Another Fairy Tale Story

.

.

.

Disclaimer : Vocaloid milik Crypton Future Media yang punya

Warning : Typo, OC.

Chapter 6

Hari 3 – Kenyataan?

Normal POV

Seorang gadis berambut teal terbangun malam itu, ketika dia mengecek jam, masih jam 1 dini hari.

"Haaaahh! Kenapa harus bermimpi seperti itu sihh!" Kata gadis itu sambil mengacak-acak rambutnya. Dia rupanya telah bermimpi buruk.

"Huwaaaa! Mikan raksasa!" Teriak gadis berambut pirang itu di sebelahnya. Gadis itu berteriak sambil melebarkan kedua tangannya.

"Ya ampun bikin kaget saja." Gerutu gadis berambut teal itu, dia kemudian menatap ke cendela dan melihat salju masih turun, gadis itu berinisiatif untuk kembali berlatih, dia mengambil mantelnya dan berjalan keluar.

Dia masuk ke area hutan untuk berlatih, hingga dia menemui sesuatu bergemersak di balik semak-semak.

"Ha-halo, ada orang di sana?" Tanya gadis berambut teal itu. Kemudian sesuatu muncul yang membuat seketika gadis itu berteriak. "Kyaaaaaa! Monster!"

"Ugyaaaa! Hantu salju!" Teriak 'monster' itu.

"Eh? Gumi? Huuuhh.. aku kira kau monster." Kata gadis berambut teal itu sambil memegangi dadanya.

"Oohh.. Miku-chan toh, kau ini mengagetkanku saja! Malam-malam begini tiba-tiba bilang 'halo ada orang disana?' Membuat merinding tahu! Apalagi baju dingin putihmu itu." Kata Gumi sambil menunjuk Miku. Miku pun hanya tersenyum tiga jari sambil menggaruk belakang kepalanya.

"Hehehe. Habisnya aku hanya punya ini. Kau juga malam-malam begini berada di semak-semak! Rambutmu penuh daun lagi! Aku kan juga kaget!" Kata Miku sambil menunjuk Gumi.

"Aku sedang mencari tanaman obat, kau sendiri?" Tanya Gumi.

"A-aku tidak bisa tidur jadinya aku ingin berlatih." Kata Miku. "Memangnya tanaman obat apa?" Tanya Miku.

"Oh ini, Bunga snowdew, bunga ini hanya tumbuh di daerah salju, kalau mekar hanya pada saat tengah malam hingga jam 3 pagi. Bila di petik, bunga ini akan segar lebih lama, ini adalah obat untuk mengatasi hipotermia di dunia ini." Kata Gumi sambil memetik beberapa bunga bermahkota putih bulat itu.

"Waaahh.. cantiknya.." Gumam Miku.

"Cantik dan berkhasiat bukan?" Tanya Gumi. Miku hanya mengangguk.

"Kau masih akan mencari tumbuhan lagi?" Tanya Miku.

"Sebenarnya sih aku hanya memerlukan hal ini, untuk antisipasi selama di daerah musim dingin." Kata Gumi sambil menunjukkan kotaknya yang terbuat dari rotan itu.

"Kau sungguh mengerti tentang obat Gumi." Kata Miku.

"Dari kecil nenekku yang mengajarkannya, karena aku tidak memiliki ayah dan ibu, jadinya aku di asuh nenek." Kata Gumi.

"Memangnya orangtua mu sakit?" Tanya Miku. Gumi hanya menggeleng.

"Mereka meninggal ketika aku baru berumur 3 bulan, singkat kata, mereka di bunuh Mage itu sebelum orangtuamu membunuh Mage itu." Kata Gumi.

"Maafkan aku, aku turut berduka, oh iya, kalian terus saja bilang 'Mage itu', memangnya dia tidak memiliki nama?" Tanyaku.

"Tentu saja punya, namanya adalah Galaco, dia awet muda karena banyak memakan kekuatan dari klan mu Miku, klan matahari." Kata Gumi menjelaskan. Miku hanya mengangguk paham. "Coba dengan cahaya mu mekarkan bunga ini." Kata Gumi kepada Miku. Miku pun ragu-ragu mengulurkan tangan dan mencoba membuat cahaya untuk bunga itu. "Sekarang coba kau bayangkan, dengan cahaya mu, bunga itu akan mekar!" Kata Gumi lagi, Miku pun mencobanya kembali. Dan ajaib, bunga itu perlahan menggerakkan kelopaknya dan mekar dengan sempurna setelah Miku berkonsentrasi selama 5 menit penuh.

