Hinata memejamkan matanya. Merasakan semilir angin laut menerpa wajahnya dan menyibak rambut indigonya. Sebelah tangannya menahan surainya yang sedikit mengusik wajahnya. Rambut pendeknya terasa asing. Ini kali pertamanya dalam 8 tahun terakhir memiliki rambut pendek.

Amethystnya terbuka kembali menatap lautan yang tak berbatas. Memantulkan warna jingga yang memikat. Sedikit membayangkan jika teori bumi datar memanglah benar, ia akan terjatuh ke luar angkasa apabila melewati ujung batas laut.

Ia melangkah pelan meninggalkan alas kakinya di belakang. Berjalan mendekati garis pantai. Membaringkan badannya di pasir halus merasakan ombak laut menerpa kaki-kakinya.

Seketika bayangan-bayangan masa lalu memenuhi kepalanya.

- 物 の 哀れ -

( Mono No Aware )

Part One

A SasuHina Fanfiction

By Dyniaism

WARNING : suicide theme, alur lompat. Melodrama. Hinata centered.

Ini adalah awal tahun kedua Hinata di kampusnya. Dan selama itu ia belum mendapatkan teman. Ia memang tidak pernah memiliki teman sebelumnya. Ketidakmampuannya bersosialisasi dan berekspresi menjadi halangannya.

"Pagi, Hyuuga-san."

Salam. Bahkan hal umum untuk berteman seperti ini belum pernah ia lakukan.

Hinata mengangguk sedikit membalas salam teman satu kelasnya sebelum menempati posisi kesukaannya. Kursi barisan kedua yang tepat berada di sebelah jendela besar.

Ia menyukai tempat ini terlebih di musim semi seperti saat ini. Jendela yang terbuka membuat aroma Sakura yang tengah bermekaran menari di sekitarnya. Angin segarpun menghembus di wajahnya.

Ia memasang earphonenya untuk mendengarkan musik klasik yang sedikit membantunya-

'Hyuga-san itu sangat aneh ya.'

-untuk tidak menguping dengar suara-suara pengganggu di sekitarnya.

'Selalu sendirian.'

'Lagipula siapa juga yang mau berteman dengan gadis suram macam dirinya.'

'Percuma jika pintar tapi tidak memiliki teman.'

Si objek pembicaraan memilih membuka jurnalnya. Mengulas kembali pelajaran yang telah diajarkan sebelumnya. Masih ada waktu setengah jam sebelum kelas dimulai. Ia akan memanfaatkan waktu yang tersisa sebaik mungkin.

Pintu kelas terbuka memperlihatkan seorang pria muda dengan kacamata berframe hitam dan blazer yang sewarna dengan kacamatanya sementara turtleneck abu-abu yang menjadi dalamannya membalut tubuh atletisnya dengan sempurna. Seketika beberapa gadis yang berada di kelas berjengit karenanya.

Kecuali satu orang. Yang saat ini masih asyik berpaku pada jurnal di hadapannya.

Siapa yang akan menyangka ini akan menjadi titik awal mula kisah mereka.

物 の 哀れ

( Mono No Aware )

Uchiha Sasuke.

Ia adalah salah satu dosen baru disini. Dan ini adalah kelas pertamanya, menggantikan salah satu dosen senior yang terkena musibah penyakit.

Kedatangannya jelas membuat kehebohan di kelasnya saat ini, mejanya sekarang dikerubungi para mahasiswi.

"Wajahmu tampak familiar. Anda Uchiha Sasuke-senpai, bukan?" Tanya seorang mahasiswi.

"Ya, aku lulus tiga tahun yang lalu dan melanjutkan pendidikan di kampus lain."

"Wah aku sama sekali tidak menyangka akan diajari oleh senpai." Gadis lain bersorak kegirangan. "Aku akan giat belajar kalau seperti ini," tambahnya.

