Halo, di sini Shuukou.

Inilah chapter penghabisan dari Project Hourglass. Shuukou berterima kasih atas support kalian, yang sudah baca, meninggalkan Reviews dan Favorites. Walau nggak banyak, tapi Shuukou sangat bersyukur.

Sampai berjumpa lagi di karyaku selanjutnya! Dan selamat membaca.


"Sir Banwick, maaf karena berita pengunduran diri saya terlalu mendadak."

Usai mengepak barang-barangku, aku berpamitan pada Ayah. Cuaca malam ini cukup cerah, sesuai untuk penerbangan malam; setidaknya itu yang ia duga. Seharusnya aku pulang dengan cara yang sama dengan saat aku datang: jatuh ke dasar langit. Namun pulau ini terlalu luas, akan memakan waktu terlalu lama untuk sampai di ujungnya. Jadi, Clothos memutuskan untuk menggunakan jalur lain, tapi aku belum tahu di mana tepatnya.

"Tidak apa-apa, Sir Lanford. Orang-orang datang dan pergi. Kau memang hanya bekerja sebulan, namun aku berterima kasih atas kinerjamu."

"Sungguh sebuah kehormatan bagi saya untuk menjadi mitra kerja Anda. Terima kasih atas kebaikan Anda selama ini."

"Terima kasih kembali karena telah menjadi mentor yang baik bagi putraku. Ia akan sangat merindukanmu."

"Aku juga akan merindukan dia." Kulempar pandangan pada pintu kamar Lance yang masih terbuka ; menatapnya yang tenggelam dalam mimpi. "Lance sudah kuanggap sebagai adikku sendiri."

"Sir Lanford, kau sudah siap? Kita tidak boleh terlambat!" Ibu menyahut dari luar.

"Aku akan segera ke sana!" balasku, "Kalau begitu, saya berangkat sekarang."

"Tunggu, kalau tidak salah sebelah tanganmu masih terluka. Biar kubantu kau membawa kopermu."

Aku menggeleng. "Tidak, terima kasih. Sampai bertemu lagi, Sir."

Lantas, aku berangkat bersama Ibu ke tempat yang dimaksud oleh Clothos. Sayup-sayup kudengar Ayah berkata, 'semoga Lady Sylph selalu melindungi!'. Ayah ... walaupun suatu saat nanti Sylph akan kehilangan posisi sebagai figur paling berpengaruh di Feendrache, ia tidak pernah berhenti menghormatinya.

Perjalanan kami berakhir di danau Drachenmeer, di mana Clothos telah menanti. Jadi ini tempat yang Clothos pilih ... pantas saja Ibu seperti tahu betul ke mana ia harus pergi.

"Selamat atas keberhasilanmu, Kesatria." Clothos menyambut, "Ini momen yang kau tunggu: kepulangan ke linimasamu."

"Terima kasih. Tapi, kalau boleh tahu ... apa yang akan terjadi pada semua orang di linimasa ini?"

"Mereka akan lupa akan keberadaanmu. Sederhana saja."

Aku terdiam sejenak, terbayang akan anak-anak itu. Setidaknya aku sudah meninggalkan buku catatanku selama ditahan, juga bunga astragalus pemberian Lady Sylph. Walau kemudian mereka tidak akan ingat siapa itu 'Lanford Charette' ...

"Bagaimana denganku?" Aku bertanya lagi.

"Kau dan Lance kecil kan satu orang yang sama, jadi kau juga akan lupa semua ini. Namun kau tetap ingat garis besar ujian ini."

"Kalau begitu ..." Selagi masih sempat, kualihkan perhatian pada Ibu. Aku ingin mengungkapkan sesuatu padanya. "Sebelum Ibu dan aku lupa semua ini, aku cuma mau bilang makasih buat semuanya. Maaf kalau selama ini aku sering iseng, dan nggak bisa beresin kamar sendiri ... Dan, berkat Ibu juga Ayah, aku bisa jadi seperti sekarang."

"Santai aja, Lancelot." Ibu menyentil dahiku, seperti biasa. "Orangtua harus melakukan yang terbaik buat anaknya, kan? Selain itu, sejak kamu tinggal di sini, kamu mulai belajar buat bersih-bersih kamar sendiri. Setidaknya ada peningkatan, tapi kuharap kamu nggak lupa lagi begitu pulang ke linimasamu."

