"Dia transgender, Hyung. Usianya 36 tahun dan memunyai seorang anak laki-laki berusia 6 tahun, Jeon Jihoon," Taehyung mengetik sesuatu dengan cepat di laptopnya. Sesekali ia melirik pria berambut hitam di hadapannya, saudara sepupunya yang jenius, Kim Namjoon.
Namjoon juga mengetik di laptopnya, ia sedang berupaya menyusun materi presentasi untuk menarik investor agar mau mendanai penelitian di bidang penyakit tropis di rumah sakit milik ayahnya.
"Uh huh, lalu?" Namjoon sama sekali tidak mengalihkan pandangannya dari layar laptopnya.
"Dia memanggilku 'little boy'," Taehyung mencondongkan tubuhnya dan memelankan suaranya seolah-olah tengah membeberkan sebuah rahasia. Taehyung cemberut. Pemuda berusia 25 tahun itu mengeluarkan ponsel pintarnya dan menunjukkan potret landscape sosok 'wanita' cantik yang sedang tersenyum lembut di balik meja kasir.
"Kau lihat dia, huh? Beraninya dia memanggilku begitu. Lihat dia, Hyung!"
Namjoon tertawa karena melihat Taehyung kesal. Suara tawanya seperti semprotan pembersih kaca dan hal tersebut membuat mood Taehyung makin jatuh. Taehyung nyaris melemparkan ponselnya, namun Namjoon langsung merebut handphone tersebut.
"Ey, dia indah tahu. Lihat," Namjoon memperbesar gambar di layar handphone Taehyung, "Lihat matanya, man. Mereka cantik. Jenis mata yang akan menyedot perhatian orang-orang. Noel doll. Tidak heran kalau pengunjung restorannya, terutama yang laki-laki risked their life to get the owner attention," Namjoon melirik Taehyung dan tersenyum jahil. Pria berusia 27 tahun itu mengembalikan ponsel Taehyung, "Ngomong-ngomong, darimana kau dapat gambar siapa itu tadi Madame Jeon? Darimana? Belajar jadi penguntit, eh?"
Taehyung menyambar kembali handphone-nya dan mengamati gambar yang ia dapat dari Choi Minho itu. Ia tidak menjawab dakwaan dari Namjoon. Pemuda berambut coklat itu hanya menghela nafas,
"Sialan, dia memang cantik sih. Hm, celanaku."
.
.
.
.
BTS belongs to themselves
.
.
.
TAEKOOK
Rated M, LGBTQ+, Bahasa, 2-3 Chapter saja
Yang masih underage, kindly to not read this fanfic because it contains SMUT
(Cerita ini mungkin mengangkat tema yang tema yang tidak berkenan bagi pembaca. Tidak ada paksaan untuk membaca atau menyukai)
.
.
.
.
The Truth Will Set You Free
.
.
.
.
"Mama, Jihoon-ie sudah siap!"
Seorang anak laki-laki berpipi gendut berlari ke pintu depan sambil mengalungkan botol minuman berstiker ayam miliknya. Kakinya berjingkat-jingkat kecil menunggu orang dewasa yang sangat ia kenal untuk membuka pintu mobil.
"Mamaaa!"
"Mama datang!"
Jihoon tersenyum senang saat melihat mamanya datang dari dapur sambil berusaha menutup kotak bekal untuk Jihoon dan agak kerepotan membenahi kardigan rajutan yang ia pakai.
"Ayo kita berangkat, sayang," kata mama Jihoon yang tidak lain adalah si pemilik restoran bebek, Madame Jeon.
"Mama?!
"Ya?"
"8 Mei nanti ada piknik di sekolah," Jihoon menggandeng Madame Jeon menuju mobil mereka, jenis mobil keluarga berwarna putih.
"Piknik?" Madame Jeon membuka pintu mobil dan membiarkan Jihoon memanjat naik dengan kesusahan. Ia tidak bisa menahan senyumnya ketika melihat bokong gendut Jihoon menyembul tertahan oleh celana kuningnya.
