Another Fairy Tale Story

.

.

.

Disclaimer : Vocaloid milik Crypton Future Media yang punya.

Warning : Genre campur aduk, Typo,

Chapter 5

Hari 2 – Desa Salju

Miku POV

Dan selama perjalanana semua orang sedang berdiam diri sedangkan aku yang mengisi kekosongan dengan suara bersinku. Tiba-tiba ada sebuah syal biru melilit leherku, aku pun melihat ke arah siapa yang memberikannya dan menemui Kaito-kun yang sudah tidak memakai syal.

"Apa kau tidak kedinginan?" Tanyaku kepada Kaito-kun. Dia hanya menggeleng.

"Jaket ini sudah sangat hangat kok Miku. Apa di sini tidak ada yang jualan eskrim?" Kata Kaito sambil menghela nafas. Aku pun menatapnya aneh, di daerah dimana semuanya dingin, maka makanan hangat yang akan laku, tetapi kalau eskrim? Dia benar-benar ketagihan eskrim. Dan akhirnya dia mendapatkan jitakan dari, Rin?

"Dasar bodoh, di tempat dingin mana ada orang jualan eskrim." Kata Rin, mereka memang tidak bisa akur rupanya, kelihatannya mungkin ini cara mereka akur.

"Ada sebuah penginapan disana, kita menginap dulu yuk." Kata Luka, semuanya pun hanya mengangguk. Hujan salju-nya sudah berhenti, tetapi tetap saja, semua di sana berlapis putih.

"Setelah ke kamar masing-masing, segera berkumpul lagi di kantin penginapan oke?" Kata Gakupo, kami semuanya hanya mengangguk. Aku kebagian kamar dengan Rin-chan, tentunya aku tidak keberatan.

"Lihatlah sekarang kita dimana Miku. Jauh dari rumah, sebuah petualangan musim dingin di waktu musim panas, kita benar-benar keluar dari dunia yang biasa kita tempati." Kata Rin sambil menatap ke arah luar jendela. Aku pun berdiri di samping Rin.

"Benar, tetapi kata Jii-chan, di sinilah asal kita, kita sudah pulang ke kampung halaman Rin, tetapi Jii-chan tidak bisa pulang ke kampung halaman." Kataku sambil memegangi kaca disana mengingat Jii-chan di desa.

"Aku rindu Jii-chan." Kata Rin, aku menepuk pundak Rin.

"Ayo kita segera selesaikan ini, dan kita akan bisa mengajak Jii-chan kemari, ayo kita di suruh berkumpul di kantin kan." Kataku sambil menariknya pergi. Semuanya sudah ada di sana jadi kami terlambat yah. "Maaf kami terlambat." Kataku.

"Tidak apa-apa ayo duduk, sudah aku pesankan katsuyu untuk kalian." Kata Gumi.

"Waaahh. Katsuyu!" Kata Rin bersemangat kemudian meminum katsuyu itu sedikit. Sementara Kaito memesan satu gelas besar ice cream sundae, aku sampai heran, menu eskrim seperti ini di daerah serba dingin.

"Baiklah, semuanya sudah berkumpul, baiklah, kita bisa bertukar email sekarang untuk memudahkan kita nantinya." Kata Gakupo sambil mengeluarkan ponselnya, bukan ponsel sembarangan lagi, sebuah ponsel pintar. Aku sedikit terpana melihatnya, semuanya pun mengeluarkan ponsel mereka masing-masing.

"Miku, Rin-chan, dimana ponsel kalian?" Tanya Len.

"Kami tidak memiliki ponsel." Kata Rin enteng masih meminum katsuyu miliknya. "Haahh.. dingin-dingin minum katsuyu memang cocok." Kata Rin yang sudah menambahkan parutan kulit jeruk di katsuyu-nya.

"Jadi semenjak kecil kalian tidak memegang ponsel?" Tanya Kaito, aku dan Rin hanya menggeleng.

"Kami sempat punya dulu waktu Jii-chan masih berjaya, sekarang ponsel kami sudah kami jual karena membuat pengeluaran terlalu besar." Kataku ikut meminum katsuyu milikku yang sudah aku beri taburan Negi.

"Baiklah, untuk Miku dan Rin kita urus besok, jadi rute kita selanjutnya dimana Gakupo?" Tanya Luka.

