"Unexpected"
A BoBoiBoy Fanfiction by Fanlady
Disclaimer : BoBoiBoy © Monsta. Tidak ada keuntungan material apapun yang diambil dari fanfiksi ini.
Warning : AU, Fang x Shielda, dialog non-baku, OOC (kinda?).
Untuk #DrabbleChallengeSpesialRamadhan, #Ramabblec. Prompt #5 : Senang.
"Makan Enak Kenyang Perut Senang Hati"
.
Selamat membaca!
"Bodoh amat, ah. Aku nggak mau kuliah lagi. Mau nikah aja."
Shielda mencampakkan pena di kasur. Ia menghempaskan tubuh di atas tumpukan bantal di karpet dan memandangi langit-langit ruang tengah. Kenapa hidupnya harus sesulit ini? Kenapa kuliah harus sesulit ini? Kenapa selalu ada tumpukan tugas, tugas, dan tugas yang menggunung. Kenapa ia tidak bisa menikmati hidup sebagai mahasiswa yang menyenangkan, seperti yang biasa ditampilkan acara FTV? Kalau tahu begini harusnya Shielda tidak menolak tawaran sang ibu untuk menjodohkannya dengan laki-laki kaya kenalan ayahnya. 'Kan lumayan bisa hidup enak tanpa harus susah payah mengejar nilai dan gelar.
"Kayak ada yang mau ngelamar kamu aja."
Celetukan sang kakak menarik Shielda dari ratapan hidupnya. "Heh, kamu lupa, ya? Mama 'kan pernah bilang mau jodohin aku sama anak kenalannya. Orang kaya lagi," dengkus Shielda.
"Iya, mama mau jodohin. Tapi belum tentu orang itu mau dijodohin sama kamu, 'kan?" balas Sai. Ia masih sibuk mengetik di laptop. Kedua iris zamrud di balik kacamatanya tak lepasmemandang layar.
"Ya pasti mau, lah. Siapa sih yang bisa menolak pesona seorang Shielda?" Shielda mengibaskan rambut sepinggangnya. Sai memutar mata dan membuat gerakan seperti orang hendak muntah.
"Udah, deh. Daripada ngomong ngaco terus mending lanjutin kerjain tugasnya," tukas Sai. "Aku nggak mau bantuin kalau nanti kamu dihukum sama Pak Tarung."
Shielda mendesah. Ia menatap tumpukan makalah dan jurnal yang berserakan di karpet. Layar laptopnya menampilkan dokumen jurnal yang belum selesai diterjemahkan. Mau tak mau, Shielda kembali beringsut ke arah laptop dan lanjut membuka-buka kamus.
"Beneran, deh, kalau ada orang yang mau ngelamar sekarang aku bakal langsung terima," ucap Shielda, membolak-balik kamusnya dengan lesu. "Asal kaya dan ganteng, pokoknya aku terima. Yang penting masa depanku bisa terjamin bakal cerah dan hidupku enak."
"Nggak usah kebanyakan ngarep. Nugas dulu sana."
Shielda menghela napas panjang. Jemarinya dipaksa bergerak untuk mengetik di atas laptop. Dasar tugas, tugas. Sehari saja tidak usah beranak, apa susahnya, sih?
.
.
.
Denting ponselnya mengalihkan perhatian Shielda dari acara televisi yang tengah ditontonnya. Ia meraup segenggam keripik dari bungkusan di meja dan meraih ponsel untuk memeriksa notifikasi yang masuk.
"Ini Shielda, 'kan?"
Shielda mengernyit, menatap nomor yang tertera di atas pesan yang baru saja masuk. Nomor siapa ini? Sepertinya Shielda tidak kenal.
"Sai, tau nomor ini, nggak?" tanya Shielda. Ia menunjukkan layar ponsel pada Sai yang tengah berselonjor di bawah sofa.
"Nggak," tukas Sai setelah melirik sekilas. "Siapa? Kamu dapat penggemar baru lagi?"
"Tau, nih," Shielda berdecak. Ia kerap kali mendapat pesan-pesan jahil dari nomor tak dikenal. Daftar blokirnya sampai menumpuk dengan nomor dari orang-orang aneh yang mengganggunya.
"Iya. Ini siapa, ya?"
Shielda memilih membalas. Siapa tahu seseorang yang dikenalnya, 'kan? Kalau tidak, yah, tinggal diblokir saja.
"Ini Fang."
Shielda melarikan mata ke atas, mencoba mengingat-ingat. Fang siapa? Sepertinya nama itu cukup familiar baginya.
"Kita pernah sekelas waktu SMP dulu. Ingat?"
Ah. Shielda menjentikkan jarinya. Ternyata Fang yang itu? Tentu saja ia ingat, bagaimana mungkin lupa? Ia pernah melalui masa-masa remaja yang labil dan sama sekali tak ingin diingatnya lagi gara-gara pemuda itu.
"Iya, ingat. Ada perlu apa?"
Shielda mengutuki jantungnya yang mau tak mau sedikit berdebar. Meski memalukan dan tidak ingin diingatnya, Shielda pernah mengalami masa-masa indahnya di sekolah menengah, dan itu karena kehadiran seorang pemuda jabrik dengan mata semerah delima. Fang.
"Hari sabtu nanti kamu ada acara, nggak?"
"Nggak," Shielda segera membalas. Jantungnya benar-benar berdebar keras kali ini. "Kenapa?"
"Aku sama keluargaku mau ke rumah," ketik Fang. Shielda mengernyitkan dahi. Apa maksudnya? Untuk apa Fang datang ke rumahnya membawa-bawa keluarga segala. "Bilang sama ibu kamu, aku mau ngelamar."
