Another Fairy Tale Story

.

.

.

Disclaimer : Vocaloid milik Crypton Future Media yang punya.

Warning : Typo, Genre campur aduk, lelucon gagal, OC.

Chapter 1

Petualangan dimulai

Miku POV

Sudah 9 tahun semenjak kejadian menghilangnya Kanon-senpai dan Anon-senpai, para warga desa pun beranggapan kalau 'portal' yang di aku dan Rin lihat saat itu adalah mulut hewan buas. Meskipun begitu beberapa orang menganggap kami yang membiarkan mereka dimakan hewan buas itu.

Orangtua mereka pun akhirnya meninggal karena sakit setahun setelah kepergian mereka. Para penduduk desa pun menganggap kami sebagai anak kesialan. Karena usaha Jii-chan tiba-tiba saja bangkrut beberapa hari yang lalu, semua kebunnya pun terjual. Dan Jii-chan menjadi pembajak sawah miliknya yang kini di miliki orang.

"Seharusnya Jii-chan pensiun saja, lihatlah, Jii-chan tidak perlu membajak sawah saja. Dia bisa menjadi seorang akuntan, Jii-chan pendidikannya kan tidak serendah itu." Gerutu Rin. Aku hanya terkekeh.

"Sudahlah Rin, kita kan tahu sendiri, kita miskin, yang miskin tidak akan mendapat tempat bukan?" Tanyaku entang. Aku sudah sangat terbiasa dengan kehidupan seperti ini. Meskipun begitu Jii-chan masih memiliki uang untuk kami bersekolah.

"Huh, aku sangat tidak menyukai kebijakan tidak tertulis itu." Kata Rin. Aku kembali terkekeh, sekarang kami sedang menyiapkan makan siang untuk Jii-chan di sawah/

"Sudah delapan tahun ya semenjak saat itu, bagaimana ya nasib Anon-senpai dan Kanon-senpai?" Tanyaku sambil memasukkan masakan yang di buat Rin di kotak bekal bertingkat.

"Untuk apa mengurusi anak sombong itu, lagipula keluarga Amallisa sudah tidak ada lagu bukan, sudahlah, pikirkan saja hidup kita! Kita harus bisa keluar dari lingkaran kemiskinan ini Hatsune Miku." Kata Rin, aku hanya mengangguk setuju. Kami bersaudara tetapi nama marga kami berbeda, katanya sih anak-anak Jii-chan perempuan semua jadinya setelah mereka meninggal Jii-chan menginginkan kami masih menggunakan nama marga ayah kami.

"Aku juga ingin merubah nasib Rin, kau tahu, aku jadi ingin berpetualang, aku pun penasaran apa di balik portal itu, apakah sebuah dunia yang belum pernah kita lihat, aku ingin sebuah petualangan yang mendebarkan Rin." Kataku sambil menerawang.

"Lihatlah, sekarang kau yang menghayal di siang bolong saudariku!" Kata Rin sambil mencubit pipiku dan melebarkan pipiku. "Sudah ayo, kita antarkan ini kepada Jii-chan. Jii-chan pasti sangat menyukai masakan kita ini!" Kata Rin sambil menaruh air di dalam botol kaca dan menutupnya. "Yang terakhir sampai ke tempat Jii-chan si telur busuk!" Kata Rin sambil berlari.

"Hei, kita sudah bukan anak kecil lagi Rin." Ujarku sambil ikut mengejarnya. "Rin, hati-hati! Pematang sawah tidak ada yang rata loh!" Ingatku kepada Rin yang sangat senang berlari. Hingga akhirnya dia terjatuh terjerembab. "Sudah aku bilang hati-hati bukan?" Kataku sambil menghampirinya.

"Eh apa itu?" Tanya Rin sambil melihat ke arah sesuatu yang membuatnya jatuh, untuk botol kaca yang dibawanya tidak pecah. Aku pun juga penasaran dengan yang membuat Rin terjatuh itu.

"Apa itu? Apa itu manusia?" Tanyaku sambil mengambil ranting dan menusuk-nusuk benda itu.

