"Jadi, namamu Park Chanyeol?"

Chanyeol menelan ludahnya sebelum menjawab. "Ya, hyung. Aku senior Baekhyun."

"Satu jurusan?"

"Aku mengambil manajemen bisnis."

Lelaki yang berstatus sebagai kakaknya Baekhyun itu mengernyitkan dahinya bingung. "Bagaimana kalian bisa saling mengenal satu sama lain?"

Oh, Chanyeol tidak tahu ia akan ditanyai begini oleh calon kakak iparnya.

"Hyung!"

"Baekbeom!"

Suara Baekhyun dan sang ibu saling bersahutan, membuat lelaki yang sedari tadi menanyai Chanyeol merotasikan bola matanya.

"Nak, biarkan mereka makan dulu. Kau bisa mengajak Chanyeol mengobrol nanti kalau sudah selesai." Ayah Byun dengan tenang menengahi.

"Aku hanya penasaran, Yah. Baekhyun tidak pernah membawa teman prianya di kampus selain Jongdae dan Minseok. Apalagi dia dan seniornya ini berbeda jurusan."

Sejak bertatap muka untuk pertama kalinya dengan Baekbeom di ambang pintu kamar Baekhyun, Chanyeol sudah merasa ia tidak akan berakhir baik-baik saja. Pria jangkung itu benar-benar lupa jika Baekhyun adalah tipikal orang yang serius dan jarang bercanda. Tentu ia tidak main-main saat mengatakan kalau kakaknya itu galak. Tapi karena ayah Byun sudah buka suara, semua orang di sana memutuskan untuk diam dan melanjutkan acara makan malam mereka. Chanyeol jadi punya waktu sebentar untuk mempersiapkan hatinya.

Tadi saat mereka baru saja memasuki rumah, Ibu Byun menyambut keduanya di ruang tengah. Katanya beliau sedang menunggu Baekhyun pulang, begitu juga dengan ayah dan kakaknya. Sementara ayah Byun sedang beristirahat di kamar, Baekbeom yang baru pulang dari bengkel langsung pergi mandi. Setelah menyalami ibu Byun, si jangkung berinisiatif membawakan koper Baekhyun ke kamarnya di lantai atas. Saat itulah ia bertemu Baekbeom dan langsung mendapat tatapan tajam darinya.

"Jadi kemarin kau pergi jalan-jalan dengan Jongdae atau Chanyeol?" tanya Baekbeom penuh selidik. Ngomong-ngomong sekarang mereka sedang berkumpul di ruang tengah, minus Ibu Byun yang sedang membereskan dapur.

"Apa-apaan pertanyaanmu itu, hyung? Tentu saja dengan Jongdae."

Ah, jadi Baekhyun beralasan seperti itu saat terbaring di rumah sakit selama 3 hari? Batin Chanyeol pedih. Kenapa dia tidak berkata jujur saja? Pipi tirusnya juga mukanya yang masih pucat tidak bisa disembunyikan seperti tubuh kurusnya yang tertutup sweater panjang.

"Lalu kenapa kau bisa diantar Chanyeol? Dan pertanyaanku yang tadi belum dijawab, bagaimana kalian bisa saling mengenal?"

Baekhyun baru saja membuka mulutnya ketika Chanyeol lebih dulu menjawab.

"Kami bertemu di coffee shop, hyung."

"Tabrakan? Saling pandang selama 10 detik? Lalu kau jatuh cinta padanya?"

Chanyeol tak bisa menahan tawanya. Jika bukan karena keberadaan ayah Byun di antara mereka, mungkin dia sudah tertawa keras saat ini. "Tidak, hyung. Aku sedang bekerja saat Baekhyun datang untuk membeli kopi. Lalu kami berkenalan."

"Heh, tidak asik," cibir Baekbeom yang langsung mendapat pukulan di lengannya. "Biar kutebak, adikku ini orang yang sangat kaku sampai kau bingung mau bicara apa."

