Another Fairy Tale Story

.

.

.

Disclaimer : Vocaloid milik Cyrpton Future Media yang punya.

Warning : Genre campur aduk, Typo, lelucon gagal, alur kemungkinan cepat.

Chapter 4

Hari 1 - Hari 2. Padang rumput.

Normal POV

"Kyaaaa!" Miku menggerak-gerakkan kakinya untuk membuang binatang menjijikkan itu. "Rin-chaaann!" Teriaknya sambil berlari ke arah Rin dan bersembunyi di belakang saudara tidak sedarah-nya itu.

"Kelihatannya, kita memiliki keluarga besar kecoak di sini." Kata Gakupo sambil menyalakan senter-nya untuk melihat ke depan dan melihat gerombolan besar kecoak mengarah ke mereka, padahal mereka memiliki senter tetapi menyuruh Miku untuk menjadi penerang jalan mereka, benar-benar cerdas.

"Kyaaa! Tidak! Tidak! Jangan mendekat!" Teriak Miku yang paling heboh di kelompok itu.

"Tenanglah Miku! Kecoak mendeteksi rasa takut dan malah mendekati rasa takut itu!" Kata Yuuma.

"Kyaaa!" Teriak Miku yang tiba-tiba pingsan melihat Kecoak raksasa menghampiri mereka. Dan akhirnya Miku pingsan karena ketakutannya itu. Kaito tanpa basa-basi lagi mengambil Miku yang berusaha di gendong Rin.

"Apa-apaan kau? Aku bisa menjaga Miku sendiri!" Kata Rin tidak terima.

"Tidak, aku tidak bisa membiarkanmu untuk menggendong Miku di saat seperti ini, biar aku saja, aku lebih kuat!" Kata Kaito.

"Apa kau bilang aku tidak kuat?" Tanya Rin tidak terima.

"Yah, kau kan perempuan dan lagi kau kan sedang masa pertumbuhan, apa kau mau terus-terusan pendek seperti ini?" Tanya Kaito.

"Hentikan, bukan saatnya untuk bertengkar!" Kata Len menyudahi pertengkaran itu. "Rin biarkan saja BaKaito yang menggendong Miku!" Kata Len lagi.

"Ayo kita selesaikan ini!" Kata Yuuma kemudian membakar semua kecoak itu. "Kyahahahaha! Jadilah kalian kecoak panggang!" Yuuma pun tertawa dengan nista-nya.

"Gumi, aku meminta ijin untuk.." Belum Luka menyelesaikan omongannya Gumi sudah menyahut.

"Pokoknya jangan tumbuhan yang aku gerakkan!" Kata Gumi, Luka hanya mengangguk dan mengambil air dari dalam pohon-pohon di sekitarnya. Sedangkan Gakupo? Dia hanya menyerok kecoak-kecoak itu keluar dari jalanannya. Sementara Len membuat anginnya menghalau para kecoak itu.

Kaito melemparkan bola-bola api berbentuk ungu dari tangannya dan membuat para kecoak itu binasa, hingga Kaito dengan mudah menumbangkan Kecoak raksasa yang membuat Miku pingsan dengan satu tangan saja, sementara tangan lainnya menyangga tubuh Miku yang berada di punggungnya, Rin hanya berlindung di balik Len karena dia tidak bisa melakukan apa-apa untuk menghalau kecoak-kecoak itu pergi. Akhirnya semua kecoak itu sudah pergi. Setelah aman, mereka langsung beristirahat dan Miku di baringkan di samping Kaito.

"Bagaimana keadaannya Miku?" Tanya Gakupo, Luka pun memeriksa keadaan Miku, Luka hanya menghela nafas.

"Dia hanya pingsan karena ketakutan. Tidak apa-apa, setelah ketakutannya mereda dia akan sadar kok." Kata Luka.

"Wah, hari sudah malam!" Kata Len mengeluarkan jam saku miliknya.

