Jarak Bucheon ke Seoul tidak terlalu jauh. Tapi siang itu Chanyeol menyetir dengan santai sambil mendengarkan cerita Baekhyun soal kakaknya. Dimulai dengan kisah ayahnya yang terkena PHK saat Baekhyun baru saja memasuki tahun ketiganya di SMP, keputusan Baekbeom untuk bekerja diam-diam, perjuangan ayahnya mencari pekerjaan baru di usia yang sudah cukup tua, hingga pertengkaran mereka saat Baekbeom memutuskan untuk berhenti kuliah setahun kemudian.

Chanyeol mendengarkan cerita Baekhyun dengan hati-hati sambil sesekali menghiburnya dengan mengatakan 'itu bukan salahmu' meski pemuda Byun itu hanya menanggapinya dengan senyum getir. Namun Chanyeol tidak ingin menyerah, ia membuat Baekhyun bercerita agar bebannya sedikit terangkat, bukan membuatnya semakin tertekan karena perasaan bersalah. Jadi sepanjang perjalanan menuju Seoul, Chanyeol selalu menggenggam tangannya, mengusapnya perlahan agar Baekhyun merasa tenang.

Chanyeol ingin Baekhyun tahu, bahwa setidaknya ia ada di sini untuk mendengarkan curahan hatinya.

"Sebenarnya keadaan saat itu tidak terlalu buruk. Karena orang tuaku sudah menyiapkan biaya pendidikan kami. Meski untuk kasusku, ayah baru menyiapkannya hanya sampai biaya masuk kuliah. Tapi Baekbeom beralasan jika biaya untuk kuliah beberapa tahun kemudian akan sangat besar. Jadi kami harus punya persiapan."

"Jadi, Baekbeom hyung mundur begitu saja?"

"Dia bilang dia terlalu bodoh untuk bisa lulus kuliah. Ditambah, sejak dulu dia lebih senang bermain di bengkel daripada belajar. Jadi...," Suara Baekhyun mendadak hilang dengan posisi kepala yang semakin menunduk menatap jemarinya yang bertautan dengan erat.

Dan hal itu tidak luput dari perhatian Chanyeol.

"Tak apa. Baekbeom hyung sudah sukses, dia berhasil membuktikan pada kalian jika dia bisa menjadi montir yang hebat. Kakakmu bukan hanya sekedar membual, Baekhyun. Dari ceritanya saja, aku tahu dia memang hebat dalam pekerjaannya. Aku bicara seperti ini bukan untuk menghiburmu, tapi karena aku punya hobi yang sama dengannya. Dan percayalah padaku, dia tahu banyak soal perbaikan mesin dan modifikasi yang keren."

Ya, tentu saja Baekhyun tahu. Meski ia buta tentang dunia otomotif, tapi bukan berarti ia tidak pernah menaruh minat pada pekerjaan kakaknya. Karena diam-diam Baekhyun juga sering memperhatikan kakaknya saat sedang bekerja. Dan ia sangat tahu jika pelanggan yang datang ke bengkel tempat kakaknya bekerja, selalu puas dengan hasil pekerjaannya. Untuk itulah, meski rasa bersalah terus menggerogoti hatinya, Baekhyun tetap merasa bangga pada sang kakak.

Semua terlihat di matanya.

Seperti yang Chanyeol lihat saat ini.

Dan cerita soal Baebeom pun berakhir di sana. Karena mereka telah memasuki kawasan Seoul dengan Chanyeol yang berbelok di restoran pinggiran kota yang katanya menyajikan menu Seolleongtang yang nikmat.

.

.

.

"Apa kau benar-benar harus pergi?" Sehun bertanya untuk yang ke sekian kalinya sejak kedatangannya pagi tadi, membuat pemuda cantik yang tengah keluar masuk walk in closet itu merengut tak suka.

