KEMBALI KE SEKOLAH
Written by: DysfunctionalDreams
Senang... riang... hari yang kunantikan
Ku sambut hai pagi yang cerah...
Matahari pun bersinar terang
Menemaniku pergi sekolah
Pagi itu adalah pagi yang indah. Segala sesuatu tetap berjalan sebagaimana mestinya. Matahari bersinar dengan terang, mengirimkan berkas-berkas cahayanya ke seluruh dunia. Burung-burung kecil sibuk bernyanyi, membentuk orkestra alam dengan musik dan irama mereka sendiri. Intinya.. pagi itu segalanya berjalan normal. Tapi jika kalian memperhatikan dengan sesama, disudut terjauh kota, terdapat suatu keanehan yang tak biasa. Seorang anak kecil berdiri sendirian di depan sebuah bangunan tinggi. Sudah lebih dari satu jam ia berdiri disana, menoleh ke kiri dan ke kanan seakan menunggu seseorang yang tak kunjung datang. Sepatunya yang hitam dan licin karena baru dikeluarkan dari kardus dan disemir dengan semir sepatu nomor wahid menggaruk-garuk beton trotoar dengan tidak sabar. Kepalanya yang jabrik berbelah lima dihiasi rambut warna-warni nampak sangat familiar. Ya, dialah Yugi Mutou, si cebol legendaris yang bahkan lebih legendaris daripada Levi Ackerman dan Edward Elric, sekaligus pemegang rekor rambut ter'ekstrim dalam sejarah anime.
"Apa? Rambutku ekstrim? Gak juga, ini cuma pakai shampo." Kata Yugi tersipu-sipu.
"Bohonggg…!" Teriak ribuan wibu dan cosplayer yang selama puluhan tahun mencoba mengcopy rambut Yugi tapi gagal.
Oke... anggap saja rambut jabrik berbelah lima dengan tiga warna alay plus bisa ngelawan gravitasi itu adalah sesuatu yang normal di dunia yang normal ini. Rambut itu... eh maksud author kepala itu akhirnya menyerah pada aktifitas clingak-clinguknya yang tidak membuahkan hasil, hingga tiba-tiba seorang lelaki tua berjalan sempoyongan menghampiri si anak. Di tangannya ia memegang sebuah kresek berwarna hitam yang nampak mencurigakan. Nafasnya naik turun berusaha mengimbangi gerak tubuhnya yang sudah renta. Si anak kecil berlari tergopoh-gopoh menghampiri si lelaki tua, yang ajaibnya (lagi) tidak lebih tinggi dari dirinya, dan berkata.
"Kakek kok lama sih...!"
Lelaki itu memberikan tatapan memelas yang bila diartikan secara harfiah dapat berarti "Please... loe kagak liat gue sekarat..?". Dengan perlahan dan sangat perlahan si kakek mengulurkan kresek hitam kepada si anak kecil yang menyambutnya dengan berjingkrak-jingkrak riang.
"Lain kali jangan sampai ketinggalan lagi. Kalau kamu melakukannya berarti sama saja kamu ingin membunuh kakekmu ini." Kata si kakek bersungguh sungguh. Si anak kecil mengangguk dan secara tulus mengucapkan serangkaian kata minta maaf, berusaha menghibur sang kakek. Ia merogoh ke dalam bungkusan kresek itu dan mendapati sebuah topi berwarna merah putih yang nampak serasi dengan seragam yang ia kenakan. Sejenak senyumannya menghilang. Ia memandang ragu pada topi di tangannya, lalu kepada kakeknya, dan kembali lagi kepada topinya.
"Kek.. yakin ini bisa dipakai..?" Si anak bertanya polos sambil mengulurkan topi itu kepada kakeknya. Dengan ragu sang kakek melirik ke arah rambut cucunya yang menjulang setinggi setengah meter di depannya, lancip dan berbelah lima. Ia menggelengkan kepala.
