Halo, Shuukou here.

Satu lagi fan fiksi Granblue Fantasy karyaku, kali ini multichapter. Juga tersedia di AO3; nama penaku juga Shuukou_Jin di sana. Selamat membaca!


"Lanchan!"

Seruan Vane semakin menghilang di telinga, selagi gravitasi menyeretku menembus awan. Dinginnya angin menjalar ke seluruh bagian zirahku, seolah mengejek, 'kau sudah tidak bisa lari dari kematian'. Pulau-pulau yang tersebar di seluruh Phantagrande pun tidak terlihat lagi; terhalang oleh awan dan sinar mentari nan menyilaukan.

Mungkin inilah akhirnya. Aku terjatuh dari angkasa, langsung menuju Cakrawala Merah. Tidak kusangka hidupku akan berakhir dengan cara demikian, tapi setidaknya bukan Vane yang bernasib seperti ini. Memang, ada secercah rasa bersalah karena telah pergi terlalu cepat, namun aku yakin Vane akan baik-baik saja tanpaku. Kapten tentu akan menjaganya.

Entah sudah berapa lama aku terjun. Setinggi itukah angkasa, hingga butuh waktu lama untuk sampai ke dasarnya? Namun aku tidak peduli lagi; hidupku sudah selesai. Memejamkan mata, hanya kata 'maaf' yang dapat kuucapkan ...

-"Ulse fels sols, fata alganth ourlys pro nocitte."-

"Mama, boleh nggak aku temani Kakak Kesatria dulu?"
"Boleh, tapi jangan ganggu dia, ya. Mama keluar dulu sebentar, kamu baik-baik di sini."
"Iya, Ma!"

Percakapan singkat itu memancing kesadaranku kembali. Begitu terjaga, aku mendapati bahwa tubuhku terasa lebih ringan. Kusentuh dada, dugaanku benar adanya; zirahku dilucuti. Ditambah, kamar ini tidak terasa familiar. Di mana aku?

"Eh, Kakak bangun ..." Seorang anak laki-laki berujar di sebelahku. "Apa aku ganggu Kakak barusan?"
Aku menggeleng. "Nggak, kok. Oh, iya ... ini di mana?"
"Ini di klinik, Kak. Tadi aku sama temanku, Vane, lagi temani Mama belanja di pasar. Terus, waktu pulang aku sama Vane nemu Kakak pingsan di perbatasan desa. Mama bilang pakaian Kakak ada wangi darah, mungkin Kakak luka ... jadi Mama suruh aku ke klinik buat minta bantuan. Terus Kakak dibawa ke sini."

Mendengar penjelasan anak itu, barulah aku mengerti. Mungkin zirahku sengaja dilepas agar para petugas medis bisa menangani lukaku. Tapi, tetap saja aku penasaran; sebetulnya ini di mana? Jika aku memang jatuh ke dasar langit, bukankah seharusnya aku terbangun di Cakrawala Merah yang penuh iblis? Atau yang namanya 'Cakrawala Merah' itu sebetulnya tidak ada, dan di dasar langit pun terdapat kehidupan yang serupa dengan penghuni angkasa? Kalau benar demikian ... kenapa para penghuni angkasa tidak pernah mampu sampai ke dasar langit dengan selamat?

Ah, tidak ada waktu untuk menerka. Secepatnya kutanggapi penjelasan anak itu, "Gitu, ya. Makasih banyak udah tolongin Kakak. Ngomong-ngomong, nama kamu siapa?"
"Sama-sama! Namaku Lancelot du Lac, panggil aja 'Lancelot'."

Tunggu sebentar. Kenapa namanya persis sama denganku? Sesaat aku mengira hanya kebetulan aja, namun melihat rambut cokelat ikalnya, dan sepasang mata biru itu ... mirip sekali denganku. Apa aku sedang berhalusinasi?

"Lancelot ... salam kenal. Kupanggil 'Lance', boleh ya?" Aku menampik seolah tidak ada yang janggal. "Kamu tinggal di mana?"
"Boleh, Kak. Aku tinggal di desa Drachenmeer, nggak jauh dari sini."
Desa Drachenmeer ... kampung halamanku! Hanya ada satu daerah yang memiliki desa bernama demikian; Kerajaan Feendrache. Untuk memastikan, kucoba menanyainya sekali lagi. "Kakak sebenarnya kesatria pengelana, dan Kakak baru sampai di sini. Kalau boleh tahu, ini di kerajaan mana?"
"Oh, jadi Kakak datang dari luar ternyata!" Mata anak itu berbinar. "Selamat datang di Feendrache! Kudoakan semoga Kakak dilindungi oleh Dewi Sylph selama di sini."
"M-makasih ..."

Aku tersenyum canggung. Entah apa yang terjadi, namun aku merasa bahwa ini bukan zaman yang sama dengan yang kutinggali. Dengan kata lain, mungkin aku terjebak di masa laluku sendiri. Kedengarannya mustahil, namun pertemuan ini terasa begitu nyata ...

