Halo, kembali lagi dengan Shuukou!

Inilah chapter keempat dari Project Hourglass! Kalau boleh jujur, aku nggak puas dengan kualitas chapter 3, mungkin aku akan revisi kalau sempat. Please stay tuned!

BTW, gimana kabarnya habis Guild Wars? Seru, atau nggak ngotak sama sekali? Tapi at least ada penghiburan berupa rerun 000, bagi kalian yang stan Luciface lumayan la dapat asupan wwwwwww. Terus yang nggak keburu FLB Sandalphon, ayo gaskeun! XD

Selamat membaca!


Pukul dua pagi. Ditemani cahaya lilin, aku membaca dalam hening; kuputuskan untuk membeli satu salinan buku tentang Moirai yag barusan kutemukan di toko buku. Yang kuingat, hari itu Kapten menerima undangan untuk datang ke pulau Redimere; sesuatu yang awalnya terdengar mustahil. Tidak ada pulau bernama 'Redimere' di Phantagrande; yang ada hanya gugusan awan bernama serupa yang tidak dapat ditembus sekalipun dengan seluruh Peta Langit terkumpul.

'Dalam legenda, Moirai bersemayam di pulau Redimere, sebuah pulau yang tidak tercantum dalam Peta Langit. Pulau tersebut terletak di tengah gugusan awan Redimere, dan hanya orang-orang yang diundang oleh Moirai yang bisa sampai ke pulau tersebut.' Kupelankan suara selagi membaca, tidak ingin membangunkan Lance yang terlelap di sampingku. Memang, selama aku tinggal di kediaman du Lac, aku sekamar dengannya; dan itu awalnya menimbulkan masalah baru. Sejak kecil aku paling tidak bisa merapikan kamar, dan sampai dewasa pun aku harus selalu meminta bantuan Vane -ia amat terampil dalam urusan rumah tangga-. Sekarang? Mau tidak mau, aku mulai belajar merapikan kamarku sendiri; aku tidak ingin mempermalukan diri di hadapan Ibu!

Dipikir-pikir, mungkin sang Takdir membawaku ke masa lalu supaya aku berhenti membiarkan kamarku dalam keadaan berantakan. Benar-benar menggelikan. Tapi ... tidak mungkin ia sengaja mengundang seluruh kru ke pulau Redimere hanya untuk hal sepele, kan?

Kucoba mengingat-ingat kembali apa yang terjadi di pulau Redimere begitu kapal Grandcypher berlabuh di sana. Kami disambut oleh dua orang perempuan; satu wanita dewasa, satu nenek tua. Mereka memperkenalkan diri berturut-turut sebagai Lachesis dan Atropos, aspek Moirai yang mengawasi masa kini dan masa depan.

Di antara seluruh anggota kru, hanya tiga orang yang diizinkan memasuki pulau ini lebih dalam: Kapten, Vane, dan aku. Mereka menilai bahwa tiga orang yang ia pilih itu memiliki ikatan batin paling kuat. Ditambah Kapten adalah seorang Singularitas; di bahunya nasib seluruh langit bersandar.

Atropos menantang Kapten untuk membuktikan tekadnya, dan mereka berdua lenyap ditelan angin. Setelah itu, giliranku dan Vane menghadapi Lachesis. Pertempuran di tebing timur Redimere itu memang berakhir dengan kemenangan, namun Lachesis masih kuat untuk berdiri. Ia mengucap selamat, kemudian sekejap mata ia menyudutkan Vane di ujung tebing.

'Namun, perjalanan ke pulau Redimere kerap berakhir menjadi perjalanan satu arah. Mereka yang diundang biasanya tidak pernah terlihat lagi; fenomena ini diartikan sebagai kegagalan dalam memenuhi tuntutan Moirai.' Aku lanjut membaca, 'Tidak ada yang tahu pasti apa saja yang menjadi tuntutan Moirai, namun bisa diterka bahwa tuntutan tersebut melibatkan pengorbanan manusia. Kapal udara yang terbang di dekat gugusan awan Redimere melaporkan pernah melihat seorang penghuni angkasa terjun bebas dari tengah gugusan awan tersebut.'