"Minna, aku sudah membuat ranjang di atas pohon, kalian bisa tidur di sana untuk malam ini." Kata Gumi sambil menunjuk keatas dan melihat ada beberapa kantong tidur yang berjajar dengan dua barisan yang berisi masing-masing 4 kantong tidur. "Tetapi aku hanya membuat satu kantong tidur, satu orang." Kata Gumi yang kemudian menaiki pohon dengan mudahnya.

"Aku akan tidur di dekat Miku untuk berjaga-jaga kalau dia sudah sadar." Kata Rin, Kaito sebenarnya ingin hal yang sama, tetapi Rin menatapnya tajam, Rin sedang mengendalikan Kaito agar tidak berkata apapun sekalipun perkataan itu sudah dekat dengan bibirnya.

"Baiklah para wanita di baris ini dan para laki-laki di baris lainnya, semuanya pegang sulur itu, untuk Miku tenang saja." Kata Gumi sambil mengulurkan sulur dari beberapa pohon untuk mereka naik ke ranjang yang sudah di buat Gumi. Gumi pun menggerakkan beberapa sulur untuk mengangkat Miku dengan lembut ke tempat tidurnya di samping Rin. Rin pun membantu untuk membuat Miku nyaman, mulai dari mengendorkan ikatan di rambutnya hingga menyelimutkan selimut yang di buat Gumi dari dedaunan. "Tenang saja, tidak ada ulat kok karena aku memilihnya dengan teliti, siapa juga yang mau tidur dengan ulat atau serangga lainnya, apalagi semut." Kata Gumi. Semua wanita di sana, kecuali Miku yang masih pingsan mulai mulai bergidik. Ranjang gantung ini sangat nyaman karena terbuat dari sulur yang tidak berbahaya bagi manusia.

-skip time-

Miku mulai menggerakkan tangannya bertepatan dengan matahari yang sudah menampakkan cahayanya, Miku pun mengerjapkan matanya, dan melihat dimana dia sekarang ini. Dia sungguh panik pertamanya melihat dia ada di atas pohon, tetapi melihat Rin di sebelahnya dan semuanya tertidur di ranjang gantung ini membuat Miku bernafas lega, itu berarti mereka memang tidur di sini, Miku mengingat kalau Gumi adalah pengendali tumbuhan.

"Miku, kau sudah sadar?" Tanya Rin, Miku pun menoleh ke arah Rin.

"Jadi aku pingsan yah?" Tanya Miku sambil menggaruk kepalanya, Rin hanya mengangguk.

"Lain kali kalau berhadapan dengan kecoak, jangan biarkan mereka merasakan ketakutanmu, kendalikan dan pergi, maka kecoak itu akan pergi dengan sendirinya, Kecoak itu bisa mendeteksi ketakutan dari seseorang dan malah akan menghampiri orang yang ketakutan itu." Kata Rin menjelaskan. Miku hanya berfikir, bagaimana untuknya yang seorang phobia kecoak mengusir rasa takut terhadap kecoak? Tetapi lebih baik di coba daripada di hampiri makhluk itu.

"Baiklah, akan aku coba." Kata Miku sambil menghembuskan nafas.

"Wah sungguh pemandangan yang bagus! Tetapi lihatlah, ada yang aneh!" Kata Rin dengan kerasnya hingga membangunkan yang lainnya.

"Terlihat seperti ada selimut yang menyelimuti hutan ini." Kata Luka.

"Sepertinya para Mage itu yang menyihir hutan ini." Kata Gumi. "Pantas saja tumbuhannya sungguh aneh untuk dikenali." Kata Gumi lagi.

"Jadi bagaimana? Kita sudah jauh masuk ke hutan ini, kita lanjut atau kembali?" Tanya Len.

"Kita lanjut saja. Lihatlah, pintu keluar ada di sana." Kata Gakupo yang menunjuk ke arah tegak lurus dari arah matahari terbit.

