Luhan menatap sekeliling tempat yang dulu sering ia kunjungi, tempat yang selalu ramai oleh gelak tawa, tempat ia dan teman-temannya berkumpul. Meski memiliki jarak usia yang cukup jauh, namun tak pernah menyurutkan semangat mereka untuk berkumpul dan bercengkerama di tempat ini. Setidaknya sampai sesuatu yang besar terjadi 2 tahun lalu. Sesuatu yang mengubah segalanya.
Perombakan besar-besaran nyatanya tak mampu mengubah tempat ini sepenuhnya. Semua ornamen yang identik dengan identitas yang dulu pernah dimiliki oleh tempat ini, memang sudah diganti. Beberapa bahkan disingkirkan karena lantai atas sudah tidak pernah digunakan lagi. Tapi Suho masih berbaik hati untuk tetap mempertahankan tempat ini hingga sekarang. Walaupun grand piano hitam di sudut kanan tampak menyedihkan karena sudah tidak pernah dimainkan. Begitu pula dengan dinding di belakangnya yang ditutupi kain hitam. Keindahannya sudah tidak bisa lagi dinikmati seperti hari-hari yang lalu, ketika semuanya masih baik-baik saja.
Luhan tersenyum getir. Meski bukan penyebab utamanya, tapi ia turut andil dalam setiap perubahan itu. Dan hanya atas nama pertemanan yang sudah lama terjalin-lah, sang pemilik tempat membebaskan mereka untuk menggunakan lantai atas coffee shop untuk berkumpul seperti dulu.
Sementara menunggu Sehun mengambilkan pesanannya, Luhan memutuskan untuk mengecek ponselnya daripada berlama-lama menatap dinding yang ditutupi kain hitam di depannya. Ia mencari sebuah kontak dan langsung mengetikkan kalimat singkat di sana. Setelah selesai, Luhan pun mengirim pesan tersebut dan menyimpan kembali ponselnya.
To : Chanyeol
[Aku menunggu di Galaxy.]
.
.
.
Chanyeol terlibat percakapan yang serius dengan Baekbeom. Lelaki yang lebih tua itu menaikkan volume televisi sebelum mulai menceritakan hal-hal memalukan tentang adiknya. Seperti mengompol di jalanan saat pulang dari TK, jatuh terjungkal dari ayunan, menabrak tiang gawang saat bermain sepak bola, atau terpeleset karena kaos kakinya sendiri, seperti yang terjadi tadi pagi.
Walaupun demikian, Chanyeol bisa melihat rasa sayang Baekbeom pada adik semata wayangnya itu. Apalagi ketika ia mendengar sang kakak yang jahil memuji prestasi Baekhyun di sekolah.
"Aku akui, dia memang pintar. Bahkan sejak masih SD, adikku sudah menyandang peringkat terbaik di kelas. Dan ia mempertahankannya sampai SMP. Maka dari itu aku tidak menyesal saat memutuskan untuk bekerja di bengkel."
"Kau bekerja sejak Baekhyun SMP?" tanya Chanyeol hati-hati, takut menyinggung Baekbeom. Sebab jika ia tidak salah ingat, jarak usia kakak-beradik Byun itu sekitar 5 tahun. Harusnya Baekbeom sedang sibuk kuliah saat itu.
"Ya, saat dia sudah ada di tahun terakhirnya. Sudah lama juga, ya? Tidak terasa, bocah itu sekarang sudah kuliah dan ditaksir oleh seniornya."
"Hyung..." Chanyeol merengut, ia selalu salah tingkah tiap kali Baekbeom mengejeknya. Dan hampir saja pemuda Park itu melupakan pertanyaan penting yang menari-nari di kepalanya karena ulah Baekbeom. "Hm, apa kau tidak kuliah, hyung? Atau kau melakukannya sambil bekerja?"
"Aku kuliah, tapi hanya bertahan setahun saja. Kami berbeda. Katakanlah aku bodoh, jadi sia-sia saja menghabiskan uang untuk menyekolahkanku. Lebih baik mereka gunakan untuk menyekolahkan Baekhyun. Itu akan lebih berguna. Lagi pula passion-ku bukan di sana." Baekbeom tersenyum lebar di akhir kalimatnya, terlihat berusaha mencairkan suasana karena deretan kalimat yang tidak sempat ia filter sebelumnya. "Aku lebih senang mengotak-atik mesin mobil ketimbang membaca literatur."
Chanyeol tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Ini informasi yang baru dan cukup sensitif baginya. Walaupun sebenarnya pemuda jangkung itu cukup penasaran dengan kehidupan Baekbeom. Tapi ia akan menghargai lelaki itu jika dirinya belum siap bercerita lebih jauh.
