Halo, di sini Shuukou.
Inilah Project Hourglass chapter 6! Literally chapter yang terpanjang sejauh ini, chapter berikutnya atau mungkin Final Chapter bakal lebih panjang lagi mungkin x'3 BTW how's The Art of Mercy going? Menurutku sih, judul aja Mercy, isi cerita no mercy samsek :')
Anyway, selamat membaca!
"Dan, di sinilah aku. Lagi."
Menatap pasungan yang mencengkeram pergelangan tangan, aku menghela napas berat. Aku sudah terlalu familiar dengan suasana seperti ini; seorang diri di sel yang temaram, kedinginan. Untungnya mereka belum menyiksaku, untuk sekarang. Juga, rantai yang terhubung dengan pasunganku cukup panjang, sehingga aku bisa bergerak sedikit lebih leluasa.
Untuk menghibur diri sendiri, aku memutuskan untuk menulis sesuatu. Lima jam lalu, saat aku baru sampai di sel ini, sipir penjara mengizinkanku untuk meminta barang apa saja untuk menemaniku selama menunggu di penahanan. Tentu saja aku meminta buku, pena, dan tinta; menuangkan isi hati ke atas kertas mungkin akan membantu. Dalam senyap, kutuliskan beberapa pelajaran hidup yang dulu kuceritakan pada Lance dan Vane. Suatu saat, jika aku kembali ke masaku, akan kutinggalkan buku ini sebagai kenang-kenangan.
Namun, aku penasaran: apa ingatanku akan berubah saat aku kembali ke masa depan? Atau Clothos akan menghapus kenangan semua orang demi keutuhan masa lalu? Apa pun yang terjadi, aku tetap harus meninggalkan pesan untuk diriku sendiri di masa ini; mungkin ia mampu meraih masa depan yang lebih baik dariku.
"Tidak ada jalan pintas untuk meraih impianmu." Aku bergumam selagi menulis, "Tapi, jangan sampai putus harapan, dan lakukan yang terbaik. Teruslah belajar dan berlatih, menjadi seorang kesatria bukan hal yang mudah. Dengan usaha keras, aku yakin kamu bisa."
Meletakkan pena, kualihkan pandangan pada jendela kecil di bagian atas dinding, satu-satunya sumber cahaya di ruangan ini. Sekalipun tidak cukup untuk menerangi sel ini, setidaknya ini lebih baik daripada sel bawah tanah tempatku ditahan waktu itu; tidak ada bedanya antara siang dan malam, sampai aku tidak tahu sudah berapa lama aku mendekam di sana.
Berada di penjara sesaat membuatku teringat akan Kapten. Ia selalu mengunjungi setiap hari besar, bahkan sampai nekat membantuku melarikan diri di hari ulang tahunnya. Sungguh, aku berutang nyawa padanya. Tapi sekarang, ia tidak akan datang untuk membantuku lagi; ia tentu masih berusaha membuktikan diri bahwa ia layak menjadi pelindung masa depan seluruh langit. Apa pun yang ia hadapi, kuharap ia tetap tegar.
Kalau dipikir lagi, tentu Vane juga masih berjuang di sana, mencoba berdamai dengan kenyataan. Ia memang emosional dan mudah menangis. Tapi aku yakin ia akan kuat; sama seperti bagaimana tragedi kehilangan orangtuanya menjadi pemacu untuk terus melindungi orang yang ia sayangi, dan Vane selalu berhasil dalam hal tersebut. Tunggu saja, Vane. Tidak lama lagi aku akan kembali.
Lamunanku terputus saat kudengar jeruji sel terbuka. Seorang sipir mendekat, melepas pasunganku. "Ayo, Bung. Sidangmu akan segera dimulai. Bawa bukunya juga, " ia berujar. Aku menurut, membiarkan ia menuntunku ke ruangan sidang. Dalam hukum Feendrache, sang Raja sendiri yang akan memutuskan hukuman bagi para terdakwa. Aku harus bisa meyakinkan beliau bahwa aku tidak bersalah.
-"id norine ninna, song"-
"Salam sejahtera bagi Anda, Yang Mulia. Semoga perlindungan dari Lady Sylph selalu menyertai."
Membuka kesaksianku, aku menatap hadirin sidang dengan percaya diri. Sesaat aku merinding melihat Isabella duduk di sebelah Raja Josef; dari sorot mata wanita itu saja aku sudah tahu bahwa ia merencanakan kudeta. Namun di sini tanganku terikat; ditambah aku masih harus berjuang untuk kebebasan.
"Laporan dari kesatria yang menginterogasimu menyatakan bahwa kau baru sebulan tinggal di sini, namun kau sudah amat fasih dengan salam resmi bangsa Feendrache." Raja Josef berkomentar. "Silakan, kenalkan dirimu."
