Baekhyun terbangun di pagi buta dan mendapati dengkur halus seniornya yang tertidur di ranjang kecil khusus untuk orang yang menunggui pasien. Selama 3 hari ini, pemuda jangkung bernama Park Chanyeol itu meringkuk di sana tanpa pernah protes, sekali pun kakinya harus ditekuk atau menggantung karena ranjang tambahan itu begitu kecil. Dia dengan senang hati menunggu dan menjaga Baekhyun setiap malam hingga pagi menjelang.

Saat siang hari pun, Baekhyun tidak pernah dibiarkan sendirian karena ada Jongdae yang menggantikan absennya Chanyeol.

Tidak ada yang bisa pemuda mungil itu lakukan selain menerima kebaikan dua orang tersebut. Ia sendirian di kota sebesar Seoul, tanpa kerabat maupun keluarga yang menemaninya ketika sakit. Baekhyun memang sengaja tidak memberitahu orang tuanya karena takut mereka khawatir. Toh ia baik-baik saja setelah menghabiskan 1 kantung cairan infus. Namun dokter masih mengharuskannya opname selama 3 hari untuk memulihkan kondisi lambungnya.

"Kondisi anda semakin membaik. Siang nanti anda sudah bisa pulang. Jangan lupa untuk menebus obatnya dan meminumnya secara rutin hingga habis."

Baekhyun mengangguk tanda mengerti. "Terima kasih, dokter."

"Kami permisi. Semoga cepat sembuh."

Itu adalah pemeriksaan rutin yang dilakukan dokter setiap pagi dan menjadi yang terakhir sebelum Baekhyun pulang. Ia lega karena sudah mendapat izin untuk meninggalkan rumah sakit. Walau bagaimana pun ia harus segera pulang jika tidak ingin orang tuanya khawatir.

"Sepertinya aku tidak akan langsung pulang."

Baekhyun melirik pemuda jangkung yang masih setia menemaninya. Ia belum bergegas karena Jongdae bilang akan sedikit terlambat datang ke rumah sakit.

"Tidak apa-apa, Chanyeol. Dokter sudah selesai melakukan pemeriksaan. Kau dengar sendiri tadi, siang nanti aku sudah boleh pulang. Jongdae juga akan sampai sebentar lagi."

"Iya, aku tahu. Tapi aku harus tetap di sini."

Baekhyun ingin bertanya kenapa, tapi urung saat ponsel Chanyeol berdering.

"Ya, hyung." Hening sesaat. "Oh, sebentar lagi. Baekhyun baru selesai diperiksa."

Si mungil mengerutkan keningnya.

"Yakin? Mau kujemput? Ruangannya di lantai 3. Kamar nomor 311. Ambil arah kanan setelah keluar dari lift." Hening lagi sedetik sebelum Chanyeol kembali menjawab, "Baiklah. Kutunggu." Kemudian ia kembali menatap Baekhyun yang melemparkan tatapan penuh tanya padanya. "Suho hyung. Dia menanyakan jam besuk di sini."

"D-dia... mau ke sini? Menjengukku?"

"Ya, Suho hyung sangat ingin menjengukmu sejak tahu kau masuk rumah sakit. Tapi pekerjaannya sedang menumpuk dan baru pagi ini dia sempat kemari."

"Kenapa tidak mencegahnya? Suho hyung pasti sibuk, dia tidak perlu repot-repot menjengukku. Lagi pula aku sudah mau pulang."

Si jangkung hanya bisa nyengir kuda saat kembali mendudukkan dirinya di kursi samping ranjang Baekhyun. "Seperti aku bisa mencegahnya saja."

Ah, ya. Baekhyun lupa. Suho itu bos Chanyeol. Dan dia adalah pemaksa. Suho juga tidak suka dibantah. Meskipun si jangkung adalah sepupunya, tapi memangnya siapa Park Chanyeol yang bisa menentang kehendak pria itu?

Jadi Baekhyun tidak heran saat jam besuk tiba, Suho sudah ada di ruangannya.

.

.

