BTS belongs to themselves
.
.
.
TAEKOOK
Rated M, LGBTQ+, Bahasa, 3-4 Chapter saja
Yang masih underage, kindly to not read this fanfic because it contains SMUT
(Cerita ini mungkin mengangkat tema yang tema yang tidak berkenan bagi pembaca. Tidak ada paksaan untuk membaca atau menyukai)
.
.
.
.
The Truth Will Set You Free
.
.
.
.
Bekas air mata masih ada di pipi Jeon Jihoon, mengering meninggalkan jejak mengilap di pipinya yang kemerahan. Sesekali ia menyedot ingusnya namun kali ini anak itu sudah tidak lagi merengek melainkan tertawa pelan karena ia sekarang duduk di atas gelaran tikar bersama ibu dan dua pria yang mengaku sebagai ayahnya.
Anak itu agaknya merasa sedikit lebih bangga karena dirinya punya lebih banyak ayah dibandingkan teman-temannya. Tadinya ia tidak punya sama sekali namun kini jumlah ayahnya lebih banyak daripada teman-temannya. Jihoon sama sekali tidak bisa berhenti tersenyum.
Jihoon menumpuk roti lagi di atas sayuran yang telah ditata sedemikian oleh ibunya. Anak laki-laki itu menyodorkan sandwich buatannya kepada Eunwoo dan Taehyung,
"Ini untuk Papa Enwu," Jihoon mengambil satu potong roti isi lagi lalu menghampiri Taehyung,
"Ini untuk Papa Teyung."
Taehyung menerima sandwich pemberian Jihoon untuk kemudian melihat anak berusia enam tahun tersebut berlari ke arah ibunya dan menyembunyikan wajah bulatnya di ceruk leher Jungkook. Sedangkan Jungkook mengelus lengan anak laki-lakinya dan berkata jika Jihoon sudah berhasil membuatkan roti isi dengan baik untuk Teahyung dan Eunwoo.
Kim Taehyung menggigit roti isinya dengan gerakan kaku, rahangnya kaku. Ia kemudian melirik ke sebelah kanan dan melihat pria yang juga mengaku sebagai ayah Jeon Jihoon terus saja melemparkan senyum kepada Jungkook, seperti orang yang cari perhatian baginya dan yang lebih mengesalkan Jungkook menanggapinya.
Kalau senyum seperti itu saja, Taehyung juga bisa, bisa lebih ganteng malahan.
"Sandwich buatan Jihoon enak sekali lho," kata Eunwoo sembari menggigit kecil roti isi buatan Jeon Jihoon, "Pintar sekali, siapa yang mengajari membuat, hm?"
Taehyung mendecih sambil mengunyah roti isi. Sok baik pikirnya. Ia yakin benar jika Eunwoo hanya mau menarik perhatian Jeon Jungkook lewat Jeon Jihoon.
"Mama, mama yang ajarin. Ya kan, Ma?" Jihoon mendongak untuk melihat senyum ibunya mengembang. Mata Jungkook berbinar, ia mengusak rambut Jihoon lagi.
"Iya, sayang."
Taehyung merasa seperti pencundang sekarang. Ia terlalu gengsi untuk bercanda dengan Jihoon ataupun Jungkook. Ia terus diam sampai Jihoon menghampirinya dan duduk di pangkuannya.
"Papa Teyung napa diam saja? Tidak suka roti buatan Jihoon-ie ya?"
"Eh, tidak. Rotinya enak," Taehyung meneguk ludahnya kasar, "P-papa suka. Terima kasih ya, jagoan papa," tangan Taehyung bergetar hebat saat pemuda itu mengelus pipi Jihoon.
Jihoon spontan memeluk Taehyung erat dan jantung Taehyung serasa akan meledak sebentar lagi. Ia benar-benar berdebar, apalagi melihat Jungkook yang memandangnya dengan mata teduh. Ia sama sekali tidak kuat. Ia ingin berteriak kegirangan.
"AYO ANAK-ANAK KUMPUL KE SINI SEBENTAR!"
Salah seorang guru berbicara dengan pengeras suara. Sontak Jihoon langsung berdiri dan berlari ke arah sumber suara, meninggalkan tiga orang dewasa dengan suasana aneh. Jungkook mulai mengemasi bekal yang tadi dikeluarkan semua oleh Jeon Jihoon, anaknya.
"Aku sangat berterimakasih kau sudah mau datang kemari, dokter."
Taehyung tahu jika ucapan terima kasih itu bukan ditujukan untuknya. Ternyata pria disampingnya ini adalah seorang dokter dan yang terpenting pria itu punya izin resmi dari Jungkook untuk datang.
