puppy © votreauteur

catmong [ kim wooseok × lee sejin ]

general-lil bit romance / rate-T / lowercase-semi baku

sejin tengah asik bermain dengan peliharaannya di taman tepi sungai, saat tiba-tiba seekor pomerania putih menghampiri ia dan gunbam, shih-tzu peliharaannya.

"dda?"

"ddadda!"

...

taman pinggir sungai pada akhir minggu selalu ramai. sejak pagi hari sudah ada orang yang berkumpul di sekitar. beberapa berolahraga pagi, ada juga yang sekedar berjalan-jalan santai, dan tak sedikit pula yang menghabiskan waktu sejak pagi duduk di rerumputan, menikmati semilir angin membelai rambut.

pun sejin yang tengah menikmati jus yang ia bawa khusus dari rumah. di sisinya ada seekor anak anjing berjenis shih-tzu berwarna abu-putih yang menemaninya. rutinitas sejin sebagai karyawan bank membuatnya tak punya banyak waktu untuk mengajak gunbam, sang anak anjing, pergi bermain di luar pada hari kerja. ia hanya bisa melakukannya setiap akhir minggu. karenanya waktu-waktu ini akan ia manfaatkan sebaik mungkin.

"anginnya enak ya?" sejin bicara pada peliharaannya yang segera menyahut dengan gonggongan kecil. seolah mengerti, seolah mereka sungguh tengah mengobrol. sejin terkekeh kemudian sibuk mengusak seluruh tubuh gunbam yang tertutup bulu panjang. "anak manis, gunbam, anaknya siapa?" sejin terkekeh sendiri setiap kali sang anak anjing menggonggong. seperti terapi, menikmati hari dengan gunbam selalu baik untuk menaikkan perasaan senang sejin.

sejin masih sibuk menggelitik seluruh tubuh gunbam saat tiba-tiba sang peliharaan menggonggong lebih keras. sejin terkejut sejenak sebelum mengikuti arah mata gunbam. tak jauh di sana ada seekor pomerania dengan bulu putih bersih tengah berbagi gonggongan kecil dengan gunbam. sejin segera membereskan botol jusnya yang masih tersisa beberapa teguk. ia mengangkat anak anjingnya dan menghampiri pomerania kecil itu.

"hai, anak manis." sejin berjongkok, lantas menyapa seolah anak anjing di hadapannya bisa menjawab dengan bahasa manusia. pria lee itu hampir mengira jika anjing di hadapannya adalah anjing terlantar jika saja ia tak menemukan kalung tanda pengenal tersemat di lehernya , tersembunyi dibalik bulunya yang tebal dan terawat.

"dda? nama kamu dda? pemilikmu mana?" sejin memperhatikan sekeliling, mencari orang yang mungkin menjadi pemilik anjing lucu bernama dda ini. "ini kalo gaada yang punya nanti gue bawㅡ"

"ddadda? ddadda! kamu dimana, nak?" sejin menoleh cepat dan menemukan seorang pria muda tengah berlari sambil memanggil nama ddadda. mendadak dda menggonggong ke arah pria muda tadi. sejin tahu, pria itu adalah pemilik dari pomerania di hadapannya.

"hei!" sejin yang masih berjongkok melambai semampunya. pria muda tadi menatapnya. sejin lantas menunjuk anjing putih di hadapannya dan berteriak kecil. "ini anjing lo?" mata pria itu berbinar lega, ia segera berlari menghampiri anjingnya dan memeluk sang anjing yang bernama ddadda.

"aduh, nak, maafin daddy, tadi daddy ketiduran." pria itu mengusakkan wajahnya pada bulu ddadda. sang anjing membalas dengan gonggongan senang. mereka tak menyadari sejin dan anak anjing shih-tzunya yang kini sudah duduk mengekori sepasang pemilik dan peliharaan di hadapan mereka sambil masih terkekeh memperhatikan keduanya. sejin menyodorkan botol jusnya yang segera diterima oleh si pria.