"Sepertinya kita akan semakin cocok, hyung. Aku punya ketertarikan dengan bidang otomotif."
Baekbeom berdecih, tatapan jahilnya pun terlihat kembali di mata sipitnya. "Berhenti bersiasat, bocah. Kau tidak perlu mendekatiku untuk menarik perhatian Baekhyun. Dia tidak bisa dipaksa."
"Eh, aku tidak bermaksud seperti itu. Ini serius, hyung. Andai kondisi memungkinkan, aku pasti lebih banyak bermain di bengkel ketimbang bekerja di coffee shop. Kau tahu? Modifikasi motor atau mobil." Chanyeol memamerkan deretan giginya dan mendapat tepukan di bahu sebagai balasan.
"Wah, sayang sekali. Baekhyun tidak suka kendaraan yang dimodifikasi."
Chanyeol menautkan kedua alisnya bingung.
"Sudah kubilang. Dia itu kolot dan membosankan."
"Aku tahu ada yang tidak beres saat mendengar suara televisi yang begitu keras hingga sampai ke dapur." Baekhyun berkacak pinggang, mengagetkan dua lelaki yang sedang membicarakannya. "Kenapa aku tidak terkejut, ya?"
Baekbeom mengangkat bahunya acuh setelah sadar dari kekagetannya. "Karena kau sangat mengenal diriku."
"Aku akan mencekikmu!" hardik Baekhyun seraya mengacungkan jari telunjuknya ke arah sang kakak dan bersiap mengejarnya. Namun lengan Chanyeol dengan sigap menahan tubuhnya. "Jangan halangi aku! Aku tahu dia sedang membongkar aibku. Biar kutarik semua rambut di kepalanya sampai dia botak."
"Tenang, Baek. Kakakmu tidak mengatakan apa pun. Kami sedang membicarakan tentang modifikasi kendaraan dan Baekbeom hyung tidak sengaja berkata kalau kau tidak menyukainya. Itu saja."
"Oh, ya? Kau tidak dengar? Dia mengataiku kolot barusan. Padahal aku sudah memberitahunya, modifikasi motor atau mobil itu berbahaya."
"Iya, iya, maaf."
Baekhyun menarik nafasnya hingga tubuhnya berubah rileks. Ia melirik lengan Chanyeol yang masih menahannya dan beralih menatap wajah seniornya. "Kenapa jadi kau yang meminta maaf?"
Chanyeol tidak menjawab dan memilih memundurkan langkahnya. "Sudah selesai masaknya?"
Mendengar pertanyaan Chanyeol, Baekhyun jadi teringat tujuannya datang ke sana. "Ah, ya. Ponselmu bunyi." Ia menyerahkan benda pipih di tangan kirinya dan langsung diambil Chanyeol dengan gerakan sangat cepat, membuatnya menggumam tanpa sengaja. "Aku tidak membacanya, kok."
"Ya? Kau bilang apa barusan?"
"Mungkin ada pesan penting. Kau periksa saja, aku tidak membukanya."
Chanyeol mengangguk dan membiarkan lelaki mungil itu melangkah kembali ke dapur. Lalu netranya beralih ke arah ponsel di tangannya dan tertegun melihat nama si pengirim pesan.
.
.
.
"Baekhyun, sepertinya aku tidak bisa tinggal sampai makan malam."
Mendengar ucapan Chanyeol, Baekhyun menghentikan langkahnya sebelum mencapai pintu gerbang. Mereka baru saja selesai berjalan-jalan di sekitar rumah. Chanyeol yang berinisiatif mengajaknya berkeliling setelah makan siang bersama keluarga, membuat Baekhyun mau tak mau menyanggupinya meski udara begitu dingin.
"Tidak apa-apa. Kau pasti punya acara dengan teman-temanmu. Jangan memaksakan diri, Chanyeol. Aku merasa bersalah karena membuatmu datang jauh-jauh ke sini."
"Bukan seperti itu, aku sendiri kok yang ingin datang dan menghabiskan waktu bersamamu. Tapi mendadak aku dapat kabar, sepertinya Ayahku akan pulang cepat. Jadi ibu dan adikku juga akan pulang cepat."
Baekhyun mengangguk dengan senyuman. "Oh, itu bagus. Kalian bisa makan malam bersama."
"Ya, sudah lama sekali rasanya."
"Hm?" Baekhyun bergumam, tanpa sadar mengangkat alisnya bingung.
"Ayahku kan orang sibuk. Dia jarang di rumah."