"Kita akan berjalan ke selatan dari sini, kita harus menghindari daerah kekuasaan para Mage itu, para pengikut Mage itu mulai mengibarkan bendera perang kepada kita. Daerah ini masih netral jadinya kita aman disini." Kata Gakupo menjelaskan sambil membuka peta-nya.

"Aku jadi ingin ke pemandian air panas!" Kata Gumi sambil memegangi Lehernya, sedangkan Kaito sudah memesan lagi eskrim, kini di hadapannya sudah ada 3 gelas bekas ice cream. Astaga, dia ini.

"Sebentar, aku masih ingin makan dulu!" Kata Luka memandang sashimi tuna di hadapannya.

"Baiklah, kita makan dulu." Kata Yuuma menengahi.

"Itadakimasu!" Kata Gumi sambil memakan pie wortel di hadapannya dengan lahap, aku memesan sup krim negi sedangkan Rin memakan ayam saus jeruk yang di pesannya tadi. Gakupo memesan beberapa buah terong bakar dan Yuuma memesan sup ikan makarel. Sedangkan Kaito? Dia sudah asyik sendiri dengan eskrim di hadapannya.

"Huwaa, makanan di sini sungguh enak." Komentar Yuuma.

"Karena cuaca di sini dingin, tuna ku jadi masih segar." Komentar Luka yang sedari tadi asyik makan tuna segar dari piring sashimi-nya.

"Haaahh.. kenyang.." komentarku, rasanya tubuhku kembali menghangat.

"Ayo sekarang kita ke pemandian air panas!" Kata Gumi, kami semua pun hanya mengangguk dan menuju tempat pemandian air panas.

"Waaahh.. lega sekali." Kata Rin begitu sudah memasuki kolam air panas di luar ruangan ini. Aku dan Luka menggelung rambut kami ke atas. "Miku! Lihat deh pemandangannya, bagus sekali!" Kata Rin sambil melihat sebuah gunung yang terlihat dekat itu, gunung itu terlihat sangat agung dengan warna putihnya itu.

"Itu adalah gunung yang menjadi sumber salju di daerah musim dingin ini." Jelas Luka. "Di dalam gunung di sana ada sebuah benda sihir yang di buat Mage pertama, dulu seorang Mage bukanlah orang yang jahat, dan yang membuat 5 daerah di dunia ini adalah sang Mage pertama, dulu banyak sekali Mage seperti para pengendali elemen lainnya, sang Mage pertama pun memecah kekuatannya hingga terciptalah orang yang bisa mengendalikan elemen, dan para Mage hidup damai dengan para pengendali elemen yang memiliki jenis elemen mereka masing-masing, hingga akhirnya, para Mage itu menjadi buta karena kekuatannya, mereka pertamanya berlomba-lomba siapa yang paling kuat hingga akhirnya membunuh para Mage lainnya, populasi Mage pun berkurang, hingga akhirnya Mage terakhir menjadi semakin buta, dia merasa kalau dia lah sang kami-sama, dia melihat semua pengendali elemen adalah makhluk yang lemah. Akhirnya, terjadilah kekacauan ini, Mage keturunan murni terakhir di kalahkan oleh orangtua kalian, dan sekarang sang Mage yang di takdirkan oleh Mage terakhir telah datang, dan keadaan semakin kacau." Kata Luka.

"Jadi, dunia ini masih muda dong?" Tanyaku. Gumi hanya menggeleng.

"Sang Mage pertama, di kabarkan muncul ribuan tahun yang lalu, kemudian kejadian yang di ceritakan Luka-chan sebenarnya adalah kejadian yang terjadi selama ratusan tahun, jadinya, dunia ini sudah lama." Kata Gumi. Kami berdua pun mengangguk paham.

Jadi dunia ini berasal dari para Mage, sedangkan kami para pengendali Elemen adalah orang baru di dunia ini, jadi kurasa masuk akal juga kalau mereka menganggap diri mereka adalah kami-sama di dunia ini, tetapi aku merasakan kalau bukanlah ini tujuan Mage ada di dunia ini. Aku memandangi gunung itu dan merasakan kalau ada yang memanggilku.

'Miku..'

"Siapa yang memanggilku?" Tanyaku kepada ketiga gadis di sana, semuanya hanya menatapku aneh kemudian menggeleng.

"Tidak ada yang memanggilmu kok." Kata Rin kepadaku.

"Lalu siapa tadi yang memanggilku?" Tanyaku sambil memegangi tengkuk-ku, aku mulai memikirkan ada hantu di tempat ini.

