Beberapa hari sebelumnya, di mana Sehun terpaksa mengikuti Chanyeol untuk menemui seorang pemuda mungil bernama Byun Baekhyun, ia memutuskan untuk bersikap lunak pada sahabatnya. Hanya untuk hari itu, hari spesial di mana sahabatnya dilahirkan.

Sehun sudah mendapat mandat untuk membuat perayaan kecil-kecilan dan membiarkan Chanyeol memilih sendiri siapa yang ingin ia undang dalam acara tersebut. Dan bukan hal yang sulit untuk menebak jika Byun Baekhyun adalah orang yang pertama masuk dalam daftar. Chanyeol tidak peduli pada yang lain, mereka bebas datang sesuka hati, Chanyeol tidak akan mempermasalahkan siapa tamunya hari itu. Tapi justru orang yang paling sahabatnya inginkan dalam acara tersebut malah menolak hadir dengan alasan belajar.

Sehun hampir saja kehilangan kesabarannya menghadapi si kutu buku dingin Byun Baekhyun dan mengatakan hal yang sebenarnya. Tapi permintaan yang ia terima untuk membuat Chanyeol bahagia hari itu bukanlah sesuatu yang dianggapnya sepele. Baginya, permintaan sederhana itu sudah seperti perintah mutlak yang harus ia laksanakan bagaimana pun caranya. Termasuk jika harus membatalkan perayaan kecil yang sudah ia dan kawan-kawannya rencanakan agar bisa membuat Chanyeol menghabiskan waktu bersama Baekhyun di perpustakaan.

Sial! Apa pun hasilnya, Sehun harus tetap melaporkan hal tersebut. Dia sedikit beruntung karena permintaan yang dianggapnya sebagai perintah itu juga berlaku bagi orang yang memintanya.

Chanyeol lolos. Atau mungkin, permainan mengabaikan sementara ini akan tetap berlanjut. Entah sampai kapan.

To : My Deer

['Chanyeol pergi ke asrama untuk mengecek keadaan bocah itu. Sepertinya sesuatu telah terjadi, karena Chanyeol sudah pergi seharian penuh.]

From : My Deer

It's okay. Tetap kabari aku.

Sehun menaruh kembali ponselnya di saku, tugasnya untuk melapor selesai.

.

.

Baekhyun berdiri di seberang jalan saat ia menatap siluet Chanyeol di dalam coffee shop. Ia terlihat berbeda. Chanyeol mengenakan pakaian mahal dan sedang bercengkerama bersama teman-temannya. Ada Jongin, Sehun, bahkan Suho. Mereka semua berbaur bersama puluhan manusia lainnya yang memenuhi coffee shop. Musik yang mengalun indah terdengar hingga tempat Baekhyun berdiri. Ia mengernyit saat menyadari betapa sepinya jalanan hari itu. Semua terasa lengang dan kosong, kecuali keramaian yang terjadi di dalam sana.

Baekhyun bertanya-tanya, pergi ke mana orang-orang yang biasanya memenuhi jalan pedestrian di sepanjang area kampusnya? Ke mana juga perginya kendaraan yang biasanya berlalu lalang di sana? Mengapa ia hanya sendirian?

Saat Baekhyun mencoba mencari keberadaan Chanyeol di coffee shop dari tempatnya berdiri saat ini, ia melihat sesuatu.

Sebuah seringai.

Mereka semua, orang-orang yang Chanyeol perkenalkan padanya, termasuk si pemuda jangkung bertelinga lebar itu juga. Baekhyun ingin pergi dari sana, tapi sesuatu menariknya untuk menyeberangi jalan raya menuju coffee shop. Namun belum sempat langkahnya mencapai tempat tersebut, sebuah cahaya menyilaukan menghentikannya.

Lalu semua buram.

Baekhyun tahu ia sedang bermimpi. Biasanya ia akan melupakan semua mimpinya begitu terjaga, tapi yang barusan itu terasa begitu nyata. Baekhyun juga tahu betul jika sedang sakit begini, mimpinya akan meliar, dalam artian imajinasinya akan berada dalam level tertinggi hingga menghasilkan mimpi paling tidak masuk akal dan cenderung menyeramkan. Ia tidak mungkin lupa jika kemarin dirinya terserang demam.

Sebelum libur semester tiba, Baekhyun memang sudah menunjukkan gejala flu. Dan sore itu, tubuhnya tidak bisa lagi menahan semuanya. Ia hanya ingin tidur dan memulihkan tenaga, membiarkan Minseok pulang duluan dan menolak permintaan Jongdae yang menyuruhnya untuk menginap alih-alih terbaring sendirian di asrama. Baekhyun hanya ingin istirahat selama sehari, kemudian pulang dengan kereta keesokan harinya seperti biasa.

