Halo, di sini Shuukou.
Inilah chapter ketujuh dari Project Hourglass! Shuukou meminta maaf karena update di FFN ini nggak sinkron sama versi AO3; selain Shuukou yang harus nunggu paket Midnight juga karena sibuk grinding Windhose :') tapi kali ini aku update 2 chapter sekaligus, jadi habis ini tinggal baca yang berikutnya.
Selamat membaca!
"Lance! Di mana kau?"
Melangkah dengan hati-hati, ku telusuri labirin es yang meliputi tepian danau Drachenmeer. Begitu aku sampai, tempat ini sudah tertutup jarum-jarum es raksasa; Vane yang menunggu di tepian memberitahu bahwa Lance masih terjebak di dalam. Memang, akan lebih mudah jika aku menggunakan Altachiara untuk menebas serpihan es yang menghalangi, namun sihir esku menjadi tidak terkendali saat aku menghunusnya. Aku tidak ingin Vane sampai terluka, jadi kuurungkan niat tersebut.
"Tadi aku sama Lanchan main berdua di tepian danau. Tapi, sebelum pulang, Lanchan balik lagi ke danau, katanya mau cuci muka dulu. Terus, dari tangan Lanchan muncul serpihan es. … Lanchan suruh aku pergi jauh, katanya bahaya kalau aku dekat-dekat dengannya. Semuanya beku," begitu cerita Vane sebelumnya, membuatku teringat akan hari di mana sihir es milikku bangkit untuk pertama kalinya. Mungkin itu sebabnya aku tidak bisa menggunakan Altachiara; karena lonjakan energi sihir dari Lance cukup besar, pengaruhnya bertabrakan dengan sihirku sendiri. Kami memang tidak seharusnya bertemu.
"Lance, kau dengar aku? Ini aku, Kakak Kesatria!" Kupanggil namanya lagi. "Jangan takut, aku bakal bantu kamu keluar dari sini!"
Sesaat aku meniup telapak tangan, berusaha menangkal dingin yang menggigit. Sekalipun es dan salju berada dalam kendaliku, bukan berarti aku resisten terhadap cuaca dingin …. Aku harus membawa Lance keluar dari sini secepatnya!
Tidak lama kemudian, kulihat Lance terduduk seorang diri, ketakutan. "Kakak Kesatria …. Jangan, jangan mendekat!"
"Di situ kamu rupanya. Kamu diam di sana," Aku tidak menggubris larangan itu. Pelan-pelan, kudekati anak itu; rasa gentar di wajahnya semakin kuat setiap kali aku melangkah. "Kamu nggak usah takut … semuanya bakal–argh!"
Sebelum sempat aku meraih tangan Lance, sebilah kristal es tajam muncul dari bawah dan menembus bahu kiriku.
"Kakak!" Lance mulai menangis. "Aku minta maaf … aku minta maaf!"
Entah bagaimana, kristal es yang menusuk bahuku luruh menjadi salju. Aku jatuh berlutut; namun secepatnya aku berusaha bangkit dan melangkah ke arahnya. "Lance, kamu nggak usah khawatirkan Kakak …."
"Tapi … tapi Kakak terluka. Dan itu salahku!"
"Luka Kakak nggak separah itu, kok. Kakak ngerti kamu takut, tapi kamu bisa kendalikan kekuatanmu ini."
Lance malah melepas rompinya dan memberikannya padaku. "Tapi tetap aja, aku … aku harus tanggung jawab! Ini rompi kesayanganku, aku nggak suka kalau rompi ini sampai kotor. Tapi buat sekarang nggak apa-apa kalau kena darah Kakak."
"Jangan. Kakak nggak mau kamu kedinginan." Aku menolak pemberiannya.
"Nggak apa-apa, Kak. Aku nggak kedinginan di sini." Lance menggeleng. "Pakai aja, ya …?"
"Hhh … iya, deh. Makasih, Lance." Akhirnya kupakai rompi itu untuk menutupi lukaku, menahannya dengan tangan kanan. "Ayo, kita keluar dari sini."
"I-iya, Kak." Lance mengangguk.
Menyusuri kembali labirin es ini dengan agak tertatih, aku mulai membantunya merasa lebih tenang. "Sambil jalan, Kakak bakal bantu kamu kendalikan kekuatanmu. Dengarkan baik-baik; Kakak ucapkan sekali, terus kamu ulang. Aku nggak takut dengan kekuatan yang kupunya ini."
"A-aku …." Lance agak tergagap, "Aku nggak takut dengan kekuatan yang kupunya ini."
"Coba katakan sekali lagi."
"Aku nggak takut dengan kekuatan yang kupunya ini."
"Bagus. Terus yakinkan dirimu sendiri kalau kamu nggak takut. Dengan begitu, kamu bisa kendalikan kekuatanmu."
