Cuaca yang begitu dingin membuat semua orang kompak untuk segera masuk ke lantai atas coffee shop. Pesta kembang api yang meriah hanya berlangsung sebentar saja karena semua orang mulai membeku kedinginan. Meski ada penghangat elektrik yang dipasang di rooftop, juga api unggun yang dinyalakan dalam beberapa tong bekas, yang tidak kuat dengan cuaca dingin mulai terlihat kewalahan.
Salah satunya adalah Baekhyun. Dia dan Jungwoo menjadi yang paling cepat menggigil saat suhu kian turun. Jadi dengan berat hati keduanya menurut saat yang paling tua menyuruh mereka masuk duluan, sementara yang lain sedang membereskan sisa pesta mereka di luar.
"Hyung, kau mau minum sesuatu yang hangat?" Jungwoo menawari Baekhyun saat keduanya sudah duduk di satu-satunya sofa yang ada di lantai atas. "Dingin sekali. Aku tidak kuat."
"Mau membuatnya di bawah?"
"Iya, nanti aku panggil dulu Sehun hyung. Kau mau sekalian?" Jungwoo kembali menawari Baekhyun karena pemuda itu belum menjawabnya.
"Memang tidak merepotkan?"
Yang lebih muda menggeleng dengan senyuman menenangkan. "Tentu saja tidak."
Setelah mengatakannya, Jungwoo pergi keluar dan kembali lagi bersama Sehun. Chanyeol mengikuti di belakang dan langsung menghampiri Baekhyun.
"Mau teh atau cokelat panas?" tawar Chanyeol seraya duduk di sampingnya.
Baekhyun sedikit menimang, tapi karena tidak tahu mau minum apa, ia memasrahkan hal itu sepenuhnya pada mereka.
"Baiklah, ayo buat dua-duanya." Akhirnya Chanyeol malah memutuskan sendiri. Sementara Baekhyun hanya bisa mengulum bibirnya saat Jungwoo menertawakan seniornya itu.
"Tunggu sebentar, ya. Aku akan cepat," ucap Chanyeol seraya mengusap kepala Baekhyun, membuat pipinya mendadak panas dan menimbulkan rona kemerahan.
Untung saja Chanyeol langsung beranjak dari sofa dan tidak sempat melihatnya. Bisa-bisa wajah Baekhyun akan semakin memerah saat Chanyeol memergokinya tengah tersipu.
Saat ketiganya turun, Baekhyun pun memutuskan untuk melihat-lihat, karena ia sungguh tidak tahu mau melakukan apa. Dan hal pertama yang menarik perhatiannya tentu saja grand piano hitam yang ditempatkan di sudut ruangan, dengan background kain hitam yang sedari awal mencuri perhatiannya. Jika dilihat lebih jelas, kain itu pasti sengaja diletakkan di sana untuk menutupi sesuatu. Apakah itu sebuah hiasan? Foto? Atau mungkin lukisan? Tidak mungkin jika hanya berupa dinding kosong. Meski Baekhyun tidak bisa menebak, karena Chanyeol juga tidak mengatakan apa pun soal itu.
Langkah kakinya semakin mendekat ke arah piano, hingga jemari lentiknya dapat menyentuh permukaan alat musik itu.
"Wah..."
Baekhyun merasa takjub kala merasakan betapa halusnya permukaan piano tersebut. Meski Chanyeol bilang sudah tidak ada yang memainkannya, tapi pemuda mungil itu tidak melihat setitik pun debu di atasnya.
"Pasti mereka rajin membersihkannya," gumam Baekhyun lega. Awalnya ia merasa amat disayangkan piano seindah ini sudah tidak pernah dimainkan lagi. Padahal banyak sekali orang di luar sana yang ingin memainkannya namun terhalang oleh ketidakmampuan memilikinya.
Seperti dirinya di masa lalu.
Baekhyun selalu tertarik dengan alat musik satu ini, tapi keluarganya tidak pernah mampu membelinya. Jadi ia selalu mencuri kesempatan untuk memainkannya di sekolah atau di rumah temannya. Kemampuannya lumayan, meskipun masih masuk kategori amatir.
"Kau bisa main piano?"
Baekhyun menoleh kaget dengan suara yang tiba-tiba muncul di belakangnya. Kapan pria itu masuk?
"Suho hyung..."
"Kau asyik sekali memandanginya."