"Sudahlah Yugi... simpan saja itu untuk nanti." Kata si kakek sambil menepuk pundak Yugi.
"Ngomong-ngomong kek... apa ini gedungnya...?" Yugi bertanya cemas, menunjuk ke arah bangunan tinggi di depannya. Gedung itu aneh, dengan struktur yang tinggi namun ramping, seakan-akan angin semilir'pun dapat merobohkannya dengan sangat mudah. Catnya berwarna kuning terang, dihiasi oleh beberapa lingkaran raksasa yang menempel bak tahi lalat di dinding-dindingnya yang mulus. Domino...? itulah kata pertama dan satu-satunya yang terlintas di pikiran sang anak saat melihat gedung itu untuk pertama kali. Yah.. Domino, atau gaple, benda kuning berbentuk kartu yang biasa dimainkan bapak-bapak bersarung di pos ronda. Dengan desain seperti itu, tidak mungkin gedung ini merupakan kompleks sekolah. Tempat judi atau rumah bordil mungkin lebih cocok.
"Yah... ini gedungnya. Noh ada tulisannya..?" Sang kakek menunjuk sederet tulisan besar yang tersusun dengan indah di gerbang sekolah.
SELAMAT DATANG DI SD DOMINO
"Hah... orang aneh macam apa yang menamai sebuah sekolah dengan nama DOMINO..?"
"Yugi... kau lupa ya kalau kota tempat kita tinggal ini juga bernama DOMINO..?
"Ohh..." Yugi menggaruk kepalanya padahal tidak gatal. Tangannya berdarah begitu bersentuhan dengan ujung rambutnya yang lancip.
"Maaf dek... sepertinya adek salah tempat. Playgroup Domino ada disebelah sana." Kata seorang pria muda berpakaian satpam sambil tersenyum ramah. Ia menunjuk ke sebuah gedung bercat pink dengan motif bunga-bunga kuning. Yugi memandanginya heran. Playgroup Domino...? Yang benar saja..? Jelas-jelas papan namanya bertuliskan rumah bersalin. Memang dipikirnya siapa dia..? Sel telur yang belum dibuahi..?
"Permisi... anak muda." Kata kakek menyela.
"Oh.. ada satu lagi rupanya." Kata Pak Satpam masih dengan senyum ramah. "Maaf sepertinya anda salah masuk, kuburan Domino ada di seb..…"
PLAKKK… Kakek menampar muka si satpam dengan sandalnya.
"Mana sopan santunmu pada orang tua hah…?" Kata kakek marah. "Beraninya kamu ngatain cucuku ini siswa playgroup. Kamu gak lihat dia sudah segede ini...?" Kakek berteriak marah. Ia mengangkat tubuh kecil Yugi dan mengibaskannya di depan wajah si satpam.
"Kakek...! Cepat turunkan aku..!" Wajah Yugi merona merah. Ia senang kakeknya membelanya, tapi bukan begini caranya.
"Gede..?" Si satpam malah balik bertanya. Ia memperhatikan dengan seksama wujud mini Yugi, matanya yang besar, senyumnya yang moe, tubuhnya yang mini, dan pipinya yang bersemu merah...
'Glekk...' si satpam menelan ludah.
"Lihat kan... cucuku ini udah gede. Sebulan yang lalu semua orang masih bisa ngelempar-lempar dia kaya bola bekel. Sekarang ngangkat dia aja butuh perjuangan. Woy.. woy.. anak muda.. loe denger gak..?"
