandakan pesan masuk. Temannya di kampus tidak banyak, jadi tidak banyak juga orang yang mengiriminya chat.

Ting!

From : Park Chanyeol

Aku sedang di kampus. Kapan kelasmu selesai?

Saat ini Baekhyun sedang makan siang bersama Minseok dan Jongdae di kantin. Setelah itu ia masih punya satu kelas lagi untuk dihadiri.

['Jam 3. Tapi aku harus ke perpustakaan untuk belajar.']

Ting!

From : Park Chanyeol

Mau kutemani?

['Tidak perlu, Chanyeol.']

Seolah tidak pernah bosan mendapat penolakan berkali-kali, Chanyeol terus saja mengiriminya pesan serupa. Ia selalu ingin menghabiskan waktu bersama Baekhyun, meski itu hanya mengantar ke supermarket atau menemaninya belajar.

Ting!

From : Park Chanyeol

Aku ke kantin fakultasmu, ya.

Baekhyun menghela nafasnya cukup keras hingga menarik perhatian dua temannya.

"Kenapa?" tanya Minseok terdengar khawatir.

"Chanyeol."

Hanya satu kata. Dan Minseok tahu jawabannya. Chanyeol seperti tidak pernah lelah untuk mendekati Baekhyun, padahal roommate-nya selalu bersikap dingin dan menjaga jarak. Minseok takut jika hal ini terus berlanjut, Baekhyun akan sampai pada batasnya dan berakhir dengan meneriaki Park Chanyeol. Walaupun ia tidak pernah melihat Baekhyun melakukannya, sejengkel apa pun dia pada orang-orang yang berusaha mendekatinya.

"Santai, Baek. Ada aku dan Minseok hyung."

Baekhyun hanya bisa mengangguk dan kembali mengunyah makanannya. Sebentar lagi waktu ujian tiba, ia harus menjaga pola makan agar bisa menyeimbangi waktu belajarnya juga jam tidurnya yang berantakan. Mempertahankan beasiswa memang penting, tapi tentu dia harus meraihnya dengan tubuh yang sehat agar hasilnya maksimal.

"Hai, Baekhyun!"

Pemuda mungil itu mendongak dan mendapati sosok jangkung Chanyeol yang datang bersama temannya yang berwajah dingin, Baekhyun mengenalinya sebagai barista yang bekerja bersama Chanyeol di coffee shop.

"Minseok, Jongdae, apa kabar?"

"Kami baik," jawab keduanya kompak.

"Aku datang dengan temanku. Dia Oh Sehun." Chanyeol memperkenalkan temannya dan pemuda itu hanya mengangguk singkat sebagai salam perkenalan.

"Kalian satu fakultas?"

"Ya, tapi dia satu angkatan dengan Jongin."

Jongdae mengangguk paham. "Sudah makan siang? Mau kupesankan sesuatu?"

"Tidak usah. Nanti saja." Chanyeol menolak dengan sopan. "Oh ya, Baek. Nanti kau mau ke perpustakaan?"

"Hm, setelah kelas terakhir selesai."

"Kalau begitu sepulang dari sana, apa kau mau pergi ke coffee shop bersamaku?"

Minseok dan Jongdae saling menatap satu sama lain, sementara Baekhyun langsung menyimpan sumpit dan sendoknya. "Aku harus pulang dan melanjutkan belajar di asrama."

"Kami akan merayakan sesuatu di coffee shop."

Itu adalah suara Sehun. Untuk pertama kalinya ia berbicara setelah bokongnya menempel di kursi kantin.

"Teman-temanmu boleh ikut. Kalian bisa makan sepuasnya."

"Serius Chanyeol?" seru Jongdae semringah.

"Tentu. Kalian bisa pesan apa saja."

"Tapi aku masih harus belajar. Mungkin lain kali." Baekhyun tetap bersikeras. Sudah mendekati ujian semester, ia tidak bisa bersantai apalagi bersenang-senang di coffee shop.

"Hm, begitu ya? Bagaimana kalau nanti kutemani? Kebetulan aku juga harus mengerjakan sesuatu."

Dan seperti sudah bisa ditebak, Chanyeol tidak akan pernah menyerah. Jika Baekhyun tidak bisa pergi ke coffee shop, ia bisa menemani pemuda mungil itu belajar di perpustakaan.