"Diam, hyung!"

"Kenapa wajahmu jadi merah, bodoh?"

"Hey! Tidak boleh berteriak di depan tamu."

.

.

Chanyeol kembali menyunggingkan senyumnya saat ia dan Baekhyun berjalan menuju mobil Suho yang diparkir di depan rumah. Obrolan mereka di ruang tengah keluarga Byun berakhir ricuh. Baekhyun dan kakaknya saling berteriak satu sama lain, sementara ayah Byun sibuk mengomel. Semua kekacauan baru terhenti saat Ibu Byun datang.

"Terima kasih untuk makan malamnya." Chanyeol berucap ketika keduanya sampai di depan mobil.

"Tidak. Terima kasih sudah mengantarku. Dan maaf untuk yang tadi. Kakakku benar-benar pengacau."

Chanyeol terkekeh dan dengan berani mendekati Baekhyun untuk membetulkan letak syal yang dipakainya. "Aku bersenang-senang, Baekhyun. Keluargamu menyenangkan, bahkan kakakmu juga. Dan seharusnya kau menurut. Tidak perlu mengantarku, di luar dingin."

Pipi Baekhyun bersemu merah saat Chanyeol kembali memundurkan langkahnya. "T-tentu saja dingin, ini kan musim dingin."

Chanyeol mengusak rambut pemuda mungil di hadapannya karena terlalu gemas. "Ya sudah, masuk sana. Perbanyaklah istirahat. Dan jangan lupa habiskan obatmu. Kau juga harus banyak makan, atau mereka akan menyadari kebohonganmu."

"I-iya, Chanyeol." Baekhyun menunduk mendengar penuturan seniornya. Ia merasa sangat diperhatikan meskipun kata-kata Chanyeol terdengar seperti sedang menyindirnya. Tapi Baekhyun tahu, ia memang salah. "Sekali lagi, terima kasih."

Mereka pun berpisah setelahnya.

Ayah Byun telah menawari Chanyeol untuk menginap. Tapi pemuda itu menolak, karena ia bersikeras harus kembali malam itu juga. Sebagai gantinya, Chanyeol bilang akan berkunjung saat natal tiba.

Sayangnya Baekhyun tidak menganggap serius ucapan seniornya. Ia mengira Chanyeol hanya sedang basi-basi dengan orang tuanya. Ia tidak pernah menyangka jika pagi harinya di tanggal 25 akan mendapati Park Chanyeol yang memasang senyum lebar di depan kamarnya.

"A-apa yang kau lakukan di sini?"

"Ini natal. Kenapa bangun siang?"

Baekhyun melirik jam yang menggantung di dinding kamarnya. Jarum pendeknya menunjuk ke angka 8.

"Hei, Chanyeol. Kalau di rumah, Baekhyun memang selalu bangun siang."

"BICARA APA KAU, BYUN BAEKBEOM?!"

Baekbeom yang berpapasan dengan Chanyeol di depan kamar sang adik hanya mampu tertawa mendengar suara menggelegar tersebut. "Cuci muka dan gosok gigimu, bodoh! Jangan biarkan kotoran mata dan bau mulutmu jadi salam pembuka untuk Chanyeol. Atau dia akan kapok datang lagi kemari."

Lagi. Seperti kejadian beberapa hari yang lalu, perlu usaha yang keras bagi Chanyeol untuk menahan tawanya menyaksikan keributan Byun bersaudara. Dan ia terlalu sibuk menahan keinginannya tersebut hingga tidak menyadari tubuhnya sudah bergeser ke samping karena dorongan pemuda mungil di hadapannya yang tiba-tiba berlari mengejar sang kakak yang sudah lebih dulu melarikan diri.

"Awas kau, Byun Baekbeom!"

"Pergi ke kamar mandi sana! Jangan mengejarku!"

"ASTAGA, BERHENTI!"