"Whoaaa! Gumi kalu lihat itu?!" Kata Miku takjub dengan hasilnya sendiri.

"Elemen Cahaya adalah sumber kehidupan, kau bahkan bisa menyembuhkan luka dengan elemenmu itu. Bahkan, cahaya yang bersinar terang, dapat mengalahkan kegelapan." Kata Gumi.

"Maksudmu, aku bisa mengalahkan elemen kegelapan milik Kaito?" Tanya Miku dengan polosnya. Gumi hanya menggeleng.

"Yah, walaupun itu juga bisa sih, yang aku maksud adalah, 'Cayaha' yang bersinar terang, dapat mengalahkan 'kegelapan'." Kata Gumi sambil menekankan kalimatnya kepada kata-kata 'Cahaya' dan 'Kegelapan'. Mulut Miku membentuk bulatan ketika mengetahui apa yang di maksud Gumi.

"Ooohh.. yah, aku paham. Kurasa telat menanyakan hal ini, tetapi kata Gakupo, kalian semua berteman sangat erat dulu. Lalu apa yang terjadi dengan kalian yang sekarang?" Tanyaku.

"Saat itu yah? Ayo kita cari tempat yang enak untuk mendengarkan dongeng." Kata Gumi sambil berdiri diikuti Miku. "Bagaimana kalau di restoran penginapan saja?" Tawar Gumi, Miku hanya mengangguk mengiyakan, setelah sampai di restoran, memang keadaannya sudah sangat sepi, tetapi restoran itu masih buka, mereka kembali memesan katsuyu untuk mereka.

"Jadi apakah kalian pernah berpisah?" Kata Miku setelah meminum katsuyu miliknya seteguk.

"Iya, lebih tepatnya, kami bahkan baru saja berkumpul satu tahun yang lalu." Kata Gumi sambil menusuk nusuk pie wortelnya.

"Memangnya apa yang terjadi selama itu?" Tanya Miku.

"Biar aku ceritakan dari kami kecil. Semenjak umur 5 tahun, kami berenam selalu bermain bersama, karena kerajaan kami memang bersebelahan, dulu Kaito sungguh polos sampai di panggil BaKaito. Tetapi ketika kami menginjak umur 10 tahun, tiba-tiba saja ayah Kaito bersekongkol dengan para Mage itu. Padahal para orangtua kami sudah sepakat untuk tidak menjadi sekutu para Mage itu. Hal itu membuat Kaito di sekap di istananya sendiri oleh ayahnya, Ibu Kaito meninggal ketika melahirkan Kaito, selama 6 tahun, Kaito terus saja berada di dalam istananya, pemberontakan ayah Kaito menular kepada orangtua Gakupo dan Luka, hingga akhirnya Gakupo dan Luka melarikan diri dari kerajaan mereka, Orangtua Yuuma dan orangtua ku yang tidak terima mencoba menyadarkan mereka, tetapi mereka terbunuh, hingga akhirnya hanya orangtua Len yang masih berpegang teguh dengan perjanjian itu. Bahkan setahun yang lalu kami menemukan Kaito, dia sudah bukan seperti yang dulu lagi, dulu dia adalah laki-laki yang sopan dan sungguh periang, ketika kami bertemu Kaito, saat itu kami sungguh terkejut bukan kepalang, di kepala kami bertanya. 'Dimana Kaito yang dulu?'

Karena kami menemukannya sedang mengepalai gengnya sekarang ini, dia sungguh bengis dan tidak kenal ampun, bahkan yang mengejutkan, elemennya berubah, sebelumnya dia adalah elemen udara, tetapi tiba-tiba saja elemennya berubah menjadi kegelapan! Ketika dia melihat kami, dia menangis dan memeluk kami, dia tidak ingin berpisah dengan kami lagi, 6 tahun di istana di laluinya sungguh berat, dia mengatakannya kepada kami, sebuah kenyataan yang membuat kami tercengang." Kata Gumi kemudian mengakhiri ceritanya di bagian yang ingin di ketahui Miku dengan sangat.