Baekhyun hanya meringis mendengarnya. Semoga Suho tidak tahu apa yang sedang dipikirkannya saat ini. "Maaf, pianonya bagus sekali."
"Mau memainkannya?"
"Memang boleh?" tanya Baekhyun dengan raut terkejut yang tidak berusaha disembunyikannya. "Chanyeol bilang piano ini sudah lama tidak dimainkan."
"Ya, memang sudah lama tidak dimainkan. Mau mencobanya?"
"B-boleh?" Baekhyun bertanya ragu, tak yakin dengan ucapan sang pemilik coffee shop itu.
"Hanya jika kau bisa memainkannya," canda Suho tak benar-benar serius. Tapi ucapannya malah membuat yang lebih muda menggeleng keras.
"Aku tidak pandai. Jadi sebaiknya tidak usah."
"Aku bercanda, Baekhyun."
"Tapi aku serius, hyung. Kemampuanku di bawah rata-rata. Lagi pula aku tidak percaya diri memainkannya saat banyak orang. Bisa-bisa aku pingsan sebelum memulainya."
Suho terkekeh dan meraih pundak Baekhyun untuk ia hadapkan pada dinding yang tertutup kain hitam. Ia menatap permukaan itu lama sebelum menunjuk menggunakan dagunya. "Kau juga memandangi benda itu lama sekali."
Baekhyun meneguk ludahnya gugup sambil mencuri pandang ke arah Suho yang sedang menatap dinding itu dengan pandangan yang aneh. "A-aku hanya penasaran."
"Kenapa aku menutupnya?"
"Ya," angguk Baekhyun patah-patah. Suho terlihat begitu berbeda dari biasanya hingga membuatnya sedikit ketakutan.
"Galaksi. Itu identitas utama cafè ini."
Cafè.
Baekhyun mengulangnya dalam kepala.
Sudah sejak lama sekali ia penasaran mengapa tempat ini tidak memiliki nama. Orang-orang selalu menyebutnya coffee shop karena itulah yang tertera di depan bangunan berlantai 2 dengan tema vintage ini. Setelah mengenal pemiliknya, Baekhyun sempat berpikir jika itu hanya ulah Suho yang terkadang ada di luar nalar. Ia tidak pernah menduga ada sesuatu dibalik itu.
"Aku mau menceritakan sedikit tentang tempat ini. Kau mau tahu?" tawar Suho saat Baekhyun tengah melamun dan asyik dengan pikirannya sendiri.
"Hanya jika kau bersedia, hyung. Aku tidak akan memaksa meski agak penasaran."
Suho mengangguk. "Baiklah. Jadi pertama-tama..."
.
.
.
Kyungsoo menyilangkan kedua tangannya di dada menatap 2 pemuda jangkung yang tengah merebahkan tubuhnya di atas karpet ruang tengah, sementara ia dan 1 tamu lainnya berdiri di sisi sofa.
"Seingatku aku hanya menawari Baekhyun untuk menginap di sini. Bukan untuk menampung kalian juga."
"Ayolah, Kyungsoo. Ini masih jam 3 pagi. Kau tega membiarkan pacarmu sendiri berkeliaran di luar? Kalau mau usir saja orang ini!" tunjuk Jongin pada Chanyeol yang langsung menendang bokongnya dengan keras, membuatnya menjerit kesakitan dan balik menendang pemuda itu tak kalah kencang.
"Ugh, aku benci kalian." Kyungsoo merotasikan bola matanya melihat tingkah kekanakan Jongin dan sahabatnya. "Lebih baik kita ke kamar, biarkan mereka berkelahi sampai pagi."
Baekhyun hanya bisa mengangguk dan mengikuti langkah Kyungsoo menuju satu-satunya kamar yang ada di apartemen sederhana itu.
"Sayang, jangan pergi begitu saja! Setidaknya berikan kami selimut." Jongin berteriak kencang namun yang ia dapatkan hanya debaman pintu yang keras.
Kyungsoo menatap teman lamanya dengan ekspresi canggung. "Maaf, ya. Kamarku kecil."
"Oh, tidak kok. Ini jauh lebih besar dan lebih baik dibanding kamar asramaku," jawab Baekhyun panik, berharap kata-katanya cukup meyakinkan. Karena perasaan gugup dan sikap kikuknya kadang sering membuat orang lain salah paham. "Harusnya aku yang minta maaf karena sudah membuatmu repot."