Usai mengucapkan selamat tinggal pada Ibu, aku ikut dengan Clothos melintasi dermaga kecil yang terbentang di sisi timur danau. Kali ini, Clothos yang membawa koperku; sebagai hadiah kecil atas keberhasilanku, aku boleh menitipkan koper itu padanya, dan akan dikembalikan segera setelah aku sampai di pulau Redimere masa depan.

"Aturannya sederhana, kau tinggal lompat saja." Clothos menjelaskan begitu kami sampai di ujung dermaga, "Tidak usah menahan napas. Kau siap?"

"Siap."

Kutatap Ibu untuk terakhir kali, ia melambaikan tangan dan berseru, 'semangat!'. Menarik napas panjang, aku melompat.

-ar veritae perfetto orwyn,-

Rintik hujan yang membasahi pipi mengembalikan kesadaranku. Menatap sekitar, bunga-bunga astragalus putih bermekaran. Aku ingat betul tempat ini; sewaktu aku, Vane, dan Kapten berarak menuju tebing Providence Edge, kami melintasi padang bunga berwarna putih ini. Rupanya aku benar-benar sudah kembali.

Aku berdiri, menatap angkasa; gerimis, tapi matahari masih bersinar terang. Begitu menoleh, aku menyadari ada seseorang bergaun merah muda duduk seorang diri, tertunduk. Tidak salah lagi, itu pasti Kapten! Segera saja aku berlari ke arahnya. Jika ia ada di sini, bisa dipastikan ia juga berhasil dalam ujian Atropos.

"Kapten, ini aku."

Duduk di hadapannya, kutepuk bahunya pelan. Kusingkap rambut yang menghalangi wajahnya, rupanya ia tertidur. Mungkin ia lelah ... sebaiknya aku tidak mengganggunya. Tapi, tidak baik jika aku membiarkannya sendirian di sini.

"Kapten Djeeta," Kupanggil namanya, "Bangunlah, semuanya sudah selesai. Kita berhasil."

"Uh ... kamu, Sir Lancelot ...?" Ia menengadah, "Tapi, aku lihat kamu jatuh dari ujung tebing ... Kukira kamu nggak selamat."

"Aku baik-baik aja, Kapten. Jangan khawatir." jawabku. "Bagaimana keadaanmu?"

"Aku juga baik-baik aja. Syukurlah kamu nggak apa-apa ..." Kapten tersenyum.

Sesaat kemudian, sebuah sentuhan lembut menyapa jariku. Aku agak terkejut pada awalnya, namun akhirnya kubalas genggaman itu. Walau hanya sebentar, tapi lebih dari cukup untuk melepas rindu.

"Oh, aku hampir lupa! Sir Vane ... kita harus ketemu dia secepatnya!" Ia menarik tanganku, beranjak menuju arah tebing Providence Edge.

"Kamu yakin dia masih di tebing itu? Atau mungkin kamu udah ketemu Vane lebih awal?"

"Belum, sih. Tapi aku pernah lihat di mimpiku kalau ia sering ke sana sejak kamu jatuh."

"Mimpi, ya ... kalau boleh tahu, ujian dari Atropos itu gimana?"

"Capek, pokoknya." Kapten mulai bercerita. "Setelah pertempuran dengan Atropos, aku jatuh tertidur. Begitu bangun, ada lawan baru yang harus kuhadapi. Setiap kali aku menang, aku tertidur lagi dan bermimpi. Di mimpi itulah aku bisa istirahat, sembuhkan lukaku dan bersiap buat pertempuran selanjutnya saat aku bangun lagi. Begitu aja terus selama sebulan. Untungnya, persediaan di dunia mimpi nggak pernah habis, tapi tetep aja nguras tenaga ..."

Bertarung sendirian selama sebulan ... pantas saja ia sempat terlihat putus asa saat halusinasiku dulu. "Tapi pada akhirnya kamu berhasil. Aku bangga padamu, Kapten."

"Makasih." Kapten agak tersipu. "Kamu sendiri, ujiannya gimana?"

"Yah, aku harus hidup di masa lalu selama sebulan. Tapi nggak segampang itu; aku nggak boleh merusak sejarah ... oh, itu Vane."