'Gede ya..? kalau tinggi rambutnya ikut diukur... iya sih dia udah gede.' Batin si satpam malang. Akhirnya karena kasihan, ia pun memperbolehkan Yugi dan kakek masuk ke halaman sekolah
"Wahhhh...! BESAR SEKALI...! " Mata Yugi berbinar. Sekolah itu ternyata tidak seburuk apa yang Yugi pikirkan. Rumputnya hijau seperti permadani, dengan taman bermain yang luar biasa indah. Ada sebuah lapangan luas untuk upacara bendera, lengkap dengan bendera merah putihnya (bendera Jepang, bukan bendera Indonesia). Satu-satunya yang membuat Yugi terganggu adalah videotron ukuran raksasa yang terpampang pada tiang setinggi 10 meteran. Videotron itu berisi potret seorang pria paruh baya berambut silver panjang, tersenyum lebar memamerkan gigi-gigi putih dibalik bibir yang merah menggoda. Di bawah wajah raksasanya yang nampak terlampau ceria itu terdapat tulisan "BUKAN KUDA TERBANG, BIARPUN AKU BISA MENERBANGKANMU KE KAHYANGAN".
"Kelihatannya pedofil." Kata kakek ragu sambil memperhatikan videotron itu.
"Kelihatannya seperti kakek." pikir Yugi dalam hati.
"YUGIIIIII...!" Lamunan Yugi dibuyarkan oleh suara melengking gadis berambut coklat yang tidak lain adalah Anzu Mazaki.
"Wahhh... kau bertambah tinggi ya..? keren...!" Kata Anzu begitu melihat Yugi telah berdiri di hadapannya. Yugi yang dipuji tentu saja tersenyum senang.
"Benarkah...?" Binar-biar harapan muncul di mata ungunya. Ini pertama kalinya ada yang memuji tinggi badannya. Gw tinggi, gw keren, asyikkk...!
"Iya... sepertinya rambutmu sudah tumbuh 5cm. Terakhir kali ujungnya tidak selancip ini. ITU KEREN SEKALI...!" Teriak Anzu sambil melompat-lompat girang. Seyuman lebar terkembang diwajahnya.
"Errr…. Anzu? Kau baik-baik saja?"
"Dan kau lihat betapa sekolah ini SANGAT KEREN. OH EM JI…. BAHKAN VIDEOTRON INI TERLIHAT KEREN. LIHATLAH DESAINNYA YANG BERBENTUK PERSEGI DAN BISA MENGELUARKAN CAHAYA. ITU BENAR-BENAR KEREN."
Ah ya.. mungkin ini satu-satunya videotron berbentuk persegi dalam sejarah.
"KEREN. LIHATLAH RAMBUT PRIA ITU. PUTIH DAN PANJANG SEPERTI RAMBUT NENEK KU. NENEK… APAKAH ITU DIRIMU?" Teriak Anzu. Pandangannya masih tidak bisa terlepas dari videotron.
"SELAMAT DATANG DI SD DOMINO TEMPAT SEGALA MIMPIMU AKAN MENJADI NYATA. *wink *wink, BTW, SUDAH JELAS YA GW KEPALA SEKOLAHNYA. AHAHAHAHA…!" Pria di videotron memberikan kecupan mesra dan videotron itu berpendar dengan jutaan warna.
"NENEK…. TIDAK. BAWA AKU BERSAMAMU NEK." Teriak Anzu.
"Anzu..? " Yugi mulai ketakutan.
Tidak ada jawaban.
"Kakek, sepertinya ada yang salah dengan Anzu." Yugi menoleh kearah sang Kakek yang masih sibuk memelototi videotron.
"Hemmm... rambut panjang nan halus sehalus sutra, warna putih tanpa noda, tubuh yang ramping, senyum yang indah..! Yugi, Dia mirip sekali seperti nenekmu. kurasa aku jatuh cinta." Sugoroku malah asyik bergumam sendiri.
"Tidak.. apa yang terjadi dengan kalian?" Bukan hanya kakek dan Anzu, tapi para siswa dan orang tua yang tadinya tertawa ceria juga seperti terhipnotis. Pandangan mereka kosong.
"Ah sial… pasti videotron ini dikutuk. Aku harus mencari bantuan." Pikir Yugi.