"Kelihatannya sih iya." Kata Rin juga mengikuti hal yang sama denganku tetapi di sisi lainnya, kami terus menerus menusuk-nusuk benda itu hingga akhirnya benda itu menggelepar(?) dan berdiri.

"Apa-apaan itu menusuk-nusuk seperti itu!?" Kata orang itu.

"Oh, ternyata dia manusia." Kataku, diikuti anggukan dari Rin. Orang itu kemudian ambruk lagi. "Eh? Manusia? Rin! Antarkan makanannya kepada Jii-chan! Aku akan berusaha membawa orang ini ke rumah dan merawatnya!" Kataku. Rin hanya mengangguk dan kemudian membawa kotak makanan itu kemudian pergi, aku mencoba menggeret orang itu dan berusaha mengangkatnya, astaga berat sekali! Untung saja sekarang ini orang-orang ke sawah dan berada di pasar, kalau tidak aku akan di kira membawa mayat. Apa dia perempuan? Perempuan tidak memiliki tubuh sebesar ini, dan kalau benar perempuan, dia tidak memiliki yah sesuatu yang menonjol di dadanya. Apa dia laki-laki? Tetapi bagaimana laki-laki memiliki rambut keunguan yang indah seperti ini.

Aku langsung merawat dan membersihkan tubuh orang itu, aku tidak pernah melihatnya di desa. Tubuhnya penuh dengan luka, apa dia berkelahi dengan bandit desa? Dan tubuhnya sangat kotor mengingat dia kan tidak sadarkan diri dengan posisi melintang di pematang sawah, jadi ya beberapa badannya terendam lumpur.

"Miku?" Panggil seseorang, Jii-chan datang? Aku langsung mengampirinya.

"Jii-chan!" Panggilku, dia kembali dengan Rin.

"Apa orang itu sudah sadar?" Tanya Rin, aku hanya menggeleng.

"Belum, dia memiliki luka yang parah." Kataku sambil melihat darah yang sudah mengering di bajunya. Kami akhirnya memutuskan untuk merawat orang itu, tentunya Jii-chan yang merawatnya karena mengobati orang terluka harus di cek sekujur tubuhnya, dan dia adalah laki-laki.

-skip time-

"Miku! Dia sudah sadar!" Panggil Rin, aku yang sedang memijit bahu Jii-chan langsung berlari ke arah kamar kami.

"Miku, periksalah orang itu." Perintah Jii-chan, aku hanya mengangguk.

"Syukurlah." Kataku melihat orang yang sudah bertelanjang dada itu mulai duduk dan menggerang perlahan. Kelihatannya lukanya masih sakit.

"Dimana aku?" Tanya orang itu akhirnya.

"Di Desa Huksmen. Siapa kau? Aku tidak pernah melihatmu sebelumnya disini, apa kau dari kota?" Tanya Rin beruntun, pemuda itu hanya menggaruk kepalanya.

"Kurasa aku terdampar di dunia lain." Katanya masih menggaruk kepalanya.

"Du-dunia lain? Rin, kau tidak mencampurkan minuman obatnya dengan leluconmu kan? Lihatlah dia sampai mengelantur seperti ini." Kataku sedikit memarahi Rin.

"Yang benar saja! Dia itu orang lain bagaimana bisa aku berani membuatnya bercanda seperti ini Miku?" Kata Rin, habisnya dia sering sekali mencampur minuman obatku dengan obat yang memiliki efek memabukkan, dan Rin senang sekali memotret keadaanku yang mabuk.

"Hmp! Kau biasanya membuatku seperti itu Rin." Kataku sambil mencubit pipinya.

"Habisnya kau terlihat sangat polos ketika seperti itu, menggemaskan tahu!" Kata Rin ikut mencubit pipiku. Aku merasa ada yang memeluk kami.

"A-apa yang kau lakukan?" Tanyaku kebingungan juga sedikit risih di peluk orang lain seperti ini.

"Yang Maha Agung telah menunjukkan jalan keluar bagi kami! Sang anak yang telah di takdirkan! Aku beruntung bisa menemukan kalian!" Kata orang itu dengan penuh kesenangan, dan tatapannya seperti kalau kami ini adalah harapan terakhirnya. Memangnya apa yang terjadi?