"Semuanya sudah dimasukkan. Walaupun kau tidak membawa banyak barang saat kemari. Tapi tidak ada salahnya kembali memeriksa."

"Sudah semua, Dae. Terima kasih sudah membantuku." Baekhyun berucap tulus karena Jongdae sudah mau membantunya membereskan barang-barang sebelum meninggalkan rumah sakit. Ia juga membawakan baju ganti untuk Baekhyun agar bisa dikenakan saat pulang nanti.

"Kau akan langsung ke Bucheon setelah mampir ke asrama untuk mengambil barang?"

Si mungil mengangguk dua kali. "Ya. Kita telepon Minseok hyung dulu, mau tidak? Sekalian menunggu Chanyeol."

"Ah, ya. Kita video call saja."

Mereka berdua melakukan panggilan video pada sahabat yang sudah ada di kampung halaman. Minseok bahagia sekali saat melihat wajah keduanya di layar ponsel.

Sementara itu, Chanyeol sedang mengantar Suho ke lobby rumah sakit setelah menyelesaikan administrasi untuk Baekhyun.

"Dia pasti akan marah, hyung. Aku tidak mau tanggung jawab."

"Tenang saja. Kau cukup bilang tidak terlibat."

"Memang tidak, aku miskin jika kau lupa."

Suho mengerutkan keningnya tak suka. "Kau tidak, Chanyeol. Jangan bicara seperti itu lagi! Atau lupakan soal meminjam mobilku untuk mengantar Baekhyun."

"Ck. Berhenti mengancam dan berikan kunci mobilmu padaku." Chanyeol menengadahkan tangannya dan Suho secara refleks melemparkan kunci mobilnya pada si jangkung. Hari ini sepupunya memang sengaja tidak menggunakan motor. "Yakin mau pakai skuterku?"

"Kau mengejekku?"

"Skuterku tidak sama dengan motor besarmu. Perlakukan dia dengan baik."

"Astaga! Lama-lama aku menyesal sudah sebaik ini padamu, Park Chanyeol."

"Hehe..." Chanyeol tak bisa berbuat apa pun selain tertawa kering pada sepupunya. "Terima kasih, hyung. Maaf karena selalu merepotkanmu."

"Sudah pergi sana!"

Si jangkung hanya menurut dan kembali ke kamar Baekhyun dengan segera. Ia tersenyum sepanjang koridor rumah sakit membayangkan perjalanan menuju Bucheon berdua saja dengan si mungil. Walaupun belum ada persetujuan, tapi Baekhyun tidak punya pilihan lain selain menerima tawarannya.

Sebelum memasuki kamar 311, Chanyeol sempat terpaku diambang pintu. Di dalam sana tampak seorang pemuda mungil yang sudah berganti pakaian dengan setelan kasual sedang tertawa bersama sahabatnya. Tawanya begitu renyah, membuat siapa saja tertarik dan tenggelam dalam pesonanya.

Demi Tuhan! Byun Baekhyun hanya sedang melakukan video call bersama sahabatnya yang lain, tapi kenapa ia bisa sebahagia itu? Baekhyun tidak pernah tertawa lepas seperti ini sebelumnya. Mungkin pernah, atau bisa jadi sering. Namun Chanyeol tidak pernah punya kesempatan untuk melihatnya.

Si jangkung jadi berpikir, bagaimana caranya membuat pemuda Byun itu tertawa lebar saat sedang bersamanya?

"Kau harus biarkan Jongdae bermain lumpur di sana, hyung." Baekhyun menyahut dengan sisa tawa yang masih sesekali terdengar. "Libur musim panas nanti akan sempurna."

"Kalau begitu kau juga harus ikut!"

"Tentu saja Baekhyun harus ikut, aku tidak akan melewatkan kesempatan untuk membuatnya berendam dalam lumpur."

"Jangan mimpi, Kim Jongdae! Aku akan membuatmu tenggelam lebih dulu."

Kemudian keduanya kembali tertawa saat Jongdae membalasnya dengan umpatan. Diikuti Minseok yang ikut tertawa di seberang panggilan.