Namun, sebelum dia sempat melangkahkan kaki kecilnya…
"Awas... ada bokong merak di arah jam 12."
"Woy Malik, jangan ngaco lu..! Itu rambut orang, bego." Seru seorang bocah albino berabut seputih salju sambil menunjuk kearah Yugi. Errr… maksud saya rambutnya.
"Oh.. kirain meraknya Si Peggy lepas lagi. Habis mirip sih." Sahut temannya yang berkulit gelap dengan rambut pirang jabrik. Bulir-bulir keringat menetes di dahinya. Mereka berdua tengah asyik menggotong sebuah tas yang cukup besar dan tidak henti-hentinya berdebat dengan suara nyaring. Di sisi tas itu tertempel sebuah label bertuliskan "AWAS...! BAHAYA KEMANUSIAAN. RESIKO DITANGGUNG SENDIRI" dengan simbol tengkorak.
"Ini berat banget, woy...!" Si anak pirang memprotes marah. "Hey.. hey... Bakura..! jangan sentuh tombolnya, lo pengen mati huh..?"
"Diam baka.. lo heboh banget sih. Gue kan jadi panik." Si anak pucat balas memaki.
"Siapa yang heboh? Dasar amatir." Si pirang tak mau kalah.
"Amatir..? Semua orang juga tau yang mantan maling itu gw bukan lo. Dasar anak mami." Si anak pucat membanting tasnya.
"Daripada lo gak punya mami. JANGAN BANTING TASNYA, BEGO". Si pirang menarik tas itu dari si albino.
"Lo sih banyak bacot. Dasar mesir tolol."
"Nah lo juga kan dari mesir, dasar idiot."
Dari dalam tas itu terdengar bunyi tik..tik mencurigakan. Yugi tidak bias melepaskan pandangannya dari kedua anak itu hingga keduanya menghilang dibalik lorong, masih saling mengumpat satu sama lain, kali ini dengan menyebut nama bapak masing-masing.
"Itu tadi apa?" Pikir Yugi. Masih memperhatikan dengan penuh kewaspadaan lorong tempat kedua bocah itu menghilang. "Ya Allah aku lupa. Aku kan harus mencari bantuan. Videotron ini harus dihancurkan." Dia pun berlari menyeberangi lapangan rumput dan berteriak panik.
"TOLONG…. TOLONG…! ADA VIDEOTRON JAHAT INGIN MENGUASAI DUNIA." Teriak Yugi pada sekerumunan anak yang sedang asik bermain entah apa di ujung lapangan.
"Hey.. hey.. pelan-pelan dude, jangan berlari di lapangan. Nanti kau jatuh." Seorang anak bertubuh tinggi menghampiri Yugi. Dia nampak normal dengan pakaian dan senyuman yang normal, kecuali rambutnya yang entah mengapa memiliki ujung lancip seperti haluan kapal.
"Ta.. tapi.. Ada videotron jahat yang yang harus kuhancurkan. Benda itu telah menghipnotis temanku dan juga kakekku." Kata Yugi panik. Ini sudah takdirnya untuk menyelamatkan dunia karena dia adalah karakter utama fanfic ini. Ya.. Itulah yang dipikirkan Yugi.
"Oh.. videotron itu. Tenang saja, seorang gadis peramal baru saja berkata padaku kalau videotron itu akan hancur dengan sendirinya pada pukul 7 pagi lewat 12 menit. Itu berarti 2 menit lagi." Si bocah tinggi mengeluarkan sebuah jam weker dari saku seragamnya."Kalau itu benar terjadi berarti apa yang dikatakan oleh Kaum bumi datar adalah benar. Dunia ini tidak lebih dari sebuah konspirasi wahyudi."
"Oh baiklah. Aku Yugi btw." Yugi mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.
"Aku Honda. Tapi bukan merk motor ya." Si bocah tinggi tersenyum.
