Halo, kembali lagi dengan Shuukou!
Gimana hari pertama final Guild Wars? Seru? Capek? Chaos? Tapi ingat, jaga kesehatan juga, ya!
Inilah chapter kedua dari Hourglass, selamat membaca. Jangan sungkan untuk meninggalkan review! ^^
Aku menatap rumah kecil di hadapanku dengan penuh haru, entah kapan terakhir kali aku melihatnya. Rumah kecil itu, tempatku lahir dan dibesarkan ... Rasanya baru kemarin aku berpamitan pada Ayah dan Ibu untuk pindah ke rumah dinasku di ibukota, dan sejak saat itu aku hanya kembali setiap perayaan tahun baru.
Kulihat Lancelot kecil di teras depan; pandangannya terfokus pada buku yang dibacanya. Ingin aku menyapanya, tapi aku tahu sendiri kalau aku tidak suka diganggu saat tengah asyik membaca. Namun, seolah bisa merasakan keberadaanku, ia menutup buku dan menghampiriku. "Wah, Kakak Kesatria!"
"Hai, Lance!" Aku berlutut, menyamakan tinggi dengannya. "Kakak 'kan udah kasih tahu nama Kakak, kenapa masih panggil Kakak gitu?"
"Gimana, ya ... aku lebih suka panggilan 'Kakak Kesatria'. Nggak apa-apa 'kan kalau aku panggil itu aja?" pintanya.
"Hhhh ... boleh, deh. Tapi, cuma kamu sama Vane aja, ya." Kuusap rambutnya pelan.
"Kelihatannya kalian berdua cepat akrab, ya." Ibu berkomentar. "Maklum, Lancelot bercita-cita ingin jadi kesatria kalau sudah dewasa. Makanya ia bersemangat saat bertemu kesatria sungguhan."
Aku terkekeh. "Jadi itu cita-citamu, Lance?"
"Iya! Aku ingin jadi kesatria kayak Kakak kalau udah besar!" Mata Lance berbinar. "Aku mau jadi anggota Kesatria Kerajaan Feendrache, bukan, kalau bisa aku ingin jadi kaptennya!"
"Aku yakin kamu pasti bisa." Mengalihkan tepukanku ke bahunya, aku memberinya sedikit nasihat. "Tapi ingat, cita-citamu nggak akan tercapai kalau kamu nggak berlatih."
"Ohh ... oke, deh, aku bakal rajin berlatih mulai sekarang!"
"Kalau gitu, semangat!" seruku, sebelum kembali berdiri. "Kakak mau temui ayahmu dulu, nanti kita ngobrol lagi, ya?"
"Iya, Kak!"
Usai berpamitan, aku dan Ibu segera ke ruang tamu, di mana Ayah menungguku. Rasa gugup mulai menghampiri, namun segera kutepis. Ayolah, Lancelot, ia bukan orang asing bagimu, batinku.
"Aku pulang, Sayang." sahut Ibu, "Ini pria yang kuceritakan kemarin." Usai mengenalkanku pada Ayah, Ibu segera mohon diri untuk membuatkan kami teh.
"Selamat datang." Ayah tersenyum hangat seraya menawarkanku untuk berjabat tangan. "Salam kenal, Sir Lanford. Saya Banwick du Lac."
"Salam kenal ... Sir Banwick." Aku balas menjabat tangannya. "Jadi ... kapan saya mulai bekerja?"
"Santai saja, Sir, jangan terburu-buru. Biar kujabarkan tentang pekerjaanmu dulu. Silakan duduk."
"Terima kasih. Saya akan menyimak." ucapku, menerima tawarannya.
"Tugasmu sederhana saja, melayani pelanggan dan merekomendasikan buku-buku yang menurutmu layak dibaca. Lalu, mengingat statusmu sebagai kesatria pengelana, pasti kau ahli dalam berpedang ... mungkin kau juga bisa mengurus bagian keamanan. Walau, yah, aku ragu ada orang yang akan mencuri buku." Ayah menyudahi penjelasannya dengan sindiran kecil. "Soal tempat tinggal, ada kamar kosong di lantai atas toko. Kau bisa menginap di sana saat jadwal lembur. Kau tahu, setiap akhir pekan toko biasa buka sampai larut malam."