Chanyeol rasa ini adalah pilihan paling tepat. Menghabiskan hari natal bersama keluarga Byun.

.

.

.

"Apa kalian selalu melakukan ini saat natal?"

"Apa?"

"Membuat kue."

Terdengar kekehan di belakang 2 pemuda yang sedang memperhatikan bahan-bahan untuk membuat kue di konter dapur. Dia adalah Ibu Byun.

"Hanya aku, Chanyeol. Baekhyun tidak pernah membantu. Dia dan dapur adalah musuh besar. Apalagi dengan bahan-bahan kue."

"Bu..." rengek si bungsu dengan dahi berkerut dan bibir yang sedikit mengerucut. Agaknya ia sedang mati-matian menahan ekspresi wajahnya agar tidak terlihat kekanakan. Tapi sepertinya itu percuma.

"Berhenti merengek! Kau tidak malu pada seniormu?"

Baekhyun mencebik, kekesalannya semakin bertambah karena sang ibu sengaja membuatnya malu. "Aku tidak usah membantu saja, ya. Lebih baik nonton TV."

"Jangan bertengkar dengan Baekbeom!" Pesan Ibu Byun saat Baekhyun melangkah menuju ruang tengah tanpa menghiraukan Chanyeol. Setelahnya ia beralih ke arah pemuda di sampingnya itu. "Kau mau menonton juga, nak?"

"Tidak, bu. Kan aku sudah bilang mau membantu."

"Kau tidak harus melakukannya. Ibu tahu kau datang ke sini untuk Baekhyun."

Chanyeol menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, merasa malu karna Ibu Byun mengetahui maksudnya. "Memang iya sih. Tapi aku sungguhan ingin membantu ibu. Aku tidak pernah melakukannya di rumah, jadi kupikir ini pasti menyenangkan. Lagi pula sepertinya Baekhyun masih malu dengan kejadian tadi. Ia terus menghindari tatapanku."

Ibu Byun tertawa mengingat keributan saat Chanyeol tiba. Putra bungsunya yang baru saja bangun, dengan wajah bantal, rambut berantakan, kotoran di mata yang belum dibersihkan, dan bekas iler di sudut bibirnya, berlarian mengejar sang kakak dengan pakaian tidurnya yang khas di musim dingin, celana training, kaos berlengan panjang, hoodie kebesaran, dan kaos kaki. Alhasil dia jatuh terpeleset karena kaos kaki yang dipakainya sangat licin saat bersentuhan dengan lantai.

Dan Chanyeol melihat semua itu dengan mata kepalanya sendiri, membuatnya meledak dalam tawa. Meskipun pada akhirnya ia juga yang pertama menghampiri Baekhyun dan membantunya berdiri.

"Apa kau sudah minta izin pada orang tuamu?" tanya Ibu Byun hati-hati. Pasalnya mana ada orang yang mau menghabiskan natal bersama keluarga lain jika ia memiliki keluarga sendiri?

"Sudah, bu. Ayah sedang sibuk bekerja, dan ibu juga adikku pergi ke rumah saudara kami. Aku terlalu besar untuk ikut mereka."

"Hm. Memang berapa usia adikmu?"

"Dua belas. Dan sepupu yang seusia denganku juga tidak ikut berkumpul di sana. Jadi ibu berkata tidak apa jika aku ingin berkumpul dengan teman-temanku."

"Syukurlah kalau begitu. Ibu takut kau memaksa pergi ke sini demi bocah yang mengabaikanmu."

Chanyeol tersenyum lebar seraya menggelengkan kepalanya. "Baekhyun tidak mengabaikanku, bu. Ia hanya malu."

"Dia memang selalu seperti itu. Tapi aku senang karena kau mengerti, Chanyeol. Setidaknya Baekhyun berteman dengan orang yang tepat."

Ucapan Ibu Byun tentu saja membuat Chanyeol penasaran. Dan ia tidak perlu menutupinya karena beliau pasti akan melihatnya dengan sangat jelas.