Pantas saja. Lachesis dulu berkata bahwa kru Grandcypher akan terjebak di sini selamanya, dan Kapten mungkin tidak akan pernah kembali lagi tanpa ada pengorbanan dari salah satu anggotanya. Namun, aku tidak bisa membiarkan Vane membuang nyawa; karena itulah, aku memutuskan untuk menggantikan posisinya.

"Belum tidur, Sir Lanford?" Suara lembut Ibu membuyarkan lamunan. "Atau harus kupanggil 'Lancelot du Lac'?"
Tunggu dulu. Dari mana Ibu tahu siapa aku sesungguhnya? "Lady Elaine, aku-"
"Hus, tidak sopan memanggil ibumu dengan namanya." Ia duduk di kursi kayu di seberang tempat tidur, "Tapi, tidak apa-apa, sih. Lagipula, yang kau ajak bicara itu bukan ibumu yang sebenarnya. Kau bertemu Pengawas Masa Kini dan Pengawas Masa Depan saat itu, apa kau tidak sadar ada yang kurang?"
"Kau ... kau pasti Clothos." Aku tersadar. Ia tentulah sang Pengawas Masa Lalu. "Tunggu, apa yang kau perbuat pada ibuku?!"
"Kau ini nakal, ya. Jangan keras-keras, nanti Lancelot kecil bangun, lho." Ibu-bukan, Clothos hanya terkekeh. "Tenang saja, ibumu baik-baik saja. Aku hanya meminjam raganya sebentar."
"Bersumpahlah bahwa setelah ini ibuku akan tetap baik-baik saja."
"Oh, ayolah. Aku mengerti kau ingin menjaga masa lalu tetap sebagaimana mestinya. Tentu saja ibumu akan tetap hidup setelah pinjaman ini selesai." tegasnya. "Kau tahu, kau sudah hampir menyelesaikan ujianku hanya dengan ucapanmu barusan."

Ujian ... mungkinkah itu alasan ia dan Moirai lain mengundang kru Grandcypher untuk datang ke pulau Redimere? Aku mengerti mengapa Atropos memilih Kapten, namun mengapa Lachesis memilih mengorbankan Vane pada mulanya?

Seolah bisa membaca pikiranku, Clothos menanggapi, "Sebetulnya itu hanya umpan agar kau menggantikan posisinya sebagai pengorbanan; Lachesis memilih Vane sebagai target ujiannya sendiri. Di antara kalian berdua, ialah yang memiliki hati paling rapuh ... Lachesis ingin tahu apa ia bisa tetap bertahan setelah kehilangan dua orang yang amat menyayanginya."
"Dan kau sendiri, apa yang kau inginkan dariku?" Aku bertanya lagi.
"Tentu saja, aku ingin tahu apa kau bisa mempertahankan masa lalumu sendiri." Beranjak dari kursi, Clothos meniup lilin yang kunyalakan. "Walau tidak menutup kemungkinan bahwa kau bisa memanfaatkan kesempatan kedua ini. Selamat malam, Lancelot."

Tanpa suara, ia berlalu.

-"Yor alba ueto septet rev seraph?"-

Perayaan ulang tahun Lance yang kesembilan telah tiba, namun aku memilih untuk tidak hadir; aku hanya tidak ingin terlalu ikut campur dalam salah satu kejadian bersejarah dalam hidupku itu. Dengan alasan ingin berlatih, aku meminta izin pada Ibu dan Ayah untuk berangkat ke hutan Chrysalio. yang membatasi ujung tenggara desa Drachenmeer. Sebelumnya, aku berjanji pada Lance dan Vane untuk mengadakan perayaan kecil setelah aku pulang.

Berbekal sepasang pedang dan sebotol air, kujelajahi hutan ini seorang diri. Untungnya, aku sudah hafal betul medan yang kuhadapi; biasanya Ordo Kesatria Naga Putih mengadakan pelatihan bertahan hidup di sini. Membasmi monster yang menghalangi jalan, memetik buah-buahan hutan, atau sekadar menikmati desir pepohonan ... begitu banyak cara untuk menghabiskan waktu.

Namun, ketenanganku terputus saat menyadari ada daerah kosong tepat di depanku. Padahal, seingatku tidak ada ruang terbuka di hutan ini. Merasa penasaran, kucoba mendekati area tersebut.