"Penginapan ini tidak ada sejarah berhantu loh Miku." Kata Gumi kepadaku, aku hanya mengangguk, aku sangat paham akan hal itu.

"Aku tahu, kalau berhantu lagipula untuk apa pengunjungnya sebanyak ini?" Tanyaku. "Lebih baik aku sudah saja, aku takut aku berhalusinasi karena terlalu lama berendam di sini." Kataku. Setidaknya aku tidak bersin-bersin lagi sekarang, sesampainya di kamar, aku melihat syal milik Kaito masih ada di kamarku, kini aku hanya memakai kimono penginapan, kurasa aku akan mengembalikannya sekarang, katsuyu dan berendam di onsen kelihatannya telah mengurangi intensitas bersin-ku. Aku berjalan sambil membiarkan rambutku tergerai, hujan salju mulai turun.

'Miku.. aku tahu kau mendengarkanku.' Kata suara itu lagi.

"Siapa sebenarnya dirimu!" Kataku sedikit keras hingga orang-orang di sekitarku mulai menatapku aneh dan mencari-cari siapa yang aku ajak bicara. Tetapi suara itu tidak lagi muncul, siapa sebenarnya yang membuat suara di kepalaku ini? Aku langsung menggeleng dan melangkah menuju kamar Kaito juga Len. Tetapi ketika aku ketuk tidak ada suara yang menyahut. "Kaito? Len?" Panggilku, tetapi tidak ada yang menyahut, aku kemudian memutuskan untuk kembali saja.

'Miku.. aku tahu hanya kau yang memahamiku, aku tunggu di atas gunung.' Kata suara itu, karena penasaran, aku pun memutuskan untuk menghampirinya saja, aku berganti baju dan mengambil dompetku, sebelum ke dunia ini Jii-san memberi kami sedikit uang, lumayan lah untuk membeli makanan. Aku juga menguncir rambutku. Aku menulis pesan untuk Rin-chan dan menyuruhnya untuk tidak panik.

Aku kemudian bertanya kepada front penginapan ini dimana kiranya ada transportasi aku ke atas.

"Satu kilometer dari sini ada kereta gantung menuju gunung itu." Kata salah satu petugas disana. Aku hanya mengangguk dan segera berlari menuju stasiun kereta gantung itu. Aku segera membeli tiket untuk keatas dan kembali, tetapi aku mulai merasa ada sesuatu yang aku lupakan, ah, biarlah, semoga saja hal yang tidak terlalu penting.

Ketika keretanya sampai, aku langsung mendapatkan tempat duduk, perjalanan selama satu jam nantinya. Semoga saja mereka semua tidak khawatir kepadaku.

'Tenang saja, kau akan kembali ketika mereka selesai berendam di onsen.' Kata suara itu seperti tahu aku sedang mengkhawatirkan itu.

"Siapa kau sebenarnya?" Tanyaku lirih.

'Kau akan tahu setelah sampai di sana nantinya.' Kata suara itu. Ketika kereta memasuki terowongan, suasana menggelap, dan ketika keluar, ada seseorang duduk di hadapanku yang membuatku terkejut, padahal tidak ada orang di hadapanku sebelumnya. Wanita itu wajahnya tertutup jubahnya, tetapi beberapa rambut keluar dari tudung jubahnya, rambut pirang madu, hampir seperti punya Rin tetapi warnanya lebih gelap.

"Kau sungguh menghiraukan mara bahaya demi rasa penasaranmu itu." Kata wanita itu, aku melihat mulutnya yang membentuk sebuah senyuman. "Apa kau siap akan bahaya karena keputusanmu ini?" Tanyanya lagi kepadaku, aku hanya menatapnya aneh, siapa wanita itu? Wanita itu sekitar berumur 20-an.

"Siapa Anda?" Tanyaku. Kami kembali memasuki sebuah terowongan dan ketika keluar, wanita itu menghilang. "Siapa wanita itu?" Tanyaku kebingungan, kemudian aku merasa aku di awasi, tetapi oleh siapa, semua orang di gerbong ini sedang melihat ke arah luar jendela melihat keindahan yang berselimut putih ini.

-skip time-

Akhirnya aku sampai di puncak gunung ini, yah tidak terlalu puncak sih.