"Tapi … kenapa aku bisa punya kekuatan ini? Padahal Ayah dan Ibu orang biasa."
Rupanya ia masih belum sadar kalau ibunya sebetulnya adalah mantan penyihir. Biarlah itu menjadi rahasia untuk sekarang. "Siapa tahu? Yang harus kamu tahu … kamu beruntung. Andaikan kamu jadi seorang kesatria di masa depan, kamu bisa pakai kekuatanmu untuk melindungi Feendrache."
"Serius, Kak?"
"Kakak serius."
Pelan tapi pasti, suara Lance berangsur lebih tenang, diiringi dengan luruhnya serpihan es yang mengelilingi kami. Di saat yang sama, kepalaku mulai terasa berat; aku mulai kehilangan darah. Kuputuskan untuk tetap hening, mengalihkan tenaga yang tersisa untuk menghentikan pendarahan di bahuku. Sebentar lagi Ibu akan sampai … aku harus bertahan sedikit lagi.
"Sekarang aku udah merasa baikan–lho, Kakak?" Lance menggenggam tangan kiriku, rupanya ia sadar bahwa kondisiku mulai menurun. "Kakak kenapa?"
"Baguslah kalau kamu udah tenang …." desisku, "Kakak cuma … ah, lihat. Itu Vane."
Vane menghampiri kami, segera memeluk Lance. "Lanchan! Syukurlah kamu nggak apa-apa …. Eh, kenapa Kakak Kesatria berdarah-darah gitu?"
Lance balas memeluknya. "Kakak Kesatria sempat terluka di sana, tapi …."
Namun tubuhku sudah tidak sanggup lagi. Kudengar Lance dan Vane memanggil namaku, namun suara mereka semakin menghilang ….
-ig norine lansett, sh-
Hampa.
Apa mungkin aku sudah mati?
Terbunuh oleh diriku sendiri. Benar-benar ironis.
Namun aku sama sekali tidak menyalahkan siapa pun. Semua ini salahku.
Maaf, Vane. Aku gagal menepati janjiku untuk segera kembali.
Maaf, Kapten. Aku mengundurkan diri dari kru pimpinanmu selamanya, tanpa permisi.
Maaf, Sir Siegfried. Kuharap kau sudi membimbing Vane sebagai kapten Ordo Kesatria Naga Putih yang baru.
Maaf, Percival. Aku ini memang ceroboh dan sering lengah.
Aku akan selalu merindukan kalian.
Setelah ini, apa yang akan terjadi?
Apa aku terjebak dalam kekosongan ini?
Atau aku harus menunggu hingga riwayat seluruh langit usai?
"Hei, kau."
Seorang gadis kecil mendekat. Mirip Lachesis, tapi jauh lebih muda.
Bukankah seharusnya Atropos yang menemuiku? Kenapa justru Clothos yang datang?
Gadis kecil itu memberiku sekeranjang bunga.
"Kau ini nekat, ya. Meleset sedikit, bisa saja jantungmu yang kena. Jika kau mati di sini, kau tidak akan pernah bisa pulang."
Ah, rupanya aku masih hidup.
"Tapi bukan penghuni angkasa namanya kalau tidak nekat. Kalian mati-matian berperang melawan Astral yang katanya tidak tertandingi, dan berhasil."
Bunga-bunga di keranjang itu berganti warna menjadi biru. Ia tersenyum.
"Tapi, pada akhirnya, kau berhasil dalam ujianku. Selamat."
Bernapas lega, aku tersenyum puas. Akhirnya aku bisa pulang.
"Kau akan pulang minggu depan. Sampai hari itu tiba, kau boleh menghabiskan sisa waktumu dengan 'adik-adikmu' itu."
Senyap.
Kesadaranku mulai pulih. Menatap sekitar, aku menyadari bahwa aku berada di klinik tempat aku terbangun di masa lalu untuk pertama kalinya. Segalanya bermula dari sini, dan akan berakhir di sini pula; sungguh kebetulan yang menarik. Kulihat Lance menyandarkan kepala ke sisi kiri tempat tidur; terlelap.
Dengan hati-hati, kuusap rambutnya. "Lance, bangun."
Sesaat kemudian, ia terjaga. "Kakak Kesatria … ah, Kakak Kesatria!" Ia bangkit dan menatapku, senyumnya mulai merekah. "Syukurlah Kakak udah sadar …."
Aku terkekeh. "Kamu sendiri, kenapa masih di sini? Nanti ayahmu marah kalau kamu pulang terlambat."
"Aku udah minta izin sama Ayah, kok. Lagian, sekarang masih siang."