"Ya, Sehun. Kau sudah menanyakannya ratusan kali dan aku hampir bosan memberikanmu jawaban yang sama." Luhan berhenti melangkah, menatap ke arah pemuda tanpa ekspresi yang tengah melipat pakaiannya di tepi kasur. "Kau tidak lelah?" tanyanya lagi seraya merebut sweater yang baru setengahnya terlipat.

"Hanya melipat pakaian, ini bukan apa-apa."

"Astaga!" Luhan mengerang kesal hingga ia refleks menepuk bahu bidang Sehun. "Maksudku, pertanyaanmu. Bukan pakaian ini."

Sehun berdecak, "Lalu kenapa kau merebutnya? Berikan padaku! Lagi pula aku datang ke sini untuk membantumu berkemas, jangan buat aku jadi tidak berguna."

"Hei, berhenti bicara seperti itu!" Luhan memicing tak suka. "Keberadaanmu tidak pernah menjadi tidak berguna untukku."

"Baiklah, terima kasih. Tapi aku tetap tidak suka jika kau pergi."

"Aku harus, Sehun. Lagi pula aku hanya pergi ke Gwangju, karena kebetulan keluarga besarku di Beijing sedang berkumpul di sana. Sudah lama sekali aku tidak bertemu dengan mereka setelah program pertukaran pelajar ke Austria. Kuharap kau mengerti."

"Aku mengerti bagian yang itu. Tapi yang tidak kumengerti dan tidak bisa kuterima adalah...," Sehun menarik nafasnya, matanya terarah pada sosok Luhan yang terlihat manis dengan sweater hijau tosca-nya. Tiba-tiba saja ia kehilangan kata-kata yang hendak keluar dari mulutnya.

"Aku memahami kekhawatiranmu. Tapi tidak ada yang bisa kulakukan. Chanyeol masih tetap dengan pendiriannya."

Sehun mendesah kecewa. "Itu artinya kau akan absen malam ini?"

"Maaf, Sehun. Setidaknya malam natal kemarin adalah yang terbaik, Chanyeol mau datang menemuiku, bahkan beberapa hari setelahnya juga."

"Itu karena dia ingin kau pergi malam ini."

"Tidak apa-apa." Luhan tersenyum. "Biarkan ia bersenang-senang. Akan ada saatnya semua terungkap, Sehun."

Saat itulah Sehun menyerah dengan segala argumennya dan kembali membantu Luhan berkemas. Setidaknya pemuda cantik itu hanya pergi ke Gwangju, bukan ke Beijing yang jauh sekali jika ia ingin menjangkaunya.

.

.

.

Saat bertolak menuju Seoul, Chanyeol mengatakan padanya jika mereka memiliki banyak agenda hari itu selain menghabiskan malam tahun baru di atap coffee shop. Tapi sungguh, Baekhyun tidak menyangka jika selepas makan siang Chanyeol akan mengajaknya keliling Seoul untuk melakukan banyak hal. Mereka pergi ke menara Namsan dan menaiki kereta gantung sambil menikmati pemandangan, mendatangi toko-toko di distrik Mapo, bersepeda di sekitar sungai Han, dan berbelanja di supermarket.

Untuk yang terakhir, mereka melakukannya sambil terburu-buru. Karena, bagaimana tidak? Chanyeol mengajak Baekhyun bermain seharian hingga lupa waktu.

"Ambil camilan apa pun yang kau mau. Semua snack, cokelat, makanan manis, apa pun itu. Masukkan semuanya ke keranjang. Aku akan mengambil bir."

Baekhyun mengangguk dan menuruti ucapan Chanyeol tanpa banyak protes. Melihat seniornya begitu tergesa-gesa, membuatnya mau tak mau merasa diburu waktu juga. Baekhyun akui mereka terlalu asyik mengobrol di pinggir sungai Han setelah capek bersepeda, keduanya sama-sama lupa waktu. Karena tahu-tahu matahari sudah terbenam, hari sudah gelap, dan dering ponsel Chanyeol terus meraung-raung saat keduanya bergegas meninggalkan sungai Han menuju supermarket.

