Another Fairy Tale Story
.
.
.
Disclaimer : Vocaloid milik Crypton Future Media yang punya
Warning : Typo, genre campur aduk, lelucon gagal.
Chapter 3
Hari 1, Perjalanan.
Haaahh! Hari yang cerah untuk memulai perjalanan ini, udara musim panas yang menyenangkan! Aku mulai meregangkan tanganku ke atas menikmati sinar matahari, namanya juga aku pemilik elemen cahaya, rasanya sungguh menyenangkan di bawah sinar matahari.
"Huaaaahh! Pagi yang cerah!" Kataku.
"Yah pagi yang cocok untuk petualangan. Kau yakin sudah semua tidak ada yang ketinggalan?" Tanya Rin-chan di sampingku aku hanya menggeleng, lagipula baju yang aku miliki memang tidak banyak kok, jadi satu ransel saja cukup.
"Miku, mau di bawakan tas-nya?" Tanya seseorang, begitu menoleh aku langsung terkejut dan berlari ke belakang Rin.
"Da-dare!? Anata wa Dare?!" Kataku sambil menunjuknya.
"Iya, kau siapa? Pencuri ya?!" Kata Rin-chan juga ikut menunjuk-nunjuk laki-laki itu.
"Ini aku Miku! Kaito! Ini aku!" Kata Kaito-san dengan menunjuk-nunjuk dirinya.
"Haaahh?" Kataku dan Rin-chan berbarengan, habisnya di bawah sinar matahari dia sungguh berbeda! Rambutnya pun sungguh bersinar cerah, matanya pun menjadi sangat bening. Dan dia terlihat sangat ceria tanpa ada aura kenakalan-kenakalan lainnya, dia seperti versi Kaito yang belum pernah aku lihat.
"Jangan heran, Kaito ketika di bawah sinar matahari memang seperti itu. Karena kekuatannya melemah dia kembali ke sosok imut-nya seperti dulu saat dia kecil." Kata Luka-san sambil mencubit kedua pipi Kaito-san, aku pun juga ingin mencubitnya.
"Rin, Miku, kau tahu Kaito ketika kecil sungguh polos loh! Dia bahkan sampai di juluki BaKaito! Hahahaha!" Kata Gakupo-san, mereka sungguh teman yang akrab.
"Mou, Gakupo, sudahlah jangan mengungkit masa lalu!" Kata Kaito mulai berjalan.
"Tetapi, entah apa yang terjadi kepada Kaito hingga dia berubah seperti sekarang." Kata Gakupo-san tiba-tiba serius. "Lebih baik kau tidak mengetahuinya Miku, karena kurasa itu juga berdampak kepadamu. Aku tidak ingin sang anak yang di takdirkan melarikan diri dari kelompok hanya karena masa lalu." Kata Gakupo-san sambil berjalan.
"Jadi, kelihatannya Kaito-san menyukaimu Miku." Kata Rin-chan menggodaku.
"Ti-tidak mungkin, lagipula, aku masih tidak ingin menyukai seseorang dulu." Kataku sambil terus berjalan, aku tidak boleh mengingat hal itu lagi.
"Gomenne, kau jadi mengingat kejadian dengan anak itu ya." Untung saja Rin-chan tahu sungguh tabu menyebut nama itu di hadapanku. Aku hanya menggeleng.
"Lagipula, kejadian itu terjadi karena kebodohanku, seharusnya aku sadar, aku ini miskin, aku tidak mungkin bisa jatuh cinta kepada orang seperti itu." Kataku, Rin-chan kemudian mendesah.
"Sungguh peraturan yang merepotkan, aku harap itu tidak berlaku disini." Kata Rin-chan. "Miku, aku ingin menceritakan sesuatu." Kata Rin-chan.
"Silahkan saja." Kataku.
"Aku menyukai Len-kun, aku tahu ini salah, aku juga takut orang-orang hanya akan memandangku sebagai yang hanya menginginkan kekayaan Len-kun." Kata Rin-chan. Aku hanya tersenyum, dia akhirnya suka dengan laki-laki juga.
"Kurasa kau harus menunggunya menyatakan cintanya dulu kepadamu, Rin-chan, dan sebelum kau mengatakan iya ketika dia benar-benar menembakmu, katakan dulu kepadanya tentang ketakutanmu itu, kalau dia akan melindungimu, kurasa kau bisa bersamanya Rin-chan, tetapi kau harus tetap berhati-hati yah?" Kataku sambil mencubit pipinya yang sebelah kiri.