Harusnya memang seperti itu.

Baekhyun tidak menyangka jika pagi tadi keadaannya malah kian memburuk, hingga untuk menelepon Jongdae saja ia tak sanggup. Jadi Baekhyun sudah bisa menebak jika dirinya akan berakhir terbaring lemah di rumah sakit. Namun yang tidak ia duga adalah orang yang menungguinya saat ini.

"Cha-Chanyeol..."

Chanyeol mengerjap, ia tidak sepenuhnya tidur karena masih bisa merasakan pergerakan tangan Baekhyun dalam genggamannya, juga suara lirih yang memanggil namanya. "Kau sudah bangun? Sebentar, aku akan panggilkan dokter."

"Chanyeol..." Masih dengan suara lirihnya, Baekhyun kembali menyerukan nama Chanyeol hingga menarik perhatian seniornya yang sudah bersiap meninggalkan ruangan. "Kenapa kau di sini?"

"Ceritanya panjang. Sekarang biarkan aku memanggil dokter dulu, hm?"

Baekhyun tidak punya pilihan lain selain menganggukkan kepalanya. Ia melihat Chanyeol melesat keluar dari kamar inapnya dan kembali bersama seorang dokter jaga dan perawat. Mereka selesai melakukan pengecekan selama beberapa menit termasuk menjelaskan soal Baekhyun yang terpaksa harus menginap untuk memulihkan kondisi tubuhnya.

Baekhyun benar-benar berada dalam masalah besar. Dokter memberinya peringatan keras soal lambungnya juga pola makan dan jam tidurnya yang berantakan. Ia bisa berakhir mendekam di sana selama berhari-hari jika kondisinya lebih parah dari ini.

"Kau dengar apa yang dokter katakan? Kali ini jangan lagi membantah, mengerti?" Chanyeol berusaha keras untuk membuat suaranya tidak terdengar menyeramkan, meskipun saat ini dirinya tengah marah. Ia marah karena Baekhyun sudah mengesampingkan kesehatan tubuhnya sendiri. Padahal Chanyeol dan 2 sahabatnya sudah sering memberikan nasihat padanya, meminta dengan pelan-pelan agar Baekhyun mengerti bahwa kesehatan itu lebih penting dibanding nilai-nilai akademisnya.

Chanyeol meraih tubuh ringkih Baekhyun saat ia mendengar isakan yang keluar dari mulutnya. Ia tahu Baekhyun sudah menyesali perbuatannya, Chanyeol tidak perlu memastikan hal tersebut melalui kata-kata, karena ia bisa mengerti dengan sendirinya.

Pemuda mungil itu menyesal. Ia bukan hanya mengabaikan kesehatannya sendiri, melainkan orang-orang yang juga peduli padanya.

"Ma-maaf... hiks..."

"Ssh, minta maaf pada dirimu sendiri. Kau tahu apa yang harus kau lakukan."

Baekhyun mengangguk dan melepaskan pelukan Chanyeol. "Aku mau sembuh."

"Kalau begitu, kau harus makan dan minum obatmu."

Sekali lagi Baekhyun mengangguk. Wajahnya yang basah oleh air mata Chanyeol usap perlahan hingga mengering. Saat itulah dirinya bisa tersenyum, karena pemuda jangkung di hadapannya juga melakukan hal yang serupa. Beban yang mengimpit dadanya beberapa saat yang lalu seolah terbang entah ke mana, seiring dengan makin lebar senyumannya saat ia mendengar Chanyeol memujinya.

"Good boy."

.

.

Jongdae tiba di rumah sakit saat Baekhyun masih tertidur, sementara Chanyeol masih setia duduk di samping ranjang, menunggui sahabatnya dengan tangan yang menggenggam jemari lentik si mungil.

"Kau datang."

Jongdae meletakkan keranjang buah yang dibawanya di nakas. "Ya. Terima kasih sudah menjaganya."

Chanyeol hanya bergumam. Matanya masih fokus pada wajah Baekhyun yang terlihat damai. Tidak seperti siang tadi saat mereka baru sampai di rumah sakit, di mana Baekhyun sesekali meringis dalam tidurnya.

"Tadi Baekhyun sudah bangun, dia menangis saat dokter memberi tahu tentang kondisinya. Mungkin karena aku sedikit memarahinya juga."