"Yes, Mama. Bu guru bilang kita akan piknik untuk memperingati hari ayah. Uuummm..Mama, bisa Jihoon dapat papa untuk 8 Mei nanti?"
Madame Jeon menatap Jihoon yang sudah duduk di kursi depan dengan memangku tas dan juga botol air minumnya. Matanya yang bulat berbinar seolah menguliti Madame Jeon.
"Mama? Bisa Jihoon dapat papa?" Jihoon mengulangi pertanyaannya karena anak itu melihat mamanya melamun.
Madame Jeon bungkam seribu bahasa. Ia memilih menutup pintu dan duduk di kursi kemudi lalu memasang sabuk pengaman.
"Itu alasan kenapa kamu menangis kemarin?"
Jihoon mengangguk takut.
Tanpa disangka Madame Jeon tersenyum lembut. Ia sangat mengerti perasaan Jihoon yang hanya ingin mendapat sosok ayah seperti teman-temannya. Madame Jeon tidak bisa memaksa Jihoon untuk memandangnya juga sebagai seorang lelaki karena Madame Jeon sudah memutuskan untuk menjadi seorang mama. Wanita. Meski belum sempurna.
"Jihoon-ie akan mendapatkannya, yang terbaik."
Madame Jeon baru akan menginjak pedal gas, tepat saat sebuah Jeep berhenti di depan pagar rumahnya. Si pemilik mobil membunyikan klakson dan berlari keluar sembari melepas kacamata hitamnya.
"Jungkook!"
Merasa terpanggil, Madame Jeon melongokkan kepala untuk melihat siapa orang yang sempat memblokade jalan keluar rumahnya.
"Dr. Cha?"
"Hei, aku baru saja dari rumah temanku di sekitar sini dan aku ingat jika rumahmu ada di sini juga, jadi aku mampir," Orang yang dipanggil Madame Jeon sebagai dokter itu menggigit bibir sekejab sebelum pada akhirnya tersenyum kecil. Ia takut menganggu pagi pasiennya,
"Kalian sedang buru-buru?"
"Tidak juga. Aku hanya mau mengantar Jihoon sekolah," Jungkook, nama asli Madame Jeon, mematikan mesin mobilnya dan keluar untuk menemui dokter bedahnya di Rumah Sakit Seoul.
Dr. Cha tersenyum mendengar suara Jungkook, "Hei, suaramu sudah menghalus sempurna. Treatment-mu sepertinya berhasil. Kau sekarang cantik, Jungkook. Ah, aku salah, kau selalu cantik."
Jungkook merona, "Apa ini salah satu trik agar aku datang ke klinikmu lagi, dokter?"
Dr. Cha tertawa lalu memandang Jungkook dengan sorot kagum, "Begitulah. Dan jangan panggil aku dokter, Kook. Kita tidak sedang di Rumah Sakit. Aku tidak sedang bertugas, kau perlu menunggu sampai jam 10 untuk memanggilku begitu. Panggil aku Eunwoo."
"Mama!"
Jihoon menjerit dari dalam mobil, ia tidak suka melihat mamanya mengobrol di depan mobil dan mengabaikan dirinya.
"Bayiku memanggilku, dokter. Mama datang, sayang!" Jungkook berlari ke dalam mobilnya.
"Eunwoo, Kook."
"Alright, alright. Eunwoo."
Jungkook menyalakan mesin mobilnya dan membujuk Jihoon untuk melambai pada Eunwoo tapi Jihoon menolak dan malah menutup wajahnya dengan tas.
"Dia sedikit pemalu," kata Jungkook dari balik jendela, "Sampai nanti Dr. Cha Eunwoo," Jungkook masih menambahkan gelar dokter untuk menggoda Eunwoo.
Eunwoo ingin memberikan lambaian tangan namun Jungkook terlebih dulu pergi karena Jihoon merengek dan menarik lengan
Eunwoo tersenyum lebar tatkala matanya masih bisa melihat mobil Jungkook,
"Kau orang yang menarik, Jeon Jungkook. Menarik sekali."