"Aku tahu, kalau begini kau jadi Nee-chan yah Miku." Kata Rin-chan ringan. Aku hanya tertawa.
"Aku menjadi Nee-chan mu ketika kau bercerita tentang hal-hal yang feminim. Sedangkan aku menjadi imouto mu ketika menyangkut hal yang lainnya." Kataku, dia kemudian ikut tertawa.
"Kau tahu, setelah mendengar perjalanan ini Len-kun juga ingin ikut loh, juga dua yang lainnya, aku sih sudah sedikit berkenalan dengan mereka, sang elemen tumbuhan dan satu nya lagi adalah elemen api." Kata Rin-chan. Benar juga, saat pesta dansa kan aku pulang terlebih dahulu dengan Kaito-san. "Jadi apa yang di maksud dengan sebaiknya kita tidak mengetahui masa lalu Kaito-san?" Tanya Rin-chan, aku hanya menggeleng.
"Sudahlah, setiap orang memiliki privasi mereka sendiri. Biarkan saja, lebih baik dia sendiri saja yang menceritakannya." Kataku, Rin-chan hanya menggangguk. Kami meneruskan perjalanan ini dengan diam dan Gakupo-san memimpin di depan sedangkan aku dan Rin berada di barisan yang paling belakang. Ketiga orang itu mengobrolkan sesuatu yang tidak kami pahami, jadinya aku dan Rin mengobrol sendiri.
"Apa kita bisa pulang yah?" Tanya Rin tiba-tiba.
"Eh? Kenapa kau bertanya seperti itu?" Tanyaku.
"Habisnya, kalau Len-kun benar-benar menyukaiku dan dia tiba-tiba mengajakku menikah, otomatis aku akan tinggal di sini. Dan mungkin saja kau dengan Kaito-san." Kata Rin dengan sedikit berbisik, aku kemudian tertawa keras hingga semuanya menatap kepadaku.
"Kyahahahahah! Kau ini ada-ada saja Rin! Itu masih belum pasti kan?" Kataku sambil memukul-mukul lengannya pelan.
"Apa yang kalian bicarakan?" Tanya Kaito-san, aku kemudian akan mengatakan sesuatu hingga di bungkam oleh Rin.
"Tidak ada apa-apa kok! Hanya hal-hal lucu saja!" Kata Rin, jadi dia ingin menyembunyikannya yah, aku hanya mendukungnya dengan hanya mengangguk.
"Aku mau dengar!" Kata Luka-san, Rin kelihatannya sedang memikirkan sesuatu agar tidak ada yang tahu apa yang kita bicarakan tadi.
"Aku hanya membayangkan bagaimana Kaito-san ketika kecil, aku membayangkan dia adalah anak laki-laki yang polos dengan sedikit ingus di hidungnya dan dia juga berbicara dengan cadel!" Kata Rin yang sontak membuat semuanya tertawa, aku pun kembali tertawa, kecuali Kaito-san yang merasa sedikit terhina. Dan hasilnya Rin mendapatkan jitakan pelan dari Kaito.
"Enak saja, dari kecil aku sudah sangat keren kau tahu!" Kata Kaito masih tidak terima.
"Aku kan hanya membayangkannya saja." Kata Rin membela dirinya sendiri, kami pun kembali berjalan karena tadi sempat terhenti karena aku menertawai pemikiran Rin tadi. Tiba-tiba Kaito-san berjalan di sebelahku.
"Kalau Miku, kau membayangkan masa kecilku seperti apa?" Tanya Kaito-san tiba-tiba, sontak saja mukaku memerah. Kaito-san kecil yah? Aku tidak bisa memikirkan bagaimana Kaito-san ketika kecil.
"A-aku hanya membayangkan laki-laki kecil polos menggemaskan yang masih belum mengetahui apa-apa." Kataku, itu sebenarnya bukan aku yang menginginkan untuk mengatakannya, tetapi kelihatannya Rin-chan telah mengendalikanku. Tetapi, lucu juga yah kalau Kaito-san yang dulu seperti itu.
"Apa menurutmu aku bisa menggemaskan seperti dulu yah?" Kata Kaito-san tiba-tiba, eh? Aku hanya menatapnya yang lebih tinggi dariku, aku melihat mukanya sedikit bersemu merah.