"Memangnya apa kenyataan itu? Apa yang di katakan Kaito?" Sungguh, Miku kini sungguh ingin tahu secara dalam kepada Kaito, pria yang perlahan mencuri hatinya.

"Kurasa kau tidak ingin mengetahui ini." Kata Gumi sambil mengalihkan mukanya, dia tidak ingin Miku bersedih karena telah berharap kepada Kaito.

"Ayolah Gumi, apapun aku siap!" Kata Miku mantab.

"Baiklah, kalau kau memaksa, ayah Kaito sudah menjadi tangan kanan para Mage itu, bahkan Kaito di suruh untuk membunuhmu dan Rin ketika Kaito menemukan kalian." Kata Gumi yang membuat Miku sedikit gemetar, Miku mulai khawatir kalau selama ini Kaito mendekatinya hanya untuk di bunuh. "Tetapi dia tidak ingin membunuhmu dan orang yang kau sayangi, Rin. Dia mengatakannya kemarin setelah bertemu denganmu, kami sungguh lega Kaito tidak ingin membunuh kalian, selama 6 tahun itu Kaito di cuci otaknya oleh ayahnya dan para Mage itu agar mau membunuhmu. Jadi tenang saja, kami juga tidak ingin kalian terbunuh bahkan oleh Kaito." Kata Gumi, Miku sedikit bernafas lega dengan hal itu. "Kemudian hal yang membuat kami terkejut lainnya adalah, Kaito sudah di jodohkan dengan salah satu anak buah para Mage itu." Perkataan itu membuat jantung Miku terasa di remas kuat. "Bahkan, Kaito juga sering berhubungan dengan para anak buah para Mage itu yang kebanyakan adalah perempuan, maka dari itu kemarin kami mengatakan kalau Kaito 'playboy' bukan?" Kata Gumi sambil tersenyum ironis. Miku berusaha menahan perasaannya, dia tidak boleh menangis sekarang, ini memang salahnya yang terlalu gampang jatuh dalam pesona Kaito. Ini adalah kedua kalinya dia di beri pengharapan palsu. Padahal Kaito sudah di jodohkan.

"La-lalu, apakah benar elemen bisa berubah?" Tanya Miku berusaha mengalihkan topik.

"Yah kalau para Mage itu, apa yang tidak bisa?" Kata Gumi.

"Soal Len, apakah dia juga memiliki gadis lain yang terikat dengannya?" Tanya Miku, dia tahu selama ini Rin mulai dekat dengan Len.

"Kalau di bilang terikat sih juga tidak, hanya ada seorang gadis yang mengejar-ngejarnya, tetapi Len tidak menyukai gadis itu kok." Kata Gumi.

"Begitu yah, setidaknya Rin tidak akan apa-apa, Gumi, maafkan aku, aku ingin ke kamar dulu." Kata Miku sambil beranjak dari sana, matanya tertutupi oleh poni nya.

"Aku paham kok, semoga kau cepat baikan Miku. Maafkan aku karena menceritakan hal itu." Kata Gumi mencoba menyemangati Miku.

"Bukan salahmu kok Gumi, kan aku yang memaksa untukmu menceritakannya kepadaku." Kata Miku kemudian pergi meninggalkan restoran itu.

"Kaito, semoga kau tidak memainkan perasaan Miku, semoga kau benar-benar ingin membatalkan perjodohan itu dan bersama Miku." Gumam Gumi ketika Miku sudah keluar dari restoran itu. Gumi ingin mengatakan hal tadi kepada Miku, tetapi dia juga tidak ingin memberikan pengharapan palsu itu kepada Miku, bagaimana kalau Kaito memang ingin bersama gadis yang di jodohkan dengannya itu.

Miku pun kembali ke kamarnya dan melihat waktu masih pukul 3 pagi, Miku mengambil syal Kaito yang masih ada di kamarnya dan menggenggamnya erat, air matanya mulai turun. Miku pun meninggalkan kamar dengan membawa syal itu, kemudian meletakkannya di pegangan pintu Kaito, akhirnya Miku pergi, air matanya sudah runtuh. Dia mulai berjalan cepat kearah Kamarnya dan kamar Rin.