Pandanganku tertuju pada figur yang berdiri di ujung tebing, pakaian jingga yang ia kenakan kontras dengan birunya langit yang menyelimuti. Vane ... sempat kupikir bahwa aku tidak akan melihat sosok itu lagi.

"Hei, Lanchan, udah sebulan sejak kejadian itu." Ia berujar, tidak menyadari bahwa aku berada di belakangnya. "Gimana kabarmu di sana? Pasti damai, ya, nggak ada lagi kekacauan dan beban. Kamu bisa istirahat sekarang. Aku di sini baik-baik aja, dan sebentar lagi aku akan pulang ke Feendrache. Jadi kebayang begitu aku sampai, kerajaan umumkan periode berkabung selama dua minggu setelah dengar berita kematianmu ... tapi habis itu, aku bakal gantikan posisimu sebagai kapten kesatria dan teruskan perjuanganmu. Aku janji bakal berusaha yang terbaik."

Getir hatiku mendengar kata-katanya, namun kenyataan bahwa suaranya tetap tenang menandakan bahwa ia sudah mampu mengontrol emosi. Aku yakin ia juga akan berhasil dalam ujian Lachesis. Sudah saatnya semua ini berakhir.

Melepaskan diri dari genggaman Kapten, aku menyahut, "Vane, ini aku. Maaf selama sebulan ini buat kamu sedih ..."

Namun Vane bergeming. "Lelucon apa lagi ini? Udah berapa kali kudengar suaramu di belakang, tapi saat aku berbalik nggak ada siapa pun. Kali ini aku nggak akan tertipu." Ia tertawa pahit.

Menghela napas, kuputuskan untuk mendekat dengan langkah pelan. Kalau sudah begini, bicara saja tidak akan meyakinkannya untuk berbalik; aku harus melakukan sesuatu.

Meraih tangannya, kutarik ia menjauhi ujung tebing. "Setidaknya tolong jangan dekat-dekat ujung tebing, Panci. Aku nggak mau lihat kamu jatuh juga, tahu."

"T-Teko! Eh ...?" Terkejut, akhirnya ia mau menoleh. "Lan ... Lanchan? I-ini beneran kamu, kan? Iya, kan?"

"Iya, ini aku, Vane. Lancelot du Lac, sahabatmu dari kecil." Aku mengangguk. "Aku masih hidup, dan-"

Sebelum sempat aku selesai bicara, Vane memelukku. "Sialan! Kukira kamu beneran pergi selamanya, dasar Teko! Sebulan lebih aku susah tidur karena keingat terus sama kejadian itu! Aku ... aku ..."

Barulah pada saat itu tangisnya pecah. Aku balas mendekapnya, mengelus rambutnya pelan. Biarlah ia melampiaskan kesedihannya sepuas mungkin. Vane pantas mendapatkan itu.

"Maaf, Vane. Setidaknya aku akhirnya kembali, kan?" Kutepuk punggungnya lembut.

"Tapi lain kali jangan buang-buang nyawamu kayak gini lagi, oke?!" gertaknya, memelukku lebih erat. "Masih untung kamu bisa pulang kali ini, gimana kalau nanti ... kalau nanti kamu beneran ..."

"Vane, aku paham kamu cemas, tapi ..." Aku meringis. "Tolong jangan peluk aku terlalu erat. Luka di bahuku masih belum sembuh benar ..."

Secepatnya Vane melepasku. "Maaf, Lanchan! Lukamu udah diobati, belum? Biar aku yang periksa."

"Nggak perlu, Vane. Lukanya udah ditangani sebelum aku kembali ke sini, tapi sakitnya masih kerasa. Mungkin sementara aku cuma bisa pakai tangan kanan aja."

"Kalau gitu, aku bakal bantu kamu!" Menyeka air mata, senyum khas Vane kembali terlukis di wajahnya. "Sekarang giliranku buat balas budi."

"Makasih banyak, Vane." Memandang senyum Vane yang begitu ceria membuatku ikut tersenyum. "Oh, iya, Kapten juga ada di sini. Itu dia."

"Sir Vane!" Kapten bergegas menghampiri Vane. "Apa kabar? Aku kangen, lho!"

"Kapten!"

Reuni di antara kami pun berlangsung hangat. Kapten dan Vane berjabat tangan, meluapkan rindu. Bersenda gurau bersama, mengajakku untuk larut dalam keceriaan. Sungguh menyenangkan bisa kembali berada di antara mereka, tertawa lepas seolah tidak terjadi apa-apa sebulan lalu ...