"Nanti kau malah bosan."

"Tidak apa-apa. Toh aku juga punya sesuatu untuk dikerjakan."

"Tapi Chanyeol, acara di coffee shop...,"

"Tidak apa-apa, Sehun. Kita bisa berkumpul lain kali."

"Dengar!" Baekhyun mencoba menarik perhatian 2 pemuda jangkung di hadapannya. "Kalian bisa pergi tanpa aku. Jangan batalkan acaranya hanya karena aku tidak ikut. Aku harus belajar. Sungguh."

Seketika atmosfer berubah canggung saat mereka mendengar penuturan Baekhyun. Minseok baru saja akan menendang kaki sahabatnya di bawah meja, tapi Chanyeol sudah lebih dulu bersuara.

"Tidak apa-apa, acara berkumpulnya bisa dilakukan lain kali. Dan aku juga serius, aku punya sesuatu untuk dilakukan di perpustakaan. Hari ini atau besok, aku harus tetap pergi ke sana."

"Ah!" Jongdae berseru memecah keheningan. "Apa kau sudah mulai menyusun tugas akhirmu?"

"Semacam itu," sahut Chanyeol dengan wajah yang masih terlihat santai, seolah tak terpengaruh oleh ketegangan yang sempat tercipta. "Lagi pula yang akan ujian bukan hanya kalian."

.

.

Baekhyun tahu sikapnya sudah berlebihan pada Chanyeol, tapi tidak mudah baginya untuk meminta maaf. Jadi ia membiarkan seniornya itu menemaninya belajar di perpustakaan. Kadang mereka pergi berempat dengan Minseok juga Jongdae, tapi lebih seringnya mereka pergi berdua saja. Chanyeol akan izin pada bosnya untuk menemani Baekhyun di perpustakaan sampai jam 8 malam kemudian mengantar pemuda mungil itu sampai asrama.

"Chanyeol..."

"Ya?" Chanyeol mendongak dari buku tebal yang sedang dibacanya. Mereka masih di perpustakaan.

"Sudah beberapa hari ini kau menemaniku belajar. Memang bosmu tidak marah?"

"Dia malah senang aku pergi belajar. Kau tahu sendiri kan kalau aku terlalu banyak bekerja? Selain menghadiri kelas, aku menghabiskan semua waktuku di coffee shop."

Sebenarnya Baekhyun masih penasaran dengan alasan Chanyeol bekerja part time. Karena dari penampilannya saja, Baekhyun tahu Chanyeol orang yang cukup berada. Dia sering memakai pakaian branded, tidak seperti Baekhyun yang lebih sering menggunakan barang-barang hasil diskonan. Chanyeol juga selalu mentraktir Baekhyun camilan di tempatnya bekerja, padahal ia tahu menu di sana lumayan menguras kantong. Jadi sebenarnya untuk apa Chanyeol bekerja mati-matian seperti itu?

Gaya hidup? Baekhyun tidak berpikir Chanyeol orang yang seperti itu.

"Hei, kau melamun?"

Baekhyun menggeleng pelan. Semua pertanyaan di dalam kepalanya memaksa keluar, tapi dia tidak pernah sekalipun menanyakan sesuatu tentang jati diri seniornya itu. Baekhyun masih merasa aneh dengan kedekatan mereka saat ini.

"Nanti Suho hyung akan berkunjung ke coffee shop. Aku akan mengajakmu ke sana, kau akan tahu sendiri dia orang yang seperti apa."

"Eh, tidak perlu."

"Tidak apa-apa, aku memang sudah berniat mengenalkanmu padanya saat ada kesempatan. Dia bukan hanya sekedar bos bagiku, Baek. Jadi kau harus mengenalnya juga."

Baekhyun semakin tidak mengerti dengan hubungan mereka. Kenapa Chanyeol harus mengenalkan dia dengan bosnya?

Pemuda mungil itu hanya bisa mengikuti langkah Chanyeol saat keduanya selesai dengan urusan di perpustakaan. Langkah pendeknya membawa mereka menuju parkiran, tempat di mana Chanyeol memarkirkan skuter kesayangannya.