Tiba-tiba…
BRUAKKKK…
"Hyahahahahaha…"
Sebuah mobil limo menabrak gerbang sekolah. Beberapa siswa yang baru datang ke gerbang berlarian ke segala arah. Beberapa dari mereka ada yang terjatuh dan menjadi sasaran empuk pengemudi limo yang menggila.
"Itu mobil hantu." Seru anak bernama Espa Roba.
"Wahhh…. Keren! Cepat viralkan..viralkan..!" beberapa anak alay malah sibuk merekam kejadian langka tersebut adan mempostingnya di instagram.
BRAKKKK…
"Aduh kakiku..."
Dari dalam mobil, suara tawa terdengar.
"HYAHAHAHAHAHA…."
BRAKKKK...
Limo itu menabrak vidiotron.
"Tidak... cinta sejatiku." Teriak kakek sambil memeluk tiang vidiotron yang rubuh.
"OH EM JI, videotron itu benar hancur pada pukul 7 lebih 12 menit." Teriak Honda. "Aku harus mengumumkan pada semua orang kalau teori para bumi datar adalah benar. Ulululululu….!"
Dengan teriakan kemenangan Honda menarik ujung rambutnya yang lancip dan merubahnya menjadi antena. Dia menjabat tangan Yugi, mengucapkan salam perpisahan dan berlalu pergi.
"HYAHAHAHAHAHA...! Ayo Isono, lebih kencang. Tabrak mereka semua. Tabrak mereka sampai tak tersisa." Teriak seorang anak dari dalam limo yang menggila. "Lihat, Itu si Katsuya kan? Fuhuhuhu... Tabrak dia…! TABRAK. Aku ingin melihat rambut pirangnya nyungsep di tanah."
"Yes, Master Kaiba."
BRAAKKKKK….
"HYAHAHAHAHAHA...!
Limo mewah itu menabrak seorang bocah berambut pirang hingga bekal yang ia pegang berhamburan. Ayam geprek saos mozarella favoritnya yang dibuat khusus oleh sang adik. Dengan penuh kemarahan si bocah pirang bangkit dan mengejar limo itu keliling sekolah.
"KAIBAAAAAAAAA...!"
"HYAHAHAHAHAHA...!
"That's my son. Gak sia-sia gw mungut dia dari pinggir pasar. Dia akan tumbuh menjadi lelaki paling bangsat dalam sejarah." seorang pria paruh baya dengan setelan jas mahal tersenyum bangga.
Setelah 100x tabrakan dan 100x suara tawa HYAHAHAHAHAHA..! dengan perasaan lega, Yugi menyaksikan mobil limo itu melaju meninggalkan SD DOMINO dan melanjutkan kekacauan mereka di tempat lain.
"Itu tadi mengerikan." Pikir Yugi yang mulai merasa ketakutan. "Aku harus menemukan kakek dan Anzu. Ku harap mereka baik-baik saja."
"Aku sudah memprediksikan ini sebelumnya. Akan ada 103 korban jiwa di hari pertamaku masuk sekolah."
Yugi terkejut. Seorang gadis muncul di hadapannya secara misterius. Rambutnya yang hitam panjang tergerai sampai ke pinggang. Anak perempuan itu menatap Yugi seakan bisa membaca seluruh isi hatinya. Udara serasa statis, dada Yugi berdegup kencang saat gadis itu menghampirinya dan berbisik di telinganya.
"Kau takut? Aku bisa merasakan rasa takutmu." Yugi merasakan tubuhnya mulai gemetar. Tentu saja dia takut, semua orang yang ia temui hari ini aneh dan psikopat.
"Siapa kau? Apa maumu?"
"Aku adalah malaikat maut." Kata gadis kecil itu. "Dan aku bisa meramalkan masa depan."
Yugi menelan ludahnya sendiri.
"Benarkah..? Kalau begitu tolong ramalkan kapan tinggi badanku bertambah?"