"Sudah?"

Baekhyun menoleh dan melihat Chanyeol yang membawa 1 kerat bir kalengan dengan nafas terengah. Ia mengangguk dan menunjuk keranjang belanjaannya dengan wajah bingung. "Aku tidak tahu ini sesuai dengan selera mereka atau tidak, aku memilih yang menurutku paling enak."

"Apa maksudmu, Baek? Semua ini untukmu."

"APA?!" Kedua netra sipit Baekhyun membola dalam keterkejutan. "T-tapi kupikir ini untuk teman-temanmu."

"Eiy, untuk apa? Mereka bisa membeli camilan mereka sendiri. Ini semua untukmu, kalau mau kau bisa membaginya denganku."

"Chanyeol!"

"Oh, ini bukan saatnya protes. Kita harus bergegas karena yang lain sudah tiba. Suho hyung sebentar lagi juga akan sampai."

Tidak ada pilihan lain selain kembali menuruti ucapan Chanyeol. Karena tidak mungkin juga Baekhyun mengembalikan semua camilan itu ke tempatnya semula di saat Chanyeol sudah mendorongnya menuju kasir. Jadi saat giliran membayar, Baekhyun sudah bersiap mengeluarkan dompetnya karena bagaimanapun Chanyeol bilang semua itu untuknya, dan ia harus bertanggung jawab membayarnya karena semua camilan itu adalah pilihannya.

Tapi sekali lagi, Chanyeol lebih cepat. Pemuda jangkung itu mengeluarkan kartu yang belum pernah Baekhyun lihat dan menyelesaikan pembayaran dengan cepat pula. Lalu menarik Baekhyun menuju parkiran setelah semuanya selesai.

"Kau membayar semuanya."

"Ya." Chanyeol menanggapi seadanya karena ia sedang dibalik kemudi saat ini.

"Aku tidak suka."

Chanyeol menelan ludahnya kering. Sial! Ia lupa soal betapa keras kepalanya Baekhyun. Pemuda mungil itu pasti merasa tidak enak sekarang.

"Aku yang mengundangmu, jadi aku hanya sedang mencoba menjamumu dengan baik. Tolong jangan salah paham. Aku terlalu senang karena kau mau menerima ajakanku."

"Tapi ini terlalu banyak."

"Baiklah, itu salahku karena lupa mengatakannya padamu jika semua camilan itu adalah untukmu. Maukah kau memaafkanku?"

Baekhyun menggigit bibir bawahnya. Tidak ada yang salah dengan niat baik Chanyeol. Oleh karena itu ia mengangguk pelan hingga menimbulkan helaan nafas lega dari pemuda jangkung yang masih sibuk dengan kemudinya.

"Tapi izinkan aku berbagi dengan yang lain."

Chanyeol tertawa sambil menahan gemas melihat ekspresi Baekhyun. "Kalau begitu sebaiknya tadi kau mengambil lebih banyak camilan. Karena teman-temanku itu sangat rakus. Kuharap kau tidak terkejut nanti."

"Eung, tidak akan." Baekhyun menggeleng bak puppy yang minta dielus kepalanya. "Aku janji."

Oh God, tolong tabahkan hati Chanyeol!

.

.

.

Mobil yang Chanyeol kendarai tiba di coffee shop pukul 8 lebih 33 menit. Masih ada beberapa kendaraan yang terparkir di sana ketika mereka tiba dengan pengunjung yang tinggal sedikit. Saat Baekhyun bertanya apakah coffee shop akan buka sampai tengah malam, Chanyeol menjawabnya dengan sebuah gelengan kepala.

"Sehun, kau butuh bantuan?" tanya Chanyeol saat tiba di konter pemesanan.

"Tidak. Ke atas saja, yang lain sudah di sana. Suho hyung akan tiba saat coffee shop tutup."

"Oh, baiklah. Kalau begitu aku langsung naik ke atas."