"Kau dari Voca rupanya." Kata Jii-chan tiba-tiba di belakang kami, orang itu kemudian melepaskan pelukannya.

"Voca? Daerah mana itu? Aku tidak ingat ada daerah itu di pelajaran geografi." Kata Rin, benar juga, dimana itu?

"Kalian tidak tahu Voca? Padahal kalian lahir disana." Kata orang itu. Aku pun bertanya-tanya, kami lahir disana? Kami pun menatap Jii-chan. "A-apa anda Master Rugon? Anda masih hidup?" Tanya orang itu sambil memeluk Jii-chan. Aku semakin tidak mengerti.

"Ternyata benar ini kau Gakupo, aku kira orang lain yang menyerupaimu. Tak kusangka kau masih mengingatku!" Kata Jii-chan. Hah? Gakupo? "Sebaiknya kita ke ruang keluarga, akan aku beritahu yang sebenarnya." Kata Jii-chan kepada kami.

Jii-chan pun menceritakan apa yang terjadi, siapa aku dan Rin. Jadi orangtua kami terbunuh karena ramalan itu? Dan kami bukanlah cucu kandung Jii-chan. Tetapi aku dan Rin tidak keberatan karena Jii-chan sudah sangat baik kepada kami.

"Voca adalah sebuah dunia di balik dunia ini, yang menghubungkan adalah sebuah portal dan warganya di sebut Vocaloid. Dan portal yang kalian lihat, itu adalah portal menuju dunia itu, kakek terpaksa menyembunyikannya. Atau keselamatan kedua dunia tidak akan lama. Kalau kedua duniaitu sampai ada orang yang memasuki tanpa seijin Yang Maha Agung. Maka akan terjadi perpecahan karena orang-orang di dunia ini akan iri dengan para warga di dunia Voca yang memiliki berbagai macam pengendalian elemen. Portal itu akan membingungkan waktu, dan untung saja kalian tidak terlalu lama di sekitar pportal itu sehingga waktu kalian hanya terasa beberapa menit, tetapi sudah 3 hari kalian menghilang." Jelas Jii-chan.

"Maka dari itu, hanya Vocaloid yang bebas keluar masuk dunianya, karena Vocaloid menyadari batas-batas mereka. Bayangkan saja kalau kalian yang sebenarnya orang biasa tanpa kekuatan apapun, atau elemen apapun. Masuk ke dunia dimana di sini kalau kau memiliki kekuatan itu kau menjadi beranggapan dengan kekuatan itu kau akan menjadi Kami-sama? Maka orang itu akan kalap dan melahap semua elemen disana, membuat orang-orang dari dunia ini ikut juga menuju Voca dan membunuh semua orang demi kekuatan mereka. Itu yang akan terjadi. Dan yang menjadi Mage sekarang kemungkinan Anon-chan dan Kanon-chan." Jelas laki-laki bernama Gakupo itu.

"Maka dari itu, setelah orangtua kalian meninggal, kakek membawa kalian kemari. Dengan ini Kakek percaya, kalian akan bisa mengalahkan penyihir itu karena kalian pernah menjadi orang yang tidak memiliki apa-apa, kekuatan, uang, tahta, martabat. Semua itu hanya membuat kalian buta." Kata Jii-chan, aku dan Rin pun mengangguk paham.

"Dan aku kemari karena keadaan disana sudah memburuk, setelah Mage itu muncul lagi 9 tahun yang lalu, keadaan sekarang bahkan sangat memburuk. Semua kerajaan berperang, bahkan beberapa kerajaan menjadi pengikut Mage itu." Kata Gakupo tadi.

"Sebaiknya kalian segera pergi, Gakupo, jaga cucu-cucu ku ini, dan kau akan berangkat dari tempat yang akan aku buka portalnya. Hati-hati disana." Kata Jii-chan.