"Kalau begitu, selamat bersenang-senang." Baekhyun berucap tulus yang dibalas dengan senyuman lebar seniornya.
"Pasti." Chanyeol mengangguk mantap. "Tapi aku masih belum puas main denganmu. Bagaimana jika akhir tahun nanti kau ikut denganku ke Seoul? Kita habiskan malam tahun baru di sana. Aku akan mengajakmu ke atap coffee shop, makan bersama sambil menunggu kembang api saat pergantian tahun. Suho hyung pasti senang jika kau datang."
"Kita... berdua?"
"Dan teman-temanku. Kami biasa berkumpul di sana. Ada Suho hyung juga. Biasanya dia datang hanya untuk mengantarkan makanan, tapi jika kau datang, dia pasti akan tinggal. Mau ya?"
Baekhyun merasa tidak yakin. Ia ingin menolak tapi tidak tega juga melihat tatapan Chanyeol yang penuh harap padanya. Baekhyun hanya takut jika ia memaksa pergi, teman-teman Chanyeol akan merasa canggung. Karena ia tahu dirinya sangat payah dalam hal bersosialisasi.
"Aku tidak tahu." Pada akhirnya itulah jawaban yang Baekhyun berikan.
"Aku tidak akan memaksa. Tapi jika kau merasa tidak enak dengan teman-temanku, itu tidak perlu. Mereka akan senang jika banyak yang datang. Terutama Suho hyung, percayalah."
Baekhyun menggaruk pelipisnya seraya meringis tak enak. "Tapi aku tak yakin orang tuaku akan mengizinkan. Kami tidak punya acara spesial, tapi aku jarang keluar rumah jika sedang liburan. Jadi..."
"Kalau itu masalahnya, aku akan meminta izin. Kau tenang saja, Baek. Bukan hanya pada orang tuamu, aku juga akan meminta izin pada Baekbeom hyung."
Dan Chanyeol membuktikan ucapannya. Dia serius meminta izin pada ayah dan ibu Baekhyun, termasuk kakaknya. Anehnya mereka tidak banyak bertanya, bahkan Baekbeom yang biasanya banyak bicara pun hanya berpesan untuk memberikan adiknya banyak makanan di sana, yang tentu saja dengan mudahnya Chanyeol sanggupi.
"Dia mudah lapar saat kedinginan, jadi jangan lupa untuk memberinya banyak makanan."
"Tentu saja, hyung. Kami tidak pernah kekurangan makanan di sana. Bosku sangat baik, selain jadi tuan rumah, dia juga jadi penyumbang daging terbanyak saat barbeque."
"Ya, ya. Aku percaya."
"Kau sebaiknya ikut kami, hyung. Teman-temanku pasti senang mengobrol denganmu," ajak Chanyeol semangat. Tidak terdengar nada basa-basi di sana.
"Oh, tidak perlu. Kau tidak lihat makhluk pendek di sampingmu sudah mau mengeluarkan tanduk? Aku mau akhir tahunku berlalu dengan tenang. Maka dari itu aku menyuruhmu membawanya pergi."
"Maaf saja, di sini satan-nya adalah kau." Baekhyun berucap santai, namun matanya sudah mendelik penuh kebencian pada sang kakak.
"Sudah, sudah. Jangan bertengkar lagi! Kalian tidak malu dengan Chanyeol?" lerai sang ibu sebelum peperangan antara dua saudara Byun itu pecah. "Berarti kau akan pulang sekarang juga, nak?"
"Iya, bu. Maaf sekali aku tidak jadi membantu ibu masak makan malam. Seharusnya tadi aku membantu ibu dan Baekhyun, bukannya menonton."
Ibu Byun menggeleng seraya mengusap pelan bahu teman putranya. "Astaga! Tidak apa-apa, nak. Lagi pula kau sudah membantuku membuat kue."
"Lain kali, aku janji akan melakukannya."
Setelahnya, pemuda jangkung itu pun pamit undur diri dari kediaman keluarga Byun.
.
.
.
Saat Chanyeol meninggalkan rumahnya sore itu dengan usapan lembut di kepalanya, Baekhyun sadar ada sesuatu yang berbeda. Seniornya itu semakin jelas menunjukkan perasaannya, membuat Baekhyun tak bisa menahan semburat merah ketika secara terang-terangan Chanyeol melakukan skinship dengannya.
Itu bukan yang pertama.