.
.
.
"Mama?"
"Ya?" Jungkook menyalakan radio untuk mengetahui apakah ada kemacetan pagi ini. Penyiar radio sedang memberi arahan kepada para pengendara untuk menghindari titik-titik kemacetan.
"Apa paman tadi adalah papa untuk Jihoon?"
Jungkook tergelak lalu mengelus rambut hitam halus milik Jihoon. Anak laki-laki meringkuk kala merasakan tangan mamanya berada di puncak kepalanya.
"Jihoon-ie mau papa yang seperti paman tadi? Iya?" tanya Jungkook main-main. Mana mungkin ia mendapatkan pria sebaik Dr. Cha. Hubungannya dengan pria tidak pernah berhasil dan sayangnya ia sama sekali tidak ada hasrat untuk memulainya dengan wanita. Hanya sekali dan Jungkook menghancurkan semuanya.
Jihoon diam namun kemudian mengangguk kecil. Dan Jungkook tahu jawabannya meski ia tidak melihat Jeon Jihoon mengangguk.
.
.
.
.
"Kau sekarang bawa dompet?"
Jungkook bertanya tanpa ragu bahkan sebelum pelanggannya memesan sesuatu. Ia hanya tidak ingin berakhir meninju orang lagi.
"Bawa. Pesan bebek panggang asap dan soju ya, Madame."
Jungkook mengertakan gigi karena pemuda di depannya ini sengaja menekankan kata Madame.
"Baik. Pesananmu akan datang dalam 10 menit."
"Oke. 10 menit."
Taehyung menekan bibirnya tatkala melihat Jungkook sedikit kesal. Terakhir kali ia periksa, Taehyung yakin kalau dirinya sedikit sekali ya pokoknya agak sedikit homophobic dan sekarang ia kembali lagi ke restoran bebek yang ia ketahui benar jika pemiliknya adalah seorang transgender.
Ia hanya tidak bisa berhenti memikirkan Madame Jeon setelah pria itu mengusap sudut bibirnya dan memberinya mimpi buruk dan juga mimpi basah.
Taehyung kali ini datang sendiri sehingga ia bisa leluasa untuk melihat Madame Jeon yang mengenakan kemeja baby blue dan skinny jeans hitam sedang mondar-mandir di antara para pelanggan yang matanya jelalatan. Termasuk Taehyung juga.
Taehyung dengan segala kewarasannya berusaha untuk mengabaikan Madame Jeon sama seperti ketika ia mengabaikan Jimin yang gay, Namjoon yang pansexual dan berupaya berdamai dengan keadaan.
Ia juga berdamai dengan dirinya sendiri.
Taehyung menikmati makan malamnya dalam hikmad. Ia memesan 4 botol soju dan memakan waktu nyaris 2 jam untuk menghabiskannya bersama seporsi utuh bebek panggang. Dia memang peminum yang payah.
"Restoran kami tidak buka 24 jam, Tuan. Setengah jam lagi tutup," kata salah seorang pelayan laki-laki.
Taehyung sedang berusaha menuang sojunya yang tinggal dua kali teguk. Pemuda itu menyipitkan mata kemudian mendengus, memberikan gestur mengusir.
Jungkook yang melihat kejadian itu segera menepuk pelan bahu pekerjanya dan berbisik,
"Bereskan meja yang lain. Orang ini biar aku yang urus."
Si pelayan mengangguk, meninggalkan Jungkook yang mendudukan dirinya di kursi di hadapan Taehyung.
Jungkook memindahkan piring kosong dan botol yang telah raib isinya ke meja lain lalu membantu Taehyung untuk menuangkan soju terakhirnya.
"Kau suka sekali mabuk-mabukan ya, Taehyung-ssi?"
Taehyung mendecih dan Jungkook masih ingat betul kalau Taehyung selalu mendecih sebelum melontarkan kata-kata tajam. Jadi, Jungkook akan bersiap-siap.