"Baiklah, ayo kita turun dan menemukan sungai untuk membersihkan diri." Kata Yuuma, kami semua pun mengangguk dan turun dengan perlahan.

Cahaya matahari tidak bisa menembus hutan ini dan kembali gelap, Miku kembali berada di depan barisan.

"Eh, kalian dengar itu, sepertinya disana ada sungai, kita bisa memancing untuk sarapan!" Kata Luka sambil menunjuk ke arah suara itu. Dan benar saja keluar dari bayang-bayang hutan, ada sebuah sungai yang sangat jernih. Tanpa basa basi mereka mengumpulkan ransel mereka menjadi satu dan merasakan segarnya air disana. Miku ingin mencuci rambutnya yang sangat kusut karena tidur di ranjang gantung.

"Wah Miku bagaimana kau bisa memanjangkan rambut sepanjang itu?" Tanya Gumi takjub melihat rambut Miku yang terurai hingga ke mata kaki.

"Mudah saja, hanya rutin membersihkannya dan jangan lupa memberi fitamin agar tetap kuat." Kata Miku sambil tersenyum dan memelintir rambutnya untuk memeras air disana.

Para laki-laki asyik memancing dan malah berlomba siapa yang lebih banyak dapat. Para gadis yang telah membersihkan diri mulai mencari ranting kayu untuk membakar ikan-ikan itu nantinya. Setelah mendapatkan banyak sekali ikan menyadari para gadis yang kesulitan menyalakan api, Yuuma dengan 'baik hati' membuat kekuatannya untuk menyalakan api.

"Jangan menggunakanku untuk jadi korek api dong!" Kata Yuuma sedikit dongkol, sementara mereka tidak memperdulikan 'curahan hati' Yuuma tadi dan asyik menusuk ikan dengan ranting. Mereka pun mulai membakar ikan di sana.

"Ternyata membakar ikan di alam terbuka sangatlah menyenangkan!" Kata Len sambil memakan ikan-ikan itu dengan lahap.

"Kau sih terus di istana saja." Kata Kaito yang asyik memakan ikan bakar itu. "Eh? Siapa yang membakar Negi?" Tanya Kaito melihat beberapa Negi yang ikut di panggang dengan di tusuk ranting yang juga di sejajarkan dengan beberapa ikan disana.

"Itu milikku, sebagai makanan penutup. Tehehehe." Kata Miku sambil mengambil satu tangkai yang berisi ikan yang sudah di panggang itu. Miku duduk di dekat Kaito dengan rambutnya yang masih terurai dia arahkan ke depan dan menaruhnya di pangkuannya, agar tidak kotor terkena tanah. Sejenak Kaito tertegun melihat Miku yang rambutnya di urai itu. "Ada apa Kaito-san?" Tanya Miku.

"Eh, tidak apa-apa kok, lagipula bisakah kau buang surfix itu, panggil saja aku tanpa imbuhan apa-apa." Kata Kaito kepada Miku.

"Benar panggil kami juga begitu, Rin-chan juga." Kata Luka memandang Rin dan Miku bergantian.

"Baiklah, mulai sekarang tanpa ada yang memakai surfix '-san' satu sama lain." Kata Yuuma. Mereka semua pun mengangguk.

Setelah selesai Miku mengenakan kedua kuncirnya di tangannya sebelah kiri karena rambutnya belum kering benar, ketika mereka masuk kembali ke hutan, hutan itu kembali menggelap seperti saat malam.

"Disini memang sungguh membingungkan waktu." Kata Gumi, Akhirnya mereka sampai di cahaya, dan mereka memutuskan untuk beristirahat sejenak karena Miku dan Rin sedang berlatih, dan sasaran pengendalian Rin adalah, Kaito!

"Oi Rin! Jangan membuatku seperti bonekamu!" Teriak Kaito ketika tubuhnya dikendalikan oleh Rin untuk menari balet. Meskipun begitu gerakan Kaito sungguh lemah gemulai.