Chanyeol tersenyum hangat melihatnya. Ia tak ingin mengganggu kesenangan 3 sahabat itu namun tangannya tak sengaja mendorong pintu saat akan berbalik. Baekhyun adalah yang pertama melihatnya karena ia duduk persis menghadap pintu.

"Oh, Chanyeol." Baekhyun menyerahkan ponsel ke tangan Jongdae. "Suho hyung sudah pulang?"

Chanyeol mengangguk seraya melangkahkan kaki mendekati ranjang si mungil. "Dia membawa kabur skuterku dan meninggalkan mobilnya."

"H-huh?"

"Apa itu Chanyeol?" Terdengar suara dari ponsel yang Jongdae pegang. Ternyata panggilan videonya masih belum selesai.

Si jangkung berjalan ke sisi Jongdae untuk menyapa Minseok. "Ya, ini aku. Bagaimana kabarmu?"

"Oh, aku baik, Chanyeol. Terima kasih sudah menjaga Baekhyunie."

"Tak apa. Aku senang melakukannya."

"Apa kalian akan pergi sekarang?"

"Ya," Jongdae menimpali. "Kami sudah selesai berkemas. Tinggal menyelesaikan administrasi."

"Kalau begitu sampai jumpa. Kabari aku jika sudah sampai rumah."

Jongdae memutus panggilan tersebut setelah membiarkan Baekhyun berpamitan. Ketiganya lantas bergegas meninggalkan kamar dan menuju bagian administrasi. Chanyeol masih memutuskan untuk tutup mulut hingga Baekhyun mengetahuinya sendiri.

Sesungguhnya si jangkung masih belum siap. Ia yakin Baekhyun pasti akan mengamuk.

"Tagihan pasien Byun Baekhyun di kamar 311 sudah dilunasi. Anda bisa langsung pulang."

Baekhyun melirik Jongdae yang sebelumnya bertugas menebus obat. "Kau membayar tagihanku?"

"Apa? Tidak! Aku hanya menebus obatmu saja."

Baekhyun kembali beralih pada petugas administrasi. "Anda yakin? Aku belum melakukan pembayaran."

"Sangat yakin. Tagihan sudah diselesaikan sebelumnya."

"S-siapa? Siapa yang melakukannya?"

"Mohon tunggu sebentar." Si petugas administrasi mengklik beberapa data dan kembali pada Baekhyun dengan membawa sebuah nama. "Di sini tertulis Kim Suho. Dia mengaku sebagai kakak anda."

.

.

Hening menguasai langkah tiga orang pemuda menuju parkiran rumah sakit.

Baekhyun yang mengikuti langkah seniornya tidak sadar jika ia dibawa menuju mobil Suho, bukan mobil sahabatnya. Terlebih lagi, Jongdae hanya diam saja sepanjang jalan.

Saat alarm mobil berbunyi, langkah Chanyeol pun terhenti. Dan si mungil akhirnya sadar.

Itu bukan mobil Jongdae.

"Aku bisa jelaskan." Chanyeol berbalik dengan ekspresi waswas.

"Kenapa kau membiarkan Suho hyung melakukannya?"

"Dia memaksa. Suho hyung merasa tidak enak karena menjengukmu tanpa membawa apa-apa."

"Itu tidak bisa dijadikan alasan. Kenapa dia melakukannya?"

"Suho hyung memang seperti itu. Aku sudah bilang padanya, kau akan marah. Tapi dia tidak peduli."

Baekhyun menarik nafas kasar. Ia sungguh malu karena sudah membuat repot orang lain. Sudah cukup selama 3 hari ini ia merepotkan sahabat juga seniornya. Baekhyun tidak ingin menambah daftar lagi.

"Baiklah. Apa ini mobil Suho hyung?"

Chanyeol mengangguk pelan. Ia masih memasang mode waspada.

"Kebetulan. Antar aku untuk menemuinya."

"Baek..." Jongdae menyela seraya menggapai lengannya untuk menarik perhatian si mungil.

"Ini berlebihan, Dae."