"Hanya sesekali, kurasa tidak apa-apa. Aku kan sudah legal," ada nada jenaka yang terselip di sana. Jungkook menarik garis samar di bibirnya.
"Berapa usiamu?" tanya Jungkook. Ia menopang dagunya lalu menatap Taehyung malas.
"Kenapa? Kau tertarik padaku? Asal kau tahu, aku itu tidak pernah pacaran dengan transgender. Tidak pernah sekalipun," nada bicara Taehyung agak sedikit kacau, dapat dipastikan kalau pemuda itu ada dalam pengaruh alkohol, "Aku 25, dan kau 36. Ya kan? Aku tahu sedikit tentang dirimu."
"Kalau begitu, mau merokok di balkon? Barangkali kau mau tahu tentangku lebih jauh? Lebih banyak," Jungkook berdiri mendahului Taehyung dan menunjuk ke arah tangga. Taehyung sendiri baru sadar jika restoran bebek itu punya balkom kecil di lantai dua setelah Taehyung sampai di sana. Ia rasa itu adalah tempat pribadi bagi Madame Jeon.
Jungkook mendudukkan Taehyung di sofa hitam panjang dan memberikan sebungkus rokok pada Taehyung. Dengan hati-hati ia menyelipkan rokok itu di bibir Taehyung dan menyulutkan api ke ujungnya.
Taehyung mengapit rokok tersebut dengan jari telunjuk dan jari tengahnya lalu menghembuskan asapnya ke udara kemudian mendongakan kepala.
"Ada banyak kesalahpahaman di antara kita, Madame. Aku membuat kesan pertama yang buruk di matamu dan aku harus jujur kau memberikan perasaan tidak nyaman untukku," Taehyung mulai menghadapkan dirinya kepada Madame Jeon.
"Perasaan tidak nyaman apa itu, Kim-ssi?" Jungkook mengangkat sebelah alisnya sebelum pada akhirnya memejamkan mata karena Taehyung meniup asap rokok ke wajahnya.
Matanya pedih.
"Perasaan tidak nyaman pada celanaku misalnya," Taehyung menyeringai.
Jungkook tahu jika Taehyung tidak sepenuhnya sadar, ia berada di antara keadaan sadar dan mabuk. Tipsy, sehingga pembawaannya jadi lebih rileks, lebih apa adanya dan cenderung gembira.
"Entah kenapa celanaku berubah sesak ketika melihatmu. Bukan mauku, Madame," Taehyung menghisap rokoknya lagi.
"Memang seharusnya jangan, Kim-ssi," Jungkook menghela nafas. Tidak ia sangka jika Kim Taehyung yang ia duga agresif sebenarnya gampang goyah seperti ini.
"Sudah kubilang bukan mauku. Katakan pada kelaminku untuk jangan mengeras. Kau itu terlihat seperti wanita tapi kau laki-laki. Kau wanita dan laki-laki...a-aku merasa sangat penasaran sekarang, uh badanku panas."
Jungkook tertawa ketika ia melihat Taehyung berusaha membuka dua kancing pada kemeja putihnya seperti benar-benar kepanasan. Lehernya mengkilap karena berkeringat.
Taehyung menyandarkan kepalamya ke sofa, ia menatap Madame Jeon lamat-lamat lalu dengan ragu menyentuh punggung tangan Jungkook yang teronggok lemas di atas paha. Taehyung terus memandangi Jungkook sampai pada akhirnya Jungkook mengambil rokok Taehyung dan ganti menghisapnya.
"Mau mencoba bermain dengan transgender, Kim Taehyung?"
"Kau menantangku?"
"Ya."
Katakan Taehyung itu gila tapi Jungkook lebih gila karena ia sekarang mencium pemuda yang sebelas tahun lebih muda darinya, pemuda yang pernah merendahkannya, ia menciumnya dengan penuh gairah di balkon restorannya sendiri.