"Kalau anda berniat giat belajar, bukankah sebaiknya anda menempati tempat duduk anda?" Suara seorang gadis memecah kebisingan membuat semua mata tertuju padanya. Si gadis bersurai indigo, Hyuuga Hinata. Tidak keras, tapi cukup menyita perhatian.

"Apa-apaan Hyuga-san itu. Bilang saja iri tak bisa dekat dengan senpai."

Karin si gadis dengan rambut merah menatap dosennya, meminta dukungan.

Sasuke yang tadi ikut mengarahkan pandangannya ke Hinata menatap para mahasiswi di hadapannya. "Yang dikatakan Hyuuga-san benar. Lebih baik kalian kembali ke kursi kalian."

物 の 哀れ

( Mono No Aware )

Hinata sedikit terkejut kala bahunya ditarik oleh seseorang yang tak lain tak bukan adalah dosen barunya. Saat ini adalah liburan semester. Ia sama sekali tidak menyangka akan bertemu dengan dosennya di perpustakaan kota.

Kali ini dosennya mengenakan pakaian kasual yang tak pernah dilihat Hinata selama berada di kampus. Ternyata dosennya juga terlihat cocok dengan pakaian

"Hyuuga-san, suatu kebetulan kita bisa bertemu disini," ujar Sasuke yang perlahan melepaskan pegangannya pada bahu Hinata.

Si gadis membungkuk hormat pada dosennya.

"Apa yang kau lakukan?" Si pria menunjuk kumpulan buku yang dipeluk Hinata.

"Saya berniat mengerjakan tugas disini," jawabnya pelan hampir terdengar seperti bisikan. "Saya lebih bisa berkonsentrasi disini dan bisa mendapatkan banyak referensi juga."

Sasuke menganggukan kepalanya. "Kau rajin sekali, ya."

Tangan besar dosennya menepuk puncak kepalanya pelan dengan sedikit gerakan mengacak.

Manik amethyst sang gadis menatap lawan bicaranya yang juga tengah menatapnya balik.

Aneh.

Ia merasa aneh.

Jantungnya berdentum. Pipinya terasa menghangat.

Ia mengeratkan pegangannya pada buku di dekapannya. Matanya masih terpaku pada sang dosen yang tersenyum lembut.

物 の 哀れ

( Mono No Aware )

Sejak kejadian itu, entah mengapa keduanya jadi sering bertemu.

Entah itu kebetulan atau bukan.

Seperti saat ini. Mereka berada di mobil Sasuke.

Si dosen memaksa mengantarnya pulang karena Hinata mengikuti kelas malam. Ini bukan kali pertama Sasuke mengantar Hinata. Ia sudah cukup sering mengantar si gadis dalam beberapa bulan terakhir.

Mereka jarang melemparkan kata satu sama lain karena sifat Hinata dan Sasuke yang sama-sama pendiam. Selama perjalanan hanya suara musik yang terdengar dari music player di mobil Sasuke.

Sunyi tapi terasa nyaman.

Waktu pun terasa begitu cepat jika mereka bersama.

"Kita sudah sampai," ujar Sasuke. Manik hitamnya menatap Hinata dengan tatapan yang tak bisa dibaca sang gadis.

Saat Hinata melepaskan seatbeltnya, lengan Sasuke menarik kepalanya pelan membawanya ke dalam rengkuhan sang dosen. Cukup lama mereka dalam posisi ini hingga Hinata dapat mendengarkan suara degupan jantung Sasuke yang berlomba dengan degupan jantungnya.

Ia dapat merasakan Sasuke membenamkan wajahnya di puncak kepalanya. Menghirup dalam-dalam aroma rambutnya.

Tangan Hinata mencengkram erat blazer yang dikenakan Sasuke. Bulu kuduknya meremang tiap kali merasakan sentuhan yang dilancarkan padanya.

Hinata tidak pernah mengharapkan apapun dalam 20 tahun hidupnya. Selama ini ia terus giat agar bisa memenuhi keinginan ayahnya yang menaruh harapan tinggi padanya agar bisa meneruskan perusahaan keluarga nantinya.