"Repot apanya? Yang merepotkan itu mereka." Kyungsoo berjalan ke arah lemari, membawa 2 selimut untuk tamunya yang tak diundang. "Oh, ya. Kau bisa pakai kamar mandi duluan, aku mau mengurus mereka dulu sebelum ruang tengah diacak-acak."
"Baiklah, terima kasih, Kyungsoo."
"Nyamankan dirimu, anggap rumah sendiri. Oke?"
Baekhyun mengangguk seraya memberikan senyuman terbaiknya. Ia bergegas ke kamar mandi untuk cuci muka dan gosok gigi. Tidak perlu mandi, karena cuaca begitu dingin. Pakai air hangat pun percuma. Lagi pula ia tidak mau membuat Kyungsoo menunggu. Baekhyun hanya perlu mengganti jeans-nya dengan celana training dan ia pun siap untuk tidur.
Kyungsoo sudah kembali ke kamar dan sedang merapikan isi lemarinya saat Baekhyun selesai. Temannya itu menyuruhnya untuk berbaring duluan sementara ia membersihkan diri. Tapi ketukan di pintu membuat Baekhyun batal merebahkan dirinya di kasur.
Begitu pintu dibuka, ia pun disambut oleh wajah seniornya. "Chanyeol? Ada apa?"
Si jangkung yang diam-diam tengah mencuri pandang ke dalam kamar malah memamerkan deretan giginya yang rapi saat ditanya demikian. "Sebenarnya tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin mengecek keadaanmu. Kau baik-baik saja? Kyungsoo tidak melakukan sesuatu padamu? Dia tidak menyuruhmu tidur di bawah, kan?"
Deretan pertanyaan itu nyatanya membuat Baekhyun tak kuasa menahan tawa. Ia menggeleng pelan, mengisyaratkan Chanyeol agar tidak perlu mengkhawatirkannya. "Dia baik, Chanyeol."
"Yeah, itu karena kau temannya."
"Kau juga temannya, bahkan sepertinya kalian lebih dekat."
Chanyeol bergidik seraya menggeleng cepat. "Aku bersumpah, kami tidak sedekat itu. Tapi karena dia adalah pacar Jongin, mau tidak mau kami semua jadi berteman dengannya."
"Kau terdengar tidak menyukainya. Kenapa? Setahuku Kyungsoo anak yang baik."
"Memang sih," Chanyeol menggaruk tengkuknya tak yakin. "Tapi terkadang dia bisa menyeramkan."
"Jangan begitu. Kyungsoo pasti punya alasan. Mengingat sifat jahil kalian, rasanya kemarahan dia wajar-wajar saja."
Ah, Baekhyun jadi ingat kembali cerita Kyungsoo saat di rooftop soal kelulusan SMA-nya yang berakhir chaos. Itu semua karena ulah Chanyeol dan teman-temannya yang ingin membantu Jongin menyatakan perasaan pada pemuda bermata bulat itu.
"Kau mulai membelanya," keluh Chanyeol dengan wajah sedih dibuat-buat. "Pada dasarnya Kyungsoo itu memang kejam. Jongin sendiri yang bilang. Tapi bocah sinting itu malah mengatakan pacarnya sangat seksi saat sedang marah. Aku sampai merinding mendengarnya."
Tawa Baekhyun sedikit tertahan karena ia takut Kyungsoo mendengarnya. "Hati-hati dengan ucapanmu, nanti kau akan dapat pacar yang sifatnya persis seperti Kyungsoo dan malah berakhir seperti Jongin."
"Tidak akan. Itu tidak mungkin terjadi," jawab Chanyeol penuh percaya diri.
"Kenapa begitu yakin?"
"Karena kau tidak galak seperti Kyungsoo. Walaupun saat sedang marah atau kesal, kau juga bisa terlihat seksi."
Satu.
Dua.
Tiga.
Baekhyun mulai merasakan panas di wajahnya merambat hingga ke telinga. Ingin rasanya ia menyembunyikan wajahnya atau menghilang sekalian dari hadapan Chanyeol karena kelewat malu. Apalagi saat ini seniornya itu tengah menatap intens dirinya, seolah yang dikatakannya barusan tidak berefek apa-apa bagi Baekhyun.
Untungnya suara shower yang mati menyelamatkan Baekhyun dari situasi yang membuatnya malu setengah mati itu. Karena Chanyeol yang panik langsung berpamitan padanya. Ia takut Kyungsoo keluar dan memergokinya di ambang pintu, menggoda Baekhyun hingga pemuda mungil itu merona parah. Bisa disemprot habis-habisan dia jika ketahuan menggoda anak orang di jam 3 pagi.