"Setelah ini kupastikan kau menjadi penari yang handal Kaito." Kata Gakupo sementara di padang bunga itu Kaito terus saja menari balet dengan indahnya(?). Bahkan Kaito juga terkadang melompat dan berputar seperti balerina handal, tetapi dia tidak sedang menari balet sebagai sang laki-laki yang gerakannya masih normal, tetapi dia melakukan gerakan balet perempuan yang mengharuskan menjinjit terus.

"Rin! Lepaskan akuu! Dasar remote controller!" Teriak Kaito.

"Tidak akan, lagipula kau harus berterima kasih denganku seharusnya, aku bisa membuatmu menghilangkan kemungkinan Madesu-mu itu dengan kau menjadi handal dalam penari balet! Kau bisa menjadi penari balet masa depan Kaito!" Kata Rin sambil tertawa, semuanya hanya bisa tertawa melihat Kaito yang sedang menari balet.

"Rin, kurasa sudah cukup." Kata Miku menepuk bahu Rin dan Kaito langsung ambruk ke tanah.

"Ya ampun, aku sungguh kelelahan! Kakiku sakitt~~" Kata Kaito yang sedang berbaring di padang rumput itu Kakinya sungguh sakit karena harus berjinjit tadi, laki-laki mana sih yang pernah menari sambil berjinjit seperti itu? Apa lagi yang di kenakan Kaito adalah sepatu bot laki-laki yang sangat tidak cocok untuk menari balet. "Kau akan membayarnya setelah ini Rin!" Kata Kaito. Dasar kedua orang yang tidak pernah akur. Miku hanya menggeleng melihat kelakuan kedua orang itu.

"Rin, lihatlah, lucu bukan?" Tanya Miku sambil menyerahkan kelinci putih ke arah Rin.

"Huwaaa! Kawaii yo~~!" Kata Rin dengan gemasnya memeluk kelinci putih itu.

"Kelincinya mirip denganmu Rin." Kata Len tiba-tiba di sebelah Rin yang sontak membuat Rin memerah mukanya.

"Omong-omong soal kelinci putih, kurasa aku ingat soal lambang, lambang apa ya? Aku lupa." Kata Gumi.

"Oh lambang playboy? Iya itu memang menggunakan kelinci putih sih, karena katanya kelinci jantan sungguh suka bergonta ganti pasangan, jadinya playboy di lambangkan kelinci." Jelas Yuuma.

"Berbicara soal playboy, kurasa disini ada orang yang kelihatannya playboy." Kata Luka, semuanya pun menatap Kaito dengan tatapan 'itu dia orangnya' kecuali Miku dan Rin yang kebingungan, Rin yang mengetahui arah pandangan mereka langsung tersenyum penuh arti.

"Iya aku memang playboy, puas?" Kata Kaito yang sedari tadi menjadi bahan bully kelompok itu dengan kesalnya. Tadinya Rin ingin mengendalikan Kaito untuk mengatakannya, tetapi sudah di katakan sendiri oleh orangnya.

"Jangan marah begitu dong Kaito~~" Kata Miku sambil mencubit kedua pipi Kaito yang sontak membuat pipi orang yang di cubit itu langsung memerah. "Oh, maaf Kaito, pasti sakit ya hingga memerah seperti ini, aku tidak sengaja." Kata Miku.

'Bukannya sakit, aku terpesona tahu!' Batin Kaito. "Ahahaha! Tidak apa-apa kok Miku. Aku hanya terpesona saja, ada bidadari yang baru saja mencubit pipiku." Kata Kaito sedikit, yah, merayu Miku. Kini Miku ikut-ikutan memerah mukanya.

"Namanya juga playboy, Hmp~" Gumam Rin yang tidak di dengar oleh Kaito.

"Ayo kita lanjutkan saja perjalanan ini, perjalanannya masih jauh loh." Kata Gakupo selaku pemimpin di kelompok itu. Mereka kembali memasuki area permukiman yang terdapat sebuah kuil yang sangat besar. Tetapi kemudian muncul salju.