Gadis itu memandang lekat-lekat wajah Yugi sambil ber "emmmm.." lirih.
"Aku tau, rambutmu sudah tumbuh 5cm sejak bulan lalu."
"Apa hubungannya..?" Yugi nampak kecewa. Tanpa sadar ia meraba ujung rambutnya.
Sunyi sejenak. Angin bertiup sepoi-sepoi menggerakkan daun-daun hijau. Si anak berambut pirang dan temannya si albino muncul lagi dan nampak berbisik-bisik dibelakang Yugi sambil sekali-kali menunjuk kearah dirinya. Tas besar mencurigakan berlambang tengkorak itu masih tampak di tangan mereka. Tidak ada tanda-tanda keberadaan kakek maupun Anzu.
"Siapa namamu..?" Yugi terlonjak dari lamunannya. Ia menyadari kalau dirinya masih berada di tengah lapangan bersama si gadis aneh.
"A..aku Yugi." Jawab Yugi terbata-bata. Ia merasa tidak nyaman dengan cara gadis itu menatap dirinya.
"Yugi ya? Nama yang bagus." Kata gadis itu. "Aku Isis Ishtar. Tapi karena orang-orang sedunia merasa takut dengan namaku, jadi mereka memanggilku Ishizu."
"Mengapa mereka takut pada namamu? Itu nama yang imut." Tanya Yugi
"Entahlah, tiap kali aku mengucapkan namaku pasti ada satu dua orang yang berteriak ketakutan dan bersembunyi di balik meja."
ISIS aka Ishizu mengulurkan tangan. Yugi menjabat tangan gadis itu dengan ragu-ragu.
"Jangan takut, Kakekmu sedang berada disana bersama gadis-gadis cantik." Ishizu menunjuk pada segerombolan paramedis berpakaian seksi yang sedang bergotong royong mengevakuasi korban limo di gerbang masuk. Saat melihat wajah cemas Yugi dia buru-buru menambahkan, "Jangan khawatir, dia tidak terluka."
Yugi menarik nafas lega. Ia melirik kearah duo aneh yang masih terkikik-kikik licik dibelakangnya.
"Kau kenal mereka?"
"Oh jangan perdulikan mereka. Mereka hanya sekumpulan idiot kurang kerjaan."
"HEYYY... Berhenti memanggil kami Idiot." Si pirang berteriak marah, tapi Ishizu tidak memperdulikannya.
"Dia adikku. Malik." Bisik Ishizu pada Yugi. "Ini juga hari pertamanya masuk sekolah. Dan yang satu itu Bakura." Kata Ishizu menunjuk si albino berbaju zebra biru yang sedari tadi menyeringai melulu. "Untung Ibu sudah pergi, kalau sampai Ibu tau dia bermain-main dengan dinamit lagi pasti dia dalam masalah besar."
"Apa..? DINAMIT? Jadi tas itu isinya dinamit? KALIAN KE SEKOLAH MEMBAWA DINAMIT?" Yugi tidak habis pikir ada seorang siswa yang datang dengan tas berisi barang berbahaya seperti dinamit namun tak ada satupun yang menyadarinya.
"Kami berasal dari Timur Tengah Yugi****. Di tempat asalku hal itu sudah biasa."
"Oh...! "
Tiba-tiba….
"Lihat! apa itu?" figuran 1 berteriak.
"Wahhh… keren." Kata figuran 2
Seorang pria berpakaian resmi datang sambil menggelar karpet merah dari gerbang sampai ke pintu masuk utama SD Domino. Dibelakangnya, beberapa gadis cantik muncul dan berjejer indah di tepi karpet sambil menebarkan bunga-bunga warna-warni. Sebagian besar orang yang asyik bercengkrama, sampai paramedis yang sibuk mengurus korban tragedi limo'pun datang untuk melihat.
"BERI JALAN UNTUK KELUARGA KERAJAAN….!"