"Baekhyun menangis? Dia tidak balik marah padamu?" Jongdae bertanya waswas.

"Tidak. Dia terlihat menyesal, untuk banyak alasan. Kurasa karena dia sadar sudah mengabaikan nasihat kalian selain kesehatannya sendiri."

"Dan nasihatmu." Jongdae menghela nafas, mencoba lebih santai. "Ini memang yang paling parah, sebelumnya dia tidak pernah seperti ini. Kami tahu Baekhyun mudah stress, tapi aku tidak pernah melihatnya belajar mati-matian hingga mengabaikan kondisi tubuhnya sendiri."

"Apa dia sedang punya masalah?"

"Entahlah, Baekhyun sedikit tertutup."

Mereka terjebak dalam keheningan selama beberapa saat setelahnya, sibuk dengan pikiran masing-masing.

Chanyeol sedang mengingat saat pertama kali ia bertemu dengan Baekhyun sebulan yang lalu. Pemuda itu terlihat begitu mungil di mata Chanyeol. Tubuhnya tidak terlalu pendek, tapi posturnya yang nyaris kurus membuat Baekhyun tampak sangat kecil. Bahkan lebih kecil dari pacar Jongin. Chanyeol tidak pernah mengira jika dalam kurun waktu sebulan saja, ia akan mendapati bobot tubuh Baekhyun yang menurun drastis dan membuatnya terlihat jauh lebih kurus dibanding pertemuan pertama mereka.

Jongdae juga berpikiran sama. Bahkan sejak 2 bulan yang lalu, ia dan Minseok sudah menyadari perubahan Baekhyun. Sahabatnya itu terlihat lebih ambisius dari sebelumnya. Ia terlalu sibuk belajar hingga tidak sempat bersosialisasi dengan temannya yang lain. Hingga seorang senior bernama Park Chanyeol muncul dan berhasil mengalihkan perhatian Baekhyun sedikit demi sedikit.

Tidak ada yang lebih disyukuri oleh dirinya dan Minseok selain fakta jika Chanyeol begitu perhatian pada Baekhyun.

"Jongdae..."

"Oh, iya? Kenapa?"

Chanyeol bangkit dari kursinya dan beralih menghadap Jongdae. "Aku harus pergi ke coffee shop sebentar, nanti malam aku akan kembali untuk menjaganya."

"Tidak perlu, Chanyeol. Aku sudah bilang pada orang tuaku akan menginap di sini. Lagi pula adikku sudah berangkat ke Jeju, aku tidak harus menjaganya di rumah. Terima kasih sudah menemani Baekhyun sampai aku datang." Jongdae berkata seraya membungkukkan badannya, ia sungguh bersyukur Chanyeol mau meluangkan waktunya untuk menjaga dan merawat Baekhyun.

"Tapi aku masih tetap ingin datang dan berjaga di sini."

"Aku sudah banyak merepotkanmu."

"Tidak masalah. Coffee shop ramai dari siang hingga malam hari. Kau bisa ke sini untuk menggantikanku di jam itu. Tidak mungkin kau menginap seharian di sini, bukan?"

"Iya, memang." Jongdae mengangguk.

"Baekhyun tidak boleh ditinggal sendiri. Harus ada yang mengawasinya saat makan. Dokter bilang lambungnya terluka, ia tidak boleh melewatkan jam makannya. Tapi tadi saat aku menyuapinya, ia mengeluhkan perutnya yang masih sakit hingga membuatnya tidak berselera." Chanyeol menjelaskan panjang lebar hingga Jongdae mengerti. "Aku terlalu mengkhawatirkannya, kan?"

"Aku mengerti, Chanyeol." Jongdae tersenyum maklum. "Baiklah. Kita akan bergantian menjaganya."

"Aku tahu kau bisa diandalkan."

Jongdae bisa melihat tatapan penuh kasih milik Chanyeol saat seniornya itu mengusap dahi Baekhyun dan merapikan rambutnya seraya berbisik lembut.

"Aku akan kembali. Makan yang banyak saat kau bangun nanti."

.

.

Hal pertama yang Baekhyun lakukan ketika ia kembali mendapati sosok Chanyeol di pagi hari adalah merengut. Padahal seniornya itu sudah menyambutnya dengan ucapan selamat pagi yang meneduhkan.

"Kenapa kau kembali?"

Semalam Baekhyun terbangun saat Chanyeol sudah pergi. Jongdae bilang pemuda jangkung bertelinga lebar itu harus kembali ke coffee shop. Sahabatnya juga bilang mereka akan bergantian menjaga Baekhyun, tapi ia tidak mengira akan melihat Chanyeol sepagi ini.