Jadi dengan perasaan lega Baekhyun menutup pintu kamar dan berbaring di kasur sebelum Kyungsoo curiga.
"Sudah lama sekali ya kita tidak bertemu," ujar Kyungsoo membuka pembicaraan begitu ia mendudukkan dirinya di tepi kasur. Wajahnya sudah lebih segar, dan Baekhyun tidak bisa menahan gemas melihat piama Pororo berwarna biru muda yang dikenakannya. "Aku tidak pernah melihatmu di coffee shop. Padahal kau dan Chanyeol sangat dekat."
"Sebenarnya tidak sedekat itu," sahut Baekhyun sambil meremas selimut yang menutupi tubuhnya sebatas dada. "Kami juga saling mengenal belum lama ini. Mungkin itu sebabnya kau tidak pernah melihatku. Aku juga jarang ke coffee shop."
"Biar kutebak, kau pasti sibuk belajar."
Baekhyun terkekeh karena tebakan Kyungsoo begitu tepat. "Aneh sekali, bahkan setelah pergi ke Seoul, aku masih memilih belajar ketimbang keluyuran. Sepertinya mau di mana pun sama saja."
"Tidak apa-apa, selama alasannya itu baik. Daripada keluyuran tidak jelas."
Baekhyun mengiyakannya. Lalu keduanya pun berakhir dengan membicarakan sedikit tentang diri mereka sendiri selama terpisah.
Kyungsoo pindah ke Seoul setelah orang tuanya kembali. Ia meneruskan SMA di sana dan memilih Institut Musik setelah lulus. Kini ia adalah salah satu mahasiswa jurusan musik yang baru memulai tahun pertama seperti dirinya.
"Kau sangat beruntung." Itu yang Baekhyun ucapkan sebagai penutup pembicaraan mereka. Dan Kyungsoo juga mengatakan hal yang sama padanya, bahwa ia beruntung bisa masuk salah satu universitas top di Seoul.
Baekhyun kira dirinya akan tertidur setelah itu. Tapi ternyata tidak. Ia masih terjaga saat mata Kyungsoo terpejam dan suara dengkuran halusnya terdengar. Keributan di ruang tengah juga sudah menghilang, mungkin Chanyeol dan Jongin juga sudah terlelap. Hanya ia yang masih membuka matanya, menolak tidur meski rasa lelah sudah menggerogoti tubuhnya.
Pikirannya melayang, teringat ucapan Suho beberapa jam yang lalu. Tentang bagaimana coffee shop itu dirombak total hingga hanya menyisakan lantai bawah sebagai tempat orang-orang menikmati sajian khas mereka.
.
.
"Namanya Galaxy Cafè. Semua temanku menyebutnya norak, tapi aku suka nama itu. Karena semakin aneh namanya, maka orang-orang akan semakin tertarik. Dan memang benar, mereka datang ke sini bukan hanya untuk membeli kopi, tapi juga untuk menikmati suasana cafè."
"Kau mendekorasi sesuai namanya?" tanya Baèkhyun penasaran yang langsung ditanggapi Suho dengan sebuah anggukan mantap.
"Tentu saja. Untuk apa kunamai seperti itu jika isinya tidak menggambarkan sedikit pun tentang segala sesuatu yang berkaitan dengannya?"
"Aku jadi tambah penasaran," sahut Baekhyun dengan helaan nafasnya. "Apa sesuatu dibalik kain ini juga berhubungan dengan galaksi?"
Suho tersenyum, pandangannya tertuju pada dinding yang tertutup kain hitam di hadapannya. "Dia adalah galaksi itu sendiri."
Kedua mata Baekhyun membola saat mendengarnya. Otaknya mulai memikirkan tentang sesuatu yang masih tersembunyi itu. "Apa itu? Lukisan? Foto? Tapi sebesar apa? Tidak mungkin jika besarnya sampai memenuhi dinding, kan?"
"Kalau iya, kenapa?"
"Itu luar biasa, hyung!" pekik Baekhyun penuh semangat. "Beritahu aku, benda apa itu?"
"Kau akan tahu nanti."
"Aku boleh melihatnya?" tanya Baekhyun lagi. Ia sudah berharap banyak karena terlalu penasaran dengan benda itu. Entah apa pun namanya, jika memang sebesar dinding, pasti itu luar biasa.