Rokok yang tersulut sudah Jungkook injak dengan heels-nya. Ia mengangkangi tubuh Taehyung dan mengelus dada Taehyung yang berkeringat, merayap perlahan menuju tulang selangka dan leher Taehyung. Jungkook menciumi wajah Taehyung, ia meninggalkan bibir tebal Taehyung dan berkelana di sepanjang garis rahang Taehyung sampai pada akhirnya ia merasa sesuatu di pangkuan Taehyung bergerak pelan. Mengeras secara tiba-tiba.
"Kau keras, little boy."
Taehyung menggerung. Tanpa sadar ia menutup akses tangan Jungkook untuk meraih kejantanannya.
"Kenapa, sayang? Kau takut?" kata Jungkook seraya melepas kemeja Taehyung.
Jungkook akui, ia sangat bergairah. Ia tidak pernah bercinta setelah Charlie mangkat. Mungkin kencan semalam dengan orang asing bisa membantunya melepas stress dan penat. Toh, Taehyung tidak akan rugi banyak.
Jungkook tersenyum samar melihat Taehyung tanpa daya dan seperti makhluk tidak tertolong, membuatnya ingin melakukan lebih kendati mereka ada di balkon. Untungnya, balkon ini adalah wilayah privasi Jungkook. Tidak ada karyawan yang ia izinkan untuk masuk.
"Madame Jeon-"
"Ya? Katakan ada apa, Kim?" segala atribut kesopanan telah lenyap tertelan suasana intim, "Kau benar-benar takut? Jangan takut, aku bersih."
"Tidak, uh," Taehyung melenguh saat Jungkook menghisap nipple-nya, "hanya saja, kau yang pertama bagiku, Madame."
"Ah, benarkah?" Jungkook menjilat dada Taehyung dan menggesekan payudara implannya ke dada Taehyung, "Kalau begitu biarkan Madame Jeon ini memberimu pelajaran soal," Jungkook mendekatkan mulutnya ke telinga Taehyung,
"sex," bisik Jungkook.
Taehyung mengangguk patuh, kepalanya pening dan segala kenikmatan yang ia rasakan sekarang membuatnya hanya mampu mengangguk seperti tangan jimat kucing.
"Tapi ssshh jangan berisik. Anakku ada di ruangan sebelah, dia sedang tidur. Apa Kim Taehyung bisa menahan suaranya sebentar untuk Madame Jeon?"
Madame Jeon serius dengan berkataannya karena hal yang selanjutnya terjadi adalah janda dari tentara Amerika itu meremas kejantanan Taehyung dari balik celananya dengan keras.
"Uh"
.
.
.
Kemarin-kemarin Kim Taehyung merasa terganggu dengan Madame Jeon tapi malam ini ia membiarkan Madame Jeon mengoral kejantanannya, mencumbunya sampai kehabisan nafas, dan menuntun kejantanannya untuk masuk ke lubang anal Madame Jeon. Taehyung sudah benar-benar telanjang, sedangkan Jeon Jungkook hanya kehilangan sebuah skinny jeans. Kemejanya masih lengkap, hanya sedikit berantakan. Janda 36 tahun itu menunggangi Taehyung yang terduduk di sofa, bergerak liar mencari kenikmatannya sendiri karena Taehyung tidak berani mendorong terlalu keras.
"Ayo, Kim. Bergeraklah lebih cepat, aku sudah tidak apa-apa."
"Kau berdarah, Madame," nada suara Taehyung panik karena pemuda tersebut melihat darah tatkala ia sedikit menarik kejantanannya keluar.
"Jangan seperti meniduri perawan, Kim. Aku sudah pernah tidur dengan suamiku. Jangan ragu, ayolah."
Jungkook memegang bahu Kim Taehyung dan menggerakkan tubuhnya. Mata rusanya basah dan hal tersebut membuat Taehyung tidak tega.
"Kim-"
"Baiklah, kau yang minta."
"Ya, sayang. Lakukanlah."
