Halo! Kembali lagi dengan Shuukou!

Inilah chapter ketiga dari Hourglass! Yah, belakangan ini aku memang lagi produktif menulis. Soal Guild Wars, jangan khawatir; aku ngepush tiap pagi dan striketime kok "^^) Aight then, selamat membaca!


"Terima kasih atas kunjungannya!"

Dengan seulas senyum, kuucapkan 'sampai jumpa' pada pelanggan yang telah berkunjung. Genap sebulan aku 'terdampar' di masa lalu, dan aku sudah mulai terbiasa hidup sebagai 'Sir Lanford, kesatria-pengelana-yang-sekarang-menjadi-pegawai-toko-buku'. Begitu banyak hal-hal menarik yang kutemui selama singgahku di sini, namun yang paling berkesan adalah kedua anak itu, Lancelot dan Vane kecil. Mereka sudah kuanggap seperti adikku sendiri.

Namun, aku tetap berusaha menjaga batasan. Jika aku terlalu terlibat, boleh jadi aku merusak kisah hidupku sendiri; Vane pun akan merasakan akibatnya. Selain itu, aku memastikan latihan berpedangku tidak pernah terlewat, walau bagaimana pun aku tetaplah kapten Ordo Kesatria Naga Putih Feendrache.

Ah, Ordo Kesatria Naga Putih. Apa kabar mereka setelah 'kepergianku'? Mungkinkah Vane menggantikan posisiku sebagai kapten sekarang?

Cukup berangan-angan; aku harus lanjut bertugas. Beranjak dari area kasir, aku memutuskan untuk berkeliling dan mencari buku baru untuk dibaca. Satu hal yang menguntungkan dari perjalanan waktu ini adalah aku bisa membaca buku-buku yang sudah tidak terbit lagi. Coba saja aku bisa membawanya ke masa depan ...

Menelusuri rak-rak buku, akhirnya kutemukan sebuah buku yang menarik. 'Persepsi Takdir dan Waktu', itulah judulnya. Mungkin aku bisa menemukan sedikit petunjuk tentang apa yang terjadi padaku dalam buku ini.

Kubaca buku itu dengan saksama, memahami pembahasan yang termaktub dalam setiap kata. 'Salah satu Origin Beast yang pernah tercipta adalah Moirai, sebagai pengawas aliran takdir.' Moirai ... rasanya aku pernah mendengar nama itu. 'Legenda tentang Moirai memang jarang terdengar seusai Perang; rekaman sejarah tentang penciptaan Akasha oleh bangsa Astral mengubah persepsi para penghuni angkasa tentang siapa yang berkuasa atas takdir. Dipercaya bahwa bangsa Astral menciptakan Akasha karena mereka tidak mampu menundukkan Moirai ...'

KRING!

Denting bel pintu memutus konsentrasiku. Secepatnya, kukembalikan buku itu ke rak dan kusambut pelanggan yang datang. "Selamat datang-lho, Lance dan Vane?"

Kedua anak itu segera mendekat. "Halo, Kakak Kesatria!"

"Halo juga!" Aku terkekeh. Keberadaan mereka sungguh membuatku merasa damai.

Kualihkan pandangan ke pintu depan, Ibu juga datang kemari. Aku ingat betul bahwa sesekali Ibu berkunjung ke ibukota untuk menemui Ayah, tapi biasanya ia berangkat seorang diri; aku memanfaatkan kesempatan itu untuk menginap di kediaman Vane.

"Lady Elaine, Anda sengaja membawa Lance dan Vane kemari?"

"Bukan aku, mereka yang ingin menemuimu." Ibu membalas. "Mereka tidak bisa lama-lama berpisah dengan kakak kesayangan mereka. Ngomong-ngomong, di mana suamiku?"

"Sir Banwick ada di lantai atas."

"Terima kasih."

Ibu segera mohon diri; sebelumnya ia mengajak Lance untuk ikut bersamanya. Vane memutuskan untuk tetap denganku, ia bilang ada sesuatu yang ingin ia ceritakan secara empat mata.

Anak laki-laki berambut pirang itu mengajakku duduk berdua di bangku dekat jendela. "Sebelumnya Kakak harus janji, jangan bilang-bilang ke Lanchan, ya!"

"I-iya, iya ..." Aku mengangguk dengan agak sungkan.