Begitu sampai, aku disambut oleh bunga astragalus merah jambu yang bermekaran sejauh mata memandang, lengkap dengan kawanan kupu-kupu biru yang terbang rendah di sekitar. Ditambah dengan langit tanpa awan, pemandangan ini serasa bagaikan mimpi.

"Tempat apa ini?" Kususuri padang bunga ini dengan hati-hati. Begitu aku sampai di tengah, seberkas bayangan menaungiku. Seketika kuhunuskan pedang dan berbalik, siap untuk bertarung ... namun yang kuhadapi bukanlah monster. Ia berwujud seorang gadis kecil berambut pirang panjang dan mengenakan gaun putih. Sayap kupu-kupu di punggungnya menjadi penanda bahwa ia adalah ...

"Sylph." Hanya itu yang dapat kuutarakan.
"Sedang apa kau di taman rahasiaku? Jangan takut, aku tidak akan menyakitimu." Sylph hanya tersenyum.
Kusarungkan kembali senjataku. "Maafkan aku, Lady Sylph. Aku hanya menyusuri hutan, dan tidak sengaja sampai di sini."
"Tidak apa-apa. Duduklah, kau pasti lelah."

Mengiyakan tawarannya, aku memandang Primal Beast yang dulu dipuja sebagai pelindung kerajaan Feendrache itu dengan tatapan sendu. Sebetulnya ia tidak bersalah; ia hanya salah satu korban dari rencana busuk Isabella.

"Kalau begitu, bagaimana kalau setelah ini kita menyusup ke istana dan membunuh Isabella?" Sebuah gagasan terbersit di benakku. "Aku yakin nasib seluruh Feendrache akan lebih baik jika kita habisi akar masalahnya lebih awal."

Benar juga. Jika Isabella terbunuh lebih awal, tentu nama Sir Siegfried tidak akan pernah tercoreng dan ia tetap akan dikenal sebagai pahlawan. Penduduk Ruforth tidak akan menderita akibat wabah yang disebabkan oleh karmide. Aku juga tidak akan menderita selama bertahun-tahun di penjara ...

"Hei, Penghuni Angkasa ... apa kau tahu makna dari bunga-bunga ini?" Sylph bertanya, selagi jemarinya menelusuri rumpun bunga di sekitar.
Aku mengangguk. "Tentu saja. Bunga astragalus melambangkan 'kebahagiaan', 'kedamaian', dan 'inspirasi'."
Primal Beast itu tertawa lembut. "Kau tahu banyak, ya, Penghuni Angkasa. Astral yang menciptakanku dulu sering memberiku bunga seperti ini. Bahkan setelah ia meninggalkanku, aku tidak ingin melupakannya. Jadi, kutumbuhkan bunga astragalus sebanyak mungkin di tamanku. Menatap bunga-bunga ini memang membuatku merasa damai dan bahagia."

Kedamaian, kebahagiaan, bunga astragalus; tiga kata yang amat familiar. Bagiku, bunga astragalus ini memiliki kenangan tersendiri, tepatnya pada suatu White Day yang kuhabiskan di penjara ...

"Lady Sylph, di mana kau? Ayo, pulang!"

Sahutan itu memecah senyap. Aku kenal betul suara itu; Isabella. "Panjang umur. Kita tidak perlu menyusup ke istana. Kalau kita ambil kesempatan untuk menghabisi Isabella di hutan ini, tidak ada yang akan tahu." Gagasan itu muncul lagi, namun separuh diriku merasa ragu. Bahkan jika itu menguntungkan, membunuh seseorang di masa lalu tentu akan berdampak besar bagi tatanan takdir, kan?

"Ah, temanku sudah memanggil." gumam Sylph, sebelum tinggal landas. "Sebaiknya aku pergi sekarang. Ikut aku, aku akan memandumu keluar."

Aku menurut. Mungkin jika aku mengikutinya, aku akan sampai di lokasi Isabella. Sesaat aku berhenti untuk mengambil jimat yang kusimpan di saku celana, menatapnya sekilas. Apa Kapten baik-baik saja di sana?