"Pakai helmmu." Chanyeol menyerahkan helm ke arah Baekhyun yang langsung pemuda mungil itu pakai. Sepertinya ia sudah terbiasa mengenakan pelindung kepala tersebut, padahal saat pertama kali memakainya Baekhyun sedikit kesulitan hingga memerlukan bantuan Chanyeol untuk mengenakannya. "Kau sudah pandai sekarang."

"Aku belajar dengan cepat."

"Ya, aku tahu itu." Chanyeol menjawabnya dengan nada renyah. Ia bukannya tidak tahu jika Baekhyun sebenarnya malu saat dirinya membantu mengenakan helm tersebut. Posisi mereka terlalu dekat sampai Chanyeol tahu Baekhyun merona dibuatnya.

Chanyeol mengendarai skuternya dengan santai menuju coffee shop. Cuaca malam ini cukup dingin dan ia sedikit mengkhawatirkan Baekhyun yang harus pulang malam ketika suhu udara semakin turun. Ia sering kali melihat Baekhyun lewat kaca spion saat tengah memeluk tubuhnya sendiri lantaran kedinginan. Padahal Baekhyun tidak pernah lupa mengenakan mantel. Untungnya Chanyeol hanya perlu membawa skuternya keluar area kampus kemudian memutar arah untuk melajukannya menuju coffee shop yang terletak di seberang jalan.

"-...inginan?"

"Apa?" Baekhyun tidak bisa mendengar dengan jelas suara Chanyeol.

"Kau kedinginan?" Chanyeol berusaha menaikkan volume suaranya, terdengar sedikit lebih keras namun tidak sampai berteriak juga.

"Lumayan," jawab Baekhyun sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan, khawatir Chanyeol tidak bisa mendengar suaranya. "Tenang saja, aku masih bisa mengatasinya."

"Peluk aku."

"APA?!"

Chanyeol berjengit kaget mendengar suara Baekhyun. Apa ia salah bicara?

Saat lampu merah di perempatan menyala, Chanyeol menghentikan skuternya dan memanfaatkan kesempatan itu untuk berbicara dengan Baekhyun.

"Kalau dingin, peluk aku saja, Baek. Kau juga bisa memasukkan tanganmu ke saku jaketku. Jangan marah dulu, oke!" Chanyeol memberikan peringatan kala ia merasakan pergerakan Baekhyun, pemuda mungil itu pasti akan menyerukan protes padanya. "Aku hanya takut kau jatuh. Berboncengan tanpa berpegangan itu berbahaya. Kau bisa pegang ujung jaketku, tapi kalau dingin, tinggal masukkan tanganmu ke saku. Aku tidak keberatan."

"Tapi aku yang keberatan," protes Baekhyun. "Lihat ke depan dan berkendaralah dengan benar. Aku bisa menjaga diriku sendiri."

"Baiklah." Chanyeol berucap pasrah seraya memutar balik skuternya saat lampu berubah warna.

Mereka sampai dalam sekejap mata dan Chanyeol langsung bergegas membuatkan secangkir cokelat panas untuk Baekhyun selagi menunggu bosnya datang. Ia ingin Baekhyun merasa sedikit lebih rileks malam ini. Paper tugasnya yang menumpuk sudah membuatnya stress berat. Ditambah dengan waktu ujian yang semakin dekat.

Chanyeol hanya berharap Baekhyun akan baik-baik saja hingga semester ini berakhir.

"Aku akan pergi membantu Sehun sebentar. Kau tunggu di sini dan nikmati cokelat panasmu, hm?"

Baekhyun mengangguk patuh bagai puppy. Wajahnya yang terlihat menggemaskan saat memegang mug dengan kedua tangan lentiknya hampir saja membuat Chanyeol lupa diri. Tatapan polosnya juga menambah ujian Chanyeol dalam mempertahankan kewarasannya.

"Panggil aku jika kau butuh sesuatu. Suho hyung akan datang sebentar lagi."

Dan benar saja, belum juga 15 menit seorang lelaki dengan jaket kulit dan helm di tangan datang membawa aura menyilaukan. Tanpa membuang banyak waktu, Chanyeol menuntun lelaki itu menuju kursi Baekhyun.

"Hyung, kenalkan. Dia Baekhyun."

Baekhyun yang tidak mendapatkan peringatan apa pun hanya bisa mematung di tempat.

"Hai, Baekhyun. Aku Suho, sepupu Chanyeol."

"H-huh?!" Kedua mata Baekhyun membola seketika.