Jungkook memeluk leher Taehyung saat pemuda itu memulai aksinya untuk menyetubuhi Jungkook dengan keras. Ia ragu-ragu mengenggam kejantanan Jungkook yang kecil, mungkin sudah disuntik agar mengecil ukurannya. Agak sulit memainkannya tapi milik Jungkook akan begitu keras ketika jemari panjang Taehyung mempermainkan lubang kencing Jungkook.
"Kim- Oh unghh-"
Taehyung melihat rahang Jungkook dialiri keringat, sehingga pemuda itu dengan naifnya mengelap keringat Jungkook dengan punggung tangannya sehingga Jungkook menundukkan kepala dan bertatapan langsung dengan Taehyung.
"Hmmm ahh- kau m-melakukannya dengan baik, Kim. Ayo, bergerak lebih cepat. Jika kau melakukan ini dengan pacarmu, yang harus kau lakukan adalah berinisiatif untuk bergerak lebih dulu," Jungkook berbisik di telinga Taehyung. Ia adalah guru di sini maka ia akan mengajari Taehyung dengan pelan-pelan dan baik.
"Madame Jeon-" suara Taehyung bergetar, ia hampir mendesah sebelum sebuah tangan membungkam mulutnya.
Jungkook membungkam mulutnya sambil menaik-turunkan tubuhnya.
"Sshh...jangan berisik. Hnnghh- apa aku nikmat, huh? Katakan, Kim. Katakan."
Taehyung sudah mulai tersadar sepenuhnya dari mabuknya. Ia mengambil nafas panjang sebelum pada akhirnya membalik tubuh Jungkook, merubah posisi janda tersebut telentang di sofa dalam keadaan setengah telanjang.
"Kau sangat licik, Madame Jeon. Memanfaatkan kelemahanku untuk keuntunganmu," kata Taehyung sambil memasukkan kembali kejantanannya pada lubang anal Jungkook, "kau mengambil keperjakaanku uh-"
Jungkook mengetatkan lubang analnya dan membuat Taehyung mengerang.
"Terlalu ketat, Madame-"
"Aku tidak bisa menahan diri, Kim. Kau sangat besar," Jungkook membusungkan dada kemudian mendekatkan tubuhnya pada Taehyung, "Dan jangan bilang aku licik, sayang. Jangan katakan itu kalau pada akhirnya kau menyelipkan lagi kelamin ke," Jungkook tersentak saat merasakan kejantanan Taehyung membesar di dalam tubuhnya, ia meringis, "ke rumah barunya."
Jungkook memejamkan mata dan mendesis sepelan mungkin. Taehyung terlalu besar. Taehyung keluar di dalam tubuh Jungkook. Untuk dapat membuat pemuda itu keluar dibutuhkan waktu yang cukup lama dan usaha serta dirty talk yang ekstra.
Taehyung mencium Madame Jeon sembari mempercepat gerakannya guna mengejar klimaks selanjutnya dan berusaha memberikan kenikmatan yang sama pada Jungkook. Taehyung terengah saat menyadari jika ujung kejantanan Jungkook basah oleh cairan putih. Sperma Jungkook.
"Biar aku bersihkan," Taehyung mengusap ujung kejantanan Jungkook dengan ibu jarinya lalu menundukkan kepala agar ia bisa meraih penis mungil Jungkook.
"Jangan. Jangan menjilatnya. B-biar aku bersihkan sendiri," Jungkook mengelap kejantanannya dengan kemeja birunya sendiri.
"Kenapa? Aku juga ingin memberikan keadilan bagimu," kata Taehyung lirih. Ia malu karena memikirkan keadilan macam apa yang sedang ia bicarakan.
"Hanya jangan," Jungkook menarik Taehyung untuk kembali duduk lalu meraih kemuda pemuda yang lebih muda darinya itu di lantai lalu memasangkannya kembali ke tubuh Taehyung. Seperti seorang ibu yang mengancingkan baju anaknya. Itulah Jungkook.