"Baiklah, sebelumnya, pernenalkan namaku Gakupo Kamui. Dan aku mengenali Master Rogue karena aku sempat belajar kepadanya selama satu tahun. Orangtuaku juga murid dari Master Rogue, tetapi sekarang sudah meninggal karena krisis ini. Dan aku tadi terdampar di tempat kalian menemukanku, aku saat itu sedang dalam pertempuran sehingga aku tidak tahu kalau aku membuka portal di koordinat yang salah, dan disanalah aku tadi, terdampar dan kehilangan kesadaran, untung kalian yang menemukanku. Dan aku setahun lebih tua dari kalian." Kata Gakupo kepada kami.

"Petualangan di dunia lain huh?" Tanyaku.

"Hei, ini juga bisa mengubah takdir kita!" Kata Rin.

"Kurasa ini lucu, baru juga tadi kita mengutarakan keinginan kita, dan semuanya langsung terjawab sekarang." Kataku sambil mengingat keinginan kami tadi siang.

"Bergegaslah, kalian harus pulang ke dunia kalian. Kakek sudah tidak di perkenankan kembali oleh Yang Maha Agung. Kalian pulanglah!" Kata Jii-chan kepada kami. Tak terasa air mata mengalir di pipiku. "Kau kenapa Miku?" Tanya Jii-chan, aku langsung memeluknya.

"Aku hanya ingin berterima kasih Jii-chan sudah menjadi Jii-chan angkat kami untuk waktu 14 tahun lamanya! Dan sekarang aku bingung, aku tidak terlalu paham bagaimana caraku untuk menguasai elemen yang aku miliki dan elemen apa yang aku miliki!" Kataku kepada Jii-chan.

"Kau akan menemuinya nanti dalam perjalanan, dan Gakupo akan melatihmu." Kata Jii-chan, aku hanya mengangguk, Rin pun ikut memeluk Jii-chan dengan menangis tersedu-sedu.

Akhirnya setelah saat paling emosional itu, kami memanggul tas kami dan berangkat menuju hutan, dimana portal itu terakhir terlihat, kami bersyukur baju kami tidak terlalu banyak sehingga tidak terlalu menghambat dalam perjalanan ini.

Portal itu terbuka dan Gakupo mulai menatap kami.

"Sesampainya disana, kita akan bermalam dulu di rumah istriku." Katanya kepada kami.

"hah?! Istri?! Umur 17 tahun sudah boleh beristri?!" Tanyaku dan Rin kaget.

"Ehm, yah peraturan di duniaku berbeda dengan duniamu, setelah berusia 16 tahun, kau sebenarnya bisa langsung menikah, yah prosesinya sedikit lebih rumit sih, kurasa bukan saatnya aku menjelaskannya sekarang. Dan elemenku adalah petir, elemen kalian adalah cahaya dan pengendali pikiran. Rin, sebaiknya kau menggunakan sebaik mungkin dengan kemampuanmu itu. Itu adalah kekuatan yang lumayan menyebalkan." Kata Gakupo, apa pengendalian pikiran? Pantas saja selama ini.. "Baiklah ayo masuk." Kata Gakupo sambil melangkah masuk ke portal itu, aku pun ikut melangkah masuk bersama Rin dan terasa seperti jatuh ke sebuah lubang, aku pun memejamkan mata takut.

"Hei-hei, bangunlah kita sudah sampai." Panggil seseorang, aku membuka mata dan melihat kehancuran dimana-mana, dunia ini benar-benar hancur.

"Dunia ini terlihat menyedihkan!" Kata Rin. Aku hanya mengangguk setuju.

"Ayo, disini rumahnya, yah ini adalah tempat teraman disini." Kata Gakupo menarik kami ke rumah berukuran 2 tatami yang hanya berisi meja dan futon. Dua kemudian memindahkan futon itu dan ada tangga menuju ke bawah. Kami pun masuk ke dalam.

"Wah di sini lebih luas!" Gumamku melihat keadaan disana.

"Arigatou!" Kata seorang gadis disana menyahut.

"Ah, Gomenasai." Kataku sambil membungkuk.

"Tidak perlu seperti itu, Gakupo sudah memberitahuku tentang kedatangan kalian. Saya adalah Luka Megurine sungguh senang menyambut kalian, Miku Hatsune dan Rin Kagamine." Kata gadis di sana sambil membungkuk.