"Bi-bisa saja sih kalau kau menghilangkan semua aura kenakalanmu itu." Kataku, yang ini benar-benar aku sendiri yang mengatakannya. Tiba-tiba saja aku merasakan aura suram dari Kaito-san, mukanya tiba-tiba mengeras, apa aku mengatakan sesuatu yang salah? "Ta-tapi kurasa wajar kalau Kaito-san juga memiliki sisi nakal, karena Kaito-san juga sudah remaja sekarang." Kataku meralat kata-kataku tadi.
"Bukan aku yang menginginkan kenakalan ini." Kata Kaito-san cukup lirih sehingga Cuma aku yang di sebelahnya yang mengetahuinya. Dari kelihatannya dia tidak ingin aku bertanya tentang hal itu, ya sudahlah.
"Waaahh! Mikan! Mikan!" Kata Rin-chan tiba-tiba histeris, kami sudah memasuki daerah pasar. Istana Len tinggal sedikit lagi.
"Baiklah, kita berbelanja bekal dulu dan kembali ke sini 1 jam lagi, cukup?" Tanya Gakupo-san, kami hanya mengangguk.
"Miku! Ayo di sana juga jualan Negi lohh!" Kata Rin-chan sambil menarikku, aku pun hanya mengangguk karena di sana ada Negi.
"Rin-chan! Ada eskrim, ayo kita beli!" Kataku. "Kaito-san?" Tanyaku terkejut ketika aku berbalik untuk mengajak Rin-chan ke kedai eskrim disana.
"Memang seperti apa sih rasanya eskrim itu?" Tanya Kaito-san tiba-tiba, eh? Dia tidak tahu eskrim? "Dari kecil ayahku tidak memperbolehkanku untuk memakan eskrim." Kata Kaito-san seperti dia tahu pemikiranku.
"Ayo, ikut aku! Akan aku tunjukkan!" Kataku, aku pun membeli 3 eskrim, tidak ada rasa Negi dan Mikan di sana, jadinya aku membeli rasa strawberry dan coklat untuk Rin, aku memberikan Kaito-san eskrim vanilla. "Cobalah!" Kataku menyodorkan cone eskrim itu kepada Kaito-san, dia ragu-ragu menerimanya pertamanya, akhirnya dia menerimanya dan mulai menjilatnya.
"Astaga! Enak sekali!" Kata Kaito-san dengan ekspresi yang sangat berbeda, aku sampai tersenyum melihat ekspresi bahagia-nya. "Pak, tolong aku tambah lagi! Kali ini beri aku dua!" Kata Kaito-san setelah menghabiskan satu cone itu. Astaga Kaito-san sangat senang memakan eskrim rupanya. Aku hanya tersenyum melihat sikapnya itu.
"Waah, Kaito-san bila begini terlihat sangat berbeda yah." Kata Rin tiba-tiba, kami masih berusaha menghabiskan satu eskrim tetapi dia sudah menghabiskan 5 cone eskrim. Untungnya dia pakai uang-nya sendiri, kalau tidak, aku bisa bangkrut, aku kan dari keluarga miskin.
"Waahh, aku baru tahu ada makanan seenak ini." Kata Kaito-san setelah habis 10 cone eskrim. "Ini akan menjadi makanan kesukaanku." Kata Kaito-san.
"Baiklah, ayo kita kembali, perbekalannya cukup bukan?" Tanya Rin, kami berdua mengangguk, tidak mungkin membawa eskrim ke perjalanan karena akan leleh duluan.
"Kalian lama sekali." Gerutu Gakupo-san yang ternyata sudah menunggu kami.
"Habisnya, ini nih, si pangeran memborong habis pedagang eskrim." Kataku.
"Akhirnya kau merasakan juga eskrim Kaito." Kata Luka-san. "Kurasa aku tahu kenapa kau tidak di biarkan memakan eskrim oleh ayahmu." Kata Luka-san.
"Hehehe, habisnya aku belum pernah makan makanan manis dan dingin itu, aku jadi ketagihan." Kata Kaito sambil menggaruk belakang kepalanya.
"Apa aku bermimpi?" Tanya Gakupo-san tiba-tiba. Ada apa memangnya.