'Aku berada di museum sejarah di sini, kesana lah, aku akan menuntunmu kepadaku.' Jelas suara itu, aku langung menuju ke sebuah museum disana, jadi ini adalah museum tentang bagaimana daerah salju terbentuk, jadi yang terbentuk di dunia Voca ini adalah daerah ini dulu, karena sebuah hal, daerah kelima yang terakhir kali di bentuk dengan mengepentingkan beberapa orang yang ingin tinggal di satu wilayah tetapi tidak bisa bertahan di kondisi yang sama, jadi daerah kelima mempunyai 4 musim secara bergantian.

Dengan mengikuti suara itu, aku sampai di sebuah tembok yang ada simbol aneh dan ada papan nama disana. "Benda sihir pertama, Bola Salju Kehidupan." Tulis disana.

'Gunakan cahayamu untuk membuka pintu disana.' Kata suara itu, aku langsung membuat cahaya dan mengarahkan kearah simbol itu dan batu-batu di sana mulai membuka membentuk sebuah lorong, ketika aku masuk di belakangku mulai menutup kembali, hingga akhirnya aku berada di sebuah ruangan dengan sebuah lubang di atas yang menyinari sebuah bola salju, salju turun dari lubang itu menimpa bola salju dengan lambang yang sama yang ada ditembok tadi, di bawahnya sebuah air mancur yang mengalir pelan, inilah bola yang mengendalikan cuaca di sini.

"Akhirnya kita bertemu." Kata orang disana, aku kemudian menoleh. "Sang keturunan Elemen Cahaya, elemen pembawa keabadian." Kata seorang wanita tua dengan rambut yang sangat putih disana, tetapi kesan elegan tidak lepas darinya meskipun dirinya sudah tua, aura kecantikan masih keluar dari dirinya.

"Maafkan aku sebelumnya, tetapi, siapa anda? Kenapa anda membawaku kemari?" Tanyaku sopan. "Dan apa maksudnya elemen pembawa keabadian?" Tanyaku.

"Sebelumnya, perkenalkan, aku adalah Mage yang pertama, lebih tepatnya, aku hanyalah perwujudan sisa kekuatannya yang menunggu sang pembawa cahaya keabadian." Kata wanita tua itu sambil membungkuk memperkenalkan diri, aku hanya menatap wanita itu bingung. "Biar aku jelaskan." Kata wanita itu sambil menepuk bahuku, aku langsung melihat sebuah tempat yang banyak sekali wanita yang di bakar hidup-hidup. "Aku menciptakan dunia ini karena dulu, di dunia mu para penyihir atau di dunia ini di kenal dengan Mage, di buru dan di anggap berbahaya." Pandangan pun berubah dengan seorang wanita muda yang mengumpulkan beberapa wanita lagi, sebuah portal muncul dari sebuah dinding. "Akhirnya aku membuat sebuah dunia dimana para Mage bisa tinggal, saat itu juga, beberapa manusia tidak sengaja masuk kemari, tentunya aku tidak ingin para Mage menjadi takut dengan para manusia yang memburu mereka. Jadi aku memecah kekuatanku menjadi berbagai elemen di dunia ini, dan sebuah elemen unik tercipta, sebuah elemen yang menjadi penyembuh, menyembuhkan apa saja, bahkan membuat seseorang terus beregenerasi, artinya, tidak ada kata tua bagi orang yang memiliki kekuatan elemen cahaya lebih dari satu orang." Kata orang itu sambil memberikan kepadaku gambaran tentang dunia ini terbentuk sesuai dengan ceritanya.

"Jadi, maksudnya, orang itu menjadi abadi?" Tanyaku, wanita itu hanya mengangguk.

"Kemudian setelah kematianku, para Mage itu semakin beringas, hanya para pemilik elemen pengendali pikiran dan elemen cahaya yang bertahan, sedangkan semuanya sudah hampir punah karena menganggap Mage itu adalah dewa. Tetapi, beratus-ratus tahun kemudian hanya satu Mage yang bertahan, Mage itu mulai menyerap semua kekuatan elemen cahaya, banyak yang terbunuh, tak kusangka salah satu generasi terakhir dapat bertahan. Aku hanya bisa mengontak pikiran para pemilik elemen cahaya, terima ini." Kata wanita itu sambil memberikan sebuah batu yang terbuat dari marmer putih dengan lambang yang sama seperti lambang di bola salju itu ukurannya hampir seperti bola biji Dam. "Dan ini, berikan kepada teman-temanmu, pemimpin kelompokmu itu tahu kalau kalian harus mengumpulkan semua lambang ini untuk mengalahkan Mage yang sekarang, dan yang bisa mengontak dengan kekuatan yang tersisa dari setiap lambang, jadi kau yang berwenang untuk mengumpulkan setiap lambang dari para kekuatan yang tersisa." Katanya menjelaskan.