"Jadi gini, Kak, besok itu ulangtahun Lanchan. Aku pingin kasih dia hadiah paling istimewa, tapi aku bingung." jelasnya. "Menurut Kakak, aku harus kasih kado apa?"

Aku terpekur sesaat. Hidup sebagai orang lain rupanya membuatku lupa hari ulangtahunku sendiri. "Umm, gimana kalau kamu kasih dia sesuatu yang jadi kesukaannya? Kamu bisa kasih buku, atau-"

Tunggu sebentar. Seingatku, Lance saat ini berusia 8 tahun ... itu berarti usianya akan jadi 9 tahun besok. Ulangtahunku yang kesembilan terbilang istimewa; saat itu Vane menghadiahkanku cheesecake buatan neneknya, dan sejak saat itu Vane mulai menumbuhkan kecintaannya terhadap memasak. Kalau aku menyarankan kado lain, mungkin saja di masa depan Vane kehilangan ciri khasnya itu ...

"Atau apa, Kak?" Vane bertanya lagi.

"Atau ... yah, atau mungkin kamu bisa kasih dia kue keju!" Kucoba mengusulkan kado demikian. "Lance pasti suka."

"Kue keju? Itu doang? Nggak bisa! Kue buat Lanchan harus istimewa!" protesnya.

Kutepuk bahunya lembut, seraya membujuknya. "Vane ... kamu tahu, penampilan luar itu nggak mencerminkan isinya, lho. Boleh jadi kue keju yang keliatannya sederhana itu ternyata rasanya enak, sampai-sampai Lanchan nggak bisa lupa."

"I-iyakah? Kakak yakin Lanchan bakal suka?"

"Iya, Vane. Kakak yakin seratus persen!"

Barulah saat itu Vane mau mengerti. "Kalau gitu, oke deh. Aku bakal kasih Lanchan kue keju spesial buatan nenek!"

Syukurlah, bujukanku berhasil. Walau begitu, masih ada satu hal yang mengganjal. Bukan rasa sungkan hati atau apa pun, hanya sedikit penasaran saja ... "Vane, Lanchan itu ... istimewa buatmu, ya?"

Mata hijau zamrudnya berbinar mendengar pertanyaan itu. "Tentu saja! Lanchan itu sahabatku yang paling berharga! Dia itu pintar dan berani. Memang sih, dia kadang suka jahilin aku. Tapi sebenarnya dia itu baik hati. Dia selalu hibur aku kalau aku nangis. Pokoknya Lanchan itu sempurna, deh! Aku sayang sama Lanchan!"

Aku hanya tersenyum mendengar pengakuannya yang begitu polos itu. Sampai dewasa pun, Vane selalu menganggapku sebagai sosok panutan. Ia berlatih keras setiap hari hanya untuk bisa 'sepadan' denganku. Tapi, sebenarnya, aku tidak pernah menganggap ia inferior; ia selalu sama rata denganku sejak awal.

"Tapi, kalau boleh jujur, sekarang sahabatku yang berharga nambah satu lagi, yaitu Kakak!" Vane menggamit lenganku dan tersenyum; senyuman yang tidak pernah berubah sampai ia tumbuh dewasa. "Aku sayang sama Kakak!"

"Vane ... aku juga sayang kamu." Kuusap rambutnya pelan. Sesaat aku terpikir akan Moirai ... primal beast pemilik pulau Redimere, yang aku dan seluruh kru kunjungi kala itu.

"Aku bersumpah akan membawa masa depan yang cerah bagi seluruh langit. Karena itu hak dan kewajibanku sebagai Singularitas."

Rambut pirang Kapten berganti menjadi biru elektrik, sebanding dengan angkasa raya. Sesaat kemudian, ia menghilang.

"Kemenangan tidak bisa diraih dengan pengorbanan, kau tahu."

Sosok itu mendekati Vane, namun segera kucegat.

"Tunggu. Biar aku saja."

Tajamnya belati menyayat pangkal leherku.

"Kuharap kau tidak menyesal."

Dan saat itu pula, aku dikirim ke dasar langit.

Menghela napas, aku hanya mampu menerima apa yang terjadi. Detik itu, aku berjanji akan mencari jalan untuk kembali ke masa depan. Akan kukatakan hal yang sama pada Vane masa depan begitu aku pulang. Juga pada Kapten; selama ini ia selalu peduli terhadapku. Kuharap ia baik-baik saja.