"Siang?" Kalau kuingat, kejadian di danau itu berlangsung saat senja. "Udah berapa lama Kakak tertidur?"
"Seharian penuh, Kak."
"Begitu, ya." Itu berarti, hampir dua hari aku tidak sadar. Sisa waktuku tinggal 5 hari lagi …. "Kamu sekarang baik-baik aja, kan?"
"Kata Ibu, sementara aku pakai sarung tangan dulu." ujarnya, menunjukkan sarung tangan putih yang membalut kedua tangannya. "Sebenarnya aku masih agak takut … tapi aku ingat nasihat Kakak dulu. Aku coba ulang-ulang kalimat itu, dan hasilnya lumayan."
"Lama-lama kamu bakal terbiasa, kok. Nanti, kalau Kakak udah sembuh, Kakak bakal ajarin kamu cara kendalikan kekuatanmu. Kakak juga 'kan punya sihir es."
"Oh, oh iya! Akhirnya aku bisa beneran latihan sama Kakak!"
Keceriaan semakin terlihat di wajahnya. Aku mengerti perasaannya; selama ini ia hanya menyimak saja, dan baru sekarang ia bisa benar-benar melakukan sesuatu. Andai saja aku bisa sedikit lebih lama di sini, membantu ia berlatih setiap hari …. Namun, seperti anak burung, suatu saat ia harus terbang dengan sayapnya sendiri. Kemandirian itulah yang akan membantunya.
"Ngomong-ngomong, Kak, waktu Kakak ditangkap tiga hari lalu … apa mereka jahat sama Kakak?" Lance bertanya. Ah, ia tentu masih teringat akan insiden itu.
Aku menggeleng. "Enggak, kok. Kakak memang sempat dipenjara waktu itu, tapi Kakak nggak kenapa-kenapa."
"Syukurlah. Dari kemarin Vane cemas, dia takut Kakak nggak akan pulang lagi."
"Oh, Vane! Dia di mana?"
"Katanya sih, Vane minta kasih tahu kalau Kakak udah sadar … a-aku ke rumah Vane dulu, ya!" pamitnya.
"Oke, deh. Hati-hati di jalan."
Kemudian, Lance berlalu. Jika ujian ini dianggap berhasil, mungkin saja ia akan lupa semua ini; hidup sebulan bersama seorang 'kesatria pengelana' yang ia anggap sebagai kakaknya sendiri. Tapi, apa aku bisa tetap mengingat pengalaman ini?
-corvus norine lansett, gen-
Rupanya, masa rawat inapku berlangsung lebih lama dari yang kukira. Empat hari berlalu sejak aku terbangun di klinik, dan sekarang aku baru bisa pulang. Sekalipun lengan kiriku masih terasa sakit saat digerakkan, hal itu sama sekali tidak menghalangiku untuk menepati janji pada Lance.
Sore itu, pukul empat. Bersama Lance dan Vane, aku menikmati sepotong sandwich selagi memandang matahari yang mulai tenggelam. Latihan kali ini cukup menguras tenaga; selain membantu Lance belajar mengendalikan kekuatan barunya, aku juga mengajarkan mereka tentang teknik bertahan hidup sederhana.
"Kakak, dari tadi aku penasaran," Lance mencelupkan jarinya ke sungai,
"Dulu, waktu aku cuci tangan dan mukaku pakai air danau, airnya tiba-tiba beku. Kenapa air sungai nggak beku juga? Padahal aku ingin coba bekukan air sungai juga, tapi gagal terus."
"Hmm, mungkin kamu masih belum kuat? Eh, tapi waktu itu … kamu bisa buat labirin es yang hampir seluas danau itu."
"Apa mungkin itu pengaruh danaunya? Nenekku cerita kalau danau Drachenmeer dulunya tempat keramat, suka dipakai ritual sihir." terka Vane.
Benar juga, ya; penyihir dalam legenda itu tidak mungkin digelari 'Lady of the Lake' jika ia tidak punya danau untuk dikuasai. Bahkan, Ibu bisa langsung merasakan apa yang terjadi di sana dari bermil-mil jauhnya.
"Kalau gitu, mungkin air danau itu bisa jadi medium sihir." Aku balas menerka.
"Medium sihir?" Kedua anak itu menatapku heran.
"Medium itu … alat atau benda yang bisa menyalurkan sihir. Kalian tahu, kan, penyihir biasanya bawa tongkat sihir atau buku mantra? Nah, itu juga medium sihir."
"Terus, medium sihir Kakak apa? Kakak kan nggak bawa tongkat sihir." tanya Vane.
Lance menimpali, "Kakak juga nggak pernah bawa buku mantra, tuh."
