Halo, kembali lagi dengan Shuukou!
Inilah chapter kelima dari Project Hourglass! Sedikit reminder, chapter 3 dari fanfiksi ini sudah selesai direvisi. Jadi, kusarankan untuk baca ulang chapter 3 sebelum lanjut ke sini '^^)
Selamat membaca!
"Kakak mau ke mana, pakai zirah begitu?"
Lance menatapku heran. Mungkin baru kali ini ia melihatku mengenakan zirah lagi sejak pertemuan pertama kami sebulan lalu. Memang, di sini aku bukan lagi kapten kesatria, namun mengenakan zirah biru ini membuatku merasa menjadi diri sendiri; bagaimana pun, aku tetaplah Lancelot du Lac, kesatria yang mengabdikan diri untuk kejayaan Feendrache.
"Nggak jauh-jauh, kok. Kakak cuma mau ke tempat latihan Kakak yang biasa. Kamu mau ikut?" balasku.
"Mau, Kak! Nanti aku ajak Vane juga!" serunya, "Tapi ... kenapa harus pakai zirah segala? Biasanya 'kan nggak?"
"Biar Kakak tetap terbiasa sama beratnya. Oh, bisa tolong ambilkan sarung tangan Kakak di sana?" Kutunjuk sarung tangan baja yang kuletakkan di atas meja.
"Iya, Kak!" Mengiyakan perintahku, Lance seketika terkejut saat memberikan sarung tangan itu padaku. "Woah, sarung tangannya saja udah seberat ini ... apalagi kalau semua bagian zirahnya, ya. Kayaknya nggak akan gampang buat biasakan diri."
Aku tertawa kecil. Rupanya ia cepat menangkap maksudku. "Iya, makanya Kakak harus tetap pakai zirah sesekali."
Usai memastikan kelengkapan perbekalan, aku beranjak keluar untuk berpamitan pada Ibu. Ayah tetap bekerja di tokonya; ia sengaja memberiku cuti sehari dengan alasan 'supaya aku bisa menghabiskan waktu lebih banyak untuk berbagi pelajaran hidup pada putranya,'. Ia memang serius dalam mendidikku; aku beruntung bisa memiliki ayah sepertinya.
Sampai di halaman depan, Lance segera menuju kediaman Vane, sementara aku memperhatikan Ibu yang tengah menyiram bunga di kebun pribadinya. Berkebun memang menjadi hobinya; selain bunga, ia juga biasa menumbuhkan tanaman herbal untuk persediaan obat keluarga.
"Selamat pagi, Lady Elaine!" sapaku hangat.
"Selamat pagi, Sir Lanford." Ibu menunjukkan sebuah pot berisi serumpun bunga merah jambu; astragalus yang kemarin Sylph hadiahkan padaku. "Apa tidak masalah jika aku merawat bunga ini di kebunku?"
"Tentu saja. Terima kasih."
Tidak lama berselang, Lance kembali dengan Vane. "Aku kembali, Kak!"
"Selamat datang. Halo, Vane! Selamat pagi."
"Pagi, Kak! Woah, Kakak keren banget kalau pakai zirah!"
"M-makasih ..." gumamku canggung. "Jadi, kita berangkat sekarang?"
"Ayo!" sorak anak-anak itu serempak.
Berpamitan pada Ibu, kami pun segera berangkat. Baru saja kami keluar dari halaman, terdengar lonceng dari menara pengawas desa berbunyi. Tempo deringnya yang lambat menandakan bahwa semua baik-baik saja; tidak ada monster yang berusaha meneror desa. Seolah berkata, 'semuanya aman, semoga harimu menyenangkan!'
"Wah, syukurlah hari ini nggak ada monster." Vane menghela napas lega. Ia tentu tidak ingin lagi tragedi yang dulu merenggut nyawa orangtuanya terulang.
"Jadi kita bisa lihat Kakak Kesatria latihan seharian penuh!" susul Lance. "Ayo, Kak, kita berangkat."
-"ardento ghwi, hist lien wei"-
Menyusuri jalanan desa yang membentang sepanjang tepi sungai, kuceritakan apa saja yang kutahu tentang kehidupan seorang kesatria. Mulai dari tanggung jawab, tugas sehari-hari, hingga kejadian-kejadian unik selama berdinas ... semata-mata agar mereka sadar bahwa menjadi seorang kesatria bukanlah hal yang mudah, namun bisa mereka capai jika mereka berusaha keras.
"Terus, kenapa Kakak malah jadi kesatria pengelana? Kenapa Kakak nggak tinggal aja di kerajaan asal Kakak?" tanya Lance.