"Orang-orang sering salah paham dengan Baekhyun. Ia tidak mudah dekat dengan orang baru, tapi kebanyakan dari mereka tidak mengerti dengan sifat pemalunya. Karena Baekhyun di depan teman-teman dekatnya sangat berbeda dengan Baekhyun di depan orang asing. Jadi mereka yang tidak tahu akan menganggap Baekhyun itu anak yang sombong."

Ah, Chanyeol mengerti. Baekhyun juga melakukan hal yang sama padanya. Ia terlihat begitu canggung jika berada di sekitarnya. Padahal mereka sudah saling mengenal hampir 2 bulan lamanya, tapi si mungil masih bersikap seperti mereka adalah orang asing.

"Berarti tebakanku tidak salah kan, bu?" Chanyeol memamerkan deretan giginya pada wanita paruh baya yang kini sedang menuangkan tepung dengan hati-hati. "Aku tahu Baekhyun anak yang baik. Aku juga bisa melihat sifat kikuknya saat berinteraksi denganku yang baru ia kenal. Jujur saja, menurutku itu sangat imut. Karena aku tahu Baekhyun saat bersama teman-temannya bisa tertawa begitu lepas. Aku jadi ingin membuatnya tertawa seperti itu juga saat bersamaku. Makanya aku tidak pernah menyerah mendekatinya."

Ibu Byun tersenyum hangat saat mendengarnya. "Ya, kau benar. Aku bisa melihatnya. Terima kasih, Chanyeol."

Chanyeol pikir ia tidak akan pernah bersemu oleh ucapan terima kasih dari seorang wanita paruh baya. Tapi sepertinya ia salah, karena Ibu Byun sudah berhasil melakukannya.

Astaga, sebenarnya ada apa denganmu Park Chanyeol?

.

.

Ternyata tidak butuh waktu lama untuk membuat cupcake. Jadi Chanyeol menyusul ke ruang tengah sejam kemudian dan disuguhi pemandangan cukup langka, yakni Byun Baekhyun yang menonton dengan damai bersama kakaknya. Ia bergelung di atas sofa, sementara Baekbeom selonjoran di lantai yang dilapisi karpet berbulu tebal. Saat Chanyeol menghampiri mereka, Baekbeom menepuk tempat di sebelahnya.

"Kau serius membantu ibu membuat kue?"

"Iya, ternyata tidak begitu sulit. Sepertinya aku berbakat juga membuat kue."

"Kau dengar itu, Baekhyun? Cepat angkat bokongmu dan bantu ibu memasak makan siang. Jangan kalah dengan Chanyeol."

Baekhyun yang mendengarnya hanya bisa mendengus. "Kenapa tidak kau saja?"

"Lihat!" Baekbeom menoleh ke arah Chanyeol seraya menunjuk adiknya yang masih menonton acara TV yang membosankan. "Dia itu pemalas. Jangan mau dengannya."

JDUK.

"ARGH! APA-APAAN KAU, BODOH?"

"KAU YANG APA-APAAN? KENAPA SELALU BERKATA OMONG KOSONG DI DEPAN TEMANKU?"

Dua bersaudara Byun itu kembali saling berteriak satu sama lain.

"Aku melakukannya juga di depan Jongdae dan Minseok. Tapi kau tidak pernah berteriak seperti ini."

"Terserah! Tutup mulutmu, dasar menyebalkan." Setelahnya Baekhyun pun memilih pergi ke dapur.

"Bukankah Baekhyun tidak bisa memasak?"

"Kata siapa?" Baekbeom mengangkat alisnya.

"Ibu Byun."

"Ibu? Hahaha..." Si sulung Byun tertawa keras tanpa bisa ia tahan. "Astaga, bagaimana aku menjelaskannya, ya? Dibilang tidak bisa masak juga sebenarnya bisa. Baekhyun hanya senang mengacau saja saat di dapur. Dan ibu tidak suka diganggu saat memasak, kalau hanya akan membuat kacau lebih baik jangan membantu dan duduk manis saja di depan TV."