Begitu keluar dari taman, kami disambut oleh Isabella. "Siapa pria ini, Lady Sylph?"
"Aku menemukannya di tamanku. Aku tidak tahu siapa namanya, tapi ia baik."

Tanganku terpancing untuk segera menghunus pedang, namun sekuat tenaga niat itu kutepis. Membunuh Isabella sekarang bukanlah jawaban. "Tapi, wanita busuk ini kelak akan membawa bencana bagi Feendrache". Benakku kalut, tenggelam dalam perang saudara. Apa yang harus kuperbuat?

"Kau," Isabella mengalihkan pandangan padaku. "Apa maumu dengan Lady Sylph?"
"Ah ... saya hanya pengelana biasa yang tidak sengaja memasuki taman miliknya." balasku, berusaha menjaga nada bicara tegas. Bunuh, biarkan, bunuh, biarkan; kedua pilihan itu semakin mencekik. Kalau sudah begini, terpaksa ...
"Hm, terserahlah. Kubiarkan kau pergi, Tampan. Ayo, Lady Sylph." Tersenyum sinis, Isabella berbalik.
"Tunggu sebentar, Isabella." ucap Sylph, sebelum memberiku serumpun bunga astragalus. "Sepertinya kau juga suka dengan bunga-bunga di tamanku, Penghuni Angkasa. Terimalah."

Dan, kubiarkan mereka berlalu begitu saja. Aku tahu, ini adalah pilihan yang amat berat; entah mengapa, sulit membayangkan Lance kecil kelak akan menderita di tangan wanita itu. Namun, ada sepotong harapan di balik keputusasaan itu; sewaktu di penjara-lah aku mulai mengembangkan bakat menulis, dan kemudian menerbitkan novelku sendiri. Juga, bunga astragalus di genggaman ini, yang dulu kuhadiahkan pada seseorang yang menjadi inspirasiku untuk tetap hidup ...

Aku menoleh ke belakang, ingin melihat taman itu untuk terakhir kali, namun yang ada hanyalah hutan nan rindang.

-"Yor alba ueto infels coda?"-

"Kalian lihat gugusan bintang yang seperti kapal laut itu? Namanya Argonavis."

Sebagai hadiah ulangtahun untuk Lancelot kecil, aku mengajaknya untuk memandang bintang di halaman belakang. Tentunya, Ibu sudah mengizinkan Lance untuk begadang, hanya untuk malam ini saja. Awalnya kusangka bahwa aku akan menghabiskan malam berdua saja -atau tepatnya seorang diri, toh Lance dan aku adalah satu orang yang sama-, namun Vane ikut bergabung setelah minta izin pada neneknya.

"Oh, itu ya?" seru Lance. "Besar juga ya ... hampir sama kayak kapal udara yang ada di pelabuhan."
"Kakak dulu bilang kalau Kakak pernah naik kapal udara, kan? Gimana rasanya?" Vane bertanya.

"Pokoknya seru banget. Kalau cuaca cerah, aku biasanya datang ke geladak buat lihat langit; pemandangannya indah. Kamar di sana juga nyaman." Kuceritakan pengalamanku selama menjadi anggota kru Grandcypher. "Tapi, kadang ada monster yang ganggu perjalanan, jadi semua anggota kru harus hati-hati."

"Keren ..." gumam Vane, takjub. "Oh, iya, kalau rasi bintang yang bentuknya layang-layang itu namanya apa?"
"Yang itu? Namanya Crux Australis, atau Salib Selatan." Kutunjuk rasi bintang yang ia maksud. "Navigator kapal udara biasanya mengacu ke rasi bintang itu buat menentukan arah selatan."
"Jadi bintang-bintang bisa buat menentukan arah juga, ya ... Kalau buat nyari arah utara, bintangnya yang mana?" Lance berkomentar.
"Kalau arah utara, bintang acuannya itu namanya Polaris, bintang paling terang di rasi bintang Ursa Minor, atau disebut juga rasi bintang Beruang Kecil." jelasku.

Meladeni pertanyaan-pertanyaan sederhana dari mereka benar-benar menyenangkan ... sesaat aku merasa ingin terus berada di samping mereka, memandu mereka untuk meraih masa depan. Sayangnya, mustahil untuk tetap tinggal di sini; cepat atau lambat aku tentu harus kembali ke masaku.