Well, Jongdae memang tidak cerita Chanyeol akan kembali ke rumah sakit setelah jam kerjanya di coffee shop selesai. Dia hanya bilang mereka akan bergantian menemani Baekhyun. Dan pemuda mungil itu menganggap Chanyeol akan kembali esok hari. Tapi tidak sepagi ini juga, pikirnya.

"Memang Jongdae tidak bilang? Aku kembali ke sini setelah selesai bekerja."

"Maksudmu kau ke sini hampir tengah malam dan menyuruh Jongdae pulang?"

"Eung, yeah?" Chanyeol sepertinya baru sadar apa yang ia lakukan. "Dia membawa mobil."

Baekhyun hanya bisa menyembunyikan wajah di antara kedua telapak tangannya. Ia sudah merepotkan banyak orang.

"Jongdae bilang kau langsung tidur tidak lama setelah makananmu habis. Mungkin dia tidak sempat cerita."

Masih tidak ada jawaban, meskipun Baekhyun telah menurunkan kedua tangannya hingga Chanyeol bisa menangkap raut wajah bersalah di sana.

"Maaf karena aku terlalu bersemangat kembali ke sini sampai tidak sadar jika itu hampir tengah malam. Dan aku malah menyuruh Jongdae untuk pulang."

"Aku merepotkan kalian."

"Jangan bicara seperti itu. Aku sama sekali tidak repot, Baek."

Sayangnya Baekhyun tidak berpikir demikian. Ia tetap merasa bersalah.

Mereka berakhir saling mendiamkan satu sama lain. Chanyeol melakukannya karena ia ingin memberikan waktu untuk Baekhyun, ia tidak mau memaksa pemuda mungil itu. Sementara Baekhyun lebih karena tidak tahu harus melakukan apa selain menyalahkan dirinya sendiri. Meski begitu Chanyeol tetap setia menjaganya. Ia bahkan membantu Baekhyun saat pemuda mungil itu beranjak dari tempat tidurnya dan berkata ingin ke toilet.

Setelah selesai dengan urusannya di kamar mandi, Chanyeol membantu Baekhyun membersihkan diri. Ia pergi menemui perawat dan meminta handuk kecil untuk mengelap tubuh Baekhyun. Tentu saja Chanyeol tahu pemuda mungil itu akan menolak. Tapi bukan Chanyeol namanya jika ia tidak berhasil memaksa Baekhyun.

"Aku akan membersihkan wajah dan lehermu, juga tangan dan kakimu. Hanya itu," bujuk Chanyeol sabar. "Atau kau ingin aku memanggilkan perawat ke sini?"

"JANGAN!"

Chanyeol terkekeh melihat reaksi Baekhyun. "Kalau begitu siapa yang akan mengelap bagian tubuhmu yang lain? Jongdae baru akan kembali siang nanti."

"A-akan kulakukan sendiri."

"Tanganmu sedang diinfus."

"T-tapi...,"

"Tidak perlu kau buka bajumu, lepaskan saja 2 kancing teratasnya. Aku hanya akan membantu mengelap sampai lehermu. Kau bisa mengusap perut dan dadamu sendiri. Setelah itu berbalik agar aku bisa mengusap punggungmu. Aku janji tidak akan berbuat macam-macam."

"A-aku tahu. Tapi... aku malu."

"Astaga!" Chanyeol tertawa renyah mendengarnya, apalagi saat ia melihat wajah Baekhyun yang sudah memerah. "Tutup matamu jika malu. Aku sudah berjanji tidak akan berbuat macam-macam."

Baekhyun masih ragu. Tapi tubuhnya yang lengket benar-benar terasa tidak nyaman. Jadi dengan terpaksa ia mengangguk dan membiarkan Chanyeol mengelap tubuhnya.

Dimulai dari wajah, Chanyeol mengusapnya begitu pelan hingga bagian lehernya, seolah jika ia menekannya terlalu kuat, Baekhyun akan hancur. Perlakuannya begitu lembut, membuat Baekhyun menyesal sudah berpikir yang tidak-tidak terhadap seniornya.

Chanyeol melakukan hal yang sama pada lengan Baekhyun, ia mengusap pelan keduanya bak tengah menyentuh porselen berharga. Hingga tiba gilirannya untuk mengusap punggung Baekhyun, ia melakukannya dengan kedua tangan yang mulai gemetar. Chanyeol tak ingin menampik jika tubuh Baekhyun tampak sempurna di matanya. Meski Baekhyun hanya mengangkat sedikit pakaian rumah sakitnya, menampilkan bagian pinggulnya yang kecil seperti perempuan.