"Huwaaa! Riinn!" Teriak Miku sambil menghambur ke pelukan Rin yang masih tertidur pulas itu.

"Huwaa! Ada apa? Siapa yang meledak?" Tanya Rin kaget, kemudian dia melihat siapa yang menangis sambil memeluknya itu. "Miku ada apa? Apa kau mimpi buruk?" Tanya Rin.

"Iya Rin! Mimpi buruk yang sangat buruk!" Kata Miku masih menangis.

"Iya, iya, cup, cup, jangan menangis lagi, aku ada di sini kok." Kata Rin sambil mengelus kepala Miku. Akhirnya mereka berdua tertidur sambil berpelukan.

-skip time-

Pagi hari yang cerah itu, sedikit menghangatkan bangunan penginapan yang membeku itu.

"Huwaaahh! Sudah pagi! Miku, astaga! Lihatlah matamu!" Kata Rin sambil memperhatikan mata Miku yang bengkak karena menangis.

"Uugghh.. Mataku serasa perih sekali Rin." Kata Miku mengucek matanya.

"Jangan di gosok. Memang begitu kalau kau sudah menangis semalaman, memangnya kau mimpi apa hah?" Tanya Rin.

"Aku bermimpi 'itu' terjadi lagi." Kata Miku sambil memeluk bantal.

"Ya ampun, sudah lupakanlah kejadian itu, toh 'dia' tidak ada di sini." Kata Rin sambil menggosok kepala Miku.

'Tetapi 'Dia' sekarang berwujud Kaito.' Batin Miku, dia tidak ingin mengatakan hal sebenarnya kepada Rin karena ini hanyalah salah pahamnya. Yang penting dia tidak membunuh Rin, maka dia akan baik-baik saja.

"Rinny? Sudah bangun! Di tunggu di restoran yah!" Kata Len di balik pintu.

"Oke! Tunggu sebentar!" Teriak Rin.

"Rinny? Wah, sudah ketemu jodoh juga kau Rin." Kata Miku sambil tersenyum ke arah Rin.

"A-apa maksudmu! Sudah ayo mandi kita di tunggu!" Kata Rin sambil mukanya bersemu merah, Miku masih belum siap bertemu Kaito.

"Mandilah dulu, aku nanti menyusul. Aku masih mengantuk, semalam aku mencari tumbuhan obat dengan Gumi." Kata Miku.

"Baiklah, kalau sudah segera temui kami yah?" Kata Rin, Miku hanya mengangguk sambil memejamkan matanya.

Miku pun kembali tertidur pulas. Rin yang selesai mandi mendapati saudara tidak sedarahnya itu sudah tertidur pulas.

"Ya ampun, tidur lagi, semoga kau nanti tidak bermimpi lagi tentang hal itu." Kata Rin sambil menaikkan selimut Miku. Kemudian dia pergi untuk sarapan.

"Loh, dimana Miku?" Tanya Kaito kepada Rin setibanya di restoran penginapan itu.

"Dia masih mengantuk, semalam dia habis menangis hebat." Kata Rin.

"Memangnya kenapa Miku sampai menangis?" Tanya Kaito panik.

"Tenang saja, dia hanya bermimpi buruk kok, dia sering seperti itu." Kata Rin menenangkan Kaito.

"Rin, maafkan aku.." Kata Gumi kepada Rin.

"Memangnya kenapa? Kau kan hanya mencari obat dengan Miku, dia memang suka keluyuran malam kok!" Kata Rin kemudian duduk.

"Baiklah, ayo kita makan dulu." Kata Len. "Rin, aku sudah memesankanmu sup ayam dengan jeruk." Kata Len.

"Ya ampun Len, aku jadi merepotkan nih." Kata Rin sedikit blushing.

"Ah tidak apa-apa kok." Kata Len sambil menyunggingkan senyuman yang membuat hati Rin sedikit menghangat.

Mereka pun akhirnya makan dengan sunyi.

"Baiklah, setelah Miku sudah baikan nanti kita akan melanjutkan perjalanan kembali." Kata Gakupo sambil membuka petanya. Kini mereka semua sudah selesai sarapan.

"Rin, bawakan ini kepada Miku, aku jadi khawatir kalau dalam perjalanan ini dia jadi sakit karena kurang makan." Kata Luka sambil menyodorkan makanan dalam kotak yang di pesan Luka dari restoran itu sendiri.