"Lalu kenapa lambang untuk setiap temanku berbeda?" Tanyaku melihat marmer putih yang lebih kecil itu, ukurannya seperti sebuah kancing berukuran besar.

"Lambang yang asli, hanya pemilik elemen cahaya yang bisa mengatasinya, pemilik elemen lainnya tidak bisa memegang lambang ini, dan lambang yang aku berikan kepada teman-temanmu untuk melindungi mereka dari kekuatan Mage terkutuk yang sekarang itu, setiap kau mengumpulkan lambang, maka semakin kuat kekuatan pelindungnya." Kata Wanita tua itu. "Dulu, ketika aku menciptakan dunia ini, bayangan akan masa depan datang, maka aku menyimpan kekuatan di setiap daerah, Kumpulkan semuanya, maka kau akan semakin mudah untuk mengalahkan Mage terkutuk itu." Kata wanita tua itu.

"Te-terima kasih Baa-san, aku akan menyampaikan kepada ketua di kelompokku." Kataku.

"Sebelum aku menghilang, ada yang harus aku katakan, ada kemungkinan satu diantara para Mage kutukan itu bisa selamat, aku tidak tahu siapa yang selamat karena mereka terlihat sama, tolong, bawa kedamaian di duniaku ini, kalian akan di kenang sebagai pembawa kedamaian, diriku di tempat lain akan menyampaikan informasi lain juga, dan oh iya." Katanya mengambil salah satu kepingan marmer di tanganku ini dan mulai mengisi marmer itu tentang sesuatu. "Temanmu sang pengendali pikiran, mereka adalah elemen unik, karena tidak mengambil apapun dari alam. Kepingan ini berikan kepada temanmu, tidak adil bukan hanya dia yang tidak mengetahui sejarahnya." Katanya. "Satu lagi, jangan sampai para Mage itu mendapatkan salah satu dari kepingan ini tidak peduli entah milikmu atau milik siapapun, tetapi tetap rahasiakan kalau kau memiliki kepingan ini. Akan banyak sekali yang berusaha merebut kepingan ini." Kata nenek itu, aku hanya mengangguk. "Kini pejamkan matamu, aku akan mengirimmu ke 10 menit setelah dirimu berangkat." Katanya, aku memejamkan mata dan ketika aku membuka mata, benar saja aku sudah berada di hadapan penginapanku.

Aku harus mencari Gakupo, benar, aku harus mencarinya, aku kemudian mengetuk pintunya dan untungnya dia sudah selesai acara mandi di onsen-nya.

"Gakupo, kurasa aku harus berbicara secara pribadi kepadamu." Kataku, Gakupo langsung menurutiku, dia masih mengenakan kimono yang berasal dari pemandian air panas. Aku kemudian menunjukkan marmer putih yang katanya hanya bisa aku pegang itu kepadaku. Dia langsung membelalakkan mata. "Jadi bisa kau jelaskan, karena aku merasa kau seperti menyembunyikan sesuatu kepadaku." Kataku.

"Baiklah, kita memang harus mengumpulkan itu semua terlebih dahulu sesuai proses pembentukan, dan di sinilah daerah pertama, aku hendak mengatakannya nanti ketika makan malam. Ternyata kau sudah tahu terlebih dahulu." Kata Gakupo kepadaku. Aku hanya menghela nafas.

"Lalu setelahnya kita akan kemana?" Tanyaku.

"Ke daerah musim gugur." Kata Gakupo, "Terbentuknya memang sedikit mundur daripada musim kebanyakan." Kata Gakupo, kemudian terdengar sebuah nada dering ponsel dan Gakupo mengangkatnya. "Ayo kita ke kantin, semua sudah menunggu kita." Kata Gakupo, aku pun hanya mengangguk dan menuju ruangan khusus untuk makan malam kami, semuanya masih mengenakan kimono penginapan semenata hanya aku yang memakai pakaian hangat.

"Miku? Kau habis darimana?" Tanya Rin kepadaku.

"Hanya berjalan-jalan mendapatkan 'kekuatan tambahan'." Kataku sambil melirik ke arah Gakupo, aku masih marah karena dia tidak mengatakan kepadaku tentang hal ini.

