The End Of Prussia

Disclaimer: Hidekaz Himaruya

Warning : gaje, typo, OOC, bahasa yang kurang baik serta kosakata yang kurang.

Author hanya melakukan ini untuk unsur kesenangan bukan untuk keuntungan dalam bentuk apa pun.


Berapa banyak kebohongan yang ia katakan pada dirinya?

Sungguh. Berapa kali ia memanipulasi dirinya sendiri dengan kebohongan ini?

Dia baik-baik saja sendirian.

Dia disukai orang.

Dia masih kuat.

Dia dihormati orang.

Dia adalah Prussia.

Yang masih ada lagi. Banyak lagi. Dia tahu selalu ada. Prussia tidak bisa pergi selama lima menit tanpa mengatakan kebohongan lain–lima menit dengan memberi makan dirinya lebih banyak delusi yang pada akhirnya, akan membuat dirinya gila.

Dia tidak tahan lagi.

Mungkin tidak akan seburuk itu jika seseorang benar-benar meyakinkan dirinya, walaupun hanya satu, mengatakan bahwa itu bukan kebohongan–bahwa dirinya benar, masih sama seperti dahulu yang disukai orang.

Dia tidak ingin kesepian lagi. Jika Prussia dapat melihat bahwa orang-orang masih ada untuknya, masih peduli padanya, meskipun dirinya bukan lagi sebuah negara, dia dapat hidup dengan delusinya yang lain.

Prussia pikir bisa mengatasinya. Tapi tidak, dia sendirian, dan sepertinya itu tidak akan berubah dalam waktu dekat.

Dia menjadi sedikit lebih kuat baru-baru ini, tetapi bukan karena suatu alasan yang membuat ia mendapatkan kembali rasa hormat dari seluruh dunia. Prussia adalah micronation sekarang. Dia tidak layak mendapat waktu siapa pun–bahkan adik lelakinya menganggap dia sebagai beban dan sampah dunia. Adiknya bisa menggunakan ruang bawah tanahnya untuk hal-hal yang lebih baik, seperti penyimpanan, alih-alih menggunakannya untuk menampung kebangkrutan saudara lelakinya yang tidak berguna, menjengkelkan, dan sombong. Prussia pernah mendengar adiknya mengeluh kepada orang lain sebelumnya. Dia menyelinap ke pintu meeting room agar bisa mendapatkan informasi, dan melihat seberapa baik yang dilakukan Ludwig, mengetahui bahwa dia akan membuatnya lebih bangga daripada yang sudah ada padanya.

Tapi kemudian ... setelah pertemuan, dia selalu mengatakan sesuatu ke Hungaria atau Austria atau Swistzerland, tentang bagaimana Prussia tidak melakukan apa-apa selain bermalas-malasan di rumah, tidak pernah melakukan sesuatu yang produktif–sesuatu yang setidaknya bermanfaat. Saat itulah Prussia tahu harus pergi. Kini tidak ada yang melihat dia lagi selama tiga hari atau lebih, dan apa yang akan dia dengar ketika dia kembali?

"Oh. Di sana kau ternyata. Aku bertanya-tanya di mana kamu berada. Bisakah kamu membersihkan kamarmu sekali saja?! Ruangannya mengerikan."

Hilang selama tiga hari, dan itu adalah hal pertama yang dia dengar dari adik lelakinya sendiri–yang Prussia rawat dari bayi, yang dia rawat sampai sehat sentosa setelah semua perang–hanya memerintah untuk membersihkan kamar, bahkan tidak menyapa.

Mengapa mereka tidak bisa melihat dirinya kesepian?

Dia sudah selesai berbohong kepada dirinya sendiri. Jadi, di sini adalah daftar singkat dari kebenaran yang harus Prussia ingat setiap hari:

Dia kesepian.

Dia akan selalu kesepian.

Tidak ada yang mencintainya.

Ludwig tidak peduli.

Roderich membecinya.

Elizabeta jijik terhadapnya.

Basche muak melihat dirinya.

Tidak ada yang akan peduli lagi, karena dia tidak layak untuk dirawat.

Spain dan France memiliki hal-hal yang lebih baik, dan lebih penting untuk dilakukan dalam kehidupan mereka yang sibuk daripada bergaul dengan dia setiap hari. Jadi, yang terbaik untuk semua orang adalah jika dia berhenti memanggil mereka dengan putus asa; meminta mereka untuk berteman dengannya. Mereka tidak mau. Mereka terlalu baik sampai enggan mengatakan tidak secara langsung.

Dia hanya membutuhkan seseorang di sana untuknya, tetapi dia tidak akan pernah memilikinya.

Dia yang terlemah dari yang terlemah, dan itu tidak akan berubah.

Tidak ada yang menghormati dia lagi. Prussia tidak pantas mendapatkan hormat dari mereka. Dia hanyalah seseorang yang tidak memiliki tanah yang seharusnya tidak hidup lagi.