"Akan aku berikan ini kepadanya kalau dia sudah bangun!" Kata Rin bersemangat.

"Kalian sungguh dekat yah." Kata Yuuma.

"Bagaimana mau tidak dekat, aku dan Miku sudah seperti saudara sendiri." Kata Rin. Mereka tidak tahu ada yang memperhatikan mereka sambil tersenyum.

"Sampai jumpa di pemberhentian selanjutnya, tidak akan aku biarkan kau mengambil lambang lainnya!" Kata orang itu kemudian lenyap di balik asap hitam. Kaito yang familier dengan aura ini mulai melihat keluar kaca, dia mulai berdoa kedalam hati semoga saja 'mereka' tidak menemukan Miku.

Hari mulai siang ketika Miku terbangun dan memakan makanan kotak yang di beri oleh Rin.

"Semuanya mulai menanyakanmu saat sarapan tadi." Kata Rin. Miku hanya mengangguk menanggapinya. "Sebentar lagi kita berangkat, setelah makan segeralah mandi, aku akan membantumu membereskan barang-barangmu." Kata Rin. Miku pun cepat menghabiskan makanannya dan mulai berangkat mandi. Sedari tidur tadi Miku merasakan sebuah aura aneh.

"Rin, apa kau merasakan sesuatu yang aneh, seperti aura yang asing mungkin?" Tanya Miku ketika keluar dari kamar mandi.

"Hhhmm, tidak tuh, memangnya kau merasakannya?" Tanya Rin balik. Miku hanya menggeleng.

"Mungkin hanya perasaanku." Kata Miku, mereka pun meninggalkan penginapan itu dan mulai berjalan meneruskan perjalanan untuk mengumpulkan lambang-lambang lainnya.

"Nee-chan, mereka sudah meninggalkan penginapan." Kata seorang gadis yang memata-matai grup itu. "Cih, enak saja gadis itu hendak mengambil Kaito dariku, tidak akan aku biarkan!" Kata seorang gadis berambut putih itu kemudian menghilang di balik asap hitam. Kaito yang merasakan aura ini milik siapa mulai melihat ke sekeliling dan mencari siapa pemilik aura ini, dia mulai berjaga kalau mereka di ikuti. Sementara Miku menjaga jarak dari Kaito dan lebih menempel ke arah Rin.

"Eh, aku permisi dulu, ada seseorang yang hendak aku hubungi." Kata Kaito kepada Gakupo selaku pemimpin di kelompok ini, dia sudah memakai syalnya kembali dan mulai mencari tempat sepi. Dia mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang. "Yah, ini aku, bisa kau pastikan ada seseorang yang mengikuti kami.. tidak usah ambil tindakan, hanya beritahu aku bila memang ada yang mengikuti kami.. ya, terima kasih.." Kaito pun menutup ponselnya kembali dan bergabung ke dalam kelompok itu kembali, dia mulai menghampiri Miku tetapi Miku langsung menjauhi Kaito. Dia tidak ingin terlalu dekat dengan Kaito. Sampai Kaito heran dengan sikap Miku yang tiba-tiba berubah.

Mereka pun sampai di sebuah desa yang banyak sekali reruntuhan, sepertinya desa itu sudah tidak berpenghuni lagi.

"Wah, satu lagi desa tertinggalkan." Kata Luka sambil melihat ke sekeliling.

"Kita istirahat dulu di sini, satu jam lagi kita berangkat." Kata Gakupo mulai mencoret-coret sesuatu di petanya. Mereka duduk di bawah pohon untuk istirahat.

"Rin, lihat deh, apa kau merasakan ada yang familier dengan tempat ini?" Tanya Miku mulai melihat ke sekeliling.

"Kami berkeliling dulu yah?" Kata Rin meminta ijin, dia tahu apa maksud Miku mengatakan hal itu.

"Kami ikut!" Kata Len dan Kaito berbarengan.

"Tidak! Kaito tidak usah ikut! Len saja sudah cukup!" Kata Miku sambil sedikit berteriak. "A-ayo Rin, Len." Kata Miku mulai meninggalkan Kaito yang tertegun dengan sikap Miku barusan.