Shit! Chanyeol tidak tahu dibalik tubuh kurus Baekhyun, terdapat pinggul mulus nan seksi bak gitar Spanyol.

"Sudah." Chanyeol berusaha membuat suaranya tidak bergetar, seperti tangan dan kakinya. Ia mulai menyesali tawarannya membantu Baekhyun membersihkan diri. Godaan ini terlalu nikmat untuk dilewatkan.

Baekhyun berbalik dan kembali berbaring terlentang. "A-aku akan me-melakukannya sendiri."

"Ketiakmu?"

"B-biar aku saja," cicit Baekhyun, malu setengah mati.

Chanyeol menyadari suara Baekhyun yang bergetar, begitu pula tangannya yang meminta handuk pada Chanyeol. Jangan tanya bagaimana wajahnya, karena itu sudah sepenuhnya memerah. Ia mulai khawatir Baekhyun bisa pingsan kapan saja.

"Baiklah. Hanya hati-hati dengan selang infusnya."

Baekhyun mengangguk dan melakukan secepat dan sehati-hati yang ia bisa. Saat tiba gilirannya untuk membersihkan ketiak bagian kanan menggunakan tangan kirinya, Baekhyun sedikit kesulitan. Tapi Chanyeol dengan sigap memegangi selang infusnya, membuat pekerjaan Baekhyun lebih mudah.

"Sekarang kakimu. Berikan handuknya padaku."

"Chanyeol, biarkan saja. Itu kotor."

"Tidak apa-apa, Baek. Memang sekotor apa kakimu jika seharian kemarin kau hanya berbaring di tempat tidur?" Chanyeol memberikan senyum teduh dan menenangkan hingga tanpa sadar Baekhyun menyerahkan handuk di tangannya.

"Sarapanmu akan tiba sebentar lagi. Nanti habiskan seperti semalam, ya."

"I-iya. Terima kasih, Chanyeol."

"Hm."

Chanyeol senang sekali saat tahu jika Baekhyun menghabiskan makan malamnya. Sepertinya lambungnya sudah tidak terlalu sakit. Ia bersyukur karena Baekhyun tidak terlalu rewel saat meminum obat, karena dokter bilang obat untuk lambungnya harus diminum secepat mungkin jika ingin rasa sakitnya mereda.

Setelah selesai dengan pekerjaannya, Chanyeol bergegas membereskan semuanya sekalian pamit untuk mencuci muka. Ketika kembali, wajahnya sudah lebih segar dari sebelumnya. Ia menawari Baekhyun apel yang dibawa Jongdae semalam. Syukurlah pemuda mungil itu mengiyakannya sehingga Chanyeol dengan cepat mengupas dan memotongnya menjadi beberapa bagian.

Sarapan Baekhyun datang tidak lama kemudian, dan Chanyeol dengan setia menyuapinya seperti kemarin. Kali ini Baekhyun juga menghabiskan makanannya hingga tak bersisa.

Tidak ada hal lain yang Chanyeol syukuri pagi itu selain fakta jika Baekhyun sudah terlihat lebih baik.

Ah, mungkin ada 1 lagi. Yakni terbangun dari tidur ayamnya di samping Baekhyun yang masih terlelap. Sungguh pemandangan yang sangat indah, mendapati wajah cantik pemuda mungil itu saat ia membuka matanya. Chanyeol ingin hal itu terjadi setiap pagi di sepanjang sisa hidupnya.


.

.

.

e)(o

.

.

.

A/N :

Seminggu yang lalu, aku diberi kesempatan untuk melihat wujud mereka secara langsung, disuguhi penampilan yang luar biasa memukau, walopun aku ada di baris belakang, terlalu jauh dari panggung utama. Tapi mereka nyata, ada di hadapan aku.

Edisi masih belom bisa move on dari EP5 ㅠㅠ

Oh ya, aku update hari ini sengaja untuk menutup bulan November yang sangat berkesan buatku. Sekaligus mengenang konser seminggu yang lalu.

Aku masih belom sanggup liatin fancam, foto, maupun dengerin lagu yang masuk setlist EXplØration pasca konser. Masih baper. Jadi seminggu kemaren aku sibuk ngetik part terbaru SECOND sekalian nunggu comeback EXO xD

Aku lagi dalam kondisi liat sarung aja bisa baper parah ㅠㅠ

.

.

Lcourage – 301119

((Ps. Kasih tau kalo ada typo))