Dia tidak punya apa-apa untuk hidup. Adik laki-lakinya sudah dewasa, dan tidak membutuhkan dia untuk menjaganya lagi. Sial. Bahkan jika Prussia mencoba membantunya dengan apa pun, dia hanya mengacau dan Ludwig akan berteriak kepadanya, lalu menyuruh dia pergi ke suatu tempat di mana dirinya tidak dapat mengacaukan sesuatu atau mengganggunya. Hungary sangat bahagia bersama Austria. Austria tidak membutuhkan pertolongan untuk bertempur, juga tidak perlu mengambil sesuatu dari Prussia.

Prussia tidak hebat. Dia hanya bajingan dari bumi, dan dia tidak akan pernah berarti apa pun lagi. Dia yang terendah dari yang terendah–tidak akan pernah bangkit kembali ke puncak, di mana dia pernah berdiri. Dia adalah segalanya yang sejenis dengan pecundang, kecuali luar biasa atau setara.

Semua orang layak berada di dekat seseorang yang lebih baik daripada dirinya.

...

Prussia bahkan ragu jika dianggap bagian dari mereka.

Dia beranjak dari tempat tidurnya. Mengambil sebanyak mungkin botol pil dari kabinet obat.

Dia berpikir mungkin saatnya untuk tidur.

Lagi pula tidur hanya kematian yang tertunda bukan?

Prussia akan menikmati satu tidur lagi, satu hari lagi untuk melihat apakah benar ada yang peduli, hanya satu lagi.

Dia lalu menandatangani akhir buku bukan dengan Prussia, melainkan Gilbert Beilschmidt.

Prussia beranjak ke tempat tidur–tidak peduli jika dia mengganti baju atau mengenakan yang sama. Ia enutup mata dengan erat, menahan rintikan air yang berkumpul di pelupuk mata.

10 Mei 2020

Dear Diary,

Ini adalah terakhir kali aku akan menulis di buku harian ini, atau buku harian apa pun. Besok, sebelum Lutz menuju ke pertemuan itu, aku akan memberinya bir segar yang baru saja selesai diseduh hari ini. Aku akan memasaknya, liverwurst dengan telur dan kentang goreng seperti yang kulakukan ketika dia masih kecil, dan ketika dia akan pergi, aku akan memberinya satu pelukan terakhir. Aku akan mengacak-acak rambutnya seperti yang dulu kulakukan ketika dia masih anak-anak, meskipun mungkin nanti dia marah kepadaku, karena mengacaukan rambutnya setelah dia menyisihkan waktu untuk memastikan rambutnya akan tetap tersisir ke belakang.

Aku tidak ingin membuatnya marah besok. Dia mungkin akan marah, nanti, karena adikku akan terjebak untuk memperbaiki semuanya begitu aku pergi–tentang bagaimana mempersiapkan pemakaman, dan segala sesuatunya, begitu dia kembali dari pertemuan. Bahkan jika dia bertanya "apa yang salah?", aku tidak sepadan dengan semua masalah itu, dan aku tahu itu. Aku tidak ingin dia melakukan itu, jika itu membuatnya lebih tertekan. Dia bekerja terlalu keras seperti biasanya. Mereka mungkin hanya akan membakarku saja. Tidak apa-apa.

Aku tidak sebanding dengan waktu yang kuambil. Aku akan membersihkan rumah. Mengepak barang-barang sehingga Lutz tidak perlu merapikannya lagi, dan kemudian aku akan mengunci diri di kamar mandi. Aku tidak akan membuat kekacauan. Itu hanya akan membuatku menjadi beban yang lebih berat, dan aku tidak ingin menempatkan Lutz melalui itu lagi.

Jika seseorang membaca ini, Tolong beritahu mereka bahwa aku ingin dikubur. Menguburku yang memakai jas putih dengan bendera negaraku, gambar Lutz, dan gambar yang aku ambil dari lukisan Pak Tua Fritz itu. Satu-satunya hal lain yang aku tanyakan adalah mengenai seseorang yang akan merawat Gilbird. Aku tidak ingin dia berakhir kesepian juga.

Yah. Kurasa ini adalah selamat tinggal sesungguhnya.

-Gilbert-

Dia menutup diary dan menaruhnya di atas nakas. Prussia beranjak ke kamar mandi untuk memenuhi air hingga penuh. Melepas bajunya, dan masuk ke dalam bak mandi, membiarkan dirinya tenggelam dalam air–merasakan udara yang perlahan keluar dari mulutnya, hingga tak ada sisa udara lagi. Air dingin pun memenuhi paru-parunya, dan darah berdebar di belakang matanya. Akhirnya ia sempurna tidak bergerak–diam dan beku.

.

.

.

End

A/n : jangan lupa riview minna, Arigatou :D