"Eh salju?" Tanya Miku sambil mengulurkan tangan dan mendapati salju mendarat di telapak tangannya, udara kemudian sangat dingin.

"Kelihatannya kita sudah melewati perbatasan musim." Kata Gakupo.

"Perbatasan musim?" Tanya Rin.

"Iya, Voca di bagi menjadi 5 bagian, 4 bagian adalah perwakilan musim jadi setiap hari adalah musim itu, dan bagian ke 5 adalah pusat dari Voca, disana mengalami 4 musim bergantian." Kata Yuuma menjelaskan. "Dan kita sudah sampai di bagian musim dingin." Kata Yuuma lagi.

"Hattsyyii!" Bersin seseorang.

"Kau sakit Miku?" Tanya Kaito. Miku hanya menggeleng.

"Aku hanya alergi dingin, selalu saja ketika dingin aku selalu bersin-bersin, meskipun begitu aku tidak terserang flu ataupun pilek, hanya bersin-bersin saja." Kata Miku yang kemudian terus bersin.

"Lebih baik kita berganti baju musim dingin dulu saja." Usul Len, semuanya pun mengangguk dan menumpang di salah satu kamar mandi kedai untuk berganti baju, Luka memakai pakaian hangat berwarna putih dengan jubah kecil hingga ke siku-nya dan mengenakan sebuah topi bulu, sementara Rin tidak sengaja memakai pakaian hangat yang sama seperti Len, Miku memakai pakaian hangat berwarna biru, Kaito tidak berganti pakaian karena baju yang di pakainya sudah cukup hangat, Gakupo juga masih memakai pakaian seperti samurai itu, Yuuma berganti menjadi mengenakan pakaian hangat berwarna merah, dan Gumi memakai pakaian hangat berwarna hijau.

"Bagaimana Miku? Kau masih ingin bersin-bersin lagi?" Tanya Rin mengkhawatirkan Miku. Miku hanya menggosok hidungnya.

"Lebih baik aku membeli tisu untuk berjaga-jaga." Kata Miku ke sebuah supermarket kecil di sana membeli dua pack tisu yang di masukkan ke dalam tas Miku. Setidaknya sekarang dia tidak terlalu sering bersin dengan baju hangat-nya itu.

"Baiklah, ayo kita lanjutkan lagi." Kata Gakupo. Semuanya pun melanjutkan perjalanan di desa putih itu.

.

.

.

TBC

Sampai juga di chapter 4-desu~~! (Tebar confetti (alay)) sempet berabad-abad enggak update. Sebenarnya Clara bingung memberi judul chapter ini-desu, karena tempatnya ada 3-desu, jadi ya Clara pakai salah satu tempatnya saja-desu. Kalau ada yang memberi masukan tentang judul chapter ini Clara akan sangat berterima kasih-desu.

Cerita ini bersetting di sebuah daerah kerajaan di era modern-desu.

Untuk baju Luka, Miku, Rin dan Len bisa kalian bayangkan mereka memakai pakaian musim dingin di module's mereka.

Di Chapter depan akan di jelaskan kenapa Kaito di pandang sebagai 'playboy' oleh semua orang di kelompok-desu, kecuali Miku dan Rin yang memang orang baru di kelompok-desu.

Gomen Clara baru updata sekarang-desu.

Balasan review :

Kebab nyamnyam : Iya memang rencananya YuumaGumi-desu, soal adegan rebutan yah? Kelihatannya enggak Clara masukin, maaf yah kebab nyamnyam-san. Terima kasih atas semangatnya! (^_^)

Guest(muni) : Ini sudah lanjut-desu.

Guest(Nakanishi) : Terima kasih untuk semangatnya-desu, ini sudah lanjut kok.

Kuro Furea : Ngapain di tahan-desu, ketawa aja-desu, tertawalah sebelum tertawa itu di larang-desu, dan yang ini semoga lucu juga.