"Tidak usah seperti itu, panggil saja aku Rin." Kata Rin.

"Sama denganku, panggil saja aku Miku." Kataku juga.

"Baiklah, panggil juga aku Luka, kita akan melakukan perjalanan di hari baik, dan itu dua hari lagi, Gakupi, kita akan berjalan kearah mana?" Tanya Luka kepada Gakupo.

"Ke kerajan Barat, kita akan sedikit memutar." Kata Gakupo. "Lagipula kita ada undangan disana bukan?" Kata Gakupo.

"Ah, undangan pesta dansa ya?" Kata Luka.

"Etoo.. maaf menyela, disaat krisis seperti ini, kalian malah menghadiri pesta dansa?" Tanya Rin kepada mereka.

"Memang sekarang ada beberapa kehancuran disana sini, tetapi bagi para bangsawan ataupun keluarga kerajaan lainnya, hal ini biasa saja, dan tidak mempengaruhi apa-apa dalam gaya hidup mereka. Sebenarnya aku dan Gakupo adalah anggota kerajaan sebelumnya, tetapi aku dan Gakupo kabur setelah pernikahan kami. Kami hanya tidak cocok dengan keluarga kerajaan, mereka lebih memilih menjadi anak buah para penyihir itu daripada menentang mereka." Kata Luka sambil menyiapkan makanan.

"Sekarang ayo kita makan dulu, masakan Luka sungguh enak loh." Kata Gakupo kepada kami, kami hanya mengangguk dan menyantap beberapa makanan disana, walaupun bahannya aneh dan di luar kewajaran, tetapi tetap saja enak. Belum pernah ada buah di sajikan dengan sup pedas yang panas, dan daging di sana di olah dengan saus manis.

"Baiklah, saatnya istirahat, biarkan saja piringnya, mencuci piring di malam hari di sini hukumnya tabu!" Kata Taky, Kami hanya mengangguk dan memasuki kamar kami, walaupun tidak luas, ada dua kasur disana.

"Sebuah petualangan di dunia baru." Kataku sambil berbaring.

"Dengan ini juga kita bisa keluar dari lingkaran kemiskinan." Gumam Rin juga.

"Entah mengapa semuanya jadi terlihat aneh sekarang, semua berjalan begitu cepat, dan kita sudah ada di Voca untuk memenuhi takdir kita, bahkan kita belum tahu apa-apa tentang dunia ini, hanya yang di ceritakan oleh Gakupo." Kataku. Rin kemudian bangkit duduk.

"Ini adalah kesempatan sekali dalam seumur hidup Miku, kita tidak boleh melewatkannya!" Kata Rin menyemangatiku. Atau itu dugaanku. "Kali ini aku tidak mengendalikan pikiranmu Miku." Kata Rin, aku hanya tersenyum.

"Tanpa kau kendalikan pun aku juga tidak ingin melewatkan kesempatan ini Rin. Kesempatan untuk mengetahui siapa sebenarnya orangtua kita dan memenuhi takdir kita." Kataku. "Akhirnya, kita bukan anak pembawa kesialan." Gumamku.

"Yah, tempat ini lumayan bebas, kau bisa menikah di umur 16 tahun. Bahkan di negara kita, kita harus berumur 20 tahun atau lebih untuk bisa menikah." Kata Rin, aku hanya mengangguk. "Kelihatannya hidup kita akan lebih berwarna dengan ini Miku." Kata Rin, aku hanya mengangguk.

"Berbagai warna, dari terang hingga gelap. Kita akan menjalaninya sekarang!" Kataku. "Kuharap masih ada cahaya ketika kita sampai di warna gelap." Kataku lagi.

"Kau kan cahaya Miku, ayo kita tidur, dua hari lagi adalah saat yang menentukan bagi kita." Kata Rin sambil berbaring dan mulai tidur. Tetapi aku tidak bisa tidur, aku merasa ini adalah petualanganku, dan rasa ingin tahuku tentang di luar sana membuatku tidak bisa tidur. Akhirnya Rin benar-benar tertidur dan aku menyelinap keluar. Kurasa aku bisa latihan malam ini.