Namun sekarang ia sangat berharap dalam hatinya agar jantungnya berdegup normal kembali.

"Hinata," Suara baritone Sasuke mengayun di telinganya. Membuatnya menengadah sedikit mengendurkan cengkramannya di blazer Sasuke. Manik amethystnya mendapati manik hitam yang kontras dengan miliknya menusuk dalam.

Sejak kapan ia mulai menyukai warna hitam itu yang bagai menghipnotisnya ke dalam kegelapan.

Jemari panjang dan kasar si pria mengangkat dagu mungil Hinata. Mengusapnya lembut dengan ibu jarinya.

Senyuman tipis dilayangkan Sasuke sebelum menarik wajah si gadis. Mempersatukan bibir mereka pelan. Sasuke mengecap bibir kecil Hinata sebelum menjauh.

Jemari yang berada di dagu Hinata beralih dan mengelus pipi kanan si gadis Hyuuga.

"Selamat malam, sampai bertemu besok."

Hinata menganggukkan kepalanya lalu keluar dari mobil sembari terus menunduk menyembunyikan wajahnya yang terasa panas.

Dan mobil hitam milik Sasuke pun meninggalkan kompleks rumahnya.

Kepalanya agak pusing karena perlakuan Sasuke yang membuat dadanya terasa terhantam bertubi-tubi.

物 の 哀れ

( Mono No Aware )

"Bukankah kau terlalu dekat dengan Sasuke-sensei, Hyuuga-san?"

Hinata saat ini dipojokan di salah satu pohon di belakang gedung kampus. Karin dan tiga orang temannya bersidekap di hadapannya.

"Apa kalian berpacaran? Apa hubungan kalian?" Karin masih terus memberondongi Hinata dengan berbagai pertanyaan.

Hinata masih diam. Ketika Karin mendorongnya hingga punggungnya menabrak pohon ia masih juga enggan menjawab.

"Apa yang kalian lakukan?"

Gerombolan Karin menatap si pengusik takut-takut. "S-Sasuke-sensei..."

"Kami hanya terlibat pembicaraan wanita," Karin beralasan. Mata merahnya menatap Hinata dengan senyum yang dikembangkan terpaksa. "Bukan begitu, Hyuuga-san?"

Hinata dapat merasakan tatapan intimidasi Karin namun ia tetap menatap balik. Ia sama sekali tidak setuju dengan perkataan Karin dan sama sekali tidak merasa takut dengan gertakan si gadis merah ini.

Si pengusik mendekati Hinata dan menarik tangannya untuk menjauh dari Karin.

Hinata dapat mendengar decakan kesal Karin sebelum dirinya benar-benar menjauh dari sana.

"Apa yang mereka lakukan padamu?" Ujar pria di hadapannya seraya menyodorkan teh hijau hangat dalam mug berwarna ungu.

Sasuke membawanya ke dalam ruang kerjanya. Tempat ini telah menjadi tempat rahasia mereka di kampus. Hanya mereka berdua. Hinata memilih duduk bersandar di kursi seberang meja kerja Sasuke. Sesekali ia menggesekan tangannya pada mugnya.

Terkadang Sasuke mengistirahatkan dirinya di sofa hitam dipinggir ruangan dengan paha Hinata sebagai bantalnya.

Atau bahkan sebaliknya.

Hinatapun kerap mengerjakan tugasnya di tempat ini meski ia tidak pernah meminta bantuan Sasuke. Bagaimana pun tempat ini terbilang cukup nyaman karena koleksi buku dan jurnal yang berada di ruangan Sasuke cukup lengkap membuatnya tak perlu mengunjungi perpustakaan.

Hinata dapat melihat pantulan dirinya di permukaan teh itu. Sekelibat pertanyaan Karin memenuhi kepalanya.

Benar juga.

Sebenarnya apa hubungan mereka?

"Tidak berniat menjawabku?"

Kemarin, Sasuke mengambil ciuman pertamanya. Hinata memegang bibirnya mengingat-ingat kejadian itu.