"sorry, gue keasikan sama anak gue." pria itu meletakkan botol jus sejin yang sudah kosong di rerumputan. "btw, makasih ya udah nemuin ddadda. gue hampir gila tadi pas bangun gak nemu anak gue."

alis sejin naik. tampak sekali ia terkejut dengan pengakuan pria di hadapannya. "lo tidur di taman? sambil bawa anak anjing lo jalan-jalan?"

pria itu meringis sambil mengangguk. "gue capek banget, semalem lembur terus niatnya rebahan aja sambil bawa ddadda jalan-jalan, eh, bablas." ada kekeh canggung yang diberikan pria itu. sejin menggelengkan kepala.

si lee muda kembali fokus pada pomerania yang ada di pangkuan pemiliknya itu. "untung ddadda pinter, perginya ke orang yang sayang anak anjing juga." ia menjulurkan tangan, hendak mengelus ddadda, tapi anjing di gendongannya mendadak menggonggong. sejin tertawa, ia hampir terlupa anaknya sendiri.

"shih-tzu?" sejin menoleh lantas mengangguk. "namanya siapa?"

"gunbam. lo?" pertanyaan balasan diberikan sejin seraya menunjuk pria itu dengan dagu.

"ddadda." sejin tertawa, cukup lepas. sedang pria di hadapannya memasang wajah bingung.

"aduh, sorry, sorry, gue kurang jelas ngomongnya." si lee berdehem sejenak sebelum mengulurkan tangan, mengajak berjabatan. "nama gue sejin, papinya gunbam. nama lo siapa? kalo ddadda gue udah tau, kan lo tadi teriak-teriak manggilin anak lo."

pria itu kembali tertawa canggung sebelum membalas uluran tangan sejin. "wooseok, daddynya ddadda. makasih udah nemuin dan jagain anak gue. juga makasih udah kasih gue minum, gue butuh banget emang."

sejin membalas dengan anggukan, masih tersisa senyum merekah di bibirnya. "sama-sama seok. lain kali kalo capek di rumah aja, jangan maksain jalan buat nyenengin anak lo doang. nanti ilang lagi dia. belom tentu gue di sini lagi kan?" wooseok meringis. ngeri juga membayangkan kehilangan ddadda yang begitu ia kasihi dan sudah ia anggap anaknya sendiri.

keduanya lantas mengubah posisi duduk masing-masing untuk mempermudah mereka melanjutkan perbincangan. sebagian besar mengenai anjing masing-masing. soal kehidupan mereka sebagai orang tua yang baik untuk gunbam juga ddadda. tapi, tak lupa ada selipan data pribadi. sejin menceritakan bahwa ia juga tak punya waktu untuk gunbam di hari kerja, sibuk di bank. dan sejin mengerti mengapa wooseok kelelahan, sebab pekerjaannya sebagai editor komik yang membuatnya sering terjaga hingga waktu sudah jauh malam.

"kayak ya udah panas banget nih. waktunya gue balik." sejin mendongak, memicing kala matanya bertemu dengan matahari yang sudah tinggi.

"eh iya, udah mau jam sebelas, gue juga mau balik." keduanya lantas bangkit dari duduknya. entah ide siapa, mereka akhirnya bertukar nomor ponsel. setelah satu basa-basi lain, mereka memilih berpisah jalan. namun belum jauh sejin melangkah, wooseok kembali memanggilnya.

"btw, jin," sejin menoleh, bertemu kembali dengan senyum simpul di bibir wooseok. "next time ngobrol lagi di sini bisa kali ya?"

sejin tertawa. "bisa kok. see you next time, seok. bye, ddadda." pria itu bicara sambil melambaikan kaki depan gunbam. menggantikannya untuk melambaikan tangannya sendiri pada wooseok dan ddadda.

wooseok tak mau kalah, ia pun tertawa sambil menggerakan salah satu kaki depan ddadda. "see you, jin! and bye, gunbam!"

[ *** ]

a/n; bisa jadi oneshot, bisa jadi ada kelanjutannya. tergantung mood. tapi, untuk sekarang kita akhiri sampai di sini dulu. sekian, terima kasih sayang. mwah.