"Aku tahu. Tapi kau tidak boleh seperti ini." Jongdae berusaha membujuk si keras kepala Byun. "Kau membuat Chanyeol tak nyaman. Ini bukan salahnya."

Baekhyun baru sadar saat Jongdae berkata demikian. Ia menatap Chanyeol yang berdiri kaku di hadapannya, tangan terkepal, kening berkerut, dan ekspresinya tegang. Ia membuat seniornya ketakutan.

Baekhyun mengerjap. Ia membasahi bibirnya yang terasa begitu kering. "M-maaf. Maafkan aku, Chanyeol."

Si jangkung refleks menarik nafas lega mendengarnya. "Kita makan dulu, ya. Ini sudah waktunya makan siang. Aku akan mencoba menghubungi Suho hyung agar kau bisa berbicara dengannya."

Dengan bujukan seperti itu, akhirnya Baekhyun menerimanya. Tapi ia bersikeras ingin bersama Jongdae. Jadi Chanyeol membiarkannya menaiki mobil pemuda Kim itu sementara ia mengemudi sendirian menuju restoran terdekat.

.

.

Suho sudah sampai di kantornya saat ia menerima pesan dari Chanyeol. Sepupunya bilang Baekhyun marah besar dan mendiamkannya. Bocah itu juga tak sudi berkendara bersama Chanyeol dan memaksa pergi bersama Jongdae. Suho hanya bisa tertawa saat membacanya, ia seolah bisa melihat dengan jelas wajah frustrasi Park Chanyeol yang menggerutu sambil menyetir sendirian.

Oh, aku harus melakukan sesuatu. Batinnya geli.

Alih-alih menelepon sepupunya, Suho lebih memilih menghubungi Baekhyun langsung. Mereka sedang dalam perjalanan menuju restoran saat panggilan tersambung.

"Baekhyun, ini aku, Suho."

"Suho hyung?"

Suho bisa mendengar suara si mungil yang terkesiap.

"Ya. Maaf atas kelancanganku. Aku hanya tidak tahu harus bagaimana. Karena terburu-buru pergi ke rumah sakit, aku sampai lupa membawa buah tangan."

"I-itu tidak perlu, hyung. Sungguh! Kau tidak perlu repot-repot."

"Sama sekali tidak, Baekhyun. Percayalah! Satu-satunya yang membuatku repot adalah rengekan Chanyeol. Dia bersikeras melarangku karena tahu kau akan marah. Tapi aku memaksa."

"Dan kenapa kau harus memaksa?" Baekhyun mengerang, ia terdengar sangat frustrasi menghadapi Suho. "Kita harus bertemu, hyung. Aku akan mampir ke coffee shop sebelum pulang ke Bucheon."

"Aku sedang bekerja. Kau tidak akan menemukanku di sana."

"Kalau begitu kita bertemu di mana?"

Suho mengusap wajahnya. Ternyata ada yang lebih keras kepala daripada dirinya. "Aku sibuk hari ini. Dan percuma saja jika kau ingin membayarku kembali. Aku akan selalu menemukan cara untuk mengembalikannya padamu berkali-kali lipat. Jadi terima saja, Baekhyunie. Kumohon, hm?"

Tidak ada cara lain, Suho harus sedikit mengancam bocah itu dengan tambahan nada memohon di akhir kalimatnya. Perasaan Baekhyun yang kelewat lembut takkan sanggup untuk menolak permintaannya.

"Hyung..."

"Tidak apa-apa, Baekhyun. Aku senang bisa membantumu. Kau bisa pergunakan uangmu untuk hal lain. Membelikan hadiah natal untuk orang tuamu contohnya, atau untuk si bodoh Park Chanyeol yang sedang merajuk sekarang. Serius! Satu-satunya hal yang merepotkan adalah mendengar rengekan bocah itu. Dia mengirim pesan spam padaku karena kau marah padanya."

"Aku tidak marah padanya, kok. Sikapku memang berlebihan, tapi tadi aku sudah minta maaf padanya."

"Ah, syukurlah. Tolong sekali lagi, ya. Dia akan jadi bayi yang menyebalkan kalau kau masih mendiamkannya."