Karena saat keduanya jalan-jalan di sekitar rumah ditemani obrolan random soal kehidupan perkuliahan, Chanyeol juga dengan berani meraih tangannya untuk ia genggam. Meski alasannya saat itu adalah agar Baekhyun tidak kedinginan. Tetap saja itu adalah skinship yang tidak biasa bagi Baekhyun. Ia merona sepanjang jalan dan berakhir tidak fokus dengan apa yang mereka bicarakan.
Baekhyun juga menyadari sikap janggal kakaknya. Biasanya Baekbeom selalu sinis pada teman-temannya. Kecuali Jongdae dan Minseok, juga sahabatnya saat di SMA. Kakaknya tidak pernah bersikap ramah, tapi entah kenapa kali ini dia bisa bersikap lunak terhadap Chanyeol. Meski di awal sifat menyebalkannya tetap terlihat, tapi setelahnya ia seperti biasa-biasa saja dengan seniornya itu. Mereka bahkan terlihat sangat akrab ketika mengobrol di ruang tengah sementara ia membantu ibunya memasak.
Baekhyun tidak ingin berpikir terlalu jauh. Bisa saja Baekbeom hanya sedang lelah dengan pekerjaannya hingga tidak mau repot-repot bersikap sinis pada Chanyeol. Dan bisa jadi Chanyeol juga tidak menganggap skinship itu istimewa. Sebab seniornya selalu bersikap agresif sejak pertemuan pertama mereka. Untuk saat ini, Baekhyun ingin mengesampingkan sikap baik Chanyeol juga perhatian yang si giant berikan untuknya.
Karena ia tidak mau salah paham.
Baekhyun sempat berpikir jika Chanyeol lupa dengan janjinya. Setelah kunjungannya di hari natal, seniornya itu seperti hilang ditelan bumi. Tidak ada kabar apa pun, meski hanya sebaris pesan. Baekhyun memang tidak pernah mengirimi pesan lebih dulu, bukan karena gengsi, tapi ia memiliki banyak sekali pertimbangan. Ia takut mengganggu Chanyeol.
Karena tidak mau membuat seniornya menunggu lama, meskipun ia tidak mengharapkan kehadirannya dan belum memastikan kedatangannya juga, Baekhyun sudah mandi sejak pagi. Ia menyiapkan beberapa keperluan yang sekiranya akan dibawa ke Seoul mengingat ia pasti akan menginap di sana, entah di rumah siapa. Pesta akhir tahun pasti akan berlangsung sampai lewat tengah malam, tidak mungkin ia kembali ke Bucheon saat dini hari.
Tok. Tok.
Atensi Baekhyun teralih saat mendengar pintu kamarnya yang tidak tertutup diketuk pelan. Ia pun menoleh dan mendapati sosok kakaknya yang sedang menyender pada kusen sambil menggigit Panekuk buatan sang ibu.
"Apa?"
"Pantas saja sudah mandi pagi-pagi. Kukira kau tidak jadi ke Seoul karena beberapa hari ini terus murung."
"Bukan urusanmu. Bukankah kau mau aku pergi? Jadi atau tidak, aku sudah memutuskan untuk pergi ke mana pun itu."
Baekbeom berdecak mendengar adiknya menggerutu. "Oh, ya? Kalau begitu, untuk apa pangeran menjemput ke sini dengan mobilnya?"
Baekhyun tersentak dan melirik ke arah Baekbeom dengan cepat. "Chanyeol datang?"
"Wah, kalau tahu hanya bocah kelebihan kalsium itu yang bisa membuatmu semringah seperti ini, sudah kuhubungi dia dari kemarin."
"Memang kau tahu nomor ponselnya?"
"Aku tinggal mengambilnya dari ponselmu."
"Itu tidak sopan!"
"Daripada jadi pecundang. Lebih baik bersikap sedikit bar-bar. Kau tidak akan mati hanya karena mengirim pesan duluan."
Baekhyun menarik nafas dalam-dalam sebelum meraih bantal di ranjangnya dan berniat melemparkan benda itu pada sang kakak. Namun sial, yang muncul justru Chanyeol dengan jidatnya yang bercahaya.
Bruk.
"Wow, ucapan selamat datang yang tidak biasa."
"Pergi ke mana bedebah itu?"
"Baekbeom hyung?" tanya Chanyeol bingung melihat amarah di mata Baekhyun. "Dia lari ke bawah."
"BYUN BAEKBEOOOMMM!"
"SELAMAT BERSENANG-SENANG, LOVE BIRDS!"
Itu adalah teriakan balasan dari Baekbeom di lantai bawah.
.
.
.
"Apa kalian selalu bertengkar seperti itu?"