Sedangkan dirinya?
Rasanya ia ingin tertawa
"Tidak masalah, Jungkook. Aku senang bisa membantu," sahut Eunwoo, "Nanti mau kuantar pulang?" Eunwoo melirik Taehyung.
"Tidak," Jungkook tersenyum manis sambil menyelipkan helaian rambutnya yang mulai memanjang ke belakang telinga, "Aku tahu kau harus segera ke rumah sakit. Aku akan pulang bersama sendiri, aku bawa mobil."
Ada kelegaan untuk Eunwoo tatkala dirinya tahu bahwa Jungkook tidak akan pulang dengan pria yang kelihatan masih muda disampingnya ini. Ia tersenyum kecil sembari mengangguk pelan. Tiba-tiba saja telepon genggam di saku celana Eunwoo bergetar dan ia segera berdiri dan meminta izin untuk mengangkat telepon.
Sayup-sayup Jungkook dapat mendengar jika Cha Eunwoo beberapa kali menyebut 'dokter kepala' dan bilang jika dirinya akan segera datang.
Eunwoo kembali menghampiri Jungkook untuk berjongkok di depan Jungkook, "Hey, aku harus pergi dulu. Ada hal yang harus aku urus di rumah sakit. Tidak apa-apa kan?"
Taehyung memutar bola matanya jengah. Si dokter itu pikir dia siapanya Jungkook? Sok terlalu khawatir dengan memasang muka penuh sesal seperti itu?
Tidak berapa lama Eunwoo mendapat panggilan dari rumah sakit yang mengharuskannya pulang terlebih dahulu. Ia tidak menyangkal rasa sukanya kepada Jeon Jungkook, maka ketika ia harus pergi ada perasaan tidak rela untuk meninggalkan Jungkook bersama pria asing bernama Taehyung itu. Namun, apa daya ia tidak punya hubungan serius yang bisa membuatnya mengungkapkan rasa keberatannya. Belum. Tapi akan.
"Aku harus pergi dulu, sampai ketemu di terapimu yang selanjutnya ya?" Eunwoo menepuk pundak Jungkook. Jungkook mengangguk dan mengantar Eunwoo sampai gerbang sekolah dan mengabaikan Taehyung yang menganga karena adegan bak suami-istri itu.
Ia merasa tersaingi. Sangat.
"Jadi kenapa kau datang ke sini, Taehyung-ssi?"
Tiba-tiba Jungkook sudah duduk di samping Taehyung dan memandang pemuda itu intens,
"Kau ada perlu dengan Madame Jeon?"
Muka Taehyung merona. Ia tidak mungkin berkata jika dirinya merindukan Jungkook, tapi binar mata Jungkook seperti menyedotnya untuk berkata yang sejujurnya. Ia memikirkan Jungkook seperti orang gila, ia mencari Jungkook tanpa sebab jelas. Ia ingin melihat Jungkook. Sangat. Bayangan tentang tubuh Jungkook menghantuinya, senyum Jungkook membuat Taehyung susah tidur. Ia kerap mimpi basah. Bercinta di balkon dengan bayangan yang ia yakini adalah Jeon Jungkook.
"Aku-,"
"Ya?"
"A-aku r-rindu kamu," Taehyung membuang muka. Habis sudah harga dirinya di depan Jeon Jungkook.
Taehyung menunggu suara tawa, namun nyatanya Jeon Jungkook tidak tertawa, tersenyum pun tidak. Taehyung memandang netra Jungkook. Hitam dan tangguh. Ia melihat keteguhan disana dan ia merasa ciut sekali. Jungkook bukan orang yang bisa dipermainkan.
"Mau bicara empat mata?" tanya Jungkook.
Taehyung mengangguk patuh.
Jungkook melanjutkan memunguti semua wadah makanan, "Tunggu sampai putraku masuk ke kelas. Kita bicara di mobil, ya?"
"Iya," jawab Taehyung pelan. Jungkook mencuri pandang sekilas padanya dan ia bisa melihat Jungkook mengukir senyum tipis lalu menggelengkan kepala pelan.
Maka tatkala Jihoon beserta anak yang lain masuk ke dalam kelas, Jungkook segera menenteng peralatan pikniknya dan mengajak Taehyung ke mobilnya.
"Masuk," kata Jungkook sembari memasukkan peralatan piknik ke bagasi.
Taehyung masuk ke kursi di samping kemudi. Lalu Jungkook menyusul masuk ke kursi kemudi. Mereka terdiam sesaat sebelum pada akhirnya keterdiaman itu dipecah dengan helaan nafas Kim Taehyung,
"A-aku r-rindu sekali, Jungkook-ssi. S-sejak hari itu aku tidak bisa berhenti memikirkanmu. Ingin bertemu sekali," Taehyung menunduk.