Taehyung agak sedikit kecewa karena Jungkook tidak membiarkan dirinya menghisap kejantanannya bahkan tidak membiarkannya menyentuh dadanya. Setiap kali tangan Taehyung mulai merambat naik ke dada, Jungkook akan menahannya di pinggang. Mencengkeram jemari Taehyung erat seolah takut jika lepas satu persatu.
"Hei," Taehyung mengamati Jungkook yang sedang memakai celana. Jungkook sedikit menungging sehingga Taehyung bisa melihat jika bekas spermanya masih sedikit keluar dari lubang anus Jungkook. Agak sedikit merasa bersalah karena ia tahu Jungkook harus mengeluarkan bekasnya nanti sebelum mengering di dalam.
"Hm?"
"Boleh kutahu namamu? Maksudku nama aslimu."
Jungkook mengernyitkan dahi,
"Untuk?"
"Agar lain kali aku bisa memanggilmu dengan benar. Kau tahu, jika nanti kita melakukan ini- bercinta aku-"
"Seks," koreksi Jungkook.
"Jika kita melakukan seks lagi," Taehyung menggigit bibir, "Aku ingin memanggil namamu dengan benar."
Jungkook tertawa kecil lalu memungut celana Taehyung dan melemparkannya pada si pemuda yang masih duduk di sofa.
"Itu manis sekali, Kim, tapi aku ragu akan ada lain kali. Senang mengenalmu, Kim Taehyung," Jungkook mengedipkan mata lalu membuka jendela kaca yang membatasi balkon dan ruangannya.
Taehyung hanya bisa termenung memandangi orang bernama Jeon Jungkook yang meninggalkannya dalam keadaan yang tidak pernah ia bayangkan.
.
.
.
.
Jeon Jungkook adalah sebuah misteri bagi Taehyung. Benar-benar sebuah misteri karena sesudah seks singkat di balkon, Madame Jeon hampir tidak pernah menampakkan diri lagi di hadapan Taehyung.
Madame Jeon tidak ada di manapun. Tidak ada di restoranmya, tidak di mini market tempo hari. Mungkin di rumahnya tapi Taehyung tidak tahu dimana rumahnya dan sangat sulit untuk mendapatkan informasi dari karyawan restoran. Ia juga tidak mau membayar Choi Minho kembali untuk menguntit Madame Jeon lagi karena Minho mulai jadi cerewet dan menuduh Taehyung yang bukan-bukan. Mungkin sebagian besar tuduhan Minho memang benar adanya namun Taehyung tentu tidak akan mengakuinya. Tidak akan.
Atau belum.
8 Mei
Pukul 3 pagi,
Taehyung terbangun dalam keadaan basah kuyup. Basah atas dan bawah. Sudah lima hari berlalu sejak malam panas di restoran bebek. Setiap hari Taehyung datang ke sana, membeli berbagai varian menu bebek meski ia harus muntah setelahnya hanya untuk melihat Jeon Jungkook. Tapi ia tidak dimanapun dan malam ini Taehyung bermimpi jika Jungkook mengoral kelaminnya lagi seperti tempo hari.
Wajah Taehyung memucat, ia menjambak rambutnya dan menekuk kaki, merutuki bayang-bayang Jungkook yang terus muncul tanpa kenal waktu. Ia terus meringkuk seperti penderita tetanus di kegelapan kamarnya sendiri, menunggu sampai langit mulai berubah keunguan dengan semburat putih di cakrawala.
Taehyung gemetar. Ia harus melihat Madame Jeon. Setidaknya untuk memastikan bahwa pria itu baik-baik saja. Maka dengan susah payah Taehyung meraih handphone-nya dan menelepon Jung Hoseok.
"Halo, Hyung. K-Kau tahu dimana sekolah Jeon Jihoon? Anaknya Madame Jeon- JAWAB SAJA! Iya maaf-maaf, aku tidak sengaja membentak…Hyung, halo? Halo?"
Telepon dimatikan.
Sialan.