"Sebenarnya aku memikirkan pertanyaan Karin-san tadi. Menurutmu, apa hubungan kita, Sasuke-san?"

Sasuke yang memintanya menghilangkan panggilan formal antara mereka. Usia mereka yang berjarak 5 tahun awalnya membuat Hinata enggan. Terlebih karena status Sasuke sebagai dosennya.

Mug di tangannya diambil alih oleh Sasuke. "Bukankah sudah jelas?" Sasuke bersimpuh di hadapan Hinata menyamakan tingginya. Kedua tangannya memegang tangan Hinata yang ditaruh di pangkuannya.

"Apa aku perlu meyakinkanmu lagi?"

Saat Sasuke hendak menciumnya kembali. Hinata menempelkan telapak tangannya ke bibir tipis Sasuke sebagai bentuk penolakannya.

Si gadis Hyuuga menolehkan kepalanya enggan melihat pria di hadapannya. "Jika kau melakukan itu jantungku bisa rusak karena berdegup terlalu cepat."

Ia agak sebal saat pria itu tertawa pelan sembari memegang tangannya. "Kurasa kau juga perlu tau." Hinata hanya pasrah ketika tangannya dibimbing Sasuke menyentuh dada kiri si pria.

"Kau tau..."

Hinata dapat merasakan detak jantung Sasuke yang juga berdegup kencang dibalik kemeja birunya. Mereka saling berpandangan. Hinata lagi-lagi dibawa hanyut oleh pupil sehitam jelaga itu.

"Aku juga merasa hampir mati bila di dekatmu."

Tapi apakah Sasuke mencintainya?

Ataukah ia hanya mempermainkannya?

Pada saat itu Hinata terlalu bahagia. Bahwa ternyata ia memiliki perasaan yang sama dengan Sasuke. Tiada kata cinta terucap, namun ia tau perasaan mereka adalah mutual.

Ia sadar waktu itu ia sangat naif.

物 の 哀れ

( Mono No Aware )

Setahun berlalu begitu cepat.

Hinata telah menyelesaikan studinya dengan pujian tertinggi.

Kala itu ayahnya terlalu sibuk untuk menghadiri acara kelulusannya. Sikap ayahnya pun biasa saja. Seolah menganggap memang sudah seharusnya ia mendapatkan itu atau dirinya seharusnya bisa lebih baik dari ini.

Tapi ia tidak peduli. Selama ada Sasuke, ia tidak mempedulikan apapun yang dapat menyakitinya.

Selepas kuliah, ia menuruti kehendak ayahnya untuk bekerja di bawah naungan Hyuuga corp. Menjadi manager di bagian divisi keuangan.

Hinata tentu menolak.

Tapi, untuk kali pertama dalam hidupnya. Hinata memohon pada ayahnya, untuk dapat tinggal terpisah dengan keluarga Hyuuga.

Sontak ini membuat ayahnya terkejut. Dan membuat geger keluarga Hyuuga. Terlebih adiknya, Hanabi yang merengek meminta agar kakaknya tetap tinggal.

Sayang, keputusan Hinata sudah sangat bulat.

Ia telah merencanakan hal ini matang-matang. Untuk tinggal bersama dengan Sasuke jika sudah lulus kuliah. Semakin lama bersama membuat Hinata terlalu bergantung padanya.

Ia tidak bisa bila tidak berada dekat dengan Sasuke.

Sasuke pun menyetujuinya. Bahkan menawarkan dirinya untuk bicara dengan ayah Hinata.

Hinata tertawa kala mendengar tawaran Sasuke saat itu. Uchiha bungsu itu terlalu serius.

物 の 哀れ

( Mono No Aware )

Sebenarnya Sasuke sudah menyiapkan kamar khusus untuk Hinata tempati di penthouse miliknya. Sayangnya kamar itu tak pernah terpakai.

Seperti saat ini, keduanya lebih memilih untuk tidur di lengan masing-masing insan. Saling menyesapi aroma sang lawan jenis hingga kantuk menyerang.