Sehun mengangguk dan kembali berkutat dengan pekerjaannya. Namun sebelum dua orang di hadapannya pergi, ia sempat menyapa Baekhyun yang terus menatapnya dengan canggung.

"Selamat datang, Baekhyun."

"Ah, iya. Terima kasih."

Tersenyum tipis, Sehun pun memutus pandangan keduanya. Ia hanya teringat dengan ucapan Luhan sebelum pemuda cantik itu berangkat ke Gwangju.

'Bersikap baiklah.'

Saat langkah Baekhyun tiba di lantai atas, tanpa sadar mulutnya menganga melihat betapa luasnya area tersebut. Ia terlalu fokus menatap sekeliling hingga tidak sadar ketika Chanyeol menuntunnya menuju anak tangga lain yang menghubungkan dengan atap. Saat itulah kakinya tersandung dan hampir tergelincir jika Chanyeol tidak memeganginya.

"Astaga! Maafkan aku. Apa aku menarikmu terlalu kencang?"

Baekhyun menggeleng kaku, nafasnya yang tertahan ia hembuskan dalam kelegaan saat merasakan lengan Chanyeol menahan tubuhnya. "Aku yang tidak hati-hati karena terlalu fokus melihat-lihat."

"Ah," Chanyeol tersentak menyadari kebodohannya. Ia lupa jika ini adalah kali pertama Baekhyun menapakkan kakinya di lantai atas coffee shop. Sedikit banyak lelaki mungil itu pasti penasaran. Dan jika cukup jeli, akan ada banyak pertanyaan dalam kepalanya saat ini. "Ini lantai atas coffee shop yang sudah tidak digunakan."

"Kenapa?" Baekhyun tidak mengerti. Pasalnya jika lantai atas masih dibuka untuk pengunjung, pasti coffee shop ini akan lebih ramai. Akan ada banyak mahasiswa yang datang kemari, bukan hanya untuk membeli kopi, melainkan untuk nongkrong juga bersama teman-temannya. Karena setahu Baekhyun tempat ini selalu ramai dan banyak pengunjung yang sering tidak kebagian tempat hingga berakhir membawa pulang pesanan mereka.

"Ini keinginan Suho hyung. Tapi tempat ini tidak benar-benar ditinggalkan karena dia masih membiarkan kami menggunakannya untuk berkumpul."

"Maksudmu dulu lantai atas dibuka untuk umum?"

"Ya. Tapi 2 tahun yang lalu Suho hyung merombak semuanya dan mengosongkan tempat ini. Sofa dekat mini bar itu dibiarkan agar kami punya tempat untuk duduk saat ingin berkumpul di sini."

Baekhyun mengangguk dengan mata tertuju pada mini bar dan satu set sofa di dekatnya. Lalu pandangannya jatuh pada grand piano di sudut ruangan dengan kain hitam yang menutup dinding di belakangnya. Itu sangat aneh, terlebih kesan dingin nan gelap yang ia rasakan setiap kali matanya menatap segala sesuatu yang berwarna hitam di sana.

"Sedikit menyeramkan. Tapi setidaknya kalian masih mempertahankan piano itu." Baekhyun tersenyum dalam kelegaan dan sempat melupakan keanehan yang ia rasakan sebelumnya. Tentang betapa luas dan kosongnya tempat itu hanya dengan satu set sofa dan mini bar.

"Itu hanya pajangan. Tidak ada lagi yang memainkannya."

Baekhyun menolehkan kepalanya dengan cepat, merasa terkejut dengan satu lagi fakta yang baru saja didengarnya. "Apa?! Kenapa bisa begitu? Apa karena lantai atas sudah tidak dibuka untuk umum? Kalau begitu, bukankah kalian bisa menurunkannya? Walaupun itu akan memakan banyak tempat, tapi setidaknya orang-orang bisa melihatnya, piano itu juga bisa tetap dimainkan, bukan hanya menjadi pajangan."