"Taehyung-ssi, kau tidak tahu apa yang kita lakukan malam itu? One night stand? Kau mengerti kan?" Jungkook berusaha melihat wajah Taehyung.
"Aku tahu, tapi otakku tidak bisa berhenti memikirkanmu. B-bukan mauku," Taehyung mendongakkan kepala lalu menatap Jeon Jungkook dengan mata sedih.
Jungkook terkesiap, ia tidak pernah melihat seorang lelaki yang memandangnya dengan mata anjing seperti Kim Taehyung. Binarnya membuatnya ingin memeluk Taehyung dan memberinya perlindungan. Mencurahkan semua perhatian yang dia miliki agar si pemilik mata tersebut bisa kembali ceria.
Jeon Jungkook mendongakkan kepala Taehyung dan membelai pipi Taehyung lembut, "Maafkan aku, harusnya aku tidak melakukannya padamu. Harusnya aku tidak memaksakan diriku padamu."
Taehyung tidak tahu apa yang ada di pikirannya, ia dengan beraninya memajukan wajah dan mengecup bibir Jungkook sembari mengenggam tangan Jungkook yang hinggap di pipinya.
"Aku tidak menyesali apapun, tidak sama sekali, Madame. Aku hanya ingin bilang jika aku merindukanmu. Aku ingin melihatmu dan maaf karena mengaku sebagai ayah dari anakmu. Maaf mengacaukan acara piknik dengan dokter itu," bisik Taehyung di atas bibir Jungkook. Sensasi ciuman ini menyengat seluruh badan Taehyung, ia seperti akan meleleh karena Jungkook menghisap balik bibirnya.
Bibir Jungkook mengelana ke rahang Taehyung, menjilatnya seduktif. Nafasnya memburu sementara pemuda di depannya memejamkan mata dan meraba pinggangnya.
"Kenapa? Kenapa kau tiba-tiba jadi menggemaskan seperti ini? Kau seperti bukan orang yang sama dengan yang terakhir kali kutemui?"
"Atau mungkin yang terakhir kali kau temui bukan diriku yang sesungguhnya?"
Jungkook tersenyum disela ciumannya dengan leher Taehyung, "jadi seperti apa dirimu yang sesungguhnya?"
Jungkook tersentak ketika Taehyung mengangkatnya ke pangkuan pemuda itu. Posisi Jungkook yang lebih tinggi membuat ia harus menunduk agar dapat berpandangan dengan Kim Taehyung. Kim Taehyung membelai pipinya,
"Yang akan kau kenal. Itu aku yang sesungguhnya. Yang tertarik kepadamu. Yang bodoh dan ceroboh."
"Kau tertarik padaku?" Jungkook menutup mulutnya seakan tidak percaya. Kim Taehyung begitu muda dan tampan. Ia tidak percaya pemuda setampan Taehyung tertarik padanya dan bahkan Jungkook tidak bisa mempercayai bahwa ia duduk di pangkuan pemuda itu. Lagi. Dan berbagi saliva, saling berebut oksigen dalam tarikan nafas sedekat ini.
Taehyung mengangguk pelan, ia kembali mencium ranum Jungkook dan tidak membiarkan Jungkook untuk meragukannya. Jungkook tidak menolaknya. Taehyung mengetahui jika Jungkook bergetar hebat, kakinya gemetar dan ujung jari-jemarinya dingin seperti disapu udara dingin.
Tangan Taehyung merambati leher Jungkook, untuk pada akhirnya menetap pada tengkuk Jungkook dan mendorongnya lebih keras agar Taehyung dapat meraup semua bibir Jungkook. Agar Taehyung dapat menuntaskan kelaparannya atas Jungkook.
"Kim Taehyung-" kata Jungkook dengan nafas putus-putus. Tangannya yang dingin menyusuri dada Taehyung dan bergerak ke bawah seolah punya kendali atas dirinya sendiri. Taehyung gemetar, pemuda itu menahan nafas tatkala Jungkook melepas kancing teratas bajunya dan kemudian membelai dadanya sampai ke pusar.
"Ingin lakukan di sini?" Mata Jungkook berkabut namun Taehyung dengan jelas dapat melihat senyum kecil di bibir Jungkook.
"A-aku datang bukan untuk ini, Madame Jeon-" Taehyung panik setengah mati saat orang yang selama ini ia panggil sebagai Madame Jeon tersebut menepuk bagian celananya yang timbul.
"Tidak mau?"