Suho tidak mendengar apa pun selama sekian detik selain helaan nafas Baekhyun di seberang telepon. Ia yakin pemuda mungil itu sedang berperang melawan dirinya sendiri.

"Baiklah. Tapi aku tidak mau menerimanya secara cuma-cuma. Lain kali aku pasti akan mengembalikannya dengan cara apa pun, hyung."

"Aku tidak percaya ada yang bisa menyaingi kekeras kepalaanku."

Suho menutup panggilannya secara sepihak setelah mendengar kekehan Baekhyun. Tapi sebelum benar-benar menutupnya, ia masih sempat mengucapkan sebuah kalimat.

"Jangan menolak permintaan Chanyeol yang ingin mengantarmu ke Bucheon. Aku akan membuang skuternya kalau dia gagal mengantarmu sampai rumah."

Setelahnya kekehan bocah itu terganti oleh sebuah erangan penuh kekesalan. Dan Suho menanggapinya dengan tawa menggelegar.

.

.

Baekhyun dan Jongdae sampai di restoran lebih dulu. Mobil Suho yang dikendarai Chanyeol tiba tidak lama setelahnya. Mereka bertiga masuk bersama dan tak membuang banyak waktu untuk segera memesan. Suasana masih tetap hening sampai Baekhyun membuka suaranya.

"Chanyeol, maafkan aku."

"Kenapa minta maaf lagi?"

"Sikapku berlebihan. Aku terlalu kasar."

Chanyeol menggeleng tak setuju. "Tidak, Baek. Kau benar. Seharusnya aku bisa mencegah Suho hyung."

"Tidak, dia memang tidak bisa dihentikan."

Chanyeol meraih tangan Baekhyun dan mengusapnya perlahan, mengabaikan tatapan Jongdae dan kesiap si mungil. "Suho hyung peduli padamu. Dia menyayangimu meskipun kalian masih asing satu sama lain. Tapi dia memang selalu peduli dengan orang-orang terdekatku. Dan kau tidak menjadi pengecualian."

Atmosfer sedikit berubah setelahnya. Baekhyun tidak tahu harus menanggapi pemuda jangkung di hadapannya seperti apa. Maka dia hanya bisa menunduk dan perlahan-lahan menarik tangannya.

"Oh, maaf." Chanyeol ikut menarik tangannya. Wajahnya terasa panas mendadak. Hal yang sama terjadi pada Baekhyun, bahkan semburat merah sudah muncul di wajahnya yang masih terlihat sedikit pucat.

"Apa aku pulang saja?"

"JONGDAE!"

Itu suara Baekhyun.

.

.

Pada akhirnya setelah makan bersama dalam suasana canggung, Jongdae pamit pulang karena ia tahu Baekhyun akan diantar pulang oleh Chanyeol. Meskipun si mungil memaksanya untuk ikut ke asrama, tapi ia tetap menolak.

"Barang-barangmu sudah kau kemas sebelum kau jatuh sakit. Jadi kau tinggal menyeret kopermu ke bawah. Aku tidak perlu ikut ke asrama, sudah ada Chanyeol yang menemanimu."

Mereka berpisah di restoran dengan wajah merengut Baekhyun yang membuat siapa pun gemas melihatnya. Seperti bocah yang dititipkan ibunya di daycare.

"Selamat liburan, Baek. Aku akan merindukanmu."

"Aku membencimu, Kim Jongdae." Baekhyun berbisik saat keduanya berpelukan.

"Aku juga menyayangimu. Sampai jumpa."

"Sialan kau!"

Jongdae tertawa. Chanyeol menahan kekehannya. Dan Baekhyun masih merengut dengan bibirnya yang sudah maju.

"Ayo masuk! Di luar dingin."

Mau tak mau Baekhyun menurut karena cuaca benar-benar sangat dingin. Padahal Jongdae sudah meminjamkannya coat yang panjang juga syal. Tapi dia hampir membeku walau hanya beberapa menit berada di luar.