"Lance, ini kopermu!"

Sahutan Clothos memutus senda gurau kami bertiga. Sang pengawas masa lalu itu mendekat, diiringi oleh dua saudarinya; Lachesis dan Atropos. Kami bertiga tentu sudah berhasil dalam ujian mereka, jadi selanjutnya apa yang akan terjadi?

"Kau ini aneh, Clothos. Membawakan koper manusia biasa hanya karena ia berhasil dalam ujianmu? Apa kau tidak punya harga diri?" kritik Lachesis.

"Ayolah, bersikaplah lebih hormat pada jawara pertama kita." desis Clothos. "Lagipula, ini masih wajar. Daripada kau, diam-diam menyabotase kapal mereka agar mereka terjebak di sini. Padahal bisa saja kau pakai kekuatanmu sebagai penguasa pulau ini untuk menahan mereka."

"Tunggu, jadi kau yang sengaja merusak Grandcypher?!" seru Vane.

Kapten berkomentar, "Jadi Grandcypher beneran rusak? Dalam mimpiku aku lihat Rackam dan Eugen bekerja keras perbaiki Grandcypher. Pantesan ..."

"Sebentar, maksudnya gimana?" Aku bertanya, gagal menangkap konteksnya.

Vane menjelaskan, "Jadi, setelah kejadian itu, aku memutuskan buat kembali ke dermaga tempat Grandcypher berlabuh. Tapi, Rackam bilang kapal Grandcypher tiba-tiba rusak. Untungnya kerusakan itu masih bisa ditangani sama Rackam dan Eugen, tapi katanya bakal makan waktu sebulan. Untung aja persediaan di kapal Grandcypher masih cukup ..."

"Dan untungnya juga kalian bertiga berhasil. Perbaikan kapalnya tentu sudah selesai, dan kalian bisa meninggalkan pulau ini." sambung Atropos. "Kalau tidak, bisa saja kru-mu itu mati pelan-pelan di sini, sama seperti mereka yang sebelumnya gagal."

Kemudian, tiga Moirai itu berujar serentak, "Kami ucapkan selamat kepada kalian, Singularitas dan dua naga putih. Sebagai imbalan atas keberhasilan kalian, kami akan memenuhi satu keinginan kalian. Katakanlah."

"Aku ... " Aku terdiam sesaat, "Yang kupinta hanyalah kesungguhan hati. Menurutku, keinginan dan cita-cita tidak sepantasnya diraih pintas."

"Aku setuju denganmu, Sir Lancelot. Itu juga akan menjadi keinginanku." Kapten menimpali.

Vane juga sepakat denganku. "Sesuatu yang diraih dengan kerja keras itu rasanya lebih berharga. Aku juga akan meminta hal yang sama dengan Kapten dan Lanchan."

"Kalau itu keinginan kalian, baiklah." Perlahan, sosok mereka memudar menjadi bulu-bulu putih, melayang terbawa angin. "Sekarang pulanglah, dan teruskan perjalananmu. Namun ingatlah, jalan menuju kedamaian abadi tidak dapat dicapai seorang diri ..."

Pada akhirnya, hanya kami bertiga yang berada di tebing ini, masih belum percaya dengan apa yang terjadi barusan. Kami saling berpandangan, sebelum akhirnya kami memutuskan untuk segera kembali ke dermaga. Tidak baik membuat anggota kru lain menunggu.

"Ngomong-ngomong, Lanchan, koper ini isinya apa?" Vane menenteng koperku tanpa kesulitan. "Kenapa Clothos kasih ini padamu?"

"Zirah sama pedangku. Itu aja. Harusnya zirah itu kupakai saat aku pulang, tapi ... tahu, kan, bahuku masih cedera. Jadi aku simpan semuanya di koper dan titipkan di Clothos."

"Nanti waktu kita sampai di Grandcypher, aku tangani lukamu, ya, biar nggak terlalu sakit." tukas Kapten. "Dulu aku belajar lebih banyak sihir penyembuhan dari Funf, dan aku mau coba praktekkan sekarang."

Aku menolak tawarannya halus, "Nggak usah repot-repot, Kapten. Kamu kan masih lelah, istirahat dulu."