Taehyung ingin benar-benar mengumpat melihat gestur menggoda Jungkook. Jungkook menahan tangannya di atas gundukan di pangkuan Taehyung dan secara main-main menaik-turunkan resletingnya 1-2 cm.
"B-bukan seperti itu tapi-"
"Yeah?"
Mata Taehyung bergetar dan Jeon Jungkook benar-benar mengerti jika Taehyung sedang berusaha menahan serta menguasai dirinya sendiri.
"Kiss me if u want it too," Kata Jungkook lirih.
"Lalu, kamu akan menganggapku sebagai seorang brengsek yang suka mengambil kesempatan."
Jungkook menggeleng pelan. Matanya seakan berbinar dan Taehyung sedikit tergoda untuk melihat mata itu berkaca-kaca karena dirinya. Tanpa pikir panjang, Taehyung mencium bibir Jungkook dan bersama ciuman itu Jungkook memperlihatkan surga kepada Kim Taehyung.
Jeon Jungkook membuka resleting Kim Taehyung dan mengeluarkan kejantanan milik pemuda tersebut dengan penuh kehati-hatian. Jungkook mengurutnya perlahan sebelum pada akhirnya menundukkan kepala ke pangkuan Taehyung sementara tubuhnya ia dudukkan kembali di atas kursi kemudi.
Taehyung bernafas pendek-pendek, tangan Jungkook yang dingin menyelimutinya. Kemudian, ia merasakan benda lunak melingkupinya. Taehyung melempar kepalanya ke belakang, ia menutup wajah karena tidak bisa melihat betapa kotornya Jeon Jungkook yang tengah menjilati batang kemaluannya.
"Ya Tuhan, Jungkook," Taehyung merapatkan mata saat merasakan mulut Jungkook melingkupi pusat dirinya. Mengirimkan gelanyar yang asing namun tidak bisa Taehyung tampik rasa nikmatnya.
"Feels good?"
Kim Taehyung kembali pada kesadarannya dan tidak bisa menahan dirinya untuk tidak memeriksa ekspresi macam apa yang sedang dikeluarkan Jungkook tatkala mengoral dirinya. Kim Taehyung nyaris tersedak liurnya sendiri karena Jungkook terlihat begitu erotis, Taehyung bersumpah ia sudah hafal ekspresi yang dibuat oleh bintang porno favoritnya, akan tetapi Jungkook membuat ekspresi 10 kali lipat lebih kotor dan menarik.
"It does feel good, Madame Jeon" Pemuda 25 tahun tersebut menyelipkan anak rambut Jungkook yang menutupi wajah ayu Jeon Jungkook ke belakang telinga. Ia bisa melihat Jungkook tersenyum tipis sebelum menghisap puncak kemaluannya.
Taehyung mendesis pelan, berusaha sekuat mungkin untuk tidak mengeluarkan suara terlalu banyak karena dirinya sedang berada di area publik. Namun, nampaknya Jeon Jungkook adalah sebuah godaan. Pemilik restoran bebek itu kembali mengoral kejantanannya dalam tempo cepat dan mau tak mau membuat Taehyung mendorong pinggulnya dan menahan kepala Jungkook.
"Bwah."
Jungkook melepas kulumannya dan mendongak menatap Taehyung. Saliva dan precum milik Taehyung bercampur dan menetes dari sudut bibir Jeon Jungkook.
"Jungkook?
"Hm?" Jungkook mendongak menatap Taehyung untuk selanjutnya dibuat sedikit kaget karena Taehyung mengambil tisu di dashboard mobil dan mengelap bibir Jungkook,
"Sudah, Jungkook-ssi, aku tidak mau membuatmu lebih kotor lagi, habis ini kau masih harus masuk menemui Jihoon. Aku tidak mau para ayah di dalam sana….melihatmu seperti ini."
Jungkook menegakkan badan, ia mengernyit, "Tapi, kau belum keluar."
"Tidak apa-apa," Taehyung membelai pipi Jungkook. Rasanya seperti mendaratkan tangan di helaian kain sutra. Begitu lembut. Taehyung membenahi dirinya sendiri dan melihat Jungkook memerah karenanya.
Harusnya Taehyung menganggap Jungkook sebagai seorang yang murahan karena memberinya blow job bahkan ketika mereka baru bertemu. Namun, alih-alih berpikir demikian ia tidak bisa menampik jika ia merasa sangat beruntung karenanya. Jungkook memberinya kesempatan untuk mencicipi rasa nikmat. Dia. Dan bukan Cha Eunwoo atau siapapun.
"Aku harus kembali ke dalam," kata Jungkook sambil merapikan dirinya, "Kau bawa mobil sendiri?"