Chanyeol yang menyadari kondisi si mungil refleks menaikkan suhu di mobil agar lebih hangat hingga tanpa sadar ia mendengar Baekhyun berbisik lirih padanya.

"Terima kasih."

"Anytime."

Jongdae benar. Baekhyun memang sudah selesai berkemas. Chanyeol masih ingat saat ia mendapati Baekhyun tergeletak di samping tempat tidurnya, sudah ada koper di sana. Jadi saat tiba di asrama, Baekhyun hanya butuh waktu 5 menit untuk memilih apa saja yang harus dibawa olehnya.

"Hanya ini?"

Baekhyun mengangguk. "Aku tidak bawa banyak baju. Di rumah ada banyak. Isi koperku hanya barang-barang tidak penting."

"Oke. Kemarikan tasmu."

"T-tidak. Ini biar aku saja yang bawa. Tidak berat kok."

Baiklah, Chanyeol tidak ingin memaksa. "Ya sudah. Hati-hati saat melangkah."

Mereka masuk ke dalam mobil dan memulai perjalanan dalam hening. Hanya ada suara musik dari radio yang sengaja diputar oleh Chanyeol dengan volume lirih. Pemuda jangkung itu terlalu fokus pada jalanan hingga beberapa menit setelahnya masih dilewati dalam keheningan. Saat tersadar akan sesuatu, ia sudah terlambat.

"Kau pasti mengantuk setelah minum obat. Tidur saja, Baek."

Chanyeol menoleh dan ia terkekeh melihat pemandangan di sampingnya.

Byun Baekhyun telah jatuh ke alam mimpi, entah sejak kapan.

.

.

Matahari sudah kembali ke peraduannya saat Baekhyun membuka mata. Ia mengerjap beberapa kali, mencoba mengamati keberadaannya saat ini. Dirinya berada di dalam mobil di sebuah kawasan yang tak asing lagi.

"Sudah bangun?" Si jangkung muncul dan membuatnya sedikit kaget.

"Oh, Chanyeol. Kita di...-"

"Sudah di Bucheon. Aku keluar untuk membeli kopi."

"Kita baru sampai?"

Chanyeol menggaruk tengkuknya canggung. "Sebenarnya sejak sejam yang lalu kita sudah masuk kawasan Bucheon. Tapi aku tidak tahu di mana rumahmu."

"Astaga! Kenapa tidak membangunkanku?"

"Kau terlihat sangat nyenyak, Baek. Aku tidak tega membangunkanmu."

"Oh, tidak. Kalau begitu, ayo! Kau akan kemalaman sampai Seoul."

Chanyeol ingin menjawab tidak apa-apa, tapi melihat wajah panik Baekhyun malah membuatnya tidak enak. Jadi ia menurut saja saat Baekhyun menyuruhnya bergegas.

Pemuda mungil itu tinggal di sebuah rumah sederhana. Pagarnya berwarna putih, sementara dari luar terlihat beberapa tanaman yang menghiasi halamannya. Rumahnya tampak mungil dari luar, tapi saat Chanyeol masuk ke dalam sambil menggeret koper Baekhyun, ternyata tidak sekecil yang ia kira.

"Masuklah! Ibuku pasti sudah masak. Kita makan dulu."

"Apa... tidak apa-apa?"

Baekhyun menggeleng. "Hati-hati saja dengan kakakku. Dia sangat galak."

Glup.

Sepertinya Chanyeol melupakan satu hal saat ngotot ingin mengantar Baekhyun sampai ke rumahnya, yakni berhadapan dengan anggota keluarga Byun.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Ting!

From : My Deer

[Aku akan pulang saat natal.]

Sehun membaca pesan yang masuk ke ponselnya. Ia menghela nafas, menyadari ketidak hadiran rekan kerja sekaligus sahabatnya.

.

.

.

e)(o

.

.

.


A/N :

Ada yang udah denger OST yang Baekhyun nyanyiin?

Enak banget tau ㅠㅠ

Bagi yang punya akun melon, streaming ya gaes ehehehe

Lcourage - 070120

((ps. kasih tahu kalo ada typo))