Gerimis masih memenuhi angkasa selagi kami melintasi jalan yang membelah padang bunga putih ini. Jalan yang dulu kami lalui dengan penuh kecurigaan, sekarang dilintasi dengan rasa lega. Syukurlah, semua ini sudah selesai ... namun dalam hati masih ada sesuatu yang mengganjal. Apa benar Vane lupa akan kedatanganku di masa lalunya?

"Vane," Kucoba bertanya, "Kamu ... pernah dengar nama 'Lanford Charette', nggak?"

Sesaat aku berpikir lagi, siapa itu Lanford Charette? Nama itu terlintas begitu saja dalam ingatan ... aku memang ingat bahwa aku berada di masa kecilku sendiri selama Clothos mengujiku, namun aku tidak ingat sama sekali apa yang terjadi selama di sana.

"Hah? Siapa itu? Aku baru dengar namanya." Vane menampik, kebingungan.

"Lupakan. Bukan apa-apa, kok."

"Serius! Kalau orang itu penting buatmu, nanti aku bantu cari dia!" Vane menepuk bahu kananku, "Lagian, kan kita sekarang anggota kru penjelajah langit, tuh, jadi nyari siapa pun nggak akan terlalu susah."

"Vane benar. Aku bisa minta bantuan Sierokarte dan Eugen buat cari orang itu. Mungkin mereka kenal." Kapten ikut mengusulkan.

"Udahlah, kalian ..." Aku memutuskan untuk mengalihkan pembicaraan. "Tapi, um, Kapten, boleh nggak aku pulang ke Feendrache habis ini?"

"Eh, kenapa? Apa ada panggilan tugas lagi dari Raja Carl?"

"Belum, sih. Cuma, yah ... aku kangen sama orangtuaku. Udah lama aku nggak ketemu mereka. Jadi, kali ini tujuanku bukan ke ibukota, tapi ke desa Drachenmeer."

Mendengar nama itu, Vane ikut menimpali, "Kalau gitu, aku juga mau! Kapten dan anggota kru lainnya belum sempat keliling Drachenmeer, kan? Di sana seru, lho. Petik ceri segar di delta Nymenche, susuri hutan Brecheliant, dan yang paling utama adalah ... berperahu di danau Drachenmeer! Kalian pasti suka."

Mendengar penjelasan Vane, Kapten semakin tertarik. "Kalau gitu, bolehlah. Liburan di desa kedengarannya boleh juga. Ditambah, aku ingin ketemu lagi sama ibumu, Sir Lancelot."

Begitu sampai di dermaga, sambutan hangat dari seluruh kru menghujani kami. Lyria dan Vyrn memeluk Kapten erat, cemas akan keadaannya. Vane bergurau dengan Percival, yang mulai tidak tahan dijahili; sementara Sir Siegfried hanya menghela napas. Senang melihat semua orang kembali berbahagia seperti dahulu ...

"Tunggu, itu ... Lancelot?!" Percival akhirnya sadar bahwa aku ada di antara mereka yang kembali. "Waktu itu Vane bilang kalau kau sudah tewas!"

Aku terkekeh. "Ayolah. Kapten kita juga pernah jatuh dari langit, tapi ia selamat. Alasan ia selamat juga susah dijelaskan, sama dengan kasusku."

"Apa pun yang terjadi, kami senang kau kembali, Lancelot." Sir Siegfried menyela, "Juga untuk Vane dan Kapten ... syukurlah kalian bertiga bisa kembali."

"Oi, Djeeta! Vane! Lancelot! Kebetulan kalian sudah pulang!" Rackam menyeru dari geladak kapal. "Aku baru mau kasih tahu kalau kapal Grandcypher sudah diperbaiki, jadi kita bisa keluar dari pulau ini. Kita mau ke mana sekarang, Kapten?"

"Kita ke Feendrache!" balas Kapten, "Kalian tentu bosan, jadi kita berlibur di sana. Sir Lancelot dan Sir Vane akan jadi pemandu wisata kita."

"Oke! Tapi sebelumnya kita transit dulu di Golonzo, ya! Ayo, naik! Kita berangkat sekarang!"

Bersama-sama, kami semua segera memasuki Grandcypher. Menatap pemandangan pulau Redimere untuk terakhir kali, aku hanya tersenyum. Perputaran takdir memang sulit ditebak, ya.

-was eden gauthia, fae orwynh Lac.-

Selesai.