"Akhirnya, Kaito-kun, kau tertawa!" Kata Luka-san tiba-tiba memeluknya, tiba-tiba saja rasanya hatiku terbakar melihat Luka-san memeluk Kaito-san.
"Kau tahu semenjak bertemu lagi denganmu Luka sungguh mengkhawatirkan kemana sisi bahagia-mu." Kata Gakupo-san. Dia kelihatannya biasa-biasa saja dengan sikap Luka-san itu, tetapi entah mengapa aku merasa sedikit marah.
"Hehehe, kelihatannya aku baru saja mendapatkan bahagia-ku kembali." Kata Kaito-san, "Eh, kenapa ekspresimu Miku?" Tanya Kaito-san tiba-tiba, aku langsung bersikap datar sedikit.
"Tidak apa-apa kok!" Kataku mencoba normal.
"Ayolah, apa adikku ini cemburu, kyahahaha!" Kata Luka-san sambil mencubit kedua pipiku.
"Luka-san, Ittai." Kataku, dia hanya tertawa.
"Aku tidak akan merebut Kaito mu kok!" Kata Luka-san masih tertawa. "Terima kasih telah membuat Kaito-kun tertawa kembali." Katanya kepadaku. Aku semakin penasaran akan masa lalu Kaito.
"Ayo berangkat." Kata Gakupo-san, semenjak saat itu Kaito-san selalu berjalan di sisi-ku dengan wajah ceria-nya. Kami akhirnya sampai di depan gerbang dan seorang penjaga memperhentikan kami.
"Tunggu dulu, siapa kalian, dan apa tujuan kalian kemari!" Kata salah satu penjaga disana.
"Kami hanya ingin bertemu Len, aku Gakupo Kamui." Kata Gakupo-san dengan wajah serius.
"Oh, kalian yang sudah di tunggu Yang Mulia rupanya, yang mulia Len sudah menunggu di aula dengan kedua temannya. Silahkan masuk." Kata salah satu penjaga lainnya dan mempersilahkan kami masuk.
"Oi Len!" Kata Kaito-san ketika sampai di aula dia melambai kepada Len dan kedua temannya.
"Eh? Itu Kaito kan?" Kata Len tidak percaya.
"Ya ampun, dalam sehari ini ada dua orang yang tidak mengenaliku." Kata Kaito-san.
"Eh? Apa ini benar?" Tanya salah satu laki-laki yang lainnya.
"Siapa juga dong yang membuatnya tertawa!" Kata Luka-san sambil menepuk bahu-ku.
"Eh? Rin-chan?" Tanya Len lagi, yah kemarin Rin tidak memakai pita-nya sih.
"Kaito! Kau harus tanggung jawab!" Kata Rin kepada Kaito-san, bahkan Rin sudah menghilangkan surfix untuk Kaito-san.
"Aku memang harus tanggung jawab apa coba!?" Kata Kaito-san tidak terima. Kelihatannya kedua orang itu akan terus bertengkar.
"Kau menyebarkan virus tidak di kenali kepadaku! Lihat! Len-kun jadi tidak mengenaliku tahu!" Kata Rin, oke kalian telah membuat istana ini ribut.
"Kau-nya sendiri yang mau virus itu dariku! Dasar remote controller!" Kata Kaito-san, semuanya pun hanya ber-sweatdrop menatap kedua orang yang bertengkar itu.
"Lebih baik daripada kau yang memiliki aura Madesu! Dasar surem!" Kata Rin-chan tidak terima di ejek remote controller, tetapi memang dia elemen pengendalian pikiran kan?
"Hah? Madesu? Bahasa apa itu? Bahasa alien?" Kata Kaito-san.
"Karena kau Baka, akan aku beritahu, Madesu itu Masa Depan Surem! Kau tidak akan aku ijinkan mendekati Miku! Aku enggak mau memiliki saudara ipar surem sepertimu!" Kata Rin, eh? Kok jadi aku ikut terbawa sih?
"Enak saja Baka, kau tuh alien. Seperti kau bisa menghalangi Miku untuk bersamaku saja! Aku juga tidak mau memiliki saudari ipar remote controller! " Kata Kaito-san, oke ini semakin memburuk.
"Kalian, sudahlah.." Kataku mencoba melerai kedua. Mereka langsung melempar deathglare kepada masing-masing.
"Maafkan kedua orang ini yah Len?" Kata Gakupo-san sambil menepuk kepala Kaito-san dan Rin.