Baekhyun mengalihkan pandangannya dari jendela mobil ke arah Chanyeol yang sibuk mengemudi. Seniornya itu terlihat berbeda hari ini. Ia menata rambutnya dengan model hair up, membuat jidatnya yang bersinar terpampang dengan jelas. "Setiap hari, tidak pernah ada kata absen. Makanya aku memaksa kuliah di Seoul."
"Maaf, tadi kau bilang memaksa?"
"Orang tuaku tidak mengizinkan. Ada banyak hal yang mereka khawatirkan. Tapi setidaknya ada satu orang yang sangat senang saat aku pergi."
"Siapa?"
"Siapa lagi kalau bukan kakakku?"
Chanyeol terdiam. Sepertinya ia salah bicara. Selain membuat Baekhyun kesal, ia juga sudah menciptakan awan mendung di sekelilingnya.
"Baekbeom hyung pasti tidak bermaksud seperti itu."
"Tahu dari mana? Kau mengenalnya belum lama ini."
"Ya, memang benar. Tapi aku bisa langsung tahu jika Baekbeom hyung sangat menyayangimu saat menceritakan tentang prestasimu di sekolah. Dia bangga pada adiknya yang cerdas dan selalu meraih peringkat teratas."
Tidak ada lagi yang memutuskan untuk berbicara selepas Chanyeol menyelesaikan kalimatnya. Mereka saling terdiam, tanpa ada keinginan untuk memecah keheningan tersebut. Chanyeol sendiri lebih memilih diam karena ia merasa apa pun yang dikatakannya saat ini hanya akan membuat perasaan Baekhyun bertambah kacau. Pemuda jangkung itu sadar, ada sesuatu yang Baekhyun sembunyikan.
Sesuatu yang tidak ingin dia bagi dengan seseorang yang masih dianggapnya asing.
Namun siapa sangka setelah hening yang cukup lama, suara Baekhyun justru kembali terdengar.
"Kau pasti berpikir aku membencinya."
"Tidak, walaupun jika harus jujur, aku pikir ada sesuatu di antara kalian." Chanyeol melirik ke sampingnya dengan waspada, menunggu reaksi macam apa yang akan Baekhyun berikan. Tapi pemuda mungil itu hanya menunduk sambil memainkan jemarinya. "Saudara yang sering bertengkar itu wajar, aku melakukannya juga dengan adikku."
Baekhyun mendongak. "Setiap hari?"
"Setiap kali kami bertemu." Chanyeol mengiyakan dengan anggukan di kepalanya. "Aku jarang di rumah, kadang menginap di rumah Suho hyung atau di apartemen Sehun, ditambah aku sibuk dengan pekerjaanku di coffee shop. Tapi setiap kali aku diam di rumah, tidak pernah ada kata damai. Dia masih kecil, tapi sangat sok tahu. Dia juga sering menggangguku, apa lagi saat teman-temanku datang ke rumah."
Baekhyun yang mendengar cerita Chanyeol tanpa sadar terkekeh. Jika diibaratkan, hubungan si giant dengan adiknya adalah kebalikan dari hubungannya dengan Baekbeom. Ia memiliki kakak yang jahil, sementara untuk kasus Chanyeol, adiknya-lah yang usil dan sering mengganggu kakaknya. Ini lucu menurutnya, bagaimana tubuh bongsor Chanyeol terlibat pertengkaran dengan adiknya yang masih berusia 12 tahun.
"Aku menyayanginya." Baekhyun mengatakannya tanpa beban. "Baekbeom hyung, dia memang kakak yang jahil dan sering menggangguku, tapi aku tidak bisa memungkiri jika dia adalah sosok kakak yang baik. Bahkan terlalu baik, hingga aku membenci kebaikan hatinya."
Chanyeol menurunkan sebelah tangannya dari kemudi dan mengusap tangan Baekhyun yang saling bertautan. "Kau tahu, Baek? Kita punya waktu seharian jika kau mau bercerita. Jadi tidak perlu sungkan, aku pendengar yang baik."
Baekhyun tidak tahu jika ia harus bercerita lebih lanjut soal hubungannya dengan Baekbeom. Tapi kalimat Chanyeol barusan disertai dengan tatapannya yang hangat membuat Baekhyun tanpa sadar mengangguk dan memulai ceritanya.
Cerita soal Baekbeom yang memilih berhenti kuliah dan mengalah untuknya.
.
.
.
e)(o
.
.
.
A/N :
Kalo lagi lancar, ya lancar. Kalo lagi mentog, ya mentog. Tapi ini pendek aja, ehehe...
Kasih tau ya kalo ada typo, suka kelewat, aku bukan orang yang jeli soalnya.
Selamat membaca.
Lcourage - 280220