"Kau tidak memberitahunya?"

Chanyeol menggeleng tak berdosa. "Baekhyun tidak bertanya. Aku sudah bilang kau bukan hanya sekedar bos untukku."

"Aku tidak bertanya karena kupikir kau sudah menganggap bosmu sendiri seperti keluarga. Bukankah itu yang sering orang-orang lakukan?" Baekhyun mengeluarkan protesnya.

"Yeah, tapi dia memang saudaraku."

"Seharusnya kau langsung bilang, Chanyeol."

Chanyeol hanya tertawa bodoh di tempatnya. "Aku menunggu kau bertanya, Baek."

"Dasar anak muda." Suho yang melihat itu hanya bisa menggelengkan kepalanya. "Apa Chanyeol hanya memberimu ini?"

Baekhyun melirik gelas cokelat panasnya yang tinggal sisa setengah. "I-iya. A-aku akan membayarnya nanti."

Suho menaikkan alisnya sesaat sebelum kepalanya menoleh ke arah Chanyeol. "Pacarmu polos sekali."

"B-BUKAN!"

"Dan suaranya lumayan kencang. Bisa bermanfaat untuk meneriakimu."

"Tapi aku bukan pacarnya!"

"Oh. Belum kau resmikan, Chan?"

"Permisi." Baekhyun mengetuk meja sebanyak 3 kali untuk menarik perhatian orang di depannya. "Aku berbicara denganmu."

"Oh, ya?" Suho menaikkan alisnya jenaka. "Ambil sesuatu di konter untuk kau makan. Aku akan ke dalam dulu untuk mengurus sesuatu."

"T-tapi..."

"Chan, ambil beberapa potong cake dan makanan lainnya. Kau tidak boleh membiarkan Baekhyun kelaparan di tempatku."

"Aku mengerti. Terima kasih, hyung."

Suho melenggang santai dari meja tersebut, meninggalkan tatapan kosong Baekhyun dengan mulut yang sedikit terbuka, merasa tak habis pikir dengan kejadian barusan. Apa Baekhyun baru saja diabaikan dan diperhatikan dalam waktu bersamaan? Atau ia baru saja dikerjai?

"Chanyeol, aku mau pulang."

"Hei, kau belum menghabiskan cokelatmu. Aku bahkan belum mengambil makanan yang Suho hyung berikan padamu. Kenapa buru-buru sekali?"

"Entahlah."

"Astaga!" Chanyeol menghela nafasnya pelan. "Tolong maafkan kami. Apa yang tadi itu terlalu berlebihan?"

"Tidak tahu. Aku hanya ingin pulang." Baekhyun mencebik kesal. Entah kenapa dia merasa dipermainkan. Tapi ia tidak bisa marah karena tahu Suho hanya bercanda. Apalagi dia sudah menawarkan banyak makanan untuk Baekhyun.

"Ya sudah, tunggu sebentar. Aku akan mengambil beberapa makanan untuk dibawa pulang."

"Tidak usah," tolak Baekhyun merasa tak enak.

"Tapi..."

"Kalau begitu aku pulang sendiri saja."

"Eiy, bagaimana bisa? Kau tanggung jawabku."

"A-apa?!"

"Maksudku kau pergi bersamaku, pulang juga harus bersamaku." Chanyeol menjawab cepat dengan nada kikuk, membuat pemuda di hadapannya mengerjap lucu.

"Tapi kalau kau mau jadi tanggung jawabku sepenuhnya juga tidak apa-apa."

BLUSH.

Wajah Baekhyun sontak memerah. Reaksi alamiah setiap kali Chanyeol mengucapkan kata-kata cheesy padanya.

"Tunggu sebentar, ya. Aku tidak akan lama. Suho hyung bisa marah kalau tahu kau pergi begitu saja tanpa sempat memakan apa pun."

Dengan berat hati Baekhyun pun mengiyakannya. Karena setelah dipikir lagi, ia juga merasa tidak enak jika langsung pulang begitu saja. Baekhyun melihat Chanyeol pergi ke konter pemesanan dan menghilang di balik pintu staf selama 5 menit. Lalu kembali dengan sosok Suho di belakangnya.

"Kau tinggal di asrama?" Suho bertanya saat dirinya kembali duduk di meja Baekhyun.

"Iya, hyung."