Chanyeol memasang ekspresi bingung yang membuat Baekbeom menepuk bahunya pelan. "Baekhyun takut berada di dapur, takut terkena cipratan minyak, takut api yang terlalu besar, takut dengan bau bawang. Ia juga tidak suka tangannya kotor dan berminyak. Kalau sangat terpaksa, baru ia memasak. Seperti saat tinggal di asrama, itu pun hanya masakan sederhana. Bocah itu beruntung karena sekamar dengan Minseok dan memiliki sahabat yang loyal seperti Jongdae. Dan sekarang, dia mengenal senior yang tergila-gila padanya."

"A-aku tidak."

Baekbeom mendengus. "Oh, ya? Katakan itu pada seseorang yang rela berkendara jauh-jauh demi menghabiskan natal bersama bocah dingin seperti dia."

"Kalian membicarakanku?"

Chanyeol tersentak saat Baekbeom menunjuk sesuatu di belakangnya bersamaan dengan suara Baekhyun yang terdengar. Ia tidak tahu jika pemuda mungil itu sedang berdiri di sana, menatap keduanya dengan tangan menyilang di depan dada.

"Tidak." Chanyeol mengelak. Untungnya Baekhyun tidak ambil pusing dan bergegas kembali ke dapur setelahnya. Saat itulah Chanyeol mengalihkan tatapannya kembali pada Baekbeom. "Hyung, tolong jangan buat Baekhyun menjauh dariku."

"Astaga! Kau sungguhan menyukai adikku?"

Chanyeol mengangguk tanpa ragu.

"Dia itu payah. Kau tahu apa yang dilakukannya saat mengupas bawang untuk pertama kali?" Baekbeom memberi jeda sampai ia mendapat respons berupa gelengan kepala dari Chanyeol. "Dia berlari dengan air mata bercucuran ke kamarnya untuk mengambil topi."

Di luar dugaan, Chanyeol malah tampak antusias mendengarnya. Terlihat dari senyumnya yang lebar, menampilkan deretan giginya yang begitu rapi. "Lalu apa lagi, hyung? Tolong ceritakan!"

"Wah, serius Park Chanyeol! Kau sudah dibutakan olehnya."

"Aku tidak keberatan." Chanyeol mengangkat bahunya tak peduli, membuat Baekbeom memukul dahinya tanpa sadar.

.

.

.

Sebuah sedan keluaran Eropa menerobos jalanan lengang kota Seoul. Udara di luar sana cukup dingin sehingga tidak banyak kendaraan yang berlalu lalang. Terlebih jika tujuannya adalah daerah sekitar universitas yang kini para mahasiswanya sedang libur semester. Sopir yang mengemudikan Audi terbaru itu membawa seorang penumpang, tuannya yang baru saja tiba dari Austria.

"Kita sudah sampai, tuan muda."

Sosok yang dipanggil tuan muda itu tersenyum dan mengucapkan terima kasih sebelum ia membuka pintu mobil. "Terima kasih, paman. Masuklah dulu dan pesan sesuatu."

"Ya, tuan muda." Lelaki pertengahan tiga puluh itu tersenyum.

Tuannya selalu bersikap hangat kepada seluruh pegawai, termasuk dirinya. Dia juga begitu rendah hati, tidak pernah sekalipun mengizinkan para pelayan atau sopir membukakan pintu mobil untuknya. Padahal itu sudah merupakan tugas mereka untuk melayaninya.

Sosok pemuda berwajah manis dengan tinggi 178 senti meter itu pun melangkahkan kakinya menuju pintu masuk. Bunyi gemerincing lonceng terdengar saat ia mendorong pintu kaca berbingkai kayu dengan gaya vintage, persis seperti interior tempat yang kini telah dipijaknya. Sapaan para pegawai terdengar bersamaan dengan harum kopi yang menguar menyapa hidung bangirnya.