"Lance, Vane ... kalau misalkan Kakak pergi, kalian ikhlas, nggak?" Kucoba bertanya, ingin tahu respon mereka.
Sontak saja Vane membantah. "Kakak kenapa ngomong gitu? Tentunya aku nggak mau Kakak pergi!"
"Iya, tuh! Di sini kan nyaman. Kakak bisa kerja di toko buku Ayah, terus pulangnya main sama kita. Kakak bisa latihan berpedang di delta tepi sungai kayak waktu itu. Kakak bisa coba masakan enak buatan Ibu." sambung Lance. "Atau jangan-jangan Kakak udah bosan di Feendrache?"
"Kata siapa? Aku suka tinggal di Feendrache. Aku juga senang bisa kenal kalian." sanggahku. Lagipula, bagaimana mungkin aku bisa membenci tanah airku sendiri? "Tapi, kalian tahu, nggak ada yang bertahan selamanya. Suatu saat nanti tentu ada yang namanya perpisahan. Kakak nggak tahu kapan tepatnya, tapi Kakak harus pergi jauh."

Tidak berselang lama, kudengar Vane mulai terisak seraya mencengkeram lengan bajuku. Lance membuang muka, tidak ingin menatapku; namun jelas dari pola napasnya bahwa ia menangis juga. Sial, mungkin aku terlalu jujur pada mereka.

Lantas, kurangkul mereka berdua. "Kalian berdua memang nggak mau Kakak pergi, ya ..."
"Iya, lah! Kakak udah ajarin aku dan Vane banyak hal ..." isak Lance. "Aku janji bakal sering-sering belajar, biar suatu saat nanti aku bisa jadi kesatria juga ... dan Kakak nggak lagi latihan sendirian! Aku temani Kakak berlatih nanti! Jadi, tolong ... Kakak tetap di sini, ya? "
"Aku juga ..." Vane berusaha keras untuk berhenti menangis. "Aku juga janji nggak akan cengeng lagi. Aku bakal jadi lebih pemberani ..."
Mendengar luapan emosi mereka, aku benar-benar merasa bersalah. "Lance, Vane ... Kakak minta maaf udah buat kalian sedih. Kakak ngerti kalian ingin Kakak tetap di sini. Tapi, toh, sekalipun Kakak pergi jauh ... suatu saat nanti kita pasti akan ketemu lagi."

Kuusap rambut mereka pelan. Rupanya inilah bagian tersulit dari ujian yang Clothos embankan padaku ... Walau bagaimana pun, mereka tetaplah anak-anak yang berhati rapuh, belum terbiasa dengan konsep perpisahan selamanya. Tidak akan mudah untuk pergi tanpa meninggalkan luka di benak mereka. Walau aku tidak bisa berjanji untuk kembali lagi, namun setidaknya mereka bisa melihatku lagi saat mereka beranjak dewasa. Toh, wajah Lance akan sama persis denganku suatu saat nanti ...

"Terus, barusan Kakak udah bilang; Kakak nggak tahu kapan Kakak harus pergi. Mungkin aja Kakak bisa tetap di sini cukup lama. Siapa tahu, ya kan?" Aku menambahkan.
Kedua anak itu menengadah. "Jadi, Kakak masih bisa lama di sini?" Lance bertanya lebih dulu.
"Kakak nggak akan pergi terlalu cepat, kan?" susul Vane.
"Semoga aja. Tapi kalian harus janji, apa yang barusan kalian bilang, kalian harus tepati. Setuju?"

Mereka mengangguk pelan, sebelum memelukku lagi. Memang, menunda kepulanganku terdengar tidak adil -Vane dan Kapten tentu menungguku di sana- namun, di sini ada anak-anak yang telah menganggapku sebagai kakak mereka. Aku sadar kedekatanku dengan mereka mungkin akan membawa bencana, namun aku juga ingin memanfaatkan 'kesempatan kedua' ini untuk mendidik mereka supaya lebih handal lagi. Tapi, toh, selama mereka tidak tahu siapa nama asliku, mungkin semua akan baik-baik saja.

Bersambung.