Chanyeol tidak segera menjawab, hingga keheningan itu membuat Baekhyun sadar.

"Oh, maaf. Aku tidak bermaksud cerewet atau ikut campur, tapi bukankah sayang membiarkan piano sebagus itu hanya menjadi pajangan?"

Pemuda mungil itu tidak menyangka jika Chanyeol akan menyetujui ucapannya.

"Ya, memang sayang. Kau dengar itu kan, hyung?"

Alis Baekhyun mengerut samar. Namun begitu mendengar langkah kaki di belakangnya, ia pun berbalik dan mendapati sang pemilik coffee shop sedang tersenyum masam padanya.

Sepertinya, kali ini Byun Baekhyun benar-benar sudah salah bicara.

.

.

.

Sejauh ini, setidaknya ada 15 orang yang berkumpul di pondok kecil yang dibangun di atap coffee shop, termasuk Baekhyun. Tempat ini luar biasa cantik hingga pemuda mungil itu melupakan keresahannya sebelum datang kemari. Entah itu soal cuaca dingin yang menusuk, teman-teman Chanyeol yang belum ia kenal, termasuk ucapannya soal piano yang berhasil membuat sifat menyebalkan Suho lenyap tergantikan dengan senyum masam.

Walaupun itu hanya terjadi saat mereka berpapasan di tangga. Karena saat ini, Suho sudah kembali seperti dirinya yang semula.

"Aku tahu kalian sedang bertanya-tanya mengapa bukan hanya daging-daging mahal dariku saja yang ada di sini, tapi aku juga ikut hadir dan bergabung bersama kalian." Suho memulai ketika 'tampaknya' semua orang telah berkumpul. "Aku punya tamu spesial," ia tersenyum dan menatap Baekhyun yang duduk di samping kirinya. "Perkenalkan, dia Byun Baekhyun. Teman Chanyeol yang sudah kuanggap adikku sendiri."

Baekhyun tertegun dengan deretan kalimat tersebut hingga tidak menyadari semua mata tengah tertuju padanya. Saat sebuah seruan terdengar, ia pun tersentak dan mengarahkan netranya pada sesosok pemuda mungil yang sedari tadi terus menatapnya.

"Aku tahu itu kau!"

"Kau mengenalnya, Kyungsoo?" tanya Suho mewakili rasa penasaran setiap orang.

"Tentu saja, hyung. Orang tuaku pernah menitipkanku di rumah nenekku di Bucheon selama beberapa tahun. Aku menghabiskan masa SMP di sana, sampai SMA kelas satu. Dan sekarang aku yakin, dia adalah teman SMA-ku. Kelas kami sebelahan, ngomong-ngomong."

"Benar begitu, Baek?"

Baekhyun mengangguk ragu. "Aku memang merasa seperti mengenalnya."

"Tampaknya kekasihku tidak begitu populer saat di SMA," Jongin terkekeh dan menghasilkan sebuah tepukan keras di pundaknya hingga ia mengerang kesakitan. "Jangan marah, sayang! Kau sendiri yang bilang jika dulu penampilanmu berbeda jauh dengan yang sekarang."

"Ya, itu memang benar. Aku bahkan masih kaget melihat fotomu saat SMA dulu."

"Baiklah, kuakui aku memang sangat nerd dulu, tapi seperti yang selalu kukatakan, aku tidak peduli. Jadi jangan mulai lagi dengan candaanmu soal kacamataku, Park Chanyeol!" Kyungsoo memperingatkan dengan sumpit yang mengarah tepat ke arah si giant yang sedang menahan tawanya. "Atau dia akan tahu semua kekonyolanmu."

"Kau tidak bisa melakukannya tanpa menyeretku," sembur seorang pemuda jangkung yang memperkenalkan dirinya sebagai Minho.

"Mereka teman sepermainan, atau kau bisa menyebutnya teman berbuat onar." Suho berbisik di telinga Baekhyun, mengundang kekehan orang-orang yang duduk di dekatnya. Karena demi Tuhan! Pria itu sepertinya tidak benar-benar berniat menyembunyikan percakapannya.

