Touken ranbu adalah milik DMM dan Nitroplus
Warning: Shounen-ai, Angst.
Pairing: Ookurikara x Shokudaikiri Mitsutada aka Ookurikara sebagai seme dan Mitsutada sebagai uke. Bukan sebaliknya!
Don't like? Don't read!
Enjoy~
Tidak disangka-sangka bahwa ini adalah pertarungan terakhir mereka melawan penjajah waktu. Para touken danshi bersorak bahagia dikarenakan kemenangan telak mereka melawan penjajah waktu. Mereka saling bergembira bersama dan bahkan mengadakan pesta.
Mereka hanya tidak tahu bahwa itu adalah pesta terakhir mereka di honmaru ini.
=-=-=-=-=-=-=
"A-apa itu benar A-Aruji-sama?!" teriak mereka semua pada Aruji mereka. Dengan senyum sedih, ia mengangguk pelan. Para tantou awataguchi terisak, kemudian beberapa dari mereka menangis keras.
Padahal mereka sudah bahagia berkumpul dengan keluarga mereka masing-masing, tapi kenapa semuanya harus berakhir?
"A-aruji-sama, tidak bisakah kami tetap bersama seperti ini?" tanya pembantu setia aruji, Hasebe. Aruji menggeleng. Ia juga tidak ingin berpisah dengan para touken danshinya, tapi apa daya pemerintah sudah mengeluarkan surat perintah agar masing-masing touken danshi dikembalikan ke masa mereka masing-masing.
Perintah yang sangat berat, tapi mau bagaimana lagi, ini sudah menjadi tugasnya.
Iris hitam milik aruji mengedarkan pandangannya ke para touken danshinya, ah tidak, mereka bukan miliknya lagi sekarang. Ia tersenyum kecut. Hatinya terasa teriris ketika melihat para touken danshi menahan tangis mereka. Yah... Walaupun tidak semuanya menangis, tapi ia tahu pasti bahwa semuanya sedang bersedih.
Apalagi bagi mereka yang sudah saling berpasangan maupun yang berkeluarga. Ini benar-benar berat bagi mereka.
Kemudian netranya terpaku ketika melihat pedang paling pendiam, yaitu Ookurikara tengah menyandarkan kepalanya pada bahu Mitsutada. Ekspresinya keras, seakan tengah berjuang melawan air mata yang ingin keluar dari sudut matanya. Bahkan, ia sangat terpukul akan kenyataan yang telah diterima mereka semua.
Ia meminta izin pada para Toudan untuk kembali ke kamarnya. Ia tahu bahwa mereka juga perlu waktu untuk menghabiskan waktu terakhir mereka dengan orang yang mereka sayang.
-=-=-=-=-=-=-=
"Kara-chan? Ayo kita kembali ke kamar kita." ucap lelaki ber-eye patch itu dengan lembut. Yang dipanggil hanya diam saja sambil menelungkupkan kepalanya di lututnya.
Mitsutada menghela nafas. Berita yang baru saja ia terima juga membuatnya sangat sedih. Tapi mau bagaimana lagi? Ia hanyalah sebuah pedang. Tubuh ini juga hanyalah pinjaman, bukan miliknya. Pastinya tubuh ini akan ditarik kembali darinya.
Baru saja ia akan berdiri, sebuah tangan menarik lengan bajunya. Itu membuatnya menoleh ke arah tangan tersebut.
"Kara-chan?" ucapnya pada lelaki berkulit tan itu.
Ookurikara berdiri, lalu tanpa aba-aba, ia menggenggam tangan Mitsutada dan menariknya ke kamar mereka berdua. Mitsutada yang heran membiarkan Ookurikara menarik tangannya.
Sesampainya di kamar mereka, Ookurikara langsung mengurung lelaki yang lebih tinggi darinya itu menggunakan kedua tangannya. Ya bisa dikatakan men-kabedon.
Mitsutada menatapnya syok. Bukan karena dia diperlakukan seperti ini, tetapi ketika ia melihat mata Ookurikara memerah, seakan ia tengah menahan tangis.
"K-Kara-chan?" panggilnya.
"Apa kau tidak sedih, Mitsu?"
Hah? Tentu saja ia sedih. Siapa yang tidak sedih ketika mendengar bahwa mereka semua akan berpisah?
"Tentu saja aku sedih. Sangat sedih malah sampai rasanya hatiku sangat sakit." jawabnya dengan senyuman miris. Ookurikara menatapnya dengan raut kesal.
"Tapi kenapa kau tetap tenang seperti itu dan tersenyum seakan itu adalah hal yang biasa?!" Ookurikara tidak tahu kenapa, tapi ketika melihat kekasihnya itu tersenyum biasa membuatnya kesal.
Mitsutada mendorong pelan badan Ookurikara dan menyuruhnya untuk duduk di hadapannya. "Aku begini bukan karena aku tidak sedih, Kara-chan. Aku begini karena aku tahu bahwa kita tidak bisa melawan takdir kita sebagai pedang."
"Dari awal aku mendapatkan tubuh ini aku tahu bahwa suatu saat nanti tubuh ini akan diambil dari ku. Kita hanya meminjamnya, Kara-chan. Tubuh ini bukan milik kita." sambungnya lagi. Ia melirik Ookurikara yang tertunduk. Kemudian ia mengelus surai coklat itu dengan lembut sambil tersenyum.