"Kakak ... yah, sedari dulu Kakak ingin sekali mengelilingi angkasa raya. Kakak suka mempelajari adat-istiadat kerajaan lain, juga mencari pengalaman baru di pulau-pulau berbeda." Satu lagi kebohongan kecil kuutarakan. Dadaku sesak, tidak ingin nuraniku perlahan terbiasa dengan kebohongan.
"Gitu ya ..." Vane manggut-manggut. "Apa Kakak nggak kesepian, berangkat sendiri?"
Pertanyaan Vane sukses membuatku terdiam. Memang, saat perjalananku menjelajahi angkasa aku ditemani oleh Kapten dan seluruh kru Grandcypher, tapi di sini aku seorang diri.
Mencoba menyusun jawaban, aku berbicara pelan. "Kalau boleh jujur ... ya, Kakak kesepian. Banyak hal yang Kakak lalui, tapi nggak ada yang bisa Kakak ajak bicara. Tapi ..."
"Tapi ... kenapa?" Vane bertanya lagi.
Kutatap mereka berdua seraya menyunggingkan senyum. "Di sini Kakak nggak kesepian lagi. Ada kalian yang selalu temani Kakak. Dan Kakak berterimakasih buat itu."
"Kakak Kesatria ..." Lance meraih tanganku. "Kita 'kan sahabat! Iya 'kan, Vane?"
"Iya, iya! Kami nggak akan biarin Kakak kesepian! Kami sayang Kakak!" sambung Vane, lengkap dengan senyum cerianya. "Eh ... Kakak, kenapa nangis?"
"Hah?" Menyentuh pipi, aku baru sadar kalau barusan air mataku mengalir. "Ah, ini bukan apa-apa. Kakak cuma terharu. Makasih banyak, ya, kalian ..." Secepatnya kuseka air mata yang belum sempat jatuh.
Mengalihkan pandangan ke seberang sungai, terlihat beberapa orang kesatria tengah berpatroli. Dilihat dari model zirah yang mereka pakai, tentulah mereka berasal dari Kesatria Kerajaan Feendrache; ordo kesatria yang dulu menjadi garda depan pertahanan dan keamanan bangsa ini. Terkadang aku penasaran dengan sistem kesatria di masa lalu ini; apa mungkin ada sesuaatu yang bisa kupelajari sebagai ilham?
Sekumpulan kesatria itu berhenti sejenak, sebelum menyeberangi jembatan yang terletak tidak jauh dari lokasiku dengan langkah terburu-buru. Apa mungkin mereka terpancing dengan penampilanku saat ini?
"Hei, kau yang mengenakan zirah biru, berhenti di sana!" sahut salah satu dari mereka.
Aku menurut. "Selamat pagi, Sirs. Ada masalah apa hingga Anda memberhentikan saya?"
"Kau pasti bukan berasal dari sini. Siapa kau, dan dari kerajaan mana kau berasal? Dan siapa anak-anak yang kau bawa itu?" Kesatria yang lain bertanya.
Aku menatap anak-anak itu sekilas; Vane bersembunyi di balik punggung Lance, ketakutan. Mengembalikan perhatian ke para kesatria itu, kujawab pertanyaan mereka dengan tenang. "Nama saya Lanford Charette. Saya seorang kesatria pengelana, tidak berafiliasi dengan kerajaan mana pun. Anak-anak ini, Lancelot du Lac dan Vane Brancaleone, mereka tinggal di desa Drachenmeer, di sana juga tempat saya menetap."
"Dan ke mana kau akan membawa anak-anak itu, dalam kondisi kau mengenakan zirah dan bersenjata lengkap?"
Mereka pasti mengira aku menculik anak-anak ini. "Saya hanya mengajak mereka untuk berlatih di delta Nymenche tidak jauh dari sini. Kami biasa pergi ke sana dalam sebulan terakhir."
"Itu benar!" timpal Lance. "Kakak Kesatria bukan orang jahat! Ia sahabat kami! Ia juga bekerja di toko buku ayahku, dan Ayah selalu bilang kalau Kakak Kesatria itu pegawai yang jujur!"
Seketika, salah satu di antara kesatria itu menyadari sesuatu. "Tunggu sebentar, aku baru ingat ... kau pegawai baru di toko buku Frostlake itu, kan?"
"Betul. Saya dipekerjakan oleh Sir Banwick du Lac sebulan lalu."
"Kalau begitu, terpaksa kami harus memeriksamu lebih lanjut di ibukota. Kau ditahan."