"Miku dan Gakkun sedang marahan yah? Ada apa?" Tanya Luka kepada kami, aku hanya menghela nafas dan mengeluarkan lambang yang aku dapatkan. Semuanya hanya terkejut melihat lambang itu. "Jadi yang memanggilmu tadi adala Mage di daerah ini?" Tanya Luka melihat miliknya. Aku hanya mengangguk.

"Kau kesana naik apa? Apa kau berjalan?" Tanya Kaito sedikit panik kepadaku.

"Tidak aku menaiki kereta gantung." Kataku, semua orang di sana langsung menatap horor kepadaku.

"Kau tidak bertemu salah satu dari Mage kutukan itu kan?" Tanya Kaito sambil memegangi kedua lenganku.

"Aku bahkan tidak mengetahui mereka seperti apa." Kataku sedikit polos.

"Mereka memiliki rambut sama seperti Rin, tetapi lebih gelap sedikit, satu berambut pendek lebih pendek dari pada Si remote controller, dan satu lagi panjang yang di ikat satu di sebelah kanan." Kata Kaito.

"Apa maksudmu remote controller hah, dasar Madesu." Ejek Rin. "Lagipula, apa benar mereka memiliki rambut sepertiku? Len kan juga memiliki rambut sepertiku? Kenapa harus aku yang kau jadikan perbandingan hah!" Kata Rin kepada Kaito. Sedangkan Len tidak tahu apa-apa kenapa dia bisa ikut di salahkan.

"Aku tadi bertemu seorang wanita berumur 20-an sih, rambut pirang gelap-nya sedikit menyembul keluar." Kataku. "Lagipula, Mage itu memberiku ini." Kataku sambil mengeluarkan yang memang menjadi milik mereka disini. "Kalian masing-masing ambillah satu, dan Rin, ini untukmu, kata Mage itu, ada sebuah sihir di dalamnya, dan itu khusus untukmu." Kataku. Rin langsung menerimanya, kemudian dia berdiri di hadapanku.

"Kau lupa larangan Jii-chan apa? Kita kan di larang naik transportasi dengan listrik di dalam mekanismenya! Mereka bisa menemukan kita!" Kata Rin sedikit memarahiku.

"Jadi itu yang aku lupa tadi?" Tanyaku, Rin hanya ber-sweatdrop-ria.

"Ya ampun, bagaimana kau lupa seperti itu?" Kata Rin sambil mengetuk kepalaku dengan jari telunjuknya.

"Baiklah, mari kita makan dulu." Kata Gumi melerai kami, kami hanya menghembuskan nafas dan makan disana.

Setelah selesai makan dan kembali ke kamar aku kembali melihat marmer putih berbentuk lingkaran yang Mage itu berikan kepadaku, benarkah tidak ada seseorangpun selain pengendali cahaya yang dapat memegangnya? Lalu memangnya pencuri itu bagaimana bisa mencuri ini dari kelompok kami sementara marmer ini tidak bisa di pegang oleh orang yang bukan elemen cahaya? Aku terus saja melihatnya sambil menatap keluar, marmer ini sungguh dingin ketika di sentuh. Rin sudah tidur dengan pulasnya di sebelahku dan berselimut hangat, aku terus saja menatap salju yang turun secara lembut itu, bahkan asal usul desa tempat kedua orangtua kami tidak di sebutkan oleh Jii-chan, mungkin di sana ada sedikit petunjuk.

Lagipula, Gakupo katanya dulu pernah berguru sebentar kepada Jii-chan, apa Jii-chan orang sepenting itu di sini sehingga bisa mengajar seorang pangeran? Aku memandangi marmer seukuran biji dalam permainan Dam itu. Marmer perlambang musim dingin, bahkan walaupun sudah sering aku sentuh marmer ini tidak menghangat seperti benda dingin lainnya, malah masih terus dingin, haaahh, sudahlah, toh aku akan mencaritahu besok.

.

.

.

TBC

Waaahhh.. Chapter ini menjadi yang terpanjang yang pernah Clara tulis-desu. Semoga kalian tidak jenuh membacanya-desu.

Balasan Review :

Kuro Furea : Ini sudah lanjut kok, Clara juga masih satu atap sama keluarga-desu, Clara meskipun sudah besar tapi masih satu atap-desu, bahkan satu kamar sama Otouto tersayang-desu (Malah curcol.)

Kebab nyamnyam : Chapter depan bakalan di jelasin kenapa Kaito di panggil playboy-desu.. yang pastinya mungkin sedikit membuat shock-desu, jadi sediakan alat kejut jantung-desu(Lebay).