"Apa aku melakukan kesalahan?" Tanya Kaito sambil memandangi mereka bertiga yang pergi.

"Ka-Kaito, maafkan aku.." Kata Gumi, dia mulai menceritakan apa yang terjadi kepada Miku. ".. Maafkan aku Kaito, mulutku memang tidak bisa di jaga." Kata Gumi sambil membungkuk.

"Pantas saja, yah sudahlah, toh Miku sendiri yang ingin tahu. Haaaah, kelihatannya aku harus menjelaskan ini sendiri kepada Miku." Kata Kaito memegangi kepalanya, dia kemudian mengambil ponselnya dan mengirim pesan kepada Len.

-ke tempat Len-

'Kalau kau sampai membuat Miku terluka, aku akan menghajarmu.' Len yang membaca pesan itu hanya terkekeh.

"Ada apa Len? Kenapa tertawa?" Tanya Miku.

"Eh, tidak ada apa-apa kok, hanya sang pangeran kegelapan sedang mengkhawatirkan putrinya." Kata Len menggoda Miku, mau tidak mau Miku sedikit memerah mukanya begitu tahu Kaito mengkhawatirkannya.

"Fuuuhh.. Fuuuhhh.. ada yang panas niihh!" kata Rin meniup-niup muka Miku. Memang duo usil mereka ini.

"A-apa sih, jangan bicara yang tidak-tidak!" Kata Miku kemudian raut mukanya berganti sedih dan meninggalkan mereka berdua.

"Eh? Aku salah yah?" Tanya Len sambil menggaruk belakang kepalanya.

"Tidak kok, kurasa Miku hanya sedikit sedih karena mimpinya semalam." Kata Rin sambil menepuk bahu Len. "Ayo kita lanjutkan." Kata Rin. Mereka kemudian memasuki sebuah rumah yang sudah tertinggalkan.

"Kalian berdua hati-hati lah, lantainya rapuh, sedangkan rumah-rumah di sini selalu memiliki ruang bawah tanah." Kata Len mengingatkan.

"Baik!" Kata Miku dan Rin berbarengan. Mereka kemudian mengelilingi rumah itu dan berjalan berhati-hati di lantai yang berderit itu.

"Eh? Ini kan foto kalian?" Kata Len sambil menunjuk sebuah foto besar di tengah dinding lebar itu.

"Wah, benar! Itu foto orangtua kita!" Kata Miku sambil melihat gambar itu.

"Wah, tidak kusangka, ada lukisan seperti ini di sini, Jadi maksudnya orangtua kita memiliki hubungan darah?" Tanya Rin kepada Miku, Miku hanya menjawab dengan mengangkat bahu, selama ini kakek mereka tidak membicarakan hubungan darah ayah mereka.

"Tetapi kenapa namanya berbeda?" Tanya Miku. "Kalau mereka sedarah, seharusnya mereka memiliki satu nama marga bukan?" Tanya Miku.

"Entah Kagime ataupun Hatsune yang asli.." Kata Rin sambil menggantung.

"Ini foto kalian ketika kecil rupanya, ya ampun, kalian terlihat imut di sini!" Kata Len sambil mencubit pipi Rin.

"Ittai yo Len." Kata Rin. Len kemudian melepaskan pipi Rin.

"Eh, tombol apa ini?" Tanya Miku sambil menekan tombol di bawah lukisan itu. Kemudian lantai di bawah mereka terbuka, tetapi mereka masih tetap di tempat.

"Eh?" Kata Len sambil menggerak-gerakan kakinya mencari tempat berpijak mereka tadi. Kemudian mereka melihat ke bawah.

"Gyaaa!/Kyaaa!" Teriak mereka bersamaan dan kemudian jatuh ke lubang itu.

.

.

.

TBC

Semoga yang ini tidak terlalu banyak untuk kalian baca-desu, Gomen Clara update nya jadi jarang begini-desu.. Yap, ini dia chapter kelanjutan petualangan Miku dan teman-temannya-desu! Dan masa lalu Kaito memang tidak terlalu mengejutkan sih..

Balasan review:

Kebab Nyamnyam : Yah, kita lihat saja nanti siapa para mage terkutuk itu-desu.. Tehehe

Kuro Furea : Daijobu yo Furea-chan.. sudah mereview saja Clara senang banget!