Tidak ada perlakuan lebih. Hinata tau benar Sasuke berusaha untuk menjaganya. Tetapi tetap saja, pancaran matanya tidak pernah bisa membohongi Hinata.

Berada dekat dengan Sasuke membuat Hinata sedikit demi sedikit mulai memahaminya.

Ia tau Sasuke begitu menginginkannya.

Begitupula dengannya.

"Ada apa?" Sasuke membuka suaranya yang terdengar sedikit serak. Ia menyingkirkan surai indigo yang menutupi wajah Hinata menyisipkannya pada daun telinga Hinata. "Apa yang sedang kau pikirkan?" Kecupan singkat Sasuke berikan pada kening Hinata yang ditutupi poni tebalnya. Ia nampaknya menyadari Hinata yang terlalu larut dalam pikirannya.

Hinata menyusupkan wajahnya ke dada bidang Sasuke. Walau sudah sering terjadi tapi ditatap begitu intens oleh Sasuke tetap membuatnya malu.

"Hey, aku ingin melihat wajahmu."

"Aku tidak mau..."

"Memang apa yang kau pikirkan? Ayo ceritakan padaku." Hinata memilih memunggungi Sasuke ketimbang menjawab pertanyaannya.

Sasuke mengubah posisinya. Ia mengurung Hinata dengan kedua tangannya.

Nafas panas Sasuke menimpa wajahnya. Ia terdiam, Sasuke juga. Hingga detik berubah menjadi menit tak ada pergerakan dari keduanya. Hinata melihat Sasuke meneguk ludahnya.

"Maaf..."

Ujarnya kala itu.

Hinata hanya mengulas senyum, jarinya menjelajah ke kelopak mata Sasuke yang tertutup. Menyembunyikan onyx yang disukai Hinata.

Tubuh Sasuke perlahan turun menimpa tubuhnya seiring dengan kedua lengan Hinata yang naik melingkari tengkuk si pria.

Malam itu.

Kali pertama mereka menyatukan diri mereka.

Hinata tak hanya merakan sakit kala itu. Tapi ia merasa ada cinta di setiap pergerakan Sasuke.

Tapi apakah itu benar-benar cinta?

物 の 哀れ

( Mono No Aware )

Hinata merasakan badannya melayang akibat air laut. Langit diatasnya sudah berubah gelap. Bulan purnama pun berpendar terang ditengah langit malam. Mengingatkannya seperti dirinya yang dilingkupi oleh Sasuke.

Debur ombak sedikit memercik ke wajahnya.

Terasa asin dan dingin.

Tiada rasa manis dan hangat yang dulu ia rasakan.

Dengan ini Hinata menyadari bahwa kenyataan tidak pernah seindah bayangannya.

TBC

Part One - End

Waktu bikin adegan lovey dovey diriku semangat banget sehari dapet 2k words. Pas mau masuk konflik mikir lamaaa. Kayaknya konfliknya ga ada yang pas, padahal mau buat adegan desperate banget. Tapi yang otak cuman sampe buat bikin adegan clichè. Sedi akutu hahahaha.

Terus Sasukenya terlalu Hentai ga sih ya. Omes. Wuahahahah.

Aku belah jadi dua part deh ya wkwkwkwk

Aku tak sanggup langsung lanjutin konfliknya...

kalian bisa baca di wattpad dengan akun yang sama ya dyniaism

Makasih untuk temen-temen grup Sasuhina daku jadi semangat lanjutin ficnya. Hahaha...

see you later...

Notes: Saya membaca komentar yang berkata tidak paham dengan judulnya. Sebenarnya saya sudah menambahkan romaji untuk cara membaca kanjinya agar nantinya bagi yang penasaran bisa menemukan artinya pada mesin pencarian. Jujur saya tidak bisa menjelaskan lebih lanjut mengenai pemilihan judul karena berpengaruh ke alur ceritanya. Tapi saya ucapkan terima kasih atas sarannya dan terima kasih untuk sekedar mampir di cerita saya.