"Baiklah. Terima kasih, Sir."
"Satu hal lagi: pada hari biasa, toko ditutup pukul empat sore. Kau bisa tetap tinggal di toko, tapi kusarankan kau ikut denganku pulang kemari dan bermalam di sini." sambungnya.
"Bermalam di sini dengan keluarga Anda? Tapi ... Anda baru mengenal saya satu hari." Aku mengelak. Kalau boleh jujur, berpura-pura tidak mengenal keluarga sendiri rasanya menyakitkan.
"Kau tahu, Sir, semalam putraku tidak bisa berhenti bercerita tentangmu." Sesaat Ayah mengalihkan pandangan ke jendela, "Ia sangat bangga karena bisa berkenalan dengan seorang kesatria. Ia menganggapmu sebagai sosok panutan, walau ia juga baru mengenalmu sehari. Mungkin kau bisa menjadi contoh yang baik untuknya."
Menoleh ke arah jendela, kupandang Lancelot kecil tengah bermain bersama Vane di halaman -mungkin Vane datang saat aku tengah berbincang dengan Ayah-. Mungkin aku bisa menjadi figur kakak untuknya; walau sebenarnya aku dilarang ikut campur agar sejarah hidupku tetap utuh, namun paling tidak aku bisa sedikit membantunya menjadi pribadi yang lebih baik lagi.
"Jadi, bagaimana? Kau berminat?" Sekali lagi Ayah membujuk.
Senyap sebentar, sebelum akhirnya aku mengangguk mantap. "Tentu saja. Terima kasih banyak, Sir Banwick."
"Sama-sama, Sir Lanford. Kau akan mulai bekerja besok, jadi untuk hari ini kau boleh bersantai."
Usai mengakhiri perbincangan, aku meminta izin untuk mengajak Lance berjalan-jalan di delta tepi sungai; kuputuskan untuk membawa sepasang pedangku untuk berjaga-jaga. Tidak lupa aku mengunjungi kediaman nenek Vane yang terletak tepat di sebelah rumah keluarga du Lac; selain menjadi obat rindu, aku juga ingin meminta izin untuk membawa Vane juga.
-"Ardento ghwi, hivhe fata"-
"Southern Cross!"
Dua, empat tebasan kulancarkan, membekukan udara di setiap terjangan. Walau untuk sekarang aku tidak punya alasan untuk bertarung, namun latihan rutin tetap menjadi keharusan. Di bawah pohon ceri yang menaungi delta, Lance dan Vane menyimak latihanku; maksud hatiku ingin mengajak mereka berlatih pula, sayangnya mereka masih terlalu muda.
Bersicepat melintasi hijaunya rerumputan, sihir esku mengalir bebas dalam masing-masing sabetan. Tentu saja, aku menjaga diri agar tidak terlalu dekat dengan anak-anak itu; jika sampai mereka terluka, habislah aku.
"SEPTET REV SERAPH."
Sekilas kulihat kilatan pelangi dari serpihan es yang berterbangan di udara, dan seketika dunia di sekelilingku berganti menjadi ruang putih hampa. Aku berhenti, menatap kekosongan yang mengepung. Di mana aku?
Samar-samar kudengar seseorang menangis, asalnya dari belakangku. Segera saja aku berbalik dan mendapati seseorang tengah berlutut di ujung tebing. Rambut pirang yang senada dengan kaus jingganya itu ... tidak salah lagi, itu Vane! Kupanggil namanya, namun ia tidak mendengar. Kucoba mendekat, namun kakiku serasa terpasung; tidak mampu melangkah.
"Lanchan ... Kenapa kamu mau saja korbankan diri sendiri demi aku?!" Vane terisak, "Harusnya aku saja yang jatuh! Aku nggak peduli bakal mati atau apa pun, asal bukan kamu yang menderita! Aku ... Lanchan, aku minta maaf ..."