"Brengsek, jika bukan temanku maka kau sudah hab-"
Tring
Sebuah pesan singkat berisi makian masuk ke ponsel Taehyung kemudian diikuti dengan sms berisi kontak seseorang yang Hoseok namai sebagai 'tukang antar bebek' yang Taehyung artikan sebagai salah satu pekerja di restoran Madame Jeon.
Taehyung menunggu sampai pagi, sampai matahari benar-benar muncul di langit, setidaknya sampai si tukang antar bebek ini kira-kira sudah bangun dari tidurnya. Dengan berbekal nama Hoseok ia mendapatkan informasi nama sekolah Jeon Jihoon dengan sangat mudah. Taehyung melompat dari tempat tidurnya dan menyambar handuk kemudian bersiul senang di kamar mandi.
10.00 pagi
Taehyung sampai di halaman sebuah taman kanak-kanak yang dipenuhi oleh banyak anak kecil beserta orang tuanya yang dominan adalah laki-laki. Setelah ia memarkir mobil semi truknya, pemuda berusia 25 tahun tersebut berdiri di dekat gerbang dan berusaha mencari keberadaan Jungkook.
Taehyung menemukannya. Jeon Jungkook berdiri sambil menggendong Jihoon. Jungkook berdiri kerepotan sambil memegang tas piknik. Satu hal yang membuat Taehyung terpana adalah Jeon Jungkook sedang menggunakan rok. Rok pensil hitam selutut dan kemeja maroon yang membuat bentuk tubuh atasnya semakin indah semampai.
Jungkook berdiri diantara kerumunan laki-laki sambil mengusap kepala Jihoon. Anak itu menangis lagi, pipinya basah dan mulutnya membuka menutup, mengucapkan kata-kata yang tidak bisa Taehyung dengar. Jihoon menangis sambil menunjuk kepada salah satu temannya dan Jungkook meraih tangan Jihoon lalu mencium pipi Jihoon dan menggerak-gerakkan tubuhnya untuk menenangkan Jihoon.
"Jihoon-ie mau papa. PAPA! Mama, papa."
Taehyung menelan ludahnya, ia melangkahkan kaki sedikit ragu. Tatkala ia sampai di hadapan Jungkook, pemilik restoran berusia 36 tahun itu terkejut. Matanya membola.
"Ssshhh disini kan ada mama, Jihoon-ie jangan menangis ya, disini ada-Kim Taehyung?!"
"Madame Jeon-"
"Jihoon-ie ayo turun dan mulai mengelar tikarnya, yang lain sudah mulai bersiap-siap-oh maaf apa aku menganggu kalian?"
Seorang wanita muda membungkukkan tubuhnya karena menggandeng dua orang anak kecil. Ia sedikit kaget karena tidak pernah melihat Taehyung.
Taehyung menggeleng cepat.
"Oh, kalau begitu apa ada yang bisa aku bantu? Kau mencari seseorang? Aku Jessica Jung, guru di sini."
Kim Taehyung panik, ia melihat banyak banner dan poster bertuliskan hari ayah dimana-mana.
"Tidak. A-aku datang s-sebagai ayahnya Jeon Jihoon. Kim Taehyung"
.
.
Sementara itu seorang pria memarkir mobil Jeepnya di halaman taman kanak-kanak lalu berjalan ke arah gerbang sekolah mendatangi seorang wanita yang menggiring anak-anak agar tidak keluar melewati gerbang sekolah.
"Halo, Aku datang mencari Jeon Jihoon."
"Oh Jihoon? Baik, dengan tuan siapa?"
"Cha Eunwoo. Ayahnya Jihoon."
.
.
.
.
.
TBC
.
.
.
.
Chapter ini ga banyak berubah sih, cuman ditambahin dikiiiitt banget keterangannya biar engga ambigu hehe. Makasih kalo masih ada yang baca, kalo engga ya gapapa haha and please for minors, please don't read this fanfic since it contains a lot of adult scenes. Thank you.