Aku tidak punya pilihan lain kecuali menyerahkan diri. Andaikan aku melawan, bukan tidak mungkin aku akan memancing konflik lebih besar, dan itu sama sekali tidak aku harapkan.
"Hei, tunggu dulu! Apa yang kalian lakukan?! Sudah kubilang, dia bukan orang jahat!" protes Lance, sementara Vane mulai menangis di belakangnya.
Menatap anak-anak itu untuk terakhir kali, kucoba untuk tersenyum. "Kalian nggak usah takut. Ini nggak akan lama, kok. Kalian pulanglah, sekarang."
Kemudian, para kesatria itu menyeretku pergi. Aku hanya menunduk, berusaha menahan diri selagi suara Lance yang meneriakkan namaku kian memudar ...
-"Din paellas fir, ardento ghwi"-
"Sekali lagi, siapa namamu?"
Hawa ruangan interogasi yang dingin berpadu dengan lentera temaram, membuatku sedikit merinding. Aku tidak ingat ada ruangan semacam ini di istana; di masaku, interogasi tersangka dilakukan di ruangan yang memiliki pencahayaan bagus. Apa begini cara mereka memperlakukan tersangka saat itu?
"Nama saya Lanford Charette."
"Usiamu?"
"Duapuluh tujuh tahun."
"Oh? Tapi kau terlihat muda sekali, tidak seperti pria 27 tahun pada umumnya."
Aku berusaha tetap tegar, sekalipun mereka langsung melucuti zirah dan senjataku begitu aku sampai. Berada dalam situasi ini menguak kembali luka lama; penyiksaan, pengasingan, ... bahkan aku bisa merasakan lagi dinginnya pasungan mencengkeram pergelangan tangan.
"Pantas saja anak-anak itu memanggilmu 'Kakak' dan bukannya 'Paman'." celetuk sang interogator, "Ngomong-ngomong, dari mana asalmu sebelum tinggal di Feendrache?"
Sial. Bagaimana aku menjawab pertanyaan itu? "Saya ..."
Sebelum sempat aku menjawab, ia menyela. "Ah, aku ingat. Kau 'kesatria pengelana', kan? 'Tidak berafiliasi dengan kerajaan mana pun', katamu? Untuk seorang kesatria tak bertuan, perlengkapanmu bagus juga, ya. Kualitas zirahmu setara dengan kapten kesatria di ordo kami."
Aku tidak membalas.
"Lalu, mengapa kau justeru memilih menjadi pegawai toko buku di ibukota? Apa mungkin ... kau adalah orang sewaan, ditugaskan untuk memata-matai kerajaan Feendrache? Kerjamu lihai juga, ya, sampai membodohi keluarga tidak bersalah-"
"Itu sama sekali tidak benar." Aku membantah. Silakan saja ia menuduh apa pun tentangku, asal bukan tuduhan kalau aku adalah pengkhianat bangsa Feendrache. "Saya bersumpah atas nama Bahamut bahwa saya sama sekali tidak memiliki maksud untuk melakukan makar terhadap Yang Mulia Raja dan segenap kerajaan ini."
Beberapa orang kesatria memasuki ruangan ini, seraya membawa sebuah pelat baja berwarna ungu. Itu ... itu pelat dada dari zirahku!
"Lapor, Kapten. Kami sudah menemukan tanda pengenal di zirahnya."
Celaka. Sudah menjadi aturan tidak tertulis di Phantagrande untuk membubuhkan tanda pengenal di sisi belakang pelat dada, sebagai petunjuk dari mana zirah tersebut ditempa; milikku pun bukan pengecualian. Kalau sudah begini, sia-sia saja untuk mengelak ...
"Coba kulihat ... oh, apa ini? Lambang kerajaan Feendrache, rupanya. Bagaimana kau akan menjelaskan ini, Sir Charette ...?"
Lagi-lagi aku tidak mampu menjawab.
"Tapi, toh, aku tidak punya hak untuk memutuskan hukuman. Kalian, bawa orang ini ke sel penahanan. Aku akan menghubungi Yang Mulia Raja untuk menjadwalkan persidangan."
Aku hanya pasrah saat mereka membawaku menuju sel penahanan. Separuh diriku mencoba tetap teguh; mungkin ini adalah salah satu bagian dari ujian yang Clothos embankan padaku: berdamai dengan trauma masa lalu. Namun, separuh yang lain merasa gentar. Bagaimana jika aku terpenjara seumur hidup, dan aku tidak bisa kembali lagi? Bagaimana jika ... ah, bukan waktunya untuk berandai-andai. Menggigit bibir bawah, aku menolak untuk putus asa. Tidak ada malam yang abadi.
Bersambung.