Aku berjalan keluar dan menuju luar rumah itu. Malam ini terlihat sangat sunyi, tempat ini sudah sepenuhnya di tinggalkan. Aku mulai berkeliling di tempat ini, kemudian terlihat sebuah tanam, sebuah keajaiban temampang di bawahku. Lingkungan di sekelilingnya hancur lebur, tetapi taman ini tetap lestari walaupun ada beberapa bagian yang rusak. Aku melihat papan nama disana.

"Hope's Park." Termampang disana, aku kemudian tertawa ironi. Jadi masih tersisa harapan ya? Yah, aku merasakan hawa harapan di lingkungan ini. Aku duduk di bangku di sana memandangi langit yang kosong itu, aku jadi membayangkan, bagaimana dunia ini sebelum kekacauan ini terjadi. Ah iya, perpustakaan, perpustakaan adalah jendela bagi dunia. Aku rasa, bukankah tidak menutup kemungkinan ada satu atau dua buku yang tersisa disini?

Aku kemudian menyusuri rumah-rumah kosong dan rusak di daerah ini dan menemukan sebuah buku.

Jadi sekarang yang bertahan hanyalah beberapa kerajaan kuat yah? Buku ini benar-benar berguna karena berisi tenang kliping koran sampai kota ini hancur, kelihatannya penghuninya sudah meninggal, jadi warga yang tinggal di lingkungan kerajaan yang masih berdiri masih bisa hidup layak rupanya. Aku kemudian mencoba kekuatanku, bagaimana caranya yah? Mungkin membuat sebuah bola cahaya?

Tetapi tiba-tiba ada sebuah bola cahaya di tanganku, jadi hanya dengan membayangkannya saja ya? Aku mengulurkan tanganku mencoba menyinari sesuatu di hadapanku, sebuah aliran berbentuk kumpulan titik cahaya mengalir mengitari tangan kananku dan menghasilkan cahaya di telapak tanganku.

"Whoaa. Hebat sekali!" Kataku kepada diriku sendiri. Tetapi aku mendengar suara gemersak di kejauhan. "Siapa disana?" Tanyaku kepada siapapun disana, dan seekor binatang keluar dari kejauhan. "Ternyata Cuma binatang." Gumamku kepada diriku sendiri. Tetapi binatang di sini sungguh aneh.

"Apa yang di lakukan seorang gadis sendirian disini?" Tanya seseorang, aku kemudian berbalik, ada beberapa orang sekarang di hadapanku dan sekelilingku, aku terkepung, ini berbahaya. Sial! Aku lengah, ini adalah kota yang di tinggalkan, tidak menutup kemungkinan beberapa geng akan menjadikan ini markasnya. Aku terlalu sibuk dengan diriku sendiri, semua orang di sana menatapku dengan garang, kelihatannya aku melanggar teritori mereka.

"A-Ah, Sumimasen, aku tidak tahu kalau daerah ini ada yang punya, aku hanya sedang berjalan-jalan karena tidak bisa tidur, maafkan aku, Aku baru disini." Kataku berusaha merendah, aku harus menghindari perkelahian, selain aku belum tentu menang melawan mereka, aku juga baru mengetahui kekuatanku.

"Hah? Orang baru? Di kota yang di tinggalkan? Kau sungguh hebat dalam melucu gadis kecil!" Kata seseorang disana. Beberapa orang disana kemudian memberi jalan bagi seseorang, seseorang dengan rambut biru samudra, dia memakai sebuah jubah kehitaman dengan bulu di tepiannya.

"Ka-kalau tidak mempercayaiku ya sudah, aku sudah mengatakan yang sebenarnya!" Kataku. "Lagipula aku sudah berumur 16 tahun! Aku bukan gadis kecil lagi." Kataku, tetapi tiba-tiba orang itu ada di hadapanku.

"Hoo, sudah berumur 16 tahun yah? Kalau begitu jadilah istriku saja." Katanya sambil memegangi daguku. Ini gawat!

.

.

.

TBC

Apa yang terjadi kepada Miku selanjutnya yah? Siapakah orang itu-desu? Gomenasai yang ini kepanjangan-desu, semoga kalian betah membacanya-desu.