"Keluarga yang mempekerjakan saya adalah pribumi Feendrache, dan mereka mengajari saya banyak hal tentang adat-istiadat bangsa ini." Atau tepatnya, aku sendiri adalah pribumi Feendrache sejak awal. "Nama saya Lanford Charette, saya adalah seorang kesatria pengelana. Saat ini saya bekerja sebagai pegawai di toko buku Frostlake, yang terletak di daerah timur ibukota."
"Dari seorang kesatria menjadi pegawai toko buku? Baru kali ini aku mendengar hal semacam itu." Isabella berkomentar. "Apa kau tidak malu?"
"Asalkan itu pekerjaan halal, saya tidak akan malu menjalankannya. Bekerja di toko buku memudahkan saya untuk belajar tentang taktik berperang dan ilmu lainnya." protesku. "Lagipula, saya tetap menjaga latihan rutin setiap hari."
Isabella kemudian memeriksa buku yang kubawa dari penjara; membaca isinya dengan teliti. "Kapan kau menulis semua ini?"
"Di sel penahanan, selagi menunggu sidang."
"Apa yang ia tulis, Isabella?"
"Hanya nasihat-nasihat hidup. Tidak ada yang mencurigakan, untuk sekarang. Untuk siapa kau menulis semua ini, Sir Lanford?"
"Saya menulis itu untuk Lancelot, putra dari pemilik toko buku tempat saya bekerja. Andaikan saya kemudian terbukti bersalah, saya ingin buku itu dikirim padanya."
"Jika diingat lagi, kesatria yang menangkapmu melaporkan bahwa kau terlihat bersama dua orang anak laki-laki. Apa 'Lancelot' yang kau maksud salah satu dari mereka? Selain itu, apakah tuduhan bahwa kau berniat buruk pada anak-anak tersebut benar?"
"Benar, Yang Mulia." Aku mengangguk. Waktunya untuk menyampaikan argumen. "Namun, saya keberatan dengan tuduhan tersebut. Saat itu, saya mengajak mereka untuk menemani saya berlatih di delta Nymenche yang terletak tidak jauh dari desa Drachenmeer. Kami sudah sering melakukan itu sejak sebulan terakhir."
"Kami menerima kesaksianmu. Namun, tetap saja kami butuh bukti lebih. Juga, untuk menjawab pertanyaan mengenai asalmu dan lambang kerajaan Feendrache di pelat dada zirahmu. Kami peringatkan bahwa jika kau tidak mampu menjelaskan masalah tersebut, kami akan mendakwamu dengan tuduhan pemalsuan identitas kerajaan, atau bahkan spionase."
Sial. Tentu saja sang Raja akan menuntut bukti... sementara aku tidak membawa apa pun. Jika sudah begini, besar kemungkinan aku akan dinyatakan bersalah. Aku ingat betul hukuman apa yang menanti mata-mata yang menolak membocorkan asal-usulnya: pengasingan, atau dalam skenario terburuk, eksekusi. Bukannya aku takut menghadapi kematian, namun aku mengkhawatirkan keadaan mereka yang menunggu di masa depan ...
Baru saja aku hendak menjawab, seorang kesatria datang ke aula sidang dan melapor. "Yang Mulia, kami kedatangan tamu yang mengaku berpihak pada terdakwa. Tamu tersebut mengajukan izin untuk menyampaikan pembelaan. Tamu tersebut memperkenalkan diri sebagai ..."
Tunggu, pembelaan? Siapa yang datang kemari? Apa mungkin saat aku ditangkap, anak-anak itu memberitahu Ibu? Tapi, rasanya mustahil ... di masa ini wanita masih belum boleh menyampaikan kesaksian dalam sidang, kecuali Isabella selaku Konsulat Agung. Besar kemungkinan bahwa pendapat Ibu tidak akan didengar ... namun bagaimana jika justru Ayah yang datang? Ah, sayang aku tidak bisa mendengar nama yang disebutkan dengan jelas.
Sang Raja memberikan izin kepada tamu tersebut untuk masuk sesaat setelah mendengar namanya. Sesaat kemudian, pintu terbuka; sosok yang kulihat jauh di luar dugaan. Seorang wanita bergaun biru gentian, dengan tudung putih menyembunyikan wajahnya. Aku tidak merasa mengenalnya ... mengapa ia datang membelaku?
"Kami pikir kau tidak akan kembali lagi, Lady of The Lake. Selamat datang kembali." sambut Raja Josef, terkesima.