"Bawalah beberapa makanan dan berbagi dengan temanmu di sana. Jangan terlalu stress, istirahat dengan cukup dan makan dengan teratur. Jangan terlalu memforsir dirimu sendiri. Chanyeol sangat mengkhawatirkanmu."

"I-iya, hyung." Hanya itu yang bisa Baekhyun katakan sebelum Chanyeol menariknya dari hadapan Suho.

Yang barusan itu... Apa ya?

"Ayo pakai helmnya!" Chanyeol menyerahkan pelindung kepala di tangannya untuk Baekhyun. "Nanti peluk aku, ya. Aku takut kau jatuh menggelinding."

"Kau pikir aku bola?"

Chanyeol hanya membalasnya dengan tawa menggelegar.

Walaupun sering dikerjai, entah kenapa Baekhyun merasa hatinya menghangat tiap kali ia bertemu dengan Chanyeol.

.

.

Ketika harapan hanya bisa menjadi harapan, tak ada yang bisa manusia lakukan selain pasrah menerimanya. Itulah yang Chanyeol lakukan saat mendapat panggilan mendadak dari Jongdae di siang bolong.

Chanyeol sudah tahu Baekhyun dan cuaca dingin bukan perpaduan yang bagus, apalagi ditambah dengan tugas yang menumpuk dan ujian semester yang mengharuskan Baekhyun belajar ekstra keras. Kebiasaannya melewatkan jam makan pun malah memperparah keadaan. Chanyeol bersyukur Baekhyun bisa melewati itu semua dalam keadaan sehat.

Namun tidak sampai hari ini, di mana semua mahasiswa di asrama, termasuk Baekhyun, seharusnya sudah pulang ke rumah masing-masing untuk liburan semester.

Chanyeol mengendarai skuternya seperti orang kesetanan menuju asrama Baekhyun. Di sana ia bertemu dengan seorang penjaga yang membenarkan jika salah satu mahasiswa masih belum pulang. Dan yang lebih membuatnya khawatir lagi adalah saat orang itu mengatakan jika Baekhyun belum keluar dari kamar sejak kemarin.

"Teman sekamarnya, Kim Minseok, menitip pesan padaku, katanya Baekhyun sedang tidak enak badan. Dia akan beristirahat sampai besok, yang mana hari ini. Tapi aku belum melihatnya keluar kamar."

"Lalu kenapa kau tidak pergi untuk mengeceknya?" Chanyeol bertanya dengan nada tertahan, kelewat kesal karena orang itu tampak tidak peduli.

"Karena biasanya Baekhyun akan berangkat sore hari untuk mengejar kereta malam. Kupikir dia masih bersiap-siap."

Chanyeol mengusap wajahnya kasar. Seharusnya peringatan dari Minseok sudah cukup membuat si penjaga asrama waspada. "Apa aku boleh masuk untuk mengecek keadaan Baekhyun? Teman-temannya menghubungiku, mereka khawatir karena Baekhyun tidak membalas pesan ataupun mengangkat telepon. Kami takut sesuatu terjadi padanya."

"Baiklah, ikut aku."

Langkah kaki Chanyeol yang lebar seperti dipaksa untuk berjalan lambat-lambat dengan langkah pendek-pendek karena pergerakan si penjaga asrama yang lamban. Ia hampir saja mengumpat di belakang perempuan bertubuh gempal tersebut karena masih bisa bersantai dalam situasi seperti ini. Jika saja Minseok belum memesan tiket dari jauh hari, dia pasti bisa diandalkan untuk menjaga Baekhyun.

Tok. Tok. Tok.

Pintu diketuk sebanyak 3 kali saat keduanya sampai di depan kamar yang Chanyeol yakini merupakan milik Baekhyun. Tapi tidak ada jawaban. Mereka mencoba mengetuk kembali seraya memanggil nama Baekhyun berkali-kali, namun hasilnya masih tetap sama. Tidak ada jawaban. Saat itulah wajah si wanita penjaga asrama berubah pias.

"A-aku akan ke bawah dulu untuk mengambil kunci cadangan."

"Kau tidak membawanya?" Chanyeol bertanya tak sabar, setengah membentak wanita di hadapannya.

"Ti-tidak. Aku akan cepat."

"Kenapa tidak dari tadi? Sana lari!"