"A-aku? T-tidak. Aku ke sini naik taksi. Iya, naik taksi. Mobilku mogok tadi pagi," dusta Taehyung. Banyak sedikitnya ia paham jika kemungkinan besar Jungkook akan menawarinya untuk pulang bersama. Ia tidak akan melewatkan kesempatan apapun kali ini.
"Kalau begitu, mau tunggu di sini? Jihoon akan pulang sebentar lagi. Maksudku, aku bisa mengantarmu pulang, jika kau mau tentu saja."
Kim Taehyung mengangguk tanpa ragu, seperti anak-anak yang sangat patuh.
Jungkook tersenyum lembut dan menggusak rambut Taehyung, "Kau pemuda yang sangat manis sebenarnya. Tunggu di sini sebentar, aku akan segera kembali."
Setelah Jungkook meninggalkan mobil, tubuh Taehyung merosot perlahan. Ia tidak mempercayai bahwa dirinya melakukan hal liar dengan Jeon Jungkook dan untuk selanjutnya berbohong agar dapat menghabiskan waktu lebih lama dengan janda 36 tahun tersebut. Taehyung menutup matanya dengan lengan tangan.
"Kim Taehyung, you are the worst."
Kim Taehyung benar-benar menunggui Jungkook dan Jihoon di dalam mobil. Ia menelepon Jimin dan meminta kawannya tersebut untuk menuliskan namanya di dalam daftar hadir di kelas hari ini. Ia juga telah mengambil cuti dari kerja sambilannya hari ini.
'Kau dimana?'
"Di TK"
'Buat apa kau datang ke sana? Diam-diam kau punya anak ya?'
"Aku akan meminta Yoongi untuk melakban mulutmu, Jimin."
'I'd love that though.'
Taehyung menepuk dahinya pelan, "Aku lupa kau menyukai hal-hal seperti itu, aku menyesal mengatakannya. Taehyung mendengar suara tawa Jimin di ujung telepon, "Diam dan tulis aja namaku. Aku minta tolong."
'Kau berhutang penjelasan padaku, Kim Taehyung.'
"Dan kau hutang 15 ribu won kepadaku, Park Jimin-"
"PAPA?!"
Pintu mobil tiba-tiba terbuka dan menampakkan sosok Jeon Jihoon yang berpipi merah dan begitu bersemangat. Di belakangnya ada Jungkook yang membawakan tas Jihoon dan ikut memandang Taehyung dengan pandangan lembut.
"Maaf agak lama, Taehyung-ssi."
"Papa Teyung pulang sama kita, Mama?"
'Papa Teyung? Wah, kau benar-benar punya anak ya? Kim Taeh-'
PIP
Taehyung panik dan langsung menutup sambungan telepon dengan Park Jimin. Ia langsung tersenyum kikuk sebelum mengangguk mengamini pertanyaan Jihoon.
"Papa, akan antar Jihoon dan Mama," Mulut Taehyung kering sekali saat menyebut Jungkook sebagai mama, ia bahkan tidak berani untuk menatap mata Jungkook, ia terlalu malu, "u-untuk pulang ke rumah. Jihoon-ie senang?"
"YES, PAPA!" Jihoon mendongak menatap Jungkook sambil tertawa girang. Ia mengira pada akhirnya mamanya mengerti keinginannya untuk mempunyai papa sendiri. Ia tidak akan minder lagi tatkala teman-temannya membahas atau saling menyombongkan orang tua mereka.
"Aku atau kau yang menyetir?" tanya Jungkook.
"B-biar aku saja," jawab Taehyung sambil berpindah ke kursi kemudi.
"Mama, Jihoon duduk di depan ya?"
Jungkook mengangguk afirmatif dan membantu Jihoon untuk naik ke atas mobil seperti biasanya. Ia memasangkan sabuk pengaman dan merapikan poni Jihoon yang berantakan, "Nah, duduk yang manis di samping Papa ya?"
Jihoon mengangguk pelan lalu tersenyum sambil melihat Taehyung. Sementara itu Jungkook duduk ke bagian belakang dan langsung menyandarkan tubuh. Tampak lelah dan sedikit berkeringat.
Mereka berkendara dengan pelan. Jihoon tidak henti-hentinya mengajak Taehyung mengobrol. Anak tersebut nampak sangat antusias dan sesekali ia mencuri pandang kepada Jungkook di bangku belakang melalui kaca mobil.
"Kau tidak ada kegiatan hari ini, Taehyung-ssi?"
Taehyung berdeham, "A..itu, tidak ada. Aku meluangkan waktu untuk….bertemu Jihoon."