Shielda mengerjap. Satu kali, dua kali. Terus berulang-ulang sampai sehelai bulu mata jatuh mencolok matanya, membuat Shielda mengaduh. Ia mengucek mata berulang kali, memastikan ia tidak salah membaca pesan yang dikirimkan Fang.
Fang, teman sekelasnya saat SMP akan datang ke rumahnya untuk melamar? Melamar siapa? Sai? Tidak mungkin. Eh, tapi mungkin saja. Pernikahan sesama jenis sudah banyak dilegalkan di berbagai negara. Apa di sini juga sudah?
"Sai, kamu gay?"
Sai menyemburkan soda yang tengah diteguknya. Ia terbatuk-batuk keras dan mengerang. Tangannya buru-buru meraih kotak tisu di meja dan mengelap tumpahan minuman di pakaiannya.
"Kamu ngomong apaan, sih? Lagi ngelindur, ya?" omel Sai, mendelik jengkel pada kembarannya. Ia menggosok hidungnya yang perih karena kemasukan soda.
"Biasa aja, kali," Shielda mencibir. "Aku 'kan cuma nanya. Nggak apa-apa, jujur aja sama aku. Aku nggak bakal nge-judge, kok. Kita 'kan kembar."
"Nggak usah ngaco, aku masih normal, tau," tukas Sai sewot.
"Ya 'kan siapa tau." Shielda mengedikkan bahu.
Shielda kembali memfokuskan perhatian pada layar ponselnya. Dahinya berkerut dalam. Kalau bukan Sai, lalu siapa yang akan dilamar Fang? Tidak mungkin ... dirinya, 'kan?
.
.
.
Kedua netra Shielda melebar tak percaya saat melihat Fang benar-benar muncul di depan pintu rumahnya hari Sabtu siang. Fang sudah tumbuh menjadi pemuda tinggi dan gagah, berbeda dengan bocah cebol narsis yang ada dalam ingatan Shielda. Dan ... apa sejak dulu dia memang setampan ini? Oh Tuhan, semoga saja Fang tidak menyadari wajah Shielda yang kini memerah sempurna.
"Halo, Shielda." Fang mengulas senyum. Ada cahaya menyilaukan yang muncul dari senyumnya, membuat Shielda harus menyipitkan mata agar tidak kesilauan.
Duh, nikahin aku sekarang, Fang. Nikahin!
Shielda menggeleng untuk mengusir pikiran konyolnya. Ia harus bersikap tenang, jaim, kalem. Senyum yang manis, Shielda. Ada calon mertua yang menunggu di belakang , Tuhan, apa mereka benar-benar datang untuk melamarnya? Bagaimana kalau ternyata Sai yang dilamar? Shielda harus sepatah hati apa ditikung saudara kembar sendiri?
"Orangtua kamu ada, 'kan?" tanya Fang saat Shielda tak kunjung bicara. Ia terlalu sibuk menganga hingga tak bisa mengucapkan apapun. Rusak sudah imejnya di depan sang calon suami dan mertua.
"A-ada, kok," Shielda mengangguk cepat. Ia membuka pintu lebih lebar dan mempersilakan para tamunya masuk. "Ayo, masuk aja."
Fang kembali menyungggingkan senyum penuh pesona. Shielda memutuskan ia tidak akan terlalu kecewa jika Fang benar-benar akan menikahi Sai. Setidaknya ia akan bisa melihat senyum indah itu setiap saat jika Fang menjadi saudara iparnya, 'kan?
"Saya dan keluarga datang untuk menghantarkan niat baik dan melamar Shielda sebagai istri saya."
Satu kalimat yang terucap dengan tegas dan pasti dari mulut Fang cukup membuat Shielda melambung hingga langit ketujuh. Suara denting lonceng terdnegar merdu dan burung-burung merpati beterbangan dalam anggannya. Akhirnya musim semi benar-benar datang untuknya!
Tunggu dulu. Kenapa begitu mendadak? Shielda bahkan tidak pernah bertemu Fang sejak mereka tamat SMP. Berkomunikasi saja tidak. Mereka benar-benar hilang kontak sejak masuk SMA, sampai beberapa hari lalu saat Fang tiba-tiba saja menghubunginya. Apa maksud dari semua ini?
Shielda mendongak dan kedua iris zamrudnya bertubrukan dengan delima Fang. Ada senyum kecil yang terulas di sudut bibirnya. Senyum yang bertahun-tahun lalu sempat menghipnotis Shielda untuk jatuh dalam pesonanya. Senyum dari pemuda yang menjadi cinta pertamanya. Senyum yang sekarang ... perlahan berubah menjadi seringai?
Shielda membeku. Euforianya surut seketika dan rasa curiga mulai menjalar di benaknya. Apa yang sebenarnya direncanakan pemuda jabrik itu?
.
.
.
fin
A/N :
Ini mungkin didasari impian terliar aku. Nggak pengen nikah, tapi pengen dilamar orang kaya biar aku bisa ngambil hartanya dan kabur buat hidup mewah sendirian /heh. Oh, dan ngambil dari salah satu pengalaman temenku juga. Dia juga tiba-tiba dichat sama kenalan yang udah lama banget nggak kontak, dan tau-tau aja ngajak ta'aruf wkw.
Prompt-nya, 'Senang', nggak dipakai secara harfiah di sini. Kayaknya emang nggak ada kata senang yang nyelip di sini, ya? Haha. Aku pakai itu buat menggambarkan perasaan Shielda yang senang karena impian ngawurnya jadi kenyataan sih wkwkw.
Makasih yang udah menyempatkan diri membaca! Sampai jumpa di kesempatan lainnya!