"Tentu. Tapi nanti, setelah kau meresmikan hubunganmu dengan Chanyeol."
"Eh?" Alis Baekhyun menyatu, kebingungan menghampirinya kala mendengar penuturan Suho. Tapi itu tak berlangsung lama karena kesadaran segera menghantamnya hingga membuatnya menggeleng keras, menyangkal ucapan pria itu. "A-apa maksudmu, hyung? Hubungan kami tidak seperti itu."
"Ck. Orang buta juga tahu bagaimana Chanyeol begitu gencar mendekatimu," cibir Suho dengan wajah datar seolah itu bukan apa-apa bagi pemuda yang sedang memasang wajah panik di hadapannya. "Jangan terlalu dingin, beri dia kesempatan."
"T-tapi, hyung..."
Sayangnya Suho tidak mau mendengar dan malah meninggalkannya ke bawah, menyusul Chanyeol, Sehun juga Jungwoo yang tak kunjung kembali.
.
.
Yang menjadi pertanyaan Baekhyun saat ini adalah kenapa ia harus menunggu sampai dirinya resmi berpacaran dengan Chanyeol?
Toh ia hanya ingin melihat sebuah benda dibalik kain hitam yang pernah menjadi identitas lama cafè itu. Baekhyun bahkan tidak ingin bertanya terlalu jauh tentang alasan Suho merombak cafè-nya, membuang semua hal-hal yang berkaitan dengan galaksi di tempat itu, menutup lantai atas untuk umum, dan membiarkan piano indah di sana ditinggalkan tanpa pernah dimainkan lagi. Baekhyun tahu pasti ada alasannya, termasuk jika Suho juga memiliki alasan untuk melarangnya melihat sesuatu dibalik kain hitam itu. Tapi yang terjadi justru sebaliknya, Suho mengizinkannya dengan memberikan syarat yang konyol. Sampai Baekhyun berpikir, lebih baik katakan saja jika memang dirinya tidak boleh melihat. Tidak perlu sampai berbuat seperti itu juga.
Karena demi Tuhan! Ia dan Chanyeol tidak memiliki hubungan apa pun.
Walaupun yang dikatakan Suho itu memang benar, orang buta juga akan tahu Chanyeol tengah naksir padanya. Tapi apa Baekhyun juga memiliki perasaan yang sama? Apakah hubungan mereka juga akan berkembang hingga sejauh itu? Seyakin apa Suho jika perasaan mereka saling berbalas hingga berani berkata demikian?
Akhirnya Baekhyun kembali dengan pemikiran awalnya, bahwa Suho sebenarnya tidak ingin menunjukkan benda itu padanya. Ia pun memupus harapannya dan berkata pada dirinya sendiri untuk tidak mengusik apa pun tentang masa lalu cafè itu.
.
.
.
Sehun kembali ke apartemennya sendiri, tanpa Chanyeol yang biasanya akan menginap di sana. Tidak masalah, ia tahu sahabatnya itu akan ikut ke mana pun Baekhyun pergi. Untung saja Kyungsoo bersedia menampung pemuda itu hingga Chanyeol tidak perlu membawa Baekhyun menginap di rumahnya.
Sudah hampir jam 3 pagi. Meski matanya terasa berat, Sehun tetap memaksa terjaga karena ia sedang menunggu pesan balasan dari seseorang.
Dia adalah Luhan.
Sehun mengatakan padanya soal Suho yang datang ke pesta di atap coffee shop. Hanya ada beberapa orang yang absen malam itu, tapi Sehun melaporkan dengan detail siapa saja yang hadir. Luhan terkejut saat menerima pesan tersebut, karena ia tidak menyangka jika Suho mau bergabung saat orang itu juga ada di sana. Makanya pemuda keturunan China itu meminta Sehun terus mengabari apa saja yang terjadi di sana.
Kini Sehun sedang menunggu Luhan untuk menghubunginya. Dia bilang akan segera menelepon begitu pesta akhir tahun keluarganya selesai. Lalu saat ponselnya bergetar, ia segera meraih benda pipih itu dan tersenyum melihat nama 'My Deer' yang muncul di layar.
"Halo, Lu... Bagaimana pestanya?"
Luhan terkekeh ringan di seberang telepon. "Meriah seperti biasa. Maaf ya, sedikit lama. Sepupuku tidak mau aku pergi ke kamar duluan."