Persetan! Chanyeol sudah tidak peduli lagi apa itu tata krama.

Wanita itu berlari dan kembali dengan nafas putus-putus. Chanyeol langsung merebut kunci di tangannya dan membuka pintu secepat yang ia bisa. Ketika pintu berhasil terbuka, ia melihat koper kecil dekat pintu masuk, sementara pemiliknya tergeletak di samping tempat tidur.

"BAEKHYUN!"

Chanyeol menyesal pergi ke sana menggunakan skuternya dengan alasan lebih praktis dan lebih cepat sampai, ketimbang meminjam mobil milik sepupunya. Sekarang ia bingung bagaimana caranya membawa Baekhyun ke rumah sakit?

"Cepat telepon ambulance!"

.

.

"Chanyeol, bagaimana keadaan Baekhyun?"

Panggilan dari Jongdae masuk. Chanyeol menyempatkan dirinya untuk menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan sebelum menjawab pertanyaan sarat kekhawatiran tersebut. "Dia sudah ditangani. Dokter bilang Baekhyun harus dirawat selama beberapa hari. Kelelahan, kurang istirahat, lambung bermasalah, dan flu berat."

"Astaga! Aku merasa bersalah meninggalkannya di asrama. Seharusnya kuseret saja dia ke rumah saat Minseok pulang."

"Aku rasa kau harus memukul kepalanya dulu sampai pingsan. Baekhyun sangat keras kepala, aku yakin dia akan menolak."

Hening sebentar sebelum Jongdae kembali berseru keras di seberang telepon. "Kau sangat mengenalnya, sunbae!"

Chanyeol hanya bisa terkekeh mendengarnya. Satu jam yang lalu saat ia mendapati tubuh lemah Baekhyun, Chanyeol hampir tidak menyadari apa saja yang ia lakukan dan bagaimana dirinya bisa sampai ke rumah sakit. Semuanya Chanyeol lakukan dalam mode auto pilot. Sampai Jongdae kembali meneleponnya sekarang, saat Baekhyun selesai ditangani oleh dokter.

"Bagaimana adikmu?"

"Dia sudah di pesawat. Aku sedang dalam perjalanan pulang sekarang." Jongdae menjeda sebentar untuk menarik nafas, suaranya mendadak berubah ragu saat ia kembali memulai. "Aku pasti akan langsung ke sana, sunbae. Jadi, bisakah kau menjaga Baekhyunie sampai aku datang?"

"Tidak mau."

"Oh. Kalau begitu...,"

"Kecuali kau hilangkan sunbae dari kalimatmu barusan. Kau sudah melakukannya beberapa kali hari ini."

"Oh, astaga!" Jongdae bisa mendengar tawa ringan Chanyeol setelahnya.

"Jongdae..." Chanyeol memberikan jeda selama beberapa detik seraya mengusap jemari Baekhyun yang masih terasa hangat karena efek demam. "Tanpa kau minta pun, aku akan menjaga Baekhyun sampai dia sembuh."


.

.

.

e)(o

.

.

.

Suho :

- Pemilik coffee shop tempat Chanyeol kerja.

- Sepupu Chanyeol, pendukung ChanBaek garis keras.

.

.

.

A/N :

Happy birthday Park Chanyeol

Aku bukan orang yang pandai ngasih ucapan selamat ulang tahun, tapi doa terbaik selalu aku panjatkan buat kamu. Semoga panjang umur dan sehat selalu, karir makin nanjak, makin sukses bareng exo, dan makin bahagia bareng Baekhyun.

Seneng rasanya bisa update hari ini, walopun masih baper dan belom move on dari konser kemaren ㅠㅠㅠㅠ

Mereka... sangat... sempurna... sangat... sangat... tidak bisa dipercaya... bisa lihat mereka secara langsung.

Rasanya kayak mimpi.

Yang nonton EXplØration kemaren, boleh cerita-cerita di sini gimana kesannya.

Atau yang belom dikasih kesempatan, boleh juga numpang curhat di sini. Temenku banyak yang gak bisa ikut, kalian gak sendirian. Dan aku gak akan pernah lupa berdoa, semoga kalian bisa dapet seenggaknya 1 kesempatan buat liat perform ajaib mereka.

Btw, suara Jongdae jernih syekaliiiii ㅠㅠ

Lcourage - 271119