Ah, dia juga bisa mencium aroma waffle favoritnya.

"Sehunie..." panggil pemuda itu seraya melambaikan tangan ke arah pemuda jangkung dibalik konter pemesanan.

"LUHAN?"

Pemuda keturunan China bernama lengkap Xi Luhan itu tersenyum begitu manis, menimbulkan gelenyar aneh pada si pemuda Oh.

"Merry Christmas."

"O-oh, ya. Merry Christmas." Sehun mengerjap dan berbalik untuk menemukan pintu keluar. Dalam jeda beberapa detik itu, Sehun berpikir keras sekaligus berusaha menetralkan ekspresi wajahnya. Walau sebenarnya itu tak perlu. Wajahnya selalu terlihat datar kapan pun dan di mana pun.

Tapi yang kali ini ia hadapi adalah Xi Luhan. Tentu pemuda Oh itu harus bisa mengontrol ekspresinya dengan baik.

"Bagaimana kabarmu?" Luhan bertanya ketika Sehun berjalan ke arahnya. Ia pun segera memeluk pemuda itu ketika Sehun sudah berada dalam jangkauannya. "Kenapa tegang sekali? Santai saja, oke."

Pelukan mereka terlepas dan Sehun hanya mampu meringis melihat senyuman Luhan. Dia tahu.

"Harusnya semalam aku ke sini. Benar, kan?"

"Aku sudah menghubungimu."

"Ya, terima kasih, Sehun. Aku membaca pesanmu."

"Lalu kenapa kau tidak datang?" Sehun tidak habis pikir, padahal ia sudah memberi tahu Luhan, jika semalam Chanyeol menghabiskan waktunya di sini, menunggu kedatangannya.

"Aku butuh waktu."

"Tapi Chanyeol tidak ada di sini sekarang."

"Aku tahu ke mana dia pergi. Sekarang bawa aku ke atas. Kedatanganku kemari untuk kalian."

"Baiklah. Tapi yang lain belum datang. Mungkin mereka baru tiba di sini saat makan siang."

"Tak apa. Aku kan punya kau. Temani aku minum kopi, ya. Dan bawakan aku waffle juga. Oh, apa Suho hyung ada di sini? Aku harus menyapanya sebelum meminjam pegawai part time favoritnya."

Sehun menuntun pemuda yang kini sedang mengoceh tanpa henti, menanyakan juga mengomentari ini dan itu. Namun anehnya ia tidak merasa terganggu sama sekali. Karena satu-satunya hal yang tidak mengganggu Oh Sehun adalah semua hal yang berkaitan dengan Xi Luhan.

.

.

.

e)(o

.

.

.


A/N :

Gimana pendapat kalian soal part ini? Kasih tau aku ya..

Dan untuk Luhan, kita mulai pelan-pelan aja sama dia. Okay

Aku mau nyampein makasih untuk kalian yang udah follow dan fav cerita ini. Untuk para author yang mampir juga, entah tulisanku sesuai dengan selera kalian atau engga, aku tetep mau berterima kasih. Dan untuk yang sudah komen, aku udah balesin lewat pm, entah sampe atau engga wkwk.

Aku sedikit kesulitan sewaktu mau up cerita disini, sampe harus minta bantuan sama nona Vin, hihi... abis itu masih ada masalah juga sama pm di app yang gak kebuka. Aku pusing dan nyerah, gak tau semua pesanku nyampe atau engga.

So, buat CHANBAEQ dan rorororonoaa (maaf kalo ada kesalahan ketik), aku baca komen kalian di chapter sebelumnya dan sudah berusaha untuk balas lewat pm. Makasih udah ninggalin jejak. Aku jadi tau, ternyata ada yang baca ceritaku.

Dan happy valentine untuk otp kita yang sudah tidak lagi ldr.

Lcourage – 130220