"Kalau itu, sih …." Aku menghunus salah satu pedangku, "Kalian lihat kristal biru di sepanjang bilahnya? Itu dia medium sihir yang Kakak pakai." Ingin sekali aku bercerita lebih banyak, namun malam ini aku akan kembali ke masaku. "Kalian, ayo pulang sekarang. Mumpung belum terlalu sore." "Oke, Kak!"
Sepanjang perjalanan pulang, Lance dan Vane menyanyikan lagu kebangsaan Feendrache dengan riang. Berjalan tegap layaknya seorang kesatria, mereka menyerukan janji untuk 'melindungi segenap tumpah darah Feendrache, dan membawa Feendrache menuju kejayaan'. Terbayang olehku bahwa anak-anak itu telah tumbuh dewasa, dalam zirah kesatria, pulang bersama setelah menjalankan tugas.
Lance akan tumbuh menjadi aku, kapten Ordo Kesatria Naga Putih yang dipercaya oleh sang Raja sebagai ujung tombak perjuangan. Vane, yah, ia tetap Vane; keberanian telah mekar sempurna di jiwanya, menjadi wakilku yang setia dan pantang menyerah. Namun kebaikan hatinya tidak padam, menjadikannya sebagai sosok panutan.
"Tak gentar bagaikan naga, penuh kasih bak kupu-kupu … itulah kami, kesatria Feendrache!" Lance bernyanyi.
Vane menyambung, "Sayap-sayap hitam putih, terbang tinggi menembus angkasa … itulah kami, kesatria Feendrache~"
Mendengar antusiasme mereka, aku tidak tahan untuk ikut bersenandung. "Di bawah naungan awan kami berjanji, akan mengabdi sepenuh hati …. "
"Eh, Kakak hafal lagunya?" Lance menyela.
"I-iya, Kakak udah belajar …." balasku canggung. "Ayo, kita lanjut nyanyi sama-sama. Tiga, dua, satu!"
"Menjunjung tinggi kehormatan, kedamaian, dan harapan, … agar Feendrache berjaya senantiasa!"
Sesi bernyanyi bersama itu diakhiri dengan seruan 'Glory to Feendrache!' yang penuh semangat dari anak-anak itu. Aku hanya tertawa; tertular energi mereka yang meluap, namun di sisi lain aku benci harus mematahkan antusiasme mereka dengan berita kepergianku malam ini. Namun, apa boleh buat. Aku harus jujur.
"Hei, kalian." Aku mulai berbicara, "Sebelumnya maaf Kakak baru jujur sekarang, tapi … malam ini Kakak harus pergi."
"Hah?" Vane berhenti. "Kakak jadi pergi?"
"Katanya Kakak bakal lama di sini." protes Lance.
"Maaf." Menyamakan tinggi dengan mereka, aku menunduk tanda menyesal. "Tapi Kakak harus lanjutkan perjalanan Kakak. Kesatria pengelana itu nggak jauh beda dengan petualang angkasa, pergi ke banyak tempat dan bantu banyak orang."
Vane hampir saja menangis, namun segera ia seka air matanya. "T-tapi, Kakak bakal pulang ke Feendrache, kan?"
"Kakak … Kakak pasti pulang ke Feendrache, kok. Sekarang, ada yang mau Kakak bilang ke kalian." Kembali menatap mereka, kutepuk bahu Lance seraya berkata, "Lance, mungkin menurut teman-teman kamu yang lain cita-cita kamu itu nggak masuk akal. Mungkin kata mereka nggak mungkin anak desa bisa jadi kesatria kerajaan. Tapi kamu bisa buktikan kalau mereka salah. Kakak titip, setelah Kakak pergi kamu harus rajin belajar dan berlatih. Kalau usiamu udah 12 tahun, kamu mulailah belajar berpedang. Manfaatkan kekuatanmu untuk hal-hal yang berguna. Oke?"
"Iya, Kak. Aku bakal rajin latihan mulai sekarang. "
Kemudian, kuusap rambut Vane. "Vane, Kakak ngerti kalau kamu ingin jadi lebih berani. Tapi, keramahan hati dan sikap setia kawan juga punya kekuatan tersendiri. Jangan sampai sikap 'nggak takut apa pun' itu buat kamu lengah dan nggak peduli sama orang lain. Sayangi teman-temanmu dan bersikap baiklah sama mereka, ya?"
"Iya, Kak. Aku janji bakal peduli sama teman-temanku, terutama Lanchan!"
"Itu baru Vane yang Kakak kenal. Sebelum Kakak pergi, Kakak ingin peluk kalian." Dengan satu tangan, kurangkul mereka berdua. "Makasih banyak buat semuanya. Kalian udah anggap Kakak sebagai teman, dan Kakak bakal selalu ingat pengalaman berharga selama di sini sama kalian."
-ad norine gemmai, fe-
Bersambung.