"Tapi aku tidak menyangka bahwa kita harus berpisah secepat ini. Apalagi hubungan yang kita lalui ini baru satu tahun berjalan. Rasanya, aku masih belum siap untuk berpisah darimu."
"..."
"Aah... Aku jadi ingin kembali ke masa dimana Kara-chan menyatakan perasaannya padaku."
"..."
"Aku ingin mendengar kau menyatakan perasaanmu sekali lagi, Kara-chan." Ookurikara menggigit bibir bawahnya. Benar-benar ya kekasihnya ini banyak maunya.
"Kalau itu yang kau mau, aku akan mengatakannya sebanyak mungkin padamu. Malam ini, aku akan membuatmu meneriakkan namaku sampai suaramu habis, membuatmu tidak bisa memikirkan apapun selain diriku, membuat kacau dirimu, membuat kau menangis, dan membuat kau--" Ookurikara mendorong Mitsutada sampai terbaring di futonnya.
"--mengatakan kau mencintaiku sebanyak yang ku mau." wajah Mitsutada memerah padam. Ookurikara menatapnya seperti tatapan hewan buas yang telah menangkap mangsanya. Mitsutada tersenyum melihat keagresifan kekasihnya itu.
Malam ini, mereka berdua saling menyalurkan rasa cinta mereka pada satu sama lain.
-=-=-=-=-=-=
Satu persatu touken danshi menghilang bagaikan debu yang tertiup angin. Hanya beberapa yang masih belum siap melepas orang yang mereka sayang. Itu termasuk, Ookurikara dan Mitsutada. Mereka berdua duduk bersama di bawah pohon sakura untuk yang terakhir kalinya. Walaupun mereka diam tanpa percakapan, tapi tangan mereka bertautan seakan tidak ingin melepas genggaman satu sama lain.
Aruji yang melihat mereka berdua dari jauh hanya bisa tersenyum miris dan membiarkan mereka berdua menikmati waktu terakhir mereka bersama. Hanya mereka yang tersisa, yang lain sudah kembali ke zaman mereka masing-masing. Ya walaupun ada yang kembali ke tempat mereka berasal.
"Kara-chan? Sudah siap?"
Tidak, ia tidak siap. Ia tidak akan pernah siap jika itu untuk berpisah dari Mitsutada.
"Hn." Jawabnya tanda mengiyakan. Mitsutada menggenggam erat tangan mereka berdua sambil berjalan menuju Aruji mereka.
"Mitsu, aku mencintaimu." Ucap Ookurikara secara tiba-tiba, itu membuat Mitsutada berbalik menghadapnya dengan wajah merona.
"K-kenapa tiba-tiba?" Tanya Mitsutada heran akan kelakuan tiba-tiba kekasihnya itu.
"Aku hanya ingin mengatakannya." Ookurikara tersenyum kecil. Sungguh jarang sekali seorang Ookurikara tersenyum seperti itu. Mitsutada jadi ikut tersenyum. Tanpa ia sadari, air mata turun dari sudut matanya.
"Hah? Kenapa baru sekarang kau menangisnya? Sudah telat, bodoh." Ookurikara menatap Mitsutada yang berlimpahkan air mata. Padahal malam tadi ia begitu tenang, tapi sekarang malah dia yang menangis hebat seperti itu.
"K-Kara-chan…" lelaki bertubuh besar itu memeluk Ookurikara dan menenggelamkan wajahnya di bahu kekasihnya itu. Kalau Mitsutada terus-terusan menangis seperti ini, Yang ada ia juga akan ikut menangIs.
"A-aku juga cinta Kara-chan." Ookurikara tersenyum sambil menepuk punggung Mitsutada dengan pelan. Sudah saatnya.
Mitsutada melepas pelukannya dan menyeka air matanya. Ookurikara kemudian menangkup wajah Mitsutada sambil berjinjit karena perbedaan tinggi tubuh mereka. Ia mengelus pipi Mitsutada mengecup bibir ranum Mitsutada dengan penuh kasih sayang.
Ia tersenyum sambil mengatakan, "Sejauh apapun kita terpisah, selama apapun waktu yang kita perlukan untuk bertemu lagi, atau jika kita tidak dapat bertemu lagi, Aku akan terus mencintaimu. Aku akan mencintaimu selamanya, Shokudaikiri Mitsutada." Tangis Mitsutada kembali pecah, tapi ia berusaha agar tetap tersenyum manis dihadapan kekasihnya itu.
"Hn! Aku juga akan terus mencintaimu, Kara-chan!" dan dengan itu, sepasang pedang itu menghilang tanpa bekas.
Setidaknya, mereka sudah saling berjanji akan mencintai satu sama lain untuk selamanya.
a/n:
Fwahhh! Ini fanfic pertama yang ku publish disini. Baru muncul dah ngasih angst, huehue. Maaf ya kalo masih banyak kekurangannya, karena ini memang baru pertama kali aku mempublish cerita yang bergenre BL, biasanya si jadi koleksi pribadi.
Makasih telah membaca ya!
~Airyn