"Habisnya, Rin-chan kelihatan imut deh dengan pita itu." Kata Len-san mendekati Rin, aku melihat Rin-chan langsung bersemu merah.
"Ooi, Yuuma, jangan nyalain api-nya dong! Panas nih!" Kata Kaito-san dan langsung di beri deathglare oleh Len-san dan Rin-chan.
"Ehem, baiklah, kembali ke awal, Miku-san kemarin kan pulang terlebih dahulu, ini Yuuma Jirou, dan ini Gumi Megpoid. Yuuma, Gumi, ini adalah Miku Hatsune sang elemen cahaya" Kata Gakupo-san memperkenalkan kedua orang itu.
"Salam kenal, panggil saja aku Miku." Kataku sambil membungkuk.
"Panggil saja aku Yuuma, elemen ku adalah api." Kata Yuuma-san memperkenalkan diri.
"Sama denganku, panggil saja aku Gumi, Miku-chan! Hehehe, elemenku adalah tumbuhan!" Kata Gumi-san sambil menyalami tanganku.
"Bagaimana, sudah siap semua? Ayo kita berangkat." Kata Gakupo-san. Kami semua pun melangkah keluar dari istana itu.
Kami pun memasuki sebuah hutan.
"Tunggu! Kalian harus berhati-hati di dalam." Kata Gumi-san.
"Memang ada apa Gumi?" Tanya Luka-san.
"Hutan ini sudah dalam pengaruh para Mage itu, kemungkinan tumbuhan di sana sudah menjadi abnormal. Jadi kalian berhati-hati-lah." Kata Gumi-san.
"Kemarin aku melewati hutan ini tidak ada apa-apa." Kata Len-san. Karena hutan ini memang di belakang kerajaan Len-san.
"Kau tidak percaya kepadaku?" Kata Gumi-san.
"Terakhir kali aku meragukan seorang pemilik elemen tumbuhan, aku berakhir akan mati terjerat tumbuhan." Kata Gakupo-san yang kemudian membuat 4 buah pedang dan melemparnya kepada Kaito-san, Len-san dan Yuuma-san, yang terakhir di simpan Gakupo-san sendiri.
"Aku tidak di kasih?" Tanya Rin, dia ini memang super tomboy-nya.
"Kalau kau memegang senjata bagaimana nanti Len?" Tanya Gakupo-san enteng, Rin kemudian kembali bersemu mukanya.
"Ba-baiklah." Kata Rin, tumben dia mengalah.
"Baiklah, ayo kita masuk, tetapi, di dalam gelap sekali." Kata Luka-san kemudian menatapku penuh arti.
"Oke, oke, aku paham." Kataku sambil mengeluarkan sebuah bola cahaya yang menyorot ke depan dan berjalan di depan barisan.
"Tolong yah? Hehehe." Kata Luka-san, mereka menjadikanku senter hanya karena aku memiliki elemen cahaya? Hebat sekali.
"Akan aku temani kau di depan." Kata Kaito-san sambil berjalan di sampingku, kami pun memasuki hutan yang sangat lebat ini, bahkan di dalamnya sungguh gelap, seperti malam hari di sini. Aku terus berjalan di depan di dampingi oleh Kaito-san di sebelahku, aku merasakan aura-nya semakin kuat, dan anehnya, aku merasakan nyaman dengan kekuatannya itu.
Aku merasakan sesuatu merambati kakiku.
"Kyaaaaa!"
.
.
.
TBC
A/N :
Surem = Suram
Di sini Rin mengejek Kaito karena elemen Kaito adalah kegelapan, dan Rin menyangkut-paut kan dengan keadaan yang suram.
Dan elemen Rin adalah pengendali pikiran dan itu di ejek Kaito sebagai remote controller.
Elemen Gakupo itu seperti karakter Emiya Shirou di Fate/Stay Night yang sudah mengetahui kekuatannya.
Sampailah di chapter 3-desu, semoga candaan di sini para readers bisa membuat ketawa-desu.. (Enggak berharap sih.) Akhir kata RnR.
Balasan Review:
Kebab Nyamnyam : tenang aja, OTP-nya bakal berlayar chapter depan-desu, ya maksudnya ada yang di sembunyikan oleh Kaito-desu, mari kita tungu bersama-sama kapan Kaito akan mengungkapkan semuanya kepada Miku-desu. (plak!)