Jungkook membulatkan mata, ia menutup mulutnya untuk sepersekian detik sebelum pada akhirnya memalingkan muka ke samping. Ia berpikir jika Taehyung sebenarnya terlalu manis.
"Mama, kenapa tidak panggil Papa Teyung sayang?" celetuk Jihoon tiba-tiba. Anak itu memutar tubuhnya untuk mendapatkan jawaban dari ibunya.
"Eh? Apa?" Jungkook terperanjat sesaat.
"Kenapa tidak panggil sayang seperti mamanya temannya Jihoon? Mamanya Ujin-ie panggil sayang ke papanya Ujin-ie. Kenapa harus Teyung-ssi, Mama?"
Taehyung terbatuk mendengarnya. Membayangkan Jungkook memanggilnya sayang rasanya seperti hujan di musim kemarau yang panjang. Taehyung ingin sedikit egois dengan cara mengharapkan Jungkook akan menuruti Jeon Jihoon.
"Umm karena sayang adalah nama panggilan, Jagoan. Sedangkan nama asli dari papa kan Taehyung. Jadi tidak apa-apa, ya kan, sayang?" Jungkook melempar pertanyaan kepada Taehyung secara tiba-tiba dan membuat pemuda itu hampir menginjak rem secara mendadak.
"Ah iya, tentu saja tidak apa-apa….sayang," Suara Taehyung melirih di ujung. Jeon Jihoon berkata 'oh' panjang dan mulai mengoceh lagi.
Setelah setengah jam perjalanan akhirnya mereka sampai di depan rumah Jungkook. Taehyung memarkirkan mobil ke dalam garasi dan berniat menelepon taksi untuk kembali ke sekolah Jihoon. Ia harus mengambil mobilnya.
Jihoon berlari masuk terlebih dulu ke dalam rumah sedangkan Jungkook masih menungguinya. Pemilik restoran yang cantik itu menatap Taehyung lamat-lamat tatkala Taehyung menyodorkan kunci mobil.
"Aku akan memesan taksi dulu, kau langsung masuk saja, Jungkook-ssi."
Jungkook terlihat bimbang, ia menggumam, "tidak mau masuk dulu…s-sa-"
"Huh? Maaf aku tidak dengar, bisa katakan lebih keras?"
"Tidak mau masuk dulu, sayang?" Mata Jungkook bergetar, bibirnya basah, dan pipinya merona.
Taehyung menggigit bibir. Jungkook dan dirinya baru saling mengenal namun Jungkook tidak pernah gagal untuk mengejutkan Taehyung melalui tindakannya yang berani. Jungkook menggoda Taehyung dan Taehyung tidak bisa menolak rayuan tersebut.
"Jungkook-ssi," Taehyung menahan nafas sedikit merasa kebingungan.
"Masuk, ya?"
Taehyung membiarkan tangannya digandeng oleh Jungkook untuk masuk ke tempat privasi milik Jungkook. Kendati pun ini bukan kali pertama Taehyung datang ke rumah ini, akan tetapi kali ini ia datang dengan alasan yang berbeda, ditambah lagi Jungkook menggandeng tangannya.
Kim Taehyung pada akhirnya melihat sebagian besar dari rumah Jeon Jungkook. Ia bermain di kamar Jihoon, minum jus di dapur bersama Jihoon lalu menonton kartun bersama Jihoon. Jihoon mengajaknya menjelajahi seisi rumah dan Jungkook mengajak Taehyung untuk menjelajahi kamarnya.
Kamar Jungkook tidak terlalu luas. Ada ranjang yang cukup ditiduri untuk dua orang, sebuah meja rias, buffet, lampu tidur, rak kecil untuk buku dan juga hiasa-hiasan dinding serta foto-foto Jungkook bersama Jihoon dan tentu saja Charlie.
Kim Taehyung termenung sesaat, ia sedikit banyaknya merasa bersalah melihat foto Charlie yang mengantung di dinding sedangkan dirinya duduk di kasur Jungkook dan berharap jika janda dari orang yang berada difoto tersebut memberi Taehyung kecupan di bibir.
"Taehyung, terima kasih karena mau menemani Jihoon main seharian, kau pasti capek sekali."
"Tidak masalah. Bukan masalah besar sebenarnya."
"Mhm, baiklah kalau begitu. Kau mau langsung pulang atau…menginap?"