Lady of the Lake! Aku baru ingat ... tokoh penyihir yang menguasai danau di cerita itu sebenarnya berasal dari legenda lama yang tersebar di Feendrache. Sang Lady dikenal sebagai salah satu penyihir ternama di Feendrache, dikisahkan bahwa ia berjasa besar dalam awal sejarah kerajaan ini. Ia dipercaya sebagai Konsulat Agung dalam pemerintahan sebelumnya, bahkan seharusnya ia menjabat lagi dalam masa pemerintahan Raja Josef. Namun, disinyalir bahwa sang Lady terlibat dalam meletusnya teror Fafnir ... dan sejak saat itu posisinya digantikan oleh Isabella.
"Beraninya kau kembali lagi setelah memicu ketakutan bagi kerajaan ini." sindir Isabella. "Pendapatmu tidak berpengaruh dalam sidang ini."
"Ayolah, bisakah kau sedikit lebih hormat pada seseorang yang lebih lama berjasa untuk Feendrache daripada kau?" Sang Lady menyindir balik. "Salam sejahtera, Yang Mulia. Semoga perlindungan Lady Sylph selalu menyertai. Izinkan saya untuk menyampaikan pembelaan terhadap Sir Lanford Charette ..." Sang Lady mulai berargumen. "Tentang lambang kerajaan Feendrache di zirahnya, sebenarnya Sir Lanford Charette adalah muridku. Aku mengirim ia mengarungi angkasa untuk mencari pengetahuan baru, dan ia baru kembali ke Feendrache sebulan lalu. Aku sengaja mengukir lambang tersebut supaya ia tidak lupa akan asal-usulnya."
Aku hanya terpaku, tidak dapat merespon apa-apa. Mungkin wanita itu sebenarnya Clothos dalam penyamaran, tidak mungkin ia bisa mengarang alasan sesempurna itu. Jika Clothos sampai turun tangan, apa itu artinya aku melakukan kesalahan?
"Jika itu benar, mengapa Sir Lanford tidak menjawab saat kami menanyainya?" Rupanya Raja Josef masih belum percaya.
Aku tidak bisa diam saja dan menyerahkan nasib pada orang lain, maka aku segera mengambil alih, "Sang Lady mengajarkan saya untuk selalu merahasiakan asal usul saya, dan kebiasaan tersebut masih bertahan hingga hari ini. Saya memohon maaf yang sebesar-besarnya apabila hal tersebut menghambat jalannya penyelidikan terhadap diri saya."
Senyap. Sang Raja kemudian mohon diri untuk berunding dengan Isabella dan beberapa kesatria yang menyaksikan jalannya sidang, meninggalkan aku bersama sang Lady. Ia menepuk bahuku seraya berkata, "Jangan khawatir, kau akan bebas." Namun itu sama sekali tidak menjawab rasa penasaranku; siapa sebenarnya wanita itu?
Sebelum sempat aku bertanya, sang Raja sudah kembali ke aula sidang. "Setelah mendengar kesaksianmu, juga keterangan dari Yang Terhormat Lady of the Lake, maka kami menyatakan bahwa kau, Sir Lanford Charette, tidak bersalah dalam kasus ini."
Barulah pada saat itu aku bisa bernapas lega. Usai mengucapkan terima kasih pada sang Raja, aku dipersilakan untuk meninggalkan aula sidang menuju lorong utama, di mana para kesatria yang tadi menginterogasiku akan mengembalikan semua barang-barangku yang sempat disita. Tidak hanya itu, mereka juga mengembalikan buku catatanku selama ditahan; aku tetap akan memberikan buku itu pada Lance setelah aku kembali ke desa.
Tapi, sepertinya aku tidak akan pulang seorang diri. Sang Lady bersikeras agar aku ikut dengannya, kembali ke desa Drachenmeer melalui jalur hutan. Akan lebih aman di sana, begitu katanya. Aku hanya menurut, lagipula ia belum memberitahuku identitas aslinya.
"Ngomong-ngomong, terima kasih sudah membantuku." Setelah semua yang terjadi hari ini, tidak baik rasanya jika aku lupa berterima kasih. "Walau sebenarnya aku tidak mengenalmu sama sekali."
"Bukan apa-apa. Aku hanya melakukan apa yang harus dilakukan."
"Tapi, serius ... dari mana kau tahu soal semua itu tadi?" Aku tahu itu pertanyaan konyol; ia penyihir hebat, ia bisa melakukan apa saja yang ia mau ... tapi aku masih menuntut alasan.
Sang Lady berhenti, berbalik untuk menatapku. "Tadi pagi Lancelot dan Vane pulang sambil menangis, berkata bahwa kau ditangkap oleh kesatria kerajaan ..." Dengan cepat, ia menyingkap tudung yang menaungi wajahnya. "Aku tidak ingin mereka berpisah terlalu lama dengan kakak kesayangan mereka."
Wajah itu ... aku tidak menyangka akan melihat sosok itu di balik tudung yang ia kenakan. Bahkan aku sama sekali tidak menduga bahwa Lady of the Lake itu adalah ...