Baekhyun ikut tertawa. Ia pikir itu adalah malam paling berisik yang pernah dilewati selama 20 tahun hidupnya. Meskipun dirinya kebanyakan diam, bukan berarti suasana malam itu akan berubah canggung. Semua orang yang ada di sana tampak sangat dekat satu sama lain walaupun beberapa di antara mereka memiliki perbedaan usia yang cukup jauh. Namun saat duduk bersama di pondok kecil nan hangat itu, mereka semua bisa berbaur dengan baik.

Termasuk Baekhyun yang notabene masih menjadi orang asing di sana.

Ada seorang pemuda tinggi bernama Yifan yang bertugas memanggang daging, dibantu seorang pemuda mungil yang ternyata pernah satu SMA selama setahun dengan Baekhyun, dia adalah Do Kyungsoo, kekasih Kim Jongin. Yifan seusia dengan Suho, sama seperti Kibum dan Yixing. Kemudian ada Minho yang menjadi teman sepermainan Chanyeol, atau menurut Suho adalah temannya berbuat onar. Sehun, Taemin dan Doyoung, ada di tahun yang sama, mereka setahun di atas Jongin dan Jaehyun. Lalu ada pemuda bernama Taeyong yang kebetulan seusia dengan Baekhyun. Dan terakhir yang menjadi maknae di antara mereka semua, adalah Jungwoo. Ia masih SMA.

Suho bilang masih banyak yang belum Baekhyun lihat karena kebetulan ada beberapa orang yang berhalangan hadir malam itu. Baekhyun hanya bisa mengangguk saja, tidak tahu jika di masa depan ia akan lebih dekat dengan mereka atau tidak. Yang diketahuinya saat ini adalah ia harus bersikap baik di depan teman-teman Chanyeol. Apalagi saat Suho memperkenalkannya seperti itu di hadapan mereka semua, bahwa ia adalah teman Chanyeol yang sudah Suho anggap seperti adiknya sendiri.

Meski masih merasa asing, Baekhyun tidak bisa memungkiri rasa hangat di hatinya saat mendengar ucapan Suho. Ia tidak mengira bisa diterima di lingkaran pertemanan Chanyeol yang tidak biasa.

Tanpa menyadari keanehan yang tersembunyi di antara gelak tawa itu, Baekhyun melewati malam tahun barunya dengan penuh suka cita, bersama teman-teman barunya di atap coffee shop hingga jarum menunjuk angka 12 tepat dan puluhan kembang api meluncur ke langit dengan warna-warnanya yang menakjubkan.

Semoga tahun depan menjadi lebih baik untuk semua orang, doanya dalam hati.

.

.

.

A/N :

Pertama-tama, selamat untuk debut solo leader kita, Suho dengan mini albumnya Self Portrait #yeaayyyy

My top 3 jatuh kepada Let's Love, Self Portrait, dan For You Now (alunan pianonya yang paling aku suka huhuu).

Sebenernya aku lagi dalam masa hiatus sekarang. Dan update chapter ini ada diluar rencana, jadi sorry kalo kurang memuaskan. Aku cuma lagi pengen nulis dan kebetulan pilihanku jatuh ke work ini.

Selama 2 minggu terakhir, aku lagi berjuang buat tetep bertahan, tetep optimis, atau seenggaknya tetep tersenyum. Karena serius, sakit itu gak enak, mau sesepele apapun penyakitnya :(

Jadi buat kalian yang masih diberi kesehatan, tolong dijaga baik-baik, perlakukan tubuh kalian sebaik mungkin sebelum semuanya terlambat dan kalian menyesal di kemudian hari.

Sehat itu mahal, percayalah ini bukan omong kosong.

Okay, segitu dulu aja kayaknya. Maaf kalo ada kata-kata yang gak berkenan.

Lcourage - 300320