Taehyung berkeringat. Sungguhan. Ia tidak bisa memalsukan bunyi detak jantungnya yang teramat keras. Pemuda itu takut jika Jungkook akan mendengar detak jantungnya karena terlalu keras. Kim Taehyung menggosok lengannya pelan,
"A-itu aku langsung pulang saja, tapi boleh menumpang mandi sebentar? Aku berkeringat sekali dan bau," Taehyung menggaruk pelipisnya, "Tidak enak nanti sopir taksinya kebauan."
Taehyung menangkap ekspresi kecewa yang samar pada wajah Jungkook namun Taehyung berusaha untuk menepis pemikiran bahwa Jeon Jungkook menginginkannya untuk menginap.
"Oh…o-oke kalau begitu, aku akan ambilkan pakaian Charlie di kamar sebelah, kau pakai kamar mandiku saja."
"Eh-tidak usah, aku pakai baju ini saja."
Jungkook mencebik, "Kan sayang sekali kalau sudah mandi terus pakai pakaian kotor. Ya kan? Kenapa tidak ganti baju sekalian?"
"Tapi itu baju mendiang suamimu."
Jungkook mendekati Taehyung dan memandang langsung kepada dua mata Taehyung yang berwarna coklat gelap, "Tidak apa-apa. Bajunya masih sangat bagus kok, jarang dipakai….dan itu milik mendiang suamiku, dia tidak bisa kembali lagi untuk memakainya, jadi tidak apa-apa kalau kau gunakan? Ya?"
Kim Taehyung mengangguk patuh dan ia kembali menuruti Jungkook tatkala si pemilik rumah menyuruhnya untuk masuk ke kamar mandi terlebih dulu. Taehyung menghela nafas berat. Berada di rumah Jungkook merupakan sebuah cobaan. Tidak terhitung berapa kali Taehyung berpikir untuk mengungkung Jungkook dan mencium bibir merah mudanya. Pemuda tersebut meloloskan tawa sinis dan memandang dirinya di cermin di atas wastafel. Taehyung terlihat sedikit kuyu, rambutnya yang sedikit panjang berantakan dan nyaris menutupi matanya. Ia melepas kaos miliknya dan kembali menatap pantulan wajahnya di cermin. Brengseknya dia ketika berharap akan mendapatkan keberuntungan atas Jungkook hari ini.
Suara pintu kamar mandi berderit. Kim Taehyung melihat Jungkook yang mengintip dari balik pintu melalui cermin.
"Masuk saja, aku belum telanjang sepenuhnya," celetuk Taehyung.
Jungkook masuk ke kamar mandi dengan mendekap setumpuk baju. Ia mendekat kea rah Taehyung yang sudah bertelanjang dada.
"Mau pakai kaos atau hoodie?"
"Aku tidak masalah dengan keduanya."
"Itu…aku bawakan juga dalaman…m-maksudku, ini baru benar-benar baru dan tidak pernah dipakai, ada celana panjang juga. Kau boleh pilih sendiri."
"Memangnya kau tahu ukuranku?" Taehyung tertawa tatkala mendapati wajah Jungkook yang merona karena malu.
"Tidak terlalu tapi aku bisa memperkirakan k-karena…aku sudah pernah melihatnya," Jungkook memalingkan muka.
"Dan memastikan sendiri ukurannya dengan menggunakan tubuhmu?"
Demi malaikat mana pun, Taehyung hanya bercanda akan tetapi Jeon Jungkook benar-benar memerah dan gemetar. Ia seperti melihat dua orang yang berbeda. Tadinya ia melihat Jeon Jungkook yang dominan dan sekarang melihat Jeon Jungkook yang merasa malu karena guyonan kotor. Kim Taehyung tidak begitu jika Jungkook bisa menjadi seimut ini di tempat privasinya. Rumah.
"Taehyung-ssi?"
"Hm?"
"Menunduk sedikit, bisa?"
Taehyung tidak berpikir panjang, ia segera menunduk. Jika Jungkook berniat untuk menghajarnya maka ia sudah sangat siap untuk menahan rasa sakit kala nanti menghantam lantai. Namun, hal yang terjadi adalah Jeon Jungkook mencium bibir Taehyung dengan lembut. Ciuman yang pada akhirnya ditanggapi oleh Taehyung. Ciuman yang pada akhirnya mengantarkan mereka untuk saling membelit lidah di bawah guyuran shower. Saling mendekap sama lain dalam keintiman. Jeon Jungkook setengah telanjang, ia masih menggunakan celana pendek sementara kaos putihnya sudah tergulung ke arah leher. Sementara Taehyung sudah telanjang seutuhnya. Tidak ada satu pakaian yang melekat. Ia memojokkan Jungkook ke dinding kamar mandi.
"Seharian menggodaku, kau pikir itu oke, Madame Jeon?"