"MAKE WAY.. FOR PRINCE ATEM.!"
"SAY HAY.. FOR PRINCE ATEM!"
Gendang ditabuh dan terompet ditiup. Ishizu menarik tangan Yugi kearah kerumunan. Sebagian besar orang menyingkir dari jalan, takut terserempet ujung rambut Yugi yang tajam.
"Ada apa ini? Kenapa ramai sekali disini?" Jounouchi berteriak dari ujung keramaian.
"Tau deh, katanya ada pangeran." Sahut Honda.
"Kyaaaa... Pangeran sungguhan?" Para gadis terpekik girang.
"Cih... Mana ada pangeran di Domino. Kalau maksudmu orang kaya bego mungkin aku baru percaya." Jonouchi yang masih menyimpan dendam pada si bocah limo kembali menggerutu.
"Aku berani bertaruh dia memang pangeran sungguhan." Ishizu angkat bicara. Dia menunjuk pada sekelompok pria berjubah hitam yang turun untuk mengamankan jalan. Di dada mereka tersemat pin berbentuk segitiga terbalik dengan ukiran mata.
"Lambang mata dan jubah hitam, bukankah itu ilegal?" Sahut Jonouchi
"Hush... Kita ada di Jepang." Ujar Ishizu. "Disini tidak ada yang ilegal, kecuali yaoi."
"Ta.. tapi aku suka Yaoi. Itu sejenis mie instan kan?" Teriak Jounouchi.
"Pstt…. Ini semua pasti konspirasi wahyudi." Bisik Honda.
Sebuah mobil mewah datang melintasi karpet merah. Warnanya kuning berkilauan seperti terbuat dari emas murni. Dari dalam mobil, turun seorang anak laki-laki berpakaian serba emas didampingi Butler muda berjubah putih. Jika dia seorang pangeran itu jelas sekali terlihat dari penampilannya. Wajahnya eksotik dengan kulit coklat dan senyum penuh percaya diri. Begitu kakinya menyentuh tanah, serombongan gadis cantik datang melemparinya dengan bunga. Salah satunya adalah Anzu.
"Sudah kubilang membuat mobil dari emas murni itu adalah ide buruk. Kau membuatku nyaris terlambat di hari pertamaku sekolah. Bahkan Seto sudah mengalahkanmu dengan membuat kekacauan lebih dulu. Mulai hari ini gajimu kupotong." Gerutu si pangeran sambil merapikan jubahnya yang kotor akibat lemparan bunga.
"Maafkan saya Pharaoh, saya tidak tahu kalau emas murni bisa meleleh jika terkena panas." Sang Butler bersujud meminta maaf.
"Lain kali buat yang baru dengan menggunakan berlian." Kata si 'pangeran'.
Untuk sesaat Yugi tidak bisa melepaskan pandangannya dari sang 'pangeran'. Bukan karena terpesona pada sosoknya yang berkilau bagai medali olimpiade, melainkan pada style rambutnya yang entah bagaimana bisa sangat mirip dengan Yugi. Hanya saja rambut itu terlihat lebih lancip, lebih pirang dan lebih liar.
"Sial, kenapa dia terlihat keren dengan rambut itu sementara aku malah terlihat seperti kurcaci." Gerutu Yugi.
"Mungkin karena dia orang kaya?" Sahut Ishizu.
"Cih.. aku benci orang kaya." Gerutu Jonouchi.
"Ini semua pasti konspirasi wahyudi." Bisik Honda
Dan kemudian, hari pertama Yugi di SD Domino pun dimulai.
\THE END\
A/N: Yuph, kegabutan akibat PSBB menyebabkan terciptanya fanfic ini. Ini gara2 gw nge'rerun Abridged Seriesnya Little Kuriboh jadinya pengen nonton yugioh lagi. Btw, fandom ini sekarang sepi sekali ya, lebih sepi daripada lubuk hatinya Kaiba.
RnR please!