"Lady Elaine?"
"Hush, hush, santai saja. Kamu nggak perlu berpura-pura lagi." Ibu mendekat dan menyentil dahiku. "Dari awal Ibu tahu itu kamu, Lancelot."
Ibu biasa menyentil dahiku kalau aku nakal ... ah, tidak mungkin. "Tunggu ... Ibu pasti berada dalam pengaruh Clothos, kan?" sanggahku. Kali ini aku tidak akan lengah lagi.
"Clothos? Siapa?"
"Um... salah satu dari tiga aspek Moirai, pengawas masa lalu."
"Hmm, dulunya, sih. Waktu malam sebelum ulang tahunmu. Tapi sekarang Ibu bertindak atas kesadaran Ibu sendiri. Ayo, jalan. Matahari sudah mulai terbenam."
Aku menurut. Jadi selama ini Ibu tahu sejak awal. Pantas saja Ibu langsung menawariku pekerjaan di toko milik Ayah, padahal seharusnya kami 'tidak saling mengenal' saat itu.
"Jadi Ibu sebenarnya penyihir." Aku bergumam, "Pantas saja dulu Ibu tahu betul apa yang harus dilakukan saat sihir esku bangkit waktu itu."
"Mantan penyihir, tepatnya." sela Ibu, "Ibu sudah bersumpah buat berhenti memakai sihir dan hidup sebagai ibu rumah tangga biasa sejak kamu lahir."
"Kalau Ibu memang Lady of the Lake yang ternama itu, kenapa Ibu nggak kembali dan jadi Konsulat Agung kerajaan?" tanyaku. Akan lebih baik jika wanita seperti Ibu menjadi Konsulat Agung; dengan bantuannya, Feendrache tentu akan lebih berjaya.
Ibu menggeleng. "Gelar 'Lady of the Lake' itu sebenarnya herediter, diwariskan dari generasi ke generasi. Asal kamu tahu, Lady of the Lake generasi sebelumnya sama sekali nggak berkerabat sama kita. Kebanyakan guru Ibu waktu Ibu masih jadi penyihir. Sebelum sempat Ibu terima gelar itu, santer tuduhan bahwa kami terlibat dalam tragedi Fafnir pertama. Kamu tahu siapa yang sebarkan tuduhan itu? Ya, Isabella tadi. Dan sejak saat itu silsilah Lady of the Lake dihapus permanen." Sorot matanya sendu, namun ia berusaha untuk tersenyum. "Ibu memang sempat depresi waktu itu, Ibu berhenti jadi penyihir dan kabur ke hutan untuk tinggal sendirian dan berkebun tanaman obat. Tapi, dari situlah Ibu bisa ketemu ayahmu."
"Pantas saja ramuan obat racikan Ibu selalu manjur." komentarku. Isabella ... tidak cukup menghancurkan hidupku, ia pernah menghancurkan hidup ibuku juga. "Tapi pada akhirnya Ibu klaim gelar itu juga. Dan sumpah Ibu ..."
"Itu terpaksa. Selama Ibu belum rapal mantra apa pun, sumpah Ibu tetap utuh. Nanti malam, Ibu akan kembalikan gelar ini ke danau Drachenmeer."
"Apa Ayah tahu soal ini?"
"Tergantung konteksnya. Ibu penerus gelar Lady of the Lake? Dia tahu. Kamu datang dari masa depan? Dia nggak tahu."
Lembayung mulai mewarnai angkasa selagi kami meneruskan perjalanan pulang. Terlalu banyak hal gila yang terjadi selama aku di sini. Tidak hanya ujian, rahasia masa lalu keluargaku juga terungkap ... rupanya masih banyak yang tidak aku ketahui tentang sejarahku sendiri. Bahkan, jika dipikir lagi, ada sebuah kejadian penting yang sampai hari ini masih sulit kuingat ...
Mendadak, Ibu berhenti lagi. Sorot matanya nanar. "Jangan-jangan..."
"Ibu, ada apa?" tanyaku, cemas.
"Ada sesuatu yang terjadi di danau Drachenmeer." bisiknya. "Lancelot, kamu duluan. Kamu jalan aja terus ke arah barat, nanti kamu sampai di danau. Cepat, nanti Ibu nyusul."
"Iya, Ibu." Aku memeluk Ibu singkat, sebelum bersicepat ke arah barat. "Aku tunggu Ibu di sana!"
Menyusuri hutan secepat yang aku bisa, awalnya aku ingin bertanya dulu pada Ibu tentang apa yang terjadi di sana. Tapi, melihat air mukanya yang penuh kekhawatiran itu... mungkin sifatnya darurat. Apa pun itu, aku tidak boleh membuang-buang waktu.
Bersambung.