Tidak ada jawaban. Jungkook melenguh saat Taehyung mengigit pundaknya.
"Membuatku menderita sepanjang hari, itu kan tujuanmu?"
Tidak ada jawaban. Jungkook mendongakkan kepala saat Taehyung menciumnya di sepanjang garis punggung dan menyentil puting Jeon Jungkook.
Taehyung tidak bertanya lagi. Pemuda 25 tahun tersebut mencium pinggang Jungkook untuk kemudian secara perlahan menurunkan celana Jungkook dan membuangnya ke sudut yang lain. Ia mengangkat sebelah kaki Jungkook dan membenamkan wajahnya di antara kedua kaki. Jungkook menggigit kaosnya. Ia ingin berteriak karena organ lunak Taehyung mengobrak-abrik pertahanannya. Taehyung melahap kejantanan Jungkook yang kecil dan menjilat sampai ke garis anus. Jungkook gemetar hebat, ia serasa ingin ambruk ke lantai namun Taehyung menyangga pinggangnya.
"Taehyung-ssi-"
Taehyung mengira ia telah melakukan kesalahan, akan tetapi yang ia lihat selanjutnya adalah Jungkook secara sukarela membalik tubuh dan membuka belahan pantatnya.
"Do you want it? Do you want me?"
"I do. I do want you."
Enam kata. Enam kata yang pada akhirnya membawa keduanya pada percintaan yang liar. Taehyung menggauli Jungkook di dalam kamar mandi, di atas wastafel dan di pintu kamar mandi. Jungkook masih menggigit kaosnya dengan Taehyung di antara kedua kakinya, mendorong dengan tempo yang statis dan nafas pendek-pendek.
"God-Jungkook, kau menjepitku sedemikian ketat."
Jungkook tidak menyela, ia tidak bersuara dan memejamkan mata karena Taehyung membesar di dalam dirinya. Mereka sudah menghabiskan waktu nyaris satu jam untuk perpindah-pindah posisi dan kini Jungkook sudah tidak yakin ia bisa berdiri dengan stabil. Kakinya lemas, tidak ada energi yang tersisa kecuali untuk meneriakkan nama Taehyung di sela-sela nafasnya. Di sela-sela dorongan dari panggul Taehyung, pemuda itu menarik kaos Jungkook melewati kepala. Jungkook yang tidak mengerti langsung membuka mata dan melihat jarak wajah Taehyung dan dirinya hanya dua ruas jari.
"Jeon Jungkook."
Taehyung mengerung dan melahap bibir Jungkook serta mempercepat dorongannya. Semakin cepat hingga ia mencapai klimaks dan menumpahkan semua reaksi kepuasan dari tubuhnya di dalam tubuh Jungkook.
Taehyung mengangkat tubuh Jungkook ke kamar mandi, memaksa agar Jungkook berjongkok tanpa oleng ke sana ke mari, "Sebentar ya? Kita harus keluarkan dulu spermanya. Jangan tidur nanti kering di dalam."
Jungkook mengangguk patuh tapi rasa kantuk menderanya begitu hebat. Ia menyandarkan dagu di bahu Taehyung.
"Ngantuk," bisik Jungkook.
"Iya, aku tahu. Tapi, kita bersihkan ini dulu, lalu setelahnya baru tidur."
"Kau menginap?"
"Selama aku dapat bantal. Ya."
Jungkook tertawa pelan dan mengangguk di bahu Taehyung. Rasanya seperti baru. Ia seperti orang yang baru kasmaran dan mendapati jika pacarnya perhatian dan peduli akan dirinya. Kim Taehyung bukan pacarnya. Tapi, bisakah dia berpura-pura untuk setidaknya hari ini? Berpura-pura ia punya seseorang untuk bersandar dan mengurus dirinya. Yang akan tersenyum dan menyelimutinya sebelum menjelang tidur. Yang wajahnya akan ia lihat sebelum memejamkan mata dan berlayar ke dunia mimpi.
"Good night, Jungkook."
"Good night, Taehyung."
.
.
.
.
.
Yoona Noona
Kim Taehyung kau dimana? 23.45 PM
.
.
.
.
.
TBC
.
.
.
.
Adegan dewasanya banyak banget ya? wkwkwk map. Kan udah diingetin di awal
Semoga lanjutannya masih relevan sama cerita sebelumnya. Sebelumnya aku pikir bakal aku bikin ini chap terakhir tapi kayaknya satu atau dua chap lagi gapapa lahnya, mau bikin ada sedikit konfliknya kwkwkwk dan ga janji bakal happy ending. Tergantung suasana hati haha. Thanks banget yang udah baca, whoever u are. Hope u enjoy it.