"Lanchan ..."

Seorang anak berambut pirang mengintip di ambang pintu dengan malu-malu. Aku kenal anak itu; ia pastilah Vane! Rasanya agak aneh melihat dirinya di masa lalu ini ... kadang aku tidak percaya bahwa wakil kapten Ordo Kesatria Naga Putih yang ceria dan berhati emas itu pernah menjadi anak yang penakut dan cengeng seperti yang ada di hadapanku sekarang.

"Vane, sini, sini! Kakak Kesatria udah bangun!" Lance menyahut. "Nggak usah takut, dia orang baik, kok!"
"Ayo, Kakak mau kenalan sama kamu." bujukku.
Masih agak gentar, ia mendekat dan berdiri di samping Lance. "N-namaku Vane, Kak. Salam kenal ..."
"Salam kenal!" Kuusap rabut Vane dengan lembut. Andaikan ia tahu bahwa di masa depan, sahabat yang ia panggil 'Lanchan' itu akan mengorbankan diri untuknya.
"Nah, sekarang tinggal Kakak yang belum kenalan. Siapa nama Kakak?" tanya Lance.
"Oh ... oh iya! Hampir aja lupa. Namaku Lan-" Secepatnya aku menutup mulut. Nyaris saja! Bisa gawat jika ia tahu bahwa aku adalah dirinya di masa depan. "Umm, maksudku, namaku Lan ... ford. Iya, Lanford."
Kedua anak itu terpaku sesaat, sebelum membalas dengan ceria. "Salam kenal, Kak Lanford!"

Mungkin mulai detik ini aku harus hidup dalam penyamaran.

-"Ulse fels sols, ad folent ort"-

Esok harinya.

Setelah semalam dirawat inap di klinik, aku diperbolehkan untuk pulang. Hal itu tentu saja membuatku bingung; bagaimana bisa aku 'pulang' sementara aku tidak punya tempat tinggal di zaman ini?

Begitu keluar dari klinik, seorang wanita menyambutku. Bukan wanita sembarangan; ia adalah ibuku ketika masih muda. Sesaat aku teringat akan sosok ibu di masaku, yang menurutku tetap cantik sekalipun senja mulai membayang. "Sir Lanford, senang mendengarmu sudah sembuh."
"Ah, Lady Elaine." Rasanya agak canggung memanggil ibuku dengan namanya, namun aku tidak punya pilihan. "Terima kasih sudah menolongku tempo hari."
"Bukan apa-apa. Justru Lancelot dan Vane yang menemukanmu lebih awal. Oh iya, aku datang ke sini untuk menawarkan sesuatu."
"Apa itu?"
"Semalam Lancelot cerita kalau kau seorang kesatria pengelana. Tapi kulihat kau tidak membawa perbekalan sama sekali ... apa mungkin kau diserang dari belakang oleh sekawanan bandit dan mereka merampok barang-barangmu?"
"Eh-eh ..." Aku hanya bisa tersenyum kikuk. Skenario barusan terlalu jauh dengan apa yang terjadi barusan, dan kedengarannya agak menggelikan.
"Tidak apa-apa, semua orang pernah lengah, kok." Ia terkekeh. "Nah, kebetulan suamiku sedang membutuhkan seorang pegawai di toko buku miliknya. Kalau kau berminat, kau bisa ikut denganku sekarang. Soal tempat tinggal kau tidak perlu khawatir, suamiku yang urus."

Aku terdiam, sesaat teringat pada Ayah. Bertahun-tahun ia menghidupi keluarga dengan membuka toko buku kecil di ibukota, di saat yang sama menumbuhkan kecintaanku pada hobi membaca. Bahkan, ia sengaja mencarikan buku-buku panduan yang mungkin bisa membantu kala aku menerima surat rekomendasi calon kesatria.

'Ayah datang ke ibukota untuk berjualan buku, sementara kamu datang ke ibukota untuk jadi kesatria. Ayah bangga sama kamu,' Kata-katanya kala itu masih membekas. Dan sekarang, aku diberi kesempatan untuk bekerja untuknya ...

"Jadi, apa kau berminat?" Pertanyaan Ibu mengembalikan pikiranku ke alam nyata.
"Tentu ... tentu saja aku berminat!" tukasku, "Terima kasih banyak atas tawarannya."
"Sama-sama. Tunggu apa lagi, ayo berangkat!"
"Baiklah ..."

Menenteng koper berisi zirah dan sepasang pedang-sesaat aku bersyukur pedangku tidak hilang saat aku jatuh-, aku mengikuti langkah Ibu menuju desa Drachenmeer. Perasaan nostalgia mulai menyelimuti, namun aku tetap harus waspada. Aku tidak seharusnya ada di sini. Aku tidak boleh merusak riwayat hidupku sendiri ...

Bersambung.