"Tidak apa-apa, aku mengerti. Mereka merindukanmu."
"Jadi bagaimana?" tanya Luhan tak sabar. "Suho hyung baik-baik saja? Tidak ada yang aneh dengannya?"
"Kupikir kau ingin menelepon untuk menanyakan Chanyeol."
Ada tawa yang menyapa telinga Sehun dan membuatnya ikut menyunggingkan senyum.
"Aku tahu mereka sedang bersama. Tapi aku senang Kyungsoo membawa dia ke apartemennya."
"Chanyeol ikut, Lu," terang Sehun mengingatkan. Padahal ia sudah bersiap untuk menyusul Chanyeol ke sana seandainya Luhan meminta. Tapi pemuda itu malah lebih tertarik dengan cerita Suho. "Kau tidak menyuruhku ikut, dan aku juga tidak punya alasan untuk mengikuti mereka, walaupun aku bisa pura-pura merengek pada Chanyeol untuk membawaku serta. Tapi aku tidak cukup gila untuk menerima amukan Kyungsoo. Dia pasti tidak akan mau apartemennya didatangi kami."
Lagi-lagi Luhan mengumandangkan tawa merdunya, membuat hati Sehun menghangat saat mendengarnya.
"Itulah sebabnya aku merasa lega. Chanyeol tidak akan bisa apa-apa. Malahan aku yakin jika Kyungsoo akan memarahi dia dan pacarnya sekalian."
"Kau benar." Sehun ikut tertawa. "Dan soal Suho hyung, dia baik-baik saja. Tidak ada yang aneh, meski mereka bertingkah seolah tidak saling mengenal satu sama lain. Tapi dia bisa mengontrol emosinya dengan baik, sikapnya tidak canggung sama sekali."
"Dia memang selalu menyembunyikan perasaannya dengan baik. Tapi aku penasaran apa yang membuatnya bisa bersikap sesantai itu."
"Antara sudah move on atau dia hanya sedang berakting di depan Baekhyun," tukas Sehun santai. "Tapi apa pun itu, kupikir ini sudah saatnya mereka berdamai."
"Tidak akan bisa, Sehun," balas Luhan murung. "Hal yang sama akan terjadi padaku dan Chanyeol seandainya dia lebih memilih bocah itu."
Sehun menghela nafasnya. "Tidak akan kubiarkan, percayalah."
Hening. Hanya ada tarikan nafas mereka berdua sampai Luhan menjawab lirih.
"Aku percaya."
Kemudian sambungan terputus.
.
.
.
Beberapa saat sebelumnya di coffee shop, saat semua orang telah pulang ke rumah masing-masing.
Sang pemilik jadi yang terakhir meninggalkan tempat tersebut bersama seorang pria di masa lalunya. Mereka duduk berjauhan di sofa, terlihat santai namun siapa pun bisa melihat seolah ada tembok tinggi tak kasat mata yang memisahkan keduanya.
"Terima kasih sudah mau datang."
"Tak masalah, toh aku sedang mendatangi tempatku sendiri." Suho membalas dingin ucapan pria di sampingnya.
"Kau benar." Kenyataan itu menghantam dirinya dengan telak. Tempat ini adalah milik Suho, sementara dirinya hanya seorang tamu yang kehadirannya tidak terlalu diinginkan. Tapi ia tetap ingin berterima kasih, karena malam ini ia bisa bertemu kembali dengan pemilik hatinya.
"Sudah hampir pagi, sepertinya kau harus pulang."
Dia tahu Suho tengah mengusirnya secara halus. Meski tak rela, namun ia tetap mengangguk dan beranjak dari tempatnya.
"Senang bertemu kembali denganmu, Suho. Jaga dirimu baik-baik."
Tidak ada jawaban apa pun saat dia memutuskan untuk berbalik dan pergi meninggalkan coffee shop, membuat punggung tegapnya jatuh terkulai bersama harapannya untuk bisa berbaikan dengan pria bermarga Kim itu.
.
.
.
A/N :
Jangan nangis. Karena mereka pasti bakal balik. Kewajiban kita satu-satunya adalah menunggu dengan sabar sampai mereka kembali dalam formasi lengkap.
Yuk, saling rangkul Ls. Kita nangis bareng hari ini, tapi besok harus kembali jadi setegar karang buat para member yang tersisa. Semangat semuanya!
Lcourage – 140520