"Aku kembali!" Lance menyahut selagi menghampiri kami, dengan sebuah keranjang kecil di tangan. "Ibu bawa makaron dari rumah, ini bagian Kakak." Kuterima pemberiannya dengan senang hati. "Makasih, Lance. Oh, nanti tolong kasih tahu ibumu aku berterima kasih atas makaronnya." Lance mengangguk. "Oh iya, Kakak masih ingat cerita Ibu kemarin? Menurutku Vane juga harus dengar, deh!" "Oh, yang semalam itu, ya. Iya, Kakak ingat. Kamu mau dengar, Vane?" "Boleh, boleh!"

Kemudian, aku mulai menceritakan kisah pengantar tidur yang juga pernah Ibu ceritakan saat aku kecil dulu. Dahulu kala, saat Feendrache masih berupa kerajaan kecil, hiduplah seorang kesatria yang bertekad menjadikan tanah airnya menjadi kerajaan yang berjaya. Suatu hari, kesatria itu terluka di medan perang, hampir saja ia kehilangan nyawa. Namun, ia diselamatkan oleh seorang penyihir ...

"Penyihir itu dikenal sebagai Lady of the Lake. Ia membawa kesatria itu ke danau miliknya, dan merawat kesatria itu hingga ia sembuh." Aku berkisah sambil menikmati makaron buatan Ibu. Rasanya begitu nostalgik ... ingin sekali aku pulang ke Drachenmeer jika aku sudah kembali ke masaku. "Sang Lady juga mengajari kesatria itu ilmu sihir, sehingga kemampuan bertarungnya menjadi semakin hebat."

"Tapi, sebenarnya, kekuatan sihir itu jebakan!" Lance menimpali. "Nggak benar-benar jebakan sih, cuma ... sang Lady ingin tahu untuk apa kesatria itu memanfaatkan kekuatan barunya. Kalau dipakai untuk kejahatan, maka sang Lady akan hukum kesatria itu. Akhirnya kesatria itu dibolehkan pulang ke Feendrache."

"Terus, terus, apa yang terjadi?" tampik Vane, penasaran.

"Awalnya kesatria itu nggak berani pakai kekuatannya di depan semua orang. Tapi, seorang sahabatnya mendukung dia buat terus berlatih mengendalikan kekuatannya itu. Sejak saat itu, sang kesatria mulai percaya diri dengan kekuatan barunya."

"Tapi, suatu hari ... kerajaan Feendrache diserang. Dan sahabat si kesatria itu terluka." Nada bicara Lance menjadi lebih muram. "Feendrache pun hampir kalah. Terus, kesatria itu memutuskan pakai seluruh kekuatannya buat melindungi sahabatnya, juga seluruh kerajaan. Akhirnya Feendrache menang, tapi kesatria itu gugur."

"Pasti sahabatnya sedih ... Lanchan, pokoknya kalau kita udah besar dan jadi kesatria, kamu jangan kayak gitu!"

Aku terdiam. Apa tanggapannya jika ia tahu bahwa bertahun-tahun kemudian, hal yang ia takuti itu akan terjadi? "Vane, Kakak ngerti perasaan kamu. Tapi ... yang namanya sahabat harus rela berkorban. Misalkan Lanchan diculik monster labu, dan cuma kamu yang bisa tolong dia. Apa kamu diam aja, atau bantu dia?"

Vane bergidik. "Monster labu ... aku paling takut sama monster labu. Tapi ... kalau Lanchan dalam bahaya, pasti aku tolong!"

"Nah, itu maksud Kakak. Sesama sahabat harus saling bahu-membahu, apa pun risikonya." Kuusap rambutnya lagi. "Kamu juga, ya, Lance. Kamu harus jaga Vane baik-baik."

"Oke deh!" tukas Lance, merangkul bahu sahabatnya itu. "Oh, iya, akhir ceritanya belum, ya ... akhirnya, sahabat si kesatria itu berjanji buat tetap hidup dan melindungi semua orang di Feendrache."

Lantas, kuutarakan bagian penghabisan dari kisah itu. "Sementara sang Lady, ia bahagia karena baru kali ini ada yang memakai kekuatan darinya untuk kebaikan, walau sayangnya hidup kesatria itu berakhir terlalu cepat. Tapi sang Lady yakin, suatu saat nanti kesatria itu akan terlahir kembali."

-"Ar kuniss blessia, pan dyentha."-

Bersambung.