Aku menunduk, tidak sanggup melihatnya terus menangis sementara aku tidak bisa berbuat apa-apa. Andai ia bisa mendengarku, tentu akan kukatakan bahwa ia tidak perlu minta maaf. Bahwa aku hanya ingin membalas jasanya padaku, yang tidak terbilang jumlahnya.
"HEPT TENCE SPECTRA."
Pemandangan tepi jurang itu lenyap, berganti menjadi angkasa nan suram. Kulihat Kapten bertarung seorang diri, menghadapi seseorang dengan enam pasang sayap hitam. Baru kali ini kulihat Kapten mulai putus asa; biasanya ia tidak pernah gentar menghadapi musuh seperti apa pun. Tentu saja naluriku bersikeras ingin membantu Kapten, namun aku hanya bisa jatuh terduduk.
Apa yang sebenarnya terjadi?
Mengapa aku tidak bisa berbuat apa pun?!
Aku tidak mau hanya diam sementara Vane dan Kapten sangat membutuhkanku!
"SHUVERE TU FATE."
Segalanya menghilang begitu saja.
Begitu tersadar, aku melihat Lancelot dan Vane kecil duduk di depanku; kekhawatiran nampak jelas di air muka mereka. Napasku memburu, masih terbayang akan apa yang kulihat barusan ... apa tadi itu hanya halusinasi? Kalau benar begitu, kenapa semuanya terasa nyata?
"Kakak Kesatria ... " Vane menggamit lenganku. "Kakak kenapa?"
"Tadi Kakak tiba-tiba jatuh waktu latihan. Terus, waktu kami panggil Kakak, Kakak nggak jawab sama sekali. Apa mungkin Kakak masih sakit gara-gara kemarin?" tanya Lance.
"Aku ... ah, Kakak nggak apa-apa. Kakak cuma lelah ..." Refleks, kusentuh wajahku; basah. Namun, aku tidak ingat sempat menangis saat itu ...
"I-itu ide Lanchan. Barusan dia basahi wajah Kakak pakai air sungai, katanya biar Kakak siuman. Kakak jangan marah, ya?"
Lance buru-buru menyanggah tuduhan Vane. "Oi, Vane! Jangan bilang-bilang ... ugh. Ya, ya habis mau gimana lagi? Aku takut Kakak Kesatria sampai kenapa-kenapa ..."
Mendengar penjelasan Lance, tanpa sadar aku tertawa. Sesaat aku teringat ucapan Vane dahulu; ia pernah berkomentar bahwa aku kerap berbuat iseng. Tentu saja aku menyanggah saat itu, tapi melihat diriku sendiri sewaktu kecil ini ... mungkin ia benar. Sifat usilku itu memang tidak pernah hilang.
"Tapi makasih, lho. Cuci muka habis latihan itu memang menyegarkan." gelakku.
"Tuh, kan ..." Lance tersenyum penuh kemenangan. "Ngomong-ngomong, barusan Kakak keren banget! Ajarin kita, dong!"
"Kita? Aku nggak berani kalau harus latihan berpedang!" sergah Vane.
"Kalian ini masih terlalu muda, belum boleh. Tunggu sampai usia kalian sekitar 11 tahun, baru bisa mulai latihan."
Lance menghela napas, "Terserah, deh. Tapi Kakak janji ya, Kakak harus latih kita berdua kalau sudah waktunya!"
"Itu ... ah, soal latihan kita bicarakan nanti saja, ya." Cepat-cepat kualihkan percakapan. "Kakak mau cerita soal pengalaman Kakak berkeliling Phantagrande."
"Cerita, dong!" Barulah saat itu Vane mulai antusias."Kakak pernah ke Auguste, nggak? Yang ada laut itu, lho!"
"Tentu pernah! Di Auguste itu ..."
Kuhabiskan waktu bercerita tentang berbagai pulau yang tersebar di Phantagrande, berbagi pengalamanku dengan mereka. Walau dalam hati masih merasa bimbang akan halusinasi barusan ...
Bersambung.
